Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang

Selama tinggal di Jepang, gempa bumi adalah salah satu hal yang paling sering terjadi dan paling sering dirasakan sepanjang tahun. Mulai dari gempa bumi yang skala kecil hingga cukup besar.

Salah satu pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan adalah gempa bumi yang terjadi disore hari sekitar bulan Oktober 2012.

Oktober 2012

Saya baru saja memasuki tahun ajaran baru sebagai mahasiswa program Master di Tokyo Institute of Technology pada bulan Oktober 2012. Artinya, saya baru tinggal di Jepang kurang dari satu bulan. Sore itu, setelah menyelesaikan perkuliahan di kelas yang cukup padat, saya memutuskan untuk langsung pulang ke asrama.

Kondisi asrama pada sore hari biasanya sangat sepi karena pada umumnya para penghuni baru kembali ke asrama pada malam hari.

Sesampainya di asrama, saya memutuskan untuk tiduran sejenak dikamar yang terletak di lantai 3. Tidak lama setelahnya, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang cukup besar (menurut saya) dan berlangsung lumayan lama.

Gempa bumi, sendirian di kamar, asrama sepi, berakibat terciptanya kepanikan sendiri. Tidak tahu prosedur apa yang harus dilakukan.

Hal yang pertama saya lakukan adalah keluar ke beranda untuk melihat keadaan diluar. Ternyata tidak ada orang yang berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Hal ini sangat berbeda dengan pengalaman yang saya rasakan ketika terjadi gempa di Indonesia. Tetangga-tetangga yang ada disekitar rumah biasanya pada keluar rumah dan berkumpul dan berlanjut ngobrol dengan tetangga hingga keadaan dirasa cukup aman untuk kembali masuk ke rumah.

Advertisements

Emergency Drill (Latihan Tanggap Darurat)

Salah satu kegiatan rutin Tokyo Institute of Technology adalah mengadakan Emergency Drill yang dilaksanakan sekitar pertengahan bulan November setiap tahunnya.

Kalau tidak salah ingat, biasanya dari pihak universitas akan memberikan informasi mengenai Emergency Drill melalui email. Salah satu informasinya berupa peta kampus beserta titik-titik perkumpulan yang ada disekitar kampus.

Latihan tanggap darurat (Emergency Drill) biasanya dilaksanakan sekitar pukul 11:00 – 12:00 JST.

Bunyi Alarm

Latihan tanggap darurat diawali oleh bunyi alarm selama kurang dari satu menit. Bunyi alarm ini menandakan telah terjadi gempa.

Hal yang harus dilakukan pertama kali adalah Berlindung di bawah meja kerja masing-masing bagi mereka yang sedang berada di ruangan kerja dan kelas.

Intinya adalah mencari tempat perlindungan dan sebisa mungkin terhindar dari benda-benda yang bisa menimpa kita.

Pakai Helm

Setelah berlindung di bawah meja selama kurang lebih 1 menit (asumsi gempa sudah berhenti), selanjutnya kita harus keluar dari gedung menuju titik perkumpulan. Penggunaan Helm Pelindung adalah WAJIB sebelum meninggalkan ruangan.

Sepertinya helm pelindung ini disediakan oleh pihak universitas dan telah dibagikan kepada masing-masing lab. Saya berasumsi demikian karena setiap anggota lab mempunyai helm masing-masing.

Matikan gas, listrik dan air

Hal yang dilakukan setelah memakai helm dan hendak keluar dari ruangan adalah memastikan seluruh aliran listrik, gas, dan air di dalam ruangan tersebut telah dipadamkan.

Pintu Darurat

Bagi mereka yang berada di lantai 2, 3, dan seterusnya, silahkan keluar dari gedung dengan menggunakan tangga. Dilarang menggunakan lift dalam kondisi seperti ini.

Absensi

Silahkan berkumpul dengan grup atau lab masing-masing sehingga memudahkan untuk mendata apakah seluruh anggota lab telah keluar dari gedung.

Setelah semuanya berkumpul di titik kumpul maka dilakukan beberapa kegiatan lainnya seperti:

  1. Latihan evakuasi korban yang mungkin terkena reruntuhan, jatuh, dan sebagainya.
  2. Latihan menggunakan APAR (alat pemadam api ringan).
  3. Latihan menghubungi pihak berwajib (pemadam kebakaran) dan memberitahukan lokasi gedung terjadinya kebakaran.

Latihan tanggap darurat yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini membuat bangsa Jepang lebih siap menghadapi kondisi bencana dengan lebih tenang.

Advertisements

Latihan dengan Keluarga

Latihan tanggap darurat ini pada umumnya dilakukan di sekolah maupun tempat kerja. Lalu, bagaimana dengan istri yang sehari-hari di rumah? Pada umumnya, kantor desa akan memberikan dokumen “Living In Tokai”. Buku ini berisi tentang panduan hidup yang membahas mulai dari A hingga Z. Didalamnya tentu ada panduan menghadapi bencana alam seperti gempa.

Selain dari itu, kami juga memperoleh Peta Desa Tokai ukuran A1. Peta ini kami tempelkan di salah satu dinding di rumah dengan tujuan untuk mengetahui lokasi rumah, kantor, dan tempat perlindungan (evacuation assembly point).

Saya dan istri berulang kali saling mengingatkan apabila terjadi bencana sewaktu jam kerja dan ada instruksi untuk evakuasi maka kami setidaknya sudah tahu dimana titik evakuasi terdekat maupun sekitarnya.

Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Sebelumnya di: Ada apa dengan Cesium-137??? Pada tulisan tersebut saya menuliskan “Reaksi fisi nuklir terjadi di dalam reaktor nuklir”. Pendahuluan Mungkin sudah banyak dari kita yang sering melihat baik melalui film, berita, maupun media massa gambar-gambar yang berhubungan dengan nuklir khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Nah, ada yang menarik perhatian saya selama ini. Dari gambar-gambar … Continue reading “Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang. Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah. Gambaran singkat yang … Continue reading “Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)”

Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Bagi setiap pasangan suami istri, kehamilan pertama tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Mulai dari rasa senang, bahagia, khawatir, dll semua bercampur aduk. Kalau di Indonesia, mungkin lebih sederhana karena tinggal datang ke rumah sakit, diperiksa dan bagi mereka pemegang asuransi BPJS atau asuransi dari kantor akan memperoleh bantuan keringanan biaya atau bahkan biaya ditanggung penuh oleh … Continue reading “Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.”

Dilema Musim Panas di Negeri Sakura

Sebagai orang Indonesia yang negaranya terletak di daerah tropis, suhu udara dengan rata-rata diatas 30 derajat Celcius adalah hal yang biasa dialami sepanjang tahun. Berdasarkan hal inilah, saya awalnya menganggap kalau musim panas di negeri Jepang adalah suatu hal yang biasa saja. Hingga akhirnya saya merasakan sendiri musim panas di Jepang sejak tahun 2013 hingga saat ini.

Musim panas di Jepang (Tokyo dan sekitarnya) biasanya datang sesaat setelah selesai musim hujan. Pada umumnya mulai dari bulan Juli hingga akhir Agustus atau awal September. Anehnya, saya merasa musim panas tahun 2020 baru mulai awal Agustus ini.

Ada beberapa hal yang menarik bagi saya selama menjalani musim panas di Jepang.

1. Anggapan orang Indonesia tahan udara panas.

Insting bertahan hidup saya akan muncul begitu musim panas mulai datang yaitu menyalakan AC dan mengatur suhu di angka 23- 25 derajat Celcius. Ketika bekerja di Indonesia, bahkan suhu ruangan di kantor bisa diangka 20 derajat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan dari beberapa teman Jepang

TJ : Loh, Indonesia bukannya negara tropis dan suhu udaranya diatas 30 derajat ya?

I: Betul sekali, suhu di luar diatas 30an tapi di ruangan biasa kita nyalakan AC dengan suhu sekitar 23 derajat. Bahkan saya kalau tidur suhu AC nya diatur ke 19 derajat.

TJ: Hahhhh??? (Kaget dan Heran)

2. Hemat listrik

Salah satu budaya yang membuat saya salut dari negara ini adalah hemat listrik. Pada tahun 2013 ketika saya bersekolah di Tokyo Institute of Technology, akan ada terdengar bunyi alarm apabila konsumsi listrik melebihi batas maksimum. Ketika alarm ini berbunyi, maka wajib mematikan perangkat elektronik salah satunya AC selama 1 jam. Berdasarkan informasi yang saya terima, saat itu Jepang sedang berusaha mencukupkan kebutuhan listriknya setelah semua PLTN di non-aktifkan akibat peristiwa Fukushima.

Di tempat saya bekerja dan mungkin di kantor-kantor lainnya, akan ada stiker di sekitar AC yang menunjukkan batas minimum dan maksimum penggunaan suhu AC pada musim panas maupun musim dingin.

Terkadang perlu tambahan kipas angin disekitar anda untuk membuat daerah anda bekerja lebih nyaman karena suhu AC yang digunakan tidak cukup untuk mendinginkan ruangan tersebut.

3. Kelembapan Udara Tinggi

Tingkat kelembapan udara sewaktu musim panas di Tokyo sangatlah tinggi. Hal ini membuat udara terasa gerah (sumuk). Saya adalah tipekal orang yang mudah berkeringat, sehingga berjalan dari lab ke kantin yang berjarak 300 meter saja bisa membuat baju basah kuyup. Pakaian ganti, deodoran, alat mandi dan parfum adalah hal wajib yang selalu dibawa di dalam tas atau disimpan di loker kerja selama musim panas.

4. Aroma keringat di dalam kereta

Salah satu tanda dimulainya musim panas adalah aroma keringat yang sangat kuat terasa di dalam kereta. Aroma ini bisa dirasakan di dalam kereta terutama pada jam-jam sibuk. Bagi anda yang tidak kuat dengan aroma kuat dan menyengat, silahkan mempersiapkan diri dengan hal-hal yang dapat membantu menikmati perjalanan anda selama berada di dalam kereta.

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab. Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”. 08.00 JST Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe Jam kerja yang … Continue reading “Kerjaan seorang peneliti nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)

Bagi saya, pengalaman menulis karya ilmiah yang hendak dipublikasikan di Jurnal Internasional masih terbilang cukup baru. Pengalaman pertama ini dimulai sekitar tahun 2015 dimana saya publikasi di jurnal internasional menjadi salah satu syarat kelulusan program studi S3. Proses menulis sebuah karya ilmiah ternyata cukup mengasyikkan. Di tempat kerja saat ini pun, kita diwajibkan untuk menghasilkan karya tulis yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Seperti yang saya tuliskan pada cerita sebelumnya*, bahwa salah satu strategi untuk bisa lulus tepat waktu pada saat mengambil program S3 adalah memahami proses dan alur mulai dari pendaftaran karya ilmiah di jurnal internasional hingga tahap publikasi.

*Tulisan sebelumnya: https://www.travelingajadulu.com/asia/jepang/beasiswa-s3-di-jepang/

Proses inilah yang sering saya ungkapan sebagai salah satu faktor external dalam menentukan seseorang dapat lulus tepat waktu atau tidak.

