Celotehan Suami Istri (CSI) #15: Salah Harga!

Sabtu ini kita tidak ada rencana khusus pergi jalan-jalan. Kami pun memutuskan untuk jalan ke AEON yang ada di desa Tokai sekedar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan mengajak Henokh bermain di Game Center yang ada di lantai 2 AEON.

Saya menemani Henokh bermaij di lantai 2, sedangkan Mami Henokh belanja di supermarket yanh ada di lantai 1.

Setelah selesai berbelanja, Mami Henokh pun menjumpai kami di lantai 2. Kebetulan juga, Mami Henokh berencana membelikan puzzle buat Henokh.

Kami pun berkeliling di toko mainan yang ada tepat disebelah Game Center. Mami Henokh mencari puzzle buat Henokh, sedangkan saya dan Henokh melihat-lihat mainan lainnya.

Irwan (I), Laura(L), Henokh(H)

L: Aku belikan Henokh puzzle binatang-binatang aja ya? Di rumah kan udah ada yang transportasi.

I: Ya terserah aja. Berapaan?

L: 1000an nih. Murah.

I: Yowes, kami di lorong sebelah lihat-lihat mainan dulu.

Saya dan Henokh pun berjalan menyusuri lorong mainan hingga Henokh menemukan mainan yang disukainya.

H: mmm..mmm..mmm..(sambil menunjuk mainan kereta yang bentuknya sama dengan salah satu model kereta JR di Jepang.

I: Henokh mau? mau yang itu atau ini (sambil memberi kereta lain berbentuk karakter Thomas (kartun Thomas & Friends))

H: mmmm..(tetap menunjuk ke kereta JR)

I: Ok. (sambil mengambil kereta tersebut dan membawanya ke mami Henokh)

Henokh pun sangat senang dengan ekspresi anak kecil yang baru dibelikan hadiah.

I: Sayang, ini Henokh mau keretanya.

L: Hehhh.. berapaan?

I: Berapa ya? lupa lihat harganya tadi.

Kami pun kembali ke rak mainan untuk mengecek harga.

L: Hemm.. 1.800an yaa..

I: Yaudah kereta aja lah.. lagian Henokhnya sudah suka.

L: Henokh mau kereta?

H: mmm.. (ekspresi senang yang bisa meluluhkan hati orangtuanya)

L: Yaudah, ayo ke kasir bayar.

Kami pun berjalan ke kasir. Henokh yang sudah sedang membawa sendiri keretanya menuju kasir.

Staff (S): 3.120 yen.

I & L : (lihat-lihatan)…

Advertisements

L: bawa dompet gak? Buset ini salah lihat harga atau gimana?

I: Dompet bawa, isinya yang gak dibawa..hahaha

L: Entah apa papimu ini Henokh. Ckckckc (Sambil menyerahkan uang ke kasir)

I: Ehh, itu kenapa jadi mahal ya harganya? Yaudah kau bayarkan dulu, aku ke rak tadi ngecek lagi harganya.

Mainan kereta JR tersebut adalah satu-satunya kereta JR yang tersisa di rak mainan tersebut.

Sesampainya di rak tersebut, ternyata ada beberapa mainan yang posisinya sudah tidak sesuai dengan kondisi awalnya. Hal ini berdampak kepada salah baca harga.

Hal yang sering terlewat ketika belanja krn sangat jarang memperhatikan dengan detail antara nama barang dan harga yang tercantum di rak.

Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang

Selama tinggal di Jepang, gempa bumi adalah salah satu hal yang paling sering terjadi dan paling sering dirasakan sepanjang tahun. Mulai dari gempa bumi yang skala kecil hingga cukup besar.

Salah satu pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan adalah gempa bumi yang terjadi disore hari sekitar bulan Oktober 2012.

Oktober 2012

Saya baru saja memasuki tahun ajaran baru sebagai mahasiswa program Master di Tokyo Institute of Technology pada bulan Oktober 2012. Artinya, saya baru tinggal di Jepang kurang dari satu bulan. Sore itu, setelah menyelesaikan perkuliahan di kelas yang cukup padat, saya memutuskan untuk langsung pulang ke asrama.

Kondisi asrama pada sore hari biasanya sangat sepi karena pada umumnya para penghuni baru kembali ke asrama pada malam hari.

Sesampainya di asrama, saya memutuskan untuk tiduran sejenak dikamar yang terletak di lantai 3. Tidak lama setelahnya, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang cukup besar (menurut saya) dan berlangsung lumayan lama.

Gempa bumi, sendirian di kamar, asrama sepi, berakibat terciptanya kepanikan sendiri. Tidak tahu prosedur apa yang harus dilakukan.

Hal yang pertama saya lakukan adalah keluar ke beranda untuk melihat keadaan diluar. Ternyata tidak ada orang yang berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Hal ini sangat berbeda dengan pengalaman yang saya rasakan ketika terjadi gempa di Indonesia. Tetangga-tetangga yang ada disekitar rumah biasanya pada keluar rumah dan berkumpul dan berlanjut ngobrol dengan tetangga hingga keadaan dirasa cukup aman untuk kembali masuk ke rumah.

Advertisements

Emergency Drill (Latihan Tanggap Darurat)

Salah satu kegiatan rutin Tokyo Institute of Technology adalah mengadakan Emergency Drill yang dilaksanakan sekitar pertengahan bulan November setiap tahunnya.

Kalau tidak salah ingat, biasanya dari pihak universitas akan memberikan informasi mengenai Emergency Drill melalui email. Salah satu informasinya berupa peta kampus beserta titik-titik perkumpulan yang ada disekitar kampus.

Latihan tanggap darurat (Emergency Drill) biasanya dilaksanakan sekitar pukul 11:00 – 12:00 JST.

Bunyi Alarm

Latihan tanggap darurat diawali oleh bunyi alarm selama kurang dari satu menit. Bunyi alarm ini menandakan telah terjadi gempa.

Hal yang harus dilakukan pertama kali adalah Berlindung di bawah meja kerja masing-masing bagi mereka yang sedang berada di ruangan kerja dan kelas.

Intinya adalah mencari tempat perlindungan dan sebisa mungkin terhindar dari benda-benda yang bisa menimpa kita.

Pakai Helm

Setelah berlindung di bawah meja selama kurang lebih 1 menit (asumsi gempa sudah berhenti), selanjutnya kita harus keluar dari gedung menuju titik perkumpulan. Penggunaan Helm Pelindung adalah WAJIB sebelum meninggalkan ruangan.

Sepertinya helm pelindung ini disediakan oleh pihak universitas dan telah dibagikan kepada masing-masing lab. Saya berasumsi demikian karena setiap anggota lab mempunyai helm masing-masing.

Matikan gas, listrik dan air

Hal yang dilakukan setelah memakai helm dan hendak keluar dari ruangan adalah memastikan seluruh aliran listrik, gas, dan air di dalam ruangan tersebut telah dipadamkan.

Pintu Darurat

Bagi mereka yang berada di lantai 2, 3, dan seterusnya, silahkan keluar dari gedung dengan menggunakan tangga. Dilarang menggunakan lift dalam kondisi seperti ini.

Absensi

Silahkan berkumpul dengan grup atau lab masing-masing sehingga memudahkan untuk mendata apakah seluruh anggota lab telah keluar dari gedung.

Setelah semuanya berkumpul di titik kumpul maka dilakukan beberapa kegiatan lainnya seperti:

  1. Latihan evakuasi korban yang mungkin terkena reruntuhan, jatuh, dan sebagainya.
  2. Latihan menggunakan APAR (alat pemadam api ringan).
  3. Latihan menghubungi pihak berwajib (pemadam kebakaran) dan memberitahukan lokasi gedung terjadinya kebakaran.

