Mahalnya belajar mengemudi di Jepang.

Beda negara beda pula aturan yang berlaku. Untuk urusan mengemudi, di Jepang punya aturan yang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Pada umumnya, mereka yang hendak belajar mengemudi untuk pertama kalinya harus mendaftarkan diri ke Driving School. Setahu saya, ini adalah satu-satunya cara bagi mereka yang baru mau belajar mengemudi. Berdasarkan obrolan dengan beberapa teman Jepang, hal tersebut memang sudah biasa. Akan tetapi, bagi warga asing khususnya Indonesia, biaya yang harus dikeluarkan untuk belajar mengemudi tersebut bisa terbilang cukup mahal. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh situasi di Indonesia dimana masih “abu-abunya” antara peraturan dan praktek yang berlangsung.

Berdasarkan pengalaman saya mengikuti kursus mengemudi di Indonesia, pada dasarnya kursus ini hanya ditujukan agar siswa dapat mengemudi tanpa perlu memberikan teori mengenai keselamatan dalam mengemudi yang memadai. Hal paling mendasar adalah pengajar di tempat saya mengemudi tidak mengenakan sabuk pengaman selama mengemudi.

Walaupun sudah saya ingatin ‘Pak, sabuk pengamannya tolong dipakai’. Dan cuma dibalas dengan kalimat yang sudah sering kita dengar ‘Gak nyaman kalau dipakai’.

Hal ini cukup berbeda ketika mengikuti kursus mengemudi di Jepang. Hal pertama yang dilakukan adalah mengikuti teori-teori keselamatan dalam mengemudi, aturan lalu lintas, dll di dalam kelas. Selanjutnya harus mengikuti ujian teori terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam praktek mengemudi. Untuk praktek mengemudi sendiri, tidak langsung praktek di jalan raya, tapi praktek dilakukan didalam Driving School.

Setelah mengikuti beberapa rangkaian teori dan praktek yang diberikan oleh pihak Driving School dan dinyatakan lulus, barulah peserta mengikuti ujian pengambilan Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang dilaksanakan di ‘Unten Menkyo Center’ yang ada di dekat daerah masing-masing.

Nah, berbagai macam rangkaian kegiatan tersebut membuat biaya belajar mengemudi di Jepang menjadi relatif mahal. Pada umumnya, total biaya yang dikeluarkan untuk belajar mengemudi sekitar ¥ 300.000 – 400.000.

List biaya mengemudi yang diadakan oleh salah satu Driving School di Jepang*.

Bagaimana dengan mereka yang sudah punya SIM Indonesia? Apakah harus ikut Driving School atau adakah cara lain untuk memperoleh SIM Jepang?

Nantikan di tulisan selanjutnya ya…

*https://www.koyama.co.jp/english/english_02_01.html

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab. Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”. 08.00 JST Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe Jam kerja yang … Continue reading “Kerjaan seorang peneliti nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Kejujuran pegawai bengkel sepeda di Desa Tokai Jepang.

Ilustrasi sepeda.

Hari Senin kemarin, saya baru menyadari ada keretakan pada ban sepeda bagian depan. Oleh karenanya, pulang dari lab, saya langsung ke bengkel sepeda yang ada di dekat Stasiun Tokai. Sesampainya disana sekitar jam 7 malam, ternyata teknisi yang bisa memperbaiki sepeda sedang tidak ada di tempat. Hanya ada pegawai lainnya yang kurang paham tentang kondisi ban sepeda tersebut.

Pegawai tersebut menyarankan saya untuk setidaknya memilih jenis ban sepeda yang akan dibeli dan menjelaskan estimasi harga yang akan dikenakan untuk ban dan jasa pemasangan. Selain itu, dia menyarakan agar sepedanya ditinggal saja dan besok akan diperiksa oleh teknisi.

Mendengar hal tersebut, saya pun menyanggupi dan meminta untuk dilakukan pengecekan juga dengan ban belakangnya. Selanjutnya, pegawai tersebut menjelaskan bahwa harga 1 ban sekitar ¥1.200 dimana biaya pemasangan ban depan ¥1.000 dan pemasangan ban belakang ¥1.800. Berdasarakan penjelasannya, pemasangan ban belakang lebih rumit dibandingkan dengan ban depan sehingga harganya lebih mahal. Sehingga total biaya yang akan saya keluarkan adalah sekitar ¥5.000.

Cukup mahal juga ya untuk biaya mengganti ban sepeda mengingat bahwa dengan uang sekitar ¥12.000 sudah bisa dapat sepeda baru.

Setelah menjelaskan hal tersebut, pegawai tersebut meminta nomor yang bisa dihubungi dan teknisi akan langsung menjelaskan kondisi ban sepedanya melalui telepon.

