Dilema Musim Panas di Negeri Sakura

Sebagai orang Indonesia yang negaranya terletak di daerah tropis, suhu udara dengan rata-rata diatas 30 derajat Celcius adalah hal yang biasa dialami sepanjang tahun. Berdasarkan hal inilah, saya awalnya menganggap kalau musim panas di negeri Jepang adalah suatu hal yang biasa saja. Hingga akhirnya saya merasakan sendiri musim panas di Jepang sejak tahun 2013 hingga saat ini.

Musim panas di Jepang (Tokyo dan sekitarnya) biasanya datang sesaat setelah selesai musim hujan. Pada umumnya mulai dari bulan Juli hingga akhir Agustus atau awal September. Anehnya, saya merasa musim panas tahun 2020 baru mulai awal Agustus ini.

Ada beberapa hal yang menarik bagi saya selama menjalani musim panas di Jepang.

1. Anggapan orang Indonesia tahan udara panas.

Insting bertahan hidup saya akan muncul begitu musim panas mulai datang yaitu menyalakan AC dan mengatur suhu di angka 23- 25 derajat Celcius. Ketika bekerja di Indonesia, bahkan suhu ruangan di kantor bisa diangka 20 derajat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan dari beberapa teman Jepang

TJ : Loh, Indonesia bukannya negara tropis dan suhu udaranya diatas 30 derajat ya?

I: Betul sekali, suhu di luar diatas 30an tapi di ruangan biasa kita nyalakan AC dengan suhu sekitar 23 derajat. Bahkan saya kalau tidur suhu AC nya diatur ke 19 derajat.

TJ: Hahhhh??? (Kaget dan Heran)

2. Hemat listrik

Salah satu budaya yang membuat saya salut dari negara ini adalah hemat listrik. Pada tahun 2013 ketika saya bersekolah di Tokyo Institute of Technology, akan ada terdengar bunyi alarm apabila konsumsi listrik melebihi batas maksimum. Ketika alarm ini berbunyi, maka wajib mematikan perangkat elektronik salah satunya AC selama 1 jam. Berdasarkan informasi yang saya terima, saat itu Jepang sedang berusaha mencukupkan kebutuhan listriknya setelah semua PLTN di non-aktifkan akibat peristiwa Fukushima.

Di tempat saya bekerja dan mungkin di kantor-kantor lainnya, akan ada stiker di sekitar AC yang menunjukkan batas minimum dan maksimum penggunaan suhu AC pada musim panas maupun musim dingin.

Terkadang perlu tambahan kipas angin disekitar anda untuk membuat daerah anda bekerja lebih nyaman karena suhu AC yang digunakan tidak cukup untuk mendinginkan ruangan tersebut.

3. Kelembapan Udara Tinggi

Tingkat kelembapan udara sewaktu musim panas di Tokyo sangatlah tinggi. Hal ini membuat udara terasa gerah (sumuk). Saya adalah tipekal orang yang mudah berkeringat, sehingga berjalan dari lab ke kantin yang berjarak 300 meter saja bisa membuat baju basah kuyup. Pakaian ganti, deodoran, alat mandi dan parfum adalah hal wajib yang selalu dibawa di dalam tas atau disimpan di loker kerja selama musim panas.

4. Aroma keringat di dalam kereta

Salah satu tanda dimulainya musim panas adalah aroma keringat yang sangat kuat terasa di dalam kereta. Aroma ini bisa dirasakan di dalam kereta terutama pada jam-jam sibuk. Bagi anda yang tidak kuat dengan aroma kuat dan menyengat, silahkan mempersiapkan diri dengan hal-hal yang dapat membantu menikmati perjalanan anda selama berada di dalam kereta.

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab. Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”. 08.00 JST Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe Jam kerja yang … Continue reading “Kerjaan seorang peneliti nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim tambahan selain empat musim yang telah disebutkan diatas.

Berikut penulis rangkum semua musim yang pernah dilalui selama tinggal di Tokyo.

Musim Dingin (Desember – Maret).

  • Suhu berkisar 0 – 10 Celcius. Pada kondisi tertentu angin yang bertiup kencang menambah tingkat kedinginan pada musim ini.
  • Tingkat kelembapan udara sangat rendah, membuat kulit terasa kering dan pada kondisi tertentu dapat merakasan listrik statis pada saat kulit tangan atau jari bersentuhan dengan benda-benda penghantar listrik. Seperti pada saat mau memegang gagang pintu, menghidupkan kran air, berjabat tangan, dll. Sediakan pelembab seperti lotion, handbody atau sejenisnya untuk mengatasi permasalahan ini.
  • Untuk wilayah Tokyo, sangat jarang turun salju pada musim dingin.
  • Cuaca pada umumnya cerah dan jarang turun hujan.
  • Banyak permainan lampu-lampu (illumination) disepanjang Bulan Desember.

Musim Semi (Maret – Mei) 

  • Musim semi mulai terasa sekitar pertengahan Maret yang ditandai dengan mulai munculnya pucuk bunga di pohon.
  • Suhu berkisar 15 – 23 Celcius.
  • Untuk wilayah Tokyo, Bunga SAKURA mekar sekitar akhir Maret. Bunga Sakura hanya mekar selama lebih kurang seminggu. Jadi bagi yang mau berburu sakura sangat disarankan mencari informasi lebih lanjut.
  • Hitachi Seaside Park yang berada di Ibaraki merupakan salah satu tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi pada akhir April sampai awal Mei. Tempat ini sangat terkenal dengan bunga nemophilia, tulip, dll.

Musim Hujan (Juni)

  • Bulan Juni biasanya sangat identik dengan hujan. Curah hujan cukup tinggi di bulan ini.
  • Tingkat kelembapan udara juga cukup tinggi dengan suhu udara berkisar di 28 -30 Celcius.
  • Siap sedia payung karena bisa saja pagi hari cerah tapi sorenya turun hujan, atau sebaliknya.

Musim Panas (Juli – Agustus)

  • Suhu udara sekitar 33 – 40 Celcius dengan puncak musim panas sekitar awal atau pertengahan Agustus.
  • Kelembapan udara sangat tinggi ditambah dengan angin yang jarang bertiup kencang menambah suasana menjadi cukup gerah.
  • Disarankan untuk banyak meminum air supaya terhindar dari dehidrasi.
  • Pada Bulan Agustus banyak terdapat festival kembang api (Hanabi) di berbagai tempat di Jepang.

Musim Angin Topan “Taifun” (September )

  • Suhu udara sekitar 27 – 30 Celcius.
  • Pada bulan ini, kota di Jepang sering dilanda Taifun. Angin kencang disertai hujan cukup mengganggu aktifitas sehari hari.
  • Jadwal transportasi umum seperti kereta sering terganggu.

Musim gugur (November) 

  • Musim gugur ditandai dengan mulai menguningnya daun pada beberapa jenis tanaman.
  • Suhu udara sekitar 15 – 20 Celsius.
  • Cuaca dan suhu yang bagus dimanfaatkan banyak orang di Jepang untuk mendaki gunung menikmati warna warni daun pepohonan.

Demikianlah ringkasan singkat mengenai beberapa musim di Jepang. Dengan mengetahui kondisi musim di negara yang kita tuju, kita bisa mempersiapkan diri apabila kita hendak melakukan perjalanan wisata ke negera tersebut.