Latihan tanggap darurat yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini membuat bangsa Jepang lebih siap menghadapi kondisi bencana dengan lebih tenang.

Advertisements

Latihan dengan Keluarga

Latihan tanggap darurat ini pada umumnya dilakukan di sekolah maupun tempat kerja. Lalu, bagaimana dengan istri yang sehari-hari di rumah? Pada umumnya, kantor desa akan memberikan dokumen “Living In Tokai”. Buku ini berisi tentang panduan hidup yang membahas mulai dari A hingga Z. Didalamnya tentu ada panduan menghadapi bencana alam seperti gempa.

Selain dari itu, kami juga memperoleh Peta Desa Tokai ukuran A1. Peta ini kami tempelkan di salah satu dinding di rumah dengan tujuan untuk mengetahui lokasi rumah, kantor, dan tempat perlindungan (evacuation assembly point).

Saya dan istri berulang kali saling mengingatkan apabila terjadi bencana sewaktu jam kerja dan ada instruksi untuk evakuasi maka kami setidaknya sudah tahu dimana titik evakuasi terdekat maupun sekitarnya.

Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Sebelumnya di: Ada apa dengan Cesium-137??? Pada tulisan tersebut saya menuliskan “Reaksi fisi nuklir terjadi di dalam reaktor nuklir”. Pendahuluan Mungkin sudah banyak dari kita yang sering melihat baik melalui film, berita, maupun media massa gambar-gambar yang berhubungan dengan nuklir khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Nah, ada yang menarik perhatian saya selama ini. Dari gambar-gambar … Continue reading “Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang. Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah. Gambaran singkat yang … Continue reading “Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)”

Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Bagi setiap pasangan suami istri, kehamilan pertama tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Mulai dari rasa senang, bahagia, khawatir, dll semua bercampur aduk. Kalau di Indonesia, mungkin lebih sederhana karena tinggal datang ke rumah sakit, diperiksa dan bagi mereka pemegang asuransi BPJS atau asuransi dari kantor akan memperoleh bantuan keringanan biaya atau bahkan biaya ditanggung penuh oleh … Continue reading “Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.”

“One Day Trip” Air Terjun Fukuroda

Kegiatan lain yang kami lakukan pada musim panas tahun ini adalah mengunjungi salah satu tempat wisata terkenal di Ibaraki, Fukuroda Waterfall (Air Terjun Fukuroda).

Air terjun Fukuroda terletak di kota Daigo, Prefektur Ibaraki dan berjarak sekitar 50 km dari Desa Tokai. Berdasarkan info dari Fukuroda Falls Travel Guide, air terjun termasuk ke dalam tiga besar air terjun terindah di Jepang. Sebenarnya, saya sudah pernah berkunjung ke Air Terjun Fukuroda pada tahun 2015. Akan tetapi, ini adalah kali pernah untuk Henokh dan maminya berkunjung ke Fukuroda.

Akses

Ada dua pilihan utama untuk menuju Air Terjunn Fukuroda yaitu menggunakan kendaraan pribadi (mobil) maupun kereta. Dari stasiun kereta Fukuroda (Fukuroda station) menuju ke air terjun Fukuroda bisa ditempuh sekitar 40 menit berjalan kaki (sekitar 3 km).

Informasi lengkapnya, bisa dilihat di website berikut ini: Fukuroda Falls Travel Guide


Saya akan menceritakan perjalanan “One day trip” ke Fukuroda Waterfall dari Desa Tokai.

Air Terjun ‘Fukuroda’

10:30 JST

Perjalanan hari ini dimulai sekitar pukul 10.30 pagi dari desa Tokai. Menurut informasi dari Google Map, kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk tiba di Fukuroda Waterfall dengan menggunakan mobil (tidak lewat jalan tol). Selain itu, informasi lainnya tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda kemacetan di sepanjang perjalanan.

Baru saja 30 menit berjalan, Henokh yang awalnya begitu menikmati perjalanan, ternyata sudah lebih dahulu tertidur. Sepanjang perjalanan, telihat jelas hamparan sawah dan ladang yang ditanami berbagai macam sayuran. Hal ini tentu saja berbeda 180o dengan pemandangan perkotaan seperti Tokyo.

12:00 JST

Salah satu keunggulan Jepang dalam bidang pariwisata adalah penataan ruang disekitar tempat wisata. Tempat parkir, toilet umum, restoran, toko souvenir, dll tertata dengan baik dan rapi. Selain itu, pedestrian pun tersedia dengan cukup untuk bisa menampung pejalan kaki bahkan orang tua yang membawa anak bayi menggunakan stroller.

Kami pun memarkirkan mobil disalah satu tempat parkir. Jarak antara tempat parkir ke pintu masuk air terjun cukup jauh. Bagi mereka yang membawa anak bayi (balita), ada baiknya membawa stroller untuk memudahkan perjalanan.

Biaya parkir yang harus dibayarkan adalah sebesar ¥ 500 per hari.

Makan siang

Sebelum memulai petualangan, kami menikmati makan siang dengan menyantap makanan Jepang disalah satu restoran yang ada disana.

Sejauh saya berkunjung ke beberapa wilayah di Jepang, Ramen, Udon, Soba, Kare Jepang, dan Oyakodon adalah beberapa menu yang paling sering ditemui. Harganya pun cukup terjangkau dengan kisaran ¥ 900 – 1.500.

Selain itu, terdapat juga penjual di tepi jalan yang menjajakan cemilan berupa ikan sungai yang dibakar (diasapi) dan dihidangkan dengan cara ditusuk seperti sate. Harga yang ditawarkan untuk seekor ikan bakar sekitar ¥400.

13:30

Untuk bisa menikmati keindahan air terjun Fukuroda, kita harus membayar tiket masuk sebesar ¥ 300 untuk satu orang dewasa.

Demi tetap menjaga keamanan dan kesehatan di masa pandemi COVID-19, suhu tubuh akan diukur oleh seorang petugas sebelum membeli tiket masuk.

Setelah mempunyai tiket, maka kita akan berjalan di dalam terowongan panjang yang akan menghantarkan kita ke dua tempat utama untuk menikmati pemandangan air terjun di lantai tersebut.

Sedangkan tempat utama untuk menikmati keindahan air terjun tersebut terletak sekitar 40 meter diatas terowongan. Tenang aja, kita kita perlu berjalan jauh atau memutar atau bahkan menaiki anak tangga karena ada dua buah lift yang tersedia secara gratis untuk membawa kita ke atas.

Gokil yaaa… Kepikiran banget dibuatkan lift untuk menikmati air terjun. Hahaha

Kami pun dengan mudah membawa Henokh menikmati pemandangan air terjun. Henokh juga bisa duduk di stroller dengan nyaman kalau dia sudah lelah untuk berjalan kaki.

Antrian menggunakan lift di dalam terowongan.

15:30 JST

Kami memutuskan untuk pulang setelah puas menikmati pemandangan air terjun Fukuroda. Meskipun air terjun Fukuroda berada di daerah pegunungan tetapi udara musim panas cukup terasa dan cukup lembab. Hal ini membuat keringat mengalir tanpa henti.

Kami berasumsi bahwa musim gugur adalah saat terbaik mengunjungi air terjun ini. Dedaunan yang sudah berwarna warni ditambah suhu udara yang sejuk akan jadi nilai plus tersendiri untuk menikmati keindahan Fukuroda.

