“One Day Trip” Air Terjun Fukuroda

Kegiatan lain yang kami lakukan pada musim panas tahun ini adalah mengunjungi salah satu tempat wisata terkenal di Ibaraki, Fukuroda Waterfall (Air Terjun Fukuroda).

Air terjun Fukuroda terletak di kota Daigo, Prefektur Ibaraki dan berjarak sekitar 50 km dari Desa Tokai. Berdasarkan info dari Fukuroda Falls Travel Guide, air terjun termasuk ke dalam tiga besar air terjun terindah di Jepang. Sebenarnya, saya sudah pernah berkunjung ke Air Terjun Fukuroda pada tahun 2015. Akan tetapi, ini adalah kali pernah untuk Henokh dan maminya berkunjung ke Fukuroda.

Akses

Ada dua pilihan utama untuk menuju Air Terjunn Fukuroda yaitu menggunakan kendaraan pribadi (mobil) maupun kereta. Dari stasiun kereta Fukuroda (Fukuroda station) menuju ke air terjun Fukuroda bisa ditempuh sekitar 40 menit berjalan kaki (sekitar 3 km).

Informasi lengkapnya, bisa dilihat di website berikut ini: Fukuroda Falls Travel Guide


Saya akan menceritakan perjalanan “One day trip” ke Fukuroda Waterfall dari Desa Tokai.

Air Terjun ‘Fukuroda’

10:30 JST

Perjalanan hari ini dimulai sekitar pukul 10.30 pagi dari desa Tokai. Menurut informasi dari Google Map, kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk tiba di Fukuroda Waterfall dengan menggunakan mobil (tidak lewat jalan tol). Selain itu, informasi lainnya tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda kemacetan di sepanjang perjalanan.

Baru saja 30 menit berjalan, Henokh yang awalnya begitu menikmati perjalanan, ternyata sudah lebih dahulu tertidur. Sepanjang perjalanan, telihat jelas hamparan sawah dan ladang yang ditanami berbagai macam sayuran. Hal ini tentu saja berbeda 180o dengan pemandangan perkotaan seperti Tokyo.

12:00 JST

Salah satu keunggulan Jepang dalam bidang pariwisata adalah penataan ruang disekitar tempat wisata. Tempat parkir, toilet umum, restoran, toko souvenir, dll tertata dengan baik dan rapi. Selain itu, pedestrian pun tersedia dengan cukup untuk bisa menampung pejalan kaki bahkan orang tua yang membawa anak bayi menggunakan stroller.

Kami pun memarkirkan mobil disalah satu tempat parkir. Jarak antara tempat parkir ke pintu masuk air terjun cukup jauh. Bagi mereka yang membawa anak bayi (balita), ada baiknya membawa stroller untuk memudahkan perjalanan.

Biaya parkir yang harus dibayarkan adalah sebesar ¥ 500 per hari.

Makan siang

Sebelum memulai petualangan, kami menikmati makan siang dengan menyantap makanan Jepang disalah satu restoran yang ada disana.

Sejauh saya berkunjung ke beberapa wilayah di Jepang, Ramen, Udon, Soba, Kare Jepang, dan Oyakodon adalah beberapa menu yang paling sering ditemui. Harganya pun cukup terjangkau dengan kisaran ¥ 900 – 1.500.

Selain itu, terdapat juga penjual di tepi jalan yang menjajakan cemilan berupa ikan sungai yang dibakar (diasapi) dan dihidangkan dengan cara ditusuk seperti sate. Harga yang ditawarkan untuk seekor ikan bakar sekitar ¥400.

13:30

Untuk bisa menikmati keindahan air terjun Fukuroda, kita harus membayar tiket masuk sebesar ¥ 300 untuk satu orang dewasa.

Demi tetap menjaga keamanan dan kesehatan di masa pandemi COVID-19, suhu tubuh akan diukur oleh seorang petugas sebelum membeli tiket masuk.

Setelah mempunyai tiket, maka kita akan berjalan di dalam terowongan panjang yang akan menghantarkan kita ke dua tempat utama untuk menikmati pemandangan air terjun di lantai tersebut.

Sedangkan tempat utama untuk menikmati keindahan air terjun tersebut terletak sekitar 40 meter diatas terowongan. Tenang aja, kita kita perlu berjalan jauh atau memutar atau bahkan menaiki anak tangga karena ada dua buah lift yang tersedia secara gratis untuk membawa kita ke atas.

Gokil yaaa… Kepikiran banget dibuatkan lift untuk menikmati air terjun. Hahaha

Kami pun dengan mudah membawa Henokh menikmati pemandangan air terjun. Henokh juga bisa duduk di stroller dengan nyaman kalau dia sudah lelah untuk berjalan kaki.

Antrian menggunakan lift di dalam terowongan.

15:30 JST

Kami memutuskan untuk pulang setelah puas menikmati pemandangan air terjun Fukuroda. Meskipun air terjun Fukuroda berada di daerah pegunungan tetapi udara musim panas cukup terasa dan cukup lembab. Hal ini membuat keringat mengalir tanpa henti.

Kami berasumsi bahwa musim gugur adalah saat terbaik mengunjungi air terjun ini. Dedaunan yang sudah berwarna warni ditambah suhu udara yang sejuk akan jadi nilai plus tersendiri untuk menikmati keindahan Fukuroda.

Perjalanan pulang dari Fukuroda ke Desa Tokai, kami tempuh dengan jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan kami. Pada saat kami datang, hamparan sawah menemani sepanjang perjalanan. Sedangkan perjalanan pulang kami ditemani oleh pemandangan pegunungan dengan kontur jalan yang berliku-liku.

Pemandangan disepanjang jalan pulang mengingatkan saya kepada kondisi jalan menuju kampung halaman di Indonesia. Kondisi jalan dan pemandangannya hampir sama dengan jalur dari Medan ke Berastagi.

Untuk menambah keindahan perjalan pulang, kami memutuskan untuk masuk ke Desa Tokai melalui pinggiran kota Hitachi dengan pemandangan Samudera Pasifik di sepanjang jalan.

Jembatan gantung menjadi salah satu akses menuju ke dalam terowongan.

19:00 JST

Perjalanan hari ini ditutup dengan menikmati makan malam di sebuah restoran italia bernama ‘Saizeria’. Sebuah restoran Italia dengan harga mahasiswa.

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Misteri Ayam Belatung

Tidak terasa acara yang dilaksanakan di kota A selama seminggu ini akan berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dan sorenya kami semua akan berpisah dan pulang ke kota masing-masing. Rombongan Jogja Kami menggunakan satu bus besar untuk menampung peserta dari Jogja. Karena jadwal berangkat bus sekitar jam 5 sore, maka dipastikan kami akan singgah untuk … Continue reading “Misteri Ayam Belatung”

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi).

Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu yang cukup terkenal di musim panas adalah keindahan Pantai “Oarai Sun Beach”.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, seluruh warga kota Oarai akan bergotong-royong membersihkan pantai di awal musim panas (biasanya awal bulan Juli) untuk menyambut wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahanan pantai dan lautnya. Lautnya cukup terkenal dengan ombaknya yang membuat banyak peselancar berdatangan ke Oarai.

Akan tetapi, pengunjung yang datang di musim panas 2020 sepertinya sangat jauh berkurang akibat dari pandemi COVID-19. Bahkan ketika kami mengunjungi pantai ini pada saat hari libur nasional (Hari Gunung), jumlah pengunjung yang ada di pantai ini sepertinya cukup sedikit. Padahal sebelum datang, kami berpikir akan terjadi kemacetan di dalam Oarai akibatnya banyaknya pengunjung yang hendak berlibur ke Oarai. Namun, hal tersebut tidak terjadi di hari itu.

Advertisements

Welcome Party

Hari itu, kami hendak mengadakan Welcome Party kecil-kecilan untuk salah satu teman lab sewaktu bersama-sama menuntut ilmu di Tokyo Tech karena dia sudah diterima bekerja di salah satu instansi nuklir nasional di kota Oarai.

09:30 JST

Kami sekeluarga beserta seorang teman berangkat dari Desa Tokai menuju ke “Oarai Sun Beach” di kota Oarai. Sebelum ke pantai, kami harus singgah terlebih dahulu di supermaket besar serba lengkap ‘COSTCO’ untuk membeli makanan dan minuman.

11:30 JST

Setelah selesai berbelanja dan membeli semua yang dibutuhkan, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Oarai.

Jarak antara Desa Tokai ke Kota Oarai kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil.

Di saat yang bersamaan, teman yang lain juga sudah berangkat dari kota Mito ke Oarai.

“Private Beach Parking Lot” adalah titik pertemuan kami. Tidak ada kemacetan yang berarti sewaktu perjalanan menuju Oarai.

Pada musim panas seperti ini, dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar ¥1.000/hari. Akan tetapi, di luar musim panas tidak dikenakanan biaya parkir apabila mengunjungi pantai Oarai Sun Beach.

12:00 JST

Hari itu, suhu udara di Kota Oarai mencapai sekitar 34o C dengan matahari yang bersinar cukup cerah. Hal ini membuat pasir pantai cukup panas untuk diinjak tanpa menggunakan alas kaki.

Dari tempat parkir, kami harus berjalan sejauh 500 meter menuju bibir pantai sambil membawa semua perlengkapan mulai dari tenda, kursi, makanan, minuman, hingga stroller Henokh.

Belum lagi acara Welcome Party dimulai, kami sudah basah kuyup karena udara yang cukup panas.

Dengan kondisi pantai yang tidak ramai, kami cukup mudah untuk menemukan tempat yang sesuai bagi kami. Begitu dapat, tenda pun menjadi hal yang pertama kami dirikan sebagai tempat berteduh.

Henokh dan Maminya sedang berteduh dari panasnya sinar matahari.

13:00 JST

Tanpa basa basi, kami pun langsung menyantap pizza yang telah dibawa sambil bercerita banyak hal.

