“One Day Trip” Air Terjun Fukuroda

Kegiatan lain yang kami lakukan pada musim panas tahun ini adalah mengunjungi salah satu tempat wisata terkenal di Ibaraki, Fukuroda Waterfall (Air Terjun Fukuroda).

Air terjun Fukuroda terletak di kota Daigo, Prefektur Ibaraki dan berjarak sekitar 50 km dari Desa Tokai. Berdasarkan info dari Fukuroda Falls Travel Guide, air terjun termasuk ke dalam tiga besar air terjun terindah di Jepang. Sebenarnya, saya sudah pernah berkunjung ke Air Terjun Fukuroda pada tahun 2015. Akan tetapi, ini adalah kali pernah untuk Henokh dan maminya berkunjung ke Fukuroda.

Akses

Ada dua pilihan utama untuk menuju Air Terjunn Fukuroda yaitu menggunakan kendaraan pribadi (mobil) maupun kereta. Dari stasiun kereta Fukuroda (Fukuroda station) menuju ke air terjun Fukuroda bisa ditempuh sekitar 40 menit berjalan kaki (sekitar 3 km).

Informasi lengkapnya, bisa dilihat di website berikut ini: Fukuroda Falls Travel Guide


Saya akan menceritakan perjalanan “One day trip” ke Fukuroda Waterfall dari Desa Tokai.

Air Terjun ‘Fukuroda’

10:30 JST

Perjalanan hari ini dimulai sekitar pukul 10.30 pagi dari desa Tokai. Menurut informasi dari Google Map, kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk tiba di Fukuroda Waterfall dengan menggunakan mobil (tidak lewat jalan tol). Selain itu, informasi lainnya tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda kemacetan di sepanjang perjalanan.

Baru saja 30 menit berjalan, Henokh yang awalnya begitu menikmati perjalanan, ternyata sudah lebih dahulu tertidur. Sepanjang perjalanan, telihat jelas hamparan sawah dan ladang yang ditanami berbagai macam sayuran. Hal ini tentu saja berbeda 180o dengan pemandangan perkotaan seperti Tokyo.

12:00 JST

Salah satu keunggulan Jepang dalam bidang pariwisata adalah penataan ruang disekitar tempat wisata. Tempat parkir, toilet umum, restoran, toko souvenir, dll tertata dengan baik dan rapi. Selain itu, pedestrian pun tersedia dengan cukup untuk bisa menampung pejalan kaki bahkan orang tua yang membawa anak bayi menggunakan stroller.

Kami pun memarkirkan mobil disalah satu tempat parkir. Jarak antara tempat parkir ke pintu masuk air terjun cukup jauh. Bagi mereka yang membawa anak bayi (balita), ada baiknya membawa stroller untuk memudahkan perjalanan.

Biaya parkir yang harus dibayarkan adalah sebesar ¥ 500 per hari.

Makan siang

Sebelum memulai petualangan, kami menikmati makan siang dengan menyantap makanan Jepang disalah satu restoran yang ada disana.

Sejauh saya berkunjung ke beberapa wilayah di Jepang, Ramen, Udon, Soba, Kare Jepang, dan Oyakodon adalah beberapa menu yang paling sering ditemui. Harganya pun cukup terjangkau dengan kisaran ¥ 900 – 1.500.

Selain itu, terdapat juga penjual di tepi jalan yang menjajakan cemilan berupa ikan sungai yang dibakar (diasapi) dan dihidangkan dengan cara ditusuk seperti sate. Harga yang ditawarkan untuk seekor ikan bakar sekitar ¥400.

13:30

Untuk bisa menikmati keindahan air terjun Fukuroda, kita harus membayar tiket masuk sebesar ¥ 300 untuk satu orang dewasa.

Demi tetap menjaga keamanan dan kesehatan di masa pandemi COVID-19, suhu tubuh akan diukur oleh seorang petugas sebelum membeli tiket masuk.

Setelah mempunyai tiket, maka kita akan berjalan di dalam terowongan panjang yang akan menghantarkan kita ke dua tempat utama untuk menikmati pemandangan air terjun di lantai tersebut.

Sedangkan tempat utama untuk menikmati keindahan air terjun tersebut terletak sekitar 40 meter diatas terowongan. Tenang aja, kita kita perlu berjalan jauh atau memutar atau bahkan menaiki anak tangga karena ada dua buah lift yang tersedia secara gratis untuk membawa kita ke atas.

Gokil yaaa… Kepikiran banget dibuatkan lift untuk menikmati air terjun. Hahaha

Kami pun dengan mudah membawa Henokh menikmati pemandangan air terjun. Henokh juga bisa duduk di stroller dengan nyaman kalau dia sudah lelah untuk berjalan kaki.

Antrian menggunakan lift di dalam terowongan.