Perjalanan pulang dari Fukuroda ke Desa Tokai, kami tempuh dengan jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan kami. Pada saat kami datang, hamparan sawah menemani sepanjang perjalanan. Sedangkan perjalanan pulang kami ditemani oleh pemandangan pegunungan dengan kontur jalan yang berliku-liku.

Pemandangan disepanjang jalan pulang mengingatkan saya kepada kondisi jalan menuju kampung halaman di Indonesia. Kondisi jalan dan pemandangannya hampir sama dengan jalur dari Medan ke Berastagi.

Untuk menambah keindahan perjalan pulang, kami memutuskan untuk masuk ke Desa Tokai melalui pinggiran kota Hitachi dengan pemandangan Samudera Pasifik di sepanjang jalan.

Jembatan gantung menjadi salah satu akses menuju ke dalam terowongan.

19:00 JST

Perjalanan hari ini ditutup dengan menikmati makan malam di sebuah restoran italia bernama ‘Saizeria’. Sebuah restoran Italia dengan harga mahasiswa.

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Misteri Ayam Belatung

Tidak terasa acara yang dilaksanakan di kota A selama seminggu ini akan berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dan sorenya kami semua akan berpisah dan pulang ke kota masing-masing. Rombongan Jogja Kami menggunakan satu bus besar untuk menampung peserta dari Jogja. Karena jadwal berangkat bus sekitar jam 5 sore, maka dipastikan kami akan singgah untuk … Continue reading “Misteri Ayam Belatung”

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi).

Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu yang cukup terkenal di musim panas adalah keindahan Pantai “Oarai Sun Beach”.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, seluruh warga kota Oarai akan bergotong-royong membersihkan pantai di awal musim panas (biasanya awal bulan Juli) untuk menyambut wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahanan pantai dan lautnya. Lautnya cukup terkenal dengan ombaknya yang membuat banyak peselancar berdatangan ke Oarai.

Akan tetapi, pengunjung yang datang di musim panas 2020 sepertinya sangat jauh berkurang akibat dari pandemi COVID-19. Bahkan ketika kami mengunjungi pantai ini pada saat hari libur nasional (Hari Gunung), jumlah pengunjung yang ada di pantai ini sepertinya cukup sedikit. Padahal sebelum datang, kami berpikir akan terjadi kemacetan di dalam Oarai akibatnya banyaknya pengunjung yang hendak berlibur ke Oarai. Namun, hal tersebut tidak terjadi di hari itu.

Advertisements

Welcome Party

Hari itu, kami hendak mengadakan Welcome Party kecil-kecilan untuk salah satu teman lab sewaktu bersama-sama menuntut ilmu di Tokyo Tech karena dia sudah diterima bekerja di salah satu instansi nuklir nasional di kota Oarai.

09:30 JST

Kami sekeluarga beserta seorang teman berangkat dari Desa Tokai menuju ke “Oarai Sun Beach” di kota Oarai. Sebelum ke pantai, kami harus singgah terlebih dahulu di supermaket besar serba lengkap ‘COSTCO’ untuk membeli makanan dan minuman.

11:30 JST

Setelah selesai berbelanja dan membeli semua yang dibutuhkan, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Oarai.

Jarak antara Desa Tokai ke Kota Oarai kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil.

Di saat yang bersamaan, teman yang lain juga sudah berangkat dari kota Mito ke Oarai.

“Private Beach Parking Lot” adalah titik pertemuan kami. Tidak ada kemacetan yang berarti sewaktu perjalanan menuju Oarai.

Pada musim panas seperti ini, dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar ¥1.000/hari. Akan tetapi, di luar musim panas tidak dikenakanan biaya parkir apabila mengunjungi pantai Oarai Sun Beach.

12:00 JST

Hari itu, suhu udara di Kota Oarai mencapai sekitar 34o C dengan matahari yang bersinar cukup cerah. Hal ini membuat pasir pantai cukup panas untuk diinjak tanpa menggunakan alas kaki.

Dari tempat parkir, kami harus berjalan sejauh 500 meter menuju bibir pantai sambil membawa semua perlengkapan mulai dari tenda, kursi, makanan, minuman, hingga stroller Henokh.

Belum lagi acara Welcome Party dimulai, kami sudah basah kuyup karena udara yang cukup panas.

Dengan kondisi pantai yang tidak ramai, kami cukup mudah untuk menemukan tempat yang sesuai bagi kami. Begitu dapat, tenda pun menjadi hal yang pertama kami dirikan sebagai tempat berteduh.

Henokh dan Maminya sedang berteduh dari panasnya sinar matahari.

13:00 JST

Tanpa basa basi, kami pun langsung menyantap pizza yang telah dibawa sambil bercerita banyak hal.

Saya cukup beruntung karena istri cukup kenal dengan teman lab saya sewaktu kuliah di Tokyo Tech. Hal ini dikarenakan sewaktu kuliah, istri cukup sering berkunjung ke lab dan bahkan ngobrol bersama mereka.

Hal ini membuat istri tidak canggung ketika mengikuti acara reunian seperti ini.

Kembali lagi ke menu makanan yang kami persiapkan. Hari ini kami mempersiapkan beberapa jenis makanan seperti: nasi daging sapi, pizza, salad, dan kentang goreng. Sedangkan untuk minuman, air mineral dan beberapa botol jus dingin cukup menyegarkan ditengah teriknya cuaca.

Pastikan membawa cukup makanan dan minuman karena lokasi supermarket atau convenience store cukup jauh dari pantai.

14:30 JST

Setelah menikmati makanan dan minuman, Mami Henokh mengajak Henokh untuk bermain air di pinggir pantai. Sedangkan saya dan teman yang lainnya masih asyik mengobrol kenangan sewaktu di bangku kuliah. Salah satunya adalah membahas nasib play station yang ada di refreshing room yang sering digunakan untuk bermain diwaktu senggang (malam hari). Hehehe

Sambil mengobrol, sesekali saya meninggalkan teman-teman yang sedang mengobrol untuk menemani Henokh bermain air di pantai.

Dengan suhu udara yang cukup panas membuat air lautnya terasa sangat hangat. Hal ini membuat Henokh cukup senang bermain air. Akan tetapi, rasa air laut yang asin yang terminum oleh Henokh akibat terpaan ombak kecil membuatnya cukup kaget dan berlari menjauhi air laut. Hahaha

Advertisements

15:30 JST

Setelah merasa cukup lama bermain dan Henokh sudah mulai capek, akhirnya kami pun membawa Henokh ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh badannya.

Ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menggunakan jasa kamar mandi tersebut. Kita harus memasukkan koin ¥100 ke dalam mesin yang ada dikamar mandi untuk bisa menyalakan air hangat dari shower yang tersedia. Dengan uang ¥100, kita bisa menikmati air hangat sekitar 3-4 menit. Apabila waktu 3 menit dirasa belum cukup, silahkan masukkan kembali koin ¥100 ke dalam mesin tersebut.

Suasana musim panas di “Oarai Sun Beach” Jepang.

16:00 JST

Mami Henokh membawa Henokh ke dalam mobil untuk ngadem karena Henokh cukup sulit untuk tidur di suhu udara yang panas.

Di saat yang bersamaan, saya menyusul teman-teman yang sudah bermain ombak di laut. Bermain ombak di laut ternyata cukup menyenangkan. Semakin sore, terlihat cukup banyak peselancar yang mulai berdatangan. Hal ini membuat kami yang datang dengan tangan kosong, hanya bisa menghindar atau mencari tempat yang tidak banyak peselancar.

