Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang

Selama tinggal di Jepang, gempa bumi adalah salah satu hal yang paling sering terjadi dan paling sering dirasakan sepanjang tahun. Mulai dari gempa bumi yang skala kecil hingga cukup besar.

Salah satu pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan adalah gempa bumi yang terjadi disore hari sekitar bulan Oktober 2012.

Oktober 2012

Saya baru saja memasuki tahun ajaran baru sebagai mahasiswa program Master di Tokyo Institute of Technology pada bulan Oktober 2012. Artinya, saya baru tinggal di Jepang kurang dari satu bulan. Sore itu, setelah menyelesaikan perkuliahan di kelas yang cukup padat, saya memutuskan untuk langsung pulang ke asrama.

Kondisi asrama pada sore hari biasanya sangat sepi karena pada umumnya para penghuni baru kembali ke asrama pada malam hari.

Sesampainya di asrama, saya memutuskan untuk tiduran sejenak dikamar yang terletak di lantai 3. Tidak lama setelahnya, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang cukup besar (menurut saya) dan berlangsung lumayan lama.

Gempa bumi, sendirian di kamar, asrama sepi, berakibat terciptanya kepanikan sendiri. Tidak tahu prosedur apa yang harus dilakukan.

Hal yang pertama saya lakukan adalah keluar ke beranda untuk melihat keadaan diluar. Ternyata tidak ada orang yang berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Hal ini sangat berbeda dengan pengalaman yang saya rasakan ketika terjadi gempa di Indonesia. Tetangga-tetangga yang ada disekitar rumah biasanya pada keluar rumah dan berkumpul dan berlanjut ngobrol dengan tetangga hingga keadaan dirasa cukup aman untuk kembali masuk ke rumah.

Advertisements

Emergency Drill (Latihan Tanggap Darurat)

Salah satu kegiatan rutin Tokyo Institute of Technology adalah mengadakan Emergency Drill yang dilaksanakan sekitar pertengahan bulan November setiap tahunnya.

Kalau tidak salah ingat, biasanya dari pihak universitas akan memberikan informasi mengenai Emergency Drill melalui email. Salah satu informasinya berupa peta kampus beserta titik-titik perkumpulan yang ada disekitar kampus.

Latihan tanggap darurat (Emergency Drill) biasanya dilaksanakan sekitar pukul 11:00 – 12:00 JST.

Bunyi Alarm

Latihan tanggap darurat diawali oleh bunyi alarm selama kurang dari satu menit. Bunyi alarm ini menandakan telah terjadi gempa.

Hal yang harus dilakukan pertama kali adalah Berlindung di bawah meja kerja masing-masing bagi mereka yang sedang berada di ruangan kerja dan kelas.

Intinya adalah mencari tempat perlindungan dan sebisa mungkin terhindar dari benda-benda yang bisa menimpa kita.

Pakai Helm

Setelah berlindung di bawah meja selama kurang lebih 1 menit (asumsi gempa sudah berhenti), selanjutnya kita harus keluar dari gedung menuju titik perkumpulan. Penggunaan Helm Pelindung adalah WAJIB sebelum meninggalkan ruangan.

Sepertinya helm pelindung ini disediakan oleh pihak universitas dan telah dibagikan kepada masing-masing lab. Saya berasumsi demikian karena setiap anggota lab mempunyai helm masing-masing.

Matikan gas, listrik dan air

Hal yang dilakukan setelah memakai helm dan hendak keluar dari ruangan adalah memastikan seluruh aliran listrik, gas, dan air di dalam ruangan tersebut telah dipadamkan.

Pintu Darurat

Bagi mereka yang berada di lantai 2, 3, dan seterusnya, silahkan keluar dari gedung dengan menggunakan tangga. Dilarang menggunakan lift dalam kondisi seperti ini.

Absensi

Silahkan berkumpul dengan grup atau lab masing-masing sehingga memudahkan untuk mendata apakah seluruh anggota lab telah keluar dari gedung.

Setelah semuanya berkumpul di titik kumpul maka dilakukan beberapa kegiatan lainnya seperti:

  1. Latihan evakuasi korban yang mungkin terkena reruntuhan, jatuh, dan sebagainya.
  2. Latihan menggunakan APAR (alat pemadam api ringan).
  3. Latihan menghubungi pihak berwajib (pemadam kebakaran) dan memberitahukan lokasi gedung terjadinya kebakaran.

Latihan tanggap darurat yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini membuat bangsa Jepang lebih siap menghadapi kondisi bencana dengan lebih tenang.

Advertisements

Latihan dengan Keluarga

Latihan tanggap darurat ini pada umumnya dilakukan di sekolah maupun tempat kerja. Lalu, bagaimana dengan istri yang sehari-hari di rumah? Pada umumnya, kantor desa akan memberikan dokumen “Living In Tokai”. Buku ini berisi tentang panduan hidup yang membahas mulai dari A hingga Z. Didalamnya tentu ada panduan menghadapi bencana alam seperti gempa.

Selain dari itu, kami juga memperoleh Peta Desa Tokai ukuran A1. Peta ini kami tempelkan di salah satu dinding di rumah dengan tujuan untuk mengetahui lokasi rumah, kantor, dan tempat perlindungan (evacuation assembly point).

