How I met you mother (2)

Sebelumnya di

Episode 1: Januari 2020

 

Episode 2

Siapa Dia?

Jadwal les pada level ini adalah hari Selasa dan Kamis, pukul 17:30 -19:00 WIB. Hal ini berbeda dengan level sebelumnya yang mana jadwalnya adalah hari Senin dan Rabu.

Hari pertama masuk les, saya pergi bersama Andi dengan motor “belalang tempur” nya.

“Sebenarnya kami sudah mengikuti les ini dari level sebelumnya, tapi berbeda jadwal.”

Sepanjang jalan menuju ELTI, saya berharap ada orang lain yang saya kenal di kelas selain si Andi. Sesampainya di ELTI, apa daya tak satupun orang yang saya kenal di kelas itu. Semuanya wajah baru bagi saya. Dilain pihak, ternyata Andi sudah lumayan kenal dengan beberapa orang disana. Usut punya usut, ternyata temannya dari level sebelumnya.

Hari itu, tidak ada yang spesial. Masuk ke kelas, memperkenalkan diri masing-masing, dilanjutkan dengan kegiatan belajar dan setelah itu pulang.

Beberapa Hari Kemudian..

Hari ini kami terlambat sekitar 5 menit. Hanya ada dua alasannya, antara saya lagi keasikan mengerjakan skripsi atau jemputan yang telat..hahaha.

Saat itu, pintu kelas sudah ditutup. Andi yang berada di depan, langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Saya mengikuti di belakang sambil mencari-cari kursi mana yang masih kosong.

Disinilah pandangan saya tertuju pada seseorang perempuan yang pada pertemuan sebelumnya tidak ada di kelas itu.*

“Penampilannya cukup menarik perhatian diantara murid-murid lainnya.”

bersambung …

Episode 3: Membuka diri


Andi: Teman saya sejak tahun 2007. Orangnya mudah bergaul dengan siapa saja.

*Bagi ya kenal, tahan dulu yaaa.. jangan spoiler dulu..

 

 

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

Are you new to blogging, and do you want step-by-step guidance on how to publish and grow your blog? Learn more about our new Blogging for Beginners course and get 50% off through December 10th.

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University.

“Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.”

Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu wisuda saja, maka “sedikit santai” lah conference ini dibandingkan dengan yang sebelumnya. Karena itu, saya berinisiatif untuk mengajak istri untuk ikut kesana. Biaya keikutsertaan istri tentunya menjadi tanggungan saya sendiri.

(Silahkan baca tulisan saya sebelumnya: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga)

Conference itu sendiri berlangsung selama 3 hari dan jadwal presentasi saya adalah di hari terakhir. Dengan kondisi demikian, saya harus tiba di Sapporo satu hari sebelumnya.

Disinilah kami memanfaatkan waktu untuk melakukan “One Day Trip” Sapporo.

Berikut kira-kira ringkasan perjalanan selama satu hari di seputaran Sapporo.

H-30

Pemesanan Hotel

Stasiun kereta terdekat menuju Hokkaido University adalah Stasiun Sapporo. Oleh karena itu, saya berusaha mencari hotel disekitar stasiun ini. Akan tetapi, karena harga yang lumayan mahal, maka kami memutuskan untuk memesan hotel di tempat lain.

“Saya selalu menggunakan booking.com untuk melakukan pemesanan hotel” 

Akhirnya kami menginap di APA Hotel Sapporo Susukino Ekimae yang terletak didekat Stasiun Hosuisusukino. Stasiun ini hanya berjarak dua stasiun dari Stasiun Sapporo. Selain itu, ternyata letak hotel ini hanya berjarak sekitar 1.1 km dari Stasiun Sapporo.

“Di Jepang, harga sewa hotel ditentukan berdasarkan jumlah orang. Misal: 1 kamar yang bisa diisi 2 orang, maka harga yang dibayarkan bukan harga 1 kamar melainkan harga untuk 2 orang.”

Biaya yang kami keluarkan untuk hotel ¥16.400/malam. (Ukuran 1 Double Room-Non Smoking)

Pemesanan Tiket Pesawat

Kami memesan tiket pesawat melalui AirDo. Harga total tiket PP yang kami keluarkan sebesar ¥ 32.000. Untuk penerbangan sendiri, kami memilih untuk berangkat menggunakan penerbangan paling pagi (sekitar jam 7) agar bisa menikmati “one day trip2” di Sapporo.

H-1

Opsi penerbangan paling pagi, berdampak pada jadwal keberangkatan dari rumah menuju Bandara Haneda. Setelah kami cek jadwal kereta atau bus menuju bandara dari Stasiun Saginuma (dekat rumah), maka kami tidak menemukan jadwal kereta yang bisa memberikan kami tumpangan agar tiba di Bandara Haneda sekitar jam 6 pagi.

“Ketika rencana awal tidak berhasil, maka harus ada opsi-opsi lain.”

Rencana-A

Opsi ini adalah menginap di bandara pada malam harinya. Entah kenapa saya masih belum sreg dengan opsi ini dan pada akhirnya opsi ini pun kami batalkan.

Rencana-B

Menginap di rumah teman yang jaraknya cukup dekat ke bandara serta ada angkutan umum pada pagi hari ke bandara.

Saya kepikiran untuk menginap di rumah kawan yang sudah sangat kami kenal dengan baik..hahaha. Teman itu tidak lain adalah kakak kelas saya sewaktu di Teknik Nuklir UGM (sebut saja namanya Petrus). Saya pernah dengar ceritanya kalau dia beberapa kali pergi ke bandara pada pagi hari. Dari sini saya ambil kesimpulan bahwa ada kereta pagi dari rumahnya menuju bandara.

Hari H

Perjalanan kali ini dimulai dari sekitar jam 3.30 pagi.

3:30 – 4:30 JST : Bangun pagi sekaligus beberes mandi, dll. Pemilik rumah masih tertidur dengan lelap.hahaha

4:45 – 5:00 JST: Jalan kaki menuju Stasiun NNNNN (maaf, saya tidak bisa menyebutkan nama stasiunnya karena alasan privasi). Dari rumah menuju statiun hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit jalan kaki. Kami berencana menaiki kereta pukul 5:04 agar tiba di bandara haneda pukul 5:50.

5:04 – 5:50 JST: Di stasiun ini sudah lumayan banyak orang yang memulai aktivitas. Untuk menuju Bandara Haneda, kami harus transit di Stasiun Yokohama.

“Stasiun Yokohama merupakan salah satu statiun tersibuk di Jepang. Tidak heran jika jam 5 pagi pun sudah banyak para pekerja kantoran (kemeja putih dan jas hitam) sudah lalu lalang di dalam stasiun mencari keretanya masing-masing.”

Sebelumnya, teman kami sudah memberitahu ancang-ancang pindah mengenai stasiun Yokohama karena kami tidak begitu familiar dengan stasiun ini. Selain itu, kami hanya punya waktu kurang dari 10 menit untuk transit.

Tepat pukul 5:50, akhirnya kami tiba di bandara Haneda.

6:00 – 6:30  JST: Check-in dan mencari sarapan di terminal domestik Haneda. Onigiri dan sebotol minuman cukuplah untuk memulai perjalanan di pagi hari yang mendung.

“Terminal domestik tidak buka 24 jam sehingga kalau anda berencana menginap di bandara maka harus pindah ke terminal internasional.” (Info dari pengalaman teman lab)

6:50 – 08:20 JST: Pesawat pun meninggalkan Bandara Narita menuju Bandara New Chitose di Sapporo, Hokkaido.

09:00 JST: Setelah keliling melihat-lihat bandaranya sejenak, kami memutuskan untuk menggunakan kereta menuju Stasiun Sapporo.

09:15 – 09:50 JST: Kami menggunakan kereta express dengan biaya sekitar ¥1.500/orang (lupa angka benerannya, tapi estimasinya segitu). Pemandangan yang ditawarkan selama perjalanan menuju Stasiun Sapporo lumayan indah. Tetapi rasa kantuk yang masih terasa, membuat saya untuk memilih tidur di sepanjang perjalanan.