Sambil bermain di laut, sesekali saya memandang ke arah tenda kami. Ternyata, mami Henokh sudah ada disana sambil menggendong Henokh yang masih tertidur dengan lelap.

17:00 JST

Sekitar pukul 5 sore, beberapa petugas pantai sudah mulai berkeliling sambil memberitahu kalau pantai akan ditutup jam 6 sore. Selain itu, kondisi di laut pun sudah tidak kondusif untuk kami karena semakin banyak peselancar yang bermain membuat tidak ada tempat bagi kami. Hahaha

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menyudahi permainan ombak dan bersiap untuk membereskan semua barang bawaan kami.

INGAT..!!! SELALU BAWA PLASTIK SAMPAH

Menjaga kebersihan adalah hal utama yang perlu diingat ketika tinggal di Jepang. Jangan berharap banyak disediakan tempat sampah di pantai. Jadi, selalu bawa plastik sampah sendiri dan silahkan membawa pulang sampah tersebut.

Selanjutnya, kami pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum akhirnya meninggalkan pantai.

19:00 JST

Setelah seharian bermain di pantai, akhirnya tiba juga di rumah dengan selamat. Meskipun udara panas, tetapi cukup membuat memori yang bagus untuk Henokh karena ini adalah pertama kalinya dia bermain air di pantai.

One day trip bersama keluarga sekaligus dengan reuni teman lab adalah hal yang menyenangkan. Selain bisa menjaga tali persaudaraan dengan teman lintas negara, para istri juga bisa saling bertukar cerita tentang kehidupan membesarkan anak di Jepang. Bahkan teman Jepang juga bisa melihat sudut pandang yang baru bagaimana orang asing menjalani hidup di Jepang.

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”

Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”.

Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri.

Setelah satu tahun tinggal di asrama kampus yang terletak di daerah Yokohama, maka tahun kedua sebagai mahasiswa Master, saya memutuskan untuk mencari Apato yang lebih dekat dengan kampus (Ookayama Campus) dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tokyo Institute of Technology mempunyai dua kampus utama: Ookayama Campus (Tokyo) dan Suzukakedai Campus (Yokohama).”

Dikarenakan biaya apato di sekitar kampus Ookayama terbilang cukup mahal, maka saya dan seorang teman (Ashlih) memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah apato dengan tujuan bisa berbagi biaya sewa apato.

Melalui agen pencari apato, kami menemukan apato yang sesuai dengan kriteria yang kami cari. Tentunya harga adalah kriteria yang utama. Hehehe

Biaya Sewa dan Luas Apato

Apato yang kami sewa terletak sekitar 10 menit jalan kaki dari Stasiun Ookayama (stasiun utama menuju Ookayama Campus). Dengan jarak yang relatif dekat ke kampus, kami harus membayar sewa apato sebesar ¥ 75.000/bulan. Tentunya biaya tersebut diluar biaya listrik, air, gas, dll. Dengan harga segitu, kami memperoleh apato dengan ukuran sekitar 33 m2.

Fasilitas

Apato yang kami peroleh berada di lantai 1 dan berada di pojok (menghadap jalan). Hal ini membuat apato tersebut mendapatkan sinar matahari yang cukup di pagi hari.

Dengan ukuran 33 m2, apato ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 dapur (kitchen), kamar mandi, dan toilet. Komposisi seperti ini sering sekali di singkat menjadi 2K (2 kamar tidur dan kitchen). Selain itu apato ini tidak dilengkapi dengan pendingin udara (AC). Lampu hanya tersedia di toilet, kamar mandi, dan dapur. Oleh karenanya, kita harus membeli lagi lampu untuk kedua kamar tidur.

Selain itu, hal yang biasanya ditemui pada apato dengan ukuran mungil seperti tempat kami adalah posisi mesin cuci yang berada langsung di beranda belakang.

Advertisements

Tahun 1945

Salah satu hal yang mengejutkan sewaktu membaca detail kontrak, apato tersebut dibangun pada tahun 1945. Wowwww.. Usia apatonya sama dengan usia negara Indonesia.

Kondisi

Dengan kondisi apato yang sudah berdiri dari tahun 1945, tetapi selama dua tahun tinggal di apato tersebut tidak ada sama sekali masalah. Gempa yang berkali kali datang pun seolah olah tidak memberikan dampak apapun terhadap bangunan apato tersebut.

Seandainya saya tidak diberitahu mengenai bangunan apato tersebut, mungkin saya tidak terpikir bahwa bangunan itu berdiri sudah sangat lama.

Dari awal sejak kami menandatangani kontrak, sudah dijelaskan bahwa kontrak sewa tersebut hanya berlaku selama dua tahun dan tidak bisa diperpanjang karena pemilik apato berencana untuk melakukan renovasi.

Musim Panas vs Musim Dingin

Hal yang paling berkesan selama tinggal di apato ini adalah musim panas yang harus dilalui tanpa pendingin udara (AC). Oleh karena itu, saya biasanya menghabiskan waktu hingga larut malam selama musim panas di laboratorium karena sangat nyaman dan menghindari panasnya suhu udara di Tokyo.

Sedangkan musim dingin, kami menggunakan sebuah penghangat udara (portable gas heater) untuk menghangatkan kedua kamar tidur kami. Karena kedua kamar dibatasi oleh pintu geser (model rumah jepang), maka kadang kala kami membuka pintu tersebut supaya heater gas dapat menghangatkan ruangan kamar secara bersamaan.

Advertisements

Kenangan di Apato 1945

Bangunan Apato yang kami tempati di periode 2013-2015.
Berfoto dulu di depan apato sebelum menghadiri wisuda Master (2014) di Tokyo Institute of Technology.
Mesin cuci dan beranda belakang yang tertutup salju (2013).

“One Day Trip” Bermain Salju

Awal tahun 2020 dimulai dengan ikut berpartisipasi dalam acara “one day trip” bersama jemaat gereja GIII Oarai. Trip ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2020 dengan tujuan bermain ski di Minakami Kogen Resort 200 dan  dilanjutkan dengan melihat permainan lampu-lampu (illumination) di Asikaga Flower Park. Ini adalah perjalanan wisata awal tahun bagi saya, istri dan … Continue reading ““One Day Trip” Bermain Salju”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara. Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain … Continue reading “One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’”

The Accident

Rencana untuk bermain ke pantai di Hari Sabtu pun terpaksa batal terlaksana karena hujan turun sepanjang hari. Hal ini membuat kami bertiga hanya diam di rumah dan bermalas-malasan sambil berharap kepada ramalan cuaca yang memperlihatkan kalau hujan akan berhenti di sore hari.

15:00 JST

Hujannya berhenti…!!! Ayo bersiap-siap..!!!

Hujan di luar sudah reda, tetapi awan gelap masih berada tepat di atas langit desa Tokai. Hal ini membuat saya ragu untuk bermain ke pantai. Penyebab lainnya tentu saja pasir pantainya masih basah akibat hujan deras yang turun dari tadi pagi.

Akan tetapi, melihat Henokh yang sejak tadi berdiri di depan jendela sambil berharap bisa bermain keluar, membuat saya dan mami Henokh memikirkan alternatif tempat lain yang bisa dikunjungi.

“Hemmm… Ajak Degi keluar sekalian makan malam bareng yukk. Udah lama juga kita gak jalan bareng dia.”, tercetus lah pikiran tersebut dari saya.

“Boleh.. Hubungi lah dia.”, sahut Mami Henokh.

