Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.

Tokai adalah sebuah desa yang terletak di Prefektur Ibaraki, Jepang. Secara ekonomi, desa Tokai ditopang oleh sektor industri nuklir (pemerintah dan swasta).

Beberapa industri nuklir yang terdapat di Desa Tokai adalah: Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Japan Proton Accelerator Research Complex (J-PARC), Nuclear Fuel Industries, The Japan Atomic Power Company Tokai No.2 Power Station (PLTN), Nuclear Professional School The University of Tokyo, Japan Irradiation Service, Mitsubishi Nuclear Fuel, Mitsubishi Nuclear Fuel Station. 

Dengan ada banyaknya industri nuklir di desa Tokai (38 km2), maka tidak berlebihan bila saya menyebutkannya sebagai Desa Nuklir.

Pemerintah Desa Tokai pun melalui Disaster Prevention and Nuclear Energy Safety Section memberikan panduan apabila terjadi kecelakan nuklir.

Pada tulisan ini, saya mau membagikan beberapa informasi mengenai persiapan menghadapi kecelakaan atau bencana nuklir yang dirangkum dari pamplet/brosur yang diterbitkan oleh Pemerintah Tokai dan dibagikan kepada setiap warga masyarakat yang tinggal di Desa Tokai.

Nuclear Emergency

PLTN dan fasilitas nuklir lainnya secara serius untuk mencegah terjadinya pelepasan material radioaktif apabila terjadi kecelakaan atau bencana nuklir. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan terjadi situasi dimana radioaktif tersebar ke lingkungan diluar fasilitas nuklir tersebut dan dapat mengontaminasi lingkungan dan masyarakat yang ada disekitarnya. Situasi seperti ini disebut dengan “nuclear emergency”.

Karakteristik dari Nuclear Emergency

Nuclear Emergency mempunyai karakter yang unik dan berbeda dibandingkan bencana alam seperti banjir, kebakaran maupun gempa bumi.

  1. Kita tidak bisa menggunakan kelima indra untuk mendeteksi radiasi. Hal ini dikarenakan sifat radiasi yang tidak terlihat, tidak berbau, dan tidak bersuara.
  2. Kita tidak bisa menduga-duga penyebaran radiasi secara mandiri. Penyebaran radiasi hanya dapat diukur menggunakan alat khusus, salah satunya detector radiasi.

Nuclear Preparedness

Apabila terjadi kecelakaan atau bencana nuklir, maka ada hal mendasar yang perlu diketahui mengenai radiasi dan radioaktifitas secara benar. Hal ini berguna dalam mengambil tindakan yang benar untuk meminimalisir terpapar radiasi.

Tiga prinsip dasar untuk mengurangi tingkat paparan radiasi pada saat nuclear emergency:

  1. Menghalangi radiasi menggunakan perisai yang sesuai seperti beton (concrete).
  2. Mengatur jarak aman dari sumber radiasi.
  3. Mengurangi waktu paparan.

Dapatkan Informasi yang Akurat

  • Dapatkan informasi akurat dari sumber terpercaya melalui radio, TV, sosial media.
  • Jangan percaya kepada rumor atau informasi palsu.
  • Tetap di dalam rumah sampai ada instruksi lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Tukar informasi yang benar dengan tetangga dan cek kondisi mereka.
  • Jangan mencari informasi melalui telepon karena ada kemungkinan line telepon tidak bisa digunakan.

Evakuasi

Shelter indoors

  • Tutup semua pintu dan jendela.
  • Matikan sistem ventilasi udara.
  • Matikan AC.
  • Pastikan untuk mencuci wajah, tangan, ganti pakaian, serta tempatkan pakaian tersebut di kantong plastic atau tas.
  • Selalu update informasi melalui TV, radio atau internet.

Hal yang dilakukan sebelum Evakuasi

  • Matikan seluruh peralatan elekronik dan saluran gas.
  • Tutup pintu dan jendela.
  • Bawa barang-barang yang berharga, obat-obatan tapi tetap seminimalis mungkin.

Demikian informasi yang bisa dibagikan dan semoga bermanfaat.

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

30 Menit Bersama Henokh.

Hampir selalu di setiap siang atau sore, mami Henokh menelepon dan berkata ” Nanti sore, kami mau main ke taman. Mau nyusul gak? Dan hampir selalu jawaban saya ” OK. Sekitar jam 6an ya.”

Kalau dipikir-dipikir, waktu yang saya berikan bermain bersama Henokh sepulang kerja hanya sekitar 30 menit. Dimana setelah pulang dari lab sekitar jam 6 sore, saya langsung mengayuh sepeda menuju taman dan bermain bersama Henokh hingga jam 7.

30 menit yang berharga

Hal pertama yang sering saya lakukan ketika sudah sampai di taman adalah membunyikan bel sepeda sambil memanggil “Henokh…Henokh…” sambil menuju parkiran sepeda. Kebahagian yang utama adalah Henokh yang segera berlari kecil menuju parkiran sambil senyum atau teriak-teriak memanggil ” Papa…Papa..Papa”

Biasanya Maminya ditinggal atau dicuekin. Hal ini kadang bisa buat maminya cemburu. Hahaha

Hal yang biasa kami lakukan di taman adalah melihat gerombolan burung di udara yang terbang atau anjing yang sedang berjalan bersama dengan majikannya. Setelah sejenak berdiri menikmati suasana tersebut, lalu Henokh pun berlari menuju pelosotan favoritnya.

Taman bermain favorit Henokh karena dekat rumah.

