Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (4)

Tokaimura Total Gymnastics.

Fasilitas Olahraga

Salah satu yang membuat betah tinggal di Desa Tokai adalah tersedianya berbagai macam fasilitas olahraga. Baik itu fasilitas yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Hal yang membedakannya adalah biaya sewa. Tentu saja yang dikelola oleh pemerintah jauh lebih murah biaya sewanya.

Advertisements

1. Tokaimura Total Gymnastics

Gedung olahraga serba guna ini terletak sekitar 1.5 km dari stasiun Tokai. Gedung ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terdapat beberapa ruangan besar yang dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan olahraga. Main court dapat digunakan untuk bermain basket, voli, badminton ataupun kegiatan lainnya. Selain itu terdapat juga beberapa lapangan indoor yang digunakan untuk kegiatan Judo/Kendo maupun Kyudo (Seni bela diri panahan).

Untuk harga sewanya sendiri cukup bervariasi. Berdasarkan pengalaman saya, harga sewanya sekitar ¥ 300 untuk menyewa main court (bermain badminton) dengan durasi sekitar 3 jam. Harga sewa ini cukup terbilang murah dibandingkan ketika menyewa lapangan badminton yang dikelola oleh pihak swasta.

Untuk lantai dua, terdapat training room yang biasanya digunakan untuk nge-gym. Fasilitas yang terdapat di tempat nge-gym sendiri bisa dibilang cukup lengkap. Harga tiket untuk bisa menggunakan training room adalah ¥100. Dengan harga yang sangat murah ini, anda bisa berolahraga sepuasnya.

Beberapa fasilitas tambahan yang dapat digunakan secara gratis di gedung ini:

  1. Shower room. Shower room ini berada di lantai 1. Jadi, sehabis berolahraga dapat langsung membersihkan diri di kamar mandi yang telah tersedia. Penggunaan shower ini tidak dikenakan biaya sama sekali.
  2. Locker. Terdapat beberapa (cukup banyak) locker yang terdapat di lantai 2 dan bisa digunakan secara gratis.
  3. Vending machine. Terdapat mesin minuman otomatis yang berada di lantai 1. Tentunya minuman yang tersedia di vending machine ini tidak gratis. Hehehe.

Tokaimura Total Gymnasium

BUKA: 09:00 – 21:30 JST dan 09:00 – 18:30 JST (Hari Minggu dan hari libur).

TUTUP: Hari Senin (Hari Selasa tutup apabila hari Senin terdapat libur nasional), 28 Des – 3 Jan (Libur Akhir dan Awal Tahun).

Berdasarkan pengalaman saya, hari Sabtu dan Minggu siang Gymnasium ini cukup ramai oleh anak-anak sekolah yang mengikuti kegiatan olahraga dari sekolahnya. Sedangkan untuk training room sendiri cukup ramai di malam hari sekitar jam 7 malam.

Advertisements

2. Swimming Plaza

Tepat disebelah Tokaimura Total Gymnasium, terdapat juga kolam renang umum yang dikelola oleh pemerintah. Akan tetapi, kolam renang ini terdapat diluar (outdoor) sehingga tidak bisa beroperasi sepanjang tahun (siapa juga yang mau berenang diluar pada saat musim dingin atau musim gugur..hehe).

Kolam renang yang berada tepat disebelah Tokaimura Total Gymnastics.

Harga tiket sendiri sekitar ¥200 untuk anak SMP maupun orang dewasa, untuk anak SD sekitar ¥100, dan untuk bayi tidak dikenakan biaya (tapi harus ada pendamping).

Swimming pool

1 – 19 Juli dan 21 Agustus – 10 September : 09:00 – 16:00 JST.

20 Juli – 20 Agustus : 09:00 – 19:00 JST.

Karena ini merupakan kolam renang outdoor, maka jam operasional bisa berubah tergantung kondisi cuaca. Selain itu kolam renang akan ditutup sementara untuk perawatan maupun pemeliharan setiap jam 12:00 – 13:00 dan 16:00 – 17:00 JST.

Kedua fasilitas olahraga tersebut hanyalah sedikit fasilitas yang ada di Desa Tokai. Selain itu masih ada kegiatan olahraga lainnya yang diadakan oleh komunitas maupun pemerintah setempat.

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”

Main tebak-tebakan yuk..