Keesokan harinya, saya pun mendapatkan telepon dari teknisi tersebut. Setelah menjelaskan panjang lebar penjelasannya melalui telepon, sang teknisi pun menyimpulkan bahwa ban sepeda masih dalam kondisi baik. Sehingga tidak perlu mengganti ban depan dan ban belakang. Selanjutnya, saya diminta untuk mengambil sepeda tersebut dan tidak ada biaya apapun yang saya keluarkan pada saat mengambil sepeda dari bengkel.

Kejujuran

Kejadian seperti ini bukan pertama kali saya alami di Jepang, ada juga kejadian ketika memanggil jasa bongkar pasang AC. Teknisinya dengan jujur memberitahukan kondisi AC baik itu freon dan gas (untuk heater di musim dingin). Padahal kalau mereka mau bohong juga bisa, toh saya juga tidak begitu paham dengan hal-hal tersebut. Tapi mereka memilih untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen.

Nasi telah menjadi sereal

Beberapa hari ini kepikiran dengan menu sarapan yang jauh berubah ketika tinggal di Indoneisa. Sewaktu menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja, sarapan dengan menu complit (nasi+sayur+lauk) adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebelum memulai aktifitas perkuliahan. Kalau ada kuliah pagi, setidaknya sebungkus roti yang dijual di warung dekat kosan harus dimakan untuk memperoleh energi selama … Continue reading “Nasi telah menjadi sereal”

Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….

Sudah lama rasanya tidak menuliskan cerita seri tentang celotehan kecil ala suami istri. Kali ini menceritakan celotehan antara sepasang suami istri pada saat sedang bersepeda bersama Henokh. Laura (L), Irwan (I), Henokh (H) I: Ayo siap-siap…sepedaan jam 10 aja ya biar gak panas kali di jalan nanti. L: Ok… Henokh siap-siap, ambil kaus kakimu nak … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Ilustrasi dana pensiun.

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah aman dengan kondisi seperti saat ini.

Hal ini mulai mengusik kehidupan jiwa dan raga ketika berdiskusi lebih dalam berlangsung dengan istri yang kebetulan berlatar belakang ekonomi dan seorang akuntan ditambah lagi dengan informasi seputar dunia keuangan yang bisa dibaca baik melalui buku, media elektronik maupun menonton video yang banyak tersebar dibanyak platform.

Salah satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah data yang mengatakan bahwa kurang dari 10% para pensiunan mempersiapkan rencana pensiun dengan baik sehingga tidak dapat hidup dengan sejahtera.

Tentunya dengan angka ini membuat saya cukup kaget. Bagaimana bisa ketika sudah bekerja selama puluhan tahun dan adanya pesangon ketika memulai memasuki masa pensiun atau gaji pensiunan bagi PNS tetapi masih belum bisa membuat hidup sejahtera dimasa pensiun nantinya?

Apakah nantinya uang pensiunan bulanan ataupun pesangon itu bisa mencukupi kebutuhan hidup semasa pensiun? Kalau ternyata belum cukup, apa yang harus dilakukan? Perlukah dipersiapkan dari sekarang? Bagaimana cara memulainya?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang bekerja di sektor UMKM ataupun informal? Adakah cara untuk mempersiapkan dana untuk hari tua disaat memenuhi kebutuhan sehari-hari aja masih pas-pasan?

Bagi saya yang berlatar pendidikan di bidang keteknikan dan bekerja dibidang yang sama, tidak saya pungkiri hal-hal keuangan seperti ini masih sangat awam bagi saya. Akan tetapi, melihat data yang ada, tentu saja saya berusaha untuk tidak masuk ke lingkaran yang 10% ketika memasuki masa pensiun.

Sebagai orang awam, ternyata banyak cara yang sudah tersedia untuk memfasilitasi kita nantinya pada saat memasuki dunia pensiun. Salah satunya adalah dengan mengikuti program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Review Stroller AirBuggy ‘COCO BRAKE EX From Birth’

Stroller AirBuggy dan barang bawaannya.

Stroller merupakan salah satu perlengkapan bayi yang sepertinya wajib dimiliki oleh setiap keluarga yang mempunyai anak bayi maupun balita khususnya di negara Jepang.

Dengan adanya stroller, maka biasanya para ibu bisa membawa anaknya bermain di sekitar rumah, belanja ke supermarket, hingga berpergian menggunakan kereta maupun bus. Hal ini tentunya membantu para ibu dibandingkan harus menggendong bayinya selama di perjalanan.

Seperti pada cerita sebelumnya, kami memutuskan untuk membeli sebuah stroller dengan merk ‘AirBuggy’ pada tahun 2019. Setelah lebih dari setahun memakai stroller ini, saya memutuskan untuk menuliskan sebuah review singkat tentang stroller ini.

Review ini akan dilakukan seobjektif mungkin sehingga bisa menjadi masukan bagi orang yang mau membelinya.