10:00 JST: Kami memilih untuk langsung berkeliling di Sapporo lalu setelah itu baru check in  ke tempat kami menginap. Sudah ada daftar tempat apa saja yang hendak kami kunjungi. Kami memilih untuk menitipkan koper di coin locker. Cukup bawa barang yang dibutuhkan saja.

“Harga sewa coin locker berkisar diantara ¥300 – ¥600 tergantung dari ukuran locker yang dibutuhkan. Coin locker ini sangat banyak di temukan di area stasiun.”

Untuk urutannya saya mungkin sudah agak lupa, tapi semua tempat yang kami kunjungi dari sekitar jam 10 pagi sampai jam 5 sore masih berada di sekitaran stasiun dan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain.

10:15 – 12:00 JST: Tempat pertama yang dikunjungi adalah Odori Park. Beruntungnya kami karena pada saat itu sedang diadakan festival disana. Banyak stand makanan mulai dari khas Hokkaido sampai western food. Kami menikmati waktu dengan bersantai sambil menikmati cemilan-cemilan ringan yang disajikan disana.

Tips di tempat festival:

  • Kelilingi dahulu semua tempat jualan makanan sebelum membeli.
  • Untuk minuman, membeli minuman botol di konbini jauh lebih hemat. Biasanya minum yang ditawarkan di festival bagi saya tidak begitu menarik.

12:10 – 12:30 JST: Setelah menikmati cemilan ringan, kami melanjutkan menuju Sapporo TV TowerTower ini sebenarnya bisa dilihat langsung dari Odori Park, tapi kami penasaran saja sehingga berjalan kurang lebih 5 menit dari tempat kami duduk. Hahaha. Sesampainya disana pun, kami cuma mengganggukkan kepala (ekspresi datar dan yasudah lah yaa…). Hal ini mungkin karena kami sudah melihat Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree sehingga tidak terlalu ekspresif ketika melihat Sapporo TV Tower.

13:00 – 13:45 JST: Selanjutnya kami bergerak menuju Sapporo Clock TowerMenurut review, ini merupakan simbol dari kota Sapporo. Bangunannya pun kalau diperhatikan lebih bernuansa Eropa. Dan entah kenapa, lebih terdapat nuansa Eropa atau Amerika ya di kota ini.

“Butuh membeli tiket masuk sebesar ¥ 200 yen untuk bisa mengunjungi Sapporo Clock Tower.”

Terdapat guide yang bersedia membantu dalam mendokumentasikan foto dan tidak dipungut biaya.

Tidak lupa pula kami membeli souvenir khas dari Sapporo Clock Tower berupa pajangan kaca.

14:00 – 14:40 JST: Tidak jauh dari Sapporo Clock Tower, kami melanjutkan jalan kaki kami menuju Hokkaido Goverment OfficeBangunan nyentrik dengan bata merah diseluruh bangunannya. Kami berjalan kurang lebih 15 menit menuju tempat ini. Bangunan ini sangat menarik untuk dikunjungi. Ditambah suasana di dalam pun sangat bagus untuk menambah wawasan mengenai sejarah kota ini. Setelah atau sebelum masuk ke dalam gedung ini, taman yang ada disekitar gedung sangatlah indah di musim gugur.

14:45 – 15:20 JST: Setelah perjalanan panjang yang asik dan melelahkan, kami kembali ke Odori Park untuk mengisi perut yang sudah mulai memberontak. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke taman ini lagi. Kali ini saya mencoba memakan ramen khas hokkaido (ramen seafood). Tidak perlu berlama-lama disini karena masih ada dua atau tiga tempat lagi yang mau kami kunjungi.

Setelah mengisi kembali “bensin”, kami pun siap melanjutkan perjalanan lagi.

15:30 – 16:00 JST: Kami pun menuju kuil Hokkaido Shrine Tongu dengan berjalan kaki sejauh 10 menitEkspektasi kami lumayan tinggi saat mau menuju kesana. Akan tetapi, sesampainya disana, kami cukup puaslah melihat kuil dari luar tanpa harus berlama-lama disana. (Agak sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang ada dibayangan kami).

16:00 -17:00 JST: Kami melanjutkan lagi ke tempat terakhir dan saya lupa namanya. Semacam bekas pabrik yang sudah diubah jadi tempat belanja (Tolong kasih tahu ya kalau ada yang tahu). Bangunannya dari bata merah gitu dan ada cerobongnya. Tidak terlalu ada yang spesial yang dilihat disini tapi kami mampir ke Daiso untuk membeli tali pinggang. (Saya lupa bawa tali pinggang untuk pakaian conference besok hari..haha)

17:10 JST: Karena kami sudah lelah, maka kami memutuskan untuk naik bus dari tempat ini menuju Stasiun Sapporo.

Dari stasiun ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju hotel di Susukino Station.

20:00 – 21:30 JST: Kami pergi keluar hotel untuk mencari makan malam. Tidak disangka disekitar hotel banyak sekali tempat makan khas Hokkaido. Dan malam itu pun kami kembali memilih untuk memakan ramen seafood khas Hokkaido.

22:00 JST: Saatnya kembali untuk beristirahat. Tidak lupa sebelum tidur membuka kembali file presentasi yang akan dipresentasikan besok harinya.

Demikianlah perjalanan singkat kami yang bisa saya rangkum dalam cerita “One Day Trip” Hokkaido.

Kesimpulan

  • Ada cukup banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam satu hari di Sapporo.
  • Shiroi Koibito” adalah ole-ole khas dari Hokkaido. Silahkan mampir untuk membelinya.
  • Suhu udara di Sapporo pada pertengahan bulan September sudah cukup sejuk dibandingkan dengan Tokyo. Perlu membawa jaket hangat bagi mereka yang tidak suka dingin.
  • Pastikan anda melakukan perjalanan dengan outfit yang nyaman dipakai.

Berikut sedikit dokumentasi kami selama melakukan perjalanan di Sapporo.

IMG_4977
Sapporo Clock Tower. 

IMG_5003
Sapporo Clock Tower dilihat dari Odori Park

IMG_5007
Salah satu sudut kota saat kami berjalan dari Odori Park menuju Hokkaido Shrine Tongu.

IMG_5008
Suasana malam di dekat hotel tempat kami menginap.

How I met your mother (1)

Episode 1

Januari 2010

Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu.

Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester sebelumnya.

Selain itu, saya juga mengambil kelas bahasa inggris di ELTI untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris yang tak tunjung meningkat..hahaha

Tidak hanya di perkuliahan, di ELTI pun kami memasuki semester baru. Saat itu saya akan memulai kelas bahasa di level yang baru. Kenaikan level ini membuat saya harus pindah dari ELTI yang di dekat Gedung Telkom ke ELTI yang di belakang Gramedia.

“Pindah tempat dan naik level ditambah hampir tidak ada teman dari level yang sama melanjutkan les, membuat saya harus berinteraksi dan bersosialisasi di lingkungan yang baru. Sesuatu yang agak sulit bagi saya yang introvert.”

 

bersambung …

Episode 2: Siapa Dia?

 

Dampak Tutupnya ‘STATION COM’ terhadap anggaran belanja rumah tangga

Abstrak

Belanja kebutuhan sehari-hari adalah hal yang biasa dilakukan oleh hampir setiap orang. Di Desa Tokai cukup banyak tersedia supermarket baik itu yang besar atau kecil untuk mendukung kehidupan warga desa. Station Com adalah satu dari beberapa supermarket yang ada disini. Lokasinya yang dapat ditempuh kurang lebih 3 menit dengan jalan kaki menjadikan supermarket ini pilihan utama kami. Namun, sejak seminggu terakhir, supermarket ini tutup tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Hal ini tentunya memberikan dampak khusus bagi kami “pelanggan setia” supermarket ini. Mau tahu dampaknya? Silahkan lanjutkan membacanya..hehehehe

Latar Belakang

Menurut saya, desa Tokai merupakan suatu desa yang saya anggap cukup maju dan berkembang. Bagaimana tidak, di desa ini cukup banyak supermarket, restoran, drug store, dll. Fokus cerita kali ini mengenai supermarket (kami di Jepang sering menyebutnya Supa). Di Tokai terdapat beberapa supa besar seperti AEON, KASUMI, FOOD OFF, STATION COM, YORK BENIMARU, YAMASHIN, serta supa-supa kecil lainnya. Dari semua supa tersebut, STATION COM lah yang jaraknya sangat dekat dari rumah. Kira-kira bisa ditempuh hanya 3 menit jalan kaki. Sedangkan supa yang lumayan jauh adalah KASUMI dan AEON yang ditempuh sekitar 15 menit jalan kaki.