Saya dan istri berulang kali saling mengingatkan apabila terjadi bencana sewaktu jam kerja dan ada instruksi untuk evakuasi maka kami setidaknya sudah tahu dimana titik evakuasi terdekat maupun sekitarnya.

Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Sebelumnya di: Ada apa dengan Cesium-137??? Pada tulisan tersebut saya menuliskan “Reaksi fisi nuklir terjadi di dalam reaktor nuklir”. Pendahuluan Mungkin sudah banyak dari kita yang sering melihat baik melalui film, berita, maupun media massa gambar-gambar yang berhubungan dengan nuklir khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Nah, ada yang menarik perhatian saya selama ini. Dari gambar-gambar … Continue reading “Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang. Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah. Gambaran singkat yang … Continue reading “Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)”

Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Bagi setiap pasangan suami istri, kehamilan pertama tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Mulai dari rasa senang, bahagia, khawatir, dll semua bercampur aduk. Kalau di Indonesia, mungkin lebih sederhana karena tinggal datang ke rumah sakit, diperiksa dan bagi mereka pemegang asuransi BPJS atau asuransi dari kantor akan memperoleh bantuan keringanan biaya atau bahkan biaya ditanggung penuh oleh … Continue reading “Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.”

“One Day Trip” Air Terjun Fukuroda

Kegiatan lain yang kami lakukan pada musim panas tahun ini adalah mengunjungi salah satu tempat wisata terkenal di Ibaraki, Fukuroda Waterfall (Air Terjun Fukuroda).

Air terjun Fukuroda terletak di kota Daigo, Prefektur Ibaraki dan berjarak sekitar 50 km dari Desa Tokai. Berdasarkan info dari Fukuroda Falls Travel Guide, air terjun termasuk ke dalam tiga besar air terjun terindah di Jepang. Sebenarnya, saya sudah pernah berkunjung ke Air Terjun Fukuroda pada tahun 2015. Akan tetapi, ini adalah kali pernah untuk Henokh dan maminya berkunjung ke Fukuroda.

Akses

Ada dua pilihan utama untuk menuju Air Terjunn Fukuroda yaitu menggunakan kendaraan pribadi (mobil) maupun kereta. Dari stasiun kereta Fukuroda (Fukuroda station) menuju ke air terjun Fukuroda bisa ditempuh sekitar 40 menit berjalan kaki (sekitar 3 km).

Informasi lengkapnya, bisa dilihat di website berikut ini: Fukuroda Falls Travel Guide


Saya akan menceritakan perjalanan “One day trip” ke Fukuroda Waterfall dari Desa Tokai.

Air Terjun ‘Fukuroda’

10:30 JST

Perjalanan hari ini dimulai sekitar pukul 10.30 pagi dari desa Tokai. Menurut informasi dari Google Map, kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk tiba di Fukuroda Waterfall dengan menggunakan mobil (tidak lewat jalan tol). Selain itu, informasi lainnya tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda kemacetan di sepanjang perjalanan.

Baru saja 30 menit berjalan, Henokh yang awalnya begitu menikmati perjalanan, ternyata sudah lebih dahulu tertidur. Sepanjang perjalanan, telihat jelas hamparan sawah dan ladang yang ditanami berbagai macam sayuran. Hal ini tentu saja berbeda 180o dengan pemandangan perkotaan seperti Tokyo.

12:00 JST

Salah satu keunggulan Jepang dalam bidang pariwisata adalah penataan ruang disekitar tempat wisata. Tempat parkir, toilet umum, restoran, toko souvenir, dll tertata dengan baik dan rapi. Selain itu, pedestrian pun tersedia dengan cukup untuk bisa menampung pejalan kaki bahkan orang tua yang membawa anak bayi menggunakan stroller.

Kami pun memarkirkan mobil disalah satu tempat parkir. Jarak antara tempat parkir ke pintu masuk air terjun cukup jauh. Bagi mereka yang membawa anak bayi (balita), ada baiknya membawa stroller untuk memudahkan perjalanan.

Biaya parkir yang harus dibayarkan adalah sebesar ¥ 500 per hari.

Makan siang

Sebelum memulai petualangan, kami menikmati makan siang dengan menyantap makanan Jepang disalah satu restoran yang ada disana.

Sejauh saya berkunjung ke beberapa wilayah di Jepang, Ramen, Udon, Soba, Kare Jepang, dan Oyakodon adalah beberapa menu yang paling sering ditemui. Harganya pun cukup terjangkau dengan kisaran ¥ 900 – 1.500.

Selain itu, terdapat juga penjual di tepi jalan yang menjajakan cemilan berupa ikan sungai yang dibakar (diasapi) dan dihidangkan dengan cara ditusuk seperti sate. Harga yang ditawarkan untuk seekor ikan bakar sekitar ¥400.

13:30

Untuk bisa menikmati keindahan air terjun Fukuroda, kita harus membayar tiket masuk sebesar ¥ 300 untuk satu orang dewasa.

Demi tetap menjaga keamanan dan kesehatan di masa pandemi COVID-19, suhu tubuh akan diukur oleh seorang petugas sebelum membeli tiket masuk.

Setelah mempunyai tiket, maka kita akan berjalan di dalam terowongan panjang yang akan menghantarkan kita ke dua tempat utama untuk menikmati pemandangan air terjun di lantai tersebut.

Sedangkan tempat utama untuk menikmati keindahan air terjun tersebut terletak sekitar 40 meter diatas terowongan. Tenang aja, kita kita perlu berjalan jauh atau memutar atau bahkan menaiki anak tangga karena ada dua buah lift yang tersedia secara gratis untuk membawa kita ke atas.

Gokil yaaa… Kepikiran banget dibuatkan lift untuk menikmati air terjun. Hahaha

Kami pun dengan mudah membawa Henokh menikmati pemandangan air terjun. Henokh juga bisa duduk di stroller dengan nyaman kalau dia sudah lelah untuk berjalan kaki.

Antrian menggunakan lift di dalam terowongan.

15:30 JST

Kami memutuskan untuk pulang setelah puas menikmati pemandangan air terjun Fukuroda. Meskipun air terjun Fukuroda berada di daerah pegunungan tetapi udara musim panas cukup terasa dan cukup lembab. Hal ini membuat keringat mengalir tanpa henti.

Kami berasumsi bahwa musim gugur adalah saat terbaik mengunjungi air terjun ini. Dedaunan yang sudah berwarna warni ditambah suhu udara yang sejuk akan jadi nilai plus tersendiri untuk menikmati keindahan Fukuroda.

Perjalanan pulang dari Fukuroda ke Desa Tokai, kami tempuh dengan jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan kami. Pada saat kami datang, hamparan sawah menemani sepanjang perjalanan. Sedangkan perjalanan pulang kami ditemani oleh pemandangan pegunungan dengan kontur jalan yang berliku-liku.

Pemandangan disepanjang jalan pulang mengingatkan saya kepada kondisi jalan menuju kampung halaman di Indonesia. Kondisi jalan dan pemandangannya hampir sama dengan jalur dari Medan ke Berastagi.

Untuk menambah keindahan perjalan pulang, kami memutuskan untuk masuk ke Desa Tokai melalui pinggiran kota Hitachi dengan pemandangan Samudera Pasifik di sepanjang jalan.

Jembatan gantung menjadi salah satu akses menuju ke dalam terowongan.

19:00 JST

Perjalanan hari ini ditutup dengan menikmati makan malam di sebuah restoran italia bernama ‘Saizeria’. Sebuah restoran Italia dengan harga mahasiswa.

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Misteri Ayam Belatung

Tidak terasa acara yang dilaksanakan di kota A selama seminggu ini akan berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dan sorenya kami semua akan berpisah dan pulang ke kota masing-masing. Rombongan Jogja Kami menggunakan satu bus besar untuk menampung peserta dari Jogja. Karena jadwal berangkat bus sekitar jam 5 sore, maka dipastikan kami akan singgah untuk … Continue reading “Misteri Ayam Belatung”

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi).

Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu yang cukup terkenal di musim panas adalah keindahan Pantai “Oarai Sun Beach”.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, seluruh warga kota Oarai akan bergotong-royong membersihkan pantai di awal musim panas (biasanya awal bulan Juli) untuk menyambut wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahanan pantai dan lautnya. Lautnya cukup terkenal dengan ombaknya yang membuat banyak peselancar berdatangan ke Oarai.

Akan tetapi, pengunjung yang datang di musim panas 2020 sepertinya sangat jauh berkurang akibat dari pandemi COVID-19. Bahkan ketika kami mengunjungi pantai ini pada saat hari libur nasional (Hari Gunung), jumlah pengunjung yang ada di pantai ini sepertinya cukup sedikit. Padahal sebelum datang, kami berpikir akan terjadi kemacetan di dalam Oarai akibatnya banyaknya pengunjung yang hendak berlibur ke Oarai. Namun, hal tersebut tidak terjadi di hari itu.

Advertisements

Welcome Party

Hari itu, kami hendak mengadakan Welcome Party kecil-kecilan untuk salah satu teman lab sewaktu bersama-sama menuntut ilmu di Tokyo Tech karena dia sudah diterima bekerja di salah satu instansi nuklir nasional di kota Oarai.

09:30 JST

Kami sekeluarga beserta seorang teman berangkat dari Desa Tokai menuju ke “Oarai Sun Beach” di kota Oarai. Sebelum ke pantai, kami harus singgah terlebih dahulu di supermaket besar serba lengkap ‘COSTCO’ untuk membeli makanan dan minuman.

11:30 JST

Setelah selesai berbelanja dan membeli semua yang dibutuhkan, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Oarai.

Jarak antara Desa Tokai ke Kota Oarai kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil.

Di saat yang bersamaan, teman yang lain juga sudah berangkat dari kota Mito ke Oarai.

“Private Beach Parking Lot” adalah titik pertemuan kami. Tidak ada kemacetan yang berarti sewaktu perjalanan menuju Oarai.

Pada musim panas seperti ini, dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar ¥1.000/hari. Akan tetapi, di luar musim panas tidak dikenakanan biaya parkir apabila mengunjungi pantai Oarai Sun Beach.

12:00 JST

Hari itu, suhu udara di Kota Oarai mencapai sekitar 34o C dengan matahari yang bersinar cukup cerah. Hal ini membuat pasir pantai cukup panas untuk diinjak tanpa menggunakan alas kaki.