Hingga saat ini dibeberapa daerah banyak diterapkan WFH. Mari mengisi waktu luang dengan bermain tebak-tebakan yang sederhana. Ini ada satu tebak-tebakan yang sudah lama tapi sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab. 2 + 2 = 4 2 x 2 = 4 Coba cari bilangan lain selain 0 (nol) yang ketika dilakukan operasi matematika dapat … Continue reading “Main tebak-tebakan yuk..”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (3)

The 0123, salah satu perusahaan penyedia jasa pindahan di Jepang.

Mahalnya Jasa Pindahan di Jepang

Pada cerita sebelumnya, telah diketahui bahwa pada akhirnya saya hanya bertahan kurang dari satu bulan di Minowa Dormitory dan memutuskan untuk pindah ke dormitory yang lebih dekat dengan stasiun Tokai.

Hal yang harus saya persiapkan sebelum pindahan adalah mencari jasa pindahan. Ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.

Berikut saya tuliskan langkah yang dilakukan ketika hendak menggunakan jasa pindahan.

  1. Mencari perusahaan jasa pindahan. Saat itu saya menggunakan jasa dari perusahaan ” The 0123 “.
  2. Menghubungi perusahaan tersebut untuk membuat janji untuk melakukan Mitsumori (見積り) atau estimation.
  3. Satu orang pegawai perusahaan akan datang ke rumah untuk melihat dan mengestimasikan biaya (Mitsumori (見積り) yang akan dikeluarkan untuk pindahan tersebut. Semakin banyak barang tentunya akan membuat harga semakin mahal. Selain jumlah barang, jarak tempuh juga berpengaruh terhadap harga.
  4. Kalau setuju dengan estimasi harga yang diberikan, maka silahkan membuat janji untuk menentukan tanggal pindah. Kalau tidak setuju dengan estimasi harga yang diberikan silahkan dibatalkan tentunya dengan cara yang baik. Mereka juga tidak akan marah karena hal ini biasa terjadi di dunia usaha.
  5. Pihak perusahaan akan memberikan sejumlah kardus secara gratis apabila menggunakan jasa mereka. Selain itu, mereka juga bisa menangani sampah atau barang yang tidak mau dibawa ke tempat yang baru.
  6. Pembayaran dilakukan setelah semua barang dipindahkan ke tempat tinggal yang baru.
Advertisements

Awalnya saya berpikir bahwa menggunakan jasa pindahan tidak akan begitu mahal karena lokasi pindahan masih di dalam desa Tokai dan jarak tempuh kurang dari 5 km. Selain itu, saya juga tidak mempunyai banyak barang karena hampir semua barang-barang yang ada di apartemen di Tokyo seperti mesin cuci, kulkas, meja makan, rice cooker dll sudah saya hibahkan kepada teman-teman di kampus.

Saat itu, barang yang akan saya bawa ke tempat tinggal yang baru hanya pakaian, buku, TV, meja belajar, peralatan dapur, AC, kasur dan futon.

Berdasarkan kondisi tersebut, tentulah wajar saya membuat asumsi kalau biaya pindahan ini tidak akan begitu mahal. Hingga akhirnya staf tersebut menghitung estimasi biaya yang akan saya keluarkan sekitar ¥ 55.000 diluar biaya pasang AC di tempat tinggal yang baru.

Cukup kaget mengingat dengan jarak sedekat itu biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Jadi teringat semasa tinggal di Kelurahan Miyamae, Kawasaki sering sekali sesama warga Indonesia bahu membahu membantu pindahan sesama warga Indonesia tanpa pamrih dan hanya bermodalkan sewa mobil truk atau pickup (walaupun saya sangat jarang ikutan.. hehe).

Pindahan yang jaraknya masih di dalam Desa Tokai aja harganya segitu ya, gimana pindahan dari Kawasaki ke Desa Tokai ya? Apalagi pindahannya pada saat ‘high season’ sekitar bulan Februari hingga April. Kira-kira bisa kena berapa ya?

Advertisements

Karena ini adalah pengalaman pertama saya, tentunya saya menanyakan kepada teman Jepang mengenai harga yang diestimasikan tersebut. Ternyata teman saya mengatakan harga segitu cukup normal.

Dari sini saya belajar bahwa Jepang adalah negara yang cukup menghargai mereka yang bekerja di bidang jasa. Selain itu cara kerja hingga hasil yang saya terima pun sangat memuaskan.

Pemasangan pelindung pada pintu maupun dinding untuk menghindari kerusakan pada pintu atau barang.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (2)

Salah satu hal wajib yang harus dilakukan ketika pindah di Jepang adalah mengurus administrasi kepindahan. Saya sudah mengantongi surat keluar dari tempat tinggal saya yang dulu. Surat inilah yang harus saya bawa ke Kantor Desa untuk mendaftarkan diri sebagai penduduk di desa Tokai.

Seperti di tulisan saya sebelumnya, pengurusan administrasi di Jepang bisa dibilang cukup mudah dan tidak perlu menggunakan ‘oknum atau calo’ untuk mempermudah urusan.

Baca juga: https://liapto.com/2020/04/28/jepang-mengajarkan-ku-1-taat-administrasi/

Setelah semua urusan administrasi selesai, saya memperoleh bingkisan dari Tokai berupa Buku Panduan Hidup di Desa Tokai.

Banyak hal yang menarik yang ditawarkan oleh desa ini seperti: Informasi transportasi umum, Tempat Wisata di Desa Tokai, Kelas Bahasa Jepang, Pelayanan Taksi Desa, Tempat olahraga dan gymnasium, peta Desa Tokai, dll.

Transportasi Umum

Terdapat beberapa transportasi umum yang bisa digunakan di desa Tokai, yaitu: bus, taksi reguler dan taksi khusus.

  • Bus. Terdapat beberapa rute bus yang ada di desa Tokai. Kami menggunakan rute Tokai Station – Hitachi Seaside Park atau Tokai Station – Ibaraki East Hospital. Kedua jalur bus ini melewati dormitory tempat kami tinggal. Informasi yang terdapat di buku panduan Tokai mengenai jadwal bus sepertinya kurang diperbaharui (2018). Awalnya, saya cukup optimis karena rute tersebut mempunyai jadwal yang cukup banyak (hampir setiap jam ada bus yang lewat melalui rute tersebut). Untuk harga tiketnya sendiri dipatok berdasarkan jarak. Harga tiket dari Tokai Station menuju Hitachi Seaside Park sekitar ¥ 530. Sedangkan dari Tokai Station ke Minowa Dormitory sekitar ¥ 330.
  • Taksi reguler. Hampir sama seperti kebanyakan taksi yang ada di Jepang dimana tarif yang digunakan adalah ¥730 untuk 2 km pertama. Sejauh ini ada dua taksi yang beberapa kali kami gunakan, yaitu JOTO Taxi dan SUN Taxi, terutama pada saat istri sedang hamil.
  • Taksi khusus (Ainori-kun). Taksi ini adalah layanan khusus yang disediakan oleh desa Tokai kepada warganya. Taksi ini bisa menghantarkan kita kemana saja selama itu berada di Desa Tokai. Tarif yang dibayarkan pun cukup murah dibandingkan dengan taksi reguler. Biasanya tarif ini disesuaikan dengan kondisi penumpangnya (ibu hamil, anak kecil, nenek, kakek, orang dewasa) tapi harga paling mahal yang dibayarkan adalah ¥300 untuk satu kali penggunaan jasa Ainori-kun. Untuk mendapatkan jasa taksi ini, kita harus mendaftarkan semua anggota keluarga ke bagian administrasi Ainori-kun yang terdapat di kantor desa Tokai. Karena ini taksi khusus, maka terdapat jam operasional yaitu dari jam 08:00 – 16:30 setiap hari Senin sampai Sabtu. Taksi ini tidak bisa digunakan dihari Minggu maupun hari libur nasional.
Salah satu informasi yang ada di buku panduan Tinggal di Desa Tokai

Dari informasi awal yang saya terima, sepertinya saya cukup optimis untuk tinggal di Minowa Dormitory walaupun lokasinya berada di tengah-tengah persawahan dan tidak ada supermarket atau minimarket di sekitarnya. Akan tetapi, baru seminggu saya tinggal di desa ini, terjadi perubahan jadwal bus dimana jadwal bus di siang hari telah ditiadakan untuk rute Minowa Dormitory – Tokai station. Bagi saya, hal ini tidak begitu bermasalah karena saya berada di lab dari pagi hingga sore hari. Akan tetapi, ini menjadi masalah besar bagi istri. Bagaimana nantinya dia bisa pergi belanja ke supermarket? Bagaimana kalau bosan di rumah dan ingin jalan kota sebelah? Banyak pertimbangan yang akhirnya dipikirkan hanya gara-gara jadwal bus yang berubah.

