“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi).

Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu yang cukup terkenal di musim panas adalah keindahan Pantai “Oarai Sun Beach”.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, seluruh warga kota Oarai akan bergotong-royong membersihkan pantai di awal musim panas (biasanya awal bulan Juli) untuk menyambut wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahanan pantai dan lautnya. Lautnya cukup terkenal dengan ombaknya yang membuat banyak peselancar berdatangan ke Oarai.

Akan tetapi, pengunjung yang datang di musim panas 2020 sepertinya sangat jauh berkurang akibat dari pandemi COVID-19. Bahkan ketika kami mengunjungi pantai ini pada saat hari libur nasional (Hari Gunung), jumlah pengunjung yang ada di pantai ini sepertinya cukup sedikit. Padahal sebelum datang, kami berpikir akan terjadi kemacetan di dalam Oarai akibatnya banyaknya pengunjung yang hendak berlibur ke Oarai. Namun, hal tersebut tidak terjadi di hari itu.

Advertisements

Welcome Party

Hari itu, kami hendak mengadakan Welcome Party kecil-kecilan untuk salah satu teman lab sewaktu bersama-sama menuntut ilmu di Tokyo Tech karena dia sudah diterima bekerja di salah satu instansi nuklir nasional di kota Oarai.

09:30 JST

Kami sekeluarga beserta seorang teman berangkat dari Desa Tokai menuju ke “Oarai Sun Beach” di kota Oarai. Sebelum ke pantai, kami harus singgah terlebih dahulu di supermaket besar serba lengkap ‘COSTCO’ untuk membeli makanan dan minuman.

11:30 JST

Setelah selesai berbelanja dan membeli semua yang dibutuhkan, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Oarai.

Jarak antara Desa Tokai ke Kota Oarai kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil.

Di saat yang bersamaan, teman yang lain juga sudah berangkat dari kota Mito ke Oarai.

“Private Beach Parking Lot” adalah titik pertemuan kami. Tidak ada kemacetan yang berarti sewaktu perjalanan menuju Oarai.

Pada musim panas seperti ini, dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar ¥1.000/hari. Akan tetapi, di luar musim panas tidak dikenakanan biaya parkir apabila mengunjungi pantai Oarai Sun Beach.

12:00 JST

Hari itu, suhu udara di Kota Oarai mencapai sekitar 34o C dengan matahari yang bersinar cukup cerah. Hal ini membuat pasir pantai cukup panas untuk diinjak tanpa menggunakan alas kaki.

Dari tempat parkir, kami harus berjalan sejauh 500 meter menuju bibir pantai sambil membawa semua perlengkapan mulai dari tenda, kursi, makanan, minuman, hingga stroller Henokh.

Belum lagi acara Welcome Party dimulai, kami sudah basah kuyup karena udara yang cukup panas.

Dengan kondisi pantai yang tidak ramai, kami cukup mudah untuk menemukan tempat yang sesuai bagi kami. Begitu dapat, tenda pun menjadi hal yang pertama kami dirikan sebagai tempat berteduh.

Henokh dan Maminya sedang berteduh dari panasnya sinar matahari.

13:00 JST

Tanpa basa basi, kami pun langsung menyantap pizza yang telah dibawa sambil bercerita banyak hal.

Saya cukup beruntung karena istri cukup kenal dengan teman lab saya sewaktu kuliah di Tokyo Tech. Hal ini dikarenakan sewaktu kuliah, istri cukup sering berkunjung ke lab dan bahkan ngobrol bersama mereka.

Hal ini membuat istri tidak canggung ketika mengikuti acara reunian seperti ini.

Kembali lagi ke menu makanan yang kami persiapkan. Hari ini kami mempersiapkan beberapa jenis makanan seperti: nasi daging sapi, pizza, salad, dan kentang goreng. Sedangkan untuk minuman, air mineral dan beberapa botol jus dingin cukup menyegarkan ditengah teriknya cuaca.

Pastikan membawa cukup makanan dan minuman karena lokasi supermarket atau convenience store cukup jauh dari pantai.

14:30 JST

Setelah menikmati makanan dan minuman, Mami Henokh mengajak Henokh untuk bermain air di pinggir pantai. Sedangkan saya dan teman yang lainnya masih asyik mengobrol kenangan sewaktu di bangku kuliah. Salah satunya adalah membahas nasib play station yang ada di refreshing room yang sering digunakan untuk bermain diwaktu senggang (malam hari). Hehehe

Sambil mengobrol, sesekali saya meninggalkan teman-teman yang sedang mengobrol untuk menemani Henokh bermain air di pantai.

Dengan suhu udara yang cukup panas membuat air lautnya terasa sangat hangat. Hal ini membuat Henokh cukup senang bermain air. Akan tetapi, rasa air laut yang asin yang terminum oleh Henokh akibat terpaan ombak kecil membuatnya cukup kaget dan berlari menjauhi air laut. Hahaha

Advertisements

15:30 JST

Setelah merasa cukup lama bermain dan Henokh sudah mulai capek, akhirnya kami pun membawa Henokh ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh badannya.

Ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menggunakan jasa kamar mandi tersebut. Kita harus memasukkan koin ¥100 ke dalam mesin yang ada dikamar mandi untuk bisa menyalakan air hangat dari shower yang tersedia. Dengan uang ¥100, kita bisa menikmati air hangat sekitar 3-4 menit. Apabila waktu 3 menit dirasa belum cukup, silahkan masukkan kembali koin ¥100 ke dalam mesin tersebut.

Suasana musim panas di “Oarai Sun Beach” Jepang.

16:00 JST

Mami Henokh membawa Henokh ke dalam mobil untuk ngadem karena Henokh cukup sulit untuk tidur di suhu udara yang panas.