Dari tempat parkir, kami harus berjalan sejauh 500 meter menuju bibir pantai sambil membawa semua perlengkapan mulai dari tenda, kursi, makanan, minuman, hingga stroller Henokh.

Belum lagi acara Welcome Party dimulai, kami sudah basah kuyup karena udara yang cukup panas.

Dengan kondisi pantai yang tidak ramai, kami cukup mudah untuk menemukan tempat yang sesuai bagi kami. Begitu dapat, tenda pun menjadi hal yang pertama kami dirikan sebagai tempat berteduh.

Henokh dan Maminya sedang berteduh dari panasnya sinar matahari.

13:00 JST

Tanpa basa basi, kami pun langsung menyantap pizza yang telah dibawa sambil bercerita banyak hal.

Saya cukup beruntung karena istri cukup kenal dengan teman lab saya sewaktu kuliah di Tokyo Tech. Hal ini dikarenakan sewaktu kuliah, istri cukup sering berkunjung ke lab dan bahkan ngobrol bersama mereka.

Hal ini membuat istri tidak canggung ketika mengikuti acara reunian seperti ini.

Kembali lagi ke menu makanan yang kami persiapkan. Hari ini kami mempersiapkan beberapa jenis makanan seperti: nasi daging sapi, pizza, salad, dan kentang goreng. Sedangkan untuk minuman, air mineral dan beberapa botol jus dingin cukup menyegarkan ditengah teriknya cuaca.

Pastikan membawa cukup makanan dan minuman karena lokasi supermarket atau convenience store cukup jauh dari pantai.

14:30 JST

Setelah menikmati makanan dan minuman, Mami Henokh mengajak Henokh untuk bermain air di pinggir pantai. Sedangkan saya dan teman yang lainnya masih asyik mengobrol kenangan sewaktu di bangku kuliah. Salah satunya adalah membahas nasib play station yang ada di refreshing room yang sering digunakan untuk bermain diwaktu senggang (malam hari). Hehehe

Sambil mengobrol, sesekali saya meninggalkan teman-teman yang sedang mengobrol untuk menemani Henokh bermain air di pantai.

Dengan suhu udara yang cukup panas membuat air lautnya terasa sangat hangat. Hal ini membuat Henokh cukup senang bermain air. Akan tetapi, rasa air laut yang asin yang terminum oleh Henokh akibat terpaan ombak kecil membuatnya cukup kaget dan berlari menjauhi air laut. Hahaha

Advertisements

15:30 JST

Setelah merasa cukup lama bermain dan Henokh sudah mulai capek, akhirnya kami pun membawa Henokh ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh badannya.

Ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menggunakan jasa kamar mandi tersebut. Kita harus memasukkan koin ¥100 ke dalam mesin yang ada dikamar mandi untuk bisa menyalakan air hangat dari shower yang tersedia. Dengan uang ¥100, kita bisa menikmati air hangat sekitar 3-4 menit. Apabila waktu 3 menit dirasa belum cukup, silahkan masukkan kembali koin ¥100 ke dalam mesin tersebut.

Suasana musim panas di “Oarai Sun Beach” Jepang.

16:00 JST

Mami Henokh membawa Henokh ke dalam mobil untuk ngadem karena Henokh cukup sulit untuk tidur di suhu udara yang panas.

Di saat yang bersamaan, saya menyusul teman-teman yang sudah bermain ombak di laut. Bermain ombak di laut ternyata cukup menyenangkan. Semakin sore, terlihat cukup banyak peselancar yang mulai berdatangan. Hal ini membuat kami yang datang dengan tangan kosong, hanya bisa menghindar atau mencari tempat yang tidak banyak peselancar.

Sambil bermain di laut, sesekali saya memandang ke arah tenda kami. Ternyata, mami Henokh sudah ada disana sambil menggendong Henokh yang masih tertidur dengan lelap.

17:00 JST

Sekitar pukul 5 sore, beberapa petugas pantai sudah mulai berkeliling sambil memberitahu kalau pantai akan ditutup jam 6 sore. Selain itu, kondisi di laut pun sudah tidak kondusif untuk kami karena semakin banyak peselancar yang bermain membuat tidak ada tempat bagi kami. Hahaha

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menyudahi permainan ombak dan bersiap untuk membereskan semua barang bawaan kami.

INGAT..!!! SELALU BAWA PLASTIK SAMPAH

Menjaga kebersihan adalah hal utama yang perlu diingat ketika tinggal di Jepang. Jangan berharap banyak disediakan tempat sampah di pantai. Jadi, selalu bawa plastik sampah sendiri dan silahkan membawa pulang sampah tersebut.

Selanjutnya, kami pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum akhirnya meninggalkan pantai.

19:00 JST

Setelah seharian bermain di pantai, akhirnya tiba juga di rumah dengan selamat. Meskipun udara panas, tetapi cukup membuat memori yang bagus untuk Henokh karena ini adalah pertama kalinya dia bermain air di pantai.

One day trip bersama keluarga sekaligus dengan reuni teman lab adalah hal yang menyenangkan. Selain bisa menjaga tali persaudaraan dengan teman lintas negara, para istri juga bisa saling bertukar cerita tentang kehidupan membesarkan anak di Jepang. Bahkan teman Jepang juga bisa melihat sudut pandang yang baru bagaimana orang asing menjalani hidup di Jepang.