Advertisements

Informasi umum mengenai stroller AirBuggy

1. Harga

Ada terdapat beberapa model yang ditawarkan oleh AirBuggy. Kami memilih mengambil model ‘Coco Brake EX From Birth’ dengan harganya sekitar ¥62.000 (belum termasuk pajak). Pada saat membelinya, kami memperoleh bonus yaitu stroller mat. Salah satu keunggulan stroller mat ini adalah motifnya ada dua jenis sehingga bisa dipakai bolak-balik.

Info lengkap mengenai harganya bisa dicek disini: https://www.airbuggy.com/en/stroller/

2. Dimensi

Ukuran stroller pada saat posisi terbuka: Tinggi: 104.5 cm, Lebar: 53.5, dan Panjang: 96 cm. Sedangkan berat strollernya sendiri sekitar 9.5 kg.

Dimensi AirBuggy ‘Coco Brake EX’

Dengan dimensi dan berat stroller yang nyaris mencapai 10 kg, stroller ini bisa membawa beban seberat 15 kg dengan kapasitas bagasi bawah seberat 5kg. Untuk tipe yang kami beli bisa membawa bayi sejak umur 0 bulan hingga 3 tahun.

Keunggulan Stroller AirBuggy

  1. Kokoh dan Stabil. Alasan utama langsung jatuh cinta dengan stroller ini adalah bentuknya yang kokoh dan stabil. Dibandingkan dengan merk lain yang mempunyai harga yang relatif sama, AirBuggy jauh lebih kokoh dan stabil.
  2. Mudah dikendalikan. AirBuggy merupakan stroller yang mempunyai 3 buah roda, dua dibagian belakang dan 1 dibagian depan. Meskipun demikian, sangat mudah mengendalikan stroller ini walaupun dengan satu tangan.
  3. Rem cakram. Terdapat dua buah rem yaitu rem tangan dan rem parkir (internal drum brake). Rem parkir ada dibagian bawah dekat ban belakang. Kedua rem ini bekerja dengan sangat baik, meskipun dalam kondisi hujan dan kondisi jalan turunan. Rem tangan stroller ini sangat bermanfaat dan mudah dikendalikan pada kondisi jalan yang turunan. Menggunakan rem tangan stroller AirBuggy pada kondisi turunan hampir sama seperti menggunakan rem belakang pada saat mengendarai motor.
  4. Air Tube Tire. Ban yang dipakai stroller AirBuggy menggunakan ban yang dapat dipompa seperti ban sepeda. Kelebihan tipe ban ini dibandingkan dengan jenis ban plastik pada stroller merk lainnya adalah dapat menyerap getaran terutama pada jalan yang bergelombang atau tidak rata. Hal ini menambah kenyamanan bayi ketika tidur di stoller.
  5. Mudah dibersihkan. Sistem bongkar pasang yang ada di AirBuggy memudahkan untuk membersihkan (menyuci) semua bagian.
  6. Sudut rebahan. Posisi duduk bayi dapat diatur dari posisi 115 hingga 155 derajat. Hal ini memberikan kenyamanan pada bayi baik saat duduk maupun tidur.
  7. Kapasitas bagasi. Bagi kami yang membawa bayi untuk kegiatan belanja di supermarket sehari-hari. Bagasi yang ditawarkan stroller ini bisa menampung hampir semua barang belanjaan seperti beras, minuman kotak, hingga barang-barang lainnya pada bagasi bagian bawah. Selain itu, masih bisa menggantungkan beberapa barang ringan pada gantungan yang ada didekat rem tangan.
Jenis roda yang digunakan pada AirBuggy.

Kekurangan Stroller AirBuggy

  1. Berat. Dibandingkan dengan stroller merk lain, maka Airbuggy dapat dikatagorikan sebagai stroller yang cukup berat.
  2. Handle satu arah. Posisi handle tidak bisa dua arah sehingga tidak bisa melihat secara langsung kondisi bayi pada saat sedang berjalan.

Dari penjabaran diatas, bisa terlihat bahwa kami sangat puas dengan stroller AirBuggy. Salah satu poin utama dari stroller ini adalah daya redam yang bagus pada saat dibawa dijalanan yang kasar dan bergelombang.

Demikian review singkat mengenai pengalaman memakai stroller AirBuggy selama lebih dari satu tahun.

Referensi: https://www.airbuggy.com/en/

Video unboxing stroller AirBuggy dapat dilihat disini:

Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong.

Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur.

Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini sangatlah cepat dan bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia hingga latar belakang pendidikan.

Hingga saat ini, banyak aplikasi media sosial yang sudah begitu familiar di kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, hampir semua kita dari anak-anak hingga kakek-nenek setidaknya terhubungan dengan salah satu aplikasi media sosial tersebut.

Hal ini tentunya berdampak baik, bukan? Kita bisa saling berkomunikasi dengan teman, saudara, rekan kerja, hingga keluarga. Jarak bukanlah menjadi penghambat saat ini. Selain itu, kita bisa mengirim pesan, foto, hingga berbagi informasi.