Saya cukup beruntung karena istri cukup kenal dengan teman lab saya sewaktu kuliah di Tokyo Tech. Hal ini dikarenakan sewaktu kuliah, istri cukup sering berkunjung ke lab dan bahkan ngobrol bersama mereka.

Hal ini membuat istri tidak canggung ketika mengikuti acara reunian seperti ini.

Kembali lagi ke menu makanan yang kami persiapkan. Hari ini kami mempersiapkan beberapa jenis makanan seperti: nasi daging sapi, pizza, salad, dan kentang goreng. Sedangkan untuk minuman, air mineral dan beberapa botol jus dingin cukup menyegarkan ditengah teriknya cuaca.

Pastikan membawa cukup makanan dan minuman karena lokasi supermarket atau convenience store cukup jauh dari pantai.

14:30 JST

Setelah menikmati makanan dan minuman, Mami Henokh mengajak Henokh untuk bermain air di pinggir pantai. Sedangkan saya dan teman yang lainnya masih asyik mengobrol kenangan sewaktu di bangku kuliah. Salah satunya adalah membahas nasib play station yang ada di refreshing room yang sering digunakan untuk bermain diwaktu senggang (malam hari). Hehehe

Sambil mengobrol, sesekali saya meninggalkan teman-teman yang sedang mengobrol untuk menemani Henokh bermain air di pantai.

Dengan suhu udara yang cukup panas membuat air lautnya terasa sangat hangat. Hal ini membuat Henokh cukup senang bermain air. Akan tetapi, rasa air laut yang asin yang terminum oleh Henokh akibat terpaan ombak kecil membuatnya cukup kaget dan berlari menjauhi air laut. Hahaha

Advertisements

15:30 JST

Setelah merasa cukup lama bermain dan Henokh sudah mulai capek, akhirnya kami pun membawa Henokh ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh badannya.

Ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menggunakan jasa kamar mandi tersebut. Kita harus memasukkan koin ¥100 ke dalam mesin yang ada dikamar mandi untuk bisa menyalakan air hangat dari shower yang tersedia. Dengan uang ¥100, kita bisa menikmati air hangat sekitar 3-4 menit. Apabila waktu 3 menit dirasa belum cukup, silahkan masukkan kembali koin ¥100 ke dalam mesin tersebut.

Suasana musim panas di “Oarai Sun Beach” Jepang.

16:00 JST

Mami Henokh membawa Henokh ke dalam mobil untuk ngadem karena Henokh cukup sulit untuk tidur di suhu udara yang panas.

Di saat yang bersamaan, saya menyusul teman-teman yang sudah bermain ombak di laut. Bermain ombak di laut ternyata cukup menyenangkan. Semakin sore, terlihat cukup banyak peselancar yang mulai berdatangan. Hal ini membuat kami yang datang dengan tangan kosong, hanya bisa menghindar atau mencari tempat yang tidak banyak peselancar.

Sambil bermain di laut, sesekali saya memandang ke arah tenda kami. Ternyata, mami Henokh sudah ada disana sambil menggendong Henokh yang masih tertidur dengan lelap.

17:00 JST

Sekitar pukul 5 sore, beberapa petugas pantai sudah mulai berkeliling sambil memberitahu kalau pantai akan ditutup jam 6 sore. Selain itu, kondisi di laut pun sudah tidak kondusif untuk kami karena semakin banyak peselancar yang bermain membuat tidak ada tempat bagi kami. Hahaha

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menyudahi permainan ombak dan bersiap untuk membereskan semua barang bawaan kami.

INGAT..!!! SELALU BAWA PLASTIK SAMPAH

Menjaga kebersihan adalah hal utama yang perlu diingat ketika tinggal di Jepang. Jangan berharap banyak disediakan tempat sampah di pantai. Jadi, selalu bawa plastik sampah sendiri dan silahkan membawa pulang sampah tersebut.

Selanjutnya, kami pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum akhirnya meninggalkan pantai.

19:00 JST

Setelah seharian bermain di pantai, akhirnya tiba juga di rumah dengan selamat. Meskipun udara panas, tetapi cukup membuat memori yang bagus untuk Henokh karena ini adalah pertama kalinya dia bermain air di pantai.

One day trip bersama keluarga sekaligus dengan reuni teman lab adalah hal yang menyenangkan. Selain bisa menjaga tali persaudaraan dengan teman lintas negara, para istri juga bisa saling bertukar cerita tentang kehidupan membesarkan anak di Jepang. Bahkan teman Jepang juga bisa melihat sudut pandang yang baru bagaimana orang asing menjalani hidup di Jepang.

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”

Kembang Api Musim Panas di Jepang

Pada tulisan sebelumnya, saya memaparkan secara singkat mengenai Dilema musim panas di Jepang. Suhu udara yang tinggi ditambah dengan kelembapan udara yang cukup tinggi menghasilkan kombinasi yang membuat saya tidak kuat berlama-lama beraktifitas di luar ruangan.

Disisi lain, festival kembang api (Hanabi 花火) adalah acara tahunan yang diadakan hampir setiap akhir pekan pada bulan Agustus di seluruh Jepang.

Tempat paling terkenal untuk festival ini berada di daerah Asakusa tepat di dekat Sungai Sumida (Sumida River Firework Festival). Infonya sih salah satu festival kembang api terbesar di Jepang dengan total sekitar 20.000 kembang api yang bisa dinikmati mulai dari pukul 19:00 hingga 20:00an malam.

Sayang sekali, untuk tahun 2020 sepertinya tidak ada festival kembang api akibat COVID-19.

Kembang Api di Sumida River

Tahun 2016, saya dan tiga orang teman mempunyai kesempatan menikmati pertunjukan kembang api di Sumida River. Untuk menghindari keramaian orang, kami pun janjian untuk bertemu di salah satu pintu keluar Stasiun Asakusa jam 4:30 sore. Meskipun acara baru mulai di malam hari, akan tetapi sudah terlihat keramaian di dalam maupun di luar stasiun. Sudah banyak rombongan orang yang hendak menikmati pertunjukan tersebut. 

Kami pun berusaha mencari-cari lokasi untuk bisa duduk dan menikmati pertunjukkan kembang api. Akan tetapi, sudah banyak orang yang menggelar alas duduk di sepanjang pinggiran sungai sejak siang atau mungkin dari pagi hari. 

Meskipun demikian, kami tetap berusaha berjalan menelusuri pinggiran sungai sambil berharap setidaknya ada tempat yang bisa menampung kami berempat untuk duduk dan menikmati kembang api. Sepertinya, kesempatan menikmati pertunjukan dari pinggiran sungai sudah tidak memungkinkan lagi sehinga kami pun mundur menuju ke jalan raya yang ditutup sementara untuk kendaraan bermotor dan berusaha menikmati dari situ bersama dengan ribuan orang lainnya.

Di beberapa trotoar jalan terlihat banyak pedagang makanan dan minuman yang berjualan. Selain itu, beberapa hotel di sepanjang jalan tersebut menawarkan rooftop mereka dipakai untuk menikmati festival kembang api. Tentunya tawaran ini tidak gratis.

Kami memilih untuk tetap berjalan di sepanjang jalan tersebut sambil berusaha menemukan tempat yang sekiranya bisa untuk menikmati kembang api tersebut. Akan tetapi, sepertinya hal tersebut cukup sulit sehingga kami memutuskan untuk berdiri di depan salah satu hotel dan menikmati pertunjukan kembang api yang telah dimulai sejak 30 menit yang lalu. 

Ternyata cukup sulit untuk bisa menikmatinya karena pemandangan yang terhalang oleh gedung bertingkat di depan kami. Meskipun demikian, kami berusaha untuk menikmati pertunjukan tersebut.

Sekitar pukul 20:00, pertunjukan telah usai dan kami harus kembali ke Stasiun Asakusa. Ternyata posisi kami menonton kembang api tersebut berjarak cukup jauh dari stasiun. Butuh waktu sekitar 20 menit jalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Kami bersama ribuan orang lainnya berjalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Menikmati Festival kembang api di Sumida River secara umum cukup menyenangkan akan tetapi tidak bisa berharap banyak mendapatkan tempat terbaik untuk bisa menikmatinya.

Ekspektasi saya adalah bisa duduk (meskipun tidak dilokasi terbaik) untuk menyaksikan kembang api. Realita yang saya temui adalah menyaksikan kembang api selama satu jam dengan berdiri.

Mencari lokasi untuk menikmati kembang api di Sumida River (1)
Tidak dapat tempat duduk, akhirnya menonton sambil berdiri dan berjalan.

Kembang Api di Tama River

Meskipun kembang api di Sumida River adalah salah satu terbesar di Jepang. Tetapi, Tamagawa Firework Festival adalah tempat menonton kembang api favorit saya. 

Festival ini berlangsung di Tamagawa Futagobashi Park dan stasiun terdekatnya adalah Futakotamagawa Station. Biasanya berlangsung dari pukul 19:00 hingga 20:00 JST dengan jumlah kembang api sekitar 6.000.

Beberapa alasan yang membuat saya menjadikan Tamagawa Fireworks Festival menjadi tempat terfavorit hingga saat ini.

  1. Lokasinya yang strategis bagi saya. Dari kampus Tokyo Tech (Ookayama) cukup membutuhkan sekitar 12 menit dengan kereta untuk dapat mencapai Futakotamagawa Station. Demikian juga akses dari rumah ke Futakotamagawa yang bisa ditempuh sekitar 7 menit dengan kereta.
  2. Daya tampung besar. Daerah pinggiran Tama River yang cukup besar memberikan keuntungan tersendiri yang dapat menampung ribuan pengunjung tanpa harus berdesak-desakan. 
  3. Fasilitas cukup memadai. Salah satu fasilitas yang tersedia adalah toilet portable dengan jumlah yang cukup banyak. 
  4. Aneka makanan dan minuman. Terdapat stand jualan yang tertata rapi sehingga memudahkan pengunjung untuk mengaksesnya.
Duduk santai menunggu kembang api di Tamagawa River.
Lokasi strategis tepat dibelakang barisan VIP (berbayar).
Rekaman beberapa detik puncak festival kembang api di Tamagawa.

Hampir setiap tahun di musim panas, saya menikmati pertunjukan kembang api di Tamagawa. Meskipun banyak orang yang memadati, tetapi kita bisa duduk santai menatap ke langit sambil melihat kembang api dengan berbagai macam motif.

Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.

Tokai adalah sebuah desa yang terletak di Prefektur Ibaraki, Jepang. Secara ekonomi, desa Tokai ditopang oleh sektor industri nuklir (pemerintah dan swasta). Beberapa industri nuklir yang terdapat di Desa Tokai adalah: Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Japan Proton Accelerator Research Complex (J-PARC), Nuclear Fuel Industries, The Japan Atomic Power Company Tokai No.2 Power Station (PLTN), … Continue reading “Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah … Continue reading “Perlu gak ya Dana Pensiun?”

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara.

Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain sesuai dengan kebudayaan pada periode Edo. Banyak atraksi yang ditampilkan mulai dari atraksi rumah ninja, labirin, bermain panah, berpakaian layaknya di mana Edo dan masih banyak atraksi dan permainan yang bisa dinikmati sepanjang hari.

Berikut ini adalah pengalaman saya, istri dan teman-teman lainnya pergi berpetualang ke zaman Edo pada liburan Golden Week. Tentu saja bukan di tahun 2020.

IMG_0741
Liburan Golden Week bersama mereka.

 

Akses

Dari Tokyo menuju Edo Wonderland di daerah Nikko, Tochigi membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan kereta.

Kami berangkat dari Tobu Asakusa Station dan turun di Kinugawa-Onsen Station. Selanjutnya, menggunakan bus dari kurang lebih 15 menit menuju Edo Wonderland. Selain bus bisa juga menggunakan taksi, terutama kalau jadwal bus sudah kelewatan. Rute yang sama juga yang nantinya digunakan sewaktu kembali ke Tokyo.

Saat itu, kami menggunakan taksi dari Edo Wonderland ke Kinugawa-Onsen Station karena hendak mengejar jadwal kereta dari Kinugawa-Onsen menuju Tobu Asakusa.

Alamat : 〒321-2524 Tochigi Prefecture, Nikko City, Karakura 470-2

Two Days Pass

Saat itu, kami menggunakan two days pass karena lebih menguntungkan dimana biaya tersebut sudah termasuk tiket kereta pulang pergi dan tiket masuk ke Edo Wonderland serta Tobu World Square (akan dibahas dilain tulisan).

Alasan utama kenapa memilih yang two days pass karena daerah Nikko terkenal cukup banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi dan satu hari saja tidak cukup. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak ingin menginap dan hanya ingin mengunjungi satu tempat saja tetap bisa menggunakan one day pass atau bisa menggunakan jalur reguler dimana tiket kereta dan tiket masuk Edo Wonderland dibeli terpisah.

Saat itu kami membeli tiket two days pass nya di counter ticket yang ada di Tobu Asakusa Stasiun pada hari H-1. Sebenarnya bisa juga membeli pada hari H tapi harus menunggu counter buka terlebih dahulu. Selain itu bisa juga membeli tiketnya secara online.

Silahkan klik link berikut untuk informasi lebih lengkap. Mungkin ada perubahan harga dari tahun sebelumnya, sehingga saya tidak mencantumkan harga.

https://tobutoptours.com/en/nikko-city-area-and-themeparkpass.html

One day trip

Liburan di saat liburan panjang ‘Golden Week‘ merupakan pengalaman yang luar biasa menyenangkan. Salah satunya adalah penumpang kereta yang luar biasa banyak menuju tempat-tempat wisata.

Demi menghindari antrian khususnya di tempat wisata, kami pun berencana berangkat sekitar jam 7 pagi dari Tobu Asakusa Station sehingga bisa tiba di Edo Wonderland sekitar jam 9:30an.

Hal yang perlu dipersiapkan selama perjalanan di kereta adalah minuman dan makanan. Di Jepang, hampir semua convenience store (konbini) menjual bento yang bisa dinikmati secara praktis.

Pastikan tetap menjaga kebersihan kereta setelah makan dengan menyimpan kembali sampah makanan anda. Kami membawa sampah makanan tersebut hingga tiba di stasiun tujuan, Kinugawa-Onsen Station.

Sepanjang perjalanan, tidak banyak aktifitas yang kami lakukan selain ngobrol dan tidur. Tentu saja rasa kantuk ini disebabkan karena bangun yang terlalu cepat di pagi hari. Hehehe.

Kinugawa-Onsen Station

Udara pegunungan yang sejuk dan cuaca yang cerah di bulan Mei menyambut kedatangan kami di Nikko. Terdapat banyak toko souvenir yang menyajikan oleh-oleh khas daerah ini. Sambil menunggu bus, kami pun menikmati berkeliling di seputaran stasiun. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu kedatangan bus di pagi hari.

Saya lupa apakah tiket pass kami sudah termasuk ongkos bus menuju Edo Wonderland.

Edo Wonderland

Nuansa Jepang ala Jaman Edo sudah langsung terasa begitu kami sampai di pintu masuk Edo Wonderland. Tentunya kami ke loket tiket dulu untuk menukarkan tiket pass.

Di seberang loket penjualan tiket terdapat coin locker yang berfungsi untuk menyimpan barang bawaan yang tidak perlu dibawa masuk ke dalam. Kami memanfaatkan loker tersebut untuk menyimpan semua tas yang kami bawa agar meringankan beban selama mengikuti permainan didalam.

IMG_0750
Menikmati taman-taman yang ada di dalam Edo Wonderland.

Berpakaian ala zaman Edo

Hal pertama yang dijumpai di sekitar pintu masuk adalah bangunan yang menyediakan penyewaan pakaian ala zaman Edo. Banyak pilihan pakaian yang disediakan mulai dari pakaian ninja, samurai, princess, lord, polisi dll.

Tentu saja kita dibantu oleh staf dalam mengenakan pakaian tersebut. Selain itu ada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk menyewa pakaian tersebut.

Brosur dan Jadwal Pertunjukan

Hal penting lainnya yang akan kita peroleh dari staf di bagian penjualan tiket adalah brosur dan jadwal pertunjukan.

Brosur Edo Wonderland ini akan memberikan petunjuk semua jenis pertunjukan yang ada di dalam area tersebut. Selain itu, jadwal pertunjukan memudahkan kita untuk mengetahui jam dimulainya sebuah pertunjukan hingga berapa lama durasi yang dibutuhkan untuk menonton pertunjukan tersebut.

Karena banyak permainan dan pertunjukan yang bisa dinikmati, saya berusaha merangkum beberapa pertunjukan yang kami nikmati sepanjang hari kedalam dua bagian yaitu: pertunjukan indoor yang mempunyai jadwal pertunjukan dan pertunjukan indoor maupun outdoor yang bisa dinikmati kapan saja.

Pertunjukan indoor berjadwal

Ninja Karasu Goten

Karena Edo Wonderland terkenal dengan desa ninjanya, maka tidak salah jika kami memprioritaskan untuk menikmati pertunjukan ninja terlebih dahulu. Disini kita akan masuk ke dalam sebuah rumah jepang dan menikmati pertunjukan bagaimana para ninja beraksi dengan menggunakan kemampuan bertarung, menghilang, bersembunyi, hingga muncul lagi dari tempat yang tidak kita terduga.

Suasana ruangan ini akan dibuat gelap dan tentu saja tidak boleh merekam atau mengambil foto saat pertunjukan dimulai.

Posisi duduk akan sangat menentukan ketegangan sewaktu menonton pertunjukan ini karena bisa saja ninjanya muncul disebelah kita.

Cukup ya spoilernya. Silahkan berkunjung kalau mau melihat keseruannya secara langsung.

 

Pertunjukan ninja lagi (lupa namanya..hehehe)

Ada juga bangunan lain yang menyajikan pertunjukan ninja lainnya. Kali ini pertunjukannya di ruangan yang besar dan tema yang dimainkan pun cukup beragam. Kalau di poin 1 menunjukan kehebatan pertarungan ninja di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan jebakan dan tempat persembunyian. Kali ini temanya lebih kepada pertarungan ninja di alam terbuka.

Kedua pertunjukan ini masih menjadi favorit penulis. Kalau kesana lagi pasti wajib menonton atraksi ini lagi.

Mizugei-za (Permainan air)

Di tempat lainnya, ada juga atraksi permainan air yang sangat luar biasa dimainkan. Permainan air yang disertai oleh kemampuan para aktor dan artis panggung ini membuat seolah-olah air ini bisa dikontrol oleh mereka. Ditambah lagi adanya permainan lampu membuat pertunjukan ini menjadi sangat luar biasa.

IMG_0788
Salah satu atraksi yang bisa dinikmati di Edo Wonderland.

Pertunjukan Drama

Salah satu pertunjukan lainnya adalah drama panggung yang menyajikan cerita tentang kehidupan pada masa Edo. Cukup menarik untuk menonton drama tersebut karena diselingi dengan humor-humor lucu. Walaupun semua aksinya disajikan dalam Bahasa Jepang, tapi bagi mereka yang tidak mengerti Bahasa Jepang masih bisa menikmati juga.

Parade Jalanan.

Parade di jalanan dimana para aktor dan artis menggunakan pakaian zaman Edo merupakan salah satu hal menarik lainnya. Tentu saja bagi para photographer ini menjadi daya tarik tersendiri untuk bisa mengabadikannya.

