Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis.

Latar Belakang

Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan selama tahun itu. Deklarasi ini dilakukan untuk memastikan besaran pajak di bayarkan setiap bulannya sudah sesuai atau tidak. Apabila jumlah pajak yang dibayarkan telah sesuai atau belum. (Itulah kira-kira pemahaman saya mengenai deklarasi di akhir tahun ini. Apabila ada yang lebih memahami sistem perpajakan di Jepang, boleh dibagikan di kolom komentar).

Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi besar kecilnya pajak penghasilan yang kita bayarkan, salah satunya adalah Asuransi Jiwa. Apabila kita ikut program asuransi jiwa maka kita memperoleh keringanan pajak.

Pada saat itu, penulis belum tahu mengenai asuransi jiwa. Selama ini, penulis berpikir bahwa ketika di awal masuk dan mendaftarkan asuransi kesehatan maka otomatis juga akan mengcover asuransi jiwa dsb. (Persepsi penulis yang salah selama ini).

Asuransi Jiwa????? Dengan penasaran, penulis bertanya ke teman lab: Asuransi kesehatan kita beda ya dengan asuransi jiwa?

Teman pun menjawab: Ya, beda.

Haahhhh???? Kemana aja sodara selama hampir dua tahun kerja. Kenapa info ini tidak pernah saya dengar. (Itulah yang muncul di benak pikiran penulis).

Dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya penulis meminta tolong kepada pak bos  untuk menjelaskan mengenai sistem asuransi di tempat bekerja.

Begini ringkasan penjelasannya:

Asuransi Kesehatan secara umum di Jepang menggunakan sistem 70-30. Artinya: 70% ditanggung oleh perusahaan dan 30% dibayar sendiri.

Tapi, ditempat saya bekerja, ada tambahan sekitar 10-20% yang akan ditanggung sehingga pegawai biasanya akan membayar sekitar 10% (kira-kira itu penjelasan beliau diawal. Disini penulis sedikit kaget dan rasa penasaran kenapa selama ini biaya berobat lumayan murah dikarenakan hal ini tohh. Pantesan aja kemarin pakai ambulance ke RS bisa gratis dan hanya bayar biaya pengobatan ¥600). Tapi, nilai 10% ini tentunya masih bersifat relatif, bisa besar atau kecil.

Selanjutnya, beliau menjelaskan lagi melalui contoh kasus agar mudah dipahami:

  • Apabila terjadi kecelakaan yang menimpa pegawai di dalam lingkungan kerja, maka masuk katagori kecelakaan kerja dan akan ditanggung 100% untuk  biaya perawatan dll.
  • Namun, apabila kecelakaan di luar lingkungan kerja, maka asuransi kesehatan tersebutlah yang bekerja dengan sistem yang telah dijabarkan diatas.

Permasalahan

Bagaimana dengan keluarga kita? Tentu apabila terjadi kecelakaan atau hal apapun semuanya berada diluar lingkungan kerja, bukan? Artinya, ada biaya sekitar 10% yang akan dibayar sendiri.

Penulis kurang tahu dengan perusahaan lainnya, jadi disini kita asumsikan secara umum saja ya. Anggaplah yang ditanggung 70%, artinya ada sisa 30% yang perlu kita bayarkan.

30 % itu mahal atau murah sih?

Bagi penulis, 30% itu mahal. Kalau terjadi kecelakaan yang menyebabkan seseorang harus dioperasi dan harus dirawat inap di rumah sakit, maka biaya sewa kamar selama di RS tidak menjadi tanggungan asuransi kesehatan. (Untuk harga inap di RS per malam bisa dicari tahu sendiri dan menurut penulis lumayan mahal sih).