Di saat yang bersamaan, saya menyusul teman-teman yang sudah bermain ombak di laut. Bermain ombak di laut ternyata cukup menyenangkan. Semakin sore, terlihat cukup banyak peselancar yang mulai berdatangan. Hal ini membuat kami yang datang dengan tangan kosong, hanya bisa menghindar atau mencari tempat yang tidak banyak peselancar.

Sambil bermain di laut, sesekali saya memandang ke arah tenda kami. Ternyata, mami Henokh sudah ada disana sambil menggendong Henokh yang masih tertidur dengan lelap.

17:00 JST

Sekitar pukul 5 sore, beberapa petugas pantai sudah mulai berkeliling sambil memberitahu kalau pantai akan ditutup jam 6 sore. Selain itu, kondisi di laut pun sudah tidak kondusif untuk kami karena semakin banyak peselancar yang bermain membuat tidak ada tempat bagi kami. Hahaha

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menyudahi permainan ombak dan bersiap untuk membereskan semua barang bawaan kami.

INGAT..!!! SELALU BAWA PLASTIK SAMPAH

Menjaga kebersihan adalah hal utama yang perlu diingat ketika tinggal di Jepang. Jangan berharap banyak disediakan tempat sampah di pantai. Jadi, selalu bawa plastik sampah sendiri dan silahkan membawa pulang sampah tersebut.

Selanjutnya, kami pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum akhirnya meninggalkan pantai.

19:00 JST

Setelah seharian bermain di pantai, akhirnya tiba juga di rumah dengan selamat. Meskipun udara panas, tetapi cukup membuat memori yang bagus untuk Henokh karena ini adalah pertama kalinya dia bermain air di pantai.

One day trip bersama keluarga sekaligus dengan reuni teman lab adalah hal yang menyenangkan. Selain bisa menjaga tali persaudaraan dengan teman lintas negara, para istri juga bisa saling bertukar cerita tentang kehidupan membesarkan anak di Jepang. Bahkan teman Jepang juga bisa melihat sudut pandang yang baru bagaimana orang asing menjalani hidup di Jepang.

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”

Mudahnya Pencairan Asuransi Jiwa Henokh di Jepang.

Dua hari setelah kejadian The Accident, dimana keadaan Henokh sudah membaik dan luka di kening sudah mulai kering maka saya teringat kalau Henokh mengikuti program Asuransi Jiwa di Jepang. Asuransi Jiwa ini berbeda dengan asuransi kesehatan.

Saat itu, saya hanya ingin mencoba apakah Asuransi Jiwa tersebut bisa mengcover kecelakaan yang dialami Henokh. Dengan bantuan dari seorang teman kerja, akhirnya kami pun menghubungi pihak asuransi melalui telepon.

Beberapa hal yang perlu dijelaskan kepada pihak asuransi yaitu: Lokasi kejadian, Waktu, Luka yang dialami, Bagaimana kecelakaan bisa terjadi, Melibatkan pihak lain atau tidak, hingga alamat rumah sakit.

Setelah menjelaskan secara detail dan jujur kejadian tersebut, pihak asuransi pun langsung mengkonfirmasi kalau kejadian tersebut bisa dicover oleh asuransi jiwa. Selanjutnya, akan dikirim beberapa dokumen ke alamat rumah.

Advertisements

Dua hari setelah pembicaraan melalui telepon, akhirnya dokumennya tiba dirumah. Dokumen tersebut kurang lebih berisi formulir yang hampir sama dengan apa yang telah ditanyakan melalui telepon. Selain itu, diwajibkan untuk melampirkan fotocopy nota pembayaran dari Rumah Sakit.

Setelah melengkapi dokumen tersebut, silahkan masukkan dokumen tersebut ke dalam amplop yang telah disediakan. Kirimkan ulang dokumen tersebut ke kantor asuransi melalui kotak pos terdekat.

Sekitar satu minggu, maka pihak asuransi akan mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Besaran biaya yang diganti oleh pihak asuransi bergantung dengan kondisi kecelakaan dan beberapa hal yang telah disebutkan pada awal mendaftar asuransi jiwa.

Dalam kasus ini, kami memperoleh biaya dari pihak asuransi yang jumlahnya lebih banyak dari biaya yang kami keluarkan di RS (¥600).

Ternyata proses pencairan asuransi jiwa di Jepang cukup mudah dan tidak ribet.

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day

Setelah selesai beberapa rangkaian kegiatan di hari Minggu sore hingga malam, akhirnya tiba waktunya mengecek HP untuk melihat perkembangan dunia maya. Salah satunya adalah kiriman gambar di salah satu grup WA mengenai Mother’s Day. Awalnya cukup heran dan bertanya-tanya, ada peringatan apa di hari Minggu 10 Mei 2020? Demi menjawab pertanyaan itu, akhirnya saya pun … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day”

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015 Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji. Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji. Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik … Continue reading ““2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)”

The Accident

Rencana untuk bermain ke pantai di Hari Sabtu pun terpaksa batal terlaksana karena hujan turun sepanjang hari. Hal ini membuat kami bertiga hanya diam di rumah dan bermalas-malasan sambil berharap kepada ramalan cuaca yang memperlihatkan kalau hujan akan berhenti di sore hari.

15:00 JST

Hujannya berhenti…!!! Ayo bersiap-siap..!!!

Hujan di luar sudah reda, tetapi awan gelap masih berada tepat di atas langit desa Tokai. Hal ini membuat saya ragu untuk bermain ke pantai. Penyebab lainnya tentu saja pasir pantainya masih basah akibat hujan deras yang turun dari tadi pagi.

Akan tetapi, melihat Henokh yang sejak tadi berdiri di depan jendela sambil berharap bisa bermain keluar, membuat saya dan mami Henokh memikirkan alternatif tempat lain yang bisa dikunjungi.

“Hemmm… Ajak Degi keluar sekalian makan malam bareng yukk. Udah lama juga kita gak jalan bareng dia.”, tercetus lah pikiran tersebut dari saya.