 

Pertunjukan indoor dan outdoor tidak berjadwal

Karakuri Ninja Maze

Ini adalah permainan mencari jalan keluar. Kita akan masuk ke dalam labirin dan berusaha mencari jalan keluarnya. Labirin ini penuh trik, jadi perhatikan dengan seksama ketika anda berjalan. Bisa jadi jalan keluar ada disebelah anda.

Kai kai Ninja House

Ini adalah sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat ninja berlatih. Secara kasat mata tidak ada yang aneh dari rumah tersebut begitu juga didalamnya. Tapi, ketika kami masuk kedalam, ternyata sungguh luar biasa menakjubkan. Apa yang terlihat datar belum tentu datar, bisa jadi tanjakan atau bahkan turunan.

IMG_0777
Permainan di Kai kai Ninja House. Asli pusing dan mual keluar dari rumah ini.

 

Jigoku Temple

Kalau anda berpikir ini adalah sebuah kuil biasa maka itu salah besar karena sebenarnya ini adalah semacam rumah hantu. Silahkan bagi yang mau mencoba merasakan sensani hantu-hantu Jepang. Tenang aja, didalam tidak dijumpai hantu Indonesia. Jadi, kalau ada yang melihat hantu Indonesia itu artinya anda melihat penampakan beneran. Hehehe

Ninja Experience

Di Edo Wonderland ditawarkan juga permainan yang menggunakan senjata-senjata ninja salah satunya bagaimana teknik melempar Shuriken, itu loh senjata ninja yang berbentuk seperti bintang.

Masih banyak lagi pertunjukan baik itu indoor maupun outdoor yang bisa dinikmati. Yang disebutkan diatas adalah sebagian dari tempat-tempat favorit yang saya kunjungi.

Makan Siang

Karena kita sedang berada di dalam kawasan semacam theme park maka akan sulit rasanya mencari makan siang diluar area Edo Wonderland. Terdapat beberapa macam jenis makanan yang disediakan mulai dari cemilan ringan hingga makanan berat. Berikut beberapa jenis makanan yang tersedia: Ramen, Udon, Yakiniku, Nasi kare, ayam goreng ‘karaage’, Sate ‘yakitori’, dll.

Harga makanan yang ditawarkan juga bervariatif tetapi masih masuk akal. Menurut saya, salah satu kelebihan Jepang dibidang pariwisata adalah menjaga harga makanan di daerah wisata dengan cukup rasional sehingga tidak membuat pengunjung berpikiran kalau makan di tempat wisata itu harganya mahal.

Pulang

Tidak terasa sudah hampir pukul 5 sore dimana jam operasional Edo Wonderland akan segera berakhir di hari tersebut. Karena ini adalah two days trip, kami pun menginap di hotel yang berada di sekitar Kinugawa-Onsen Station. Yang menarik adalah tidak banyak toko atau restoran yang buka dimalam hari. Kami pun membeli makan malam di convenience store yang ada di dekat stasiun.

Saatnya beristirahat sebelum melanjutkan petualangan ke tempat lainnya di keesokan harinya.

Pengalaman Ngekost di Pulau Buatan ‘Odaiba’ Jepang.

Abstrak

Salah satu asrama mahasiswa yang tersedia bagi mahasiswa asing khususnya kampus Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech) adalah Tokyo International Exchange Center (TIEC) yang terletak di Odaiba, Tokyo. Tinggal di Odaiba yang merupakan salah satu pulau buatan di Tokyo dan terkenal sebagai salah satu tempat wisata tentunya mempunyai daya tarik tersendiri. Tulisan ini akan membagikan kisah pengalaman selama tinggal di Odaiba dari segi kelebihan maupun kekurangannya.

Kata kunci: Asrama TIEC, Odaiba, Berbagi pengalaman.

Pendahuluan

Salah satu kebutuhan bagi mahasiswa asing yang belajar di Jepang adalah tempat tinggal. Ada banyak universitas yang menyediakan tempat tinggal bagi para mahasiswa baik itu mahasiswa Jepang maupun mahasiswa asing. Khususnya untuk mahasiswa asing di Tokyo Tech, pihak universitas menyediakan beberapa lokasi asrama yang bisa ditempati bagi mahasiswa baru khususnya mahasiswa asing. Akan tetapi, beberapa asrama pada umumnya hanya bisa ditempati selama satu tahun saja. Hal ini tentunya membuat mahasiswa harus mencari tempat tinggal yang baru di tahun berikutnya.

Selain asrama, tentu mahasiswa bisa mencari kost-kostan (atau biasa disebut apato dalam Bahasa Jepang) yang banyak tersedia di sekitar kampus. Akan tetapi, biaya awal yang dikeluarkan untuk menyewa sebuah kamar kost tergolong cukup tinggi. Sebagai gambaran, uang awal yang dibutuhkan untuk menempati kos-kosan di Jepang adalah sekitar 3-5 kali dari harga sewa bulanan.


Salah satu cerita yang membahas tentang biaya tinggal di Tokyo: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga


Nah, dilema ini tentunya akan membuat sebagian mahasiswa berpikir apakah ada pilihan untuk tinggal di asrama dengan jangka waktu lebih dari satu tahun? Bagaimana dengan yang berkeluarga, adakah asrama buat mahasiswa yang membawa serta keluarganya? Jawabannya, ADA. Tokyo International Exchange Center (TIEC) adalah salah satu asrama yang menyediakan tempat tinggal baik untuk mahasiswa single maupun yang berkeluarga.

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman secara lengkap selama tinggal di TIEC. Dengan pengalaman ini, tentunya bisa memberikan gambaran sebelum memutuskan apakah tinggal di TIEC atau memilih untuk ngekost.

Tokyo International Exchange Center (TIEC)

TIEC adalah asrama mahasiswa ini dikelola oleh Japan Student Service Organization (JASSO). Mahasiswa asing yang kuliah di Tokyo Tech adalah satu dari beberapa universitas yang bisa mendaftarkan diri untuk bisa tinggal di TIEC. Asrama ini berlokasi di Odaiba, salah satu pulau buatan di Tokyo, yang dapat diakses menggunakan monorel “Yurikamome” line ataupun subway “Rinkai” line.

TIEC menyediakan empat buah gedung yaitu Gedung A, B, C, dan D. Masing-masing gedung mempunyai karakteristik tersendiri.

Gedung A dan B, dikhususkan bagi mahasiswa asing yang berstatus single. Sedangkan Gedung C dan D khusus bagi mereka yang sudah berkeluarga.

IMG_9511
Terlihat Gunung Fuji dari beranda kamar.

Fasilitas yang ditawarkan TIEC

Setiap gedung mempunyai fasilitas yang berbeda beda dan tentunya semakin lengkap akan berpengaruh terhadap harga sewa per bulannya. Selain itu, ada juga fasilitas umum yang bisa dinikmati oleh setiap penghuni asrama TIEC.

Berikut ini beberapa fasilitas umum yang ditawarkan kepada semua penghuni:

  • Gymnasium dan Training Room. Di gymnasium terdapat lapangan basket, badminton, futsal, hingga tennis meja. Semua fasilitas tersebut bisa digunakan secara gratis tetapi harus mendaftar ke bagian administrasi sebelum menggunakannya. Sedangkan untuk Traning Room sendiri sudah dilengkapi berbagai macam alat kebugaran seperti yang terdapat di fitness center pada umumnya. Untuk training room, bisa digunakan secara langsung tanpa melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Kedua fasilitas ini terdapat di gedung ‘Plaza Heisei’ yang mana dilengkapi pula oleh shower room. Sehingga sehabis berolahraga bisa langsung bersih-bersih di kamar mandi.
  • Ruang Rapat dan SeminarSalah satu aktifitas yang diselenggarakan oleh pihak pengurus TIEC adalah seminar yang dibawakan oleh penghuni TIEC. Karena penghuni asrama berasal dari latar belakang jurusan dan ilmu yang berbeda beda, maka mengikuti seminar santai mengenai penelitian yang dikerjakan oleh salah satu penghuni asrama menjadi salah satu pilihan mengisi waktu kosong di hari Sabtu.
  • Minimarket (konbini). Salah satu hal yang menyenangkan di TIEC adalah tersedianya konbini yang berada di lingkungan TIEC dan beroperasi 24 jam setiap hari. Hal ini memudahkan apabila tengah malam terasa lapar dan tidak ada makanan di dalam kamar. Konbini ini terletak di dekat Gedung B.
  • Studio musik. Bagi mereka yang suka bermain musik seperti piano atau mau ngeband, terdapat studio musik yang dibisa digunakan secara gratis. Studio ini terdapat di lantai dasar Gedung B.
  • Parkir Sepeda hingga Mobil. TIEC juga menyediakan fasilitas parkir untuk sepeda secara gratis sedangkan untuk mobil atau sepeda motor dikenakan biaya bulanan. Tapi tenang saja, biaya parkirnya jauh lebih murah dibandingkan tempat parkir pada umumnya yang ada di Tokyo.

Selanjutnya, mari kita bedah tipe kamar dan fasilitas yang terdapat didalamnya untuk setiap gedung.

  • Gedung A. Tipe kamar yang ada di Gedung A adalah tipe studio dengan luas sekitar 20 m2 dengan tipe ruangan western style (bukan menggunakan lantai tatami). Fasilitas yang tersedia di dalam kamar: kamar mandi, toilet, microwave, AC, tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi belajar beserta rak buku yang besar, dan telepon. Tidak semua kamar mandi dalam di Gedung A mempunyai bathtub. Fasilitas umum yang tersedia di setiap lantai: dapur, ruang diskusi dilengkapi dengan TV, coin laundry, vacuum cleaner.
  • Gedung B. Tipe kamar yang ada di Gedung B adalah tipe studio dengan luas 30 m2. Fasilitas yang tersedia di dalam kamar hampir sama dengan yang ada di Gedung A, bedanya mesin cuci dan dapur terdapat disetiap kamar. Tidak semua kamar mandi di Gedung B mempunyai bathtub. Dapur yang ada di dalam kamar menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung C. Gedung C menawarkan ruangan dengan luas 80 m2 atau 2LDK (2 kamar, 1 living room, 1 dining room, dan 1 kitchen). Fasilitas yang terdapat di dalam ruangan adalah: kamar mandi dalam, toilet, rak buku, kulkas, AC, telepon, mesin cuci, ruang belajar, dll. Tidak semua kamar mandi di Gedung C mempunyai bathtub. Dapur yang digunakan menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung D. Tipe kamar yang ada di Gedung D mempunyai luas 100 m2 atau 3LDK. Fasilitas yang ada di dalam kamar hampir sama dengan apa yang tersedia di Gedung C.