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”

Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”.

Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri.

Setelah satu tahun tinggal di asrama kampus yang terletak di daerah Yokohama, maka tahun kedua sebagai mahasiswa Master, saya memutuskan untuk mencari Apato yang lebih dekat dengan kampus (Ookayama Campus) dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tokyo Institute of Technology mempunyai dua kampus utama: Ookayama Campus (Tokyo) dan Suzukakedai Campus (Yokohama).”

Dikarenakan biaya apato di sekitar kampus Ookayama terbilang cukup mahal, maka saya dan seorang teman (Ashlih) memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah apato dengan tujuan bisa berbagi biaya sewa apato.

Melalui agen pencari apato, kami menemukan apato yang sesuai dengan kriteria yang kami cari. Tentunya harga adalah kriteria yang utama. Hehehe

Biaya Sewa dan Luas Apato

Apato yang kami sewa terletak sekitar 10 menit jalan kaki dari Stasiun Ookayama (stasiun utama menuju Ookayama Campus). Dengan jarak yang relatif dekat ke kampus, kami harus membayar sewa apato sebesar ¥ 75.000/bulan. Tentunya biaya tersebut diluar biaya listrik, air, gas, dll. Dengan harga segitu, kami memperoleh apato dengan ukuran sekitar 33 m2.

Fasilitas

Apato yang kami peroleh berada di lantai 1 dan berada di pojok (menghadap jalan). Hal ini membuat apato tersebut mendapatkan sinar matahari yang cukup di pagi hari.

Dengan ukuran 33 m2, apato ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 dapur (kitchen), kamar mandi, dan toilet. Komposisi seperti ini sering sekali di singkat menjadi 2K (2 kamar tidur dan kitchen). Selain itu apato ini tidak dilengkapi dengan pendingin udara (AC). Lampu hanya tersedia di toilet, kamar mandi, dan dapur. Oleh karenanya, kita harus membeli lagi lampu untuk kedua kamar tidur.

Selain itu, hal yang biasanya ditemui pada apato dengan ukuran mungil seperti tempat kami adalah posisi mesin cuci yang berada langsung di beranda belakang.

Advertisements

Tahun 1945

Salah satu hal yang mengejutkan sewaktu membaca detail kontrak, apato tersebut dibangun pada tahun 1945. Wowwww.. Usia apatonya sama dengan usia negara Indonesia.

Kondisi

Dengan kondisi apato yang sudah berdiri dari tahun 1945, tetapi selama dua tahun tinggal di apato tersebut tidak ada sama sekali masalah. Gempa yang berkali kali datang pun seolah olah tidak memberikan dampak apapun terhadap bangunan apato tersebut.

Seandainya saya tidak diberitahu mengenai bangunan apato tersebut, mungkin saya tidak terpikir bahwa bangunan itu berdiri sudah sangat lama.

Dari awal sejak kami menandatangani kontrak, sudah dijelaskan bahwa kontrak sewa tersebut hanya berlaku selama dua tahun dan tidak bisa diperpanjang karena pemilik apato berencana untuk melakukan renovasi.

Musim Panas vs Musim Dingin

Hal yang paling berkesan selama tinggal di apato ini adalah musim panas yang harus dilalui tanpa pendingin udara (AC). Oleh karena itu, saya biasanya menghabiskan waktu hingga larut malam selama musim panas di laboratorium karena sangat nyaman dan menghindari panasnya suhu udara di Tokyo.

Sedangkan musim dingin, kami menggunakan sebuah penghangat udara (portable gas heater) untuk menghangatkan kedua kamar tidur kami. Karena kedua kamar dibatasi oleh pintu geser (model rumah jepang), maka kadang kala kami membuka pintu tersebut supaya heater gas dapat menghangatkan ruangan kamar secara bersamaan.

Advertisements

Kenangan di Apato 1945

Bangunan Apato yang kami tempati di periode 2013-2015.
Berfoto dulu di depan apato sebelum menghadiri wisuda Master (2014) di Tokyo Institute of Technology.
Mesin cuci dan beranda belakang yang tertutup salju (2013).

“One Day Trip” Bermain Salju

Awal tahun 2020 dimulai dengan ikut berpartisipasi dalam acara “one day trip” bersama jemaat gereja GIII Oarai. Trip ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2020 dengan tujuan bermain ski di Minakami Kogen Resort 200 dan  dilanjutkan dengan melihat permainan lampu-lampu (illumination) di Asikaga Flower Park. Ini adalah perjalanan wisata awal tahun bagi saya, istri dan … Continue reading ““One Day Trip” Bermain Salju”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara. Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain … Continue reading “One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’”

Mudahnya Pencairan Asuransi Jiwa Henokh di Jepang.

Dua hari setelah kejadian The Accident, dimana keadaan Henokh sudah membaik dan luka di kening sudah mulai kering maka saya teringat kalau Henokh mengikuti program Asuransi Jiwa di Jepang. Asuransi Jiwa ini berbeda dengan asuransi kesehatan.

Saat itu, saya hanya ingin mencoba apakah Asuransi Jiwa tersebut bisa mengcover kecelakaan yang dialami Henokh. Dengan bantuan dari seorang teman kerja, akhirnya kami pun menghubungi pihak asuransi melalui telepon.