Puji Tuhan di tahun 2020, baru saja salah satu tulisan saya diterima di salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Saya akan berusaha menjabarkan proses yang harus dilalui hingga waktu yang dibutuhkan mulai saat menulis draf, mendaftar, review, diterima dan dipublikasikan.

1. Menulis karya ilmiah.

Saya memulai menulis draft sekitar bulan November 2019. Setelah selesai menulis, draft tersebut harus saya berikan terlebih dahulu kepada para co-author untuk diperiksa. Proses revisi yang berasal dari para co-author ini memakan waktu hingga bulan Februari 2020. Cukup lama yaa.. Hehe.

Berdasarakan catatan saya, draft tulisan saya direvisi hingga 11 kali. Haha

2. Pendaftaran ke Jurnal Internasional.

Saya mendaftarkan tulisan saya sekitar pertengahan Maret 2020 ke salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Ada beberapa dokumen yang perlu diupload ketika hendak mendaftar, yaitu: tulisan ilmiah (manuscript), cover letter, highlights, dll.

Advertisements

Setelah proses pendaftaran selesai, maka kita akan menerima email konfirmasi. Selain itu, di email tersebut akan diberikan link untuk melihat status tulisan yang kita daftarkan.

Sebelum mendaftarkan, ada baiknya tulisan kita sudah dicek terlebih dahulu oleh Native English Speaker.

3. Durasi review

Setiap jurnal memiliki proses review yang berbeda-beda khususnya untuk durasi waktu. Ada yang cepat dan ada yang lama dalam proses review ini. Saya sendiri tidak tahu waktu pastinya, biasanya saya memberikan waktu dua bulan untuk proses review tersebut. Artinya, saya akan bertanya melalui email ke editor apabila tidak ada kabar terbaru mengenai perkembangan tulisan saya setelah dua bulan. Akan tetapi, ada kalanya belum sampai dua bulan sudah ada balasan mengenai status tulisan saya (berdasarkan pengalaman pada tulisan-tulisan ilmiah sebelumnya).

Oleh karena itu, sangat penting untuk diketahui dengan baik aturan main tempat dimana kita akan mendaftarkan tulisan tesebut.

4. Durasi revisi

Pada tanggal 25 Mei 2020, akhirnya saya menerima email dari editor bahwa tulisan saya sudah direview oleh beberapa reviewer dan terdapat beberapa komentar dan saran dari baik itu dari reviewer maupun editor. Dari komentar-komentar tersebut, editor meyimpulkan bahwa tulisan saya masuk dalam katagori “Revisi Minor”. Saya diberikan waktu sekitar dua bulan untuk menjawab pertanyaan para reviewer serta merevisi tulisan tersebut.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, waktu dua bulan tersebut terkadang belum cukup. Apabila terjadi kondisi seperti ini, silahkan menghubungi editor melalui email untuk meminta perpanjangan waktu.

Salah satu tahapan yang dilalui saat hendak melakukan publikasi di jurnal internasional

5. Pengumpulan revisi

Setelah selesai merevisi tulisan tersebut, maka pada tanggal 12 Juni 2020 saya mengumpulkan kembali tulisan yang sudah direvisi. Biasanya, satu atau dua hari selanjutnya akan ada email konfirmasi yang menyatakan “Editor Handle your revised submission of xxxxxxxxxx”

6. Status Akhir

Pada tanggal 19 Juni 2020, saya mendapatkan email pemberitahuan bahwa tulisan saya sudah DITERIMA dan akan diproses untuk diterbitkan.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan setelah pengumpulan revisi pertama akan ada revisi kedua. Pengalaman lain yang pernah saya alamai adalah memperoleh “Major Revision” setelah saya mengumpulan hasil revisi pertama. Padahal status yang saya peroleh pada revisi pertama adalah “Minor Revision”. Meskipun pada akhirnya tulisan itu bisa dipublikasikan setelah melalui dua kali revisi oleh reviewer. Kondisi seperti ini tentunya akan memperpanjang proses penilian dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman ini, butuh waktu sekitar 7 bulan mulai dari proses penulisan hingga diterima di jurnal internasional. Untuk proses mulai dari pendaftaran hingga diterima di jurnal internasional sendiri membutuhkan sekitar 3 bulan. Perlu diperhatikan bahwa 3 bulan yang saya peroleh disini sangat tergantung pada komentar dan saran dari para reviewer.

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Bagi banyak orang, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri. Tidak hanya pengalaman, namum gaji yang lebih besar bisa jadi daya tarik utama ketika memutuskan bekerja di luar negeri. Ketika saya pulang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang, baik saudara maupun teman yang ingin bekerja di Jepang. Kebanyakan karena diimingi gaji hingga belasan juta … Continue reading “Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!”

Pengalaman Ngekost di Pulau Buatan ‘Odaiba’ Jepang.

Abstrak

Salah satu asrama mahasiswa yang tersedia bagi mahasiswa asing khususnya kampus Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech) adalah Tokyo International Exchange Center (TIEC) yang terletak di Odaiba, Tokyo. Tinggal di Odaiba yang merupakan salah satu pulau buatan di Tokyo dan terkenal sebagai salah satu tempat wisata tentunya mempunyai daya tarik tersendiri. Tulisan ini akan membagikan kisah pengalaman selama tinggal di Odaiba dari segi kelebihan maupun kekurangannya.

Kata kunci: Asrama TIEC, Odaiba, Berbagi pengalaman.

