Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab.

Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”.

08.00 JST

Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe

Jam kerja yang fleksibel ditambah dengan jarak dari rumah ke kantor yang cukup dekat (~3.5km) membuat bangun jam 8 masih tergolong pagi buat saya.

Alarm bangun pun bukan lagi alarm dari HP, melainkan Henokh yang sudah teriak-teriak memanggil “Papaaaaaaa!!!!”, atau keisengannya yang mentoel-toel pipi dengan jari telunjuknya.

08.50 JST

Saatnya berangkat ke lab (kantor).

Hemmm…Mau berangkat pakai apa ya? Sepeda, bus, atau jalan kaki?

Di awal musim dingin yang cerah ini, sepertinya jalan kaki adalah pilihan yang tepat untuk berangkat ke lab. Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak sekitar 3.5 km adalah 38 menit.

09:25 JST

“Ohayou Gozaimasu” adalah sapaan yang selalu saya ucapkan begitu memasuki ruangan lab.

Sapaan itu pun dijawab oleh rekan kerja dan bos yang sudah berada di lab, “Ohayou Gozaimasu”.

Jam kerja yang fleksibel ini membuat tidak ada istilah ‘telat datang ke kantor’. Akan tetapi, jam kerja fleksibel ini tidak berlaku untuk semua pegawai. Hanya ada beberapa status pegawai yang boleh mengajukan sistem jam kerja yang fleksibel. (Akan dibahas di tulisan lainnya, ya..)

Memulai aktifitas pekerjaan dengan: menyalakan komputer dan mereview catatan kecil tentang hal terakhir yang saya lakukan kemarin dan rencana apa yang hendak saya kerjakan hari ini, dan tentu saja membuka website berita (yang tidak diblokir oleh kantor) untuk membaca situasi pasar dan kondisi ekonomi hari ini.

Meskipun saat ini berkarir sebagai seorang peneliti dibidang nuklir, tapi tetap masih mempelajari dan mengikuti perkembangan kondisi perekonomian dll.

Aktifitas penelitian

Salah satu aktifitas penelitian yang saya kerjakan berhubungan dengan simulasi di depan komputer tentang bidang kecelakaan nuklir.

Salah satu tugas yang saya berikan kepada diri sendiri untuk hari ini adalah mengolah data hasil simulasi yang telah selesai disimulasi untuk kemudian dianalisa.

Hasil simulasi yang jumlahnya sekitar ribuan output file ini harus diolah sedemikian rupa untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan. Karena hanya informasi tertentu saja yang dibutuhkan dari setiap output file, saya pun membuatkan sebuah program kecil menggunakan bahasa pemprograman untuk mempermudah pengolahan data mentah dari hasil simulasi tersebut.

11:30 JST

Selingan ringan di saat mengerjakan pemprogram adalah melihat kondisi pasar saham.

Setelah itu, melanjutkan kembali mencari tahu kenapa program yang dibuat masih error. Semua sumber daya dikerahkan untuk memecahkan masalah ini, mulai dari google, youtube, hingga bertanya ke teman.

Menjelang jam makan siang, kesalahan yang terdapat di dalam program tersebut bisa juga terselesaikan.

Bisa makan siang dengan tenang sejenak.

Advertisements

Istirahat Siang

Bel istirahat pun berbunyi yang menandakan sudah pukul 12.00 siang. Kotak Bento (Lunch box) yang dibawa dari rumah siap untuk disantap. Biasanya, saya membawa bento tersebut ke kantin dan makan bersama teman, akan tetapi sejak COVID-19 melanda, saya memilih untuk makan siang di ruangan saja.

Olahraga

Hal yang banyak dilakukan oleh para pegawai disaat jam istirahat adalah olahraga. Ada yang bermain bola, baseball, lari, jalan santai, bahkan sepedaan mengelilingi kawasan kerja. Terdapat lapangan khusus yang disediakan untuk bermain bola dan baseball.

Saya sendiri memilih untuk jalan santai mengelilingi kawasan kerja. Lumayan lah untuk mengurangi lemak-lemak membandel di daerah sekitar perut. Haha

Bel pun kembali berbunyi yang menandakan sudah pukul 1:00 siang. Jam istirahat telah selesai. Meskipun demikian, di grup tempat saya bekerja tidak terlalu strict dengan jam tersebut. Saya sendiri kembali ke ruangan sekitar pukul 13:10 JST setelah menyelesaikan jalan kaki mengelilingi kawasan kerja(~2.5 km).

14:00 JST

Program yang dibuat tadi sudah bisa mengambil informasi yang dibutuhkan dari output file. Saatnya, mengolahnya lagi kedalam grafik. Membuat grafik pun bisa menggunakan banyak cara seperti, excel, origin, python, dll.

Membaca Jurnal Penelitian

Aktifitas lainnya setelah menyelesaikan aktifitas di atas adalah membaca jurnal penelitian yang sedikit banyak berkaitan dengan topik penelitian yang sedang dilakukan.

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda dalam membaca dan memahami sebuah jurnal.

16:00 JST

Saatnya turun ke lobi untuk membeli cemilan atau datang ruangan teman untuk sekedar chitchat. Ada kalanya chitchat dilakukan di grup-grup whatsapp atau line. Selain itu sekedar mendengarkan berita dari youtube atau mengupdate postingan di Instagram.