Degi adalah teman kuliah saya sewaktu di Tokyo. Saat ini kami bekerja di tempat yang sama di Desa Tokai.

Kebetulan juga Degi sedang punya waktu kosong sehingga kami pun memutuskan untuk pergi ke Outlet “Fashion Cruise” yang ada di kota Hitachinaka.

16:00 JST

Baru saja kami hendak berangkat menuju Fashion Cruise, hujan lebat menemani sepanjang perjalanan. Uniknya, hujannya berhenti lagi ketika kami tiba di tempat tujuan. Padahal jarak dari rumah ke Fashion Cruise hanya sekitar 5 km.

Karena pada dasarnya kami tidak punya tujuan khusus (belanja), maka kami pun hanya sekedar melihat-lihat sambil menunggu jam makan malam. Henokh dan maminya pun mencari beberapa kebutuhan Henokh yang ada di salah satu toko bayi yang ada disana. Sedangkan saya menemani Degi yang hendak mencari perlengkapan badminton yang akan digunakan keesokan harinya bersama teman-temannya.

Berfoto disalah satu toko bayi yang ada di Fashion Cruise.

18:00 JST

Malam ini kita memutuskan untuk makan di restoran sushi yang ada di depan Fashion Cruise. Tidak ada yang istimewa dari makan malam singkat ini. Restoran sushi bar dengan ciri khasnya dimana makanan yang kita pesan diantar melalui conveyor yang ada di depan kita. Hal ini tentunya menjadi menarik bagi Henokh, si bayi kecil yang penasaran dengan piring-piring yang lalu lalang di depan dia.

19:00 JST

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk melihat-lihat ke toko UNIQLO yang masih berada di dalam kawasan Fashion Cruise. Mami Henokh hendak mencari baju musim panas buat Henokh. Sedangkan kami, hanya sekedar melihat-lihat saja.

Ternyata, sebelum masuk ke dalam, ada petugas yang akan memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung yang datang. Henokh dan maminya pergi ke bagian bayi sedangkan saya dan Degi pergi ke bagian pria.

Buuuummmmmm…..

Kurang dari 15 menit, akhirnya berempat bertemu disalah satu rak yang memajang pakaian kaos pria. Saya, Degi dan Mami Henokh berbincang sebentar, sedangkan Henokh ada disamping kami sedang berdiri. Beberapa detik kemudian, dia mulai berjalan dan entah kenapa sepertinya kakinya kurang stabil sehingga terjatuh dan keningnya membentur rak besi bagian bawah yang ada di dekat kami.

Kaget……

Kami yang melihat langsung bereaksi untuk mengangkat Henokh dari lantai. Awalnya hanya terlihat kening yang memerah dan kurang dari 3 detik setelah itu, darah mengalir dengan cukup deras.

Panikkkkk….

Mami Henokh langsung menggendong dan panik karena tidak ada membawa tas yang berisi tisu atau alat pembersih lainnya. Saya berlari menuju petugas di bagian pintu masuk untuk meminta pertolongan pertama serta memanggil ambulance.

Petugas yang sigap

Petugas tersebut dengan sigap mengambil tisu untuk menutup luka yang ada dikening Henokh. Sambil menahan aliran darah dengan tisu, petugas tersebut sekaligus memeriksa luka benturannya. Petugasnya menyarankan untuk dibawa ke RS yang ada di kota Hitachinaka (+/- 5 km).

Saya pun langsung mengambil alih Henokh dari Maminya supaya bisa lebih cepat menggendongnya menuju mobil yang terletak di parkiran.

IGD

Sekitar 15 menit kemudian, kami sudah tiba di RS tersebut. Kami menuju ke salah satu gedung yang berada disebelah kiri gerbang masuk. Gedung itu adalah klinik khusus yang ditujukan untuk pasien yang datang dimalam hari (diluar jam operasional) dan di hari libur.

Tiba di HItachinaka General Hospital.

Asuransi Kesehatan

Kemanapun kami berpergian, asuransi kesehatan adalah salah satu kartu wajib yang harus dibawa selalu. Selain itu, khusus untuk anak, ada lagi kartu “MARUFUKU” yang wajib dibawa selalu.

Perawat di RS, memeriksa terlebih dahulu suhu badan kami sebelum masuk. Selanjutnya, memeriksa kondisi kening Henokh. Darah dari lukanya masih terlihat tetapi tidak mengalir dengan deras. Perawat RS pun meminta kami menceritakan kronologis kecelakaannya dan setelahnya mempersilahkan kami duduk di kursi tunggu sembari melaporkan ke dokter dan mempersiapkan ruangan pemeriksaan.

Salah satu pertanyaan wajib dari Perawat RS adalah ” APAKAH ADA ASURANSI DAN KARTU MARUFUKU?”

Pemeriksaan oleh Dokter

Sekitar 5 menit setelah kami tiba di RS, akhirnya dokter memeriksa kondisi dan luka Henokh. Tentu saja Henokh nangis dengan kencang ketika hendak dibaringkan di tempat tidur. Karena nangisnya yang kencang dan meronta-ronta akhirnya dokter pun mempersilahkan Laura untuk menggendong Henokh.

Setelah lukanya dibersihkan dengan alkohol yang tentunya memberikan efek kejut dan menambah volume tangisan Henokh, luka tersebut ditutup dengan perban yang telah diolesi dengan obat salap.

Selanjutnya Henokh sudah mulai tenang dan dokter pun menjelaskan kondisinya. Hal yang perlu diperhatikan adalah Demam dan Muntah.

Kalau sepanjang malam ini Henokh demam atau/dan muntah, maka wajib dibawa ke RS (lupa istilah medisnya) yang menangani gejala geger otak atau sejenisnya. Seirei Memorial Hospital adalah RS yang dirujuk apabila terjadi dua hal tersebut sepanjang malam. RS ini merupakan yang terdekat dari tempat tinggal kami di Desa Tokai.

Selanjutnya, dengan tenang Perawat RS menjelaskan lebih detail lagi kondisi Henokh dengan bahasa yang mudah dimengerti dan membuat Mami Henokh bisa lebih tenang sedikit. Lalu, perawat tersebut memberikan obat salep untuk luka Henokh dan menjelaskan cara pemakaiannya.

Biaya

Sebelum meninggalkan RS, kami pun menyelesaikan urusan administrasi dan membayar ¥ 600 untuk biaya pemeriksaan dan sudah termasuk obat salep.

Malam hingga Keesokan harinya

Sekitar dua jam setelah sampai di rumah, Henokh kembali aktif seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, kami belum bisa menyentuh bagian sekitar keningnya karena dia masih merasa sakit. Akan tetapi, mami Henokh tidak bisa tidur dengan tenang sepanjang malam.

Puji Tuhan, Henokh tidak sampai demam atau muntah. Keesokan paginya pun, dia sudah kembali beraktifitas dengan normal lagi. Rasa sakit terjadi ketika hendak mengganti perban dikeningnya.

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

Kembang Api Musim Panas di Jepang

Pada tulisan sebelumnya, saya memaparkan secara singkat mengenai Dilema musim panas di Jepang. Suhu udara yang tinggi ditambah dengan kelembapan udara yang cukup tinggi menghasilkan kombinasi yang membuat saya tidak kuat berlama-lama beraktifitas di luar ruangan.

Disisi lain, festival kembang api (Hanabi 花火) adalah acara tahunan yang diadakan hampir setiap akhir pekan pada bulan Agustus di seluruh Jepang.