Beberapa hal yang perlu dijelaskan kepada pihak asuransi yaitu: Lokasi kejadian, Waktu, Luka yang dialami, Bagaimana kecelakaan bisa terjadi, Melibatkan pihak lain atau tidak, hingga alamat rumah sakit.

Setelah menjelaskan secara detail dan jujur kejadian tersebut, pihak asuransi pun langsung mengkonfirmasi kalau kejadian tersebut bisa dicover oleh asuransi jiwa. Selanjutnya, akan dikirim beberapa dokumen ke alamat rumah.

Advertisements

Dua hari setelah pembicaraan melalui telepon, akhirnya dokumennya tiba dirumah. Dokumen tersebut kurang lebih berisi formulir yang hampir sama dengan apa yang telah ditanyakan melalui telepon. Selain itu, diwajibkan untuk melampirkan fotocopy nota pembayaran dari Rumah Sakit.

Setelah melengkapi dokumen tersebut, silahkan masukkan dokumen tersebut ke dalam amplop yang telah disediakan. Kirimkan ulang dokumen tersebut ke kantor asuransi melalui kotak pos terdekat.

Sekitar satu minggu, maka pihak asuransi akan mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Besaran biaya yang diganti oleh pihak asuransi bergantung dengan kondisi kecelakaan dan beberapa hal yang telah disebutkan pada awal mendaftar asuransi jiwa.

Dalam kasus ini, kami memperoleh biaya dari pihak asuransi yang jumlahnya lebih banyak dari biaya yang kami keluarkan di RS (¥600).

Ternyata proses pencairan asuransi jiwa di Jepang cukup mudah dan tidak ribet.

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day

Setelah selesai beberapa rangkaian kegiatan di hari Minggu sore hingga malam, akhirnya tiba waktunya mengecek HP untuk melihat perkembangan dunia maya. Salah satunya adalah kiriman gambar di salah satu grup WA mengenai Mother’s Day. Awalnya cukup heran dan bertanya-tanya, ada peringatan apa di hari Minggu 10 Mei 2020? Demi menjawab pertanyaan itu, akhirnya saya pun … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day”

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015 Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji. Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji. Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik … Continue reading ““2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)”

Kembang Api Musim Panas di Jepang

Pada tulisan sebelumnya, saya memaparkan secara singkat mengenai Dilema musim panas di Jepang. Suhu udara yang tinggi ditambah dengan kelembapan udara yang cukup tinggi menghasilkan kombinasi yang membuat saya tidak kuat berlama-lama beraktifitas di luar ruangan.

Disisi lain, festival kembang api (Hanabi 花火) adalah acara tahunan yang diadakan hampir setiap akhir pekan pada bulan Agustus di seluruh Jepang.

Tempat paling terkenal untuk festival ini berada di daerah Asakusa tepat di dekat Sungai Sumida (Sumida River Firework Festival). Infonya sih salah satu festival kembang api terbesar di Jepang dengan total sekitar 20.000 kembang api yang bisa dinikmati mulai dari pukul 19:00 hingga 20:00an malam.

Sayang sekali, untuk tahun 2020 sepertinya tidak ada festival kembang api akibat COVID-19.

Kembang Api di Sumida River

Tahun 2016, saya dan tiga orang teman mempunyai kesempatan menikmati pertunjukan kembang api di Sumida River. Untuk menghindari keramaian orang, kami pun janjian untuk bertemu di salah satu pintu keluar Stasiun Asakusa jam 4:30 sore. Meskipun acara baru mulai di malam hari, akan tetapi sudah terlihat keramaian di dalam maupun di luar stasiun. Sudah banyak rombongan orang yang hendak menikmati pertunjukan tersebut. 

Kami pun berusaha mencari-cari lokasi untuk bisa duduk dan menikmati pertunjukkan kembang api. Akan tetapi, sudah banyak orang yang menggelar alas duduk di sepanjang pinggiran sungai sejak siang atau mungkin dari pagi hari. 

Meskipun demikian, kami tetap berusaha berjalan menelusuri pinggiran sungai sambil berharap setidaknya ada tempat yang bisa menampung kami berempat untuk duduk dan menikmati kembang api. Sepertinya, kesempatan menikmati pertunjukan dari pinggiran sungai sudah tidak memungkinkan lagi sehinga kami pun mundur menuju ke jalan raya yang ditutup sementara untuk kendaraan bermotor dan berusaha menikmati dari situ bersama dengan ribuan orang lainnya.

Di beberapa trotoar jalan terlihat banyak pedagang makanan dan minuman yang berjualan. Selain itu, beberapa hotel di sepanjang jalan tersebut menawarkan rooftop mereka dipakai untuk menikmati festival kembang api. Tentunya tawaran ini tidak gratis.

Kami memilih untuk tetap berjalan di sepanjang jalan tersebut sambil berusaha menemukan tempat yang sekiranya bisa untuk menikmati kembang api tersebut. Akan tetapi, sepertinya hal tersebut cukup sulit sehingga kami memutuskan untuk berdiri di depan salah satu hotel dan menikmati pertunjukan kembang api yang telah dimulai sejak 30 menit yang lalu. 

Ternyata cukup sulit untuk bisa menikmatinya karena pemandangan yang terhalang oleh gedung bertingkat di depan kami. Meskipun demikian, kami berusaha untuk menikmati pertunjukan tersebut.