“Boleh.. Hubungi lah dia.”, sahut Mami Henokh.

Degi adalah teman kuliah saya sewaktu di Tokyo. Saat ini kami bekerja di tempat yang sama di Desa Tokai.

Kebetulan juga Degi sedang punya waktu kosong sehingga kami pun memutuskan untuk pergi ke Outlet “Fashion Cruise” yang ada di kota Hitachinaka.

16:00 JST

Baru saja kami hendak berangkat menuju Fashion Cruise, hujan lebat menemani sepanjang perjalanan. Uniknya, hujannya berhenti lagi ketika kami tiba di tempat tujuan. Padahal jarak dari rumah ke Fashion Cruise hanya sekitar 5 km.

Karena pada dasarnya kami tidak punya tujuan khusus (belanja), maka kami pun hanya sekedar melihat-lihat sambil menunggu jam makan malam. Henokh dan maminya pun mencari beberapa kebutuhan Henokh yang ada di salah satu toko bayi yang ada disana. Sedangkan saya menemani Degi yang hendak mencari perlengkapan badminton yang akan digunakan keesokan harinya bersama teman-temannya.

Berfoto disalah satu toko bayi yang ada di Fashion Cruise.

18:00 JST

Malam ini kita memutuskan untuk makan di restoran sushi yang ada di depan Fashion Cruise. Tidak ada yang istimewa dari makan malam singkat ini. Restoran sushi bar dengan ciri khasnya dimana makanan yang kita pesan diantar melalui conveyor yang ada di depan kita. Hal ini tentunya menjadi menarik bagi Henokh, si bayi kecil yang penasaran dengan piring-piring yang lalu lalang di depan dia.

19:00 JST

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk melihat-lihat ke toko UNIQLO yang masih berada di dalam kawasan Fashion Cruise. Mami Henokh hendak mencari baju musim panas buat Henokh. Sedangkan kami, hanya sekedar melihat-lihat saja.

Ternyata, sebelum masuk ke dalam, ada petugas yang akan memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung yang datang. Henokh dan maminya pergi ke bagian bayi sedangkan saya dan Degi pergi ke bagian pria.

Buuuummmmmm…..

Kurang dari 15 menit, akhirnya berempat bertemu disalah satu rak yang memajang pakaian kaos pria. Saya, Degi dan Mami Henokh berbincang sebentar, sedangkan Henokh ada disamping kami sedang berdiri. Beberapa detik kemudian, dia mulai berjalan dan entah kenapa sepertinya kakinya kurang stabil sehingga terjatuh dan keningnya membentur rak besi bagian bawah yang ada di dekat kami.

Kaget……

Kami yang melihat langsung bereaksi untuk mengangkat Henokh dari lantai. Awalnya hanya terlihat kening yang memerah dan kurang dari 3 detik setelah itu, darah mengalir dengan cukup deras.

Panikkkkk….

Mami Henokh langsung menggendong dan panik karena tidak ada membawa tas yang berisi tisu atau alat pembersih lainnya. Saya berlari menuju petugas di bagian pintu masuk untuk meminta pertolongan pertama serta memanggil ambulance.

Petugas yang sigap

Petugas tersebut dengan sigap mengambil tisu untuk menutup luka yang ada dikening Henokh. Sambil menahan aliran darah dengan tisu, petugas tersebut sekaligus memeriksa luka benturannya. Petugasnya menyarankan untuk dibawa ke RS yang ada di kota Hitachinaka (+/- 5 km).

Saya pun langsung mengambil alih Henokh dari Maminya supaya bisa lebih cepat menggendongnya menuju mobil yang terletak di parkiran.

IGD

Sekitar 15 menit kemudian, kami sudah tiba di RS tersebut. Kami menuju ke salah satu gedung yang berada disebelah kiri gerbang masuk. Gedung itu adalah klinik khusus yang ditujukan untuk pasien yang datang dimalam hari (diluar jam operasional) dan di hari libur.

Tiba di HItachinaka General Hospital.

Asuransi Kesehatan

Kemanapun kami berpergian, asuransi kesehatan adalah salah satu kartu wajib yang harus dibawa selalu. Selain itu, khusus untuk anak, ada lagi kartu “MARUFUKU” yang wajib dibawa selalu.

Perawat di RS, memeriksa terlebih dahulu suhu badan kami sebelum masuk. Selanjutnya, memeriksa kondisi kening Henokh. Darah dari lukanya masih terlihat tetapi tidak mengalir dengan deras. Perawat RS pun meminta kami menceritakan kronologis kecelakaannya dan setelahnya mempersilahkan kami duduk di kursi tunggu sembari melaporkan ke dokter dan mempersiapkan ruangan pemeriksaan.

Salah satu pertanyaan wajib dari Perawat RS adalah ” APAKAH ADA ASURANSI DAN KARTU MARUFUKU?”

Pemeriksaan oleh Dokter

Sekitar 5 menit setelah kami tiba di RS, akhirnya dokter memeriksa kondisi dan luka Henokh. Tentu saja Henokh nangis dengan kencang ketika hendak dibaringkan di tempat tidur. Karena nangisnya yang kencang dan meronta-ronta akhirnya dokter pun mempersilahkan Laura untuk menggendong Henokh.

Setelah lukanya dibersihkan dengan alkohol yang tentunya memberikan efek kejut dan menambah volume tangisan Henokh, luka tersebut ditutup dengan perban yang telah diolesi dengan obat salap.

Selanjutnya Henokh sudah mulai tenang dan dokter pun menjelaskan kondisinya. Hal yang perlu diperhatikan adalah Demam dan Muntah.