Nah, dari semua kegiatan tersebut, HOAKS bisa muncul salah satunya melalui berita yang kita bagikan baik melalui status, atau meneruskannya di grup-grup chat.

Agak berat memang bagi kita secara pribadi untuk menghalau penyebaran hoaks di platform besar dan umum seperti facebook, twitter, dll.

Tapi, ada kesempatan kita untuk menghalau penyebaran berita HOAKS di grup-grup chat (grup FB messenger, WA grup, LINE grup, dll).

Mari kita manfaatkan kesempatan kecil ini untuk menghentikan laju penyebaran HOAKS.

Apa yang biasanya kita lakukan ketika membaca sebuah berita atau informasi yang kita dapatkan melalui media sosial? Hanya membaca saja atau bahkan membagikan berita tersebut?

Kalau kita berniat untuk membagikannya, apa yang harusnya kita lakukan? Apakah kita langsung membagikannya, atau membaca semua isi beritanya lalu membagikannya, atau membaca isi beritanya secara utuh kemudian berpikir apakah berita tersebut benar atau tidak?

Hoaks dapat menyebar tanpa pandang bulu. Orang yang berpendidikan tinggi pun masih bisa termakan hoaks.

Ketika seseorang menyebarkan berita yang belum dipastikan kebenarannya di dalam grup, apa tanggapan kita? Diam saja dan membiarkan berita tersebut dikonsumsi oleh anggota grup lainnya? Atau mempertanyakan kebenaran dari informasi yang telah dibagikan tersebut?

Berita yang sepertinya mengandung informasi berguna tetapi tidak teruji kebenarannya pun termasuk katagori hoaks.

Bukankah dengan diam saja artinya kita membiarkan berita hoaks tersebut dikonsumsi oleh anggota di dalam grup chat tersebut meskipun kita tahu bahwa yang menyebarkan mungkin tidak ada maksud jahat. Mungkin saja dia menemukan informasi bagus dan ingin membagikannya tanpa tahu kalau informasi tersebut bohong.

Tidak enakan untuk bertanya karena yang membagikan mungkin seorang senior atau admin atau apapun lah itu alasannya dan tidak mau membuat perdebatan di dalam grup?

Berdebat atau berdiskusi

Mungkin kata berdebat ini agak cenderung kurang enak didengar apalagi kalau di grup tersebut isinya teman, rekan kerja atau bahkan keluarga.

Mari kita ganti dengan istilah berdiskusi. Tentunya ajakan berdiskusi akan lebih nyaman dibandingkan dengan berdebat (bagi saya pribadi sih).

Dengan berdiskusi, kita bisa mempertanyakan sumber dari informasi yang telah disebarkan di dalam grup tersebut. Dengan begitu, mungkin kedepannya anggota di grup bisa lebih berhati-hati dalam membagikan berita yang belum tentu kebenarannya. Selain itu kita juga jadi lebih peka untuk bertanya kepada diri sendiri mengenai kebenaran informasi tersebut.

Kalau informasi yang mau dibagikan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, silahkan saja dibagikan. Kalau belum, mari menahan diri membagikannya.

Mari kita bersama-sama hentikan penyebaran HOAKS.


 

Baca juga: Saya takut tertular, lebih takut lagi kalau menularkannya.

Saya takut tertular, lebih takut lagi kalau menularkannya.

Siapa sih yang saat ini tidak dalam kondisi yang khawatir atau waspada?

Saya dan Laura juga punya rasa khawatir akan kondisi saat ini. Tidak hanya memikirkan kondisi kami disini, tapi juga keadaan keluarga yang ada di Indonesia.

Saya sendiri tidak begitu mengikuti informasi perkembangan situasi tersebut, sedangkan Laura mengikuti berita tersebut setiap hari. Setiap pulang dari lab, selalu saja hal ini yang menjadi salah satu bahasan utamanya.

Hingga awal Maret kemarin muncul kasus pertama di Ibaraki dan sejak bulan Maret sudah ada beberapa kali e-mail dari kantor yang memberikan himbauan untuk melakukan tindakan pencegahan seperti tidak melakukan perjalanan dinas kalau tidak terlalu penting, menghindari keramaian, mencuci tangan, dll. Hal ini sepertinya dilakukan berulang-ulang untuk mengingatkan dan menginformasikan kondisi terbaru.

“Mari memikirkan tidak hanya diri sendiri tetapi keluarga dan rekan kerja”. Kalimat di akhir email tersebut.

Membaca situasi seperti ini, saya mendiskusikan hal ini kepada Laura sekitar minggu akhir Maret.

Tulisan ini adalah cara pandang yang saya ungkapkan sewaktu diskusi dengan Laura mengenai kondisi saat ini.

Skenario terburuk

Entahlah ini terpengaruh dengan apa yang saya pelajari selama ini di bidang Nuklir terutama mengenai kecelakaan nuklir, tapi saya berusaha berpikir apa skenario terburuk yang bisa terjadi.