Sekitar pukul 20:00, pertunjukan telah usai dan kami harus kembali ke Stasiun Asakusa. Ternyata posisi kami menonton kembang api tersebut berjarak cukup jauh dari stasiun. Butuh waktu sekitar 20 menit jalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Kami bersama ribuan orang lainnya berjalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Menikmati Festival kembang api di Sumida River secara umum cukup menyenangkan akan tetapi tidak bisa berharap banyak mendapatkan tempat terbaik untuk bisa menikmatinya.

Ekspektasi saya adalah bisa duduk (meskipun tidak dilokasi terbaik) untuk menyaksikan kembang api. Realita yang saya temui adalah menyaksikan kembang api selama satu jam dengan berdiri.

Mencari lokasi untuk menikmati kembang api di Sumida River (1)
Tidak dapat tempat duduk, akhirnya menonton sambil berdiri dan berjalan.

Kembang Api di Tama River

Meskipun kembang api di Sumida River adalah salah satu terbesar di Jepang. Tetapi, Tamagawa Firework Festival adalah tempat menonton kembang api favorit saya. 

Festival ini berlangsung di Tamagawa Futagobashi Park dan stasiun terdekatnya adalah Futakotamagawa Station. Biasanya berlangsung dari pukul 19:00 hingga 20:00 JST dengan jumlah kembang api sekitar 6.000.

Beberapa alasan yang membuat saya menjadikan Tamagawa Fireworks Festival menjadi tempat terfavorit hingga saat ini.

  1. Lokasinya yang strategis bagi saya. Dari kampus Tokyo Tech (Ookayama) cukup membutuhkan sekitar 12 menit dengan kereta untuk dapat mencapai Futakotamagawa Station. Demikian juga akses dari rumah ke Futakotamagawa yang bisa ditempuh sekitar 7 menit dengan kereta.
  2. Daya tampung besar. Daerah pinggiran Tama River yang cukup besar memberikan keuntungan tersendiri yang dapat menampung ribuan pengunjung tanpa harus berdesak-desakan. 
  3. Fasilitas cukup memadai. Salah satu fasilitas yang tersedia adalah toilet portable dengan jumlah yang cukup banyak. 
  4. Aneka makanan dan minuman. Terdapat stand jualan yang tertata rapi sehingga memudahkan pengunjung untuk mengaksesnya.
Duduk santai menunggu kembang api di Tamagawa River.
Lokasi strategis tepat dibelakang barisan VIP (berbayar).
Rekaman beberapa detik puncak festival kembang api di Tamagawa.

Hampir setiap tahun di musim panas, saya menikmati pertunjukan kembang api di Tamagawa. Meskipun banyak orang yang memadati, tetapi kita bisa duduk santai menatap ke langit sambil melihat kembang api dengan berbagai macam motif.

Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.

Tokai adalah sebuah desa yang terletak di Prefektur Ibaraki, Jepang. Secara ekonomi, desa Tokai ditopang oleh sektor industri nuklir (pemerintah dan swasta). Beberapa industri nuklir yang terdapat di Desa Tokai adalah: Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Japan Proton Accelerator Research Complex (J-PARC), Nuclear Fuel Industries, The Japan Atomic Power Company Tokai No.2 Power Station (PLTN), … Continue reading “Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah … Continue reading “Perlu gak ya Dana Pensiun?”

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Mahalnya belajar mengemudi di Jepang.

Beda negara beda pula aturan yang berlaku. Untuk urusan mengemudi, di Jepang punya aturan yang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Pada umumnya, mereka yang hendak belajar mengemudi untuk pertama kalinya harus mendaftarkan diri ke Driving School. Setahu saya, ini adalah satu-satunya cara bagi mereka yang baru mau belajar mengemudi. Berdasarkan obrolan dengan beberapa teman Jepang, hal tersebut memang sudah biasa. Akan tetapi, bagi warga asing khususnya Indonesia, biaya yang harus dikeluarkan untuk belajar mengemudi tersebut bisa terbilang cukup mahal. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh situasi di Indonesia dimana masih “abu-abunya” antara peraturan dan praktek yang berlangsung.

Berdasarkan pengalaman saya mengikuti kursus mengemudi di Indonesia, pada dasarnya kursus ini hanya ditujukan agar siswa dapat mengemudi tanpa perlu memberikan teori mengenai keselamatan dalam mengemudi yang memadai. Hal paling mendasar adalah pengajar di tempat saya mengemudi tidak mengenakan sabuk pengaman selama mengemudi.

Walaupun sudah saya ingatin ‘Pak, sabuk pengamannya tolong dipakai’. Dan cuma dibalas dengan kalimat yang sudah sering kita dengar ‘Gak nyaman kalau dipakai’.

Hal ini cukup berbeda ketika mengikuti kursus mengemudi di Jepang. Hal pertama yang dilakukan adalah mengikuti teori-teori keselamatan dalam mengemudi, aturan lalu lintas, dll di dalam kelas. Selanjutnya harus mengikuti ujian teori terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam praktek mengemudi. Untuk praktek mengemudi sendiri, tidak langsung praktek di jalan raya, tapi praktek dilakukan didalam Driving School.