Harga Sewa

Setelah kita mengetahui semua fasilitas yang diperoleh, mari kita lanjutkan dengan hak yang terpenting, yaitu harga sewa setiap bulannya. Harga sewa kamar untuk Gedung A, B, C dan D tentunya berbeda-beda.

Biaya yang perlu dibayarkan diawal adalah deposit sebesar satu bulan sewa dan uang sewa bulan itu. Artinya hanya butuh menyiapkan dana sebesar dua kali biaya sewa.

Tabel 1. Daftar harga sewa tiap bulan sesuai tipe gedung.

Tipe GedungHarga Sewa per bulan
A¥ 35.000
B¥ 52.000
C¥ 74.500
D¥ 86.500

Harga sewa ini belum termasuk dengan biaya ulititas dan telepon.

Proses pendaftaran.

Mengingat bahwa asrama TIEC diperuntukan bagi beberapa institute, maka proses pendaftaran dilakukan di universitas masing-masing. Untuk Tokyo Tech, aplikasi pendaftaran dapat dilakukan di bagian Student Support Division.  Hanya mereka yang telah lolos seleksi yang bisa masuk menjadi bagian dari TIEC.

Pengalaman tinggal di Gedung A.

Saat itu, saya melamar untuk bisa menempati Gedung A di TIEC. Hal yang pertama dilakukan setelah lolos seleksi adalah mendatangi bagian administrasi TIEC yang berada di Plaza Heisei untuk proses administrasi dan serah terima kunci. Selanjutnya melakukan pengecekan ke kamar didampingi oleh staff TIEC.

IMG_9534
Rute jalan setiap hari dari TIEC menuju Stasiun Tokyo Teleport.

Berikut ini akan saya jabarkan poin-poin penting selama tinggal di TIEC:

  • Biaya utilitas tinggi. Salah satu biaya bulanan yang wajib dikeluarkan selain uang sewa adalah listrik dan telepon. Sistem pembayarannya listrik dan telepon adalah pra bayar. Kita harus mendepositkan sejumlah uang sebelum menggunakan utilitas tersebut. Terdapat potongan ¥110 setiap hari untuk uang listrik meskipun tidak ada pemakaian. Begitu juga dengan tagihan telepon yang dipotong ¥10 per hari. Jadi semisalnya anda pulang kampung selama sebulan maka otomatis uang listrik yang sudah didepositokan akan berkurang sebesar ¥3.300. Saya pernah pergi selama seminggu dan lupa mengecek saldo listrik yang tersisa. Hasilnya sewaktu pulang, listrik di kamar tidak bisa menyala karena saldonya sudah minus. Saya harus melakukan pengisian saldo listrik terlebih dahulu. Total biaya utilitas yang saya habiskan setiap bulannya sekitar ¥ 9.000 – ¥ 10.000. Tidak ada biaya gas karena masak dilakukan di dapur umum. Tips: Belajar di ruang belajar bisa membantu meringankan biaya listrik terutama disaat musim panas dan dingin. Biaya listrik ini tentunya akan lebih mahal untuk Gedung B, C, dan D mengingat adanya mesin cuci hingga dapur di dalam kamar. Info dari beberapa teman, untuk Gedung B kisaran ¥ 15.000 dan untuk Gedung C dan D sekitar ¥ 30.000 (tergantung jumlah anggota keluarga).
  • Biaya commuter ke kampus mahal. Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih lokasi tinggal adalah jarak dan biaya kereta yang dikeluarkan menuju ke kampus (dalam hal ini Tokyo Tech). Saat itu, biaya kereta yang saya keluarkan setiap bulan adalah sekitar ¥ 7.500 dari Stasiun Tokyo Teleport hingga Stasiun Ookayama. Rute yang ditempuh setiap hari: Tokyo Teleport – Oimachi menggunakan Rinkai Line selanjutnya dari Oimachi – Ookayama menggunakan Oimachi Line.
  • Waktu tempuh dari TIEC ke Stasiun Tokyo Teleport masih normal. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki dari TIEC ke Tokyo Teleport sekitar 15 menit. Selain itu, tersedia juga bus umum (berbayar) dan shelter bus (gratis). Akan tetapi, jadwal bus baik itu yang berbayar maupun yang gratis cukup terbatas. Khusus untuk shelter bus, anda bisa turun di pemberhentian terakhir (Museum Miraikan). Hal ini dikarenakan lokasi museum tepat berada diseberang asrama TIEC. Akan tetapi, waktu tempuhnya kurang lebih 15-20 menit juga karena anda akan diajak berkeliling Odaiba terlebih dahulu.
  • Tips menghadapi cuaca ekstrem. Kadang ada saatnya hujan lebat turun atau panas terik di musim panas yang cukup membuat galau untuk berjalan kaki menuju stasiun. Belum lagi, jadwal bus yang sudah ketinggalan. Paling gampang ya tinggal telepon taksi tapi sebagai mahasiswa terkadang pilihan itu semacam berat untuk dilakukan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah berjalan kaki kurang lebih 5 menit dari TIEC menuju mall terdekat (Diver City). Selanjutnya, saya melanjutkan jalan kaki menuju stasiun dari dalam mall karena pintu keluar mall ini langsung di depan stasiun Tokyo Teleport. Ide ini cukup sederhana tapi tidak banyak yang melakukannya.
  • Belanja di Oimachi Stasiun. Karena Odaiba terkenal sebagai daerah wisata, maka tidak banyak ditemui supermarket murah untuk kebutuhan sehari-hari terutama bagi mereka yang masak setiap harinya. Ditambah lagi suasana malam hari yang cukup sepi mengingat banyak pusat perbelanjaan yang sudah tutup di atas jam 10 malam. Untuk kebutuhan dapur sehari-hari, saya menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket (Ito Yokado) yang berada tepat didepan stasiun Oimachi.
  • Olahraga malam. Kegiatan penelitian di lab sering kali membuat saya harus pulang larut malam bahkan mendekati tengah malam. Permasalahannya adalah jadwal kereta terakhir untuk Rinkai Line jauh lebih cepat dibandingkan dengan Oimachi Line. Ditambah lagi dari Oimachi Line menuju Rinkai Line dibutuhkan waktu cukup lama (jalan kaki) karena Rinkai Line dari Oimachi menuju Tokyo Teleport menggunakan jalur bawah tanah. Kalau tidak salah harus turun sekitar 5 lantai. Tidak jarang saya harus berlari di menurunin setiap anak tangga demi mengejar kereta. Terdapat satu atau dua buah lift, tapi terkadang lama menunggu antrian atau banyak pengguna yang terkadang turun di lantai yang berbeda beda.
  • Memanfaatkan semua fasiitas. Salah satu yang membuat saya tertarik tinggal di TIEC adalah adanya Training Room. Tentu saja saya memanfaatkan fasilitas tersebut di malam hari selepas pulang penelitian. Training room ini cukup ramai di malam hari terutama di hari kerja. Selain itu, di TIEC banyak terdapat grup sesuai hobi masing-masing penghuni. Saya ikut bergabung dengan grup badminton. Selain bisa bermain badminton, bisa juga untuk menambah teman.

Kesimpulan dan Saran

Mempunyai kesempatan tinggal di pulau buatan ‘Odaiba’ saja sudah menjadi pengalaman tersendiri mengingat Odaiba adalah tempat yang sering saya kunjungi untuk sekedar melepas penat dari dunia penelitian.

Selain itu, tentunya harga sewa yang relatif murah untuk Gedung A dengan total biaya pengeluaran mulai dari tempat tinggal, utilitas dan commuter yang masih dalam jangkauan menjadi faktor penting dalam memutuskan untuk tinggal disini. Mengingat saat itu semua kebutuhan hidup selama di Jepang ditanggung oleh beasiswa MEXT.

Akan tetapi, bagi mereka yang berkeluarga dan ditopang oleh beasiswa MEXT mungkin akan cukup berat mengingat biaya sewa hampir setengah dari total beasiswa yang diterima. Hal inilah yang memutuskan saya untuk tidak melanjutkan tinggal di TIEC pada saat istri hendak ikut tinggal di Jepang.

Demikian sedikit berbagi pengalaman selama tinggal di asrama TIEC.

Referensi

https://www.jasso.go.jp/en/kyoten/tiec/residence/index.html

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)

Sebelumnya di: Part 2

DINI HARI

Tidak terasa hari sudah berganti ketika kami tiba di ketinggian 3250 meter. Berdasarkan informasi, ketinggian Gunung Fuji sekitar 3700 meter. Wahhh, tinggal 500 meter lagi menuju puncak.

Disisi lain, badan yang sudah lelah dan rasa kantuk yang melanda menjadi tantangan tersendiri bagi kami.  Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan pendakian menuju pos selanjutnya. Mulai dari sini, butuh tenaga ekstra karena medan pendakian yang semakin berat dan suhu yang semakin dingin.

“Sayang, aku kedinginan dan ngantuk. Di pos berikutnya istirahat agak lama lah. Begitu lah ujar Laura”.