Selain faktor jarak, ternyata STATION COM adalah supa yang paling murah terutama untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, daging, sayur, dsb.

Akan tetapi, sejak dua minggu terakhir supa ini tutup (semoga tidak tutup untuk selamanya..hahaha). Tutupnya supa ini tentunya memberikan dampak terhadap anggaran belanja rumah tangga kami. Melalui tulisan ini, saya akan berusaha menjabarkan dampak apa saja yang kami terima baik langsung maupun tidak langsung serta seberapa besar dampak yang diberikan terhadap anggaran belanja negara (ehh salah, anggaran belanja keluarga..haha)

Metodologi

Supaya perbandingan yang dihasilkan lebih akurat, maka metodologi yang akan digunakan adalah membandingkan antara barang-barang kebutuhan sehari-hari yang sudah sering dibeli oleh istri.

Kondisi sebelum tutupnya STATION COM

Hampir semua kebutuhan pokok maupun cemilan dan sejenisnya kami beli di supa ini. Gambaran kasarnya adalah untuk daging ayam 1 kg sekitar ¥500; beras 5kg (paling murah) ¥1.300; sayuran sekitar ¥90-150; daging sapi 500g sekitar ¥400; minuman kardus (1L) sekitar ¥100; cemilan (roti, kue, dll) bervariasi mulai dari ¥50 – 200.

Dengan harga seperti itu, biasanya istri akan menghabiskan sekitar ¥5.000/minggu untuk kebutuhan sehari-hari (tentunya tidak hanya membeli barang yang disebutkan diatas). Selain itu, kami tidak perlu melakukan penyimpanan (menyetok) bahan makanan karena STATION COM adalah “kulkas raksasa” kami. Dekatnya jarak ke rumah, membuat istri juga punya aktifitas membawa anak kami menikmati jalan pagi atau sore sembari mampir ke supa.

Selain STATION COM, kami juga menggunakan jasa supa lainnya seperti AEON, KASUMI, dan YORK BENIMARU karena untuk beberapa jenis barang, supa ini memberikan kualitas yang lebih baik (ikan, buah) serta ada toko roti (bakery) didalamnya.

Kondisi setelah tutupnya STATION COM

Untuk beberapa hari pertama, tutupnya STATION COM tidak terlalu memberikan pengaruh yang signifikan. Untuk mengatasi hal tersebut, kami memilih untuk menggunakan jasa AEON karena kami sudah punya member card nya.

Untuk setiap pemegang member, setiap pembelanjaan senilai ¥ 200 bernilai sama dengan 1 poin (¥ 1) dan berlaku kelipatannya

Selain itu, lokasi AEON juga berdekatan dengan play center (Jidoukan) yang sering dikunjungi oleh istri dan Henokh.

Dua minggu berlalu, ternyata STATION COM masih tutup. Istri pun sudah merasakan ada yang berubah dengan anggaran belanja. Berdasarkan pengamatannya, ada kenaikan uang belanja mingguan sekitar ¥3.000 di minggu tersebut.

¥3.000 bisa dapat apa aja sih?

Setiap orang punya caranya masing-masing dalam mengartikan ¥3.000. Sewaktu saya mahasiswa single, dengan nilai segitu saya bisa makan selama 2-3 hari. Dengan nilai yang sama, itu adalah harga sekali makan malam kami di TIARA (restoran italia paling enak di desa Tokai). Harga ¥3.000 bisa digunakan untuk tiket sekali jalan ke Tokyo dengan bus atau kereta lokal.

Kesimpulan

Semuanya tergantung kepada diri kita sendiri bagaimana mau menggunakan dan memanfaatkan uang yang ada.

Ternyata dampak ini tidak hanya bagi kami pribadi, beberapa teman yang tinggal di desa Tokai pun kaget dengan tutup mendadaknya STATION COM.

Demikianlah sedikit curhat dari istri saya. Dimana curhatnya saya curhatkan lagi ke dalam tulisan ini. Hehehe

 

IMG_7906IMG_7902IMG_7905IMG_7904

IMG_7903
Beberapa barang kebutuhan sehari-hari yang di jual di supermarket AEON

 

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis.

Latar Belakang

Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan selama tahun itu. Deklarasi ini dilakukan untuk memastikan besaran pajak di bayarkan setiap bulannya sudah sesuai atau tidak. Apabila jumlah pajak yang dibayarkan telah sesuai atau belum. (Itulah kira-kira pemahaman saya mengenai deklarasi di akhir tahun ini. Apabila ada yang lebih memahami sistem perpajakan di Jepang, boleh dibagikan di kolom komentar).

Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi besar kecilnya pajak penghasilan yang kita bayarkan, salah satunya adalah Asuransi Jiwa. Apabila kita ikut program asuransi jiwa maka kita memperoleh keringanan pajak.

Pada saat itu, penulis belum tahu mengenai asuransi jiwa. Selama ini, penulis berpikir bahwa ketika di awal masuk dan mendaftarkan asuransi kesehatan maka otomatis juga akan mengcover asuransi jiwa dsb. (Persepsi penulis yang salah selama ini).

Asuransi Jiwa????? Dengan penasaran, penulis bertanya ke teman lab: Asuransi kesehatan kita beda ya dengan asuransi jiwa?

Teman pun menjawab: Ya, beda.

Haahhhh???? Kemana aja sodara selama hampir dua tahun kerja. Kenapa info ini tidak pernah saya dengar. (Itulah yang muncul di benak pikiran penulis).

Dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya penulis meminta tolong kepada pak bos  untuk menjelaskan mengenai sistem asuransi di tempat bekerja.

Begini ringkasan penjelasannya:

Asuransi Kesehatan secara umum di Jepang menggunakan sistem 70-30. Artinya: 70% ditanggung oleh perusahaan dan 30% dibayar sendiri.

Tapi, ditempat saya bekerja, ada tambahan sekitar 10-20% yang akan ditanggung sehingga pegawai biasanya akan membayar sekitar 10% (kira-kira itu penjelasan beliau diawal. Disini penulis sedikit kaget dan rasa penasaran kenapa selama ini biaya berobat lumayan murah dikarenakan hal ini tohh. Pantesan aja kemarin pakai ambulance ke RS bisa gratis dan hanya bayar biaya pengobatan ¥600). Tapi, nilai 10% ini tentunya masih bersifat relatif, bisa besar atau kecil.

Selanjutnya, beliau menjelaskan lagi melalui contoh kasus agar mudah dipahami:

  • Apabila terjadi kecelakaan yang menimpa pegawai di dalam lingkungan kerja, maka masuk katagori kecelakaan kerja dan akan ditanggung 100% untuk  biaya perawatan dll.
  • Namun, apabila kecelakaan di luar lingkungan kerja, maka asuransi kesehatan tersebutlah yang bekerja dengan sistem yang telah dijabarkan diatas.

Permasalahan

Bagaimana dengan keluarga kita? Tentu apabila terjadi kecelakaan atau hal apapun semuanya berada diluar lingkungan kerja, bukan? Artinya, ada biaya sekitar 10% yang akan dibayar sendiri.

Penulis kurang tahu dengan perusahaan lainnya, jadi disini kita asumsikan secara umum saja ya. Anggaplah yang ditanggung 70%, artinya ada sisa 30% yang perlu kita bayarkan.

30 % itu mahal atau murah sih?

Bagi penulis, 30% itu mahal. Kalau terjadi kecelakaan yang menyebabkan seseorang harus dioperasi dan harus dirawat inap di rumah sakit, maka biaya sewa kamar selama di RS tidak menjadi tanggungan asuransi kesehatan. (Untuk harga inap di RS per malam bisa dicari tahu sendiri dan menurut penulis lumayan mahal sih).

