” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)

Sebelumnya di: Part 2

DINI HARI

Tidak terasa hari sudah berganti ketika kami tiba di ketinggian 3250 meter. Berdasarkan informasi, ketinggian Gunung Fuji sekitar 3700 meter. Wahhh, tinggal 500 meter lagi menuju puncak.

Disisi lain, badan yang sudah lelah dan rasa kantuk yang melanda menjadi tantangan tersendiri bagi kami.  Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan pendakian menuju pos selanjutnya. Mulai dari sini, butuh tenaga ekstra karena medan pendakian yang semakin berat dan suhu yang semakin dingin.

“Sayang, aku kedinginan dan ngantuk. Di pos berikutnya istirahat agak lama lah. Begitu lah ujar Laura”.

02:30 JST

Jam segini sangatlah krusial karena rasa ngantuk yang semakin mendominasi. Tapi kami berhasil sampai di pos peristirahatan. Disini terdapat warung minum dan penginapan.

“Hanya orang yang beli minum atau makan yang boleh masuk ke dalam warung dan dibatasi selama 15 menit.”

Saya dan Laura pun masuk ke dalam untuk sekedar meminum sup jagung hangat dan menghangatkan badan selama 15 menit di dalam. Sedangkan Udin dan Rama memilih untuk tetap beristirahat diluar warung.

“Puji Tuhan cuaca yang cerah dan bersahabat menemani pendakian kami. Pendakian Rama di tahun sebelumnya, terjadi hujan yang cukup deras ketika berada di sekitar ketinggian ini karena sulit memprediksi cuaca di sekitar puncak Gunung Fuji.”

Waktu 15 menit ini saya manfaatkan dengan baik untuk sekedar memejamkan mata.

Antara Puncak dan Sunrise

“Ternyata 500 meter itu jauh cuy kalau mendaki gunung”

Sudah lebih dari 1 jam sejak terakhir beristirahat, tapi puncak Fuji pun belum tampak. Selain itu jalur pendakian semakin ramai dipadati oleh orang-orang yang hendak melihat sunrise dari puncak Fuji.

“Beberapa kali kami harus berhenti karena terjadi kemacetan.”

04:00 JST

Menurut pengalaman Rama, matahari akan terbit sekitar pukul 4:15 – 4:30. Dengan kondisi saat ini, hampir dipastikan kami tidak bisa melihat sunrise dari puncak.

Karena memang kami tidak berambisi untuk melihat sunrise dari puncak, maka kami pun memutuskan untuk menepi mencari lereng gunung yang bisa dipakai untuk duduk sambil melihat sunrise.


Perjuangan Cinta (2)

Bagian ini adalah hal yang tidak terpikirkan oleh saya dan Laura. Duduk menunggu sunrise tanpa ada selimut, tenda, atau terpal yang bisa menghangatkan badan adalah suatu bencana bagi kami para pemula.

Syal yang melekat di leher saya pun berpindah ke Laura karena dia sudah kedinginan. Saya hanya berusaha menahan dingin sambil berharap ayolah matahari cepat muncul.


Udin pun merasakan hal yang sama. Suhu dingin tidak terlalu bermasalah, angin yang cukup kencang yang menjadi masalah.

04:20 JST: Sunrise

Perjuangan mendaki lebih dari 8 jam akhirnya terbayar dengan melihat sunrise dan gumpalan awan yang menutupi seluruh pemandangan sekitar gunung.

“Bagaikan negeri di atas awan”

IMG_7956
Menikmati sunrise dari Gunung Fuji

 

IMG_7958
Rama, paling sabar menunggu kami bertiga di barisan akhir.
IMG_7969
Udin, pantang menyerah menuju puncak walau harus sampai muntah.
IMG_7991
Laura, pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir mendaki Fuji.

Setelah menikmati sunrise, kami pun melanjutkan kami menuju pos terakhir yaitu puncak Fuji.

06:20 JST: Bencana

Kondisi badan saya yang sudah lelah ditambah lagi menunggu sunrise dengan hempasan angin menusuk kebadan membuat fisik langsung turun. Mata sudah mulai berkunang kunang membuat saya memutuskan untuk berhenti sebentar untuk makan protein bar untuk menambah tenaga.

Laura malah terlihat lebih segar pada saat ini. Gak tahu lah dari mana tiba-tiba dia bisa bersemangat 45 untuk mendaki menuju puncak.

Sedangkan Udin, memilih untuk keluar dari jalur pendakian karena ada tanda-tanda mau muntah.

Bagaimana dengan Rama? ya, Rama tentunya dalam keadaan baik dan memastikan kondisi kami apakah masih kuat untuk naik atau tidak.