Advertisements

Pada saat saya pindah ke Desa Tokai, istri sedang berada di Indonesia untuk menyelesaikan beberapa urusan. Hal ini membuat istri belum mengetahui secara langsung kondisi Desa Tokai saat itu.

Melihat situasi tersebut, akhirnya saya berdiskusi dengan pak bos di tempat kerja untuk minta dicarikan dormitory yang lokasinya berada di sekitar stasiun. Bersyukur banget karena pak bos sangat baik hati membantu semua proses dari awal hingga pindah ke dormitory yang baru.

Hasilnya, saya hanya tinggal di Minowa Dormitory kurang dari satu bulan. Setelahnya, kami pun tinggal di dormitory yang baru, Hyakutsukahara Dormitory, dan lokasinya berada di “downtown” desa Tokai dan hanya berjarak sekitar 1.5 km dari stasiun Tokai.

Barang pindahan dari Minowa ke Hyakutsukahara dormitory.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang.

Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah.

Gambaran singkat yang saya peroleh hanyalah dari beberapa teman yang pernah tinggal disini selama beberapa bulan pada saat menjalani internship di perusahaan tempat saya berkerja saat ini, JAEA (Japan Atomic Energy Agency).

Cek Lokasi dari Google Map

Salah satu hal yang sering saya lakukan sebelum pindah adalah menjelajahi desa Tokai secara virtual melalui google map. Hal ini saya lakukan untuk mendapatkan gambaran lokasi kerja, stasiun kereta, hingga suasana lingkungannya. Dari kegiatan ini terangkum bahwa jarak dari Stasiun Tokai ke tempat kerja kurang lebih 5 km dan wilayah yang sebahagian masih berupa hutan atau persawahan.

Tempat Tinggal

Perusahaan tempat saya bekerja memberikan pilihan untuk tinggal di dormitory (asrama) atau mencari apartemen sendiri. Dormitory yang disediakan pun ada untuk yang single maupun yang berkeluarga. Karena saya tidak punya gambaran yang jelas serta tidak mengetahui lokasi desa Tokai dan kota yang ada disekitarnya, maka tinggal di dormitory menjadi pilihan yang saya pilih saat itu.

Hal lain yang tidak saya ketahui adalah, perusahaan ini punya banyak dormitory yang tersebar di beberapa lokasi desa. Hampir diseluruh penjuru desa terdapat dormitory milik perusahaan. Ada yang berlokasi di dekat kantor, ada yang di dekat stasiun Tokai, ada yang dekat ‘pusat desa’ Tokai, hingga ada juga yang di dekat kuburan yang dikelilingi oleh persawahan.

IMG_6521
Minowa Dormitory

Jackpot

Sekitar dua bulan sebelum pindah ke Desa Tokai, perusahaan sudah memberitahukan dormitory yang akan ditempati. Saat itu saya diberikan ijin tinggal di Minowa Dormitory. Langsung saya membuka Google Map untuk melihat lokasi dormitory ini. Hasilnya, dormitory tersebut terletak sekitar 5 km dari Stasiun Tokai dan 3 km dari kantor. Ditambah lagi tidak terdapat supermarket, minimarket, atau bahkan market-market lainnya disekitar dormitory. Hanya ada persawahaan, kuburan, dan bahkan tidak ada rumah warga disekitarnya.

Jackpot sekali saya dapat dormitory ini.

IMG_6520
Pemandangan sekitar dormitory.

Hari Pertama di Desa Tokai

Hari pertama saya tiba di desa Tokai berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan ketika pertama kali tiba di Tokyo.

Saya sengaja pindah ke Desa Tokai pada hari Sabtu sehingga bisa beristirahat dan mengenal lingkungan sekitar sebelum memulai kerja di Hari Senin.

Saya tiba di Stasiun Tokai sekitar pukul 19:30 JST.  Tidak tampak banyak orang berlalu lalang di sekitar stasiun bahkan sulit melihat kendaraan yang melaju di sekitar stasiun. Suasana yang sangat berbeda jauh dengan tempat tinggal sebelumnya. Tapi, gedung AEON 3 lantai yang berdiri di depan stasiun cukup meyakinkan bahwa Desa Tokai ini bukanlah desa yang bisa dipandang sebelah mata saja.

IMG_6362
Stasiun Tokai di malam hari.

 Mumpung ada AEON, saatnya menikmati makan malam di desa ini sambil membeli sedikit makanan dan minuman untuk persediaan di hari esok. Tentu, saya tidak mau bersikap bodoh dengan tidak membeli apapun  di AEON mengingat saya tidak mengetahui dimana lokasi convenience store atau sejenisnya di dekat dormitory.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:00 JST. Saya pun hendak menuju ke dormitory untuk beristirahat.