Kalau sepanjang malam ini Henokh demam atau/dan muntah, maka wajib dibawa ke RS (lupa istilah medisnya) yang menangani gejala geger otak atau sejenisnya. Seirei Memorial Hospital adalah RS yang dirujuk apabila terjadi dua hal tersebut sepanjang malam. RS ini merupakan yang terdekat dari tempat tinggal kami di Desa Tokai.

Selanjutnya, dengan tenang Perawat RS menjelaskan lebih detail lagi kondisi Henokh dengan bahasa yang mudah dimengerti dan membuat Mami Henokh bisa lebih tenang sedikit. Lalu, perawat tersebut memberikan obat salep untuk luka Henokh dan menjelaskan cara pemakaiannya.

Biaya

Sebelum meninggalkan RS, kami pun menyelesaikan urusan administrasi dan membayar ¥ 600 untuk biaya pemeriksaan dan sudah termasuk obat salep.

Malam hingga Keesokan harinya

Sekitar dua jam setelah sampai di rumah, Henokh kembali aktif seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, kami belum bisa menyentuh bagian sekitar keningnya karena dia masih merasa sakit. Akan tetapi, mami Henokh tidak bisa tidur dengan tenang sepanjang malam.

Puji Tuhan, Henokh tidak sampai demam atau muntah. Keesokan paginya pun, dia sudah kembali beraktifitas dengan normal lagi. Rasa sakit terjadi ketika hendak mengganti perban dikeningnya.

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

30 Menit Bersama Henokh.

Hampir selalu di setiap siang atau sore, mami Henokh menelepon dan berkata ” Nanti sore, kami mau main ke taman. Mau nyusul gak? Dan hampir selalu jawaban saya ” OK. Sekitar jam 6an ya.”

Kalau dipikir-dipikir, waktu yang saya berikan bermain bersama Henokh sepulang kerja hanya sekitar 30 menit. Dimana setelah pulang dari lab sekitar jam 6 sore, saya langsung mengayuh sepeda menuju taman dan bermain bersama Henokh hingga jam 7.

30 menit yang berharga

Hal pertama yang sering saya lakukan ketika sudah sampai di taman adalah membunyikan bel sepeda sambil memanggil “Henokh…Henokh…” sambil menuju parkiran sepeda. Kebahagian yang utama adalah Henokh yang segera berlari kecil menuju parkiran sambil senyum atau teriak-teriak memanggil ” Papa…Papa..Papa”

Biasanya Maminya ditinggal atau dicuekin. Hal ini kadang bisa buat maminya cemburu. Hahaha

Hal yang biasa kami lakukan di taman adalah melihat gerombolan burung di udara yang terbang atau anjing yang sedang berjalan bersama dengan majikannya. Setelah sejenak berdiri menikmati suasana tersebut, lalu Henokh pun berlari menuju pelosotan favoritnya.

Taman bermain favorit Henokh karena dekat rumah.

Sambil dia berlari menuju ke pelosotan, maminya bercerita kalau Henokh sudah bisa naik tangga sendiri dan mau memilih pelosotan yang lebih tinggi. Selain itu, maminya biasanya menceritakan setiap perkembangan dan tingkah laku Henokh sepanjang hari. Tentu saja tidak lupa dengan kejailan-kejailan Henokh yang sering ngerjain maminya. Hahaha

Kami pun menemani Henokh bermain pelosotan atau sekedar naik turun wahana bermain lainnya. Dan tidak terasa langit mulai gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Terjatuh sewaktu mau mendaki salah satu wahana bermain.

30 menit adalah waktu yang singkat. Tinggal bagaimana memanfaatkannya dengan baik. Saya memilih menghabiskan 30 menit tersebut dengan keluarga kecil di Desa Tokai.

Henokh sedang unjuk kebolehan menaiki salah satu wahana bermain. (Dok. Pribadi)

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja. Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja.

Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Berdasarkan informasi ramalan cuaca tersebut, cuaca mendung akan menghiasi desa Tokai dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pergi dari pagi hingga siang hari. Kebetulan juga ada kegiatan lain yang harus dihadiri di sore harinya secara online.

Jalanan dari rumah menuju ke pantai cukup sepi sehingga kami bisa bersepeda dengan santai dan menikmati pemandangan sekitar. Sekitar 1 km sebelum pantai, kami harus menempuh jalan yang sedikit off road dan jalanan setapak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke pantai karena roda sepeda yang tidak bisa (tidak aman) melanjutkan perjalanan. Pilihan lainnya adalah kami harus memarkirkan sepeda dan berjalan kaki ke pantai. Pilihan ini tidak kami ambil mengingat waktu yang dibutuhkan akan lebih lama dan kami ada kegiatan lain di sore harinya.

Kami pun memutar balik arah sepeda kami hingga kami sadar kalau disekitar daerah tersbut adalah taman terbesar di Desa Tokai, ‘Akogigaura Park’.

Kami pun memutuskan untuk membawa Henokh bermain di taman tersebut. Hari ini adalah hari pertama bagi kami bertiga untuk bermain di taman tersebut.

MENAKJUBKAN…!!!!!

Tidak sabar kami mengayuh sepeda ke Akogigaura Park. Dari simpang jalan hingga ke arah taman bermain anak, kami disuguhi dengan pohon sakura yang akan sangat indah apabila dilalui pada saat bunga sakura sedang mekar-mekarnya. Hingga kami disuguhkan oleh taman bermain yang sangat menakjubkan untuk ukuran sebuah desa.

Ini adalah taman bermain terbesar dan terlengkap yang ada di Desa Tokai. Taman bermain ini bisa dinikmati dari anak usia 1 -12 tahun. Ada terdapat berbagai jenis permainan yang bisa dinikmati oleh anak sesuai usianya. Karena ini pertama kalinya kami datang ke taman ini, saya dan istri sampai tidak bisa berkata- kata melihat bagaimana Desa Tokai menyediakan berbagai fasilitas untuk warganya.