Setelah melaksanakan aktifitas ‘me time’, saatnya kembali melanjutkan aktifitas penelitian. Mari kembali fokus melanjutkan membaca jurnal penelitian. Bagi saya, bagian Introduction adalah hal yang paling menarik dalam membaca sebuah jurnal.

Apabila bagian Introduction ditulis dengan baik, maka akan membantu pembaca untuk mengetahui apa yang menjadi latar belakang, motivasi dan tujuan penelitian tersebut.

Membuat Presentasi

Secara umum, saya akan merangkum hasil penelitian saya kedalam bentuk power point. Hal ini membantu saya melihat dan mereview perkembangan sebuah topik penelitian yang sedang dikerjakan.

17:30 JST

Bel pun kembali berbunyi yang menandakan jam kerja sudah berakhir. Bagi mereka yang mau pulang, silahkan pulang. Bagi mereka yang mau melanjutkan pekerjaan, silakan dilanjutkan.

Hari ini saya pun memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang rasanya tanggung untuk ditinggalkan hari ini.

19:00 JST

Sebuah pesan dari Mami Henokh muncul dilayar handphone, “Sayang, pulang jam berapa? Jalan atau mau dijemput?”.

“Ini mau pulang. Jalan kaki aja.”, begitu jawabanku membalas pesan Mami Henokh.

20:30 JST

Tidak membawa pulang kerjaan kantor (lab) ke rumah adalah hal mendasar yang dilakukan sejak awal menikah bahkan sejak masih menjadi mahasiswa doktoral.

Setelah seharian melakukan kegiatan di lab, saatnya menghabiskan malam hari dengan Henokh mulai dari menemani bermain, membaca buku, ganti popok, dll.

“Henokh baru bangun tadi jam 7 malam.”, info dari Maminya. Artinya: malam ini bakalan menemani Henokh bermain hingga sekitar jam 11 malam.

Advertisements

Istirahat

Saatnya beristirahat setelah melakukan berbagai macam aktifitas di depan komputer.

Untuk tulisan kali ini tidak ada foto karena tidak boleh mengambil foto sembarangan di dalam lingkungan kerja.

Dilema Musim Panas di Negeri Sakura

Sebagai orang Indonesia yang negaranya terletak di daerah tropis, suhu udara dengan rata-rata diatas 30 derajat Celcius adalah hal yang biasa dialami sepanjang tahun. Berdasarkan hal inilah, saya awalnya menganggap kalau musim panas di negeri Jepang adalah suatu hal yang biasa saja. Hingga akhirnya saya merasakan sendiri musim panas di Jepang sejak tahun 2013 hingga saat ini.

Musim panas di Jepang (Tokyo dan sekitarnya) biasanya datang sesaat setelah selesai musim hujan. Pada umumnya mulai dari bulan Juli hingga akhir Agustus atau awal September. Anehnya, saya merasa musim panas tahun 2020 baru mulai awal Agustus ini.

Ada beberapa hal yang menarik bagi saya selama menjalani musim panas di Jepang.

1. Anggapan orang Indonesia tahan udara panas.

Insting bertahan hidup saya akan muncul begitu musim panas mulai datang yaitu menyalakan AC dan mengatur suhu di angka 23- 25 derajat Celcius. Ketika bekerja di Indonesia, bahkan suhu ruangan di kantor bisa diangka 20 derajat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan dari beberapa teman Jepang

TJ : Loh, Indonesia bukannya negara tropis dan suhu udaranya diatas 30 derajat ya?

I: Betul sekali, suhu di luar diatas 30an tapi di ruangan biasa kita nyalakan AC dengan suhu sekitar 23 derajat. Bahkan saya kalau tidur suhu AC nya diatur ke 19 derajat.

TJ: Hahhhh??? (Kaget dan Heran)

2. Hemat listrik

Salah satu budaya yang membuat saya salut dari negara ini adalah hemat listrik. Pada tahun 2013 ketika saya bersekolah di Tokyo Institute of Technology, akan ada terdengar bunyi alarm apabila konsumsi listrik melebihi batas maksimum. Ketika alarm ini berbunyi, maka wajib mematikan perangkat elektronik salah satunya AC selama 1 jam. Berdasarkan informasi yang saya terima, saat itu Jepang sedang berusaha mencukupkan kebutuhan listriknya setelah semua PLTN di non-aktifkan akibat peristiwa Fukushima.

Di tempat saya bekerja dan mungkin di kantor-kantor lainnya, akan ada stiker di sekitar AC yang menunjukkan batas minimum dan maksimum penggunaan suhu AC pada musim panas maupun musim dingin.

Terkadang perlu tambahan kipas angin disekitar anda untuk membuat daerah anda bekerja lebih nyaman karena suhu AC yang digunakan tidak cukup untuk mendinginkan ruangan tersebut.

3. Kelembapan Udara Tinggi

Tingkat kelembapan udara sewaktu musim panas di Tokyo sangatlah tinggi. Hal ini membuat udara terasa gerah (sumuk). Saya adalah tipekal orang yang mudah berkeringat, sehingga berjalan dari lab ke kantin yang berjarak 300 meter saja bisa membuat baju basah kuyup. Pakaian ganti, deodoran, alat mandi dan parfum adalah hal wajib yang selalu dibawa di dalam tas atau disimpan di loker kerja selama musim panas.