02:30 JST

Jam segini sangatlah krusial karena rasa ngantuk yang semakin mendominasi. Tapi kami berhasil sampai di pos peristirahatan. Disini terdapat warung minum dan penginapan.

“Hanya orang yang beli minum atau makan yang boleh masuk ke dalam warung dan dibatasi selama 15 menit.”

Saya dan Laura pun masuk ke dalam untuk sekedar meminum sup jagung hangat dan menghangatkan badan selama 15 menit di dalam. Sedangkan Udin dan Rama memilih untuk tetap beristirahat diluar warung.

“Puji Tuhan cuaca yang cerah dan bersahabat menemani pendakian kami. Pendakian Rama di tahun sebelumnya, terjadi hujan yang cukup deras ketika berada di sekitar ketinggian ini karena sulit memprediksi cuaca di sekitar puncak Gunung Fuji.”

Waktu 15 menit ini saya manfaatkan dengan baik untuk sekedar memejamkan mata.

Antara Puncak dan Sunrise

“Ternyata 500 meter itu jauh cuy kalau mendaki gunung”

Sudah lebih dari 1 jam sejak terakhir beristirahat, tapi puncak Fuji pun belum tampak. Selain itu jalur pendakian semakin ramai dipadati oleh orang-orang yang hendak melihat sunrise dari puncak Fuji.

“Beberapa kali kami harus berhenti karena terjadi kemacetan.”

04:00 JST

Menurut pengalaman Rama, matahari akan terbit sekitar pukul 4:15 – 4:30. Dengan kondisi saat ini, hampir dipastikan kami tidak bisa melihat sunrise dari puncak.

Karena memang kami tidak berambisi untuk melihat sunrise dari puncak, maka kami pun memutuskan untuk menepi mencari lereng gunung yang bisa dipakai untuk duduk sambil melihat sunrise.


Perjuangan Cinta (2)

Bagian ini adalah hal yang tidak terpikirkan oleh saya dan Laura. Duduk menunggu sunrise tanpa ada selimut, tenda, atau terpal yang bisa menghangatkan badan adalah suatu bencana bagi kami para pemula.

Syal yang melekat di leher saya pun berpindah ke Laura karena dia sudah kedinginan. Saya hanya berusaha menahan dingin sambil berharap ayolah matahari cepat muncul.


Udin pun merasakan hal yang sama. Suhu dingin tidak terlalu bermasalah, angin yang cukup kencang yang menjadi masalah.

04:20 JST: Sunrise

Perjuangan mendaki lebih dari 8 jam akhirnya terbayar dengan melihat sunrise dan gumpalan awan yang menutupi seluruh pemandangan sekitar gunung.

“Bagaikan negeri di atas awan”

IMG_7956
Menikmati sunrise dari Gunung Fuji

 

IMG_7958
Rama, paling sabar menunggu kami bertiga di barisan akhir.

IMG_7969
Udin, pantang menyerah menuju puncak walau harus sampai muntah.

IMG_7991
Laura, pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir mendaki Fuji.

Setelah menikmati sunrise, kami pun melanjutkan kami menuju pos terakhir yaitu puncak Fuji.

06:20 JST: Bencana

Kondisi badan saya yang sudah lelah ditambah lagi menunggu sunrise dengan hempasan angin menusuk kebadan membuat fisik langsung turun. Mata sudah mulai berkunang kunang membuat saya memutuskan untuk berhenti sebentar untuk makan protein bar untuk menambah tenaga.

Laura malah terlihat lebih segar pada saat ini. Gak tahu lah dari mana tiba-tiba dia bisa bersemangat 45 untuk mendaki menuju puncak.

Sedangkan Udin, memilih untuk keluar dari jalur pendakian karena ada tanda-tanda mau muntah.

Bagaimana dengan Rama? ya, Rama tentunya dalam keadaan baik dan memastikan kondisi kami apakah masih kuat untuk naik atau tidak.

“Ternyata lokasi ‘bencana’ kami sudah sangat dekat dengan gerbang Puncak Fuji”

IMG_8025
Menepi sejenak dari jalur pendakian.

06:40 JST: Gerbang (Torii Gate) Puncak

Akhirnya kami tiba di gerbang masuk Puncak Gunung Fuji. Sekitar 11 jam waktu yang kami butuhkan untuk sampai di puncak gunung tertinggi di Jepang (3776 meter).

IMG_8038
Udin dan Rama di depan Gerbang Fuji.

“Ada loh vending machine jualan minuman hangat di puncak Fuji dengan harga yang hampir 5x lipat dari biasanya.”


 

 

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 2/3)

Sebelumnya di: Part 1

MINGGU MALAM

Setelah melakukan pengecekan barang bawaan, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 19:00 JST.

Untuk mempermudah pendakian, kami membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang. Dimana di tiap kelompok ada satu orang yang sudah punya pengalaman mendakilah.

“Saya, Laura, Udin dan Rama adalah tim yang paling belakang.”

Di dalam tim ini, Rama adalah yang paling berpengalaman mendaki. Dia berbesar hati menemani kami di rombongan akhir selain itu dia juga menjadi penutup barisan yang memastikan tidak ada rombongan PPI Tokodai yang tertinggal di belakang.

“Kami bertiga (Saya, Laura, dan Udin) tidak punya target harus sampai ke puncak. Pedoman kami adalah sekuatnya saja yaa..hahaha”

19:30 JST: Perjalanan disini masih terbilang cukup mulus dan datar, belum terlihat tanjakan yang begitu memberatkan. Istri pun masih kuat membawa tas ranselnya. Selain itu kami disuguhkan dengan pemandangan kembang api yang terlihat di kejauhan. Festival kembali api (Hanabi) adalah suguhan yang menjadi favorit selama musim panas di Jepang.

20:00 JST: Setelah hampir satu jam berjalan, akhirnya kami berempat sampai di Pos 6. Teman-teman yang lain sudah tiba disini sekitar 15 menit yang lalu. Hal yang pertama saya lakukan disini adalah mengenakan jaket karena suhu udara sudah mulai dingin.

IMG_7914 copy
Annisa dan Laura sedang beristirahat di salah satu pos peristirahatan.

Perjuangan Cinta (1)

Kami (4 orang) pun hendak melanjutkan perjalanan setelah 15 menit beristirahat. Disini lah drama itu muncul.

“Sayang, udah capek kali aku. Gak kuat lagi bawa ransel, ujar Laura”.

Rama saat itu berbaik hati mau membantu membawakan tas ransel istri. Tapi yang namanya barang-barang istri, tentulah saya sebagai suami punya tanggung jawab membawanya.

“Gpp ram, biar saya aja yang bawa tasnya Laura.”

Supaya lebih memudahkan pergerakan, maka air minum (2L) dan makanan yang terasa berat dipindahkan ke tas saya. Laura hanya membawa tas ransel yang berisi minuman botol (600ml) dan cemilan ringan.

21:00 JST: Perjalanan pun sudah mulai terasa mendaki. Kami menggunakan jalur pendakian untuk pemula. Jalur ini sangat padat oleh manusia sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Senter pun setia menemani perjalanan kami dimalam hari ini.

“Jaringan 4G masih bisa dinikmati sewaktu pendakian.”

Rasa lelah dan suhu yang dingin memaksa kami untuk terus berjalan maju perlahan tapi pasti. Istirahat pun hanya sebatas mengambil napas atau minum. Kalau berdiam diri maka suhu dingin akan sangat terasa menusuk ke tubuh.

Disepanjang jalan, terkadang saya dan Udin berkata: Ya ampun, kenapa kita ikut ini perjalanan, mending tidur di apato. (dengan logat khas Makasar dan Medan). Kami hanya tertawa melihat perjuangan kami mendaki Gunung Fuji.

Dilain sisi, Laura hanya banyak diam karena sudah lelah dan sesekali minta dibawain tas ransel. (Saya akhirnya membawa 2 buah tas ransel).

Sedangkan Rama, memantau kondisi kami yang kelelahan dan sesekali melihat ke belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.

22:11 JST: Kami akhirnya sampai juga di Pos selanjutnya (sudah lupa pos ke berapa). Disini harus diakui kalau kami bertiga (Laura, Udin, dan Saya) sudah cukup lelah.

“Apa kita berhenti aja disini? Ada penginapan di pos ini. Besok pagi kita turun aja.” Begitulah tawaran saya kepada Laura dan Udin.

“Berapa sewa penginapannya? tanya Laura. 5000 yen untuk 4-5 jam (lupa) jawab saya. Yaudah lah lanjut aja sayang uangnya, ujar Laura”. 

Disini kami bertemu lagi dengan rombongan dari PPI Tokodai yang sudah sampai terlebih dahulu. Kami beristirahat sedikit lama untuk mengisi energi di dalam tubuh dengan memakan cemilan (coklat dan onigiri).

IMG_7915 copy
Udin, Irwan, Laura dan Annisa. Wajah terpaksa senyum walaupun sudah cukup lelah. Hehehe

Sebagian dari kami ada yang pergi ke toilet. Oiya, dibeberapa pos peristirahatan terdapat toilet tapi harus bayar sekitar 200 yen untuk sekali pemakaian.

Dari pos ini terlihat bahwa jalan menuju pos berikutnya lumayan curam. Kami bisa melihat barisan manusia yang mengular mulai dari tempat ini sampai ke pos berikutnya.

Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata benar, jalan yang kami lalui kali ini cukup curam. Kami harus menggunakan kedua tangan untuk merangkak naik melalui bebatuan yang besar. Mau tidak mau, istri harus menggendong kembali tas ranselnya.

IMG_7918
Sebagian rombongan PPI Tokodai yang ikut meramaikan acara mendaki Fuji 2015.

SENIN DINI HARI

01:40 JST: Setelah pendakian yang cukup panjang dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat, akhirnya kami sampai di pos selanjutnya. Siapa sangka kami sudah berada di ketinggian 3.250 meter.