15:30 JST

Kami memutuskan untuk pulang setelah puas menikmati pemandangan air terjun Fukuroda. Meskipun air terjun Fukuroda berada di daerah pegunungan tetapi udara musim panas cukup terasa dan cukup lembab. Hal ini membuat keringat mengalir tanpa henti.

Kami berasumsi bahwa musim gugur adalah saat terbaik mengunjungi air terjun ini. Dedaunan yang sudah berwarna warni ditambah suhu udara yang sejuk akan jadi nilai plus tersendiri untuk menikmati keindahan Fukuroda.

Perjalanan pulang dari Fukuroda ke Desa Tokai, kami tempuh dengan jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan kami. Pada saat kami datang, hamparan sawah menemani sepanjang perjalanan. Sedangkan perjalanan pulang kami ditemani oleh pemandangan pegunungan dengan kontur jalan yang berliku-liku.

Pemandangan disepanjang jalan pulang mengingatkan saya kepada kondisi jalan menuju kampung halaman di Indonesia. Kondisi jalan dan pemandangannya hampir sama dengan jalur dari Medan ke Berastagi.

Untuk menambah keindahan perjalan pulang, kami memutuskan untuk masuk ke Desa Tokai melalui pinggiran kota Hitachi dengan pemandangan Samudera Pasifik di sepanjang jalan.

Jembatan gantung menjadi salah satu akses menuju ke dalam terowongan.

19:00 JST

Perjalanan hari ini ditutup dengan menikmati makan malam di sebuah restoran italia bernama ‘Saizeria’. Sebuah restoran Italia dengan harga mahasiswa.

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Misteri Ayam Belatung

Tidak terasa acara yang dilaksanakan di kota A selama seminggu ini akan berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dan sorenya kami semua akan berpisah dan pulang ke kota masing-masing. Rombongan Jogja Kami menggunakan satu bus besar untuk menampung peserta dari Jogja. Karena jadwal berangkat bus sekitar jam 5 sore, maka dipastikan kami akan singgah untuk … Continue reading “Misteri Ayam Belatung”

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi).

Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu yang cukup terkenal di musim panas adalah keindahan Pantai “Oarai Sun Beach”.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, seluruh warga kota Oarai akan bergotong-royong membersihkan pantai di awal musim panas (biasanya awal bulan Juli) untuk menyambut wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahanan pantai dan lautnya. Lautnya cukup terkenal dengan ombaknya yang membuat banyak peselancar berdatangan ke Oarai.

Akan tetapi, pengunjung yang datang di musim panas 2020 sepertinya sangat jauh berkurang akibat dari pandemi COVID-19. Bahkan ketika kami mengunjungi pantai ini pada saat hari libur nasional (Hari Gunung), jumlah pengunjung yang ada di pantai ini sepertinya cukup sedikit. Padahal sebelum datang, kami berpikir akan terjadi kemacetan di dalam Oarai akibatnya banyaknya pengunjung yang hendak berlibur ke Oarai. Namun, hal tersebut tidak terjadi di hari itu.

Advertisements

Welcome Party

Hari itu, kami hendak mengadakan Welcome Party kecil-kecilan untuk salah satu teman lab sewaktu bersama-sama menuntut ilmu di Tokyo Tech karena dia sudah diterima bekerja di salah satu instansi nuklir nasional di kota Oarai.

09:30 JST

Kami sekeluarga beserta seorang teman berangkat dari Desa Tokai menuju ke “Oarai Sun Beach” di kota Oarai. Sebelum ke pantai, kami harus singgah terlebih dahulu di supermaket besar serba lengkap ‘COSTCO’ untuk membeli makanan dan minuman.

11:30 JST

Setelah selesai berbelanja dan membeli semua yang dibutuhkan, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Oarai.

Jarak antara Desa Tokai ke Kota Oarai kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil.

Di saat yang bersamaan, teman yang lain juga sudah berangkat dari kota Mito ke Oarai.

“Private Beach Parking Lot” adalah titik pertemuan kami. Tidak ada kemacetan yang berarti sewaktu perjalanan menuju Oarai.

Pada musim panas seperti ini, dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar ¥1.000/hari. Akan tetapi, di luar musim panas tidak dikenakanan biaya parkir apabila mengunjungi pantai Oarai Sun Beach.

12:00 JST

Hari itu, suhu udara di Kota Oarai mencapai sekitar 34o C dengan matahari yang bersinar cukup cerah. Hal ini membuat pasir pantai cukup panas untuk diinjak tanpa menggunakan alas kaki.

Dari tempat parkir, kami harus berjalan sejauh 500 meter menuju bibir pantai sambil membawa semua perlengkapan mulai dari tenda, kursi, makanan, minuman, hingga stroller Henokh.

Belum lagi acara Welcome Party dimulai, kami sudah basah kuyup karena udara yang cukup panas.

Dengan kondisi pantai yang tidak ramai, kami cukup mudah untuk menemukan tempat yang sesuai bagi kami. Begitu dapat, tenda pun menjadi hal yang pertama kami dirikan sebagai tempat berteduh.