“Wajib datang ke taman Akogigaura lagi..!!!”

Henokh pun tidak sabar untuk segera turun dari sepeda dan setengah berlari menuju permainan favoritnya, “Pelosotan”. Dia berlari kesana kemari setelah mencoba beberapa permainan. Selain itu, sifat bersahabatnya di tunjukkan dengan menghampiri anak-anak yang seusianya atau diatasnya untuk diajak berkomunikasi atau bermain.

Saya dan istri pun tidak tahu bahasa apa yang dipakai Henokh ketika berbicara dengan anak bayi lainnya. Yang ada, kami melempar senyum kepada orangtua yang anaknya sedang diajak Henokh bermain.

Tidak terasa satu jam sudah terlewatkan karena menikmati beragam permainan di taman. Kami pun harus kembali pulang mengingat jam makan siang Henokh yang sudah lewat.

Membuat Memori

Bagi saya sendiri, hal sederhana seperti ini adalah momen dimana saya membuat memori menikmati kebersamaan bersama keluarga kecil di desa ini.

Akan jadi memori yang tidak akan terlupakan tentunya bagi saya dan istri. Sedangkan tulisan ini menjadi memori bagi Henokh nantinya ketika dia sudah besar bahwa banyak hal-hal seru yang dilalui bersama selama tinggal di Desa Tokai bersama kedua orangtuanya.

Foto sebagai pemanis

Berikut ini beberapa foto di taman bermain “Akogigaura Park”

Wahana bermain anak-anak. (Dok. pribadi)
Pelosotan adalah salah satu wahana favorit anak-anak.
Papan informasi wahana yang ada di Akogigaura Park.
Yuk baca tata tertib bermain di taman.

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda.

Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan tetapi, kami mengganti tujuan awal dari hanya sekedar berkeliling menjadi pergi ke kota Hitachinaka untuk melihat toko barang bekas yang cukup terkenal yaitu WonderREX. Kami sudah beberapa kali ke toko ini untuk mencari banyak barang mulai dari barang elektronik, perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak. Tetapi, hari ini adalah pertama kalinya kami berangkat kesana dengan sepeda.

Jalur dan Waktu Tempuh

Untuk menuju ke WonderREX di kota Hitachinaka, ada beberapa rute yang bisa ditempuh. Biasanya kami menggunakan rute 248 apabila kesana dengan menggunakan mobil. Dengan menggunakan rute ini, jarak dari rumah menuju WonderREX sekitar 10 km, dimana dengan menggunakan mobil dapat ditempuh sekitar 20 menit. Sedangkan dengan berjalan kaki dapat ditempuh sekitar 1.5 jam. Ini adalah rute tersingkat dan yang paling mudah dihapal jalannya.

Rute lainnya adalah menggunakan rute 31 ditambah rute yang melewati perumahan. Rute ini lebih lama dan terlalu banyak belokan-belokan. Ditambah lagi karena rute ini belum pernah kami lalui, maka kami tidak mau mengambil resiko.

Dengan pilihan rute yang ditawarakan oleh Google Map, maka untuk berangkat ke Kota Hitachinaka kami memutuskan menggunakan rute 248.

Persiapan

Kami akan menggunakan dua sepeda, dimana Laura dan Henokh akan berada di satu sepeda, sedangkan saya berada di sepeda yang satunya. Karena perjalanan ini menggunakan sepeda, tentunya tidak memungkinkan kami untuk membeli barang-barang yang besar dan memang pada dasarnya tujuan kesana hanya untuk sekedar mengecek barang.

Karena Henokh masih berusia satu tahun lebih sedikit, maka kami pun perlu mempersiapkan perlengkapan mulai dari popok, makan siang, cemilan, minum, hingga baju ganti. Sedangkan saya dan istri, mempersiapkan baju ganti karena kemungkinan besar akan berkeringat setelah 10 km bersepeda.

Berangkat

Sekitar pukul 10:30 JST, kami pun berangkat dan cuaca cukup mendukung (tidak panas dan tidak mendung). Tidak ada masalah berarti di 2 km pertama karena jalur ini adalah jalur yang sehari-hari saya gunakan menuju ke tempat kerja. Pada umumnya, kami bersepeda di jalur pedestrian tapi terkadang kami harus masuk ke jalur umum (mobil) karena jalur pedestriannya cukup sempit dan dipenuhi oleh ilalang sehingga tidak bisa dilalui dengan aman. Hal ini cukup wajar mengingat tidak banyak orang yang berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda yang melewati jalur 248 ini.

Rute berangkat melalui Jalur 284.

Setelah 30 menit bersepeda, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati minuman yang kami bawa. Henokh sangat menikmati perjalanan dengan menikmati pemandangan sawah dan ladang yang terhampar disepanjang jalan.

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju WonderREX di kota Hitachinaka. Menurut informasi dari Google Map, kami masih harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan lagi. Kali ini bukan hamparan sawah maupun ladang lagi yang kami temui, melainkan bangunan pertokoan, rumah, supermarket hingga perusahaan Hitachi. Dengan begitu artinya kami sudah masuk ke kota Hitachinaka. Dari Jalur 248 kami harus belok kanan ke jalur 169 karena WonderREX terletak di jalur 169. Pedestrian di jalur 169 jauh lebih luas dibandingkan jalur 248 sehingga membuat kami cukup nyaman dalam bersepeda.

Cuci Mata

Sesuai dengan rencana awal, tujuan ke WonderREX kali ini adalah sekedar cuci mata dan survey barang. Ternyata barang yang mau disurvey sedang tidak ada dijual. Karena kami datang di bulan Juni yang artinya sebentar lagi mau musim panas, maka banyak sekali dijual peralatan untuk berselancar dan sejenisnya.