Nah, disinilah peran asuransi jiwa penting menurut penulis. Ketika kita mengikuti program asuransi jiwa, maka ketika terjadi kecelakaan atau hal lain yang membuat kita sampai di rawat inap, pihak asuransi akan memberikan biaya harian selama kita berada di rumah sakit. Ditambah lagi biaya-biaya lainnya yang akan ditanggung oleh asuransi jiwa. Dengan adanya asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, maka hal ini sangatlah membantu meringankan beban biaya yang nantinya akan dikeluarkan. Bahkan di beberapa kasus ada yang malah menerima uang setelah mengklaim biaya pengobatan ke asuransi.

Selain itu apabila sampai kehilangan nyawa karena kecelakaan, maka keluarga yang ditinggalkan akan menerima bantuan (tentunya besarnya tergantung dari premi bulanan yang kita bayarkan).

Begitulah kira-kira ringkasan diskusi kami mengenai asuransi jiwa ini.

Gerak cepat

Sesampainya di rumah, penulis langung menceritakan hal tersebut ke istri. Kami pun setuju untuk mengikuti program asuransi jiwa. Ini alasan kami mengikuti asuransi jiwa:

  • Kalau terjadi kecelakaan pada kami, setidaknya kombinasi antara asuransi jiwa dan asuransi kesehatan bisa menutup atau meringankan biaya yang dikeluarkan.
  • Kalau sampai meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan tidak langsung kehilangan sumber penghasilan.

Banyak yang beranggapan ya semua orang pada akhirnya meninggal toh, buat apa asuransi. Bagi saya itu anggapan yang keliru. Betul, anda hari ini bisa merasa sehat tapi siapa yang tahu hari esok. Setelah meninggal, anda tidak akan berurusan dengan masalah keuangan lagi kan, tapi anak dan istri yang ditinggalkan masih membutuhkan loh selama hidup di dunia..hehehe”

Di hari berikutnya, penulis meminta tolong kepada salah seorang pegawai di perusahaan yang berurusan dalam hal membantu para pekerja asing. Penulis menjelaskan terlebih dahulu permasalahannya dan selanjutnya beliau bersedia membantu mencarikan informasi mengenai asuransi jiwa.

Singkat cerita, ada dua atau tiga perusahaan yang direkomendasikan. Dari semuanya itu, saya akan menceritakan satu perusahaan saja.

茨城県民生活協同組合 (Ibaraki Kenmin Seikatsu Kyoudou Kumiai)

(Silahkan cek disini untuk info lebih lanjut https://www.ibaraki-kyosai.jp/)

Perusahaan asuransi ini khusus bagi warga yang tinggal di Ibaraki. Mereka punya cabang di masing-masing prefecture dengan nama yang berbeda (mungkin tinggal ganti Ibaraki ********** dengan [nama prefecture] *******). Begitu info dari pegawai mereka sewaktu saya membuat kontrak dengan mereka.

Kenapa memilih perusahan ini?

  • Premi bulannya mulai dari ¥1.000. Cukup murah bukan? Tapi, apa yang didapatkan dengan premi 1.000 yen/bulan?
    • Kalau rawat inap akan mendapat biaya ¥ 2.500/hari.
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 132.000 – 3.300.000 (tergantung kondisi).
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan selain kecelakan lalu lintas: ¥ 80.000 – 2.000.000 (tergantung kondisi).
    • Kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 5.000.000
    • Kematian yang disebabkan selain kecelakaan lalu lintas: ¥ 4.000.000
    • Kematian yang disebakan karena sakit (Bahasa indonesianya mungkin agak kurang benar): ¥ 2.000.000
    • Ada banyak hal lainnya yang ditawarkan, silahkan dikunjungi websitenya langung (hanya Bahasa Jepang).
  • Sangat mudah bagi warga asing. Kenapa? karena tidak ada kontrak yang mengikat. Jadi apabila suatu saat kembali ke negara asal atau pindah ke negara lain, maka bisa memutuskan kontrak kapan saja tanpa denda. (biaya administrasi mungkin ada).
  • Diakhir fiscal year (sekitar bulan Maret), apabila jumlah premi yang masuk dari seluruh pelanggan lebih besar dari jumlah uang yang dikeluarkan untuk klaim asuransi (artinya banyak warga yang sehat) maka selisih uang tersebut akan dikembalikan ke pelanggan disesuaikan dengan premi bulanan. Menurut info pegawainya sebesar 20-30%. Bagi penulis hal ini cukup menarik, sehingga timbul pertanyaan kepada mereka bagaimana kalau dari April 2020 – Maret 2021 jumlah klaim asuransi lebih besar dari pemasukan? Mendengar pertanyaan saya, mereka lumayan terkejut dan mengatakan “Heeeehhhh”(eskpresi orang jepang yang kaget atau bingung). Jawabannya cukup diplomatis: sampai saat ini belum pernah terjadi hal demikan.
  • Bagaimana kalau terjadi kecelakaan atau hal lainnya di luar Jepang? Apakah biaya yang dikeluarkan selama perobatan di luar Jeapng bisa diklaim? Jawabannya: Bisa, tentunya dengan membawa bukti dari RS atau diagnosa dokter, dsb. Intinya syarat dan ketentuan berlaku.
  • Syarat pendaftaran yang sangat mudah: bawa inkan (stamp) dan buku tabungan.

Setelah mendengar penjelasan langsung dari mereka, penulis mendaftarkan seluruh anggota keluarga (istri dan anak) ke dalam program asuransi jiwa tersebut.

Mungkin ini sedikit informasi yang bisa saya bagikan terutama kepada kita yang sedang ada di Jepang. Semoga bisa bermanfaat.

Bagi mereka yang punya informasi lebih detail atau sudah ikut asuransi jiwa ini bolehlah tinggalkan komentar. Mungkin pengalamannya akan sangat berguna bagi kami yang baru mulai ikut atau bagi orang lain yang tertarik dengan program asuransi jiwa.

Maaf apabila ada salah kata dalam mengartikan atau informasi yang salah. Mohon Dikoreksi. Informasi yang penulis bagikan disini adalah berdasarkan informasi yang diterima langsung dari pegawai asuransi ketika penulis hendak bergabung dengan asuransi jiwa mereka. Terimakasih.

 

“One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)

Salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Ibaraki adalah Hitachi Seaside Park. Beruntungnya kami yang sekarang tinggal di Desa Tokai karena hanya berjarak sekitar 15 menit menggunakan bus dari rumah ke taman ini. Lebih lagi ada bus dari depan rumah yang langsung menuju ke Hitachi Seaside Park.

Pertama kali kami mengunjungi Hitachi Seaside Park sewaktu liburan Golden Week 2017. Pada saat itu kami masih tinggal di Tokyo. Namun setelah kami tinggal di Ibaraki, tepatnya di desa Tokai, sudah lebih dari 5 kali mengunjungi taman ini di sepanjang tahun 2019. Walaupun sudah lumayan sering, kami tetap berencana mengunjunginya lagi tahun ini (bahkan berencana membeli annual pass..hahaha).

Pasti heran donk yaa… Apakah ada yang spesial dari taman ini? Jawabannya ADA. Salah satunya adalah karakter tanamanan yang berbeda beda setiap musimnya. Bagi saya, yang paling layak dikunjungi pada saat musim semi dan musim gugur.

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman mengunjungi taman ini pada saat musim semi 2019 bersama keluarga. Seperti cerita-cerita saya sebelumnya, kali ini kita akan melakukan One Day Trip bersama Henokh yang baru berusia sekitar 1.5 bulan. Hehehe

20 April 2019

Suhu yang hangat di hari Sabtu ditambah dengan cuaca yang cerah memantapkan langkah kami untuk melakukan perjalanan di hari ini. Tujuannya adalah melihat bunga Tulip dan Nemophila di Hitachi Seaside Park.