Sambil dia berlari menuju ke pelosotan, maminya bercerita kalau Henokh sudah bisa naik tangga sendiri dan mau memilih pelosotan yang lebih tinggi. Selain itu, maminya biasanya menceritakan setiap perkembangan dan tingkah laku Henokh sepanjang hari. Tentu saja tidak lupa dengan kejailan-kejailan Henokh yang sering ngerjain maminya. Hahaha

Kami pun menemani Henokh bermain pelosotan atau sekedar naik turun wahana bermain lainnya. Dan tidak terasa langit mulai gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Terjatuh sewaktu mau mendaki salah satu wahana bermain.

30 menit adalah waktu yang singkat. Tinggal bagaimana memanfaatkannya dengan baik. Saya memilih menghabiskan 30 menit tersebut dengan keluarga kecil di Desa Tokai.

Henokh sedang unjuk kebolehan menaiki salah satu wahana bermain. (Dok. Pribadi)

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja. Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja.

Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Berdasarkan informasi ramalan cuaca tersebut, cuaca mendung akan menghiasi desa Tokai dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pergi dari pagi hingga siang hari. Kebetulan juga ada kegiatan lain yang harus dihadiri di sore harinya secara online.

Jalanan dari rumah menuju ke pantai cukup sepi sehingga kami bisa bersepeda dengan santai dan menikmati pemandangan sekitar. Sekitar 1 km sebelum pantai, kami harus menempuh jalan yang sedikit off road dan jalanan setapak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke pantai karena roda sepeda yang tidak bisa (tidak aman) melanjutkan perjalanan. Pilihan lainnya adalah kami harus memarkirkan sepeda dan berjalan kaki ke pantai. Pilihan ini tidak kami ambil mengingat waktu yang dibutuhkan akan lebih lama dan kami ada kegiatan lain di sore harinya.

Kami pun memutar balik arah sepeda kami hingga kami sadar kalau disekitar daerah tersbut adalah taman terbesar di Desa Tokai, ‘Akogigaura Park’.

Kami pun memutuskan untuk membawa Henokh bermain di taman tersebut. Hari ini adalah hari pertama bagi kami bertiga untuk bermain di taman tersebut.

MENAKJUBKAN…!!!!!

Tidak sabar kami mengayuh sepeda ke Akogigaura Park. Dari simpang jalan hingga ke arah taman bermain anak, kami disuguhi dengan pohon sakura yang akan sangat indah apabila dilalui pada saat bunga sakura sedang mekar-mekarnya. Hingga kami disuguhkan oleh taman bermain yang sangat menakjubkan untuk ukuran sebuah desa.

Ini adalah taman bermain terbesar dan terlengkap yang ada di Desa Tokai. Taman bermain ini bisa dinikmati dari anak usia 1 -12 tahun. Ada terdapat berbagai jenis permainan yang bisa dinikmati oleh anak sesuai usianya. Karena ini pertama kalinya kami datang ke taman ini, saya dan istri sampai tidak bisa berkata- kata melihat bagaimana Desa Tokai menyediakan berbagai fasilitas untuk warganya.

“Wajib datang ke taman Akogigaura lagi..!!!”

Henokh pun tidak sabar untuk segera turun dari sepeda dan setengah berlari menuju permainan favoritnya, “Pelosotan”. Dia berlari kesana kemari setelah mencoba beberapa permainan. Selain itu, sifat bersahabatnya di tunjukkan dengan menghampiri anak-anak yang seusianya atau diatasnya untuk diajak berkomunikasi atau bermain.

Saya dan istri pun tidak tahu bahasa apa yang dipakai Henokh ketika berbicara dengan anak bayi lainnya. Yang ada, kami melempar senyum kepada orangtua yang anaknya sedang diajak Henokh bermain.

Tidak terasa satu jam sudah terlewatkan karena menikmati beragam permainan di taman. Kami pun harus kembali pulang mengingat jam makan siang Henokh yang sudah lewat.

Membuat Memori

Bagi saya sendiri, hal sederhana seperti ini adalah momen dimana saya membuat memori menikmati kebersamaan bersama keluarga kecil di desa ini.

Akan jadi memori yang tidak akan terlupakan tentunya bagi saya dan istri. Sedangkan tulisan ini menjadi memori bagi Henokh nantinya ketika dia sudah besar bahwa banyak hal-hal seru yang dilalui bersama selama tinggal di Desa Tokai bersama kedua orangtuanya.

Foto sebagai pemanis

Berikut ini beberapa foto di taman bermain “Akogigaura Park”

Wahana bermain anak-anak. (Dok. pribadi)
Pelosotan adalah salah satu wahana favorit anak-anak.
Papan informasi wahana yang ada di Akogigaura Park.
Yuk baca tata tertib bermain di taman.

Nasi telah menjadi sereal

Beberapa hari ini kepikiran dengan menu sarapan yang jauh berubah ketika tinggal di Indoneisa. Sewaktu menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja, sarapan dengan menu complit (nasi+sayur+lauk) adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebelum memulai aktifitas perkuliahan. Kalau ada kuliah pagi, setidaknya sebungkus roti yang dijual di warung dekat kosan harus dimakan untuk memperoleh energi selama … Continue reading “Nasi telah menjadi sereal”

Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….

Sudah lama rasanya tidak menuliskan cerita seri tentang celotehan kecil ala suami istri. Kali ini menceritakan celotehan antara sepasang suami istri pada saat sedang bersepeda bersama Henokh. Laura (L), Irwan (I), Henokh (H) I: Ayo siap-siap…sepedaan jam 10 aja ya biar gak panas kali di jalan nanti. L: Ok… Henokh siap-siap, ambil kaus kakimu nak … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….”

Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang

Selama tinggal di Jepang, gempa bumi adalah salah satu hal yang paling sering terjadi dan paling sering dirasakan sepanjang tahun. Mulai dari gempa bumi yang skala kecil hingga cukup besar. Salah satu pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan adalah gempa bumi yang terjadi disore hari sekitar bulan Oktober 2012. Oktober 2012 Saya baru saja memasuki … Continue reading “Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang”

Kejujuran pegawai bengkel sepeda di Desa Tokai Jepang.

Ilustrasi sepeda.

Hari Senin kemarin, saya baru menyadari ada keretakan pada ban sepeda bagian depan. Oleh karenanya, pulang dari lab, saya langsung ke bengkel sepeda yang ada di dekat Stasiun Tokai. Sesampainya disana sekitar jam 7 malam, ternyata teknisi yang bisa memperbaiki sepeda sedang tidak ada di tempat. Hanya ada pegawai lainnya yang kurang paham tentang kondisi ban sepeda tersebut.

Pegawai tersebut menyarankan saya untuk setidaknya memilih jenis ban sepeda yang akan dibeli dan menjelaskan estimasi harga yang akan dikenakan untuk ban dan jasa pemasangan. Selain itu, dia menyarakan agar sepedanya ditinggal saja dan besok akan diperiksa oleh teknisi.

Mendengar hal tersebut, saya pun menyanggupi dan meminta untuk dilakukan pengecekan juga dengan ban belakangnya. Selanjutnya, pegawai tersebut menjelaskan bahwa harga 1 ban sekitar ¥1.200 dimana biaya pemasangan ban depan ¥1.000 dan pemasangan ban belakang ¥1.800. Berdasarakan penjelasannya, pemasangan ban belakang lebih rumit dibandingkan dengan ban depan sehingga harganya lebih mahal. Sehingga total biaya yang akan saya keluarkan adalah sekitar ¥5.000.

Cukup mahal juga ya untuk biaya mengganti ban sepeda mengingat bahwa dengan uang sekitar ¥12.000 sudah bisa dapat sepeda baru.

Setelah menjelaskan hal tersebut, pegawai tersebut meminta nomor yang bisa dihubungi dan teknisi akan langsung menjelaskan kondisi ban sepedanya melalui telepon.

Keesokan harinya, saya pun mendapatkan telepon dari teknisi tersebut. Setelah menjelaskan panjang lebar penjelasannya melalui telepon, sang teknisi pun menyimpulkan bahwa ban sepeda masih dalam kondisi baik. Sehingga tidak perlu mengganti ban depan dan ban belakang. Selanjutnya, saya diminta untuk mengambil sepeda tersebut dan tidak ada biaya apapun yang saya keluarkan pada saat mengambil sepeda dari bengkel.

Kejujuran

Kejadian seperti ini bukan pertama kali saya alami di Jepang, ada juga kejadian ketika memanggil jasa bongkar pasang AC. Teknisinya dengan jujur memberitahukan kondisi AC baik itu freon dan gas (untuk heater di musim dingin). Padahal kalau mereka mau bohong juga bisa, toh saya juga tidak begitu paham dengan hal-hal tersebut. Tapi mereka memilih untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen.

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi). Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu … Continue reading ““One Day Trip” Oarai Sun Beach”

Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”. Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri. Setelah satu tahun tinggal … Continue reading “Apato 1945 di Tokyo”

Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda.

Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan tetapi, kami mengganti tujuan awal dari hanya sekedar berkeliling menjadi pergi ke kota Hitachinaka untuk melihat toko barang bekas yang cukup terkenal yaitu WonderREX. Kami sudah beberapa kali ke toko ini untuk mencari banyak barang mulai dari barang elektronik, perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak. Tetapi, hari ini adalah pertama kalinya kami berangkat kesana dengan sepeda.

Jalur dan Waktu Tempuh

Untuk menuju ke WonderREX di kota Hitachinaka, ada beberapa rute yang bisa ditempuh. Biasanya kami menggunakan rute 248 apabila kesana dengan menggunakan mobil. Dengan menggunakan rute ini, jarak dari rumah menuju WonderREX sekitar 10 km, dimana dengan menggunakan mobil dapat ditempuh sekitar 20 menit. Sedangkan dengan berjalan kaki dapat ditempuh sekitar 1.5 jam. Ini adalah rute tersingkat dan yang paling mudah dihapal jalannya.

Rute lainnya adalah menggunakan rute 31 ditambah rute yang melewati perumahan. Rute ini lebih lama dan terlalu banyak belokan-belokan. Ditambah lagi karena rute ini belum pernah kami lalui, maka kami tidak mau mengambil resiko.

Dengan pilihan rute yang ditawarakan oleh Google Map, maka untuk berangkat ke Kota Hitachinaka kami memutuskan menggunakan rute 248.

Persiapan

Kami akan menggunakan dua sepeda, dimana Laura dan Henokh akan berada di satu sepeda, sedangkan saya berada di sepeda yang satunya. Karena perjalanan ini menggunakan sepeda, tentunya tidak memungkinkan kami untuk membeli barang-barang yang besar dan memang pada dasarnya tujuan kesana hanya untuk sekedar mengecek barang.

Karena Henokh masih berusia satu tahun lebih sedikit, maka kami pun perlu mempersiapkan perlengkapan mulai dari popok, makan siang, cemilan, minum, hingga baju ganti. Sedangkan saya dan istri, mempersiapkan baju ganti karena kemungkinan besar akan berkeringat setelah 10 km bersepeda.

Berangkat

Sekitar pukul 10:30 JST, kami pun berangkat dan cuaca cukup mendukung (tidak panas dan tidak mendung). Tidak ada masalah berarti di 2 km pertama karena jalur ini adalah jalur yang sehari-hari saya gunakan menuju ke tempat kerja. Pada umumnya, kami bersepeda di jalur pedestrian tapi terkadang kami harus masuk ke jalur umum (mobil) karena jalur pedestriannya cukup sempit dan dipenuhi oleh ilalang sehingga tidak bisa dilalui dengan aman. Hal ini cukup wajar mengingat tidak banyak orang yang berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda yang melewati jalur 248 ini.

Rute berangkat melalui Jalur 284.

Setelah 30 menit bersepeda, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati minuman yang kami bawa. Henokh sangat menikmati perjalanan dengan menikmati pemandangan sawah dan ladang yang terhampar disepanjang jalan.

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju WonderREX di kota Hitachinaka. Menurut informasi dari Google Map, kami masih harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan lagi. Kali ini bukan hamparan sawah maupun ladang lagi yang kami temui, melainkan bangunan pertokoan, rumah, supermarket hingga perusahaan Hitachi. Dengan begitu artinya kami sudah masuk ke kota Hitachinaka. Dari Jalur 248 kami harus belok kanan ke jalur 169 karena WonderREX terletak di jalur 169. Pedestrian di jalur 169 jauh lebih luas dibandingkan jalur 248 sehingga membuat kami cukup nyaman dalam bersepeda.

Cuci Mata

Sesuai dengan rencana awal, tujuan ke WonderREX kali ini adalah sekedar cuci mata dan survey barang. Ternyata barang yang mau disurvey sedang tidak ada dijual. Karena kami datang di bulan Juni yang artinya sebentar lagi mau musim panas, maka banyak sekali dijual peralatan untuk berselancar dan sejenisnya.

Advertisements

Oiya, Kota Oarai yang hanya berjarak sekitar 15 km dari kota Hitachinaka terkenal dengan pantai dan ombaknya. Sehingga di musim panas, banyak sekali orang yang berkunjung ke kota Oarai”.

Karena tidak ada barang yang mau dicari, akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan siang di sekitar WonderREX. Pilihan utamanya jatuh ke Pizza Domino yang ada di seberang WonderREX. Ternyata, di tempat tersebut tidak bisa makan ditempat, hanya boleh pesan dan dibawa pulang (take out). Alhasil, kami harus mengganti pilihan tempat makan.

Makan Siang

Akhirnya kami memutuskan untuk bersepeda menuju persimpangan jalur 169 dan 248 karena tepat di pojok jalur tersebut terdapat McD. Tempat yang cukup apabila membawa anak bayi. Tentu saja, kami membawa makanan sendiri untuk Henokh karena belum banyak pilihan menu yang bisa dimakannya disini.

“Ketika kami berpergian jauh, biasanya kami membawa dua jenis makanan untuk Henokh: 1. Makanan yang dimasak sendiri dirumah. 2. Makanan instan untuk bayi yang bisa dibeli di supermarket maupun toko-toko perlengkapan bayi.”

Setelah selesai melepas lelah dan beristirahat sekitar satu jam di McD, kami pun berencana melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Tokai. Tapi, kami akan pulang dengan menggunakan rute yang berbeda. Hal ini karena mempertimbangkan jalur 248 yang mulai ramai menjelang sore hari serta jalur pedestriannya yang cukup sempit di beberapa tempat.

Rute Baru Penuh Kejutan

Rute yang kami tempuh lebih ribet karena akan melewati jalur-jalur kecil dan bukan jalur utama. Butuh waktu sekitar 1.5 jam apabila ditempuh dengan jalan kaki. Dari sini, kami mengasumsikan bahwa waktu tempuh dengan sepeda kurang lebih satu jam. Kami bersepeda dengan santai dan berhenti beberapa kali karena salah masuk jalan. Ada kalanya menemukan jalan buntu di dekat Stasiun Sawa, ada kalanya harus putar balik karena ada perbaikan atau pembukaan jalan baru, dan yang paling jackpot adalah menemukan ular di jalur pedestrian.

Rute perjalanan pulang melalui jalan “tikus”.

“Saat itu, istri sedang berada di posisi depan dan saya mengikuti di belakang. Tiba-tiba istri teriak, “Ularrrrr!!”

Di jalur yang baru pertama kali kami lalui ini, ternyata ada dua tempat dimana kami sangat terpukau akan suasana semacam komplek perumahan. Bukan seperti perumahan yang ada di Indonesia yang ada gerbang utama dan rumah yang seragam jenisnya. Ini hanya sebuah wilayah yang ditata sedemikian rupa sehingga rumah-rumah tersusun rapi tanpa pagar. Ini mengingatkan kami seperti daerah perumahan yang ada di sekitar tempat kami tinggal dulu (Miyamae-ku).

“Sepertinya akan jadi kandidat lokasi nih kalau masih lama tinggal di Jepang”, celetuk Laura sambil tetap mengayuh sepeda listriknya dengan santai.

Tidak jauh dari situ, kami sudah melihat bangunan yang tidak asing lagi dikunjungi oleh Henokh, Perpustakaan Desa Tokai. Wah, ternyata lokasi perumahan tersebut terletak di perbatasan antara kota Hitachinaka dan desa Tokai.

Bermain di Taman

Sepanjang perjalanan pulang, ternyata Henokh tidur dengan lelap di sepeda karena memang angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan lembut. Sebelum ke rumah, kami memutuskan untuk bermain di taman karena Henokh baru saja bangun dari tidurnya. Seperti biasanya, “Taman Yoku” (nama yang kami berikan untuk taman tersebut) di hari Sabtu cukup ramai dengan anak-anak yang sedang bermain dengan orangtuanya. Dan seperti biasanya juga, Henokh pun langsung bersemangat begitu turun dari sepeda dan segera berlari menuju tempat perosotan anak.

Sabtu Ceria

Begitulah cerita kami menghabiskan waktu bersama di hari Sabtu. Kadang kami bermain diluar, terkadang juga hanya dirumah saja. Hari Sabtu adalah salah satu hari dimana kami berusaha membuat banyak memori indah untuk kami bertiga.

Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi … Continue reading “Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

Pengalaman ketinggalan barang di Stasiun Tokai Jepang

Memasuki bulan Juni di Jepang artinya mempersiapkan diri akan datangnya musim hujan, dimana hujan bisa datang sepanjang hari dengan intensitas yang berbeda-beda. Hal ini tentunya perlu diantisipasi dengan membawa payung. Untuk jenis payung sendiri, saya menyarankan belilah payung yang tahan angin sehingga dapat digunakan pada musim hujan di bulan Juni dan musim taifun disekitar bulan September. Mungkin salah satu jenis payung yang paling ikonik dari Jepang adalah payung transparan (bening). Payung ini bisa dijumpai hampir disetiap convenience store (konbini) maupun supermarket. Payung ini bisa digunakan dengan baik di musim hujan saat ini, tetapi tidak saya rekomendasikan digunakan pada saaat musim hujan disertai taifun karena besar kemungkinan akan rusak.

Kembali lagi ke judul diatas, hari Minggu ini saya berencana untuk pergi beribadah ke Gereja di kota Oarai. Kota Oarai sendiri terletak sekitar 30 km dari Desa Tokai dan satu-satunya transportasi umum yang bisa mencapai kota ini adalah kereta.

Sayangnya, sejak hari Sabtu hujan terus menerus turun hingga hari Minggu sore sekitar pukul 15:30 JST. Hal tersebut membuat saya harus membawa payung. Kebetulan intensitas hujan yang turun sedikit berkurang sehingga saya bisa berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda ke Stasiun Tokai.

Sesampainya di Stasiun Tokai, tidak lupa saya membawa serta payung untuk berjaga-jaga apabila di kota Oarai sedang hujan dan saya harus berjalan kaki dari Stasiun Oarai menuju gereja.

Advertisements

Karena sepanjang jalan tadi hujan yang turun cukup membuat jaket yang saya pakai basah, akhirnya saya pun bergegas ke toilet di dalam stasiun untuk berbenah. Setelahnya, saya duduk sebentar di bangku yang tersedia di dalam stasiun sambil merapikan isi tas bawaan saya. Tidak lupa pula, payung tersebut saya gantungkan di tiang yang ada disamping bangku.

Setelah selesai merapikan isi tas, saya langsung turun menuju platform karena kereta yang akan menuju Stasiun Mito (stasiun transit sebelum menuju Oarai) akan berangkat pukul 16:02 JST.

Sejak pandemi COVID19 ini menyebar hingga status emergency di Jepang (khususnya Ibaraki) sudah dilepas, tetapi jumlah penumpang kereta masih sangat sedikit dibandingkan kondisi sebelum COVID19“.

Tidak ada hal spesial sepanjang perjalanan menuju Mito. Kadang kala saya merekam video pemandangan yang ada di luar kereta. Hingga sesaat sebelum keluar dari kereta, saya baru sadar bahwa payung tersebut tidak ada di kereta. Saya mencoba mengingat-ingat lagi dan terpikir bahwa payung itu tertinggal di sekitar bangku di Stasiun Tokai.

Wah, masa harus beli payung lagi? Masih ada gak ya payungnya di Stasiun Tokai? Beli payungnya di Stasiun Mito atau di Stasiun Oarai ya ? rugi banget nanti beli di Mito tahu-tahu hujannya sudah reda di Oarai.

Hal-hal semacam itu lah yang terpikir dibenak saya saat itu. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli payung. Hahaha

Kenapa saya memutuskan untuk tidak membeli payung? Pertama, saya sudah mengecek di aplikasi cuaca yang mengatakan bahwa kota Oarai tidak hujan pukul 17:00 – 18:00. Kedua, saya menghubungi teman dan dia bisa menjemput di Stasiun Oarai kalau ternyata hujan.

Singkat cerita, saya akhirnya tiba di Stasiun Oarai dan ternyata tidak hujan. Baru saja saya menghubungi teman tersebut melaui chat dengan maksud agar saya tidak perlu dijemput, malah saya bertemu dengan teman lain yang sedang memarkirkan mobilnya di depan stasiun. Akhirnya, saya pun menuju gereja bersama dengan beliau.

Setelah Ibadah Gereja selesai dan saya akan kembali menggunakan kereta dari Stasiun Oarai menuju ke desa Tokai, saya tidak berharap banyak akan keberadaan payung yang ketinggalan tersebut. Disisi lain, saya juga penasaran dengan perkataan banyak orang tentang Jepang, dimana salah satunya adalah barang ketinggalan tidak akan hilang dan kalaupun tidak ada di tempatnya, bisa ditanyakan ke petugas di stasiun tersebut. Dan ini adalah salah satu kesempatan untuk membuktikan omongan tersebut.

Begitu kereta berhenti di Stasiun Tokai, saya pun bergegas menuju bangku tersebut dan ternyata payung tersebut masih ada disana walaupun posisinya sudah berpindah dari tempat asalnya.

Payung yang tertinggal di Stasiun Tokai.

Wah, ternyata memang benar apa yang dibilang orang selama ini tentang Jepang mengenai barang yang ketinggalan di tempat umum. Tapi, bukan berarti hal ini bisa dijadikan patokan 100% ya teman-teman. Tetap berhati-hati dan mengecek barang bawaan anda ya.

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading “Musim di Jepang”

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris. Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang … Continue reading “Bahasa Inggris dan Beasiswa”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (7)

Di Desa Tokai, disediakan fasilitas bermain indoor untuk anak-anak mulai dari usia kurang dari satu bulan. Fasilitas ini dinamakan “Jidoukan”. Jidoukan sendiri dikelolah oleh pemerintah daerah sehingga setiap anak bisa menikmati semua fasilitas yang disediakan secara gratis.