Pendahuluan

Salah satu kebutuhan bagi mahasiswa asing yang belajar di Jepang adalah tempat tinggal. Ada banyak universitas yang menyediakan tempat tinggal bagi para mahasiswa baik itu mahasiswa Jepang maupun mahasiswa asing. Khususnya untuk mahasiswa asing di Tokyo Tech, pihak universitas menyediakan beberapa lokasi asrama yang bisa ditempati bagi mahasiswa baru khususnya mahasiswa asing. Akan tetapi, beberapa asrama pada umumnya hanya bisa ditempati selama satu tahun saja. Hal ini tentunya membuat mahasiswa harus mencari tempat tinggal yang baru di tahun berikutnya.

Selain asrama, tentu mahasiswa bisa mencari kost-kostan (atau biasa disebut apato dalam Bahasa Jepang) yang banyak tersedia di sekitar kampus. Akan tetapi, biaya awal yang dikeluarkan untuk menyewa sebuah kamar kost tergolong cukup tinggi. Sebagai gambaran, uang awal yang dibutuhkan untuk menempati kos-kosan di Jepang adalah sekitar 3-5 kali dari harga sewa bulanan.


Salah satu cerita yang membahas tentang biaya tinggal di Tokyo: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga


Nah, dilema ini tentunya akan membuat sebagian mahasiswa berpikir apakah ada pilihan untuk tinggal di asrama dengan jangka waktu lebih dari satu tahun? Bagaimana dengan yang berkeluarga, adakah asrama buat mahasiswa yang membawa serta keluarganya? Jawabannya, ADA. Tokyo International Exchange Center (TIEC) adalah salah satu asrama yang menyediakan tempat tinggal baik untuk mahasiswa single maupun yang berkeluarga.

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman secara lengkap selama tinggal di TIEC. Dengan pengalaman ini, tentunya bisa memberikan gambaran sebelum memutuskan apakah tinggal di TIEC atau memilih untuk ngekost.

Tokyo International Exchange Center (TIEC)

TIEC adalah asrama mahasiswa ini dikelola oleh Japan Student Service Organization (JASSO). Mahasiswa asing yang kuliah di Tokyo Tech adalah satu dari beberapa universitas yang bisa mendaftarkan diri untuk bisa tinggal di TIEC. Asrama ini berlokasi di Odaiba, salah satu pulau buatan di Tokyo, yang dapat diakses menggunakan monorel “Yurikamome” line ataupun subway “Rinkai” line.

TIEC menyediakan empat buah gedung yaitu Gedung A, B, C, dan D. Masing-masing gedung mempunyai karakteristik tersendiri.

Gedung A dan B, dikhususkan bagi mahasiswa asing yang berstatus single. Sedangkan Gedung C dan D khusus bagi mereka yang sudah berkeluarga.

IMG_9511
Terlihat Gunung Fuji dari beranda kamar.

Fasilitas yang ditawarkan TIEC

Setiap gedung mempunyai fasilitas yang berbeda beda dan tentunya semakin lengkap akan berpengaruh terhadap harga sewa per bulannya. Selain itu, ada juga fasilitas umum yang bisa dinikmati oleh setiap penghuni asrama TIEC.

Berikut ini beberapa fasilitas umum yang ditawarkan kepada semua penghuni:

  • Gymnasium dan Training Room. Di gymnasium terdapat lapangan basket, badminton, futsal, hingga tennis meja. Semua fasilitas tersebut bisa digunakan secara gratis tetapi harus mendaftar ke bagian administrasi sebelum menggunakannya. Sedangkan untuk Traning Room sendiri sudah dilengkapi berbagai macam alat kebugaran seperti yang terdapat di fitness center pada umumnya. Untuk training room, bisa digunakan secara langsung tanpa melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Kedua fasilitas ini terdapat di gedung ‘Plaza Heisei’ yang mana dilengkapi pula oleh shower room. Sehingga sehabis berolahraga bisa langsung bersih-bersih di kamar mandi.
  • Ruang Rapat dan SeminarSalah satu aktifitas yang diselenggarakan oleh pihak pengurus TIEC adalah seminar yang dibawakan oleh penghuni TIEC. Karena penghuni asrama berasal dari latar belakang jurusan dan ilmu yang berbeda beda, maka mengikuti seminar santai mengenai penelitian yang dikerjakan oleh salah satu penghuni asrama menjadi salah satu pilihan mengisi waktu kosong di hari Sabtu.
  • Minimarket (konbini). Salah satu hal yang menyenangkan di TIEC adalah tersedianya konbini yang berada di lingkungan TIEC dan beroperasi 24 jam setiap hari. Hal ini memudahkan apabila tengah malam terasa lapar dan tidak ada makanan di dalam kamar. Konbini ini terletak di dekat Gedung B.
  • Studio musik. Bagi mereka yang suka bermain musik seperti piano atau mau ngeband, terdapat studio musik yang dibisa digunakan secara gratis. Studio ini terdapat di lantai dasar Gedung B.
  • Parkir Sepeda hingga Mobil. TIEC juga menyediakan fasilitas parkir untuk sepeda secara gratis sedangkan untuk mobil atau sepeda motor dikenakan biaya bulanan. Tapi tenang saja, biaya parkirnya jauh lebih murah dibandingkan tempat parkir pada umumnya yang ada di Tokyo.

Selanjutnya, mari kita bedah tipe kamar dan fasilitas yang terdapat didalamnya untuk setiap gedung.