Advertisements

Oiya, Kota Oarai yang hanya berjarak sekitar 15 km dari kota Hitachinaka terkenal dengan pantai dan ombaknya. Sehingga di musim panas, banyak sekali orang yang berkunjung ke kota Oarai”.

Karena tidak ada barang yang mau dicari, akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan siang di sekitar WonderREX. Pilihan utamanya jatuh ke Pizza Domino yang ada di seberang WonderREX. Ternyata, di tempat tersebut tidak bisa makan ditempat, hanya boleh pesan dan dibawa pulang (take out). Alhasil, kami harus mengganti pilihan tempat makan.

Makan Siang

Akhirnya kami memutuskan untuk bersepeda menuju persimpangan jalur 169 dan 248 karena tepat di pojok jalur tersebut terdapat McD. Tempat yang cukup apabila membawa anak bayi. Tentu saja, kami membawa makanan sendiri untuk Henokh karena belum banyak pilihan menu yang bisa dimakannya disini.

“Ketika kami berpergian jauh, biasanya kami membawa dua jenis makanan untuk Henokh: 1. Makanan yang dimasak sendiri dirumah. 2. Makanan instan untuk bayi yang bisa dibeli di supermarket maupun toko-toko perlengkapan bayi.”

Setelah selesai melepas lelah dan beristirahat sekitar satu jam di McD, kami pun berencana melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Tokai. Tapi, kami akan pulang dengan menggunakan rute yang berbeda. Hal ini karena mempertimbangkan jalur 248 yang mulai ramai menjelang sore hari serta jalur pedestriannya yang cukup sempit di beberapa tempat.

Rute Baru Penuh Kejutan

Rute yang kami tempuh lebih ribet karena akan melewati jalur-jalur kecil dan bukan jalur utama. Butuh waktu sekitar 1.5 jam apabila ditempuh dengan jalan kaki. Dari sini, kami mengasumsikan bahwa waktu tempuh dengan sepeda kurang lebih satu jam. Kami bersepeda dengan santai dan berhenti beberapa kali karena salah masuk jalan. Ada kalanya menemukan jalan buntu di dekat Stasiun Sawa, ada kalanya harus putar balik karena ada perbaikan atau pembukaan jalan baru, dan yang paling jackpot adalah menemukan ular di jalur pedestrian.

Rute perjalanan pulang melalui jalan “tikus”.

“Saat itu, istri sedang berada di posisi depan dan saya mengikuti di belakang. Tiba-tiba istri teriak, “Ularrrrr!!”

Di jalur yang baru pertama kali kami lalui ini, ternyata ada dua tempat dimana kami sangat terpukau akan suasana semacam komplek perumahan. Bukan seperti perumahan yang ada di Indonesia yang ada gerbang utama dan rumah yang seragam jenisnya. Ini hanya sebuah wilayah yang ditata sedemikian rupa sehingga rumah-rumah tersusun rapi tanpa pagar. Ini mengingatkan kami seperti daerah perumahan yang ada di sekitar tempat kami tinggal dulu (Miyamae-ku).

“Sepertinya akan jadi kandidat lokasi nih kalau masih lama tinggal di Jepang”, celetuk Laura sambil tetap mengayuh sepeda listriknya dengan santai.

Tidak jauh dari situ, kami sudah melihat bangunan yang tidak asing lagi dikunjungi oleh Henokh, Perpustakaan Desa Tokai. Wah, ternyata lokasi perumahan tersebut terletak di perbatasan antara kota Hitachinaka dan desa Tokai.

Bermain di Taman

Sepanjang perjalanan pulang, ternyata Henokh tidur dengan lelap di sepeda karena memang angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan lembut. Sebelum ke rumah, kami memutuskan untuk bermain di taman karena Henokh baru saja bangun dari tidurnya. Seperti biasanya, “Taman Yoku” (nama yang kami berikan untuk taman tersebut) di hari Sabtu cukup ramai dengan anak-anak yang sedang bermain dengan orangtuanya. Dan seperti biasanya juga, Henokh pun langsung bersemangat begitu turun dari sepeda dan segera berlari menuju tempat perosotan anak.

Sabtu Ceria

Begitulah cerita kami menghabiskan waktu bersama di hari Sabtu. Kadang kami bermain diluar, terkadang juga hanya dirumah saja. Hari Sabtu adalah salah satu hari dimana kami berusaha membuat banyak memori indah untuk kami bertiga.

Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi … Continue reading “Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

Pengalaman Maternity Photo Gratis di Jepang.

Sejak kehamilan istri, kami sudah berencana akan melakukan maternity photo untuk mendokumentasikan momen bahagia ini. Pihak Rumah Sakit sendiri sudah menawarkan beberapa studio photo untuk hal tersebut.

Ada beberapa pilihan dengan variasi harga yang berbeda beda. Saat itu harga termurahnya sekitar ¥20.000 belum termasuk make-up dan pakaian. Gak perlu lagi lah ya dijelaskan untuk harga termahalnya. Lah, dengan harga ¥20.000 saja kami masih mikir-mikir. Hahaha

Ada sekitar dua bulan kami memikirkan apakah harus ambil maternity shoot di studio atau tidak. Lumayan uangnya bisa dipakai buat beli perlengkapan bayi.


Ini bukan pertama kalinya peristiwa kelamaan mikir. Bisa dibaca disini juga salah satu kisah akibat kelamaan mikir. Celotehan suami istri: #6.Bingung pilih stroller bayi.


Hingga akhirnya kami memperoleh informasi kalau STUDIO ALICE menyediakan jasa maternity photo dengan harga terjangkau. Akhirnya, kami pun pergi ke Studio Alice yang terletak disalah satu pusat perbelanjaan di kota Hitachinaka, Fashion Cruise.