  • Saat ini, sulit menyatakan bahwa kondisi bahwa benar-benar 100% bebas dari virus tanpa melalui pemeriksaan medis.
  • Di tempat kerja sudah ada himbauan seperti yang telah saya tuliskan diatas.

Dengan kondisi seperti ini, saya tidak bisa menyatakan secara sepihak kalau diri saya sendiri terbebas dari paparan virus ini.

Untuk kondisi terburuknya, SAYA MENGASUMSIKAN BAHWA DIRI SAYA TERPAPAR TAPI TIDAK (BELUM) ADA GEJALA YANG TERLIHAT.

Disini, saya mengajak Laura melihat dampak yang bisa ditimbulkan ke orang lain dengan menggunakan asumsi terburuk.

Contoh: Sudah ada himbauan dari pemerintah atau/dan dari kantor tapi karena tidak saya anggap serius akhirnya saya memutuskan untuk berpergian ke suatu tempat (melihat sakura, kumpul-kumpul, dll).

Apa yang terjadi ketika saya pergi ke suatu tempat keramaian atau perkumpulan dengan menggunakan asumsi terburuk yang telah saya tuliskan diatas?

  1. Saya akan pergi ke tempat tersebut dengan kereta. Kereta yang saya naiki adalah kereta lintas kota yang berasal dari Iwaki (100 km dari Desa Tokai) dan berakhir di Stasiun Ueno atau Shinagawa (Tokyo). Dalam hal ini, sedikit banyak saya “membantu” penyebaran virusnya.
  2. Saya akan bertemu dengan banyak orang di tempat tersebut. Ada peluang menularkan. Artinya, saya juga “membantu” penyebaran virus tersebut.

“Saya takut tertular, tapi bagi saya lebih takut lagi menularkannya ke orang lain. Ada beban mental dan moral dalam diri saya.”

Dampak terhadap orang lain:

Pada saat saya terpapar, hal yang saya lakukan adalah memberitahu atasan saya (itu prosedur yang sudah dikeluarkan dari perusahaan tempat saya bekerja).

Dampak yang bisa ditimbulkan adalah:

  1. Tempat kerja dan rekan kerja akan diperiksa kesehatannya. Bisa jadi gedung tempat bekerja harus di tutup sementara.
  2. Tempat tinggal, keluarga dan tetangga sekitar apartemen pastinya akan diperiksa.
  3. Saya pun wajib melaporkan kegiatan saya beberapa hari terakhir dan dengan siapa saja saya melakukan interaksi. Tentunya hal ini akan berdampak buruk bagi mereka yang berinteraksi dengan saya.
  4. Mungkin saya akan dikenakan sanksi oleh perusahaan karena melanggar himbauan yang telah dikeluarkan.

Dampak yang ditimbulkan karena hal sepele yang saya lakukan tentunya bisa menjadi beban moral tersendiri dalam diri saya.

Setelah memaparkan pemikiran saya, Laura dengan sigkatnya berkata: “ Hahh, sampai segitunya cara pandangmu sampai buat asumsi segala. Agak berlebihan ya cara pikirmu. Tapi benar juga ya. Efek yang ditimbulkannya bisa luas juga ternyata.”

“Setiap orang boleh punya cara pandang yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu permasalahan.”


Sejak 31 Maret, saya sendiri sudah diperbolehkan untuk bekerja dari rumah. Akan tetapi, karena kondisi pekerjaan saat ini tidak optimal dikerjakan dari rumah (maaf tidak bisa menuliskan alasannya) maka saya masih tetap pergi ke lab untuk bekerja.

Tentunya aktivitas yang saya kerjakan sudah dengan dukungan dari istri dan juga memperlengkapi diri dengan masker, pembersih tangan, dll untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, di tempat kerja pun sudah menyediakan sarana untuk membantu mengurangi resiko terhadap hal yang tidak diinginkan.

Dengan kondisi saat ini, saya pun dalam bekerja berusaha membatasi ruang gerak dan interaksi antar rekan kerja, salah satunya dengan menjaga jarak.


Bagi mereka yang memang bisa beraktivitas dan bekerja dari rumah mari kita membantu mengurangi resiko tertular atau menularkan.

Bagi kita yang memang harus beraktivitas di luar (seperti kondisi saya juga), mari kita menjaga diri dengan baik-baik. Ada keluarga yang menanti di rumah.


 

Baca juga: Main tebak-tebakan yuk..

Main tebak-tebakan yuk..

Hingga saat ini dibeberapa daerah banyak diterapkan WFH. Mari mengisi waktu luang dengan bermain tebak-tebakan yang sederhana.

Ini ada satu tebak-tebakan yang sudah lama tapi sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab.

2 + 2 = 4

2 x 2 = 4

Coba cari bilangan lain selain 0 (nol) yang ketika dilakukan operasi matematika dapat menghasilkan hasil yang sama seperti kasus diatas.