  • Gedung A. Tipe kamar yang ada di Gedung A adalah tipe studio dengan luas sekitar 20 m2 dengan tipe ruangan western style (bukan menggunakan lantai tatami). Fasilitas yang tersedia di dalam kamar: kamar mandi, toilet, microwave, AC, tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi belajar beserta rak buku yang besar, dan telepon. Tidak semua kamar mandi dalam di Gedung A mempunyai bathtub. Fasilitas umum yang tersedia di setiap lantai: dapur, ruang diskusi dilengkapi dengan TV, coin laundry, vacuum cleaner.
  • Gedung B. Tipe kamar yang ada di Gedung B adalah tipe studio dengan luas 30 m2. Fasilitas yang tersedia di dalam kamar hampir sama dengan yang ada di Gedung A, bedanya mesin cuci dan dapur terdapat disetiap kamar. Tidak semua kamar mandi di Gedung B mempunyai bathtub. Dapur yang ada di dalam kamar menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung C. Gedung C menawarkan ruangan dengan luas 80 m2 atau 2LDK (2 kamar, 1 living room, 1 dining room, dan 1 kitchen). Fasilitas yang terdapat di dalam ruangan adalah: kamar mandi dalam, toilet, rak buku, kulkas, AC, telepon, mesin cuci, ruang belajar, dll. Tidak semua kamar mandi di Gedung C mempunyai bathtub. Dapur yang digunakan menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung D. Tipe kamar yang ada di Gedung D mempunyai luas 100 m2 atau 3LDK. Fasilitas yang ada di dalam kamar hampir sama dengan apa yang tersedia di Gedung C.

Harga Sewa

Setelah kita mengetahui semua fasilitas yang diperoleh, mari kita lanjutkan dengan hak yang terpenting, yaitu harga sewa setiap bulannya. Harga sewa kamar untuk Gedung A, B, C dan D tentunya berbeda-beda.

Biaya yang perlu dibayarkan diawal adalah deposit sebesar satu bulan sewa dan uang sewa bulan itu. Artinya hanya butuh menyiapkan dana sebesar dua kali biaya sewa.

Tabel 1. Daftar harga sewa tiap bulan sesuai tipe gedung.

Tipe GedungHarga Sewa per bulan
A¥ 35.000
B¥ 52.000
C¥ 74.500
D¥ 86.500

Harga sewa ini belum termasuk dengan biaya ulititas dan telepon.

Proses pendaftaran.

Mengingat bahwa asrama TIEC diperuntukan bagi beberapa institute, maka proses pendaftaran dilakukan di universitas masing-masing. Untuk Tokyo Tech, aplikasi pendaftaran dapat dilakukan di bagian Student Support Division.  Hanya mereka yang telah lolos seleksi yang bisa masuk menjadi bagian dari TIEC.

Pengalaman tinggal di Gedung A.

Saat itu, saya melamar untuk bisa menempati Gedung A di TIEC. Hal yang pertama dilakukan setelah lolos seleksi adalah mendatangi bagian administrasi TIEC yang berada di Plaza Heisei untuk proses administrasi dan serah terima kunci. Selanjutnya melakukan pengecekan ke kamar didampingi oleh staff TIEC.

IMG_9534
Rute jalan setiap hari dari TIEC menuju Stasiun Tokyo Teleport.

Berikut ini akan saya jabarkan poin-poin penting selama tinggal di TIEC:

  • Biaya utilitas tinggi. Salah satu biaya bulanan yang wajib dikeluarkan selain uang sewa adalah listrik dan telepon. Sistem pembayarannya listrik dan telepon adalah pra bayar. Kita harus mendepositkan sejumlah uang sebelum menggunakan utilitas tersebut. Terdapat potongan ¥110 setiap hari untuk uang listrik meskipun tidak ada pemakaian. Begitu juga dengan tagihan telepon yang dipotong ¥10 per hari. Jadi semisalnya anda pulang kampung selama sebulan maka otomatis uang listrik yang sudah didepositokan akan berkurang sebesar ¥3.300. Saya pernah pergi selama seminggu dan lupa mengecek saldo listrik yang tersisa. Hasilnya sewaktu pulang, listrik di kamar tidak bisa menyala karena saldonya sudah minus. Saya harus melakukan pengisian saldo listrik terlebih dahulu. Total biaya utilitas yang saya habiskan setiap bulannya sekitar ¥ 9.000 – ¥ 10.000. Tidak ada biaya gas karena masak dilakukan di dapur umum. Tips: Belajar di ruang belajar bisa membantu meringankan biaya listrik terutama disaat musim panas dan dingin. Biaya listrik ini tentunya akan lebih mahal untuk Gedung B, C, dan D mengingat adanya mesin cuci hingga dapur di dalam kamar. Info dari beberapa teman, untuk Gedung B kisaran ¥ 15.000 dan untuk Gedung C dan D sekitar ¥ 30.000 (tergantung jumlah anggota keluarga).
  • Biaya commuter ke kampus mahal. Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih lokasi tinggal adalah jarak dan biaya kereta yang dikeluarkan menuju ke kampus (dalam hal ini Tokyo Tech). Saat itu, biaya kereta yang saya keluarkan setiap bulan adalah sekitar ¥ 7.500 dari Stasiun Tokyo Teleport hingga Stasiun Ookayama. Rute yang ditempuh setiap hari: Tokyo Teleport – Oimachi menggunakan Rinkai Line selanjutnya dari Oimachi – Ookayama menggunakan Oimachi Line.
  • Waktu tempuh dari TIEC ke Stasiun Tokyo Teleport masih normal. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki dari TIEC ke Tokyo Teleport sekitar 15 menit. Selain itu, tersedia juga bus umum (berbayar) dan shelter bus (gratis). Akan tetapi, jadwal bus baik itu yang berbayar maupun yang gratis cukup terbatas. Khusus untuk shelter bus, anda bisa turun di pemberhentian terakhir (Museum Miraikan). Hal ini dikarenakan lokasi museum tepat berada diseberang asrama TIEC. Akan tetapi, waktu tempuhnya kurang lebih 15-20 menit juga karena anda akan diajak berkeliling Odaiba terlebih dahulu.
  • Tips menghadapi cuaca ekstrem. Kadang ada saatnya hujan lebat turun atau panas terik di musim panas yang cukup membuat galau untuk berjalan kaki menuju stasiun. Belum lagi, jadwal bus yang sudah ketinggalan. Paling gampang ya tinggal telepon taksi tapi sebagai mahasiswa terkadang pilihan itu semacam berat untuk dilakukan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah berjalan kaki kurang lebih 5 menit dari TIEC menuju mall terdekat (Diver City). Selanjutnya, saya melanjutkan jalan kaki menuju stasiun dari dalam mall karena pintu keluar mall ini langsung di depan stasiun Tokyo Teleport. Ide ini cukup sederhana tapi tidak banyak yang melakukannya.
  • Belanja di Oimachi Stasiun. Karena Odaiba terkenal sebagai daerah wisata, maka tidak banyak ditemui supermarket murah untuk kebutuhan sehari-hari terutama bagi mereka yang masak setiap harinya. Ditambah lagi suasana malam hari yang cukup sepi mengingat banyak pusat perbelanjaan yang sudah tutup di atas jam 10 malam. Untuk kebutuhan dapur sehari-hari, saya menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket (Ito Yokado) yang berada tepat didepan stasiun Oimachi.
  • Olahraga malam. Kegiatan penelitian di lab sering kali membuat saya harus pulang larut malam bahkan mendekati tengah malam. Permasalahannya adalah jadwal kereta terakhir untuk Rinkai Line jauh lebih cepat dibandingkan dengan Oimachi Line. Ditambah lagi dari Oimachi Line menuju Rinkai Line dibutuhkan waktu cukup lama (jalan kaki) karena Rinkai Line dari Oimachi menuju Tokyo Teleport menggunakan jalur bawah tanah. Kalau tidak salah harus turun sekitar 5 lantai. Tidak jarang saya harus berlari di menurunin setiap anak tangga demi mengejar kereta. Terdapat satu atau dua buah lift, tapi terkadang lama menunggu antrian atau banyak pengguna yang terkadang turun di lantai yang berbeda beda.
  • Memanfaatkan semua fasiitas. Salah satu yang membuat saya tertarik tinggal di TIEC adalah adanya Training Room. Tentu saja saya memanfaatkan fasilitas tersebut di malam hari selepas pulang penelitian. Training room ini cukup ramai di malam hari terutama di hari kerja. Selain itu, di TIEC banyak terdapat grup sesuai hobi masing-masing penghuni. Saya ikut bergabung dengan grup badminton. Selain bisa bermain badminton, bisa juga untuk menambah teman.

Kesimpulan dan Saran

Mempunyai kesempatan tinggal di pulau buatan ‘Odaiba’ saja sudah menjadi pengalaman tersendiri mengingat Odaiba adalah tempat yang sering saya kunjungi untuk sekedar melepas penat dari dunia penelitian.

Selain itu, tentunya harga sewa yang relatif murah untuk Gedung A dengan total biaya pengeluaran mulai dari tempat tinggal, utilitas dan commuter yang masih dalam jangkauan menjadi faktor penting dalam memutuskan untuk tinggal disini. Mengingat saat itu semua kebutuhan hidup selama di Jepang ditanggung oleh beasiswa MEXT.

Akan tetapi, bagi mereka yang berkeluarga dan ditopang oleh beasiswa MEXT mungkin akan cukup berat mengingat biaya sewa hampir setengah dari total beasiswa yang diterima. Hal inilah yang memutuskan saya untuk tidak melanjutkan tinggal di TIEC pada saat istri hendak ikut tinggal di Jepang.

Demikian sedikit berbagi pengalaman selama tinggal di asrama TIEC.

Referensi

https://www.jasso.go.jp/en/kyoten/tiec/residence/index.html

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang

Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris.

Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang mempunyai empat musim.

Akan tetapi, (mungkin) sama seperti kebanyakan orang, Bahasa Inggris adalah momok yang menakutkan bagi saya. Walaupun dari kecil sudah belajar di sekolah maupun bimbingan les, entah kenapa kemampuan bahasa inggris ini seperti tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Tapi hal ini tetap tidak mematahkan semangat saya untuk terus bermimpi dan berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti saya akan pergi keluar negeri untuk sekolah. Mimpi itulah yang selalu membuat saya tetap berusaha mempelajari bahasa inggris.

Kuliah 2006

Setelah dinyatakan lolos masuk ke Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum memulai perkuliahan di pertengahan bulan Agustus. Salah satu tahapannya adalah mengikuti tes TOEFL yang diadakan UGM sekitar bulan Juli awal. Apabila nilai TOEFL yang diperoleh pada saat tes lebih dari atau sama dengan 500, maka tidak perlu mengambil mata kuliah bahasa inggris (2 sks) dan langsung mendapat nilai A.

Tawaran yang sangat menarik, bukan??? Hemmm… bagi saya yang sudah sadar akan kemampuan bahasa inggris saya, seperti “mission impossible” untuk mencapai angka itu. Dan terbukti, pada saat hasil tes keluar, nilai yang saya peroleh jelas jauh dari angka 500. Alhasil, saya pun harus mengambil mata kuliah bahasa inggris di semester pertama.