Perjalanan membawa bayi tentunya membuat kami harus memberikan waktu lebih untuk persiapan. Selain itu, jadwal bus dari rumah pukul 10.00 JST membuat kami nyaman mempersiapakan segala keperluan Henokh.

Harga tiket masuk Hitachi Seaside Park sebesar ¥ 450

 

Berikut sekilas rangkuman petualangan kami di Hitachi Seaside Park.

10:00 – 10:20 JST: Berangkat naik bus menuju ke Hitachi Seaside Park. Cuaca yang hangat dan cerah membuat hari ini banyak sekali orang yang berkunjung. Terlihat dari kemacetan sekitar area taman. Bagi yang membawa mobil, jangan khawatir karena tempat parkir yang tersedia juga cukup banyak.

Tidak harus parkir di parkiran Hitachi Seaside Park, ada banyak tempat parkir di sekitar Hitachi Seaside Park.”

10:30 – 12:00 JST: Sebelum masuk, pastikan dulu sudah membeli tiket masuk. Pemandangan yang didapat sesaat memasuki Hitachi Seaside Park adalah hamparan taman yang mana di tengahnya terdapat semacam kolam air. Kami langsung memilih untuk menjelajah sisi kanan dimana terdapat hamparan bunga tulip yang beraneka warna ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Saya baru sadar kalau hanya sedikit dokumentasi yang kami lakukan karena fokus kami memastikan Henokh tetap baik-baik saja selama di taman.

Ingat!!!

Kita sedang di negara Jepang, jadi haruslah taat baik peraturan tertulis maupun norma-norma sosial yang berlaku.

“Sekecil apapun tindakan buruk kita dinegara orang, maka akan mempengaruhi cara pandang orang tersebut terhadap negara kita.”

Tips:

  • Pastikan handphone, kamera, GoPro, Osmo Mobile, dll dalam kondisi prima (baterai penuh).
  • Kalau mau berfoto di spot-spot tertentu dan banyak orang maka WAJIB ANTRI.
  • Jangan menginjak atau memetik tanaman hanya demi selfie atau foto.
  • Sepanjang jalan tidak banyak terdapat tempat sampah. SIMPAN BUNGKUS SAMPAH ANDA SAMPAI MENJUMPAI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH.

12:00 – 13:00 JST: Waktunya mengganti popok Henokh dilanjutkan dengan memberi asupan makanan buat Henokh. Di dalam Hitachi Seaside Park terdapat fasilitas untuk ibu menyusui dan ruangan untuk mengganti popok bayi. Tentunya ruangan ini bersih dan nyaman. Mari kita yang menggunakannya untuk tetap menjaga kebersihan. Di dalam ruang menyusui juga terdapat air panas untuk membuat susu bayi.

13:00 – 13:40 JST: Setelah Henokh selesai makan, saatnya giliran orang tuanya yang membutuhkan asupan makanan. Ada beberapa restoran yang terdapat di dalam taman ini. Tapi hari ini kami mencoba makanan yang disajikan oleh food truck. Hari yang cerah dan udara yang hangat sangat cocok untuk menikmati makan siang di luar. Menu makanan yang disajikan sangat beraneka ragam tapi harganya sedikit mahal (¥500 -¥1.200). Kami memilih makan di area sekitar bunga tulip.

Tidak terasa sudah hampir jam 2 siang tapi kami masih berada di satu lokasi. Saatnya bergerak menuju lokasi utama lainnya.

14:00 – 15:30 JST: Saatnya menuju ke area utama di musim semi, Nemophila. Perlu jalan kaki sekitar 15 menit dari pintu gerbang utama menuju ke bukit Nemophila. Karena kami bawa bayi, tentunya memakan waktu yang lebih lama.hehehe. Pada saat kami datang hari itu, sudah banyak orang yang mendaki bukit Nemophila. Kami memilih untuk tidak mendaki tapi menikmati dari bawah saja. Bagi mereka yang memilih mendaki bukit maka dari atas akan mendapatkan pemandangan langsung ke laut lepas yang sangat bagus.

“Nemophila ini ditanam di bukit-bukit dan kita bisa berjalan menelusi bukit tersebut sambil menikmati pemandangan nemophila”

15:40 – 16:00 JST: Lagi-lagi kami harus mampir ke ruang bayi untuk mengganti popok dan memberi asupan makanan buat Henokh

16:30 JST: Saatnya untuk mengakhiri perjalanan hari ini. Hitachi Seaside Park tutup pukul 17:00 JST. Sebelum pulang, kami wajib mampir ke toko souvenir untuk membeli magnet dan buah tangan(buat dimakan sendiri..hahaha).

Terdapat fasilitas kereta untuk berkeliling taman dengan biaya tambahan. Sangat berguna bagi mereka yang datang membawa orang tua atau anak. Perjalanan berkeliling Hitachi Seaside Park sangatlah melelahkan bagi mereka yang belum terbiasa jalan kaki.”

Demikianlah rangkaian One day trip kami dengan membawa Henokh si bayi kecil kami.

Kesimpulan

  • Sekitar akhir April – awal Mei adalah waktu yang tepat melihat Nemophila dan Tulip.
  • Di sekitar waktu ini pula terdapat libur Panjang di Jepang, atau dikenal dengan istilah Golden Week. Bagi mereka yang mau datang kesini dari Tokyo, menggunakan kereta adalah opsi yang paling baik. Mobil adalah opsi terakhir karena akan sangat macet (pengalaman kami di tahun 2017).
  • Karena taman ini sangat luas, maka minuman botol dan cemilan sangat direkomendasikan untuk dibawa.
  • Bagi mereka yang membawa bayi atau balita, kereta bayi (stroller) sangat direkomendasikan untuk dibawa.

 

IMG_4683
Bunga Tulip

IMG_4674
Antrian panjang menuju puncak bukit Nemophila. Bisa loh berhenti sebentar untuk mengambil foto tapi jangan melewati pagar yaaa.

IMG_3112
Kombinasi warna warni bunga tulip membuat pemandangan menjadi sangat indah.

IMG_3118
Henokh dan maminya. Hangatnya sinar matahari membuat Henokh tertidur lelap.

“One Day Trip” Fukushima

Salah satu keuntungan yang kami dapatkan sejak tinggal di desa Tokai adalah program “One Day Trip” bagi warga asing. Program ini diselenggarakan oleh Tokai International Association.

Program ini diadakan 2x dalam setahun (Juni dan November). Pada bulan Juni 2019 kami belum bisa ikut karena Henokh masih kurang dari 6 bulan. Akan tetapi, trip pada bulan November 2019 boleh kami ikuti karena usia Henokh sudah 8 bulan lebih.

Suasana hati kami riang gembira karena bisa ikut trip ini ditambah lagi biaya yang dikeluarkan cuma ¥3.500/orang sudah termasuk transport, makan siang, dan tiket masuk ke tempat wisata. Biayanya sangat muraahhhhhhh sekaliiiiiiii. HAHAHA. (Mungkin program ini dapat subsidi dari pemerintah setempat).

Tujuan utama perjalanan ini adalah TSURUGA CASTLE.

Begini ringkasan singkat perjalanan ‘one day trip’ dengan membawa bayi. REMPONG adalah hal WAJIB dan kami selalu berusaha untuk menikmati kerempongan ini. hahaha

16 November 2019

  • Mempersiapkan kebutuhan bayi: Makanan instan (bukan mie instan yaaa…haha), cemilan bayi, popok, baju ganti, jaket, mainan, stroller, dll.
  • Kalau kebutuhan saya dan istri hanya botol minum dan cemilan ringan saja.

17 November 2019 (Hari H)

“Kondisi cuaca: Cerah, tidak berangin, dan suhu udara sekitar 12C”

07:15 JST : Berangkat dari rumah ke tempat perkumpulan di Tokai Community Center. Terpaksa naik taksi karena kalau jalan kaki sekitar 25 menit dan pasti telat.

07:30 JST : Bus berangkat sesuai jadwal. 