Contoh: 5 + 5 = 10 ; 5 x 5 = 25. Hasilnya tidak sama.

Selamat mencoba ya. Kalau nemu silahkan tinggalkan angkanya di kolom komentar ya.


 

Baca juga: Harga Tempe di Jepang mahal?

Misteri Ayam Belatung

Tidak terasa acara yang dilaksanakan di kota A selama seminggu ini akan berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dan sorenya kami semua akan berpisah dan pulang ke kota masing-masing.

Rombongan Jogja

Kami menggunakan satu bus besar untuk menampung peserta dari Jogja. Karena jadwal berangkat bus sekitar jam 5 sore, maka dipastikan kami akan singgah untuk makan malam.

Tidak ada yang spesial kecuali jalanan yang lumayan padat ditambah sedikit gerimis di awal perjalanan. Suasana bus pun terasa tenang karena banyak peserta yang merasa lelah setelah seminggu penuh mengikuti kegiatan yang sangat menyenangkan.

Makan Malam

Tidak terasa kita sudah sampai disalah satu tempat peristirahatan. Sepertinya lokasi ini adalah tempat makan bagi pengguna jasa bus malam karena banyak bus dari berbagai daerah sedang berhenti.

“Setiap peserta mendapat subsidi makan malam sebesar Rp.15.000”

Walaupun sudah disubsidi, ntah kenapa beberapa dari kami masih berpikir kalau harga yang ditawarkan di tempat makan itu masih mahal.

“Oii, itu diseberang jalan ada warung makan. Mau coba makan disana aja?, ujar salah satu dari kami.”

Warung makan kecil di pinggir jalan yang hanya diterangi oleh lampu kecil yang memancarkan cahaya kekuningan tapi agar redup.

Menu yang disajikan pun standar seperti ayam goreng, tahu, tempe, telor dadar, dll. Ya, di Jogja banyak juga warung makan seperti ini dan kami pun sudah biasa untuk menyantap makanan seperti ini.

Sesampainya disana, ternyata ada juga beberapa orang dari rombongan kami yang baru saja menikmati makan malam.

Kami berenam memilih ayam goreng sebagai lauk utama ditambah sayuran.

Karena meja yang di dalam warung sudah penuh, kami memilih untuk menggunakan meja yang ada di luar warung.

Suasana makan diluar warung ini seperti suasana makan angkringan kalau di Jogja. Jadi kami sudah terbiasa dengan hal tersebut.

Kami menikmati makan tersebut sambil bercerita dan tak terasa kalau makanan kami hampir habis.

“Apaan nih? coba deh lihat, ujar salah satu dari kami.”

Dengan kondisi lampu yang remang-remang, kami melihat seekor belatung kecil dari daging ayam yang dipiring teman kami keluar.

Rasa penasaran muncul dan dengan penasaran teman kami ini membelah lagi daging ayam tersebut.

Busseeettttttttt…. Itu belatung pada keluar dan jumlahnya cukup banyak.”

Otomatis kami semua menghentikan proses makan memakan dan mendatangi penjual warung. Kami menjelaskan kejadiaannya dan si penjual tidak bisa berbuat apa-apa karena dia membeli daging ayam seperti biasanya.

Tapi diujung pembicaraan, kami tetap membayar makanan yang sudah kami makan.

Segera kami keluar dari sana dan menyebrang menuju ke bus. Sebelum masuk ke bus, saya menuju ke kamar mandi untuk mengeluarkan makanan yang sudah dimakan tadi. Tentu ada perasaan mual setelah peristiwa itu terjadi.

“Nasib kali bah makan ayam belatung malam ini.”

Kami berusaha menenangkan diri sebelum masuk ke bus sambil membeli cemilan yang dijajakan oleh toko oleh-oleh di area peristirahatan tersebut.

Jogja

Kami tiba di Jogja di pagi hari. Siang harinya saya dan teman makan bareng di warung padang dan tetap saja memilih menu daging ayam. Seperti saya menganggap kejadian malam itu hanya suatu hal yang kurang beruntung saja.

Tapii…

Teman saya nyeletuk..

 

“Yakin itu beneran warung?”

 

 

 

 

Tips Menikmati Keindahan Bunga Sakura

Kurang dari sebulan lagi, Jepang akan memasuki musim semi. Musim ini adalah salah satu musim terbaik di Jepang. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Pastinya sudah banyak orang tahu bahwa alasan utama mengunjungi Jepang di musim ini adalah menikmati keindahan bunga sakura.

Bunga Sakura (Cherry Blossoms)

Bagi saya, bunga sakura sangatlah unik. Kemunculannya hanya sekali dalam setahun dengan durasi kurang dari satu minggu. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang ingin sekali menikmati keindahan sakura.

Kapan mekarnya bunga sakura?