Saya lupa untuk harga pastinya, tapi pada saat itu harganya kurang dari ¥ 5.000. Dengan biaya segitu kami bisa menerima 1 buah foto beserta bingkainya saja. Kalau mau file dalam bentuk CD akan ada tambahan biaya lagi. Sedangkan kalau mau mencetak lebih dari 1 foto tentunya akan ada biaya tambahan. Harga tersebut sudah termasuk biaya pakaian. Sedangkan, untuk make up silahkan dilakukan sendiri atau ke salon.

Setelah mengetahui info tersebut, kami pun langsung melakukan pemesanan untuk hari Senin jam 3 sore.

Hari Senin di Bulan Feb 2019

Kami memutuskan untuk datang lebih cepat dengan tujuan mengunjungi toko bayi (Akachan Honpo) yang ada di sebelah studio foto ini terlebih dahulu.

Di Akachan, kami hanya membeli beberapa perlengkapan bayi. Sewaktu kami mau bayar, salah satu petugasnya menawarkan membuat member card. Biaya pembuatan member card ini GRATIS.

Selain itu, hari itu ada promo menarik dimana untuk belanja diatas ¥ 3.000 akan memperoleh KUPON photo di STUDIO ALICE. 

Karena pada saat itu belanjaan kami sekitar ¥ 3.000, akhirnya kami memperoleh kupon tersebut. Ketika kami menunjukkan kupon tersebut ke Studio Alice, ternyata harga kupon tersebut sama dengan biaya photo untuk paket maternity photo yang kami pesan. Dengan kata lain, hari itu biaya maternity photonya GRATIS.

img_7949
Maternity Photo di Studio Alice. (Feb. 2019)

“Memang kalau rezeki itu nggak kemana ya larinya.”

Celotehan Suami Istri (CSI): #8. Suamiku (sok) Jagoan

Puji Tuhan. Akhirnya malam itu Henokh lahir dengan selamat.

Laura pun dalam keadaan sehat walaupun beberapa jam sebelumnya teriakan demi teriakannya memecah keheningan malam di ruang bersalin.

Di RS ini, bayi yang baru lahir ditaruh di ruangan khusus dengan tujuan memberikan kesempatan kepada para ibu untuk beristirahat. Para susterlah yang menjaga bayi-bayi yang baru lahir tersebut.

Setelah semuanya dibersihkan, saatnya saya dan Laura kembali ke kamar dan Henokh ke ruangan bayi bersama teman seangkatannya.

“Henokh adalah bayi terakhir yang lahir di hari itu.” 

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L&I : Terimakasih banyak atas bantuannya suster. Maaf sudah banyak merepotkan.

S: Iya, sama-sama. Ini pertama kalinya saya membantu lahiran orang Indonesia. Oiya, nanti kalau mau buang air kecil jangan lupa panggil suster jaga ya.

L&I: Ok Suster


Setelah itu, saya dan Laura pun kembali ke kamar. Laura masih dibantu oleh alat sejenis infus yang harus dibawa-bawa kemana pun dia pergi. Termasuk ke toilet. Mungkin ini kali ya alasan susternya harus dipanggil buat membantu.


Suasana dikamar pun berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Saat ini, suasana hati Laura sudah senang dan ceria. Saya pun sudah bisa rebahan di sofa sambil pegang HP.

L: Senang kali aku, udah lahir Henokh kita.

I: Iyaa, gak nyangka yaa bisa lahir di hari ini. Jadi nambah lah ya biaya karena lahiran di hari Minggu.. Hahaha


Ada tambahan biaya kalau lahiran di hari Minggu dan hari libur. Hal ini sudah dijelaskan diawal sewaktu memutuskan menggunakan jasa RS ini.


L: Kenapa itu pulak lah yang bapaknya ini pikirkan..Ckckkckc.. Aku mau buang air kecil.

I : Yaudah, perlu panggil suster? Atau bisa sendiri?

L: Kucoba dulu sendiri lahh..(sambil berusaha turun dari tempat tidur). Aduhh, gak bisa ini banyak kali infus disini. Panggil suster aja.

I: Hemmmmm.. Sambil menekan tombol yang ada disamping ranjang. 

Tidak sampai semenit, akhirnya suster sudah di kamar.

S: ..(mau ngeluarin hp untuk mengetik sesuatu)

I:..(waduh bisa lama ini kalau nunggu dia ngetik dulu) Suster, Laura mau ke toilet. Tolong bantuin yaa.

S: Ok. Kamu tunggu disini aja ya.

I: Ehh, Gpp suster. Saya bantuin bawa alat infus ini aja. Gpp kok. Tenang aja suster.

L: Yakin kau mau ikut? Kuat gak nanti. Kemungkinan masih ada da**h loh.. Ntar pingsan pulak.

I: Gpp lohhh.. Daripada kau ribet sambil pegangin itu infus. Sini aku aja yang bawa itu alatnya.

S: Tolong ambilkan itu (sambil menunjuk semacam tisu basah khusus buat ibu yang baru melahirkan).

Suster pun membantu istri di toilet sedangkan saya menunggu di depan pintu.

I: Waduuhhhh.. banyak kali da**hnya.. gpp itu?

S: Iya gpp. Wajar aja.

I: Sayang, pusing kepala ku. Lemas udah tanganku. Suster, pegangin ya alat ini. Saya mau duduk di sofa.

L: Hemmmmm bandal.. Udah lah tadi kubilang gk usah. Sok jago kau mau bantuin. Udah duduk aja sana. Itu makan bento tadi siang biar ada tenagamu. Awas sampai pingsan! Repot aku nanti ngurusinnya.

I: …(muka pucat sambil berusaha duduk ke sofa)

 

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster.

Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya.

“Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. Sayang kalau dibuang.” Begitulah ujar salah seorang susternya.

Sudah dua jam kami di dalam ruang bersalin. Saat itu hanya ada saya, istri dan suster.

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L: Lama kali ini prosesnya, kalau belum keluar bisa ditunda aja besok? Terjemahin itu ke susternya.