4. Aroma keringat di dalam kereta

Salah satu tanda dimulainya musim panas adalah aroma keringat yang sangat kuat terasa di dalam kereta. Aroma ini bisa dirasakan di dalam kereta terutama pada jam-jam sibuk. Bagi anda yang tidak kuat dengan aroma kuat dan menyengat, silahkan mempersiapkan diri dengan hal-hal yang dapat membantu menikmati perjalanan anda selama berada di dalam kereta.

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab. Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”. 08.00 JST Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe Jam kerja yang … Continue reading “Kerjaan seorang peneliti nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Berinvestasi Rp.100.000 di Reksa Dana.

Bagi sebagian besar orang, pasti sudah mengenal dan mengetahui apa yang dimaksud dengan Reksa Dana serta bagaimana cara bekerja dan lain sebagainya. Tapi, tidak dipungkiri bahwa masih banyak juga yang belum mengenal atau mengetahuinya. Saya termasuk kedalam katogori kedua, yaitu belum mengenal apa itu Reksa Dana.

Latar belakang pendidikan saya yang berasal dari Teknik Nuklir hingga pekerjaan yang masih berkaitan dengan dunia kenukliran, sedikit banyak mempengaruhi hal tersebut. Saya masih sangat awam dengan yang namanya investasi. Kalau ditanya tentang investasi, pastilah saat itu jawaban saya hanya emas, tanah, rumah, dll. Suatu konsep yang membuat investasi itu terasa sangat mahal dan berat.

Rasa ketertarikan saya terhadap dunia investasi mulai muncul pada saat istri sibuk mengutak atik perangkat elektronik untuk melihat perkembangan saham yang dimilikinya. Tapi, penjelasan istri dan cara menjelaskan dengan bahasa yang ‘tinggi’ kadang kala membuat orang awam seperti saya cukup bingung.

Hal ini jugalah yang sering saya rasakan ketika berbicara tentang reaktor nuklir (PLTN) kepada orang awam.

Penting untuk mengetahui siapa lawan bicara kita sehingga bisa menyesuaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.”

Dengan rasa penasaran tersebut, akhirnya saya mulai mencari informasi melalui bantuan google maupun youtube untuk memperlajari tentang dunia investasi dalam hal ini Reksa Dana. Ada penjelasan yang mudah dimengerti tetapi ada juga penjelasan yang sulit untuk dipahami.

Tulisan ini bertujuan sebagai pengingat bagi saya tentang apa yang saya ketahui tentang Reksa Dana dan bagaimana saya memulai berinvestasi di Reksa Dana.

1. Apa itu Reksa Dana?

Pengertian Reksa Dana menurut UU Pasar Modal No 8 tahun 1955 pasal 1 ayat 27 adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam bentuk portopolio efek oleh Manajer Investasi (MI) yang sudah mendapat izin dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).

Saat ini Bapepam sudah berganti nama menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengertian sederhanya adalah kita memberikan uang kepada Manajer Investasi untuk dikelolah sedemikian rupa dengan tujuan uang yang kita berikan tersebut akan bertambah dalam periode waktu tertentu.

2. Jenis-jenis Reksa Dana

Secara umum, ada 4 (empat) jenis Reksa Dana, yaitu:

  1. Reksa Dana Pasar Uang.
  2. Reksa Dana Pendapatan Tetap.
  3. Reksa Dana Saham.
  4. Reksa Dana Campuran.

Keempat jenis Reksa Dana tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita harus mengetahui profil singkat dari keempatnya sebelum memutuskan ingin menginvestasikan uang tersebut.

  • Reksa Dana Pasar Uang. Pada jenis ini, uang kita akan diinvestasikan di produk pasar uang yang mempunyai resiko rendah, seperti: deposito. Tentu saja dengan resiko yang rendah, maka pertumbuhan investasinya juga rendah.
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap. Jenis ini juga mempuyai profil resiko yang sedikit lebih besar di bandingkan Reksa Dana Pasar Uang. Dengan profil yang demikian, tentu saja pertumbuhan investasinya lebih baik dari Reksa Dana Pasar Uang. Biasanya dana yang kita miliki akan diinvestasikan pada obligasi.
  • Reksa Dana Saham. Jenis ini memiliki resiko yang paling tinggi. Tetapi sebanding dengan keuntungan yang diterima nantinya. Berdasarkan informasi yang saya baca, jenis investasi ini cocok untuk mereka yang ingin berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang. Seperti namanya, Reksa Dana ini akan menginvestasikan sebagain besar uang yang kita miliki di saham.
  • Reksa Dana Campuran. Jenis ini merupakan campuran dari ketiga jenis reksa dana diatas.

Sebelum memulai investasi di Reksa Dana, maka kita perlu mengetahui apa yang menjadi tujuan kita dalam berinvestasi. Hal ini tentunya berguna untuk menentukan jenis reksa dana mana yang akan dipilih.

Perlu diingat bahwa yang namanya investasi apapun, selalu ada resiko didalamnya.

3. Investasi Rp.100.000

Sebagai pemula tentu saja saya tidak berani mengambil resiko yang tinggi dalam memulai sebuah investasi.

Lebih baik saya memulai dari modal yang kecil sambil terus mempelajari dunia investasi. Tentunya saya paham dengan modal Rp.100.000, tidak mungkin saya mengharapkan hasil investasinya yang bernilai WOW misalnya dalam periode 1 tahun.

Tapi melalui Reksa Dana, mengubah pola pikir saya dahulu yang hanya berpikir bahwa investasi itu hanya berupa tanah, rumah, emas (investasi berbentuk fisik).

Gambar dibawah ini adalah salah satu investasi saya di Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan modal Rp.100.000. Sekitar 2 minggu sejak saya menanamkan modal, sudah terjadi pertumbuhan sebesar 0.19%.

Pertumbuhan reksa dana pendapatan tetap dengan modal awal Rp.100.000

Ternyata bisa loh kita berinvestasi meskipun hanya bermodalkan Rp.100.000. Bahkan di beberapa video yang saya lihat, ada yang bilang kalau bisa dimulai dari Rp.10.000.

4. Keuntungan Berinvestasi di Reksa Dana

Berbicara tentang untung dan rugi, tentunya setiap orang punya pendapatnya masing-masing. Salah satu keuntungan menurut saya berinvestasi di Reksa Dana adalah tidak perlu repot-repot memantau pergerakan saham atau sejenisnya setiap saat. Hal ini karena uang yang kita investasikan sudah dikelolah oleh Manajer Investasi. Oleh karena itu, berinvestasi di Reksa Dana sangat cocok bagi orang pemula seperti saya yang tidak punya banyak waktu untuk memantau setiap saat.

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)

Tokaimura Welfare Center “KIZUNA” Setelah di cerita sebelumnya, saya telah berbagi beberapa fasilitas olahraga yang pernah saya gunakan selama tinggal di Desa Tokai, kali ini saya mau membagikan salah satu fasilitas yang kami manfaatkan sejak masa kehamilan istri hingga saat ini. Fasilitas tersebut adalah Tokaimura Welfare Center ‘Kizuna’. Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengetahui … Continue reading “Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)”

Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)

Bagi saya, pengalaman menulis karya ilmiah yang hendak dipublikasikan di Jurnal Internasional masih terbilang cukup baru. Pengalaman pertama ini dimulai sekitar tahun 2015 dimana saya publikasi di jurnal internasional menjadi salah satu syarat kelulusan program studi S3. Proses menulis sebuah karya ilmiah ternyata cukup mengasyikkan. Di tempat kerja saat ini pun, kita diwajibkan untuk menghasilkan karya tulis yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Seperti yang saya tuliskan pada cerita sebelumnya*, bahwa salah satu strategi untuk bisa lulus tepat waktu pada saat mengambil program S3 adalah memahami proses dan alur mulai dari pendaftaran karya ilmiah di jurnal internasional hingga tahap publikasi.

*Tulisan sebelumnya: https://www.travelingajadulu.com/asia/jepang/beasiswa-s3-di-jepang/

Proses inilah yang sering saya ungkapan sebagai salah satu faktor external dalam menentukan seseorang dapat lulus tepat waktu atau tidak.

Puji Tuhan di tahun 2020, baru saja salah satu tulisan saya diterima di salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Saya akan berusaha menjabarkan proses yang harus dilalui hingga waktu yang dibutuhkan mulai saat menulis draf, mendaftar, review, diterima dan dipublikasikan.

1. Menulis karya ilmiah.

Saya memulai menulis draft sekitar bulan November 2019. Setelah selesai menulis, draft tersebut harus saya berikan terlebih dahulu kepada para co-author untuk diperiksa. Proses revisi yang berasal dari para co-author ini memakan waktu hingga bulan Februari 2020. Cukup lama yaa.. Hehe.

Berdasarakan catatan saya, draft tulisan saya direvisi hingga 11 kali. Haha

2. Pendaftaran ke Jurnal Internasional.

Saya mendaftarkan tulisan saya sekitar pertengahan Maret 2020 ke salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Ada beberapa dokumen yang perlu diupload ketika hendak mendaftar, yaitu: tulisan ilmiah (manuscript), cover letter, highlights, dll.

Advertisements

Setelah proses pendaftaran selesai, maka kita akan menerima email konfirmasi. Selain itu, di email tersebut akan diberikan link untuk melihat status tulisan yang kita daftarkan.

Sebelum mendaftarkan, ada baiknya tulisan kita sudah dicek terlebih dahulu oleh Native English Speaker.

3. Durasi review

Setiap jurnal memiliki proses review yang berbeda-beda khususnya untuk durasi waktu. Ada yang cepat dan ada yang lama dalam proses review ini. Saya sendiri tidak tahu waktu pastinya, biasanya saya memberikan waktu dua bulan untuk proses review tersebut. Artinya, saya akan bertanya melalui email ke editor apabila tidak ada kabar terbaru mengenai perkembangan tulisan saya setelah dua bulan. Akan tetapi, ada kalanya belum sampai dua bulan sudah ada balasan mengenai status tulisan saya (berdasarkan pengalaman pada tulisan-tulisan ilmiah sebelumnya).

Oleh karena itu, sangat penting untuk diketahui dengan baik aturan main tempat dimana kita akan mendaftarkan tulisan tesebut.

4. Durasi revisi

Pada tanggal 25 Mei 2020, akhirnya saya menerima email dari editor bahwa tulisan saya sudah direview oleh beberapa reviewer dan terdapat beberapa komentar dan saran dari baik itu dari reviewer maupun editor. Dari komentar-komentar tersebut, editor meyimpulkan bahwa tulisan saya masuk dalam katagori “Revisi Minor”. Saya diberikan waktu sekitar dua bulan untuk menjawab pertanyaan para reviewer serta merevisi tulisan tersebut.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, waktu dua bulan tersebut terkadang belum cukup. Apabila terjadi kondisi seperti ini, silahkan menghubungi editor melalui email untuk meminta perpanjangan waktu.

Salah satu tahapan yang dilalui saat hendak melakukan publikasi di jurnal internasional

5. Pengumpulan revisi

Setelah selesai merevisi tulisan tersebut, maka pada tanggal 12 Juni 2020 saya mengumpulkan kembali tulisan yang sudah direvisi. Biasanya, satu atau dua hari selanjutnya akan ada email konfirmasi yang menyatakan “Editor Handle your revised submission of xxxxxxxxxx”

6. Status Akhir

Pada tanggal 19 Juni 2020, saya mendapatkan email pemberitahuan bahwa tulisan saya sudah DITERIMA dan akan diproses untuk diterbitkan.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan setelah pengumpulan revisi pertama akan ada revisi kedua. Pengalaman lain yang pernah saya alamai adalah memperoleh “Major Revision” setelah saya mengumpulan hasil revisi pertama. Padahal status yang saya peroleh pada revisi pertama adalah “Minor Revision”. Meskipun pada akhirnya tulisan itu bisa dipublikasikan setelah melalui dua kali revisi oleh reviewer. Kondisi seperti ini tentunya akan memperpanjang proses penilian dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman ini, butuh waktu sekitar 7 bulan mulai dari proses penulisan hingga diterima di jurnal internasional. Untuk proses mulai dari pendaftaran hingga diterima di jurnal internasional sendiri membutuhkan sekitar 3 bulan. Perlu diperhatikan bahwa 3 bulan yang saya peroleh disini sangat tergantung pada komentar dan saran dari para reviewer.

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Bagi banyak orang, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri. Tidak hanya pengalaman, namum gaji yang lebih besar bisa jadi daya tarik utama ketika memutuskan bekerja di luar negeri. Ketika saya pulang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang, baik saudara maupun teman yang ingin bekerja di Jepang. Kebanyakan karena diimingi gaji hingga belasan juta … Continue reading “Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Ilustrasi dana pensiun.

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah aman dengan kondisi seperti saat ini.

Hal ini mulai mengusik kehidupan jiwa dan raga ketika berdiskusi lebih dalam berlangsung dengan istri yang kebetulan berlatar belakang ekonomi dan seorang akuntan ditambah lagi dengan informasi seputar dunia keuangan yang bisa dibaca baik melalui buku, media elektronik maupun menonton video yang banyak tersebar dibanyak platform.

Salah satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah data yang mengatakan bahwa kurang dari 10% para pensiunan mempersiapkan rencana pensiun dengan baik sehingga tidak dapat hidup dengan sejahtera.

Tentunya dengan angka ini membuat saya cukup kaget. Bagaimana bisa ketika sudah bekerja selama puluhan tahun dan adanya pesangon ketika memulai memasuki masa pensiun atau gaji pensiunan bagi PNS tetapi masih belum bisa membuat hidup sejahtera dimasa pensiun nantinya?

Apakah nantinya uang pensiunan bulanan ataupun pesangon itu bisa mencukupi kebutuhan hidup semasa pensiun? Kalau ternyata belum cukup, apa yang harus dilakukan? Perlukah dipersiapkan dari sekarang? Bagaimana cara memulainya?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang bekerja di sektor UMKM ataupun informal? Adakah cara untuk mempersiapkan dana untuk hari tua disaat memenuhi kebutuhan sehari-hari aja masih pas-pasan?

Bagi saya yang berlatar pendidikan di bidang keteknikan dan bekerja dibidang yang sama, tidak saya pungkiri hal-hal keuangan seperti ini masih sangat awam bagi saya. Akan tetapi, melihat data yang ada, tentu saja saya berusaha untuk tidak masuk ke lingkaran yang 10% ketika memasuki masa pensiun.

Sebagai orang awam, ternyata banyak cara yang sudah tersedia untuk memfasilitasi kita nantinya pada saat memasuki dunia pensiun. Salah satunya adalah dengan mengikuti program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Mau bekerja di Jepang? Persiapkan hal-hal berikut ini!

Pertanyaan lain yang muncul dari teman atau bahkan keluarga ketika pulang ke Indonesia adalah gimana sih bekerja di Jepang? Enak gak sih? Nyantai atau gimana sih sistem kerjanya?

Sebenarnya, agak sulit menjawab pertanyaan tersebut karena jawaban dari semua pertanyaan tersebut sangat tergantung kepada tempat kerja atau bahkan rekan kerja di dalam tim. Bekerja di perusahaan yang sama tapi beda divisi atau bahkan beda grup saja bisa punya jawaban yang berbeda atas pertanyaan diatas.

Disini saya berusaha memberikan gambaran mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika mau bekerja di Jepang.

1. Disiplin.

Siapa yang belum kenal dengan tingkat kedisiplinan negara Jepang. Bukan hanya orangnya saja, bahkan alat transportasi umumnya saja terkenal sangat tepat waktu.

Ketika di stasiun kereta tertulis jadwal keberangkatan pukul 08:53 maka percayalah kalau kereta akan berangkat tepat waktu, bukan jam 08:50 atau jam 08:55 apalagi jam09:00.

Demikian juga dengan orang Jepang pada umumnya. Ketika membuat janji untuk rapat pukul 09:15, maka rapat akan dimulai pukul 09:15 walaupun semua anggota sudah di dalam ruangan sejak pukul 09:00.

2. Tidak mudah mengeluh.

Sering ngeluh kerjaan banyak, ngerjain yang bukan kerjaan wajib alias bukan jobdes, waktu istirahat yang gak bisa molor atau telat 5 menit aja diomelin, dll.

Kalau masih sering mengeluh hal receh seperti diatas, coba dipikirkan lagi apakah sanggup nantinya bekerja di negara ini.

3. Mampu Beradaptasi

Beda negara maka beda pula budaya yang dimiliki. Oleh karena itu, sebagai pendatang haruslah mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja. Tidak hanya di lingkungan kerja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau di Indonesia kita sering berkumpul di rumah teman dan ngobrol atau main musik hingga larut malam dan kemungkinan besar mengganggu tetangga. Percayalah, kalau kondisi seperti ini diterapkan di Jepang, kemungkinan besar tetangga anda akan menghubungi polisi dan siap-siap berurusan dengan pihak berwajib.

4. Mentalitas

Tidak semua bisa berjalan lancar sesuai keinginan kita. Adakalanya kita akan melewati kerikil tajam dalam kehidupan ini.

Siapkan mental yang kuat menghadapi tekanan dan teguran dalam dunia kerja. Ingat kembali apa yang menjadi motivasi ketika anda memutuskan mengambil langkah untuk bekerja di Jepang. Mungkin itu bisa membantu menghadapi hambatan tersebut.


Demikian sedikit gambaran yang bisa saya berikan. Semoga bisa membantu mempersiapkan diri bagi mereka yang ingin bekerja di Jepang.


 

Baca juga: Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Bagi banyak orang, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri. Tidak hanya pengalaman, namum gaji yang lebih besar bisa jadi daya tarik utama ketika memutuskan bekerja di luar negeri.

Ketika saya pulang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang, baik saudara maupun teman yang ingin bekerja di Jepang. Kebanyakan karena diimingi gaji hingga belasan juta rupiah.

Beberapa hal yang saya tanyakan ke mereka adalah: Dapat informasinya darimana? Bekerja di bidang apa? Kerjanya di daerah mana? Sistem kerjanya bagaimana? dll.

“Ya betul, gaji di Jepang bisa mencapai belasan, puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Apalagi kalau nilai tukar Rp terhadap ¥ lagi melemah. Otomatis nilai gaji kalau dikonversi ke Rp akan menjadi besar.”

Tentunya bagi mereka yang bekerja ke Jepang, mendengar gaji mulai dari belasan juta rupiah akan sangat menggiurkan, bukan?

Berdasarkan pengalaman saya bekerja di Jepang, ada beberapa hal yang paling penting diperhatikan sebelum menerima mentah-mentah tawaran gaji belasan juta di Jepang.

1. Gaji bersih atau masih kotor?

Pada umumnya besaran gaji yang ditawarkan tersebut masih berupa gaji kotor. Artinya gaji bersih yang diterima akan berkurang jumlahnya.

2. Jenis-jenis potongan.

Pajak penghasilan, Pajak daerah, Iuran Pensiun, Asuransi Kesehatan, Asuransi tenaga kerja, dll. 

Itu adalah beberapa komponen yang dipotong setiap bulannya dari gaji anda. Tentunya setiap perusahaan mempunyai kebijakan yang berbeda-beda. Beberapa jenis potongan tersebut berdasarakan pengalaman saya bekerja di Jepang.

Besarnya potongan ini akan berbeda-beda tiap orang. Tergantung jumlah penghasilan, menikah atau belum, tanggungan hidup, dll.

3. Biaya hidup

Sewa rumah, listrik, air, gas, internet, uang makan, transportasi, dll. 

Ada baiknya mencari tahu informasi biaya hidup di daerah yang akan dituju. Dengan informasi yang jelas maka kita bisa memprediksi pengeluaran bulanan.

“Jangan pernah langsung percaya dengan ucapan POKOKNYA CUKUPLAH BISA NABUNG. Ingat, setiap orang punya kebutuhan yang berbeda-beda.”

4. Berapa gaji saya dalam Yen?

Pada umumnya gaji akan dibayarkan dalam mata uang Jepang, yaitu YEN. Tanyakan berapa besar gaji bulanan dalam YEN, bukan RUPIAH.

Misal: Gaji 100.000 yen (sekitar Rp. 13.000.000). Kalau bulan Maret kurs 1 yen=130, maka gaji Rp.13.000.000. Kalau bulan Mei kurs 1 yen =120, maka gaji Rp.12.000.000. Ribet kan? padahal biaya hidup selama di Jepang tetap menggunakan Yen. Jadi, pastikan estimasi gaji dalam Yen.

5. Fasilitas

Tidak salah untuk mencari tahu fasilitas apa yang kita peroleh. Bisa jadi kita dapat bantuan untuk biaya sewa rumah atau sejenisnya.


Demikian tulisan singkat saya. Mungkin tidak begitu lengkap tapi setidaknya bisa membantu memberikan informasi bagi mereka yang hendak/mau/ingin bekerja di Jepang.


 

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis.

Latar Belakang

Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan selama tahun itu. Deklarasi ini dilakukan untuk memastikan besaran pajak di bayarkan setiap bulannya sudah sesuai atau tidak. Apabila jumlah pajak yang dibayarkan telah sesuai atau belum. (Itulah kira-kira pemahaman saya mengenai deklarasi di akhir tahun ini. Apabila ada yang lebih memahami sistem perpajakan di Jepang, boleh dibagikan di kolom komentar).

Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi besar kecilnya pajak penghasilan yang kita bayarkan, salah satunya adalah Asuransi Jiwa. Apabila kita ikut program asuransi jiwa maka kita memperoleh keringanan pajak.

Pada saat itu, penulis belum tahu mengenai asuransi jiwa. Selama ini, penulis berpikir bahwa ketika di awal masuk dan mendaftarkan asuransi kesehatan maka otomatis juga akan mengcover asuransi jiwa dsb. (Persepsi penulis yang salah selama ini).

Asuransi Jiwa????? Dengan penasaran, penulis bertanya ke teman lab: Asuransi kesehatan kita beda ya dengan asuransi jiwa?

Teman pun menjawab: Ya, beda.

Haahhhh???? Kemana aja sodara selama hampir dua tahun kerja. Kenapa info ini tidak pernah saya dengar. (Itulah yang muncul di benak pikiran penulis).

Dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya penulis meminta tolong kepada pak bos  untuk menjelaskan mengenai sistem asuransi di tempat bekerja.

Begini ringkasan penjelasannya:

Asuransi Kesehatan secara umum di Jepang menggunakan sistem 70-30. Artinya: 70% ditanggung oleh perusahaan dan 30% dibayar sendiri.

Tapi, ditempat saya bekerja, ada tambahan sekitar 10-20% yang akan ditanggung sehingga pegawai biasanya akan membayar sekitar 10% (kira-kira itu penjelasan beliau diawal. Disini penulis sedikit kaget dan rasa penasaran kenapa selama ini biaya berobat lumayan murah dikarenakan hal ini tohh. Pantesan aja kemarin pakai ambulance ke RS bisa gratis dan hanya bayar biaya pengobatan ¥600). Tapi, nilai 10% ini tentunya masih bersifat relatif, bisa besar atau kecil.

Selanjutnya, beliau menjelaskan lagi melalui contoh kasus agar mudah dipahami:

  • Apabila terjadi kecelakaan yang menimpa pegawai di dalam lingkungan kerja, maka masuk katagori kecelakaan kerja dan akan ditanggung 100% untuk  biaya perawatan dll.
  • Namun, apabila kecelakaan di luar lingkungan kerja, maka asuransi kesehatan tersebutlah yang bekerja dengan sistem yang telah dijabarkan diatas.

Permasalahan

Bagaimana dengan keluarga kita? Tentu apabila terjadi kecelakaan atau hal apapun semuanya berada diluar lingkungan kerja, bukan? Artinya, ada biaya sekitar 10% yang akan dibayar sendiri.

Penulis kurang tahu dengan perusahaan lainnya, jadi disini kita asumsikan secara umum saja ya. Anggaplah yang ditanggung 70%, artinya ada sisa 30% yang perlu kita bayarkan.

30 % itu mahal atau murah sih?

Bagi penulis, 30% itu mahal. Kalau terjadi kecelakaan yang menyebabkan seseorang harus dioperasi dan harus dirawat inap di rumah sakit, maka biaya sewa kamar selama di RS tidak menjadi tanggungan asuransi kesehatan. (Untuk harga inap di RS per malam bisa dicari tahu sendiri dan menurut penulis lumayan mahal sih).

Nah, disinilah peran asuransi jiwa penting menurut penulis. Ketika kita mengikuti program asuransi jiwa, maka ketika terjadi kecelakaan atau hal lain yang membuat kita sampai di rawat inap, pihak asuransi akan memberikan biaya harian selama kita berada di rumah sakit. Ditambah lagi biaya-biaya lainnya yang akan ditanggung oleh asuransi jiwa. Dengan adanya asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, maka hal ini sangatlah membantu meringankan beban biaya yang nantinya akan dikeluarkan. Bahkan di beberapa kasus ada yang malah menerima uang setelah mengklaim biaya pengobatan ke asuransi.

Selain itu apabila sampai kehilangan nyawa karena kecelakaan, maka keluarga yang ditinggalkan akan menerima bantuan (tentunya besarnya tergantung dari premi bulanan yang kita bayarkan).

Begitulah kira-kira ringkasan diskusi kami mengenai asuransi jiwa ini.