Nah, disinilah peran asuransi jiwa penting menurut penulis. Ketika kita mengikuti program asuransi jiwa, maka ketika terjadi kecelakaan atau hal lain yang membuat kita sampai di rawat inap, pihak asuransi akan memberikan biaya harian selama kita berada di rumah sakit. Ditambah lagi biaya-biaya lainnya yang akan ditanggung oleh asuransi jiwa. Dengan adanya asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, maka hal ini sangatlah membantu meringankan beban biaya yang nantinya akan dikeluarkan. Bahkan di beberapa kasus ada yang malah menerima uang setelah mengklaim biaya pengobatan ke asuransi.

Selain itu apabila sampai kehilangan nyawa karena kecelakaan, maka keluarga yang ditinggalkan akan menerima bantuan (tentunya besarnya tergantung dari premi bulanan yang kita bayarkan).

Begitulah kira-kira ringkasan diskusi kami mengenai asuransi jiwa ini.

Gerak cepat

Sesampainya di rumah, penulis langung menceritakan hal tersebut ke istri. Kami pun setuju untuk mengikuti program asuransi jiwa. Ini alasan kami mengikuti asuransi jiwa:

  • Kalau terjadi kecelakaan pada kami, setidaknya kombinasi antara asuransi jiwa dan asuransi kesehatan bisa menutup atau meringankan biaya yang dikeluarkan.
  • Kalau sampai meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan tidak langsung kehilangan sumber penghasilan.

Banyak yang beranggapan ya semua orang pada akhirnya meninggal toh, buat apa asuransi. Bagi saya itu anggapan yang keliru. Betul, anda hari ini bisa merasa sehat tapi siapa yang tahu hari esok. Setelah meninggal, anda tidak akan berurusan dengan masalah keuangan lagi kan, tapi anak dan istri yang ditinggalkan masih membutuhkan loh selama hidup di dunia..hehehe”

Di hari berikutnya, penulis meminta tolong kepada salah seorang pegawai di perusahaan yang berurusan dalam hal membantu para pekerja asing. Penulis menjelaskan terlebih dahulu permasalahannya dan selanjutnya beliau bersedia membantu mencarikan informasi mengenai asuransi jiwa.

Singkat cerita, ada dua atau tiga perusahaan yang direkomendasikan. Dari semuanya itu, saya akan menceritakan satu perusahaan saja.

茨城県民生活協同組合 (Ibaraki Kenmin Seikatsu Kyoudou Kumiai)

(Silahkan cek disini untuk info lebih lanjut https://www.ibaraki-kyosai.jp/)

Perusahaan asuransi ini khusus bagi warga yang tinggal di Ibaraki. Mereka punya cabang di masing-masing prefecture dengan nama yang berbeda (mungkin tinggal ganti Ibaraki ********** dengan [nama prefecture] *******). Begitu info dari pegawai mereka sewaktu saya membuat kontrak dengan mereka.

Kenapa memilih perusahan ini?

  • Premi bulannya mulai dari ¥1.000. Cukup murah bukan? Tapi, apa yang didapatkan dengan premi 1.000 yen/bulan?
    • Kalau rawat inap akan mendapat biaya ¥ 2.500/hari.
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 132.000 – 3.300.000 (tergantung kondisi).
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan selain kecelakan lalu lintas: ¥ 80.000 – 2.000.000 (tergantung kondisi).
    • Kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 5.000.000
    • Kematian yang disebabkan selain kecelakaan lalu lintas: ¥ 4.000.000
    • Kematian yang disebakan karena sakit (Bahasa indonesianya mungkin agak kurang benar): ¥ 2.000.000
    • Ada banyak hal lainnya yang ditawarkan, silahkan dikunjungi websitenya langung (hanya Bahasa Jepang).
  • Sangat mudah bagi warga asing. Kenapa? karena tidak ada kontrak yang mengikat. Jadi apabila suatu saat kembali ke negara asal atau pindah ke negara lain, maka bisa memutuskan kontrak kapan saja tanpa denda. (biaya administrasi mungkin ada).
  • Diakhir fiscal year (sekitar bulan Maret), apabila jumlah premi yang masuk dari seluruh pelanggan lebih besar dari jumlah uang yang dikeluarkan untuk klaim asuransi (artinya banyak warga yang sehat) maka selisih uang tersebut akan dikembalikan ke pelanggan disesuaikan dengan premi bulanan. Menurut info pegawainya sebesar 20-30%. Bagi penulis hal ini cukup menarik, sehingga timbul pertanyaan kepada mereka bagaimana kalau dari April 2020 – Maret 2021 jumlah klaim asuransi lebih besar dari pemasukan? Mendengar pertanyaan saya, mereka lumayan terkejut dan mengatakan “Heeeehhhh”(eskpresi orang jepang yang kaget atau bingung). Jawabannya cukup diplomatis: sampai saat ini belum pernah terjadi hal demikan.
  • Bagaimana kalau terjadi kecelakaan atau hal lainnya di luar Jepang? Apakah biaya yang dikeluarkan selama perobatan di luar Jeapng bisa diklaim? Jawabannya: Bisa, tentunya dengan membawa bukti dari RS atau diagnosa dokter, dsb. Intinya syarat dan ketentuan berlaku.
  • Syarat pendaftaran yang sangat mudah: bawa inkan (stamp) dan buku tabungan.