“Perjalanan kali ini diikuti oleh kurang lebih 50an peserta”

09:00-09:15 JST : Rest Area. Perlu diketahui bahwa apabila jalan-jalan dengan rombongan terutama dengan orang Jepang, maka waktu singgah di rest area adalah 15 menit. Apabila membutuhkan waktu lebih lama, WAJIB lapor ke koordinator di bus sebelum menuju toilet. Dan setelah selesai dari toilet, WAJIB lapor kembali ke koordinator.

09:15 – 10:30 JST : Selama perjalanan di bus, kami tidak begitu banyak berinteraksi dengan peserta disebalah, muka dan belakang karena berusaha untuk tetap berinteraksi dengan Henokh  supaya tidak bosan di perjalanan.

10:30 – 11.00 JST : Pemberhentian pertama. LAKE INAWASHIRO. Kami punya waktu 30 menit untuk menikmati pemandangan disekitar danau. Angin di sekitar danau  berhembus dengan sangat kencang dan kondisi ini membuat jadi sangat dingin untuk berlama-lama di tepi danau. Pemandangannya bagi saya biasa saja. Kalau mau foto pun, ada latar Mount Bandai yang puncaknya sudah tertutup salju. Tidak sampai 10 menit diluar, kami memutuskan untuk masuk ke dalam toko souvenir untuk menghangatkan diri dan sekedar melihat-lihat makanan khas apa saja yang ditawarkan. Disini kami memutuskan untuk membeli hiasan magnet kulkas.

11:30 -13:00 JST : Pemberhentian kedua. MAKAN SIANG. Kita berhenti di restoran Jepang (saya lupa nama maupun tempatnya). Restoran ini menawarkan sistem All You Can Eat. Banyak jenis makanan yang ditawarkan mulai dari hidangan pembuka, menu utama (ramen) dan hidangan penutup semuanya dapat dimakan sepuasnya.

Tips: Wajib memperhatikan jumlah makanan yang masuk saat melakukan trip adalah hal yang harus dilakukan untuk tidak mengganggu selama perjalanan nantinya.

13:40 – 15:45 JST : Pemberhentian Utama. TSURUGA CASTLE. 2 jam bukanlah waktu yang lama untuk mengelilingi benteng dan seluruh kompleksnya. Seperti benteng pada umumnya maka selalu dikelilingi oleh sungai buatan. Sebelum memasuki benteng, kita diajak untuk mengunjungi salah satu rumah teh, tempat untuk menikmati teh. Ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan kalau mau mencobanya (lupa berapa harganya tapi tidak sampai ¥1.000). Setelah dari situ, kita masuk ke dalam benteng.

Tidak ada eskalator atau lift didalam benteng, hanya menggunakan tangga”

Karena hanya ada tangga, maka tugas Henokh harus saya gendong. Strollernya tidak bisa masuk, tapi ada tempat penitipan barang baik itu stroler, koper kecil dll. Tempat penitipannya hanya berupa stand kosong tanpa penjaga, jadi langsung ditaruh aja disana. Jepang relatif aman, jadi kami tidak perlu terlalu khawatir. (Kalau sampai strollernya hilang, behhhhhh… ada yang nangis2 kali yaakkk..LOL)

Bagi peminat sejarah, pastinya wajib membaca setiap penjelasan yang diberikan di setiap sudut bangungan. Bagi yang hanya mau foto, langsung aja deh naik ke lantai 5 dan lihat pemandangan kota dari ketinggian. Hahahaha.

Bagi saya, tentunya membaca bagian demi bagian adalah pilihan yang saya ambil walaupun tidak bisa terbaca semuanya karena keterbatasan waktu. Setelah saya rasa cukup memahami sejarah clan dari generasi ke generasi, saya melanjutkan naik ke atas untuk melihat pemandangan kota. 

Lagi-lagi saya takjub dengan susunan tata kotanya

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15:15 dan saatnya turun menuju toko oleh-oleh. Banyak pilihan souvenir yang ditawarkan mulai dari gantungan kunci, makanan, hiasan, dll. Harganya pun relatif terjangkau.

Sebelum masuk ke bus, hal utama yang harus dilakukan adalah mengganti popok bayi. Jepang merupakan negara yang ramah akan anak bayi sehingga hampir disetiap tujuan wisata ada nursery room dan toilet yang menyediakan tempat mengganti popok.

16:00 – 19:00 JST : Perjalanan pulang menuju Tokai. Perjalanan pulang kali ini lebih seru karena sepanjang perjalanan disajikan permainan Bingo dengan hadiah-hadiah yang menarik. Kami membawa pulang frame foto dan lilin batang. HAHAHA. 

Demikianlah ringkasan singkat one day trip kali ini. 

Kesimpulan

  • Bagi mereka yang sedang di Jepang dan mau ikut acara yang diadakan oleh pemerintah setempat seperti One Day Trip, ini adalah kesempatan yang menarik karena biaya yang dikeluarkan lebih murah.
  • Bisa mengunjungi banyak tempat dalam satu hari sangatlah menarik. Namun, bagi saya pribadi, saya kurang bisa menikmati karena waktu yang disediakan sangat terbatas. Menyenangkan namun kurang menikmati.
  • One day trip dengan membawa bayi menyebabkan kami tidak bisa mengikuti pergerakan peserta lain dengan lincah. Terkadang kami lebih banyak melewatkan tempat-tempat yang kami anggap tidak perlu dikunjungi sewaktu berada di kawasan TSURUGA CASTLE.

Tsuruga Castle

IMG_6559
Bersama rombongan baru tiba di Tsuruga Castle.
IMG_0245
Foto Bersama

 

“One Day Trip” Ryujin Suspension Bridge

Sejak tinggal di Desa Tokai, Ibaraki, hal yang mau kami lakukan adalah berusaha mencari tempat-tempat menarik apa saja yang ada disekitar kami. Patokan dekat atau jauh adalah bisa ditempuh dengan kendaraan paling lama 2-3 jam mengingat anak kami yang belum berusia satu tahun.

“Mesin pencari google adalah alat bantu kami menemukan lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak kami ketahui.”

One Day Trip kali ini adalah mengunjungi RYUJIN SUSPENSION BRIDGE yang ada di Hitachiota sekitar 40-50 menit dari rumah dengan menggunakan mobil.

Apa sih yang menarik dari melihat jembatan? Tentunya tiap orang punya jawaban dan alasan yang berbeda beda, bukan. Bagi orang yang suka atau belajar tentang jembatan, mungkin ini adalah salah satu kesempatan yang bagus untuk melihat hasil nyata dari apa yang pernah di pelajari di kelas atau sejenisnya.

Menurut tripadvisor, jembatan ini mendapat poin 4 (maksimal 5 poin).

Penjelasan singkat mengenai Ryujin Suspension Bridge

  • Merupakan jembatan gantung terpanjang yang bisa dilalui pejalan kaki di Jepang.
  • Dari jembatan bisa langsung melihat Danau Ryujin yang ada di bawahnya. (Ada beberapa lokasi di jembatan yang dibuat dengan kaca sehingga bisa langsung melihat ke bawah).
  • Terdapat permainan Buggy Jumping dari ketinggian 100m. Buggy Jumping  tertinggi di Jepang.
  • Pemandangan alam yang ditawarkan sangat bagus.

Setelah membaca review dari internet, akhirnya kami (saya, istri, anak dan Degi) memutuskan untuk mengunjungi tanggal 1 Desember 2019. Awalnya kami berencana kesana sekitar tanggal 20an November tujuannya sekaligus melihat daun-daun musim gugur yang sudah berubah warna, tapi karena kesibukan masing-masing maka tertundalah sampai di awal desember.