Singkat cerita, sampailah kita di penghujung semester pertama. Dan  ternyata nilai ujian bahasa inggris saya dapat C. (Yap, tidak terlalu mengecewakan karena saya sadar diri akan kemampuan bahasa saya). Apakah saya ada berencana untuk mengulang agar nilainya menjadi bagus? Hemmm… tentu tidak. Saya merasa cukup dengan apa yang saya dapatkan.

Penghujung Kuliah 2009

Selama tiga tahun saya berkuliah di Teknik Nuklir, hampir semua buku teori tentang kenukliran maupun mata kuliah lainnya berbasis bahasa Inggris. Di sepanjang tiga tahun itulah terkadang saya menghabiskan malam hari dengan membaca buku-buku tersebut. Lancar??? Tentu tidak. Belum adanya google translate di handphone serta konektivitas internet yang masih mengandalkan Warung Internet, Warnet, membuat saya harus mencari arti kata yang sulit menggunakan kamus.

“Sekitar tahun 2006 – 2010, harga per jam di Warnet sekitar Rp. 3.000 – 4.000”

Hal-hal inilah yang menambah kosakata bahasa inggris saya khususnya untuk di dunia pernukliran.

2010

Semenjak tahun 2008, saya sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 terlebih dahulu daripada bekerja setelah lulus S1. Untuk memperoleh beasiswa ada dua syarat umum yang harus dilewati yaitu: Bahasa Inggris dan Nilai (IPK).

Sampai di akhir semester 7, saya tidak ada bermasalah dengan nilai minimum IPK yang dibutuhkan. Permasalahan saya masih tetap di nilai minimum TOEIC, TOEFL, IELTS, atau sejenisnyalah.

Strategi

Setiap orang pasti tahu akan kemampuan dirinya masing-masing dan saya juga paham akan kemampuan saya. Tahun 2010, saya memilih untuk fokus agar bisa menyelesaikan tugas akhir secepat mungkin, setelah itu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sambil mencari pasangan hidup (bisa dicek disini ceritanya: Mengejar Cinta (1): Janji).

Menurut info yang saya peroleh dari kakak kelas yang pada saat itu sedang kuliah S2 di Korea, akan ada pembukaan beasiswa di akhir September. Info ini saya peroleh di awal tahun 2010.

Singkat cerita, akhirnya saya menyelesaikan tugas akhir di bulan April 2010. Nilai IPK minimum sudah aman. Saatnya berfokus ke Bahasa Inggris.

Target:

  • Sekolah di negara maju dan mempunyai 4 musim.
  • Bidang keilmuan: Teknik Nuklir dengan spesifikasi lebih kearah Fisika Reaktor.

Dengan menetapkan target, maka saya lebih mudah membidik negara mana yang akan dituju. Negara- negara tersebut adalah: Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Korea dan Jepang.

Kemampuan diri:

  • Secara akademis masih di dalam katagori normal.
  • Secara kemampuan bahasa, masuk dalam katagori lemah menuju buruk.

Dengan kondisi ini, maka saya dapat memetakan bahwa Amerika dan Eropa belum saatnya dicoba pada saat itu.

Pada saat itu, saya mendengar info dari beberapa kakak kelas bahwa untuk Asia, seperti Korea dan Jepang, masih menerima nilai TOEIC. Mereka pun mengatakan bahwa tes TOEIC jauh lebih mudah daripada TOEFL maupun IELTS. Selain mudah(menurut mereka), biaya tesnya pun relatif murah sekitar Rp.500.000.

Percobaan – 1

Berbekal bimbingan bahasa inggris, maka saya pun mengambil tes TOEIC pada bulan Mei 2010. Saya harus ke Jakarta untuk mengambil ujiannya. Maka berangkatlah saya dari Jogja selepas wisuda S1.

Saya sengaja tidak belajar untuk mengukur kemampuan bahasa saya sejauh ini. Hasilnya: sangat jauh dari nilai minumum yang dibutuhkan untuk daftar S2. Sungguh sangat jauh. Saya mengibaratkan kalau seandainya saya tidak punya motivasi penuh untuk lanjut S2, maka saya akan lebih memilih mundur ketika melihat skor TOEIC saya.

“Bagi mereka TOEIC itu mudah, namun bagi saya tetap saja masih sulit.

Percobaan – 2

Sekitar bulan Juli 2010 sudah ada pengumuman untuk pendaftaran beasiswa S2 di Korea (detailnya bisa dibaca di bagian “Tentang Penulis“). Batas akhir pengumpulan dokumen sekitar tanggal 26 atau 27 September 2010.

Setelah mengetahui hasil percobaan-1, maka saya melakukan evaluasi diri. Salah satunya dengan mengikuti bimbingan TOEFL yang diadakan oleh salah satu Fakultas di UGM (lupa lagi namanya). Selain itu, saya juga mengikuti preperation test yang diadakan oleh berbagai macam bimbingan bahasa di Jogja. Ditambahkan lagi buku-buku soal atau apapun yang berhungan dengan TOEFL dan sebangsanya saya beli dari gramedia atau pasar buku di dekat Pasar Bringharjo.

Hasil dari semua persiapan itu sudah menunjukkan tanda-tanda positif. Beberapa kali mengikuti preparation test ditambah dengan mengerjakan soal-soal dari buku, saya memperoleh nilai diatas nilai minimum untuk melamar S2.

Ada rasa kepercayaan diri yang tumbuh tapi disatu sisi masih ada sedikit keraguan didalam diri. ‘Apakah saya mampu?

