Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”.

Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri.

Setelah satu tahun tinggal di asrama kampus yang terletak di daerah Yokohama, maka tahun kedua sebagai mahasiswa Master, saya memutuskan untuk mencari Apato yang lebih dekat dengan kampus (Ookayama Campus) dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tokyo Institute of Technology mempunyai dua kampus utama: Ookayama Campus (Tokyo) dan Suzukakedai Campus (Yokohama).”

Dikarenakan biaya apato di sekitar kampus Ookayama terbilang cukup mahal, maka saya dan seorang teman (Ashlih) memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah apato dengan tujuan bisa berbagi biaya sewa apato.

Melalui agen pencari apato, kami menemukan apato yang sesuai dengan kriteria yang kami cari. Tentunya harga adalah kriteria yang utama. Hehehe

Biaya Sewa dan Luas Apato

Apato yang kami sewa terletak sekitar 10 menit jalan kaki dari Stasiun Ookayama (stasiun utama menuju Ookayama Campus). Dengan jarak yang relatif dekat ke kampus, kami harus membayar sewa apato sebesar ¥ 75.000/bulan. Tentunya biaya tersebut diluar biaya listrik, air, gas, dll. Dengan harga segitu, kami memperoleh apato dengan ukuran sekitar 33 m2.

Fasilitas

Apato yang kami peroleh berada di lantai 1 dan berada di pojok (menghadap jalan). Hal ini membuat apato tersebut mendapatkan sinar matahari yang cukup di pagi hari.

Dengan ukuran 33 m2, apato ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 dapur (kitchen), kamar mandi, dan toilet. Komposisi seperti ini sering sekali di singkat menjadi 2K (2 kamar tidur dan kitchen). Selain itu apato ini tidak dilengkapi dengan pendingin udara (AC). Lampu hanya tersedia di toilet, kamar mandi, dan dapur. Oleh karenanya, kita harus membeli lagi lampu untuk kedua kamar tidur.

Selain itu, hal yang biasanya ditemui pada apato dengan ukuran mungil seperti tempat kami adalah posisi mesin cuci yang berada langsung di beranda belakang.

Advertisements

Tahun 1945

Salah satu hal yang mengejutkan sewaktu membaca detail kontrak, apato tersebut dibangun pada tahun 1945. Wowwww.. Usia apatonya sama dengan usia negara Indonesia.

Kondisi

Dengan kondisi apato yang sudah berdiri dari tahun 1945, tetapi selama dua tahun tinggal di apato tersebut tidak ada sama sekali masalah. Gempa yang berkali kali datang pun seolah olah tidak memberikan dampak apapun terhadap bangunan apato tersebut.

Seandainya saya tidak diberitahu mengenai bangunan apato tersebut, mungkin saya tidak terpikir bahwa bangunan itu berdiri sudah sangat lama.

Dari awal sejak kami menandatangani kontrak, sudah dijelaskan bahwa kontrak sewa tersebut hanya berlaku selama dua tahun dan tidak bisa diperpanjang karena pemilik apato berencana untuk melakukan renovasi.

Musim Panas vs Musim Dingin

Hal yang paling berkesan selama tinggal di apato ini adalah musim panas yang harus dilalui tanpa pendingin udara (AC). Oleh karena itu, saya biasanya menghabiskan waktu hingga larut malam selama musim panas di laboratorium karena sangat nyaman dan menghindari panasnya suhu udara di Tokyo.

Sedangkan musim dingin, kami menggunakan sebuah penghangat udara (portable gas heater) untuk menghangatkan kedua kamar tidur kami. Karena kedua kamar dibatasi oleh pintu geser (model rumah jepang), maka kadang kala kami membuka pintu tersebut supaya heater gas dapat menghangatkan ruangan kamar secara bersamaan.

Advertisements

Kenangan di Apato 1945

Bangunan Apato yang kami tempati di periode 2013-2015.
Berfoto dulu di depan apato sebelum menghadiri wisuda Master (2014) di Tokyo Institute of Technology.
Mesin cuci dan beranda belakang yang tertutup salju (2013).