 

(tunggu cerita selanjutnya di bagian 3 ya…)

 

 

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015

Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji.

Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji.

Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik gunung, dan langsung dijawab AYOOOO.  Setelah itu, teman saya, Udin, pun saya ajakin untuk ikutan.

“Kami bertiga adalah muda mudi yang hobi utamanya bukan mendaki gunung.”

Minggu Siang

Selepas ibadah Minggu, saya dan istri janjian untuk ketemuan dengan Udin di Restoran Malaysia (Shibuya) untuk makan siang.

IMG_7863
Menu makan siang di Restoran Malaysia, Shibuya

Selepas makan siang, kita berjalan menuju tempat pertemuan di sekitar Stasiun Shibuya. Ada sekitar 20 orang anak PPI Tokodai yang ikut dalam petualangan mendaki Gunung Fuji.

“Wajah-wajah ceria penuh semangat masih terpancar dari muka kami masing-masing.”

IMG_7857 copy
Wajah ceria istri disamping Patung Hachiko sebelum berangkat menuju Stasiun Kawaguchiko.

 

14:00 JST: Bus yang kami tumpangi pun melaju menuju ke Stasiun Kawaguchiko. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

“Dari rombongan ini, ada beberapa teman yang sudah beberapa kali ikut mendaki Gunung Fuji. Dari mereka jugalah saya tahu kalau butuh waktu (normal) sekitar 7-8 jam untuk mendaki ke puncak.”

16:40 JST: Bus tiba di Stasiun Kawaguchiko. Disini kami punya waktu sekitar 30 menit untuk menunggu bus lainnya yang akan menghantarkan kami ke Pos 5 Gunung Fuji (Semoga gak salah ingat). Sambil menunggu kedatangan bus, kami pun menyempatkan diri untuk makan dan membeli cemilan di konbini (convenience store).

17:00 JST: Butuh waktu sekitar 45 menit dari Stasiun Kawaguchiko menuju Pos 5 Gunung Fuji.

18:00 JST: Kami pun tiba di Pos 5 dengan selamat. Disini terdapat restoran, toko souvenir dan perlengkapan mendaki, toilet, dll. Istri pun membeli sarung tangan mengingat suhu di puncak Gunung Fuji cukup dingin. Selain itu kami juga mengambil brosur mengenai petunjuk pendakian Gunung Fuji.

“Summer di bawah, Winter di puncak. Itulah sekilas perbedaan suhu antara pos 5 dan puncak Fuji.”

IMG_7903
Pos 5 Gunung Fuji, sesaat sebelum pendakian dimulai.

Sebelum memulai pendakian, kami pun menyempatkan makan malam. Kami membawa bekal makan masing-masing mengingat kemungkinan tidak ada makanan yang halal yang dijual disekitar pos 5. Setelah makan malam, teman-teman yang beragama Islam melaksanakan sholat.


Minggu Malam

19:00 JST: Kami pun memulai pendakian ……

 

Selanjutnya di: Part 2

 

 

Tips Menikmati Keindahan Bunga Sakura

Kurang dari sebulan lagi, Jepang akan memasuki musim semi. Musim ini adalah salah satu musim terbaik di Jepang. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Pastinya sudah banyak orang tahu bahwa alasan utama mengunjungi Jepang di musim ini adalah menikmati keindahan bunga sakura.

Bunga Sakura (Cherry Blossoms)

Bagi saya, bunga sakura sangatlah unik. Kemunculannya hanya sekali dalam setahun dengan durasi kurang dari satu minggu. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang ingin sekali menikmati keindahan sakura.

Kapan mekarnya bunga sakura?

Tidak ada yang bisa memastikan secara pasti tanggal mekarnya bunga sakura. Tetapi bunga ini akan mekar dari wilayah selatan Jepang menuju wilayah utara Jepang. Hal itu dikarenakan suhu udara diwilayah selatan yang lebih hangat dibandingkan wilayah utara. Berdasarkan pengalaman dan informasi yang tersedia dari website-website travel atau sejenisnya, bunga sakura biasanya akan mulai mekar sekitar tanggal 20an Maret hingga awal April untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya. Bagi mereka yang akan liburan sekitar bulan Maret hingga awal April, ada baiknya mencari tahu tentang informasi ini. Sayangkan udah datang ke Jepang tapi tidak bisa melihat bunga sakura hanya karena selisih waktu dan tempat.

Tempat terbaik melihat sakura di Tokyo (versi penulis)

1. Tokyo Institute of Technology. Ini adalah kampus tempat saya menimba ilmu. Bukannya mau subjektif, tapi tidak diragukan lagi kalau ini adalah salah satu lokasi terbaik menikmati keindahan bunga sakura. Salah satu keunggulannya adalah tidak banyak orang tahu sehingga bisa menikmati keindahannya dengan lebih tenang.

IMG_2594
Hanami bersama rekan-rekan Obara lab di Tokyo Institute of Technology.

2. Nakameguro (Naka-meguro). Disini kalian bisa menikmati pemandangan bunga sakura di sepanjang aliran sungai meguro. Sebagai tempat paling terkenal di Jepang, maka tidak diragukan lagi akan banyaknya orang yang datang kesini. Saya pernah berkunjung kesini di tahun 2017 dan sangat banyak orang yang ingin menikmatinya. Hal ini bisa dilihat dari ramainya orang dari mulai stasiun Nakameguro hingga menuju lokasi hanami. Dikiri kanan jalan pun banyak tersedia penjual makanan ringan.

IMG_4488
Salah satu sudut penampakan bunga sakura di Naka Meguro.

3. Ueno Park. Taman ini juga salah satu tempat terbaik menyaksikan keindahan bunga sakura. Disisi lain, terlalu banyaknya orang yang datang kesini membuat saya merasa kesulitan untuk menikmatinya. Selain itu, pada saat kami kesana, banyak orang yang mabuk dan lumayan kotor akibat banyaknya sampah yang sembarangan dibuang sehingga semakin kurang bisa menikmatinya.

IMG_4436
Istri yang sedang berfose di tengah keramaian orang yang menikmati sakura di Ueno Park.

Hanami

Hanami adalah istilah dalam bahasa Jepang yang digunakan pada aktifitas menikmati keindahan bunga sakura.

Bagaimana sih aktifitas Hanami tersebut?

Kegiatan ini biasanya dilakukan secara rombongan. Dimana sesama teman atau keluarga berkunjung ke lokasi bunga sakura sambil membawa bekal untuk dimakan. Biasanya dilakukan di siang hari.

Apa yang butuh di bawa untuk aktifitas Hanami?

  • Tikar piknik. Digunakan sebagai alas duduk.
  • Makanan dan Minuman.
  • Plastik sampah.

Do and Do Not

  • Silahkan berfoto menikmati keindahan bunga sakura.
  • JANGAN memetik atau menggoyangkan batang pohon sakura agar hasil foto terlihat keren. Foto anda akan keren, tapi orang setelah anda tidak bisa menikmatinya lagi.
  • JAGA KEBERSIHAN dengan tidak meninggalkan sampah makanan setelah menikmatinya. Pada dasarnya, akan sulit menemukan tempat sampah. Itu artinya simpan sampah anda sampai anda menemukan tempat sampah. Kalau belum ketemu, maka bawa pulanglah sampahnya.
  • Pada tempat-tempat tertentu, ada kalanya terdapat tali pembatas di sekitar pohon. Itu artinya tidak perlu melewati pembatas tersebut. Apalagi berusaha untuk bermain lompa tali..Hehehe

Mungkin itu saja sekedar informasi dari saya. Semoga bisa menikmati keindahan bunga sakura.

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University.

“Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.”

Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu wisuda saja, maka “sedikit santai” lah conference ini dibandingkan dengan yang sebelumnya. Karena itu, saya berinisiatif untuk mengajak istri untuk ikut kesana. Biaya keikutsertaan istri tentunya menjadi tanggungan saya sendiri.

(Silahkan baca tulisan saya sebelumnya: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga)

Conference itu sendiri berlangsung selama 3 hari dan jadwal presentasi saya adalah di hari terakhir. Dengan kondisi demikian, saya harus tiba di Sapporo satu hari sebelumnya.

Disinilah kami memanfaatkan waktu untuk melakukan “One Day Trip” Sapporo.

Berikut kira-kira ringkasan perjalanan selama satu hari di seputaran Sapporo.

H-30

Pemesanan Hotel

Stasiun kereta terdekat menuju Hokkaido University adalah Stasiun Sapporo. Oleh karena itu, saya berusaha mencari hotel disekitar stasiun ini. Akan tetapi, karena harga yang lumayan mahal, maka kami memutuskan untuk memesan hotel di tempat lain.

“Saya selalu menggunakan booking.com untuk melakukan pemesanan hotel” 

Akhirnya kami menginap di APA Hotel Sapporo Susukino Ekimae yang terletak didekat Stasiun Hosuisusukino. Stasiun ini hanya berjarak dua stasiun dari Stasiun Sapporo. Selain itu, ternyata letak hotel ini hanya berjarak sekitar 1.1 km dari Stasiun Sapporo.

“Di Jepang, harga sewa hotel ditentukan berdasarkan jumlah orang. Misal: 1 kamar yang bisa diisi 2 orang, maka harga yang dibayarkan bukan harga 1 kamar melainkan harga untuk 2 orang.”

Biaya yang kami keluarkan untuk hotel ¥16.400/malam. (Ukuran 1 Double Room-Non Smoking)

Pemesanan Tiket Pesawat

Kami memesan tiket pesawat melalui AirDo. Harga total tiket PP yang kami keluarkan sebesar ¥ 32.000. Untuk penerbangan sendiri, kami memilih untuk berangkat menggunakan penerbangan paling pagi (sekitar jam 7) agar bisa menikmati “one day trip2” di Sapporo.