Kira-kira begini perjalanan singkat kami menuju Ryujin Suspension Bridge

09:00 JST : Berangkat dari Tokai. Perjalanan lancar tanpa macet sehingga hanya menghabiskan sekitar 40 menitan saja. Sekitar 2 km belum sampai ditujuan, sudah dihidangkan pemandangan pegunungan yang daunnya sudah mulai berubah warna. (Ternyata kami masih beruntung bisa menikmati pemandangan ini…hahahaha)

10:00 – 12:00 JST : Kita mulai perjalanan melewati jembatan ini. Perlu bayar tiket untuk bisa melewati jembatan sebesar ¥400 (kalau tidak salah). Sedangkan untuk bermain buggy jumping perlu membayar sebesar ¥16.000/orang untuk 1x lompatan. Untuk saya mau dikasih GRATIS pun, heemmmmmmm.. cukup sadar diri aja..lihat kebawah dari gedung 8 lantai aja jantung mau ikut lepas. Sedangkan bagi istri dan Degi, mereka masih mau kalau harganya ¥10.000..hahahaha

“JAM OPERASIONAL BUGGY JUMPING 09:00 – 17:00”

“Sudah lebih dari 10.000 orang yang mencoba buggy jumping ini”

12:00 – 13:00 JST : Panggilan alam untuk mencari tempat makan. Pilihan restorannya sangat sedikit dan menu yang ditawarkan tidaklah spesial sekali. Hanya ada raman, soba, karaage (ayam goreng jepang), dan beberapa menu lainnya. Untuk harga sekitar ¥800 – 1.400/porsi.

“Pada jam-jam tertentu ada pertunjukan topeng monyet di dekat jembatan”

13:00 – 14:30 JST : Menikmati pemandangan alam sekitar sambil menikmati cemilan khas ibaraki di musim dingin, yaitu sweet potato. Cuaca yang cerah, hangat dan tidak terlalu berangin membuat kami biasa menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah.

14:45 JST : Menyelesaikan perjalanan singkat karena merasa sudah cukup puas untuk menghabiskan waktu disana.

Kesimpulan

  • Bagi yang suka olahraga xtreme, maka buggy jumping  disini sangat direkomendasikan.
  • Pemandangan musim gugur disini sangat bagus apalagi ketika datang pas puncaknya musim gugur.
  • Sangat cocok untuk mereka yang mau mencari ketenangan atau sekedar melepas penat.

IMG_6711

 

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang.

Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang ada di pesisir timur Jepang di prefektur Ibaraki. Tebakan saya, banyak orang tidak mengetahui kota kecil ini. Tetapi bagi sebagian besar Orang Manado  dan sekitar pasti tahu dengan kota ini. Kota itu adalah OARAI. (Mungkin perlu di tulisan lainnya untuk membahas mengapa kota ini cukup terkenal dikalangan orang Manado).

Karena latar belakang pendidikan saya bergerak di bidang Nuklir, maka kota Oarai bukanlah hal yang baru untuk di dengar. Di kota ini terdapat lembaga nuklir Jepang, Japan Atomic Energy Agency, dimana saya pernah melakukan internship selama 3 bulan pada tahun 2015. Pada saat itu, saya tidak sempat mengenal lebih dalam kota kecil ini.

13 Januari 2020

Bertepatan dengan libur nasional Jepang. Saya, istri dan seorang teman (sebut saja namanya Degi) berencana untuk melakukan trip singkat ke Oarai. Tujuannya tentunya untuk melihat apa saja yang ditawarkan kota ini kepada wisatawan..hahahaha

Jarak dari rumah kami di desa Tokai ke kota Oarai sekitar 30 km yang artinya +/- 50 menit dengan mobil.

Kalau berdasarkan info yang ada di GOOGLE, menurut saya setidaknya dibutuhkan 2 hari untuk menikmati kota ini. Satu hari mengunjungi AQUA WORLD OARAI AQUARIUM dan besoknya dilanjutkan untuk mengunjungi tempat wisata lainnya.

Berikut ringkasan perjalanan singkat kami di Oarai.

11:30 JST : berangkat dari Tokai menuju Oarai.

12:30 JST : tiba di Oarai. Hal pertama yang dilakukan adalah berhenti sejenak di parkiran umum dekat AQUA WORLD OARAI AQUARIUM sambil menikmati pemandangan laut dan ombak yang cukup besar. Beruntungnya cuacanya cerah dan cukup hangat.

13:00 JST : Mencari makan siang. Kami berhenti di OARAI SEASIDE STATION. Sebagai informasi, ini bukan stasiun kereta atau sejenisnya. Oarai Seaside station adalah sejenis outlet yang terdiri dari beberapa toko dan restoran. Sewaktu saya internship, tempat ini cukup ramai dikunjungi dan banyak pilihan makanan. Tetapi yang kami temui hari itu adalah outlet yang hampir 80% kosong. Jadilah kami harus mencari tempat makan untuk mengisi perut yang sudah mulai memberontak.

13:15 – 15:00 JST : Degi menemukan restoran Italia, Trattoria J-MarinaUntuk harganya kisaran ¥1.500 – 2.000. Dengan harga segitu, kita mendapatkan all you can eat (salad, puding dan roti). Kami di bantu langsung oleh juru masaknya untuk memilih menu yang direkomendasikan. Menurut istri, spaghetti yang dia makan menjadi yang terenak selama ini. Menurut Degi dan saya, pizza yang kami makan juga enak banget. Salah satu point utama dari restoran ini adalah tempatnya yang nyaman dan pemandangan langsung ke pelabuhan.

15:05 – 15:50 JST : Kita berjalan dari restoran menuju ke Ibaraki Port Oarai. Jalan kaki menuju kesana cukup nyaman dan banyak orang yang sedang memancing bersama keluarga bahkan ada yang langsung memasak ikan hasil pancingannya. Akan tetapi, aroma pesing cukup kuat tercium di beberapa tempat. Setelah saya melihat sekitar, ternyata toilet umum tidak ada atau terlalu jauh dari lokasi.

16:00 – 16:30 JST : Kami menuju ke OARAI MARINE TOWER. Perlu mengeluarkan uang ¥330 untuk menikmati pemandangan kota Oarai dari ketinggian 60m. Pemandangan yang disajikan cukup indah melihat kota ini tertata dengan rapi. 30 menit cukuplah untuk menikmati pemandangan dari atas. Hanya ada 3 lantai di tower ini, Lantai 1 tempat beli souvenir, Lantai 2 (50m) terdapat restoran yang menyajikan anime khas Oarai, dan Lantai 3 (60m) sebagai tempat menikmati pemandangan kota Oarai.

17:00 – 17:20 JST : Karena matahari cepat terbenam di musim dingin, maka jam segini sudah mulai gelap. Kami memutuskan untuk mengunjungi satu tempat terakhir yaitu OARAI ISOSAKI SHRINE. Cuaca yang tiba-tiba mendung , gelap dan disertai angin kencang cukup membuat kami hanya sekitar 15 menitan saja disini. Oarai Isosaki Shrine adalah semacam gerbang yang dibangun di pinggir laut. Kalau yang paling terkenal mungkin TORI GATE “ITSUKUSHIMA SHRINE” yang ada di Hiroshima.

17:30 JST : Pulang ke Desa Tokai tercinta. Sangat beruntung karena begitu masuk ke mobil dan baru jalan beberapa meter, hujan langsung turun dengan derasnya.

Demikianlah perjalanan singkat berwisata di kota Oarai.

Kesimpulan

  • Secara umum, saya bisa bilang kota ini layak untuk dikunjungi. Oiya, disini ada fish market juga, Naka Minato Market Fish.
  • Kalau yang suka desain tata kota dan bangunan tua, maka kota ini akan memberikan nuansa tersebut. Saya pikir, ada nuansa khas tersendiri dari kota ini.
  • Musim panas adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Oarai. Dipastikan jalanan kota ini bakalan macet karena banyak orang datang untuk berselancar di OARAI SUN BEACH.

 

Gambar yang ditampilkan disini adalah hasil pencarian dari google dikarenakan saya baru sadar bahwa tidak ada gambar yang diambil. Saya hanya mendokumentasikan dalam bentuk video……

640x640_rect_93588722
All you can eat “Salad + Puding”

caption
Oarai Seaside Station

8CB9419C-D60E-4D0F-9B2C-01318609B06E
Pemandangan dari Trattoria J-Marine Restaurant

fb
Dari Oarai bisa ke Hokkaido naik kapal.