“Ternyata lokasi ‘bencana’ kami sudah sangat dekat dengan gerbang Puncak Fuji”

IMG_8025
Menepi sejenak dari jalur pendakian.

06:40 JST: Gerbang (Torii Gate) Puncak

Akhirnya kami tiba di gerbang masuk Puncak Gunung Fuji. Sekitar 11 jam waktu yang kami butuhkan untuk sampai di puncak gunung tertinggi di Jepang (3776 meter).

IMG_8038
Udin dan Rama di depan Gerbang Fuji.

“Ada loh vending machine jualan minuman hangat di puncak Fuji dengan harga yang hampir 5x lipat dari biasanya.”


 

 

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 2/3)

Sebelumnya di: Part 1

MINGGU MALAM

Setelah melakukan pengecekan barang bawaan, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 19:00 JST.

Untuk mempermudah pendakian, kami membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang. Dimana di tiap kelompok ada satu orang yang sudah punya pengalaman mendakilah.

“Saya, Laura, Udin dan Rama adalah tim yang paling belakang.”

Di dalam tim ini, Rama adalah yang paling berpengalaman mendaki. Dia berbesar hati menemani kami di rombongan akhir selain itu dia juga menjadi penutup barisan yang memastikan tidak ada rombongan PPI Tokodai yang tertinggal di belakang.

“Kami bertiga (Saya, Laura, dan Udin) tidak punya target harus sampai ke puncak. Pedoman kami adalah sekuatnya saja yaa..hahaha”

19:30 JST: Perjalanan disini masih terbilang cukup mulus dan datar, belum terlihat tanjakan yang begitu memberatkan. Istri pun masih kuat membawa tas ranselnya. Selain itu kami disuguhkan dengan pemandangan kembang api yang terlihat di kejauhan. Festival kembali api (Hanabi) adalah suguhan yang menjadi favorit selama musim panas di Jepang.

20:00 JST: Setelah hampir satu jam berjalan, akhirnya kami berempat sampai di Pos 6. Teman-teman yang lain sudah tiba disini sekitar 15 menit yang lalu. Hal yang pertama saya lakukan disini adalah mengenakan jaket karena suhu udara sudah mulai dingin.

IMG_7914 copy
Annisa dan Laura sedang beristirahat di salah satu pos peristirahatan.

Perjuangan Cinta (1)

Kami (4 orang) pun hendak melanjutkan perjalanan setelah 15 menit beristirahat. Disini lah drama itu muncul.

“Sayang, udah capek kali aku. Gak kuat lagi bawa ransel, ujar Laura”.

Rama saat itu berbaik hati mau membantu membawakan tas ransel istri. Tapi yang namanya barang-barang istri, tentulah saya sebagai suami punya tanggung jawab membawanya.

“Gpp ram, biar saya aja yang bawa tasnya Laura.”

Supaya lebih memudahkan pergerakan, maka air minum (2L) dan makanan yang terasa berat dipindahkan ke tas saya. Laura hanya membawa tas ransel yang berisi minuman botol (600ml) dan cemilan ringan.

21:00 JST: Perjalanan pun sudah mulai terasa mendaki. Kami menggunakan jalur pendakian untuk pemula. Jalur ini sangat padat oleh manusia sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Senter pun setia menemani perjalanan kami dimalam hari ini.

“Jaringan 4G masih bisa dinikmati sewaktu pendakian.”

Rasa lelah dan suhu yang dingin memaksa kami untuk terus berjalan maju perlahan tapi pasti. Istirahat pun hanya sebatas mengambil napas atau minum. Kalau berdiam diri maka suhu dingin akan sangat terasa menusuk ke tubuh.

Disepanjang jalan, terkadang saya dan Udin berkata: Ya ampun, kenapa kita ikut ini perjalanan, mending tidur di apato. (dengan logat khas Makasar dan Medan). Kami hanya tertawa melihat perjuangan kami mendaki Gunung Fuji.

Dilain sisi, Laura hanya banyak diam karena sudah lelah dan sesekali minta dibawain tas ransel. (Saya akhirnya membawa 2 buah tas ransel).

Sedangkan Rama, memantau kondisi kami yang kelelahan dan sesekali melihat ke belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.

22:11 JST: Kami akhirnya sampai juga di Pos selanjutnya (sudah lupa pos ke berapa). Disini harus diakui kalau kami bertiga (Laura, Udin, dan Saya) sudah cukup lelah.

“Apa kita berhenti aja disini? Ada penginapan di pos ini. Besok pagi kita turun aja.” Begitulah tawaran saya kepada Laura dan Udin.