Setelah mengikuti beberapa rangkaian teori dan praktek yang diberikan oleh pihak Driving School dan dinyatakan lulus, barulah peserta mengikuti ujian pengambilan Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang dilaksanakan di ‘Unten Menkyo Center’ yang ada di dekat daerah masing-masing.

Nah, berbagai macam rangkaian kegiatan tersebut membuat biaya belajar mengemudi di Jepang menjadi relatif mahal. Pada umumnya, total biaya yang dikeluarkan untuk belajar mengemudi sekitar ¥ 300.000 – 400.000.

List biaya mengemudi yang diadakan oleh salah satu Driving School di Jepang*.

Bagaimana dengan mereka yang sudah punya SIM Indonesia? Apakah harus ikut Driving School atau adakah cara lain untuk memperoleh SIM Jepang?

Nantikan di tulisan selanjutnya ya…

*https://www.koyama.co.jp/english/english_02_01.html

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab. Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”. 08.00 JST Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe Jam kerja yang … Continue reading “Kerjaan seorang peneliti nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Bagi setiap pasangan suami istri, kehamilan pertama tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Mulai dari rasa senang, bahagia, khawatir, dll semua bercampur aduk. Kalau di Indonesia, mungkin lebih sederhana karena tinggal datang ke rumah sakit, diperiksa dan bagi mereka pemegang asuransi BPJS atau asuransi dari kantor akan memperoleh bantuan keringanan biaya atau bahkan biaya ditanggung penuh oleh kantor.

Tidak demikian ketika tinggal di Jepang. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan subsidi melahirkan dari pemerintah.

Ada yang mau dapat bantuan? Kalau iya, silahkan lanjut ya bacanya.

Surat Keterangan Hamil

Untuk mendapatkan semua bantuan dari pemerintah maka hal yang pertama dilakukan adalah mempunyai surat keterangan hamil.

Caranya: lakukan pemeriksaan ke dokter kandungan dan pihak rumah sakit atau klinik akan mengeluarkan surat keterangan hamil.

“Hasil test pack tidak bisa dijadikan bukti ya. Tapi bisa dijadikan patokan untuk pergi ke klinik atau dokter kandungan.”

Pergi ke Kantor Pemerintahan (Yakuba/ Kuyakusho/ Shiyakusho)

Selanjutnya, bawa surat tersebut ke kantor pemerintahan dimana anda tinggal.

Kalau tinggal di desa maka suratnya dibawa ke kantor desa (Yakuba). Kalau tinggal dikelurahan namanya Kantor Kelurahan (Kuyakusho), dan kalau di Kota namanya Shiyakusho.

Selain membawa surat keterangan hamil, tentunya anda perlu membawa dokumen lainnya seperti Residence Card, Health Insurance, My Number dan Personal Stamp (Hanko). Kalau pengalaman saya, dokumen tersebut seperti menjadi hal yang wajib atau umum ditanyakan ketika mengurus segala sesuatu ke kantor pemerintahan. Jadi selalu dibawa aja.

Setelah kami melakukan registrasi di Yakuba, barulah kami memperoleh beberapa fasilitas dan tunjangan untuk ibu hamil.

IMG_2515
Alat penanda ibu hamil. Mami Henokh sangat senang waktu pertama kali dapat pin ini.

Berikut saya rangkum beberapa fasilitas atau bantuan yang kami peroleh:

  1. Bantuan biaya melahirkan. Setiap ibu hamil mendapat bantuan sebesar 420.000 yen. Uang tersebut bisa ditransfer langsung ke rekening pribadi atau ditransfer ke rekening rumah sakit. (Baca ini juga ya: Melahirkan di Jepang dapat uang Rp.60 juta, benar gak ya??)
  2. Kupon checkup. Bagi ibu hamil, tentunya ada pemeriksaan rutin yang perlu diikuti selama masa kehamilan. Nah, pemerintah Jepang memberikan bantuan berupa kupon untuk setiap pemeriksaan rutin ke Rumah Sakit. Dengan membawa kupon ini, maka biaya pemeriksaan bisa jauh lebih murah.
  3. Kartu Marufuku. Ini adalah sejenis kartu subsidi untuk ibu hamil. Masa berlaku kartu ini dimulai dari hamil (berdasarkan pemeriksaan dokter, bukan hasil test pack) hingga estimasi tanggal kelahiran bayi. Kartu ini berguna untuk membantu biaya perobatan atau pemeriksaan semasa hamil.
  4. Nametag atau pin khusus ibu hamil. Pin ini biasanya di tempel di tas atau dibagian yang mudah terlihat oleh orang. Dengan memakai pin ini maka akan mendapatkan prioritas duduk di transportasi umum.
  5. Boshi techo. Boshi techo adalah buku panduan kesehatan ibu dan anak. Dibuku ini ada beberapa panduan mengenai pertumbuhan anak. Selain itu buku ini digunakan juga untuk mencatat kondisi ibu dan anak selama masa kehamilan. Buku ini akan digunakan sebagai panduan dan catatan pertumbuhan anak hingga usia 6 tahun. Jadi, jangan sampai hilang yaa..

Dari segi biaya, semua tunjangan tersebut sangatlah membantu dan meringankan biaya pemeriksaan selama masa kehamilan.

Semoga catatan singkat ini bisa bermanfaat.