Setelah mendengar penjelasan langsung dari mereka, penulis mendaftarkan seluruh anggota keluarga (istri dan anak) ke dalam program asuransi jiwa tersebut.

Mungkin ini sedikit informasi yang bisa saya bagikan terutama kepada kita yang sedang ada di Jepang. Semoga bisa bermanfaat.

Bagi mereka yang punya informasi lebih detail atau sudah ikut asuransi jiwa ini bolehlah tinggalkan komentar. Mungkin pengalamannya akan sangat berguna bagi kami yang baru mulai ikut atau bagi orang lain yang tertarik dengan program asuransi jiwa.

Maaf apabila ada salah kata dalam mengartikan atau informasi yang salah. Mohon Dikoreksi. Informasi yang penulis bagikan disini adalah berdasarkan informasi yang diterima langsung dari pegawai asuransi ketika penulis hendak bergabung dengan asuransi jiwa mereka. Terimakasih.

 

Dampak kenaikan pajak konsumsi terhadap kebijakan di convenience store “konbini”

Abstrak

Pada tanggal 1 Oktober 2019, pemerintah Jepang telah menaikkan tarif pajak konsumsi sebesar 10%. Pemberitahuan mengenai kenaikan pajak ini sudah mulai disosialisasikan sejak Oktober 2018. Kali ini, penulis lebih memfokuskan perihal kenaikan pajak konsumsi yang berlaku di konbini berdasarakan pengalaman sendiri.

Latar belakang

Sekitar 8 tahun yang lalu, tarif pajak konsumsi di Jepang sebesar 5 %. Pada bulan April 2014, pemerintah menaikkan tarif menjadi 8%. Kenaikan tarif pajak ini membuat penurunan terhadap daya beli masyarakat. Sedangkan bagi wisatawan mancanegara hal ini tidak berdampak signifikan karena pemerintah Jepang memberikan tax free terhadap wisatawan.

Sebenarnya, pemerintah Jepang telah dua kali melakukan penundaan kenaikan pajak dari 8% menjadi 10% untuk menghindari semakin melemahnya daya beli masyarakat. Akan tetapi dengan sosialisasi yang panjang dan mungkin disertai kebijakan-kebijakan yang membantu masyarakat maka pada tanggal 1 Oktober 2019 pemerintah menetapkan pajak konsumsi menjadi 10%.

Convenience Store “konbini”

Ketika tahun 2014 terjadi kenaikan pajak menjadi 8%, maka harga semua barang baik itu makanan, minuman, majalah, elektronik, pakaian, dll ikut menetapkan tarif pajak konsumen sebesar 8%.