Tidak ada yang bisa memastikan secara pasti tanggal mekarnya bunga sakura. Tetapi bunga ini akan mekar dari wilayah selatan Jepang menuju wilayah utara Jepang. Hal itu dikarenakan suhu udara diwilayah selatan yang lebih hangat dibandingkan wilayah utara. Berdasarkan pengalaman dan informasi yang tersedia dari website-website travel atau sejenisnya, bunga sakura biasanya akan mulai mekar sekitar tanggal 20an Maret hingga awal April untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya. Bagi mereka yang akan liburan sekitar bulan Maret hingga awal April, ada baiknya mencari tahu tentang informasi ini. Sayangkan udah datang ke Jepang tapi tidak bisa melihat bunga sakura hanya karena selisih waktu dan tempat.

Tempat terbaik melihat sakura di Tokyo (versi penulis)

1. Tokyo Institute of Technology. Ini adalah kampus tempat saya menimba ilmu. Bukannya mau subjektif, tapi tidak diragukan lagi kalau ini adalah salah satu lokasi terbaik menikmati keindahan bunga sakura. Salah satu keunggulannya adalah tidak banyak orang tahu sehingga bisa menikmati keindahannya dengan lebih tenang.

IMG_2594
Hanami bersama rekan-rekan Obara lab di Tokyo Institute of Technology.

2. Nakameguro (Naka-meguro). Disini kalian bisa menikmati pemandangan bunga sakura di sepanjang aliran sungai meguro. Sebagai tempat paling terkenal di Jepang, maka tidak diragukan lagi akan banyaknya orang yang datang kesini. Saya pernah berkunjung kesini di tahun 2017 dan sangat banyak orang yang ingin menikmatinya. Hal ini bisa dilihat dari ramainya orang dari mulai stasiun Nakameguro hingga menuju lokasi hanami. Dikiri kanan jalan pun banyak tersedia penjual makanan ringan.

IMG_4488
Salah satu sudut penampakan bunga sakura di Naka Meguro.

3. Ueno Park. Taman ini juga salah satu tempat terbaik menyaksikan keindahan bunga sakura. Disisi lain, terlalu banyaknya orang yang datang kesini membuat saya merasa kesulitan untuk menikmatinya. Selain itu, pada saat kami kesana, banyak orang yang mabuk dan lumayan kotor akibat banyaknya sampah yang sembarangan dibuang sehingga semakin kurang bisa menikmatinya.

IMG_4436
Istri yang sedang berfose di tengah keramaian orang yang menikmati sakura di Ueno Park.

Hanami

Hanami adalah istilah dalam bahasa Jepang yang digunakan pada aktifitas menikmati keindahan bunga sakura.

Bagaimana sih aktifitas Hanami tersebut?

Kegiatan ini biasanya dilakukan secara rombongan. Dimana sesama teman atau keluarga berkunjung ke lokasi bunga sakura sambil membawa bekal untuk dimakan. Biasanya dilakukan di siang hari.

Apa yang butuh di bawa untuk aktifitas Hanami?

  • Tikar piknik. Digunakan sebagai alas duduk.
  • Makanan dan Minuman.
  • Plastik sampah.

Do and Do Not

  • Silahkan berfoto menikmati keindahan bunga sakura.
  • JANGAN memetik atau menggoyangkan batang pohon sakura agar hasil foto terlihat keren. Foto anda akan keren, tapi orang setelah anda tidak bisa menikmatinya lagi.
  • JAGA KEBERSIHAN dengan tidak meninggalkan sampah makanan setelah menikmatinya. Pada dasarnya, akan sulit menemukan tempat sampah. Itu artinya simpan sampah anda sampai anda menemukan tempat sampah. Kalau belum ketemu, maka bawa pulanglah sampahnya.
  • Pada tempat-tempat tertentu, ada kalanya terdapat tali pembatas di sekitar pohon. Itu artinya tidak perlu melewati pembatas tersebut. Apalagi berusaha untuk bermain lompa tali..Hehehe

Mungkin itu saja sekedar informasi dari saya. Semoga bisa menikmati keindahan bunga sakura.

Dampak Tutupnya ‘STATION COM’ terhadap anggaran belanja rumah tangga

Abstrak

Belanja kebutuhan sehari-hari adalah hal yang biasa dilakukan oleh hampir setiap orang. Di Desa Tokai cukup banyak tersedia supermarket baik itu yang besar atau kecil untuk mendukung kehidupan warga desa. Station Com adalah satu dari beberapa supermarket yang ada disini. Lokasinya yang dapat ditempuh kurang lebih 3 menit dengan jalan kaki menjadikan supermarket ini pilihan utama kami. Namun, sejak seminggu terakhir, supermarket ini tutup tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Hal ini tentunya memberikan dampak khusus bagi kami “pelanggan setia” supermarket ini. Mau tahu dampaknya? Silahkan lanjutkan membacanya..hehehehe