Gerak cepat

Sesampainya di rumah, penulis langung menceritakan hal tersebut ke istri. Kami pun setuju untuk mengikuti program asuransi jiwa. Ini alasan kami mengikuti asuransi jiwa:

  • Kalau terjadi kecelakaan pada kami, setidaknya kombinasi antara asuransi jiwa dan asuransi kesehatan bisa menutup atau meringankan biaya yang dikeluarkan.
  • Kalau sampai meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan tidak langsung kehilangan sumber penghasilan.

Banyak yang beranggapan ya semua orang pada akhirnya meninggal toh, buat apa asuransi. Bagi saya itu anggapan yang keliru. Betul, anda hari ini bisa merasa sehat tapi siapa yang tahu hari esok. Setelah meninggal, anda tidak akan berurusan dengan masalah keuangan lagi kan, tapi anak dan istri yang ditinggalkan masih membutuhkan loh selama hidup di dunia..hehehe”

Di hari berikutnya, penulis meminta tolong kepada salah seorang pegawai di perusahaan yang berurusan dalam hal membantu para pekerja asing. Penulis menjelaskan terlebih dahulu permasalahannya dan selanjutnya beliau bersedia membantu mencarikan informasi mengenai asuransi jiwa.

Singkat cerita, ada dua atau tiga perusahaan yang direkomendasikan. Dari semuanya itu, saya akan menceritakan satu perusahaan saja.

茨城県民生活協同組合 (Ibaraki Kenmin Seikatsu Kyoudou Kumiai)

(Silahkan cek disini untuk info lebih lanjut https://www.ibaraki-kyosai.jp/)

Perusahaan asuransi ini khusus bagi warga yang tinggal di Ibaraki. Mereka punya cabang di masing-masing prefecture dengan nama yang berbeda (mungkin tinggal ganti Ibaraki ********** dengan [nama prefecture] *******). Begitu info dari pegawai mereka sewaktu saya membuat kontrak dengan mereka.

Kenapa memilih perusahan ini?

  • Premi bulannya mulai dari ¥1.000. Cukup murah bukan? Tapi, apa yang didapatkan dengan premi 1.000 yen/bulan?
    • Kalau rawat inap akan mendapat biaya ¥ 2.500/hari.
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 132.000 – 3.300.000 (tergantung kondisi).
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan selain kecelakan lalu lintas: ¥ 80.000 – 2.000.000 (tergantung kondisi).
    • Kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 5.000.000
    • Kematian yang disebabkan selain kecelakaan lalu lintas: ¥ 4.000.000
    • Kematian yang disebakan karena sakit (Bahasa indonesianya mungkin agak kurang benar): ¥ 2.000.000
    • Ada banyak hal lainnya yang ditawarkan, silahkan dikunjungi websitenya langung (hanya Bahasa Jepang).
  • Sangat mudah bagi warga asing. Kenapa? karena tidak ada kontrak yang mengikat. Jadi apabila suatu saat kembali ke negara asal atau pindah ke negara lain, maka bisa memutuskan kontrak kapan saja tanpa denda. (biaya administrasi mungkin ada).
  • Diakhir fiscal year (sekitar bulan Maret), apabila jumlah premi yang masuk dari seluruh pelanggan lebih besar dari jumlah uang yang dikeluarkan untuk klaim asuransi (artinya banyak warga yang sehat) maka selisih uang tersebut akan dikembalikan ke pelanggan disesuaikan dengan premi bulanan. Menurut info pegawainya sebesar 20-30%. Bagi penulis hal ini cukup menarik, sehingga timbul pertanyaan kepada mereka bagaimana kalau dari April 2020 – Maret 2021 jumlah klaim asuransi lebih besar dari pemasukan? Mendengar pertanyaan saya, mereka lumayan terkejut dan mengatakan “Heeeehhhh”(eskpresi orang jepang yang kaget atau bingung). Jawabannya cukup diplomatis: sampai saat ini belum pernah terjadi hal demikan.
  • Bagaimana kalau terjadi kecelakaan atau hal lainnya di luar Jepang? Apakah biaya yang dikeluarkan selama perobatan di luar Jeapng bisa diklaim? Jawabannya: Bisa, tentunya dengan membawa bukti dari RS atau diagnosa dokter, dsb. Intinya syarat dan ketentuan berlaku.
  • Syarat pendaftaran yang sangat mudah: bawa inkan (stamp) dan buku tabungan.

Setelah mendengar penjelasan langsung dari mereka, penulis mendaftarkan seluruh anggota keluarga (istri dan anak) ke dalam program asuransi jiwa tersebut.

Mungkin ini sedikit informasi yang bisa saya bagikan terutama kepada kita yang sedang ada di Jepang. Semoga bisa bermanfaat.

Bagi mereka yang punya informasi lebih detail atau sudah ikut asuransi jiwa ini bolehlah tinggalkan komentar. Mungkin pengalamannya akan sangat berguna bagi kami yang baru mulai ikut atau bagi orang lain yang tertarik dengan program asuransi jiwa.

Maaf apabila ada salah kata dalam mengartikan atau informasi yang salah. Mohon Dikoreksi. Informasi yang penulis bagikan disini adalah berdasarkan informasi yang diterima langsung dari pegawai asuransi ketika penulis hendak bergabung dengan asuransi jiwa mereka. Terimakasih.