Percobaan kedua ini dilakukan pada awal September. Saya pun harus kembali lagi ke Jakarta demi tes ini. Kali ini, nilai yang diperoleh meningkat tajam tapi belum bisa memenuhi nilai minimum yang dibutuhkan.

Rasa kesal, semua bercampur aduk melihat hasilnya. Tapi satu yang pasti, saya masih ada waktu kurang dari 2 minggu untuk melakukan satu kali lagi tes sebelum batas akhir pendaftaran.

Percobaan – 3

Setelah kembali ke Jogja dan waktu yang dibutuhkan kurang dari 2 minggu, maka tidak ada kata lain selain belajar, belajar dan belajar. Hampir sepanjang hari saya berada di dalam kamar untuk mempelajari bahasa inggris ini.  

Sekitar tanggal 20 September saya memutuskan untuk mengambil tes TOEIC lagi. Di dalam hati, saya berkata “Kali ini saya sudah siap.”

Saya pun kembali ke Jakarta. Kali ini ada satu teman baik saya yang mau ikut menemani ke Jakarta (Kisah ini mungkin akan bersinggungan dengan cerita ‘How I met your mother‘). Ditambah di Jakarta sudah ada Nilla yang mau menemani kami selama di Jakarta. Hal-hal seperti nongkrong bareng teman ini terkadang bisa membantu melupakan sejenak ujian yang ada di depan mata.

Ujian TOEIC pun berlangsung selama 2 jam. Setelah ujian selesai, perlu menunggu hasil sekirar 1 atau 2  jam (lupa lagi). Selama proses menunggu itu, entah kenapa saya lebih tenang.

15:00 WIB

Hasilnya pun keluar. Nilai saya cukup untuk memenuhi syarat minimum pendaftaran S2 ke Korea. Bahagia??? Pasti. Malamnya kami langsung kembali ke Jogja untuk mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan.

Saya pun dengan lega bisa melamar beasiswa ke Korea.

Desember 2010

Pengumuman penerima beasiswa pun keluar. Hasilnya, saya masih belum lolos seleksi tersebut. Kecewa pasti ada mengingat perjalanan panjang untuk memperoleh skor TOEIC tersebut.

Tapi saya tidak patah semangat, bukannya gagal itu hal yang biasa dilalui? Setidaknya saat itu saya tahu bagaimana rasanya gagal.

Setidaknya nilai saya sudah memenuhi nilai standard minumum lah. Itulah yang memberanikan saya untuk mendaftarkan beasiswa ke Jepang.

Salah satu hal yang membuat saya percaya diri ketika mendaftar program IGP-A di Tokyo Institute of Technology adalah adanya proses tanya jawab melalui email dengan calon profesor pembimbing mengenai bidang keilmuan yang ditekuni sebelum memasukkan berkas administrasi untuk pendaftaran beasiswa.

(Silahkan baca: Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech)

Percobaan – 4

Dengan bekal nilai TOEIC tahun 2010, saya melamar beasiswa ke Jepang pada tahun 2011. Beruntungnya, calon profesor pembimbing mau menerima nilai TOEIC tersebut. Disisi lain, meminta saya secara pribadi untuk meningkatkan skor TOEIC.

Karena pada saat itu saya sedang bekerja di Kalimantan, saya pun harus mengambil ijin cuti ke Jakarta demi meningkatkan nilai TOIEC ini. Hasilnya, bukannya meningkat malah skornya turun 10 poin.

Yaudahlah, saya daftar pakai skor yang tahun 2010 aja. Beruntung sekali karena pada akhirnya saya bisa memperoleh beasiswa untuk lanjut kuliah untuk program Master dan Doktoral.

Percobaan – 5

Saya masih merasa punya utang janji dengan Profesor saya mengenai skor TOEIC. Disisi lain, saya memang merasa kalau skor minimum saja tidak baik untuk kedepannya terutama untuk syarat lulus doktoral.

Agustus 2013.

Setelah hampir satu tahun di Jepang sejak September 2012, saya pun pulang menghabiskan waktu libur musim panas di Indonesia. Tujuan utama saya adalah kembali mencoba tes TOEIC.

Saya pun singgah ke Jakarta untuk mengikuti tes TOEIC. Hasil ujian kali ini, saya memperoleh nilai yang cukup tinggi bahkan diluar ekspektasi saya. Skor maksimal bisa saya peroleh pada bagian listening.

Skor TOEIC terbaru ini saya berikan kepada pembimbing untuk database dan keperluan administrasi pada saat melanjutkan ke program doktoral.

Kesimpulan

Saya punya cita-cita sejak kecil untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, tetapi bahasa inggris merupakan “halangan” bagi saya. Ada dua pilihan yang harus dilakukan: berbelok meninggalkan “halangan” tersebut atau memilih maju menghadapinya.

Saya memilih untuk maju menghadapinya. Butuh pengorbanan tentunya, bagi saya uang dan waktu adalah harga yang harus dibayar demi hal itu.

Bagaimana meningkatkan kemampuan bahasa inggris (versi saya):

Ada beberapa hal yang saya lakukan selama satu tahun di Jepang:

  • Belajar sendiri dari internet dan buku terutama pada bagian grammar.
  • Menonton film hampir saya lakukan setiap hari sepulang kuliah. Film yang saya tonton biasanya drama serial. Film favorit saya waktu itu: The Walking Dead dan The Revolution.

Semoga bisa bermanfaat bagi mereka yang sedang berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.


Mau sekolah ke luar negeri? Pintar aja tidak cukup butuh mental yang kuat. -Irwan