“One Day Trip” Bermain Salju

Awal tahun 2020 dimulai dengan ikut berpartisipasi dalam acara “one day trip” bersama jemaat gereja GIII Oarai. Trip ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2020 dengan tujuan bermain ski di Minakami Kogen Resort 200 dan  dilanjutkan dengan melihat permainan lampu-lampu (illumination) di Asikaga Flower Park. Ini adalah perjalanan wisata awal tahun bagi saya, istri dan … Continue reading ““One Day Trip” Bermain Salju”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara. Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain … Continue reading “One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’”

The Accident

Rencana untuk bermain ke pantai di Hari Sabtu pun terpaksa batal terlaksana karena hujan turun sepanjang hari. Hal ini membuat kami bertiga hanya diam di rumah dan bermalas-malasan sambil berharap kepada ramalan cuaca yang memperlihatkan kalau hujan akan berhenti di sore hari.

15:00 JST

Hujannya berhenti…!!! Ayo bersiap-siap..!!!

Hujan di luar sudah reda, tetapi awan gelap masih berada tepat di atas langit desa Tokai. Hal ini membuat saya ragu untuk bermain ke pantai. Penyebab lainnya tentu saja pasir pantainya masih basah akibat hujan deras yang turun dari tadi pagi.

Akan tetapi, melihat Henokh yang sejak tadi berdiri di depan jendela sambil berharap bisa bermain keluar, membuat saya dan mami Henokh memikirkan alternatif tempat lain yang bisa dikunjungi.

“Hemmm… Ajak Degi keluar sekalian makan malam bareng yukk. Udah lama juga kita gak jalan bareng dia.”, tercetus lah pikiran tersebut dari saya.

“Boleh.. Hubungi lah dia.”, sahut Mami Henokh.

Degi adalah teman kuliah saya sewaktu di Tokyo. Saat ini kami bekerja di tempat yang sama di Desa Tokai.

Kebetulan juga Degi sedang punya waktu kosong sehingga kami pun memutuskan untuk pergi ke Outlet “Fashion Cruise” yang ada di kota Hitachinaka.

16:00 JST

Baru saja kami hendak berangkat menuju Fashion Cruise, hujan lebat menemani sepanjang perjalanan. Uniknya, hujannya berhenti lagi ketika kami tiba di tempat tujuan. Padahal jarak dari rumah ke Fashion Cruise hanya sekitar 5 km.

Karena pada dasarnya kami tidak punya tujuan khusus (belanja), maka kami pun hanya sekedar melihat-lihat sambil menunggu jam makan malam. Henokh dan maminya pun mencari beberapa kebutuhan Henokh yang ada di salah satu toko bayi yang ada disana. Sedangkan saya menemani Degi yang hendak mencari perlengkapan badminton yang akan digunakan keesokan harinya bersama teman-temannya.

Berfoto disalah satu toko bayi yang ada di Fashion Cruise.

18:00 JST

Malam ini kita memutuskan untuk makan di restoran sushi yang ada di depan Fashion Cruise. Tidak ada yang istimewa dari makan malam singkat ini. Restoran sushi bar dengan ciri khasnya dimana makanan yang kita pesan diantar melalui conveyor yang ada di depan kita. Hal ini tentunya menjadi menarik bagi Henokh, si bayi kecil yang penasaran dengan piring-piring yang lalu lalang di depan dia.

19:00 JST

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk melihat-lihat ke toko UNIQLO yang masih berada di dalam kawasan Fashion Cruise. Mami Henokh hendak mencari baju musim panas buat Henokh. Sedangkan kami, hanya sekedar melihat-lihat saja.

Ternyata, sebelum masuk ke dalam, ada petugas yang akan memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung yang datang. Henokh dan maminya pergi ke bagian bayi sedangkan saya dan Degi pergi ke bagian pria.

Buuuummmmmm…..

Kurang dari 15 menit, akhirnya berempat bertemu disalah satu rak yang memajang pakaian kaos pria. Saya, Degi dan Mami Henokh berbincang sebentar, sedangkan Henokh ada disamping kami sedang berdiri. Beberapa detik kemudian, dia mulai berjalan dan entah kenapa sepertinya kakinya kurang stabil sehingga terjatuh dan keningnya membentur rak besi bagian bawah yang ada di dekat kami.

Kaget……

Kami yang melihat langsung bereaksi untuk mengangkat Henokh dari lantai. Awalnya hanya terlihat kening yang memerah dan kurang dari 3 detik setelah itu, darah mengalir dengan cukup deras.

Panikkkkk….

Mami Henokh langsung menggendong dan panik karena tidak ada membawa tas yang berisi tisu atau alat pembersih lainnya. Saya berlari menuju petugas di bagian pintu masuk untuk meminta pertolongan pertama serta memanggil ambulance.

Petugas yang sigap

Petugas tersebut dengan sigap mengambil tisu untuk menutup luka yang ada dikening Henokh. Sambil menahan aliran darah dengan tisu, petugas tersebut sekaligus memeriksa luka benturannya. Petugasnya menyarankan untuk dibawa ke RS yang ada di kota Hitachinaka (+/- 5 km).

Saya pun langsung mengambil alih Henokh dari Maminya supaya bisa lebih cepat menggendongnya menuju mobil yang terletak di parkiran.

IGD

Sekitar 15 menit kemudian, kami sudah tiba di RS tersebut. Kami menuju ke salah satu gedung yang berada disebelah kiri gerbang masuk. Gedung itu adalah klinik khusus yang ditujukan untuk pasien yang datang dimalam hari (diluar jam operasional) dan di hari libur.

Tiba di HItachinaka General Hospital.

Asuransi Kesehatan

Kemanapun kami berpergian, asuransi kesehatan adalah salah satu kartu wajib yang harus dibawa selalu. Selain itu, khusus untuk anak, ada lagi kartu “MARUFUKU” yang wajib dibawa selalu.

Perawat di RS, memeriksa terlebih dahulu suhu badan kami sebelum masuk. Selanjutnya, memeriksa kondisi kening Henokh. Darah dari lukanya masih terlihat tetapi tidak mengalir dengan deras. Perawat RS pun meminta kami menceritakan kronologis kecelakaannya dan setelahnya mempersilahkan kami duduk di kursi tunggu sembari melaporkan ke dokter dan mempersiapkan ruangan pemeriksaan.

Salah satu pertanyaan wajib dari Perawat RS adalah ” APAKAH ADA ASURANSI DAN KARTU MARUFUKU?”

Pemeriksaan oleh Dokter

Sekitar 5 menit setelah kami tiba di RS, akhirnya dokter memeriksa kondisi dan luka Henokh. Tentu saja Henokh nangis dengan kencang ketika hendak dibaringkan di tempat tidur. Karena nangisnya yang kencang dan meronta-ronta akhirnya dokter pun mempersilahkan Laura untuk menggendong Henokh.

Setelah lukanya dibersihkan dengan alkohol yang tentunya memberikan efek kejut dan menambah volume tangisan Henokh, luka tersebut ditutup dengan perban yang telah diolesi dengan obat salap.

Selanjutnya Henokh sudah mulai tenang dan dokter pun menjelaskan kondisinya. Hal yang perlu diperhatikan adalah Demam dan Muntah.

Kalau sepanjang malam ini Henokh demam atau/dan muntah, maka wajib dibawa ke RS (lupa istilah medisnya) yang menangani gejala geger otak atau sejenisnya. Seirei Memorial Hospital adalah RS yang dirujuk apabila terjadi dua hal tersebut sepanjang malam. RS ini merupakan yang terdekat dari tempat tinggal kami di Desa Tokai.

Selanjutnya, dengan tenang Perawat RS menjelaskan lebih detail lagi kondisi Henokh dengan bahasa yang mudah dimengerti dan membuat Mami Henokh bisa lebih tenang sedikit. Lalu, perawat tersebut memberikan obat salep untuk luka Henokh dan menjelaskan cara pemakaiannya.

Biaya

Sebelum meninggalkan RS, kami pun menyelesaikan urusan administrasi dan membayar ¥ 600 untuk biaya pemeriksaan dan sudah termasuk obat salep.

Malam hingga Keesokan harinya

Sekitar dua jam setelah sampai di rumah, Henokh kembali aktif seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, kami belum bisa menyentuh bagian sekitar keningnya karena dia masih merasa sakit. Akan tetapi, mami Henokh tidak bisa tidur dengan tenang sepanjang malam.

Puji Tuhan, Henokh tidak sampai demam atau muntah. Keesokan paginya pun, dia sudah kembali beraktifitas dengan normal lagi. Rasa sakit terjadi ketika hendak mengganti perban dikeningnya.

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

Mengejar Cinta (3): PDKT

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Tidak terasa kalau sudah 10 tahun sejak awal mula saya melakukan pendekatan dengan Laura. Walaupun sudah 10 tahun, tapi rasanya seperti baru kemarin saja. Banyak hal yang masih diingat sejak pertama kali bertemu hingga saat ini.

Tulisan ini berusaha untuk mengabadikan memori itu karena saya tahu suatu saat nanti sepertinya akan ada memori-memori yang sudah mulai lupa karena daya ingat yang menurun.

Perpisahan

Walapun saya sudah punya nomor HP Laura, ntah kenapa saya masih belum punya alasan yang cukup kuat untuk memulai menghubungi dia. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya di bulan Juni 2010. Hingga akhirnya ada bunyi sms yang masuk, dan ternyata sms itu datang dari Laura.

“Ketemuan yuk di Amplaz (Ambarukmo Plaza). Aku keterima kerja dan lusa mau berangkat.”, kira-kira begitu bunyi sms dari Laura.

“Boleh. Siapa aja?”, menjawab sms dari Laura.

” Teman-teman yang lain juga udah tak sms sih. Kalau kamu bisa ya ikut aja”.

Tanpa panjang lebar, saya pun langsung bersiap-siap menuju ke Amplaz.

Sumatera, I’m coming.

Ternyata pertemuan kali ini hanya tiga orang saja, Laura, Andi dan saya. Dari pertemuan ini, kami baru tahu kalau Laura akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara.

Meskipun sepertinya penempatan tersebut seperti kembali ke daerah asalnya, tapi Medan akan menjadi kota pertama diluar Jawa yang akan menjadi kota perantauannya setelah lulus kuliah. Pertemuan hari itu pun berlangsung untuk sekedar berbagi informasi mengenai kota Medan sambil ngobrol kesana kemari tentang berbagai hal. Karena memang pertemuan hari ini sekedar untuk perpisahan dan Laura masih butuh waktu untuk berkemas, kami pun tidak berlama-lama berada di Amplaz.

Bagi saya yang sudah terpesona dengan Laura, perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang dia keterima kerja dan penempatan di Medan. Sedih karena baru saja mau memulai pendekatan langsung di pisahkan oleh jarak.

Saya sudah punya pacar.

Di minggu-minggu awal kedatangannya di Kota Medan, kami menjadi lebih sering berkomunikasi. Hal yang sering kali ditanyakan adalah: “Cui, naik angkot apa di medan ini dari A ke B? “

Sms seperti itu sering sekali muncul di pagi hari ketika Laura sedang mencari alternatif angkot lain yang bisa membawa dia dari tempat tinggalnya menuju kantor. Karena rute yang dia gunakan hampir sama dengan rute yang sering kulalui sewaktu SMA, maka tidak terlalu sulit untuk menjelaskannya.

Disisi lain, sering juga dia bertanya rute dari titik A ke titik B yang mana saya pun belum pernah menjelajahinya. Alhasil pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya balas dengan sms becandaan, ” Awak memang besar di Medan, tapi kan manalah ku hapal trayek angkot itu semuanya. Haha”

Percakapan-percapakan seperti ini ditambah obrolan selepas pulang dari tempat kerja membuat suasana mulai terasa cair.

Disisi lain, beberapa kali Laura cerita kalau dia sering dijodohkan dengan teman kantornya atau dengan kaum ibu-ibu yang sedang mencarikan jodoh buat anak-anaknya. Atau bahkan pernah cerita kalau ada yang sedang mendekatinya.

Mendengar ceritanya seperti itu, terkadang membuat hati jadi bergejolak juga yaa..

Tapi yang membuat sedikit lega, saat itu dia berusaha menjawab kalau dia sudah punya pacar (walaupun sebenarnya tidak ada). Hanya saja jawaban itu membuat dia bisa fokus ke pekerjaannya.

Ketemuan di depan kantor ya.

Sebulan setelah Laura tinggal di Medan, saya punya kesempatan untuk pulang sebentar ke Medan. Tentunya, salah satu hal yang saya lakukan akan membuat janji untuk bertemu dengan Laura.

Kami pun membuat janji ketemuan setelah jam pulang kantor dan karena dia masih dalam masa training, maka belum ada lembur hingga larut malam. Disepakatilah kami bertemu hari Selasa di depan kantornya sekitar jam 5.00 sore.

Ternyata, janjian ketemuan di depan kantor sesaat jam pulang kantor adalah salah satu strategi yang dilakukannya supaya terlihat oleh teman-teman kantor kalau dia sudah punya pacar seperti yang diucapkannya kepada teman-teman kantornya. Hal ini pun sedikit banyak berhasil karena hari itu saya harus ikutan menyapa setiap temannya yang ada di depan gerbang kantor.

Saya tidak tahu sama sekali hal tersebut hingga dia menceritakannya ketika kami sudah menjalin hubungan.

Advertisements

Awal mula PDKT

Pertemuan ini pun kami habiskan untuk sekedar menonton film di bioskop. Film Inception menjadi pilihan kami pada saat itu. Film yang berdurasi sekitar 2.5 jam tersebut berhasil membuat kami terpukau dengan jalan ceritanya.

Entah kenapa saya lebih memilih mengajak menonton film dibandingkan makan. Padahal kalau diperhatikan lagi, tidak banyak komunikasi yang bisa terbangun ketika menonton film.

Setelah nonton, kami pun singgah untuk makan malam sebentar sebelum mengantarkan Laura kembali ke tempat tinggalnya. Kebetulan juga dia masih tinggal di daerah yang satu arah dengan tempat tinggal saya.

Tapi dari pertemuan itu, kami bisa membangun komunikasi yang lebih lagi dan bercerita lebih banyak hal serta berusaha mengetahui satu sama lain.

Bagi saya, peristiwa itu adalah awal mula proses PDKT dimulai. Dan karena ini masih tahap yang sangat awal, saya berusaha tidak menceritakannya kepada siapapun bahkan kepada si Andi. Hahaha

Bagaimana dengan Laura, apakah ketemuan kita di Medan bisa dibilang sebagai awal mulanya proses untuk saling mengenal satu sama lain? Bisa ditanyakan langsung ke orangnya ya..

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji


Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4)


April 2010

Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir.

Banyak Perubahan

Woow, ternyata banyak perubahan yang terjadi di dalam kelas dan yang paling terlihat adalah keakraban yang sudah terjalin dari Nila, AAng, Ratna, Andi, Laura dan Metha. Lumayan sering juga mereka nongkrong bareng selama menjadi les di ELTI.

“Sabtu malam ke Happy Puppy yuk. Ucap salah seorang dari kami sebelum meninggalkan ELTI.”

Karena Laura bilang OK, otomatis saya pun bilang OK. Walaupun biasanya saya lebih sering menghabiskan waktu di kosan nonton film di hari Sabtu.

“Saat itu saya sedang belajar menonton film barat dengan tidak menggunakan subtitle (Mengasah kemampuan listening).

Sabtu itu adalah pertama kalinya saya ngobrol dengan Laura diluar ELTI. Disitu juga saya mengkonfirmasi di dalam hati kalau ternyata gadis yang saya temui di HKBP itu adalah Laura.

“Aku gak bisa sampai malam ya (jam 9 malam), besok pagi mau gereja (HKBP), ujar Laura”

Makan malam bareng yuk.

Tidak terasa perjalanan kami di tempat les ini mendekati akhir. Beberapa dari kami sudah memutuskan tidak lanjut lagi karena ada yang sudah diterima kerja, sedang mencari kerja, fokus skripsi, dll.

“Sebelum kita selesai di level ini, yuk makan malam bareng. Sepertinya kami sadar kalau akan sulit bertemu di minggu-minggu setelahnya.”

AAng, Metha, Andi, Laura, Irwan, Ratna, dan Nila. Kami bertujuh akhirnya mencoba sebuah tempat makan yang baru buka di daerah Jalan kaliurang km 4.5.

Entah kebetulan atau tidak, saya berkesempatan duduk berhadapan dengan Laura. Disini kami sudah mulai ngobrol banyak hal terutama tentang rencana mencari kerja dan mau bekerja dibidang apa, dll.

Hampir semua berencana mencari kerja selepas kuliah, sedangkan saya memilih untuk lanjut sekolah dibandingkan mencari kerja.

Itu adalah makan malam bareng yang berkesan bagi saya karena bisa ngobrol dengan Laura. Selain itu, bagi saya sendiri ini makan malam pertama bareng mereka. Ternyata mereka semua orangnya sangat bersahabat dan menyenangkan diajak ngobrol banyak hal.

Parkiran Motor

Saya menyempatkan diri berbicara dengan Laura disaat teman-teman yang lain menuju kendaraan masing-masing.

“Oiya, boleh minta nomor kamu?”, ujar saya ke Laura.

“Boleh, btw kalau ada waktu mampir ke rumahlah sama Andi. Nanti tak buatin ikan mas naniura”, begitulah balasan Laura.


Sejak saat itu, proses PDKT pun dimulai.

Episode 3: PDKT

Note:

  • Sampai sekarang (udah nikah) tawaran dibuatin ikan mas naniura tidak pernah terjadi. 😌😌
  • Ikan mas naniura, masakan khas Batak Toba.
  • Mirip dengan sushi lah kalau versi Jepang.

Mengejar Cinta (1): Janji

Juni 2006

Bulan itu adalah perjalanan baru dalam hidup, dimana saya akan merantau ke Jogja untuk menempuh pendidikan tinggi di salah satu Universitas terbaik di negeri ini.

Saya dan mama (dibaca: mamak) pun berangkat dari Pekanbaru menuju Jogja. Banyak wejangan yang diberikan disepanjang perjalanan menuju Jogja, salah satunya adalah:

“Jangan pacaran selama kuliah.”

Maret 2010

Setelah terpesona kepada Laura sejak melihatnya di gereja (How I met your mother (5)), tentunya ada rasa untuk ‘mengejarnya’. Tapi, janji di tahun 2006 tetaplah harus ditaati.

Hemmm, yang gak boleh adalah pacaran. Tapi kalau melakukan pendekatan selagi saya masih kuliah boleh kan yaa?, itulah yang terpikirkan oleh saya.

Tapi, mau berapa lama pendekatannya? Pendekatan dulu atau selesaikan skripsi aja dulu?

Berdasarkan perkembangan tugas akhir saya saat itu, besar kemungkinan kalau saya akan maju sidang akhir di bulan April dan wisuda bulan Mei.

Dengan pertimbangan ini, saya memutuskan untuk menyelesaikan dulu kuliah.

Disatu sisi, saya harus memikirkan strategi apa yang dilakukan supaya bisa memulai pembicaraan dengan Laura tanpa dia berpikiran kalau saya sedang berusaha mendekatinya.


bersambung …

How I met your mother (5)

Sebelumnya di:

Episode 4: How I met your mother (4)

Episode 5: Terpesona

Hari Minggu di bulan Maret.

Kejadian ini hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Andi ke kos.

Entah kenapa pada hari Minggu itu saya memilih untuk mengikuti ibadah minggu pagi di gereja HKBP Kota Baru. (Saya mencoba mengingat-ingat kembali ada apa di hari Minggu itu, tapi tidak bisa menemukan alasan yang pastinya alias lupa..hehe)

“Satu hal yang pasti pada saat itu adalah kesibukan dalam penyelesaian skripsi, sehingga biasanya setelah selesai gereja langsung pulang ke kosan untuk mengerjakan skripsi.”

Pagi itu semuanya berjalan secara normal mulai dari saya tiba di gereja hingga mengikuti rangkaian ibadah minggu hingga selesai.

Kejadian yang tidak mungkin bisa dilupakan adalah sesaat sebelum meninggalkan gereja.

Begini kira-kira kejadiannya:

Untuk menghindari kemacetan terutama di area parkir motor, saya memilih untuk cepat-cepat menuju area parkir. Kunci motor sudah pada tempatnya, helm sudah terpasang dikepala, mesin motor sudah nyala, tinggal menunggu antrian keluar dari parkiran.

Sambil menunggu antrian, saya melihat-lihat ke arah pintu keluar gedung gereja. Siapa tahu ada ketemu teman, itu lah yang ada di pikiran saya. Tidak lama saya memandang kearah sana, saya melihat seorang gadis yang mempesona mengenakan dress berwarna hijau keluar dari pintu gereja. Dia berdiri agak lama dekat pelataran pintu keluar gereja. Berulang kali saya memfokuskan pandangan kearahnya dan semakin fokus memandang, akhirnya timbul pertanyaan di dalam hati ” Itu bukannya Laura ya??, cantik sekali dia hari ini.”

Saya hanya memandang dari tempat saya berada tanpa berani menyapanya.

“Seperti yang saya ceritakan di kisah sebelumnya, saya sudah kenal dengan teman-teman les tetapi belum sampai tahap akrab atau tukar nomor handphone atau berteman di Facebook.”

Saya sudah berkenalan dengan Laura sejak kami les di ELTI, tapi kejadian hari Minggu inilah yang menjadi awal dari Cerita Mengejar Cinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selesai….(?)

 

How I met your mother (4)

Sebelumnya di:

Episode 3: Membuka Diri

Episode 4: Waktunya kurang tepat.

Dari bulan Februari hingga akhir Maret 2010 adalah masa krusial dalam perkuliahan saya. Hampir setiap hari saya habiskan di laboratorium komputasi kampus untuk mengerjakan skripsi. Selain itu saya masih tetap harus mengikuti kelas bahasa inggris setiap hari Selasa dan Kamis sore dan beberapa kegiatan lainnya.

Kegiatan tersebut tentunya menguras tenaga dan pikiran. Refresing adalah salah satu hal yang bisa menyegarkan kembali pikiran saya.

Hal yang biasa saya lakukan untuk meyegarakan pikiran adalah berkunjung ke Plaza Ambarukmo Mall. Masuk ke bagian Gramedia sambil mencari buku sejarah dunia (terutama yang berhubungan dengan Perang Dunia). Biasanya mencari buku yang sudah di buka plastiknya, jadi bisa dibaca disana.Hehehe.

“Planet Bumi”

Kehidupan saya selama bulan-bulan ini membuat saya seolah-olah sedang tidak berada di Planet Bumi.

Di lain hari, ada sms masuk dari Andi. “Coi, kau di kos? Awak otw kesana ya.” Hemmm, sms belum dibalas, dia udah nyampe di depan kos. Yoweslah, makan malam ajalah dulu kita di pecel lele depan kehutanan (Fakultas Kehutanan UGM), begitulah saya menyambutnya di depan pintu kos.

Kedatangan Andi tentunya tidak dengan tangan kosong. Pasti ada informasi yang mau diceritakannya. Ada banyak hal dari mulai A sampai Z yang diceritakan, seolah-olah saya beneran sudah menghilang dari Planet Bumi selama dua bulan sehingga tidak tahu informasi apapun. Dari semuanya itu, ada satu cerita yang menarik perhatian saya.

Kira-kira begini percakapan singkat kami:

A: Cui, teman-teman ELTI berpikiran kau sombong loh, soalnya gak pernah gabung kalau ada kumpul-kumpul.

I: Hahhh? Emang ada kalian kumpul-kumpul? Siapa aja?

A: Ada cui dan udah beberapa kali nongkrong bareng. Terus mau gak kau ikut Fun Walk ELTI nanti?

I: Nanti kalau awak ikut jadi gak fun lagi..hahaha (dan akhirnya saya pun tidak ikut acara tersebut). Tapi kau kan tahu kalau awak lagi sibuk ngerjain skripsi. Ngejar deadline coi.

A: Yoi, makanya tenang aja kau. Udah kujelaskan itu sama mereka jadi aman aja.

I: Yowes, ntar kalau ada rencana makan-makan kabarin lah coi.

Begitulah kira-kira percakapan singkat kami saat itu.

Saya tidak tahu kalau mereka sudah begitu akrab satu sama lainnya. Saya sendiri pada awalnya tidak terpikir bakal bisa berhubungan dekat dengan mereka.

bersambung …

Episode 5: Terpesona


  • Seiring dengan berjalannya waktu, mereka-mereka inilah yang nantinya akan membantu saya dalam proses-proses menggapai mimpi untuk bersekolah ke Jepang. Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech
  • Tidak banyak teman dekat saya sewaktu di kuliah, Andi adalah salah satunya dan dia juga yang banyak membantu saya bahkan hingga saat ini.

How I met your mother (3)

Sebelumnya di:

Episode 2: Siapa Dia?

 

Episode 3

Membuka Diri

Tidak terasa sudah sebulan sejak kelas ini dimulai. Andi sudah berbaur dengan semua orang yang ada di kelas. Sedangkan saya, nama mereka aja masih ada yang belum hapal.

Saya tipikal orang yang sulit membuka pembicaraan terutama dengan orang baru.”

Hanya ada beberapa nama yang saya kenal selain Andi. Mereka adalah AAng dan Nilla. Perkenalan pertama dengan AAng karena pada saat itu ada latihan percakapan antar sesama murid. Sedangkan dengan Nilla, karena pernah duduk sebelahan jadi mau gak mau harus kenalan. (Sebenarnya bukan hanya mereka saja, tapi yang sampai sekarang gak mungkin lupa adalah perkenalan dengan mereka).

Ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. AAng adalah tipe orang yang sangat friendly (cenderung agresif..hahaha) dan memiliki wawasan yang luas. Nilla juga orangnya asik diajak ngobrol, ramah, tahu banyak tentang Jogja, dengan khas suara Jawa medok gitu.Hihihi.

Disisi lain, Andi sudah sangat akrab dengan Hendroy, AAng, Nilla, Ratna, Metta, 2 orang lainnya (1 cowok dan 1 cewek, maaf ya lupa nama mereka), dan Laura. Atau dengan kata lain, akrab dengan seluruh murid di kelas.

“Yapzz, kelas dilevel ini lebih didominasi oleh kaum Hawa.”

Tidak seperti biasanya, AAng, Nila, Andi, dkk masih bercengkrama ketawa ketiwi di parkiran motor setelah kelas bahasa selesai. Yaa, tentunya saya juga ada disana karena saya pulangnya nebeng sama Andi. Itu adalah pertama kali saya membuka diri dan berkenalan secara personal ke mereka semua.

“Bagi saya, mereka semuanya cukup asik diajak untuk ngobrol.”

 

bersambung …

Episode 4: Waktunya kurang tepat

 

How I met you mother (2)

Sebelumnya di

Episode 1: Januari 2020

 

Episode 2

Siapa Dia?

Jadwal les pada level ini adalah hari Selasa dan Kamis, pukul 17:30 -19:00 WIB. Hal ini berbeda dengan level sebelumnya yang mana jadwalnya adalah hari Senin dan Rabu.

Hari pertama masuk les, saya pergi bersama Andi dengan motor “belalang tempur” nya.

“Sebenarnya kami sudah mengikuti les ini dari level sebelumnya, tapi berbeda jadwal.”

Sepanjang jalan menuju ELTI, saya berharap ada orang lain yang saya kenal di kelas selain si Andi. Sesampainya di ELTI, apa daya tak satupun orang yang saya kenal di kelas itu. Semuanya wajah baru bagi saya. Dilain pihak, ternyata Andi sudah lumayan kenal dengan beberapa orang disana. Usut punya usut, ternyata temannya dari level sebelumnya.

Hari itu, tidak ada yang spesial. Masuk ke kelas, memperkenalkan diri masing-masing, dilanjutkan dengan kegiatan belajar dan setelah itu pulang.

Beberapa Hari Kemudian..

Hari ini kami terlambat sekitar 5 menit. Hanya ada dua alasannya, antara saya lagi keasikan mengerjakan skripsi atau jemputan yang telat..hahaha.

Saat itu, pintu kelas sudah ditutup. Andi yang berada di depan, langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Saya mengikuti di belakang sambil mencari-cari kursi mana yang masih kosong.

Disinilah pandangan saya tertuju pada seseorang perempuan yang pada pertemuan sebelumnya tidak ada di kelas itu.*

“Penampilannya cukup menarik perhatian diantara murid-murid lainnya.”

bersambung …

Episode 3: Membuka diri


Andi: Teman saya sejak tahun 2007. Orangnya mudah bergaul dengan siapa saja.

*Bagi ya kenal, tahan dulu yaaa.. jangan spoiler dulu..