I: Ok.. (terus ngomong ke suster seperti yang disampaikan istri).

S: Heeeee..(muka bingung dan kaget orang Jepang).. Gak bisa ditunda besok. Harus hari ini. Sudah kelihatan kok.

I: Ok. (sambil menjelaskan lagi ke istri)

S: Sekali lagi yaa…PUSHHHHHH!!!!

L: Haiiikkk… (sekuat tenaga mengikuti instruksi suster).

I: (menahan sakitnya tangan yang dicengkram istri)

L: Udah kupush.. Udah keluar belum?

S: Belum… Lebih kuat lagi.

L: Mau sekuat apa lagi kupush. Udah mau mati aku mengpushnya.

I: perlu kuterjemahkan yang ini ke suster?

L: Gak Perlu..!!! Tanyakan dulu bisa pakai penahan rasa sakit ?

I: Suster, boleh dikasih penahan rasa sakit?

S: Gak Boleh. Sealami mungkin yaaa.

I: (menjelaskan ke istri) gak boleh katanya. Sealami mungkin.

L: OMG… udah gak kuat aku. Ambil dulu minum itu.


Melihat pembicaraan dan ekspresi laura yang sudah mulai kelelahan, akhirnya suster mengambil HP dan menuliskan sesuatu.

“Oiya, susternya tidak bisa bahasa inggris atau indonesia jadi kalau berkomunikasi dengan kami menggunakan google translate atau sejenisnya”


Cukup lama saya perhatikan suster itu mengetik di HPnya. Mungkin sesuatu yang sangat penting untuk dijelaskan. Makanya, harus pakai google translate biar tidak salah.

Setelah selesai mengetik, akhirnya HP itu diperlihatkan ke Laura.

Saya yang melihat tulisan itu pun cukup kaget dibuatnya.

 

Sedikit lagi, Semangat!!!

Yaa ampun mbak eee, kalau itu aja yang mau dijelaskan, saya dan istri masih paham loh kalau diomongin pakai bahasa Jepang.😂😂


Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Celotehan suami istri: #6.Bingung pilih stroller bayi.

Hampir semua orang yang punya bayi di Jepang pasti mempunyai stroller (kereta bayi). Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas perjalanan yang pada umumnya menggunakan transportasi umum.

Sewaktu kami tinggal di Tokyo, sering sekali melihat orang tua membawa bayinya menggunakan stroller entah itu berbelanja di supermarket, bermain di taman, serta aktivitas lainnya yang menggunakan kereta. Sering juga melihat ibu-ibu membawa bayi dengan stroller menikmati pemandangan di dalam kampus.

Menjelang kelahiran Henohk, kami pun sudah memutuskan untuk membeli stroller. Kami sudah membayangkan jalan-jalan menikmati taman di desa Tokai sambil Henokh duduk di dalam strollernya.

Yang menjadi persoalan adalah mau pilih stroller yang bagaimana?

Laura (L), Irwan (I)

Desember 2018

I: Sabtu ini kita ke Akachan (salah satu toko bayi) lihat stroller?

L: Ntar aja lah, aku cari-cari di Amazon dulu. Mau cek-cek harga dulu sama jenis-jenisnya.

I: Yowes. Kabarin kalau udah dapat. Berapa budget mu kesana?

L: Kalau bisa murah, bagus, tahan lama, kokoh. Ya gitu dehhh kriterianya. Kriteria mamak-mamak lah yaa..

I: Aku pengen yang AirBuggy. Waktu kita kemarin ke AEON langsung suka bentuknya dan sepertinya cukup kokoh.

L: Busett, bukannya itu lumayan mahal ya. Ntar dulu lah kucari di Amazon dulu.

Februari 2019

I: Oiii, gimana nasib stroller ini? Bulan depan Henokh udah mau lahir loh?

L: Sabar lohhh… ini masih cari-cari lohh..

I: Busetttt, sampai kapan mau kau cek? Nunggu Henokh besar dulu baru dibeli itu strollernya?

L: Iya lohhh.. Sabtu ini kita ke Akachan sama AEON yuk. Ada yang udah kucari di amazon, jadi mau lihat barangnya dulu.


Hari Sabtu itu, kita pun pergi ke Akachan untuk melihat-lihat stroller bayinya. Kebetulan disana ada juga di jual stroller AirBuggy yang saya incar. Sedangkan istri, masih tetap galau mau beli yang mana karena model yang dilihat di Amazon tidak ada di toko.

Karena istri masih galau, maka kami pun menunda membelinya saat itu.


Maret 2019

Henokh pun sudah lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat. Tapi, stroller buat Henokh belum ada karena Mami Henokh kelamaan mikir.

I: Tuhh, udah seminggu sejak Henokh lahir loh. Stroller pun belum jadi dibeli.

L: Hahahah.. Iya lohhhh.. Sabarr..

I: Udah sabar kali pun aku nunggu kau. Udah dari Henokh di dalam perut loh sampai udah lahir loh. Ini aja persoalan kita yang belum terselesaikan.

L: Bulan depan lah kita cek-cek lagi ke toko.

I: Sabtu aja kita ke toko, sekalian beli perlengkapan Henokh.


Hari Sabtunya di Akachan. Istri sedang mencari-cari baju untuk Henokh, sedangkan saya menuju ke bagian stroller.


I: Udah kubeli AirBuggynya. Kelamaan kalau nunggu kau mikir. Hari Selasa di kirim karena warna yang kupesan gak ada disini.

L: Lohhhh, udah dibeli? Mahal lohh..

I: Yaudah, itu hadiah ku buat Henokh..

L: Berarti gak potong uang belanja yaa..

I: Hemmmm..

L: Gitu donk.. Coba bilang dari dulu, udah dari dulu kita beli..Tapi, hadiah buatku manalah??Henokh dikasih, mana buat ku?

I: ……