Latar Belakang

Menurut saya, desa Tokai merupakan suatu desa yang saya anggap cukup maju dan berkembang. Bagaimana tidak, di desa ini cukup banyak supermarket, restoran, drug store, dll. Fokus cerita kali ini mengenai supermarket (kami di Jepang sering menyebutnya Supa). Di Tokai terdapat beberapa supa besar seperti AEON, KASUMI, FOOD OFF, STATION COM, YORK BENIMARU, YAMASHIN, serta supa-supa kecil lainnya. Dari semua supa tersebut, STATION COM lah yang jaraknya sangat dekat dari rumah. Kira-kira bisa ditempuh hanya 3 menit jalan kaki. Sedangkan supa yang lumayan jauh adalah KASUMI dan AEON yang ditempuh sekitar 15 menit jalan kaki.

Selain faktor jarak, ternyata STATION COM adalah supa yang paling murah terutama untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, daging, sayur, dsb.

Akan tetapi, sejak dua minggu terakhir supa ini tutup (semoga tidak tutup untuk selamanya..hahaha). Tutupnya supa ini tentunya memberikan dampak terhadap anggaran belanja rumah tangga kami. Melalui tulisan ini, saya akan berusaha menjabarkan dampak apa saja yang kami terima baik langsung maupun tidak langsung serta seberapa besar dampak yang diberikan terhadap anggaran belanja negara (ehh salah, anggaran belanja keluarga..haha)

Metodologi

Supaya perbandingan yang dihasilkan lebih akurat, maka metodologi yang akan digunakan adalah membandingkan antara barang-barang kebutuhan sehari-hari yang sudah sering dibeli oleh istri.

Kondisi sebelum tutupnya STATION COM

Hampir semua kebutuhan pokok maupun cemilan dan sejenisnya kami beli di supa ini. Gambaran kasarnya adalah untuk daging ayam 1 kg sekitar ¥500; beras 5kg (paling murah) ¥1.300; sayuran sekitar ¥90-150; daging sapi 500g sekitar ¥400; minuman kardus (1L) sekitar ¥100; cemilan (roti, kue, dll) bervariasi mulai dari ¥50 – 200.

Dengan harga seperti itu, biasanya istri akan menghabiskan sekitar ¥5.000/minggu untuk kebutuhan sehari-hari (tentunya tidak hanya membeli barang yang disebutkan diatas). Selain itu, kami tidak perlu melakukan penyimpanan (menyetok) bahan makanan karena STATION COM adalah “kulkas raksasa” kami. Dekatnya jarak ke rumah, membuat istri juga punya aktifitas membawa anak kami menikmati jalan pagi atau sore sembari mampir ke supa.

Selain STATION COM, kami juga menggunakan jasa supa lainnya seperti AEON, KASUMI, dan YORK BENIMARU karena untuk beberapa jenis barang, supa ini memberikan kualitas yang lebih baik (ikan, buah) serta ada toko roti (bakery) didalamnya.

Kondisi setelah tutupnya STATION COM

Untuk beberapa hari pertama, tutupnya STATION COM tidak terlalu memberikan pengaruh yang signifikan. Untuk mengatasi hal tersebut, kami memilih untuk menggunakan jasa AEON karena kami sudah punya member card nya.

Untuk setiap pemegang member, setiap pembelanjaan senilai ¥ 200 bernilai sama dengan 1 poin (¥ 1) dan berlaku kelipatannya

Selain itu, lokasi AEON juga berdekatan dengan play center (Jidoukan) yang sering dikunjungi oleh istri dan Henokh.

Dua minggu berlalu, ternyata STATION COM masih tutup. Istri pun sudah merasakan ada yang berubah dengan anggaran belanja. Berdasarkan pengamatannya, ada kenaikan uang belanja mingguan sekitar ¥3.000 di minggu tersebut.

¥3.000 bisa dapat apa aja sih?

Setiap orang punya caranya masing-masing dalam mengartikan ¥3.000. Sewaktu saya mahasiswa single, dengan nilai segitu saya bisa makan selama 2-3 hari. Dengan nilai yang sama, itu adalah harga sekali makan malam kami di TIARA (restoran italia paling enak di desa Tokai). Harga ¥3.000 bisa digunakan untuk tiket sekali jalan ke Tokyo dengan bus atau kereta lokal.

Kesimpulan

Semuanya tergantung kepada diri kita sendiri bagaimana mau menggunakan dan memanfaatkan uang yang ada.

Ternyata dampak ini tidak hanya bagi kami pribadi, beberapa teman yang tinggal di desa Tokai pun kaget dengan tutup mendadaknya STATION COM.

Demikianlah sedikit curhat dari istri saya. Dimana curhatnya saya curhatkan lagi ke dalam tulisan ini. Hehehe

 

IMG_7906IMG_7902IMG_7905IMG_7904

IMG_7903
Beberapa barang kebutuhan sehari-hari yang di jual di supermarket AEON