Pada umumnya Jidoukan ini hampir sama seperti sebuah hall yang cukup luas dan terdapat berbagai macam jenis mainan anak-anak dan buku bacaan anak. Mainan yang tersedia pun adalah jenis mainan yang dapat membantu motorik anak-anak. Intinya mainan yang disediakan bisa membantu kecerdasan dan daya tangkap si anak.

Selain itu, terdapat staf yang ikut serta bermain dengan anak-anak dan di jam-jam tertentu akan membacakan buku hingga bernyanyi bersama.

Anak kami sendiri, Henokh, sudah mulai ikut menikmati fasilitas ini sejak usia sekitar 7 bulan. Ada beberapa alasan kenapa mami Henokh membawanya ke Jidoukan: ruang bermain yang luas sehingga Henokh bisa merangkak dengan bebas, bertemu dengan banyak anak-anak yang seangkatan, hingga belajar beradaptasi pada kondisi yang ramai. Hal penting lainnya adalah anak diajak untuk belajar berbagi karena mainan yang terdapat disana bukan milik sendiri melainkan milik bersama.

Rindu Bermain ke Jidoukan

Salah satu syarat bisa bermain ke Jidoukan adalah anak dalam kondisi sehat. Sayang sekali di awal Januari yang lalu Henokh sedang terkena batuk sehingga tidak etis untuk membawanya ke Jidoukan karena takut menulari anak yang lain. Ditambah lagi dengan kasus COVID19 yang sejak awal tahun 2020, maka kami pun memutuskan untuk tidak pergi kesana. Selain itu, sejak bulan Maret hingga akhir Mei yang lalu pun banyak fasilitas umum termasuk Jidoukan yang menutup seluruh kegiatan untuk mencegah penyebaran virus COVID19.

Hingga akhirnya di minggu kedua bulan Juni, Henokh dan maminya berencana kuat bermain ke Jidoukan karena fasilitas ini sudah dibuka kembali. Mereka pun bersepeda dari rumah menuju ke Jidoukan yang berjarak sekitar 1.5 km dari rumah.

Peraturan Baru di Jidoukan

Ternyata hari itu mereka tidak boleh masuk ke Jidoukan karena ada beberapa hal baru yang berbeda dengan kondisi sebelum adanya pandemi COVID19.

1. Harus registrasi melalui telepon terlebih dahulu.

2. Jam operasional hanya dari pukul 10:00 – 12:00. Kondisi sebelumnya Jidoukan dibuka hingga jam 16:00.

3. Terdapat pembatasan jumlah orang yang bisa berkunjung dalam satu hari.

Dengan adanya pembatasan jam operasional dan pembatasan jumlah orang, maka ada beberapa kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan seperti kegiatan bernyanyi dan membaca bersama yang dipandu oleh staf yang bertugas.

Setelah mengetahui aturan baru tersebut, Henokh dan maminya pun pergi ke Jidoukan keesokan harinya. Ternyata Henokh langsung bisa menikmati suasana bermain disana hingga maminya dibuat lelah mengejar Henokh yang berlari kesana kemari. Disisi lain, kelelahan maminya tentunya terbayarkan dengan melihat Henokh yang begitu aktif dan menikmati bermain bahkan bermain dengan anak-anak lainnya.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (6)

Tokai Culture Center.

Kelas Bahasa Jepang

Hal menarik ketika tinggal di Jepang adalah tersedianya kelas volunter bahasa Jepang. Sewaktu kami tinggal di Miyamae, Kawasaki, istri sangat aktif untuk ikut belajar bahasa Jepang melalui kelas volunter ini. Hal ini karena biaya yang dikeluarkan cukup murah yaitu sekitar ¥500 per tahun (kalau tidak salah). Harga yang ditetapkan ditiap daerah mungkin sedikit berbeda tetapi masih dalam katagori yang cukup murah. Pada umumnya, kelas bahasa ini dilaksanakan di Kantor Kelurahan atau di Community Center yang ada di daerah tersebut.

Ketika kami pindah ke Desa Tokai, justru kami menemukan lebih banyak organisasi yang menyediakan kelas bahasa Jepang secara volunter. Seperti apa sih Desa Tokai ini sampai banyak mengadakan kelas volunter bahasa Jepang? Apakah banyak orang asing di Desa Tokai? Nantikan cerita tentang Desa Tokai ini di cerita-cerita selanjutnya ya. Saat ini kita fokus tentang kelas bahasa Jepang saja.

Di Desa Tokai sendiri, kami mengikuti kelas bahasa Jepang yang diselenggarakan oleh Tokai Volunteer Japanese Language School.

Advertisements

Tokai Volunteer Japanese Language School

Kelas bahasa ini diselenggarakan setiap Hari Sabtu, pukul 10:00 -12:00 JST. Biaya untuk satu kali pertemuan sebesar ¥250. Biaya ini sudah termasuk dengan cemilan ringan yang bisa dinikmati sewaktu jam istirahat.

Untuk siswa yang baru pertama kali belajar bahasa Jepang, maka buku Minna No Nihonggo 1 adalah buku yang akan digunakan. Buku ini tersedia di toko buku, perpustakan Tokai hingga toko online serba ada, Amazon.

Pada umumnya, sistem belajar yang digunakan seperti kelas private dimana satu orang murid diajari oleh seorang guru.

Salah satu hal menarik khususnya untuk Tokai Volunteer Japanese Language School ini adalah boleh membawa bayi. Selain itu, ruangan belajar yang dipisah bagi mereka yang membawa anaknya sehingga tidak mengganggu siswa lainnya.