Tempat paling terkenal untuk festival ini berada di daerah Asakusa tepat di dekat Sungai Sumida (Sumida River Firework Festival). Infonya sih salah satu festival kembang api terbesar di Jepang dengan total sekitar 20.000 kembang api yang bisa dinikmati mulai dari pukul 19:00 hingga 20:00an malam.

Sayang sekali, untuk tahun 2020 sepertinya tidak ada festival kembang api akibat COVID-19.

Kembang Api di Sumida River

Tahun 2016, saya dan tiga orang teman mempunyai kesempatan menikmati pertunjukan kembang api di Sumida River. Untuk menghindari keramaian orang, kami pun janjian untuk bertemu di salah satu pintu keluar Stasiun Asakusa jam 4:30 sore. Meskipun acara baru mulai di malam hari, akan tetapi sudah terlihat keramaian di dalam maupun di luar stasiun. Sudah banyak rombongan orang yang hendak menikmati pertunjukan tersebut. 

Kami pun berusaha mencari-cari lokasi untuk bisa duduk dan menikmati pertunjukkan kembang api. Akan tetapi, sudah banyak orang yang menggelar alas duduk di sepanjang pinggiran sungai sejak siang atau mungkin dari pagi hari. 

Meskipun demikian, kami tetap berusaha berjalan menelusuri pinggiran sungai sambil berharap setidaknya ada tempat yang bisa menampung kami berempat untuk duduk dan menikmati kembang api. Sepertinya, kesempatan menikmati pertunjukan dari pinggiran sungai sudah tidak memungkinkan lagi sehinga kami pun mundur menuju ke jalan raya yang ditutup sementara untuk kendaraan bermotor dan berusaha menikmati dari situ bersama dengan ribuan orang lainnya.

Di beberapa trotoar jalan terlihat banyak pedagang makanan dan minuman yang berjualan. Selain itu, beberapa hotel di sepanjang jalan tersebut menawarkan rooftop mereka dipakai untuk menikmati festival kembang api. Tentunya tawaran ini tidak gratis.

Kami memilih untuk tetap berjalan di sepanjang jalan tersebut sambil berusaha menemukan tempat yang sekiranya bisa untuk menikmati kembang api tersebut. Akan tetapi, sepertinya hal tersebut cukup sulit sehingga kami memutuskan untuk berdiri di depan salah satu hotel dan menikmati pertunjukan kembang api yang telah dimulai sejak 30 menit yang lalu. 

Ternyata cukup sulit untuk bisa menikmatinya karena pemandangan yang terhalang oleh gedung bertingkat di depan kami. Meskipun demikian, kami berusaha untuk menikmati pertunjukan tersebut.

Sekitar pukul 20:00, pertunjukan telah usai dan kami harus kembali ke Stasiun Asakusa. Ternyata posisi kami menonton kembang api tersebut berjarak cukup jauh dari stasiun. Butuh waktu sekitar 20 menit jalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Kami bersama ribuan orang lainnya berjalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Menikmati Festival kembang api di Sumida River secara umum cukup menyenangkan akan tetapi tidak bisa berharap banyak mendapatkan tempat terbaik untuk bisa menikmatinya.

Ekspektasi saya adalah bisa duduk (meskipun tidak dilokasi terbaik) untuk menyaksikan kembang api. Realita yang saya temui adalah menyaksikan kembang api selama satu jam dengan berdiri.

Mencari lokasi untuk menikmati kembang api di Sumida River (1)
Tidak dapat tempat duduk, akhirnya menonton sambil berdiri dan berjalan.

Kembang Api di Tama River

Meskipun kembang api di Sumida River adalah salah satu terbesar di Jepang. Tetapi, Tamagawa Firework Festival adalah tempat menonton kembang api favorit saya. 

Festival ini berlangsung di Tamagawa Futagobashi Park dan stasiun terdekatnya adalah Futakotamagawa Station. Biasanya berlangsung dari pukul 19:00 hingga 20:00 JST dengan jumlah kembang api sekitar 6.000.

Beberapa alasan yang membuat saya menjadikan Tamagawa Fireworks Festival menjadi tempat terfavorit hingga saat ini.

  1. Lokasinya yang strategis bagi saya. Dari kampus Tokyo Tech (Ookayama) cukup membutuhkan sekitar 12 menit dengan kereta untuk dapat mencapai Futakotamagawa Station. Demikian juga akses dari rumah ke Futakotamagawa yang bisa ditempuh sekitar 7 menit dengan kereta.
  2. Daya tampung besar. Daerah pinggiran Tama River yang cukup besar memberikan keuntungan tersendiri yang dapat menampung ribuan pengunjung tanpa harus berdesak-desakan. 
  3. Fasilitas cukup memadai. Salah satu fasilitas yang tersedia adalah toilet portable dengan jumlah yang cukup banyak. 
  4. Aneka makanan dan minuman. Terdapat stand jualan yang tertata rapi sehingga memudahkan pengunjung untuk mengaksesnya.
Duduk santai menunggu kembang api di Tamagawa River.
Lokasi strategis tepat dibelakang barisan VIP (berbayar).
Rekaman beberapa detik puncak festival kembang api di Tamagawa.

Hampir setiap tahun di musim panas, saya menikmati pertunjukan kembang api di Tamagawa. Meskipun banyak orang yang memadati, tetapi kita bisa duduk santai menatap ke langit sambil melihat kembang api dengan berbagai macam motif.

Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.

Tokai adalah sebuah desa yang terletak di Prefektur Ibaraki, Jepang. Secara ekonomi, desa Tokai ditopang oleh sektor industri nuklir (pemerintah dan swasta). Beberapa industri nuklir yang terdapat di Desa Tokai adalah: Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Japan Proton Accelerator Research Complex (J-PARC), Nuclear Fuel Industries, The Japan Atomic Power Company Tokai No.2 Power Station (PLTN), … Continue reading “Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah … Continue reading “Perlu gak ya Dana Pensiun?”

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Dilema Musim Panas di Negeri Sakura

Sebagai orang Indonesia yang negaranya terletak di daerah tropis, suhu udara dengan rata-rata diatas 30 derajat Celcius adalah hal yang biasa dialami sepanjang tahun. Berdasarkan hal inilah, saya awalnya menganggap kalau musim panas di negeri Jepang adalah suatu hal yang biasa saja. Hingga akhirnya saya merasakan sendiri musim panas di Jepang sejak tahun 2013 hingga saat ini.

Musim panas di Jepang (Tokyo dan sekitarnya) biasanya datang sesaat setelah selesai musim hujan. Pada umumnya mulai dari bulan Juli hingga akhir Agustus atau awal September. Anehnya, saya merasa musim panas tahun 2020 baru mulai awal Agustus ini.

Ada beberapa hal yang menarik bagi saya selama menjalani musim panas di Jepang.

1. Anggapan orang Indonesia tahan udara panas.

Insting bertahan hidup saya akan muncul begitu musim panas mulai datang yaitu menyalakan AC dan mengatur suhu di angka 23- 25 derajat Celcius. Ketika bekerja di Indonesia, bahkan suhu ruangan di kantor bisa diangka 20 derajat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan dari beberapa teman Jepang

TJ : Loh, Indonesia bukannya negara tropis dan suhu udaranya diatas 30 derajat ya?

I: Betul sekali, suhu di luar diatas 30an tapi di ruangan biasa kita nyalakan AC dengan suhu sekitar 23 derajat. Bahkan saya kalau tidur suhu AC nya diatur ke 19 derajat.