Henokh dan Maminya sedang berteduh dari panasnya sinar matahari.

13:00 JST

Tanpa basa basi, kami pun langsung menyantap pizza yang telah dibawa sambil bercerita banyak hal.

Saya cukup beruntung karena istri cukup kenal dengan teman lab saya sewaktu kuliah di Tokyo Tech. Hal ini dikarenakan sewaktu kuliah, istri cukup sering berkunjung ke lab dan bahkan ngobrol bersama mereka.

Hal ini membuat istri tidak canggung ketika mengikuti acara reunian seperti ini.

Kembali lagi ke menu makanan yang kami persiapkan. Hari ini kami mempersiapkan beberapa jenis makanan seperti: nasi daging sapi, pizza, salad, dan kentang goreng. Sedangkan untuk minuman, air mineral dan beberapa botol jus dingin cukup menyegarkan ditengah teriknya cuaca.

Pastikan membawa cukup makanan dan minuman karena lokasi supermarket atau convenience store cukup jauh dari pantai.

14:30 JST

Setelah menikmati makanan dan minuman, Mami Henokh mengajak Henokh untuk bermain air di pinggir pantai. Sedangkan saya dan teman yang lainnya masih asyik mengobrol kenangan sewaktu di bangku kuliah. Salah satunya adalah membahas nasib play station yang ada di refreshing room yang sering digunakan untuk bermain diwaktu senggang (malam hari). Hehehe

Sambil mengobrol, sesekali saya meninggalkan teman-teman yang sedang mengobrol untuk menemani Henokh bermain air di pantai.

Dengan suhu udara yang cukup panas membuat air lautnya terasa sangat hangat. Hal ini membuat Henokh cukup senang bermain air. Akan tetapi, rasa air laut yang asin yang terminum oleh Henokh akibat terpaan ombak kecil membuatnya cukup kaget dan berlari menjauhi air laut. Hahaha

Advertisements

15:30 JST

Setelah merasa cukup lama bermain dan Henokh sudah mulai capek, akhirnya kami pun membawa Henokh ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh badannya.

Ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menggunakan jasa kamar mandi tersebut. Kita harus memasukkan koin ¥100 ke dalam mesin yang ada dikamar mandi untuk bisa menyalakan air hangat dari shower yang tersedia. Dengan uang ¥100, kita bisa menikmati air hangat sekitar 3-4 menit. Apabila waktu 3 menit dirasa belum cukup, silahkan masukkan kembali koin ¥100 ke dalam mesin tersebut.

Suasana musim panas di “Oarai Sun Beach” Jepang.

16:00 JST

Mami Henokh membawa Henokh ke dalam mobil untuk ngadem karena Henokh cukup sulit untuk tidur di suhu udara yang panas.

Di saat yang bersamaan, saya menyusul teman-teman yang sudah bermain ombak di laut. Bermain ombak di laut ternyata cukup menyenangkan. Semakin sore, terlihat cukup banyak peselancar yang mulai berdatangan. Hal ini membuat kami yang datang dengan tangan kosong, hanya bisa menghindar atau mencari tempat yang tidak banyak peselancar.

Sambil bermain di laut, sesekali saya memandang ke arah tenda kami. Ternyata, mami Henokh sudah ada disana sambil menggendong Henokh yang masih tertidur dengan lelap.

17:00 JST

Sekitar pukul 5 sore, beberapa petugas pantai sudah mulai berkeliling sambil memberitahu kalau pantai akan ditutup jam 6 sore. Selain itu, kondisi di laut pun sudah tidak kondusif untuk kami karena semakin banyak peselancar yang bermain membuat tidak ada tempat bagi kami. Hahaha

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menyudahi permainan ombak dan bersiap untuk membereskan semua barang bawaan kami.

INGAT..!!! SELALU BAWA PLASTIK SAMPAH

Menjaga kebersihan adalah hal utama yang perlu diingat ketika tinggal di Jepang. Jangan berharap banyak disediakan tempat sampah di pantai. Jadi, selalu bawa plastik sampah sendiri dan silahkan membawa pulang sampah tersebut.

Selanjutnya, kami pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum akhirnya meninggalkan pantai.

19:00 JST

Setelah seharian bermain di pantai, akhirnya tiba juga di rumah dengan selamat. Meskipun udara panas, tetapi cukup membuat memori yang bagus untuk Henokh karena ini adalah pertama kalinya dia bermain air di pantai.

One day trip bersama keluarga sekaligus dengan reuni teman lab adalah hal yang menyenangkan. Selain bisa menjaga tali persaudaraan dengan teman lintas negara, para istri juga bisa saling bertukar cerita tentang kehidupan membesarkan anak di Jepang. Bahkan teman Jepang juga bisa melihat sudut pandang yang baru bagaimana orang asing menjalani hidup di Jepang.

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”