Selain mendapatkan ilmu bahasa Jepang, hal penting lainnya adalah menambah komunitas. Dengan mengikuti kelas ini, kami merasa seperti mempunyai keluarga terutama dengan guru (sensei) yang mengajari kami.

Pernah beberapa kali, kami dibantu oleh Sensei pada saat hendak ke rumah sakit ketika istri sedang hamil. Bahkan pernah diantar ke salah satu toko baju bayi pada saat kami hendak mempersiapkan perlengkapan bayi.

Aktifitas di luar Kelas

Selain kegiatan belajar yang dilaksanakan di dalam kelas setiap minggunya, ada juga acara rutin setiap tahun yaitu: Field Trip dan Speech Contest. Tahun 2019 yang lalu, kami berpartisipasi dalam kedua acara tersebut.

Berpartisipasi dalam Japanese Speech Contest 2019 yang diselenggarakan di Desa Tokai

Cerita mengenai kegiatan tersebut bisa dibaca disini: “One Day Trip” Fukushima

Rindu kelas Volunteer

Akibat merebaknya pandemi COVID-19, kelas volunter untuk saat ini masih ditiadakan sejak bulan Maret 2020. Semoga saja pada saat kondisi sudah membaik, kelas ini dapat berjalan kembali. Terlebih lagi, semoga para guru serta murid-murid lainnya dalam kondisi sehat selalu.

Beberapa Kelas Volunter Bahasa Jepang di Desa Tokai

Siapa tahu nanti ada yang berencana tinggal di Desa Tokai, berikut saya lampirkan beberapa nama organisasi yang mengorganisir kelas bahasa Jepang:

  1. TOKAI JLT.
  2. Tokai Volunteer Japanese Language School.
  3. TIC Japanese Class.

Ketiga organisasi ini menyediakan kelas dengan hari dan jam yang berbeda. Ada yang menyediakan kelas pada hari Selasa malam, ada juga di Sabtu pagi, dan ada juga di Minggu siang. Silahkan memilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong. Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur. Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini … Continue reading “Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!”

“One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)

Salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Ibaraki adalah Hitachi Seaside Park. Beruntungnya kami yang sekarang tinggal di Desa Tokai karena hanya berjarak sekitar 15 menit menggunakan bus dari rumah ke taman ini. Lebih lagi ada bus dari depan rumah yang langsung menuju ke Hitachi Seaside Park. Pertama kali kami mengunjungi Hitachi Seaside Park sewaktu … Continue reading ““One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

How I met your mother (5)

Sebelumnya di: Episode 4: How I met your mother (4) Episode 5: Terpesona Hari Minggu di bulan Maret. Kejadian ini hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Andi ke kos. Entah kenapa pada hari Minggu itu saya memilih untuk mengikuti ibadah minggu pagi di gereja HKBP Kota Baru. (Saya mencoba mengingat-ingat kembali ada apa di hari Minggu … Continue reading “How I met your mother (5)”

‘New Normal’ Perpustakan di Desa Tokai Jepang.

Perpustakan Desa Tokai

Sepertinya sudah cukup lama Henokh dan Maminya tidak berkunjung ke perpustakan. Hal ini tentunya disebabkan karena merebaknya pandemi COVID-19 dan ditutupnya hampir semua fasilitas umum yang ada di Desa Tokai termasuk perpustakaan.

Sejak dilepasnya emergency state beberapa minggu lalu, Mami Henokh berencana untuk mengunjungi perpustakan karena persediaan buku bacaan baik itu untuk Henokh maupun mami Henokh sudah mulai menipis. Hari ini, mereka memutuskan untuk pergi kesana sekaligus singgah ke supermarket untuk belanja harian. Sedangkan saya, tetap tinggal di rumah karena memang hari ini adalah hari kerja dan saya masih melanjutkan work from home (WFH). Kenapa masih WFH walaupun sudah selesai emergency state mungkin akan saya ceritakan pada tulisan lainnya.

Sepulang dari perjalanan jauh mereka, mami Henokh pun menceritakan bahwa ada perubahan di perpustakan terkait dengan ‘new normal’ dan dalam rangka mengurangi interaksi dan jarak antar pengunjung.

Advertisements

Berikut saya coba jabarkan beberapa hal yang berubah sebelum dan sesudah adanya COVID-19.

  • Sesampainya di pintu masuk, sudah disambut oleh petugas perpustakan. Wajib menunjukkan kartu anggota dan mengisi formulir. Selanjutnya, petugas akan memberikan nomor antrian.
  • Terdapat pembatasan jumlah pengunjung yang bisa masuk ke perpustakan dalam waktu yang bersamaan.
  • Apabila jumlah yang berada di dalam perpustakan sudah mencapai batas maksimum, maka pengunjung lainnya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu yang tentunya diatur posisi duduknya sehingga mempunyai jarak yang cukup.
  • Waktu berkunjung di dalam perpustakan dibatasi maksimal 1 jam.
  • Area yang biasanya dipakai untuk duduk sambil membaca di dalam perpustakan, saat ini belum bisa dipergunakan.
  • Beberapa lorong tempat bacaan juga ditutup untuk saat ini.

Demikian sekilas informasi terbaru mengenai kondisi perpustakaan di Desa Tokai saat ini.