TJ: Hahhhh??? (Kaget dan Heran)

2. Hemat listrik

Salah satu budaya yang membuat saya salut dari negara ini adalah hemat listrik. Pada tahun 2013 ketika saya bersekolah di Tokyo Institute of Technology, akan ada terdengar bunyi alarm apabila konsumsi listrik melebihi batas maksimum. Ketika alarm ini berbunyi, maka wajib mematikan perangkat elektronik salah satunya AC selama 1 jam. Berdasarkan informasi yang saya terima, saat itu Jepang sedang berusaha mencukupkan kebutuhan listriknya setelah semua PLTN di non-aktifkan akibat peristiwa Fukushima.

Di tempat saya bekerja dan mungkin di kantor-kantor lainnya, akan ada stiker di sekitar AC yang menunjukkan batas minimum dan maksimum penggunaan suhu AC pada musim panas maupun musim dingin.

Terkadang perlu tambahan kipas angin disekitar anda untuk membuat daerah anda bekerja lebih nyaman karena suhu AC yang digunakan tidak cukup untuk mendinginkan ruangan tersebut.

3. Kelembapan Udara Tinggi

Tingkat kelembapan udara sewaktu musim panas di Tokyo sangatlah tinggi. Hal ini membuat udara terasa gerah (sumuk). Saya adalah tipekal orang yang mudah berkeringat, sehingga berjalan dari lab ke kantin yang berjarak 300 meter saja bisa membuat baju basah kuyup. Pakaian ganti, deodoran, alat mandi dan parfum adalah hal wajib yang selalu dibawa di dalam tas atau disimpan di loker kerja selama musim panas.

4. Aroma keringat di dalam kereta

Salah satu tanda dimulainya musim panas adalah aroma keringat yang sangat kuat terasa di dalam kereta. Aroma ini bisa dirasakan di dalam kereta terutama pada jam-jam sibuk. Bagi anda yang tidak kuat dengan aroma kuat dan menyengat, silahkan mempersiapkan diri dengan hal-hal yang dapat membantu menikmati perjalanan anda selama berada di dalam kereta.

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab. Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”. 08.00 JST Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe Jam kerja yang … Continue reading “Kerjaan seorang peneliti nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja.

Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Berdasarkan informasi ramalan cuaca tersebut, cuaca mendung akan menghiasi desa Tokai dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pergi dari pagi hingga siang hari. Kebetulan juga ada kegiatan lain yang harus dihadiri di sore harinya secara online.

Jalanan dari rumah menuju ke pantai cukup sepi sehingga kami bisa bersepeda dengan santai dan menikmati pemandangan sekitar. Sekitar 1 km sebelum pantai, kami harus menempuh jalan yang sedikit off road dan jalanan setapak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke pantai karena roda sepeda yang tidak bisa (tidak aman) melanjutkan perjalanan. Pilihan lainnya adalah kami harus memarkirkan sepeda dan berjalan kaki ke pantai. Pilihan ini tidak kami ambil mengingat waktu yang dibutuhkan akan lebih lama dan kami ada kegiatan lain di sore harinya.

Kami pun memutar balik arah sepeda kami hingga kami sadar kalau disekitar daerah tersbut adalah taman terbesar di Desa Tokai, ‘Akogigaura Park’.

Kami pun memutuskan untuk membawa Henokh bermain di taman tersebut. Hari ini adalah hari pertama bagi kami bertiga untuk bermain di taman tersebut.

MENAKJUBKAN…!!!!!

Tidak sabar kami mengayuh sepeda ke Akogigaura Park. Dari simpang jalan hingga ke arah taman bermain anak, kami disuguhi dengan pohon sakura yang akan sangat indah apabila dilalui pada saat bunga sakura sedang mekar-mekarnya. Hingga kami disuguhkan oleh taman bermain yang sangat menakjubkan untuk ukuran sebuah desa.

Ini adalah taman bermain terbesar dan terlengkap yang ada di Desa Tokai. Taman bermain ini bisa dinikmati dari anak usia 1 -12 tahun. Ada terdapat berbagai jenis permainan yang bisa dinikmati oleh anak sesuai usianya. Karena ini pertama kalinya kami datang ke taman ini, saya dan istri sampai tidak bisa berkata- kata melihat bagaimana Desa Tokai menyediakan berbagai fasilitas untuk warganya.

“Wajib datang ke taman Akogigaura lagi..!!!”

Henokh pun tidak sabar untuk segera turun dari sepeda dan setengah berlari menuju permainan favoritnya, “Pelosotan”. Dia berlari kesana kemari setelah mencoba beberapa permainan. Selain itu, sifat bersahabatnya di tunjukkan dengan menghampiri anak-anak yang seusianya atau diatasnya untuk diajak berkomunikasi atau bermain.

Saya dan istri pun tidak tahu bahasa apa yang dipakai Henokh ketika berbicara dengan anak bayi lainnya. Yang ada, kami melempar senyum kepada orangtua yang anaknya sedang diajak Henokh bermain.

Tidak terasa satu jam sudah terlewatkan karena menikmati beragam permainan di taman. Kami pun harus kembali pulang mengingat jam makan siang Henokh yang sudah lewat.

Membuat Memori

Bagi saya sendiri, hal sederhana seperti ini adalah momen dimana saya membuat memori menikmati kebersamaan bersama keluarga kecil di desa ini.

Akan jadi memori yang tidak akan terlupakan tentunya bagi saya dan istri. Sedangkan tulisan ini menjadi memori bagi Henokh nantinya ketika dia sudah besar bahwa banyak hal-hal seru yang dilalui bersama selama tinggal di Desa Tokai bersama kedua orangtuanya.

Foto sebagai pemanis

Berikut ini beberapa foto di taman bermain “Akogigaura Park”

Wahana bermain anak-anak. (Dok. pribadi)
Pelosotan adalah salah satu wahana favorit anak-anak.
Papan informasi wahana yang ada di Akogigaura Park.
Yuk baca tata tertib bermain di taman.

Nasi telah menjadi sereal

Beberapa hari ini kepikiran dengan menu sarapan yang jauh berubah ketika tinggal di Indoneisa. Sewaktu menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja, sarapan dengan menu complit (nasi+sayur+lauk) adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebelum memulai aktifitas perkuliahan. Kalau ada kuliah pagi, setidaknya sebungkus roti yang dijual di warung dekat kosan harus dimakan untuk memperoleh energi selama … Continue reading “Nasi telah menjadi sereal”

Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….

Sudah lama rasanya tidak menuliskan cerita seri tentang celotehan kecil ala suami istri. Kali ini menceritakan celotehan antara sepasang suami istri pada saat sedang bersepeda bersama Henokh. Laura (L), Irwan (I), Henokh (H) I: Ayo siap-siap…sepedaan jam 10 aja ya biar gak panas kali di jalan nanti. L: Ok… Henokh siap-siap, ambil kaus kakimu nak … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….”

Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang

Selama tinggal di Jepang, gempa bumi adalah salah satu hal yang paling sering terjadi dan paling sering dirasakan sepanjang tahun. Mulai dari gempa bumi yang skala kecil hingga cukup besar. Salah satu pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan adalah gempa bumi yang terjadi disore hari sekitar bulan Oktober 2012. Oktober 2012 Saya baru saja memasuki … Continue reading “Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang”

Menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang

Ketika berbicara tentang Jepang, pasti tidak lepas dari sistem transportasi yang sangat bagus. Ketika saya tinggal di Tokyo selama 5 tahun lebih, terlihat bahwa sistem transportasi umum sudah sangat bagus dan terintegrasi. Transportasi umum yang paling sering saya gunakan (hampir 99%) adalah kereta. Bahkan selama tinggal di Tokyo, tidak terpikir sedikitpun untuk mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi) Jepang. Salah satu alasan utama dibenak saya adalah untuk apa lelah mengendarai mobil jika bisa duduk santai dan nyaman di dalam kereta yang bisa mengantarkan ke tempat lain dengan lebih cepat.