Akan tetapi, ada hal yang menurut penulis sangat unik ketika pemerintah Jepang menetapkan tarif pajak konsumsi sebesar 10%.  Karena penulis tidak terlalu memusingkan perihal kenaikan tarif pajak, maka pada dasarnya tidak mencari informasi mengenai hal ini.

Begini pengalaman yang dialami penulis pada hari Selasa, 01 Oktober 2019.

Memulai hari seperti biasa sebelum berangkat ke Lab tanpa memusingkan kenaikan pajak. Sebelum tiba di lab, mampir dulu ke salah satu konbini, Seven Eleven, untuk membeli sarapan (roti dan milk tea). Sempat heran karena waktu melihat harganya masih tercantum harga lama yaitu ¥100 (¥108 setelah pajak) untuk harga sebungkus roti. Pada saat membayar di kasir pun, masih tetap menggunakan harga lama. Dari sini penulis mulai bertanya ada apa dengan kenaikan pajak kali ini? Tapi karena saya tidak terlalu memperharikan detail maupun bertanya kepada pegawai kasir, maka hanya saya tinggal lalu saja.

Siang hari setelah selesai makan siang, penulis dan temannya nongkrong di konbini di dalam lokasi kerja sambil menikmati sebotol yogurt. Pada saat melakukan pembayaran pun, masih dikenakan tarif pajak konsumsi 8%. Sambil sedikit heran dan berjalan menuju meja makan disebelah kasir, terdapat selembar pengumuman yang tertulis dalam bahasa Jepang seperti gambar dibawah ini.2w5uxmqqqrmclgerjhqudq_thumb_23.jpg

Kami pada awalnya masih bingung untuk menafsirkan arti dari tulisan tersebut. Secara umumnya artinya bahwa barang-barang yang pajak konsumsinya 8% seperti bento (lunch box), minuman, cemilan tidak boleh makan di meja ini.

Kami berusaha untuk memahami sambil mengecek hampir semua rak makanan di konbini, mana rak yang pajak konsumsinya 10% dan mana yang 8%. Tetapi yang kami temukan semua yang berhubungan dengan makanan, minuman dan cemilan masih di kenakan pajak 8%.  Rasa penasaran tersebut masih tetap berlanjut meskipun jam istirahat sudah berakhir dan kami kembali ke lab masing-masing.

Sesampainya dirumah pun, penulis menceritakan kejadian tersebut kepada istri. Dan istripun berkata hal yang sama sambil mencoba menerka-nerka misteri kenaikan pajak. Ternyata pada siang harinya istri pergi ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan tarif pajak konsumsi yang dikenakan masih sama yaitu 8%. Akhirnya kami menutup hari tersebut dengan penuh misteri.

Keesokan harinya, penulis kembali ke lab dan beraktivitas seperti biasanya. Pada saat jam istirahat, akhirnya penulis menemukan informasi mengenai misteri pajak 8% dan 10% yang ada di konbini.

Dan setelah membaca pengumuman yang tertulis dalam bahasa Inggris dengan penjelasan yang lebih detail, maka kami pun paham mengenai kenaikan pajak konsumsi tersebut.

Pesan moral

Kalau dilihat dari pengumuman tersebut, pembeli diberikan kuasa penuh untuk mau bertindak jujur ketika membeli makanan di konbini. Kami sendiri pada saat sudah mengetahui makna pengumuman tersebut, kami memilih tetap membayar 8% pajak konsumsi dan menikmati makanan tersebut di bangku luar konbini. Hal ini mungkin berlaku untuk bulan-bulan sekarang dimana akan memasuki musim gugur (baca juga tulisan saya mengenai Musim di Jepang). Akan tetapi, kalau musim panas, kami memilih membayar 10% pajak konsumsi supaya bisa ngadem di dalam konbini.

Sebagian dari kami percaya, sistem ini sangat mungkin di terapkan di negara Jepang. Tapi kami sendiri masih ragu apakah sistem seperti ini bisa diterapkan di negara kami masing-masing.

-Jujurlah dari hal yang paling kecil-

%d bloggers like this: