Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Celotehan kali ini berkisah tentang sakitnya proses kontraksi pada saat H-1 kelahiran Henokh.

Saya sendiri tidak bisa menggambarkan gimana rasanya menahan kontraksi. Saya hanya bisa melihat Laura mengerang kesakitan, lalu bergonta ganti posisi yang bisa membuat dirinya senyaman mungkin.

Hanya ada satu hal yang bisa saya lakukan saat Laura menahan sakitnya kontraksi, mengelus-ulus punggung bagian bawah. Selain hal itu, apapun yang saya perbuat salah. Bahkan ada masanya dia tidak mau dielus punggungnya dan akhirnya saya hanya duduk diam. Dan itupun tetap salah. Wkwkwkwk

Ntah karena sudah tidak kuatnya menahan sakitnya, terjadilah percakapan unik seperti berikut:

Laura (L), Irwan (I)

L: Sakit kaliiiiiiiii. Udah gak kuat lagi aku!!! (sambil mengerang kesakitan).

I: Gimana? Mau dipanggil susternya?

L: Gak usahhhh..!!!(masih sambil menahan sakit). Sakit kaliii ini, mau sampai kapan ini…??? 😭😭

I: Trus maunya gimana?

L: Janji dulu. Kalau terjadi apa-apa sama ku, gak boleh kau kawin lagi yaa..

I: Sumpaahhh, masih sempat bah kau mikir kesana.. Hahahaha (pecah ketawa ku dibuatnya dalam kondisi seperti itu).

L: Janji lohh. (sambil menangis).

“Apakah mereka yang dalam kondisi seperti ini emosinya akan cukup labil ya?”

I: Iya loh, janji gak kawin lagi. Apa lagi? Ada lagi permintaanmu yang lain? Surat wasiat atau sejenisnya? (Berusaha mencairkan suasana biar dia tidak terlalu tegang).

L: Iya ya, apalagi yaa..?? Hahaha

I: ……….(labil kali bah emosinya, kadang nangis kadang senyum)


Sesungguhnya, banyak kisah celotehan pada saat kami berada di Rumah Sakit menunggu kedatangan Henokh. Tiga hari di RS menunggu kelahiran Henokh adalah hari-hari yang menguras seluruh emosi, tenaga dan pikiran.

Terkadang kami tertawa sendiri ketika mengingat masa-masa itu.

Celotehan Suami Istri: #4. Semuanya serba salah.

Kali ini mau menceritakan kejadian sewaktu menunggu proses kelahiran Henokh di Rumah Sakit setahun yang lalu.

Kalau dipikirkan, proses menunggu kelahiran anak adalah suatu proses yang sangat dinantikan tapi penuh emosi dan menguras tenaga.

H-1 kelahiran Henokh, kontraksi yang dirasakan oleh istri sudah sangat sakit. Walaupun, suster yang setiap kali memeriksa mengatakan itu belum puncak dari kontraksinya.

“Hahhhhh, ini belum ada apa-apanya sus?”, ujar istri dengan rasa kaget.

Lahiran ini terjadi di Jepang, jadi percakapan antara saya, istri, suster, dokter dan penterjemah(teman kerja) dilakukan dengan bahasa Inggris, Indonesia dan Jepang.

Kontraksi sudah mulai sering terjadi tapi belum yang sampai tiap 10 menit. Dalam kondisi tersebut, terjadi percakapan seperti berikut:

Laura (L); Irwan (I)

L: Aduhhh.. sakit kali ini. Sayang, pijit-pijit dulu punggung bagian bawah.

I: Ok.. Sambil menghampiri dan mulai memijit pelan-pelan. Gimana udah lumayan?

L: Iya, udah gak terlalu sakit lagi.

Proses ini berlangsung sekitar 15 menit. Lalu istri kembali ke tempat tidur buat istirahat. Sedangkan, saya kembali beristirahat ke sofa.


1 jam kemudian


L: Aduhhh.. sakit lagi ini. Lebih sakit ini.

I: (Bangun dari sofa, dan berusaha untuk mijitin punggungnya lagi)

L: Jangan dipijit lohh.. Tambah sakit ini !!!

I: Lahhh, tadi dipijit jadi lebih nyaman. Kenapa sekarang kondisinya terbalik sihh??!!

L: Gak tahuuu !! (sambil mengerang kesakitan).. Udah, duduk aja kamu disana!!

I: Ok.. (duduk sambil mulai main HP)

L: Kenapa main HP sih!! Istrinya lagi kesakitan!!!

I: Lah, tadi katanya duduk aja.

L: Iya lohhh.. Duduk aja tapi bukan main HP!!

I: Ok2.. (sambil meletakkan HP di meja).

L: Ihhhhh… sakit kali kontraksinya.. Kamu kenapa duduk aja sih. Bantuin donk. Ini malah duduk aja!! (nada suara sudah judes)

I: Sumpahhh cui… Ini maumu apaan sih? Duduk salah, main hp salah, tidur salah, semuanya salah cui..Panggil suster aja yaaa..

L: Gak usah protes-protes dehh!!

I: …..(cepatlah datang suster)

Suster pun akhirnya datang dan memeriksa kembali. Ternyata masih belum ada tanda-tanda lahiran akan terjadi dalam hitungan jam.

“Kemungkinan bakalan seperti ini sampai 12 jam kedepannya”, begitulah jawaban susternya.

Mendengar hal itu, Laura pun kembali kaget. Ya ampun selama itu kah proses menunggu lahiran ini.


Di Rumah Sakit ini, mereka punya motto:

Tidak ada proses melahirkan tanpa rasa sakit.

Kalau kami mengingat kembali proses selama di Rumah Sakit, kadang bisa tertawa sendiri apalagi banyak ocehan-ocehan Laura yang untungnya dalam Bahasa Indonesia jadi suster atau dokter tidak ada yang tahu artinya.Hahaha

Celotehan Suami Istri: #3. Henokh ngerjain Maminya.

Anak satu tahun udah bisa apa sih? Udah bisa ngerjain maminya menyembunyikan remote TV.

Sejak kondisi di rumah aja, TV pun mulai difungsikan kembali sebagai mana mestinya. Biasanya TV di rumah hanya pajangan dan hampir tidak pernah dinyalakan.

Henokh sudah paham kalau untuk menghidupkan TV dibutuhkan remote. Karena dia belum bisa melakukan sendiri, biasanya dia akan mencari remote terus memberikannya kepada saya atau maminya.

Biasanya, maminya akan menyimpan remote setelah menyalakan TV supaya tidak diutak atik sama Henokh karena dia lagi suka buat mengambil dan melempar barang. Biasanya, mami Henokh menyimpan remote di dalam lemari doraemon.

Hampir setiap apartemen yang punya ruangan bertatami pasti ada lemari doraemon.

Sedangkan saya, biasanya cuma meletakkannya di tempat yang gak bisa dijangkau Henokh, seperti diatas kulkas atau diatas meja belajar.

Senin Pagi

Seperti hari-hari biasanya, pagi ini TV sudah dinyalakan karena mau nonton acara anak-anak. Sebenarnya Henokh tidak suka menonton, hanya saja suka dengan suara entah itu dari TV, atau musik dari keyboard.

Biasanya walaupun TV dihidupkan, Henokh tetap aja lari-lari mengitari rumah tanpa peduli sama apa yang ditayangkan di TV. Tapi begitu TV dimatikan, biasanya dia akan mencari remote TV.

Ntah kenapa hari itu, mami Henokh lupa menyimpan remote TV sesudah menyalakan TV. Remotenya hanya diletakkan di tempat yang bisa dijangkau Henokh.

Henokh pun berhasil menyembunyikan remote TV dan membuat maminya pusing mencari dimana remote TV berada.

Kisah pencarian remote TV ini berlangsung hingga saya pulang dari lab.

Saat itu saya mau ganti siaran di TV tapi tidak menemukan remote TV.

“Sayang, dimana remote TV?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Itulah, aku pun udah nyari dari tadi pagi. Disembunyikan Henokh nih remotenya.”, ujar Laura.

“Hahaha. Dikerjain sama anak umur satu tahun bahh..Itulah sering kali pulanya kau sembunyikan remote itu, sekarang giliranmu dikerjain. Udah dicari dimana aja?”

“Udah loh, di bawah keyboard, kursi, meja, di kardus mainan Henokh. Gak ada loh.”,ujar mami Henokh.

“Paling disembuyikan di bawah kulkas. Udah penuh tuh bawah kulkas dengan mainannya. Udah dicek disana?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Emangnya muat ya dibawah kulkas. Belum kucek sih. (sambil jalan menuju kulkas). Ya ampunnn Henokhhhh, pandai kali ya ngerjain mami sampai dibuat pusing nyari remote TV.”, ujar Laura kepada Henokh.

Mendengar teriakan dan ketawa maminya, Henokh pun ikut ketawa sambil merangkak ke arah kamar.


Bisa juga ternyata anak satu tahun ini ngerjain maminya. Hahaha.

Mami vs Henokh = 1 vs 1. Imbang ya skor kalian berdua dalam hal menyembunyikan remote TV.  Hahaha

Terbang Bersama Henokh: Doloksanggul – Jakarta

Tidak terasa masa liburan akan segera berakhir dan Henokh harus kembali ke Jepang. Ini adalah salah satu perjalanan terlama di liburan musim panas 2019.

Untuk perjalanan pulang ke Jepang, kami memilih menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Alasan utamanya adalah harganya yang cukup bersahabat dengan kapasitas bagasi hingga 46 kg/orang. Secara total kami bisa memuat sekitar 110 kg (bagasi + kabin).

“Bahkan bagasi 100 kg pun terasa belum cukup buat mami Henokh.”

Perjalanan kali ini memiliki rute penerbangan: Kuala Namu – Soekarno Hatta – Haneda. 

Sebenarnya ada bandara Silangit yang lebih dekat dari Doloksanggul. Akan tetapi, jadwal penerbangannya tidak sesuai dengan jadwal kami.

Doloksanggul – Kuala Namu

Jadwal keberangkatan pesawat dari Kuala Namu menuju Soekarno Hatta sekitar jam 2 siang. Artinya kami harus berangkat paling lama jam 4.30 pagi dari Doloksanggul.

“Doloksanggul adalah ibukota dari kabupaten Humbang Hasundutan. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 5-6 jam menuju Bandara kuala namu.”

Ini adalah perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Kami meninggalkan kota Doloksanggul di pagi hari yang sepi sehingga perjalanan sangat lancar. Henokh dan maminya pun masih terlelap di sepanjang jalan. Sayangnya, saya tidak bisa langsung tidur sehingga hanya bisa memandang ke arah jalan.

Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di kota Parapat (Danau Toba). Disini kami singgah untuk sarapan. Warung soto Medan menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi perut. Selain itu harganya pun masih pas di kantong. 

“Pernah kami makan di salah satu rumah makan Padang di Parapat dan ketika bayar cukup kaget dengan harganya. Buat para pedagang di sekitar Danau Toba, cobalah buat harga di setiap menu makanan sehingga pengunjung tahu dan tidak terkejut.

Sekitar jam 07:30, kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak ada kendala yang berarti selama perjalanan. Namun hujan lebat yang turun di kota Siantar sempat membuat arus lalu lintas sedikit terhambat.

Jalan tol Tebing Tinggi – Kuala Namu

Kami menggunakan jasa tol yang baru selesai di bangun untuk mempersingkat waktu tempuh menuju bandara. Benar saja, pilihan ini membuat kami bisa mempersingkat waktu tempuh sekitar satu jam.

Disepanjang ruas jalan tol, hampir tidak bisa ditemui rest area. Ada beberapa lokasi yang masih dalam tahap pembangunan ruas tol.

Selain itu, kondisi jalan tol yang hampir lurus sepanjang jalan menuju kuala namu adalah tantangan tersendiri untuk para pengemudi. Dipastikan rasa kantuk akan datang menyerang dengan kondisi jalan seperti itu. Pastikan pengemudi dalam kondisi fit dan menepilah untuk beristirahat di rest area atau sebelum memasuki jalan tol ketika merasa ngantuk.

“Biaya tol tebing tinggi – kuala namu sekitar Rp. 50.000 “

Bandara Kuala Namu

Akhirnya sekitar jam 12 siang kami tiba di bandara Kuala Namu.

Kami memanfaatkan total bagasi sebesar 96 kg dengan komposisi 2 koper besar, 1 tas ukurang sedang, dan dan 1 kontainer ukuran L.

Bagaimana nantinya membawa barang segitu banyak dari Bandara Haneda ke rumah? GAMPANG.  Karena saya sudah cukup familiar dengan kondisi bandara Haneda maka sangatlah mudah menurut saya. Semua bagasi nantinya tidak perlu dibawa sendiri dari bandara menuju rumah. Cukup menggunakan jasa pengiriman yang tersedia di bandara. Maka barang akan tiba di rumah keesokan harinya.

Setelah proses check in selesai, kami melanjutkan makan siang dan mengganti popok Henokh. Hanya ada sekitar 1.5 jam sebelum kami masuk ke ruang tunggu. Waktu yang cukup untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Bagaimana Dengan Henokh?

Perjalanan panjang dari Doloksanggul ke KualaNamu ternyata membuat Henokh terasa lelah. Nangis dan menyusui adalah hal yang bolak balik terjadi sepanjang perjalanan sejak dari Tebing Tinggi ke Kuala Namu.

Henokh sepertinya cukup bosan dengan kondisi dipangku dan digendong sepanjang perjalanan. Kami sebagai orangtuanya sudah paham betul hal ini. Naik mobil dari gereja ke rumah yang hanya 30 km aja Henokh bisa nangis karena bosan dipangku. Apalagi dari Doloksanggul ke Kuala Namu yang berjarak sekitar 230 km.

Kuala Namu – Soekarno Hatta

Penerbangan dengan pesawat Garuda Indonesia hari ini cukup ramai. Sepertinya hampir semua kursi di tiap kelas penuh. Beruntunglah kami yang bisa dapat kursi di barisan depan.

“Saat itu kami sudah tidak berharap banyak kalau Henokh akan duduk, tidur dan tenang selama penerbangan.”

Di barisan kami, ada seorang ibu yang baru saja selesai mengikuti seminar di Medan. Beliau dan rombongannya mau kembali ke Makasar.

Sejak awal, kita sudah minta maaf dulu apabila nanti Henokh nangis dan mengganggu istirahat beliau. Tapi beliau cukup baik hati dan pengertian. Ternyata beliau masih mempunyai hubungan saudara dengan salah satu teman saya (namanya Rama) dari Makasar yang sedang menempuh pendidikan di Tokyo Tech.


Baca juga:” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)


“Kita sempat ambil foto bareng di pesawat. Kata beliau mau dikasih lihat ke Rama.”

Benar saja, Henokh sangat rewel di penerbangan ini. Dari awal hingga kami mendarat tangisan Henokh cukup membuat kami tidak bisa beristirahat selama penerbangan.

Maklum lah, ini adalah perjalanan 12 jam non-stop pertama buat Henokh.

Setibanya di bandara, kami langsung menuju penginapan yang masih berada disekitar wilayah bandara Soekarno Hatta.

Begitu sampai di penginapan, Henokh langsung direbahkan di atas kasur dan langsung terpancar senyum ceria Henokh. Tentunya suhu AC langsung diatur pada suhu minimum karena Henokh tidak tahan dengan suhu udara yang panas.

“Henokh, si bayi musim dingin.”

Dari awal kami memang memilih untuk bermalam di Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Tokyo.

Keluarga besar Henokh

Rasanya tidak sopan kalau mampir ke Jakarta tapi tidak mengabari keluarga dekat kami. Tapi, mengingat kondisi kami yang cukup lelah dan harus melanjutkan penerbangan jam 7 pagi di keesokan harinya, maka mereka bersepakat dan berbaik hati untuk datang mengunjungi kami di penginapan.

IMG_8982
Henokh dan Bulangnya. (Bulang artinya Kakek dalam bahasa Batak Karo).

“Terima kasih untuk Ompung, Uda, Inanguda, Tante, dan Bibi yang sudah mau mengunjungi Henokh. Semoga di lain waktu bisa bertemu lagi.”


Ternyata pilihan untuk bermalam di Jakarta sangat tepat menurut kami karena Henokh punya waktu untuk beristirahat yang cukup sebelum penerbangan panjang selanjutnya.

Terbang Bersama Henokh: Jogja-Medan

Sebelumnya di: Terbang bersama Henokh: Tokyo-Jogja

Tidak terasa liburan di rumah Ompung Jogja sudah selesai. Saatnya Henokh mengunjungi Ompung yang ada di Doloksanggul, Sumatera Utara.

“Doloksanggul adalah ibukota dari Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.”

Tips terbang bersama bayi

Kami mengusahakan untuk memilih penerbangan langsung untuk menghemat waktu serta mengurangi resiko bayi mengalami kelelahan di perjalanan.

Pada saat itu hanya ada dua maskapai penerbangan yang langsung dari Jogja ke Medan. Kami memilih menggunakan AirAsia karena penerbangannya di sore hari. Kami tidak mau mengambil resiko penerbangan pagi hari karena takut terburu buru. Maklum baru pertama kali terbang bersama bayi, jadi banyak yang perlu dipertimbangkan.

Seharusnya ini adalah penerbangan yang paling santai karena waktu tempuh dari Jogja menuju Bandara Kuala Namu (Medan) hanya sekitar 3 jam.

Bandara Adi Sucipto

Sempat terjadi delay sekitar 30 menit dikarenakan arus lalu lintas udara yang padat. Hari itu tidak banyak penumpang pesawat AirAsia tujuan Medan. Banyak terlihat kursi kosong di barisan depan pesawat. Begitu juga di barisan kursi kami, hanya diisi oleh kami berdua (Henokh masih dipangku).

Hal yang dikhawatirkan akhirnya datang

Sekitar satu jam setelah lepas landas (takeoff) dan pramugara/i sudah selesai membagikan makan malam. Kami pun berusaha untuk tidur, mumpung Henokh juga sudah tertidur pulas.

Baru saja mata ini terpejam, tiba-tiba tercium aroma yang menusuk hidung.

“Sayang, itu Henokh buang angin atau pup?”

“Henokh lagi pup.”

Mau tidak mau kami harus melakukan pergantian popok dipesawat karena masih ada dua jam lagi kalau harus menunggu tiba di Medan.

“Pup di pesawat adalah hal yang paling kami antisipasi dalam setiap penerbangan.”

Tenang Nak, Kami siap menghadapi hal ini.

Kami pun memutuskan menuju toilet di bagian depan karena paling dekat dengan kursi kami duduk.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mau mengganti popok bayi di pesawat:

  1. Pastikan pesawat terbang dalam kondisi stabil. Kalau tidak yakin, bisa tanyakan ke pramugari/a mengenai kondisi penerbangan dan berikan alasannya.
  2. Persiapkan semua peralatan pengganti di dalam tas tangan yang mudah dibawa.  Perlengkapan yang kami bawa sebelum menuju toilet: Alas tidur bayi (perlak), popok, plastik (membungkus popok yang kotor sebelum dibuang ke tempat sampah), minyak telon, hingga celana atau baju ganti. Semuanya itu ada di dalam 1 tas kecil.
  3. Simpan barang berharga anda sebelum meninggalkan kursi.

Karena ini pengalaman pertama, Mami Henokh membutuhkan bantuan saya di toilet untuk memperlancar proses pergantian popok.

Tas kecil yang berisi semua perlengkapan untuk mengganti popok. Tas ini adalah salah satu hadiah dari Desa Tokai.(Foto: Dokumentasi pribadi)

Hal yang tidak kami antisipasi:

  1. Ukuran toilet. Toilet pesawatnya tidak bisa ditutup rapat ketika kami bertiga masuk. Kalau tertutup rapat maka akan membatasi ruang gerak dalam mengganti popok.
  2. Ukuran tempat mengganti popok bayi. Ternyata ukurannya lumayan sempit atau bisa dibilang sangat pas. Perlu ekstra hati-hati dan penuh pengawasan. Benturan kepala bayi bisa saja terjadi apabila terjadi goncangan mendadak.

Melihat kondisi saat itu, kami pun mengganti popok Henokh dengan kondisi pintu toilet yang tidak tertutup rapat. Beruntungnya saat itu kursi di barisan depan kosong. Tapi, mohon maaf ya buat penumpang yang lain atas ketidaknyamanannya.

“Pengalaman kami selama di Jepang mengganti popok Henokh di tempat umum seperti mall, taman, stasiun kereta membuat kami sudah terbiasa dan bisa menyelesaikannya dengan cepat dan tuntas.”

Lima menit yang mendebarkan

Lima menit waktu yang kami gunakan mengganti popok Henokh sungguhlah mendebarkan. Selalu muncul di pikiran bagaimana kalau tiba-tiba terjadi guncangan pada saat masih mengganti popok?

Selain itu saya dan istri sudah seperti dokter dan asistennya yang sedang menangani pasien di ruang operasi. Laura berperan dalam mengganti popok dan saya harus standby  disamping mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan.

“Suami dan istri harus paham betul isi dan penempatan barang-barang yang ada di dalam tas perlengkapan bayi. Hal ini mempermudahkan kordinasi dalam situasi apapun.”

Setelah perjuangan lima menit yang menghabiskan tenaga secara fisik dan psikis. Kami pun kembali ke kursi dan memesan makanan untuk mengisi perut yang sudah kembali lapar.

Bandara Kuala Namu

Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Kuala Namu sekitar pukul 10 malam. Setelah mengambil bagasi, kami pun bergegas menuju pintu keluar untuk menemui Ompung Henokh dan Uda Nawan yang stand by menunggu di luar.

IMG_9031
Selamat datang di Sumatera Utara Henokh. (Foto: Dokumentasi pribadi)

“Salah satu kelebihan bandara Kuala Namu adalah tersedianya toilet untuk mengganti popok bayi.”

 

Terbang bersama Henokh: Tokyo-Jogja

Musim Panas 2019

Liburan musim panas ini, kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Tantangan utamanya adalah membawa Henokh yang masih berusia sekitar 4 bulan.

Bukan perkara mudah apalagi tidak ada pesawat langsung dari Tokyo menuju ke Jogja.

Mencari maskapai penerbangan

Beberapa kriteria kami ketika mencari maskapai penerbangan:

  • Pesawat malam. Asumsi kami, Henokh nantinya bisa tidur di pesawat.
  • Waktu transit yang tidak terlalu cepat atau lama. Estimasi kami sekitar 3 jam cukup untuk beristirahat, mengganti popok, makan, dll.
  • Harga yang masuk akal. Murah dan mahal itu sangatlah relatif.

Hasilnya jatuh pada maskapai Air Asia dengan rute Haneda-Kuala Lumpur-Yogyakarta. Disini kami menggunakan tambahan paket Premium Flex.

Alasan kami menggunakan Premium Flex: supaya bisa memilih tempat duduk khususnya yang ada bassinet untuk bayi dan memperoleh akses Lounge di bandara KLIA2. Lumayanlah untuk Henokh bisa rebahan setelah perjalanan panjang.

Hari Keberangkatan

Desa Tokai – Bandara Haneda

Ada tiga pilihan menggunakan transportasi umum dari Tokai menuju Bandara (Baik Haneda maupun Narita).

  1. Bus Airport Limousine. Harga Tiket sekitar 4.000 yen. Sebagai Desa Nuklir, tentunya banyak orang asing dari berbagai negara berkunjung kesini. Oleh karena, disediakan bus langsung dari dan ke bandara. Jadwal bus dari Tokai ke Bandara Haneda hanya tersedia di pagi hari mulai dari pukul 3:19 JST hingga 8:36 JST.

    Baca juga: Sabtu Ceria di Desa Nuklir


  2. Kereta Hitachi Express. Harga Tiket sekitar 4.000 yen. Akan tetapi, kereta ini tidak langsung menuju bandara Haneda. Perlu transit untuk mengganti kereta di Stasiun Shinagawa.
  3. Kereta Joban Line (Lokal). Harga Tiket sekitar 2.800 yen.

Bus dan kereta lokal membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 – 3.5 jam, sedangkan kereta Hitachi express memakan waktu sekitar 2.5 jam.

Rencana Awal

Rencana awalnya adalah berangkat menggunakan bus pukul 8:36 JST. Kemudian menunggu kurang lebih 10 jam di bandara. Tidak ada rencana berwisata ke sekitar Tokyo mengingat Henokh masih kecil dan takutnya kelelahan di perjalanan.

Tapi rencana berubah dan kami memilih menggunakan Hitachi Express. Berangkat pukul 4:40 JST dari Stasiun Tokai.

“Stasiun Tokai (4:40) — Stasiun Shinagawa (6:23) — Bandara Haneda (6:51)”

Pertimbangannya tentu agar Henokh tidak terlalu lama menuggu di bandara.

Salah prediksi

Secara waktu tentunya naik kereta express akan mempersingkat waktu. TAPI ADA YANG TIDAK KAMI PERHITUNGKAN.

Kereta Hitachi express didesain untuk perjalanan antar kota terutama bagi mereka yang melakukan perjalanan bisnis atau mereka yang traveling dengan barang bawaan yang sedikit.

“Tidak ada tempat (kabin) untuk koper ukuran besar. Hanya ada kabin yang bisa menampung koper kecil atau tas punggung.”

Alhasil, kami sempit-sempitan menjejerkan dua buah koper di sela-sela kursi.

IMG_8824
Suasana di dalam kereta Hitachi Express.

Setibanya di Stasiun Shinagawa, kami hanya ada waktu 10 menit untuk ganti kereta. Tentu waktunya tidak cukup dengan kondisi kami membawa bayi dan 2 koper besar.

Karena kami sudah cukup familiar dengan stasiun ini, maka kami sedikit santai dan menunggu kereta berikutnya. Waktu tunggu inilah kami manfaatkan untuk mengganti popok Henokh.

“Kelebihan negara Jepang, hampir di semua tempat umum apalagi stasiun sangat ramah dengan toilet untuk yang berkebutuhan khusus maupun untuk bayi.”

Rush Hour

Ya, seperti yang sudah kami bayangkan bahwa jam 6 keatas adalah jam sibuk dan banyak orang yang berlalu lalang di dalam stasiun.  Ya ampun, pengguna kereta yang menuju bandara pun sangat ramai. Kami sampai tidak kebagian tempat duduk. 

Berhimpit-himpitan sepanjang perjalanan tapi syukurlah Henokh tidak menangis sepanjang perjalanan. Baju kami sudah basah kuyup mengingat akhir Juli suhu udara di Tokyo sangat panas ditambah kelembapan udara yang tinggi.

Bagi mereka yang gampang keringatan dan tidak suka memakai baju yang sudah basah dianjurkan untuk selalu menyediakan pakaian ganti.”

Bandara Haneda

Mengingat sudah memasuki jam makan malam, kami mencoba menikmati makan ramen yang ada di salah satu sudut bandara dekat seven elevent.

“Harga ramennya masih wajar di kisaran 900 – 1.500 yen”

Counter Air Asia biasanya mulai dibuka sekitar pukul 20:00 (atau 20:30, maaf lupa).

Selanjutnya, kami pun memutuskan untuk langsung masuk ke ruang tunggu. Tentunya perlu melewati proses pemeriksaan dan imigrasi. Nah, karena Laura menggendong Henokh maka dia mendapatkan prioritas sehingga tidak perlu mengantri.

Karena saya suaminya dan membawa barang, maka saya ikut dalam rombongan yang mengantri. Hahaha. Kemudahan hanya untuk sang ibu aja di bagian ini.

“Entah kenapa gate untuk Air Asia selalu di gate yang paling ujung.”

Kemudahan lain yang juga kami dapatkan adalah ketika hendak memasuki pesawat. Kami diberi kesempatan untuk masuk lebih dahulu ke dalam pesawat dibandingkan dengan penumpang lainnya.

Hal ini tentunya memudahkan saya untuk bermanuver dalam mengatur semua barang bawaan (koper kecil, tas pungung, tas pinggang, botol susu Henokh, dll).

” Kerjasama antar suami dan istri sangat dibutuhkan.”

IMG_8833
Ruang ganti popok dan menyusui di bandara Haneda, Tokyo.

Tokyo – Kuala Lumpur (KL)

Penerbangan ini membutuhkan waktu sekitar 7 jam. Artinya kami akan tiba di KL sekitar pukul 6 pagi (jangan lupa ada perbedaan waktu). 

Penerbangannya berjalan lancar tanpa ada turbulensi. Henokh pun tetap tenang walaupun terkadang bangun dan menangis untuk sekedar mau minum susu. 

Nah, bassinet yang sudah kami pesan ternyata tidak terpakai karena Henokh tidak terbiasa tidur di dalam keranjang. Alhasil, bassinetnya kami pergunakan sebagai tempat ganti popok. 

Laura tidak bisa tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan karena ini pengalaman pertama membawa bayi ikut terbang. Takut Henokhnya jatuh saat dipangku dsb. Sedangkan saya, ada kesempatan untuk sekedar tidur ayam.

Transit di Lounge Air Asia

Bandara KLIA2 sangat bersahabat terutama untuk kami yang membawa bayi dan mereka yang berkebutuhan khusus. Adanya buggy car membantu mempermudah proses transit.

Karena kami tiba sekitar jam 7 pagi, maka suasana lounge masih sepi. Tentunya ini sangat menguntungkan kami karena Henokh bisa dengan bebas rebahan dan suasana yang tidak berisik.

” 3 jam waktu yang ideal bagi kami untuk transit. Sarapan, mandi, ganti popok dan baju Henokh, serta sekedar jajan cemilan.”

Tukar uang kami lakukan di dalam bandara karena hanya menukar uang sekitar 2.000 yen.

KL – Jogja

Kondisi Henokh masih semangat karena belum ada tanda-tanda rewel sepanjang perjalanan ini. Penerbangan ini membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam. Untuk penerbangan ini kami memilih untuk duduk di kursi no 1 (paling depan).

“Penerbangan pagi pukul 9, tentunya ini bukan jam tidur Henokh.”

Di awal penerbangan cukup bersahabat apalagi ada pramugari yang terkadang bermain dengan Henokh. Senyuman maut Henokh sepertinya bisa meluluhkan hati pramugarinya. Hahaha

Ntah kenapa kali ini popok Henokh terasa lebih berat (banyak buang air kecil). Akhirnya suasana mulai berubah. Henokh mulai sedikit rewel tapi masih bisa diatasi dengan minum susu.
Turbulensi yang kadang terjadi membuat kami tidak berani untuk mengganti popoknya di toilet.

Disisi lain, rasa lapar karena tenaga Laura habis untuk menyusui membuat kami memesan makanan tambahan.

“Cemilan adalah hal wajib yang harus tersedia untuk ibu menyusui.”

Sudah jadi rahasia umum mengenai kepadatan arus lalu lintas udara di Jogja. Akibatnya kami harus mutar-mutar dulu di udara.

Suasana sudah semakin tidak kondusif karena Henokh sudah mulai bosan (mungkin pegal karena dipangku terus) lalu nangis sekuat tenaga. Tidak banyak yang bisa kami lakukan karena pesawat dalam posisi sudah mau mendarat dan tanda penggunaan sabuk pengaman sudah dinyalakan.

Penumpang yang disamping saya mungkin terganggu dengan tangisan Henokh, tapi dia berusaha untuk tetap senyum dan ramah. Beliau bersama rombongan lainnya adalah warga negara Malaysia yang akan mengikuti seminar di Jogja.

Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna. Penumpang pun turun satu per satu dari pintu depan. Kami memilih untuk turun paling akhir supaya lebih santai.

“ooo.. ini bayi yang nangis tadi. Beberapa penumpang turun sampai berbisik bisik seperti itu.” Tentunya bukan dengan tatapan yang ramah.

Sambil senyum, saya berkata kepenumpang yang lewat “maaf ya sudah terganggu.”

Karena kondisi terminal kedatangan internasional di Bandara Adisucipto tidak tersedia toilet untuk ganti popok bayi, kami pun langsung keluar ke parkiran menjumpai tantenya Henokh yang sudah menunggu.

IMG_8862
Henokh tidur dengan nyenyak begitu diletakkan di kasur. (Lokasi: Rumah Ompung Jogja)

 


Apakah ada yang punya pengalaman membawa bayi dalam perjalanan jauh? Bagaimana cara orang tua mendiamkan bayi ketika rewel? Apakah ada penumpang lain yang secara langsung menegur orang tua bayi karena merasa terganggu?

Hal-hal ini tentunya akan menimbulkan pro dan kontra, bukan?

Bagi saya, ketika mau beli tiket pesawat bisa dilihat kan ya pilihan dewasa, anak-anak, bayi. Artinya, penumpang pesawat sudah paham bahwa ada kemungkinan minimal satu orang bayi akan ikut dalam penerbangan tersebut.

Orang tua (khususnya ibu) si bayi pastilah akan berusaha membuat bayinya tetap tenang selama perjalanan.

Kalaupun bayi tetap rewel, alangkah baiknya bagi penumpang yang merasa terganggu tidak mengeluarkan komentar negatif. Komentar positif bahkan sekedar senyuman saja sudah cukup memberikan energi positif kepada orangtua bayi tersebut.


 

Happy Birthday Henokh

3 Maret 2020

CDAE86FC-F8E8-4196-91E7-0489D8170A71
Happy Birthday Henokh B. Simanullang (3/3/2020)

“Henokh adalah hadiah terbesar dari Tuhan bagi kami”.

Pada hari Minggu, 3 Maret 2019, Henokh berhasil mendarat dengan sempurna di rumah sakit di kota Hitachinaka. Maklum nak, di desa kita tidak ada rumah sakit untuk bersalin. Hehehe.

Tidak terasa sudah menginjak usia 1 tahun Henokh hari ini (Selasa, 3 Maret 2020).

Melihat pertumbuhan Henokh hari lepas hari membuat hati papi dan mami sangat bahagia dan percaya kalau Tuhan selalu menjaga tumbuh kembangmu.

Banyak hal yang telah Henokh pelajari selama 1 tahun ini, mulai dari belajar telungkup, duduk, berdiri, merangkak, dan banyak hal lainnya yang membuat papi dan mami sangat senang dan bangga.

Diusia Henokh yang masih 4 bulan, kita sudah membawa Henokh naik pesawat ke Indonesia. Selama kurang lebih 3 minggu disana, Henokh sangat luar biasa karena tidak sampai sakit.

IMG_9031
Henokh sampai di Medan sekitar jam 10 malam. (Agustus 2019)

Di usia 6 bulan, Henokh mulai belajar makan. Buah-buahan adalah favorit Henokh. Sedangkan dari cemilan, sepertinya perkedel kentang dan krupuk senbei masih jadi andalan ya nak.

IMG_9024
Henokh di Jogja. (Agustus 2019)

Oiya, sejak usia 1 bulan Henokh selalu ikut ibadah minggu di gereja GIII Oarai dan semuanya sayang sama Henokh. Tetap setia beribadah ya nak. Kita hampir selalu pergi ke gereja dengan kereta dan Henokh sangat menikmati setiap perjalanan ke gereja apalagi dari Mito ke Oarai karena bisa lihat hamparan padi dan ladang.

Dari bulan Januari 2020, papi dan mami sudah memikirkan rencana perayaan ulang tahun Henokh. Rencana awalnya adalah jalan-jalan ke Tokyo dan Disneyland. Tapi sayang sekali kondisi kita di Jepang saat ini (terkait virus Corona) membuat banyak hal yang harus ditunda khususnya di Bulan Maret. Nanti kita cari waktu lain ya nak ketika kondisi sudah lebih kondusif.

BMWT4089
Lae Deon lagi pegang pipi Henokh di rumah Ompung Matiti. (Agustus 2019)

Terimakasih sudah menjadi anak yang baik. Jadi anak yang takut akan Tuhan ya.

Love

Papi & Mami


“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Matius 6:33”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir

Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant.

map_feature3
Ada kan ya reaktor nuklir di desa Tokai dari gambar ini?

Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe

Akhir Pekan di Bulan Februari

Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih padat dibandingkan ketika hari kerja.

Ini saya buatkan perbandingannya.. Hehehe

Jadwal hari Sabtu dimulai dari les bahasa Jepang, bermain bersama Henokh, menemani Laura belanja, ke perpustakan bersama Henokh dan Laura untuk mengembalikan dan meminjam buku buat Henokh, dll.

Jadwal hari Senin-Jumat. Pergi ke lab, mengerjakan riset, lalu pulang.

Lebih padat kan ya jadwal akhir pekan dibandingkan hari kerja? Hehehe

Berikut ringkasan aktifitas di salah satu hari Sabtu di desa nuklir.

08:30 – 09:00 JST: Estimasi jam bangun pagi, kalau Henokh sudah lebih dulu bangun maka dipastikan saya pun harus bangun karena Henokh pasti akan berusaha membanguni dengan cara merangkak ke badan. Hahaha

09:00 – 09:30 JST: Sarapan dengan Henokh. Berusaha sebisa mungkin menemani Henokh sarapan (walaupun terkadang gak sampai selesai karena harus pergi ke lab kalau dihari kerja).

10:00 -12:00 JST: Belajar bahasa Jepang di salah satu community center di Desa Tokai.

“Laura ikut les bahasa Jepang di hari lainnya”

Selagi saya les, Henokh dan maminya bersiap-siap karena biasanya kami ketemuan di salah satu supermarket (AEON MALL) untuk belanja keperluan sehari-hari.  Letak AEON yang berada di tengah-tengah antara rumah dan tempat les membuat kami memutuskan untuk bertemu langsung disana.

“Hebat euy, di desa ada AEON. Hahaha”

12:30 – 15:30 JST: Seperti bisa kebanyakan para ibu-ibu. Walaupun sudah hampir tiap hari belanja disana, tapi tetap aja bisa lama kalau belanja. (Ini masih misteri yang belum terpecahkan). Karena saya dan Henokh sudah mempelajari sistem belanja mami Henokh, maka kami pun memutuskan untuk duduk manis sambil menikmati cemilan di area food court.

16:00 – 17:00 JST: Setelah selesai makan dan berbelanja, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan utama yaitu PERPUSTAKAAN. Ini adalah tempat dimana Henokh bisa meminjam buku-buku bacaan.

Perpustakaan di desa ini sangat terawat dan buku yang ditawarkan pun sangat banyak. Desain interior perpustakaannya pun ditata sedemikian rupa sehingga nyaman dan betah untuk berlama-lama di dalam.

Apakah perpustakaan sepi? TIDAK. Banyak anak-anak remaja (SMP dan SMA) maupun balita (tentu dengan orangtuanya) yang datang untuk meminjam atau mengembalikan buku ataupun CD. Kami pun tidak lupa untuk melakukan hal yang serupa.

“Di perpustakaan, kita bisa meminjam maksimal 10 buku selama 2 minggu.”

17:00 JST: Kami pun pulang ke rumah dengan membawa buku-buku dan belanjaan sehari-hari.

“Jarak dari rumah ke perpustakan kurang lebih 2.5 km. Jalan kaki adalah alat transportasi yang kami gunakan sehari-hari ketika beraktifitas disekitar desa Tokai”


Oiyaa, tahun 1999 pernah terjadi kecelakaan nuklir (ini adalah bahasa umum yang saya gunakan, bahasa teknisnya silahkan klik linknya) loh di desa ini. Berikut linknya: Tokaimura criticality accident.


Silahkan klik juga tulisan ini ya: Efek Radiasi Terhadap Kesehatan

Berjalan bersama Henokh

11 Februari 2020 “Foundation Day”

Sejak berada di Jepang, saya sepertinya kurang memperhatikan kalender. Maklum, selama 5 tahun menjadi mahasiswa di Jepang, hampir setiap hari saya masuk ke kampus tanpa mengenal yang namanya weekend. Apakah terpaksa? Tentu tidak.

“Profesor pembimbing saya memberikan muridnya kebebasan untuk mengatur waktu asalkan bertanggung jawab dengan penelitiannya.”

Hal ini pun terbawa ketika di dunia kerja bedanya saya memilih untuk tidak masuk pada hari Sabtu dan Minggu.

“Salah satu keuntungan menurut saya bekerja di bidang penelitian adalah waktu kerja yang sangat fleksibel.”

Saya pun terkadang tidak begitu memperhatikan hari-hari libur di kalender. Tanggal 11 Februari (Selasa) pun saya tidak tahu kalau hari itu adalah hari libur. Saya baru sadar ketika hari Jumatnya sedang berbicara dengan teman kerja dan dia berencana mengambil cuti di hari Senin.

There is No Special Plan

Karena memang kami tidak ada rencana mau pergi berwisata atau apapun, saya pun tetap masuk pada hari Seninnya.

Hari senin malam pun saya bertanya lagi ke istri mengenai ada atau tidaknya rencana jalan atau apalah untuk besok Selasa. Dan jawabannya tetap sama ‘Tidak ada rencana jalan-jalan’.

Selasa Pagi

Tetap tidak ada yang spesial, hanya membereskan kamar sebelah yang sudah mulai berantakan dipenuhi mainan dan perlengkapan Henokh yang sudah tidak dipakai lagi (maklum, perlengkapan anak bayi cepat sekali berganti seiring dengan bertambah besarnya Henokh).

Pagi itu pun kami habiskan dengan mengepak semua barang yang tidak dipakai dan memindahkannya ke gudang. Ruangan pun menjadi lebih luas dan Henokh bisa merangkak dengan leluasa untuk mengitari seluruh ruangan di rumah.

Menjelang Sore

Jam sudah menunjukkan pukul 15.10 JST dan semua pekerjaan rumah sudah beres. Cuaca yang cerah dan suhu udara yang hangat di musim dingin ini membuat kami memutuskan untuk pergi ke supermarket (namanya York Benimaru, dibaca “Yokubenimaru”).  Ini adalah supermarket terdekat setelah tutupnya Station Com.

Rencana awalnya hanya belanja sayur dan daging. Tapi entah mengapa kalau belanja sama istri rasa-rasanya seluruh bagian di dalam supermarket itu harus dikunjungi lebih dari satu kali (atau apakah hal ini cuma terjadi pada saya saja kah???) walaupun ujung-ujungnya gak dibeli juga.

Tentunya ada kesimpulan istri setelah menjelajah ruang dan waktu di dalam supermarket.

“Harga Sayur lebih murah di hari Selasa, sedangkan harga daging lebih mahal pada hari Selasa.”

Sambil menunggu istri membayar seluruh belanjaan ke mesin yang tersedia, saya dan henokh pun menunggu di bagian coffee & bakery sambil menikmati sepotong roti.

Ilustrasi pembayaran dengan mesin otomatis di supermarket. (https://www.alamy.com/japan-honshu-tokyo-supermarket-self-check-out-machine-30076347-image264544157.html)

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16:30, hal itu ditandai dengan bunyi lonceng yang terdengar diseluruh penjuru desa. Matahari yang masih bersinar membuat kami memutuskan untuk bermain sebentar ke taman yang ada diseberang York Benimaru.

Tujuan kami bermain ke taman adalah mengajak anak kami Henokh untuk belajar berjalan diluar rumah sekaligus memperkenalkan dia dengan sepatu. Ternyata di taman ada beberapa keluarga juga yang sedang mengajak anak-anaknya bermain.

“Salah satu hal dipikiran saya pada bulan April 2018 ketika baru pertama kali sampai di desa ini adalah, kalau nanti kami punya anak maka saya akan mengajaknya bermain di taman ini.”

Tidak butuh waktu lama untuk bermain di taman karena udara yang sudah mulai dingin dan matahari yang mulai tenggelam. Sekitar jam 5 sore kami pun pulang ke rumah.

“Terkadang liburan cukup diisi dengan hal yang sederhana namun bisa diingat selalu.”