Dari Stasiun Tokai ke Minowa Dormitory bisa ditempuh menggunakan bus atau taksi. Biaya yang dibutuhkan dengan bus sekitar ¥350 sedangkan dengan taksi sekitar ¥2.000. Tentulah menggunakan bus menjadi pilihan yang utama tetapi saat itu saya baru menyadari bahwa jadwal bus terakhir dari Stasiun Tokai adalah pukul 20:34 JST ditambah lagi tidak setiap jam ada bus yang beroperasi.

Hal ini tentunya hal pertama yang cukup mengagetkan ketika tinggal di desa Tokai.

Mau tidak mau saya pun harus menggunakan taksi menuju dormitory. Betapa kegetnya saya karena sepanjang perjalanan menuju dormitory tidak ada apapun selain hamparan sawah, tanah kosong, dan beberapa pabrik. Hanya ada satu minimarket dan itu berjarak sekitar 2 km dari stasiun ditambah lagi rute tercepat menuju dormitory memiliki beberapa tanjakan dan turunan.

Hal itu menjadi hal kedua yang membuat saya cukup kaget ketika baru sampai di Desa Tokai.

Baru tiba di Desa Tokai dan belum sampai ke dormitory saja, saya sudah dikagetkan dengan dua hal tersebut. Hal yang belum pernah terjadi selama tinggal di Tokyo.


 

Cerita lainnya: Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Dampak COVID19 terhadap tagihan air (PAM) di Desa Tokai Jepang

Air adalah salah satu sumber utama dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak kegiatan sepanjang hari yang membutuhkan air mulai dari mandi, minum, hingga mencuci pakaian.

Sejak menyebarnya kasus COVID19 di prefektur Ibaraki, tingkat pemakaian air pun semakin meningkat di rumah. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh istri adalah wajib mandi setelah keluar dari rumah. Selesai bermain di taman sebelah rumah pun harus mandi lagi. Intensitas mandi berdampak juga terhadap intensitas penggunaan mesin cuci karena semua pakaian wajib langsung dicuci apabila sudah dipakai keluar rumah. Tentulah kedua hal ini berdampak langsung terhadap kenaikan volume penggunan air sepanjang periode bulan Maret hingga Mei sebesar 7 m³.

Tentu saja dampak kenaikan penggunaan air ini akan berakibat terhadap kenaikan tagihan air, bukan?

Tagihan air di Desa Tokai

Tagihan air sedikit berbeda dengan tagihan listrik maupun gas. Tagihan air dibayarkan setiap dua bulan sekali. Selain itu, tagihan air di Desa Tokai dikatagorikan kedalam dua bagian, yaitu: penggunaan air (PAM) dan air limbah.

Untuk sistem pembayaran air, bisa dilakukan dengan manual (bayar melalui minimarket) ataupun auto debit.

Kami sendiri biasanya menggunakan sekitar 30 hingga 40 m³ air selama dua bulan untuk kebutuhan sehari-hari dengan total tagihan sekitar ¥ 8.000 hingga ¥ 12.000.


Kasus luar biasa pernah terjadi di musim dingin (Nov – Jan) dimana pemakaian air melonjak hingga 60 m³. Saat itu, petugas air datang sampai datang ke rumah untuk melakukan pengecekan apakah terdapat kebocoran saluran air.


Dampak COVID19

Tidak bisa dipungkiri bahwa COVID19 telah memberikan dampak yang begitu besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap banyak sektor kehidupan, salah satunya adalah dampak ekonomi.

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah (Desa Tokai)  memberikan bantuan subsidi biaya air kepada rumah tangga maupun pelaku usaha yang ada di Desa Tokai. Bantuan ini berupa penggratisan atau keringanan untuk biaya air (PAM) sedangkan untuk biaya air limbah tidak mendapatkan subsidi untuk periode pemakaian di bulan April dan Mei.

Kebijakan ini bisa jadi berbeda ditiap-tiap daerah. Untuk lebih jelasnya silahkan dicek di website daerah masing-masing.

PQCME3499
Biaya air (PAM) ¥0 dan biaya limbah ¥ 4.850.

Sumber

https://www.vill.tokai.ibaraki.jp/kurashi_tetsuzuki/jo_gesuido/4868.html