Oarai Marine Tower
Oarai Marine Tower

“One Day Trip” Bermain Salju

Awal tahun 2020 dimulai dengan ikut berpartisipasi dalam acara “one day trip” bersama jemaat gereja GIII Oarai. Trip ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2020 dengan tujuan bermain ski di Minakami Kogen Resort 200 dan  dilanjutkan dengan melihat permainan lampu-lampu (illumination) di Asikaga Flower Park. Ini adalah perjalanan wisata awal tahun bagi saya, istri dan anak.
Tulisan ini akan merangkum bagaimana kami mempersiapkan diri untuk mengikuti “one day trip” tersebut.

H-7 

  • Koordinator sudah mengumumkan bahwa akan berangkat menggunakan ada 2 bus ukuran sedang (kapasitas 30 orang).
  • Tempat pemberangkatan dihalaman satu gedung yang biasa digunakan untuk ibadah di Oarai.
  • Jam keberangkatan: 5.00 JST

Setelah mendengar informasi tersebut, muncul pertanyaan bagi saya dan istri “BAGAIMANA CARANYA KE OARAI JAM 5 PAGI????”

“Sebagai informasi, kami berdomisili di Desa Tokai yang berjarak 30 km dari Kota Oarai.”

Tentu saja jam segitu belum ada kereta atau bus yang beroperasi. Taksi bukanlah suatu pilihan karena harganya bisa sangat mahallll.

Ditengah kegaulauan dan gundah gulana (LOL), sempat berpikir untuk membatalkannya. Akan tetapi, salah satu jemaat gereja (sebut saja namanya Regi) berbaik hati menawarkan diri untuk menjemput ke rumah kami. Hatipun senang kembali ketika mendengar tawarannya tersebut.

Belum lama berselang, istri nyeletuk, kalau dia jemput kita ke rumah artinya dia harus bangun lebih pagi dan tiba di rumah kita sekitar jam 4 biar gak terlambat. Wahhh, kasihan juga nanti Regi jadi kurang istirahatnya. Tapi Regi tetap mengatakan ‘tidak apa-apa’.

Selagi kita masih ngobrol ngalur ngidul, saya mencoba membuka aplikasi booking.com untuk mencari hotel di Oarai untuk menginap dari tanggal 1-3 Januari. Hasilnya hampir semua hotel sudah SOLD OUT.

Hari Keberangkatan

2 Januari 2020 adalah hari dimana saya bangun jam 2:30 pagi. Berikut rangkaian kegiatan kami sekeluarga di hari itu.

  • 2:30 – 4:00 JST : Anak kami Henokh masih tertidur lelap sedangkan kami harus bersiap-siap mulai dari mandi, sarapan, hingga mempersiapkan segala perlengkapan (stroller bayi, tas punggung 2 buah, air minum, dll)
  • 4:10 – 4:45 JST : Regi  datang menjemput dan berangkat menuju tempat kumpul di Oarai.
  • 4:45 – 5:20 JST : Masih menunggu peserta. YAPPZZZ, TELATTTT SODARAAAA…..
  • 5:30 JST : Bus berangkat. Rombongan terdiri dari 2 bus dan 2 mobil.
  • ….. – 08:30 JST : Perjalanan lancar tanpa ada kendala apapun.
  • 09:00 JST : Rombongan bus salah mengambil jalur sehingga harus melakukan putaran jauh. Sedangkan rombongan mobil tidak ada kendala berarti dan sudah jauh meninggalkan rombongan bis dibelakang. Tapi kami yang ada di bus menikmati salah jalan kali ini dikarenakan pemandangan diluar yang LUAAARRRR BIASAAAA INDDAAAHHH. Hujan salju ditambah pemandangan di kiri kanan banyak pohon yang tertutup salju memberi kesan tersendiri terutama bagi istri.
  • 11:00 JST : Setelah menemukan jalan yang benar, akhirnya rombongan bus bisa tiba di resort ski dengan selamat. Puji Tuhan.

“Untuk mengendarai kendaraan di jalan yang bersalju membutuhkan ban khusus serta harus memperhatikan kecepatan kendaaraan. Ada beberapa mobil yang terlihat harus menepi karena tergelincir akibat jalan yang licin.”

  • 11:00 – 12:00 JST : Karena dari awal kita sudah memutuskan untuk tidak bermain ski dan hanya mau menikmati pemandangan yang bersalju, maka kami hanya bersantai ria. Saya bertugas menggendong Henokh karena jalanan yang licin akibat salju. Istri yang baru pertama kali melihat salju yang menumpuk di jalan belum berani untuk berjalan sambil menggendong Henokh.
  • 12:15 – 13:30 JST : Tidak terasa sudah waktunya makan siang. Ada 2 atau 3 restoran di resort tersebut. Salah satu restoran menawarkan paket ALL YOU CAN EAT (TABEHODAI dalam bahasa Jepang). Harga yang ditawarkan adalah ¥1.500/orang untuk 75 menit. Cukup murah karena restoran yang lainnya menawarkan sejenis kare-karean dengan harga ¥1.000an/porsi.
  • 13:40 – 14:00 JST : Ke nursery  ganti popok Henokh.
  • 14:10 – 14: 20 JST : MAINNNNNN SALJUUUUUUUU. Cuman berada di pinggir pinggir aja karena takut kepeleset waktu gendong Henokh.
  • 14:20 – 14:50 JST : Maminya Henokh memuaskan diri memandang, memegang, dan tiduran di atas salju (karena baru pertama kali jadi agak norak lahhhh…LOL).
  • 14: 50 – 16:00 JST : MENUNGGU di dalam bus. Rencana pulang jam 3 sore apadaya banyak peserta yang masih menikmati permainanan. TELAATTTTT LAGI SODARA DARI JADWAL. *bus dikemudikan oleh orang kita jadi masih dimaklumin. Beda soal kalau pakai driver orang Jepang. LOL
  • 16:00 – 20:00 JST : Perjalanan menuju Asikagawa Flower Park.
  • 20:00 – 21:20 JST : Berusaha menikmati permainan kerlap kerlip lampu atau yang dikenal dengan istilah illumination. Tamannya cukup luas tapi waktu 1 jam tidaklah cukup untuk menikmati keindahan taman tersebut. Bahkan untuk sekedar berfoto selfie aja tidak cukup karena banyaknya spot  yang menarik. Plus 30 menit pertama dihabiskan untuk memberi makan malam Henokh.
  • 21:30 – 23:20 JST : Perjalanan pulang menuju Oarai.
  • 23:20 JST : Karena tiba di Oarai sudah pukul 23:40 maka kereta pun sudah tidak beroperasi lagi. Keberangkatan terakhir kereta dari Oarai menuju Tokai adalah jam 22:48 JST.
  • 23: 30 – 00:01 JST : Regi dan istrinya  berbaik hati mengantarkan kami ke rumah.
  • 00:05 – 01: 30 JST : Setibanya di rumah, Henokh  yang sudah puas tidur sepanjang jalan akhirnya punya tenaga yang berlebih dan mengajak bermain papi maminya.
  • 01:30 JST : Akhirnya selesai juga one day trip di awal tahun. Puji Tuhan semuanya bisa berjalan lancar dan semua peserta bisa kembali dengan selamat sampai di rumah masing-masing.

Demikianlah rangkuman perjalanan wisata bermain salju versi kami.

Kesimpulan

  • One day trip bukanlah hal yang ideal bagi keluarga yang mau menikmati bermain salju, ski, dll apabila masih mempunyai anak bayi usia dibawah 1 tahun. Usia Henokh saat itu adalah 10 bulan.
  • Persiapan yang dilakukan dari hari sebelumnya sampai tanya sana sini karena takut anak bayi kedinginan ternyata dalam prakteknya kami lebih banyak menghabiskan waktu di dalam resort yang hangat. LOL
  • Dari awal saya sudah mempersiapkan diri bahwa ini adalah hanya sekedar have fun saja sehingga tidak ada sedikitpun ambisi untuk harus bermain ski atau sejenisnya. Hanya untuk menyenangkan istri yang mau melihat tumpukan salju.
  • Kalau ada kesempatan, kami akan kembali lagi bermain dan minimal menghabiskan waktu 2 hari agar lebih santai dan lebih bisa menikmati. Tentunya setelah Henokh sudah bisa jalan.