H-1

Opsi penerbangan paling pagi, berdampak pada jadwal keberangkatan dari rumah menuju Bandara Haneda. Setelah kami cek jadwal kereta atau bus menuju bandara dari Stasiun Saginuma (dekat rumah), maka kami tidak menemukan jadwal kereta yang bisa memberikan kami tumpangan agar tiba di Bandara Haneda sekitar jam 6 pagi.

“Ketika rencana awal tidak berhasil, maka harus ada opsi-opsi lain.”

Rencana-A

Opsi ini adalah menginap di bandara pada malam harinya. Entah kenapa saya masih belum sreg dengan opsi ini dan pada akhirnya opsi ini pun kami batalkan.

Rencana-B

Menginap di rumah teman yang jaraknya cukup dekat ke bandara serta ada angkutan umum pada pagi hari ke bandara.

Saya kepikiran untuk menginap di rumah kawan yang sudah sangat kami kenal dengan baik..hahaha. Teman itu tidak lain adalah kakak kelas saya sewaktu di Teknik Nuklir UGM (sebut saja namanya Petrus). Saya pernah dengar ceritanya kalau dia beberapa kali pergi ke bandara pada pagi hari. Dari sini saya ambil kesimpulan bahwa ada kereta pagi dari rumahnya menuju bandara.

Hari H

Perjalanan kali ini dimulai dari sekitar jam 3.30 pagi.

3:30 – 4:30 JST : Bangun pagi sekaligus beberes mandi, dll. Pemilik rumah masih tertidur dengan lelap.hahaha

4:45 – 5:00 JST: Jalan kaki menuju Stasiun NNNNN (maaf, saya tidak bisa menyebutkan nama stasiunnya karena alasan privasi). Dari rumah menuju statiun hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit jalan kaki. Kami berencana menaiki kereta pukul 5:04 agar tiba di bandara haneda pukul 5:50.

5:04 – 5:50 JST: Di stasiun ini sudah lumayan banyak orang yang memulai aktivitas. Untuk menuju Bandara Haneda, kami harus transit di Stasiun Yokohama.

“Stasiun Yokohama merupakan salah satu statiun tersibuk di Jepang. Tidak heran jika jam 5 pagi pun sudah banyak para pekerja kantoran (kemeja putih dan jas hitam) sudah lalu lalang di dalam stasiun mencari keretanya masing-masing.”

Sebelumnya, teman kami sudah memberitahu ancang-ancang pindah mengenai stasiun Yokohama karena kami tidak begitu familiar dengan stasiun ini. Selain itu, kami hanya punya waktu kurang dari 10 menit untuk transit.

Tepat pukul 5:50, akhirnya kami tiba di bandara Haneda.

6:00 – 6:30  JST: Check-in dan mencari sarapan di terminal domestik Haneda. Onigiri dan sebotol minuman cukuplah untuk memulai perjalanan di pagi hari yang mendung.

“Terminal domestik tidak buka 24 jam sehingga kalau anda berencana menginap di bandara maka harus pindah ke terminal internasional.” (Info dari pengalaman teman lab)

6:50 – 08:20 JST: Pesawat pun meninggalkan Bandara Narita menuju Bandara New Chitose di Sapporo, Hokkaido.

09:00 JST: Setelah keliling melihat-lihat bandaranya sejenak, kami memutuskan untuk menggunakan kereta menuju Stasiun Sapporo.

09:15 – 09:50 JST: Kami menggunakan kereta express dengan biaya sekitar ¥1.500/orang (lupa angka benerannya, tapi estimasinya segitu). Pemandangan yang ditawarkan selama perjalanan menuju Stasiun Sapporo lumayan indah. Tetapi rasa kantuk yang masih terasa, membuat saya untuk memilih tidur di sepanjang perjalanan.

10:00 JST: Kami memilih untuk langsung berkeliling di Sapporo lalu setelah itu baru check in  ke tempat kami menginap. Sudah ada daftar tempat apa saja yang hendak kami kunjungi. Kami memilih untuk menitipkan koper di coin locker. Cukup bawa barang yang dibutuhkan saja.

“Harga sewa coin locker berkisar diantara ¥300 – ¥600 tergantung dari ukuran locker yang dibutuhkan. Coin locker ini sangat banyak di temukan di area stasiun.”

Untuk urutannya saya mungkin sudah agak lupa, tapi semua tempat yang kami kunjungi dari sekitar jam 10 pagi sampai jam 5 sore masih berada di sekitaran stasiun dan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain.

10:15 – 12:00 JST: Tempat pertama yang dikunjungi adalah Odori Park. Beruntungnya kami karena pada saat itu sedang diadakan festival disana. Banyak stand makanan mulai dari khas Hokkaido sampai western food. Kami menikmati waktu dengan bersantai sambil menikmati cemilan-cemilan ringan yang disajikan disana.

Tips di tempat festival:

  • Kelilingi dahulu semua tempat jualan makanan sebelum membeli.
  • Untuk minuman, membeli minuman botol di konbini jauh lebih hemat. Biasanya minum yang ditawarkan di festival bagi saya tidak begitu menarik.

12:10 – 12:30 JST: Setelah menikmati cemilan ringan, kami melanjutkan menuju Sapporo TV TowerTower ini sebenarnya bisa dilihat langsung dari Odori Park, tapi kami penasaran saja sehingga berjalan kurang lebih 5 menit dari tempat kami duduk. Hahaha. Sesampainya disana pun, kami cuma mengganggukkan kepala (ekspresi datar dan yasudah lah yaa…). Hal ini mungkin karena kami sudah melihat Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree sehingga tidak terlalu ekspresif ketika melihat Sapporo TV Tower.

13:00 – 13:45 JST: Selanjutnya kami bergerak menuju Sapporo Clock TowerMenurut review, ini merupakan simbol dari kota Sapporo. Bangunannya pun kalau diperhatikan lebih bernuansa Eropa. Dan entah kenapa, lebih terdapat nuansa Eropa atau Amerika ya di kota ini.

“Butuh membeli tiket masuk sebesar ¥ 200 yen untuk bisa mengunjungi Sapporo Clock Tower.”

Terdapat guide yang bersedia membantu dalam mendokumentasikan foto dan tidak dipungut biaya.

Tidak lupa pula kami membeli souvenir khas dari Sapporo Clock Tower berupa pajangan kaca.

14:00 – 14:40 JST: Tidak jauh dari Sapporo Clock Tower, kami melanjutkan jalan kaki kami menuju Hokkaido Goverment OfficeBangunan nyentrik dengan bata merah diseluruh bangunannya. Kami berjalan kurang lebih 15 menit menuju tempat ini. Bangunan ini sangat menarik untuk dikunjungi. Ditambah suasana di dalam pun sangat bagus untuk menambah wawasan mengenai sejarah kota ini. Setelah atau sebelum masuk ke dalam gedung ini, taman yang ada disekitar gedung sangatlah indah di musim gugur.

14:45 – 15:20 JST: Setelah perjalanan panjang yang asik dan melelahkan, kami kembali ke Odori Park untuk mengisi perut yang sudah mulai memberontak. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke taman ini lagi. Kali ini saya mencoba memakan ramen khas hokkaido (ramen seafood). Tidak perlu berlama-lama disini karena masih ada dua atau tiga tempat lagi yang mau kami kunjungi.

Setelah mengisi kembali “bensin”, kami pun siap melanjutkan perjalanan lagi.

15:30 – 16:00 JST: Kami pun menuju kuil Hokkaido Shrine Tongu dengan berjalan kaki sejauh 10 menitEkspektasi kami lumayan tinggi saat mau menuju kesana. Akan tetapi, sesampainya disana, kami cukup puaslah melihat kuil dari luar tanpa harus berlama-lama disana. (Agak sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang ada dibayangan kami).

16:00 -17:00 JST: Kami melanjutkan lagi ke tempat terakhir dan saya lupa namanya. Semacam bekas pabrik yang sudah diubah jadi tempat belanja (Tolong kasih tahu ya kalau ada yang tahu). Bangunannya dari bata merah gitu dan ada cerobongnya. Tidak terlalu ada yang spesial yang dilihat disini tapi kami mampir ke Daiso untuk membeli tali pinggang. (Saya lupa bawa tali pinggang untuk pakaian conference besok hari..haha)

17:10 JST: Karena kami sudah lelah, maka kami memutuskan untuk naik bus dari tempat ini menuju Stasiun Sapporo.

Dari stasiun ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju hotel di Susukino Station.

20:00 – 21:30 JST: Kami pergi keluar hotel untuk mencari makan malam. Tidak disangka disekitar hotel banyak sekali tempat makan khas Hokkaido. Dan malam itu pun kami kembali memilih untuk memakan ramen seafood khas Hokkaido.

22:00 JST: Saatnya kembali untuk beristirahat. Tidak lupa sebelum tidur membuka kembali file presentasi yang akan dipresentasikan besok harinya.

Demikianlah perjalanan singkat kami yang bisa saya rangkum dalam cerita “One Day Trip” Hokkaido.

Kesimpulan

  • Ada cukup banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam satu hari di Sapporo.
  • Shiroi Koibito” adalah ole-ole khas dari Hokkaido. Silahkan mampir untuk membelinya.
  • Suhu udara di Sapporo pada pertengahan bulan September sudah cukup sejuk dibandingkan dengan Tokyo. Perlu membawa jaket hangat bagi mereka yang tidak suka dingin.
  • Pastikan anda melakukan perjalanan dengan outfit yang nyaman dipakai.

Berikut sedikit dokumentasi kami selama melakukan perjalanan di Sapporo.

IMG_4977
Sapporo Clock Tower. 

IMG_5003
Sapporo Clock Tower dilihat dari Odori Park

IMG_5007
Salah satu sudut kota saat kami berjalan dari Odori Park menuju Hokkaido Shrine Tongu.

IMG_5008
Suasana malam di dekat hotel tempat kami menginap.