“Berapa sewa penginapannya? tanya Laura. 5000 yen untuk 4-5 jam (lupa) jawab saya. Yaudah lah lanjut aja sayang uangnya, ujar Laura”. 

Disini kami bertemu lagi dengan rombongan dari PPI Tokodai yang sudah sampai terlebih dahulu. Kami beristirahat sedikit lama untuk mengisi energi di dalam tubuh dengan memakan cemilan (coklat dan onigiri).

IMG_7915 copy
Udin, Irwan, Laura dan Annisa. Wajah terpaksa senyum walaupun sudah cukup lelah. Hehehe

Sebagian dari kami ada yang pergi ke toilet. Oiya, dibeberapa pos peristirahatan terdapat toilet tapi harus bayar sekitar 200 yen untuk sekali pemakaian.

Dari pos ini terlihat bahwa jalan menuju pos berikutnya lumayan curam. Kami bisa melihat barisan manusia yang mengular mulai dari tempat ini sampai ke pos berikutnya.

Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata benar, jalan yang kami lalui kali ini cukup curam. Kami harus menggunakan kedua tangan untuk merangkak naik melalui bebatuan yang besar. Mau tidak mau, istri harus menggendong kembali tas ranselnya.

IMG_7918
Sebagian rombongan PPI Tokodai yang ikut meramaikan acara mendaki Fuji 2015.

SENIN DINI HARI

01:40 JST: Setelah pendakian yang cukup panjang dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat, akhirnya kami sampai di pos selanjutnya. Siapa sangka kami sudah berada di ketinggian 3.250 meter.


 

(tunggu cerita selanjutnya di bagian 3 ya…)

 

 

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015

Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji.

Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji.

Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik gunung, dan langsung dijawab AYOOOO.  Setelah itu, teman saya, Udin, pun saya ajakin untuk ikutan.

“Kami bertiga adalah muda mudi yang hobi utamanya bukan mendaki gunung.”

Minggu Siang

Selepas ibadah Minggu, saya dan istri janjian untuk ketemuan dengan Udin di Restoran Malaysia (Shibuya) untuk makan siang.

IMG_7863
Menu makan siang di Restoran Malaysia, Shibuya

Selepas makan siang, kita berjalan menuju tempat pertemuan di sekitar Stasiun Shibuya. Ada sekitar 20 orang anak PPI Tokodai yang ikut dalam petualangan mendaki Gunung Fuji.

“Wajah-wajah ceria penuh semangat masih terpancar dari muka kami masing-masing.”

IMG_7857 copy
Wajah ceria istri disamping Patung Hachiko sebelum berangkat menuju Stasiun Kawaguchiko.

 

14:00 JST: Bus yang kami tumpangi pun melaju menuju ke Stasiun Kawaguchiko. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

“Dari rombongan ini, ada beberapa teman yang sudah beberapa kali ikut mendaki Gunung Fuji. Dari mereka jugalah saya tahu kalau butuh waktu (normal) sekitar 7-8 jam untuk mendaki ke puncak.”

16:40 JST: Bus tiba di Stasiun Kawaguchiko. Disini kami punya waktu sekitar 30 menit untuk menunggu bus lainnya yang akan menghantarkan kami ke Pos 5 Gunung Fuji (Semoga gak salah ingat). Sambil menunggu kedatangan bus, kami pun menyempatkan diri untuk makan dan membeli cemilan di konbini (convenience store).

17:00 JST: Butuh waktu sekitar 45 menit dari Stasiun Kawaguchiko menuju Pos 5 Gunung Fuji.

18:00 JST: Kami pun tiba di Pos 5 dengan selamat. Disini terdapat restoran, toko souvenir dan perlengkapan mendaki, toilet, dll. Istri pun membeli sarung tangan mengingat suhu di puncak Gunung Fuji cukup dingin. Selain itu kami juga mengambil brosur mengenai petunjuk pendakian Gunung Fuji.

“Summer di bawah, Winter di puncak. Itulah sekilas perbedaan suhu antara pos 5 dan puncak Fuji.”

IMG_7903
Pos 5 Gunung Fuji, sesaat sebelum pendakian dimulai.

Sebelum memulai pendakian, kami pun menyempatkan makan malam. Kami membawa bekal makan masing-masing mengingat kemungkinan tidak ada makanan yang halal yang dijual disekitar pos 5. Setelah makan malam, teman-teman yang beragama Islam melaksanakan sholat.


Minggu Malam

19:00 JST: Kami pun memulai pendakian ……

 

Selanjutnya di: Part 2