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading “Musim di Jepang”

“One Day Trip” Fukushima

Salah satu keuntungan yang kami dapatkan sejak tinggal di desa Tokai adalah program “One Day Trip” bagi warga asing. Program ini diselenggarakan oleh Tokai International Association. Program ini diadakan 2x dalam setahun (Juni dan November). Pada bulan Juni 2019 kami belum bisa ikut karena Henokh masih kurang dari 6 bulan. Akan tetapi, trip pada bulan November 2019 … Continue reading ““One Day Trip” Fukushima”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)

Tokaimura Welfare Center “Kizuna”

Tokaimura Welfare Center “KIZUNA”

Setelah di cerita sebelumnya, saya telah berbagi beberapa fasilitas olahraga yang pernah saya gunakan selama tinggal di Desa Tokai, kali ini saya mau membagikan salah satu fasilitas yang kami manfaatkan sejak masa kehamilan istri hingga saat ini. Fasilitas tersebut adalah Tokaimura Welfare Center ‘Kizuna’.

Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengetahui kehamilan istri yang ditunjukan dengan bukti resmi dari rumah sakit atau klinik adalah membawa bukti kehamilan tersebut ke kantor desa untuk mendapatkan bantuan biaya melahirkan sebesar ¥420.000.

Baca juga: Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Advertisements

Ternyata, pengurusan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan, ibu dan anak, tidak dilakukan di kantor desa melainkan di KIZUNA.

Beberapa aktifitas dan fasilitas yang didapatkan istri semasa kehamilan di KIZUNA:

  1. Pengurusan bantuan melahirkan serta voucher pemeriksaan rutin. Karena ini pengalaman pertama kami dan sempat salah lokasi pengurusan, tetapi staf yang ada di kantor desa berbaik hati membantu menghubungi pihak KIZUNA untuk melakukan reservasi.
  2. Konsultasi semasa kehamilan. Salah satu yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil adalah konsultasi mengenai kondisi kesehatan ibu dan calon anak. Nah, di Kizuna menyediakan jasa tersebut dan tidak dipungut biaya sama sekali.
  3. Kelas memasak. Para ibu hamil juga diberikan arahan mengenai makanan yang sehat untuk dikonsumsi selama masa kehamilan. Disini istri cukup terbantu karena bisa mendengarkan serta mempraktekkannya secara langsung.
  4. Belajar memandikan bayi. Salah satu kekhawatiran bagi orang tua baru adalah bagaimana cara memandikan bayi. Apalagi bayi yang lahir dimusim dingin, kapan dan berapa suhu air yang nyaman bagi bayi tersebut. Siapa yang bertugas memandikan bayi di masa awal setelah melahirkan? Nah, semua pertanyaan diatas dijawab ketika mengikuti kelas ini. Salah satunya adalah peran seorang ayah yang bertugas memandikan bayi karena bisa jadi si ibu masih dalam kondisi yang belum fit.
Salah satu kegiatan yang diikuti istri yaitu kelas memasak.

Beberapa aktifias dan fasilitas yang dilakukan istri setelah melahirkan di KIZUNA:

  1. Check up rutin. Ada beberapa checkup yang rutin yang bisa dilakukan di Kizuna. Hal ini seperti melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi bayi dan juga konsultasi.
  2. Postpartum depression and baby blues. Salah satu hal yang terus diingatkan oleh staf yang ada di Kizuna adalah mengenai postpartum depression dan baby blues. Karena kami hanya berdua saja di Desa Tokai maka suami pun berperan untuk membantu istri apabila melihat tanda-tanda terjadinya kedua gejala tersebut. Selain itu, KIZUNA memberikan fasilitas konsultasi secara gratis untuk meringankan beban para orangtua khususnya ibu yang baru mempunyai bayi.
  3. Play Center. Di Kizuna juga disediakan taman bermain untuk balita baik itu indoor maupun outdoor. Bagi kami, taman bermain ini cukup penting karena disini anak-anak belajar berbagi mainan yang ada disana. Selain itu, anak kami, Henokh, bisa bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak lain yang seumuran dengan dia.
Halaman depan Kizuna yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar bermain maupun bersantai.

Bahasa bukan jadi kendala!

Salah satu hal yang saat ini menghambat komunikasi adalah bahasa. Akan tetapi, petugas di Kizuna akan menyediakan fasilitas yaitu penerjemah dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris yang sangat membantu kami ketika berkonsultasi. Tenang saja, fasilitas penerjemah ini diberikan secara gratis tetapi kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Bazaar Perlengkapan Bayi

Sudah menjadi hal umum kalau di Jepang banyak orang yang memanfaatkan toko barang bekas untuk membeli barang keperluan sehari-hari mulai dari perlengkapan dapur, laundry, pakaian, hingga perlengkapan atau mainan bayi.

Advertisements

Salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh Kizuna setiap tahunnya adalah bazaar barang-barang seperti buku anak, pakaian, stroller, hingga perlengkapan bayi lainnya. Setiap orang khususnya masyarakat Desa Tokai yang mau ikut berpartisipasi baik dalam hal menyumbangkan barang yang layak pakai ataupun sekedar ingin membeli barang bazaar tersebut bisa meramaikan kegiatan ini. Harga kupon bazaarnya pun cukup murah sekitar ¥100 hingga ¥500.

Hampir semua barang-barang bisa dibeli secara langsung dengan kupon seperti buku anak, pakaian anak, dll. Akan tetapi, untuk beberapa item seperti stroller, baby car seat, mainan anak dapat diperoleh melalui undian.

Lokasi dan Akses

Kizuna masih terletak di Desa Tokai akan tetapi lokasinya cukup tersembunyi karena diapit oleh hutan-hutan desa.

Alamat: 〒319-1112 茨城県那珂郡東海村大字村松2005

Karena jarak dari rumah ke Kizuna sekitar 3 km dan cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki selama masa kehamilan maka kami memanfaatkan fasilitas taksi desa, Ainori-kun, yang cukup murah dengan biaya sekitar ¥100 untuk ibu hamil sekali jalan. Akan tetapi tidak jarang juga istri mengajak anak kami ke Kizuna dengan berjalan kaki sambil membawa stroller bayi.