Selain itu, mempunyai mobil di Jepang khususnya di Tokyo membutuhkan biaya yang cukup besar khususnya untuk parkir. Salah satu syarat yang dibutuhkan adalah menunjukkan tempat parkir mobil anda. Hal ini untuk membuktikan kalau mobil tersebut punya “tempat tinggal” bukan di parkir sembarangan apalagi diparkir depan rumah orang lain.

Namun, kondisi tersebut ternyata cukup berbeda ketika saya mulai tinggal di Desa Tokai. Hampir setiap orang baik itu di Desa Tokai dan sekitarnya mempunyai mobil. Ternyata, meskipun ada akses kereta maupun bus tetapi frekuensinya tidak sebanyak di Tokyo.

Saya ambil contoh, untuk bisa mengunjungi kota Mito yang berjarak sekitar 15 km dari Desa Tokai, bisa ditempuh dengan menggunakan kereta. Akan tetapi, hanya ada 2 jadwal keberangkatan kereta setiap jamnya. Hal ini menyebabkan apabila anda telat, maka anda wajib menunggu kereta selanjutnya sekitar 30 menit. Sedangkan untuk rute bus hanya untuk di dalam Desa Tokai dan yang paling jauh adalah ke tempat wisata Hitachi Seaside Park di kota Hitachinaka yang berjarak 15 km dari Tokai. Jadwal keberangkatan bus pun sangat terbatas hanya ada 4 kali sehari untuk rute menuju Hitachi Seaside Park.

Dengan demikian, mempunyai SIM Jepang di daerah pedesaan ataupun ketika tinggal di luar kota-kota besar seperti Tokyo, Yokohama, Osaka, dll adalah suatu keharusan.

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menceritakan bagaimana cara memperoleh SIM Jepang dengan mengikuti kursus mengemudi di Jepang. Tapi tentu saja biaya yang dibutuhkan cukup besar.

Cara lain untuk mendapatkan SIM Jepang adalah dengan menukarkan SIM Indonesia yang kita punya. Berikut penjelasan singkat mengenai bagaimana cara menukar SIM Indonesia.

1. Terjemahkan SIM Indonesia

Hal yang paling pertama adalah menterjemahkan SIM A Indonesia yang anda miliki di JAF (Japan Automobile Federation).

2. Masa Berlaku

Pastikan SIM A Indonesia yang anda punya masih berlaku. Apabila masa berlaku SIM A anda kurang dari satu tahun, ada baiknya melakukan perpanjangan terlebih dahulu (bisa gak ya?) karena mengikuti tes tulis dan praktek di Jepang cukup sulit.

Pengalaman kami di Desa Tokai (Prefektur Ibaraki), ketika gagal ujian praktek maka dibutuhkan waktu sekitar 3 (tiga) bulan untuk mengikuti ujian praktek selanjutnya.

3. 90 hari di Indonesia

Apabila anda baru pertama kali mempunyai SIM A, maka pastikan anda berada minimal 90 hari di Indonesia sebelum berangkat ke Jepang. Apabila kurang dari 90 hari, maka anda tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian pergantian SIM.

Contoh: SIM A Indonesia dikeluarkan tanggal 20 Mei 2020. Anda ke Jepang tanggal 20 Juni 2020. Datang ke Unten Menkyo Center (tempat ujian SIM) tanggal 20 Oktober 2020. Meskipun tanggal dikeluarkan SIM anda dengan rencana ujian sudah lebih dari 90 hari, tetapi perhitungan 90 hari dimulai dari tanggal dikeluarkan SIM sampai tanggal keberangkatan anda ke Jepang (petugas akan melakukan pengecekan paspor untuk melihat kapan anda tiba di Jepang).

Bagi anda yang statusnya pekerja atau mahasiswa yang baru tiba di Jepang dengan SIM Indonesia yang berusia kurang dari 90 hari, sebenarnya 90 hari bukan berarti anda harus cuti selama 90 hari berturut-turut. Tetapi, 90 hari ini bisa dicicil. Misalnya tahun ini anda pulang 30 hari, tahun depan pulang 30 hari lagi. Dengan demikian anda sudah tercatat 60 hari tinggal di Indonesia semenjak SIM A anda dikeluarkan oleh pihak berwajib.

4. SIM A di Indonesia baru diperpanjang

Ada kalanya SIM A kita baru saja diperpanjang masa berlakunya dan kita tiba di Jepang kurang dari 90 hari sejak SIM A yang baru diperpanjang tersebut dikeluarkan oleh pihak berwajib.

Dalam kasus ini ada 2 kemungkinan. Pertama, apabila nomor SIM A baru tersebut sama dengan SIM A yang lama. Maka anda bisa memberikan penjelasan kepada petugas kalau anda bukan orang yang baru pertama kali punya SIM A (Tentunya sertakan dokumen yang memperkuat argumen anda). Kedua, kalau nomor SIM A baru tersebut berbeda dengan SIM A yang lama, maka kembali kepada proses NO. 3.

Berdasarkan pengalaman beberapa teman yang di Ibaraki, kemungkinan besar petugas di Unten Menkyo Center tidak menerima penjelasan dari kemungkinan yang pertama. Sehingga anda harus pulang ke Indonesia dulu untuk dapat memenuhi syarat 90 hari berada di Indonesia.

5. Ujian Tulis

Bagi mereka yang lulus syarat 90 hari, maka bisa langsung mengikuti Ujian Tulis pada hari tersebut. Ujian tulis ini tersedia dalam Bahasa Jepang maupun Bahasa Inggris.(Saya kurang tahu apakah ada dalam Bahasa Mandarin, Korea , dll).

Apabila lulus, anda boleh langsung mengikuti ujian praktek pada hari yang sama. Pada saat anda lulus ujian tulis, akan diberikan sertifikat kelulusan ujian tulis. Sertifikat ini berlaku hanya 6 bulan.

Apabila belum lulus, anda bisa datang lagi di lain waktu untuk melaksanakan ujian tulis lagi.

6. Ujian Praktek.

Apabila lulus ujian tulis, maka bisa langsung mengikuti ujian praktek di hari yang sama. Ujian Praktek adalah ujian terberat dalam pengambilan SIM di Jepang. (Pastikan anda membaca banyak buku, menonton video di Youtube, dll).

Apabila lulus, maka SIM Jepang anda akan dikeluarkan pada hari itu juga.

Apabila belum lulus, maka anda harus menuju bagian administrasi untuk melakukan penjadwalan ulang ujian praktek yang kemungkinan besar jadwal tercepatnya adalah sekitar 3 bulan dari hari kegagalan tersebut.

Apabila anda masih gagal dalam ujian prakek walaupun sudah mencoba berkali-kali. Hal ini berpengaruh terhadap masa berlaku sertifikat ujian tulis anda. Ketika sudah lewat 6 bulan dan anda belum berhasil lulus ujian praktek, maka anda wajib mengikuti ujian tulis lagi.

Demikian penjelasan singkat mengenai cara menukar SIM Indonesia menjadi SIM Jepang.

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi). Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu … Continue reading ““One Day Trip” Oarai Sun Beach”

Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”. Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri. Setelah satu tahun tinggal … Continue reading “Apato 1945 di Tokyo”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

%d bloggers like this: