Terbang Bersama Henokh: Jogja-Medan

Sebelumnya di: Terbang bersama Henokh: Tokyo-Jogja

Tidak terasa liburan di rumah Ompung Jogja sudah selesai. Saatnya Henokh mengunjungi Ompung yang ada di Doloksanggul, Sumatera Utara.

“Doloksanggul adalah ibukota dari Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.”

Tips terbang bersama bayi

Kami mengusahakan untuk memilih penerbangan langsung untuk menghemat waktu serta mengurangi resiko bayi mengalami kelelahan di perjalanan.

Pada saat itu hanya ada dua maskapai penerbangan yang langsung dari Jogja ke Medan. Kami memilih menggunakan AirAsia karena penerbangannya di sore hari. Kami tidak mau mengambil resiko penerbangan pagi hari karena takut terburu buru. Maklum baru pertama kali terbang bersama bayi, jadi banyak yang perlu dipertimbangkan.

Seharusnya ini adalah penerbangan yang paling santai karena waktu tempuh dari Jogja menuju Bandara Kuala Namu (Medan) hanya sekitar 3 jam.

Bandara Adi Sucipto

Sempat terjadi delay sekitar 30 menit dikarenakan arus lalu lintas udara yang padat. Hari itu tidak banyak penumpang pesawat AirAsia tujuan Medan. Banyak terlihat kursi kosong di barisan depan pesawat. Begitu juga di barisan kursi kami, hanya diisi oleh kami berdua (Henokh masih dipangku).

Hal yang dikhawatirkan akhirnya datang

Sekitar satu jam setelah lepas landas (takeoff) dan pramugara/i sudah selesai membagikan makan malam. Kami pun berusaha untuk tidur, mumpung Henokh juga sudah tertidur pulas.

Baru saja mata ini terpejam, tiba-tiba tercium aroma yang menusuk hidung.

“Sayang, itu Henokh buang angin atau pup?”

“Henokh lagi pup.”

Mau tidak mau kami harus melakukan pergantian popok dipesawat karena masih ada dua jam lagi kalau harus menunggu tiba di Medan.

“Pup di pesawat adalah hal yang paling kami antisipasi dalam setiap penerbangan.”

Tenang Nak, Kami siap menghadapi hal ini.

Kami pun memutuskan menuju toilet di bagian depan karena paling dekat dengan kursi kami duduk.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mau mengganti popok bayi di pesawat:

  1. Pastikan pesawat terbang dalam kondisi stabil. Kalau tidak yakin, bisa tanyakan ke pramugari/a mengenai kondisi penerbangan dan berikan alasannya.
  2. Persiapkan semua peralatan pengganti di dalam tas tangan yang mudah dibawa.  Perlengkapan yang kami bawa sebelum menuju toilet: Alas tidur bayi (perlak), popok, plastik (membungkus popok yang kotor sebelum dibuang ke tempat sampah), minyak telon, hingga celana atau baju ganti. Semuanya itu ada di dalam 1 tas kecil.
  3. Simpan barang berharga anda sebelum meninggalkan kursi.

Karena ini pengalaman pertama, Mami Henokh membutuhkan bantuan saya di toilet untuk memperlancar proses pergantian popok.

Tas kecil yang berisi semua perlengkapan untuk mengganti popok. Tas ini adalah salah satu hadiah dari Desa Tokai.(Foto: Dokumentasi pribadi)

Hal yang tidak kami antisipasi:

  1. Ukuran toilet. Toilet pesawatnya tidak bisa ditutup rapat ketika kami bertiga masuk. Kalau tertutup rapat maka akan membatasi ruang gerak dalam mengganti popok.
  2. Ukuran tempat mengganti popok bayi. Ternyata ukurannya lumayan sempit atau bisa dibilang sangat pas. Perlu ekstra hati-hati dan penuh pengawasan. Benturan kepala bayi bisa saja terjadi apabila terjadi goncangan mendadak.

Melihat kondisi saat itu, kami pun mengganti popok Henokh dengan kondisi pintu toilet yang tidak tertutup rapat. Beruntungnya saat itu kursi di barisan depan kosong. Tapi, mohon maaf ya buat penumpang yang lain atas ketidaknyamanannya.

“Pengalaman kami selama di Jepang mengganti popok Henokh di tempat umum seperti mall, taman, stasiun kereta membuat kami sudah terbiasa dan bisa menyelesaikannya dengan cepat dan tuntas.”

Lima menit yang mendebarkan

Lima menit waktu yang kami gunakan mengganti popok Henokh sungguhlah mendebarkan. Selalu muncul di pikiran bagaimana kalau tiba-tiba terjadi guncangan pada saat masih mengganti popok?

Selain itu saya dan istri sudah seperti dokter dan asistennya yang sedang menangani pasien di ruang operasi. Laura berperan dalam mengganti popok dan saya harus standby  disamping mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan.

“Suami dan istri harus paham betul isi dan penempatan barang-barang yang ada di dalam tas perlengkapan bayi. Hal ini mempermudahkan kordinasi dalam situasi apapun.”

Setelah perjuangan lima menit yang menghabiskan tenaga secara fisik dan psikis. Kami pun kembali ke kursi dan memesan makanan untuk mengisi perut yang sudah kembali lapar.

Bandara Kuala Namu

Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Kuala Namu sekitar pukul 10 malam. Setelah mengambil bagasi, kami pun bergegas menuju pintu keluar untuk menemui Ompung Henokh dan Uda Nawan yang stand by menunggu di luar.

IMG_9031
Selamat datang di Sumatera Utara Henokh. (Foto: Dokumentasi pribadi)

“Salah satu kelebihan bandara Kuala Namu adalah tersedianya toilet untuk mengganti popok bayi.”

 

Mengejar Cinta (1): Janji

Juni 2006

Bulan itu adalah perjalanan baru dalam hidup, dimana saya akan merantau ke Jogja untuk menempuh pendidikan tinggi di salah satu Universitas terbaik di negeri ini.

Saya dan mama (dibaca: mamak) pun berangkat dari Pekanbaru menuju Jogja. Banyak wejangan yang diberikan disepanjang perjalanan menuju Jogja, salah satunya adalah:

“Jangan pacaran selama kuliah.”

Maret 2010

Setelah terpesona kepada Laura sejak melihatnya di gereja (How I met your mother (5)), tentunya ada rasa untuk ‘mengejarnya’. Tapi, janji di tahun 2006 tetaplah harus ditaati.

Hemmm, yang gak boleh adalah pacaran. Tapi kalau melakukan pendekatan selagi saya masih kuliah boleh kan yaa?, itulah yang terpikirkan oleh saya.

Tapi, mau berapa lama pendekatannya? Pendekatan dulu atau selesaikan skripsi aja dulu?

Berdasarkan perkembangan tugas akhir saya saat itu, besar kemungkinan kalau saya akan maju sidang akhir di bulan April dan wisuda bulan Mei.

Dengan pertimbangan ini, saya memutuskan untuk menyelesaikan dulu kuliah.

Disatu sisi, saya harus memikirkan strategi apa yang dilakukan supaya bisa memulai pembicaraan dengan Laura tanpa dia berpikiran kalau saya sedang berusaha mendekatinya.


bersambung …

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)

Sebelumnya di: Part 2

DINI HARI

Tidak terasa hari sudah berganti ketika kami tiba di ketinggian 3250 meter. Berdasarkan informasi, ketinggian Gunung Fuji sekitar 3700 meter. Wahhh, tinggal 500 meter lagi menuju puncak.

Disisi lain, badan yang sudah lelah dan rasa kantuk yang melanda menjadi tantangan tersendiri bagi kami.  Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan pendakian menuju pos selanjutnya. Mulai dari sini, butuh tenaga ekstra karena medan pendakian yang semakin berat dan suhu yang semakin dingin.

“Sayang, aku kedinginan dan ngantuk. Di pos berikutnya istirahat agak lama lah. Begitu lah ujar Laura”.

02:30 JST

Jam segini sangatlah krusial karena rasa ngantuk yang semakin mendominasi. Tapi kami berhasil sampai di pos peristirahatan. Disini terdapat warung minum dan penginapan.

“Hanya orang yang beli minum atau makan yang boleh masuk ke dalam warung dan dibatasi selama 15 menit.”

Saya dan Laura pun masuk ke dalam untuk sekedar meminum sup jagung hangat dan menghangatkan badan selama 15 menit di dalam. Sedangkan Udin dan Rama memilih untuk tetap beristirahat diluar warung.

“Puji Tuhan cuaca yang cerah dan bersahabat menemani pendakian kami. Pendakian Rama di tahun sebelumnya, terjadi hujan yang cukup deras ketika berada di sekitar ketinggian ini karena sulit memprediksi cuaca di sekitar puncak Gunung Fuji.”

Waktu 15 menit ini saya manfaatkan dengan baik untuk sekedar memejamkan mata.

Antara Puncak dan Sunrise

“Ternyata 500 meter itu jauh cuy kalau mendaki gunung”

Sudah lebih dari 1 jam sejak terakhir beristirahat, tapi puncak Fuji pun belum tampak. Selain itu jalur pendakian semakin ramai dipadati oleh orang-orang yang hendak melihat sunrise dari puncak Fuji.

“Beberapa kali kami harus berhenti karena terjadi kemacetan.”

04:00 JST

Menurut pengalaman Rama, matahari akan terbit sekitar pukul 4:15 – 4:30. Dengan kondisi saat ini, hampir dipastikan kami tidak bisa melihat sunrise dari puncak.

Karena memang kami tidak berambisi untuk melihat sunrise dari puncak, maka kami pun memutuskan untuk menepi mencari lereng gunung yang bisa dipakai untuk duduk sambil melihat sunrise.


Perjuangan Cinta (2)

Bagian ini adalah hal yang tidak terpikirkan oleh saya dan Laura. Duduk menunggu sunrise tanpa ada selimut, tenda, atau terpal yang bisa menghangatkan badan adalah suatu bencana bagi kami para pemula.

Syal yang melekat di leher saya pun berpindah ke Laura karena dia sudah kedinginan. Saya hanya berusaha menahan dingin sambil berharap ayolah matahari cepat muncul.


Udin pun merasakan hal yang sama. Suhu dingin tidak terlalu bermasalah, angin yang cukup kencang yang menjadi masalah.

04:20 JST: Sunrise

Perjuangan mendaki lebih dari 8 jam akhirnya terbayar dengan melihat sunrise dan gumpalan awan yang menutupi seluruh pemandangan sekitar gunung.

“Bagaikan negeri di atas awan”

IMG_7956
Menikmati sunrise dari Gunung Fuji

 

IMG_7958
Rama, paling sabar menunggu kami bertiga di barisan akhir.
IMG_7969
Udin, pantang menyerah menuju puncak walau harus sampai muntah.
IMG_7991
Laura, pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir mendaki Fuji.

Setelah menikmati sunrise, kami pun melanjutkan kami menuju pos terakhir yaitu puncak Fuji.

06:20 JST: Bencana

Kondisi badan saya yang sudah lelah ditambah lagi menunggu sunrise dengan hempasan angin menusuk kebadan membuat fisik langsung turun. Mata sudah mulai berkunang kunang membuat saya memutuskan untuk berhenti sebentar untuk makan protein bar untuk menambah tenaga.

Laura malah terlihat lebih segar pada saat ini. Gak tahu lah dari mana tiba-tiba dia bisa bersemangat 45 untuk mendaki menuju puncak.

Sedangkan Udin, memilih untuk keluar dari jalur pendakian karena ada tanda-tanda mau muntah.

Bagaimana dengan Rama? ya, Rama tentunya dalam keadaan baik dan memastikan kondisi kami apakah masih kuat untuk naik atau tidak.

“Ternyata lokasi ‘bencana’ kami sudah sangat dekat dengan gerbang Puncak Fuji”

IMG_8025
Menepi sejenak dari jalur pendakian.

06:40 JST: Gerbang (Torii Gate) Puncak

Akhirnya kami tiba di gerbang masuk Puncak Gunung Fuji. Sekitar 11 jam waktu yang kami butuhkan untuk sampai di puncak gunung tertinggi di Jepang (3776 meter).

IMG_8038
Udin dan Rama di depan Gerbang Fuji.

“Ada loh vending machine jualan minuman hangat di puncak Fuji dengan harga yang hampir 5x lipat dari biasanya.”


 

 

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 2/3)

Sebelumnya di: Part 1

MINGGU MALAM

Setelah melakukan pengecekan barang bawaan, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 19:00 JST.

Untuk mempermudah pendakian, kami membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang. Dimana di tiap kelompok ada satu orang yang sudah punya pengalaman mendakilah.

“Saya, Laura, Udin dan Rama adalah tim yang paling belakang.”

Di dalam tim ini, Rama adalah yang paling berpengalaman mendaki. Dia berbesar hati menemani kami di rombongan akhir selain itu dia juga menjadi penutup barisan yang memastikan tidak ada rombongan PPI Tokodai yang tertinggal di belakang.

“Kami bertiga (Saya, Laura, dan Udin) tidak punya target harus sampai ke puncak. Pedoman kami adalah sekuatnya saja yaa..hahaha”

19:30 JST: Perjalanan disini masih terbilang cukup mulus dan datar, belum terlihat tanjakan yang begitu memberatkan. Istri pun masih kuat membawa tas ranselnya. Selain itu kami disuguhkan dengan pemandangan kembang api yang terlihat di kejauhan. Festival kembali api (Hanabi) adalah suguhan yang menjadi favorit selama musim panas di Jepang.

20:00 JST: Setelah hampir satu jam berjalan, akhirnya kami berempat sampai di Pos 6. Teman-teman yang lain sudah tiba disini sekitar 15 menit yang lalu. Hal yang pertama saya lakukan disini adalah mengenakan jaket karena suhu udara sudah mulai dingin.

IMG_7914 copy
Annisa dan Laura sedang beristirahat di salah satu pos peristirahatan.

Perjuangan Cinta (1)

Kami (4 orang) pun hendak melanjutkan perjalanan setelah 15 menit beristirahat. Disini lah drama itu muncul.

“Sayang, udah capek kali aku. Gak kuat lagi bawa ransel, ujar Laura”.

Rama saat itu berbaik hati mau membantu membawakan tas ransel istri. Tapi yang namanya barang-barang istri, tentulah saya sebagai suami punya tanggung jawab membawanya.

“Gpp ram, biar saya aja yang bawa tasnya Laura.”

Supaya lebih memudahkan pergerakan, maka air minum (2L) dan makanan yang terasa berat dipindahkan ke tas saya. Laura hanya membawa tas ransel yang berisi minuman botol (600ml) dan cemilan ringan.

21:00 JST: Perjalanan pun sudah mulai terasa mendaki. Kami menggunakan jalur pendakian untuk pemula. Jalur ini sangat padat oleh manusia sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Senter pun setia menemani perjalanan kami dimalam hari ini.

“Jaringan 4G masih bisa dinikmati sewaktu pendakian.”

Rasa lelah dan suhu yang dingin memaksa kami untuk terus berjalan maju perlahan tapi pasti. Istirahat pun hanya sebatas mengambil napas atau minum. Kalau berdiam diri maka suhu dingin akan sangat terasa menusuk ke tubuh.

Disepanjang jalan, terkadang saya dan Udin berkata: Ya ampun, kenapa kita ikut ini perjalanan, mending tidur di apato. (dengan logat khas Makasar dan Medan). Kami hanya tertawa melihat perjuangan kami mendaki Gunung Fuji.

Dilain sisi, Laura hanya banyak diam karena sudah lelah dan sesekali minta dibawain tas ransel. (Saya akhirnya membawa 2 buah tas ransel).

Sedangkan Rama, memantau kondisi kami yang kelelahan dan sesekali melihat ke belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.

22:11 JST: Kami akhirnya sampai juga di Pos selanjutnya (sudah lupa pos ke berapa). Disini harus diakui kalau kami bertiga (Laura, Udin, dan Saya) sudah cukup lelah.

“Apa kita berhenti aja disini? Ada penginapan di pos ini. Besok pagi kita turun aja.” Begitulah tawaran saya kepada Laura dan Udin.

“Berapa sewa penginapannya? tanya Laura. 5000 yen untuk 4-5 jam (lupa) jawab saya. Yaudah lah lanjut aja sayang uangnya, ujar Laura”. 

Disini kami bertemu lagi dengan rombongan dari PPI Tokodai yang sudah sampai terlebih dahulu. Kami beristirahat sedikit lama untuk mengisi energi di dalam tubuh dengan memakan cemilan (coklat dan onigiri).

IMG_7915 copy
Udin, Irwan, Laura dan Annisa. Wajah terpaksa senyum walaupun sudah cukup lelah. Hehehe

Sebagian dari kami ada yang pergi ke toilet. Oiya, dibeberapa pos peristirahatan terdapat toilet tapi harus bayar sekitar 200 yen untuk sekali pemakaian.

Dari pos ini terlihat bahwa jalan menuju pos berikutnya lumayan curam. Kami bisa melihat barisan manusia yang mengular mulai dari tempat ini sampai ke pos berikutnya.

Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata benar, jalan yang kami lalui kali ini cukup curam. Kami harus menggunakan kedua tangan untuk merangkak naik melalui bebatuan yang besar. Mau tidak mau, istri harus menggendong kembali tas ranselnya.

IMG_7918
Sebagian rombongan PPI Tokodai yang ikut meramaikan acara mendaki Fuji 2015.

SENIN DINI HARI

01:40 JST: Setelah pendakian yang cukup panjang dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat, akhirnya kami sampai di pos selanjutnya. Siapa sangka kami sudah berada di ketinggian 3.250 meter.


 

(tunggu cerita selanjutnya di bagian 3 ya…)

 

 

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015

Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji.

Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji.

Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik gunung, dan langsung dijawab AYOOOO.  Setelah itu, teman saya, Udin, pun saya ajakin untuk ikutan.

“Kami bertiga adalah muda mudi yang hobi utamanya bukan mendaki gunung.”

Minggu Siang

Selepas ibadah Minggu, saya dan istri janjian untuk ketemuan dengan Udin di Restoran Malaysia (Shibuya) untuk makan siang.

IMG_7863
Menu makan siang di Restoran Malaysia, Shibuya

Selepas makan siang, kita berjalan menuju tempat pertemuan di sekitar Stasiun Shibuya. Ada sekitar 20 orang anak PPI Tokodai yang ikut dalam petualangan mendaki Gunung Fuji.

“Wajah-wajah ceria penuh semangat masih terpancar dari muka kami masing-masing.”

IMG_7857 copy
Wajah ceria istri disamping Patung Hachiko sebelum berangkat menuju Stasiun Kawaguchiko.

 

14:00 JST: Bus yang kami tumpangi pun melaju menuju ke Stasiun Kawaguchiko. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

“Dari rombongan ini, ada beberapa teman yang sudah beberapa kali ikut mendaki Gunung Fuji. Dari mereka jugalah saya tahu kalau butuh waktu (normal) sekitar 7-8 jam untuk mendaki ke puncak.”

16:40 JST: Bus tiba di Stasiun Kawaguchiko. Disini kami punya waktu sekitar 30 menit untuk menunggu bus lainnya yang akan menghantarkan kami ke Pos 5 Gunung Fuji (Semoga gak salah ingat). Sambil menunggu kedatangan bus, kami pun menyempatkan diri untuk makan dan membeli cemilan di konbini (convenience store).

17:00 JST: Butuh waktu sekitar 45 menit dari Stasiun Kawaguchiko menuju Pos 5 Gunung Fuji.

18:00 JST: Kami pun tiba di Pos 5 dengan selamat. Disini terdapat restoran, toko souvenir dan perlengkapan mendaki, toilet, dll. Istri pun membeli sarung tangan mengingat suhu di puncak Gunung Fuji cukup dingin. Selain itu kami juga mengambil brosur mengenai petunjuk pendakian Gunung Fuji.

“Summer di bawah, Winter di puncak. Itulah sekilas perbedaan suhu antara pos 5 dan puncak Fuji.”

IMG_7903
Pos 5 Gunung Fuji, sesaat sebelum pendakian dimulai.

Sebelum memulai pendakian, kami pun menyempatkan makan malam. Kami membawa bekal makan masing-masing mengingat kemungkinan tidak ada makanan yang halal yang dijual disekitar pos 5. Setelah makan malam, teman-teman yang beragama Islam melaksanakan sholat.


Minggu Malam

19:00 JST: Kami pun memulai pendakian ……

 

Selanjutnya di: Part 2

 

 

How I met your mother (5)

Sebelumnya di:

Episode 4: How I met your mother (4)

Episode 5: Terpesona

Hari Minggu di bulan Maret.

Kejadian ini hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Andi ke kos.

Entah kenapa pada hari Minggu itu saya memilih untuk mengikuti ibadah minggu pagi di gereja HKBP Kota Baru. (Saya mencoba mengingat-ingat kembali ada apa di hari Minggu itu, tapi tidak bisa menemukan alasan yang pastinya alias lupa..hehe)

“Satu hal yang pasti pada saat itu adalah kesibukan dalam penyelesaian skripsi, sehingga biasanya setelah selesai gereja langsung pulang ke kosan untuk mengerjakan skripsi.”

Pagi itu semuanya berjalan secara normal mulai dari saya tiba di gereja hingga mengikuti rangkaian ibadah minggu hingga selesai.

Kejadian yang tidak mungkin bisa dilupakan adalah sesaat sebelum meninggalkan gereja.

Begini kira-kira kejadiannya:

Untuk menghindari kemacetan terutama di area parkir motor, saya memilih untuk cepat-cepat menuju area parkir. Kunci motor sudah pada tempatnya, helm sudah terpasang dikepala, mesin motor sudah nyala, tinggal menunggu antrian keluar dari parkiran.

Sambil menunggu antrian, saya melihat-lihat ke arah pintu keluar gedung gereja. Siapa tahu ada ketemu teman, itu lah yang ada di pikiran saya. Tidak lama saya memandang kearah sana, saya melihat seorang gadis yang mempesona mengenakan dress berwarna hijau keluar dari pintu gereja. Dia berdiri agak lama dekat pelataran pintu keluar gereja. Berulang kali saya memfokuskan pandangan kearahnya dan semakin fokus memandang, akhirnya timbul pertanyaan di dalam hati ” Itu bukannya Laura ya??, cantik sekali dia hari ini.”

Saya hanya memandang dari tempat saya berada tanpa berani menyapanya.

“Seperti yang saya ceritakan di kisah sebelumnya, saya sudah kenal dengan teman-teman les tetapi belum sampai tahap akrab atau tukar nomor handphone atau berteman di Facebook.”

Saya sudah berkenalan dengan Laura sejak kami les di ELTI, tapi kejadian hari Minggu inilah yang menjadi awal dari Cerita Mengejar Cinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selesai….(?)

 

How I met your mother (4)

Sebelumnya di:

Episode 3: Membuka Diri

Episode 4: Waktunya kurang tepat.

Dari bulan Februari hingga akhir Maret 2010 adalah masa krusial dalam perkuliahan saya. Hampir setiap hari saya habiskan di laboratorium komputasi kampus untuk mengerjakan skripsi. Selain itu saya masih tetap harus mengikuti kelas bahasa inggris setiap hari Selasa dan Kamis sore dan beberapa kegiatan lainnya.

Kegiatan tersebut tentunya menguras tenaga dan pikiran. Refresing adalah salah satu hal yang bisa menyegarkan kembali pikiran saya.

Hal yang biasa saya lakukan untuk meyegarakan pikiran adalah berkunjung ke Plaza Ambarukmo Mall. Masuk ke bagian Gramedia sambil mencari buku sejarah dunia (terutama yang berhubungan dengan Perang Dunia). Biasanya mencari buku yang sudah di buka plastiknya, jadi bisa dibaca disana.Hehehe.

“Planet Bumi”

Kehidupan saya selama bulan-bulan ini membuat saya seolah-olah sedang tidak berada di Planet Bumi.

Di lain hari, ada sms masuk dari Andi. “Coi, kau di kos? Awak otw kesana ya.” Hemmm, sms belum dibalas, dia udah nyampe di depan kos. Yoweslah, makan malam ajalah dulu kita di pecel lele depan kehutanan (Fakultas Kehutanan UGM), begitulah saya menyambutnya di depan pintu kos.

Kedatangan Andi tentunya tidak dengan tangan kosong. Pasti ada informasi yang mau diceritakannya. Ada banyak hal dari mulai A sampai Z yang diceritakan, seolah-olah saya beneran sudah menghilang dari Planet Bumi selama dua bulan sehingga tidak tahu informasi apapun. Dari semuanya itu, ada satu cerita yang menarik perhatian saya.

Kira-kira begini percakapan singkat kami:

A: Cui, teman-teman ELTI berpikiran kau sombong loh, soalnya gak pernah gabung kalau ada kumpul-kumpul.

I: Hahhh? Emang ada kalian kumpul-kumpul? Siapa aja?

A: Ada cui dan udah beberapa kali nongkrong bareng. Terus mau gak kau ikut Fun Walk ELTI nanti?

I: Nanti kalau awak ikut jadi gak fun lagi..hahaha (dan akhirnya saya pun tidak ikut acara tersebut). Tapi kau kan tahu kalau awak lagi sibuk ngerjain skripsi. Ngejar deadline coi.

A: Yoi, makanya tenang aja kau. Udah kujelaskan itu sama mereka jadi aman aja.

I: Yowes, ntar kalau ada rencana makan-makan kabarin lah coi.

Begitulah kira-kira percakapan singkat kami saat itu.

Saya tidak tahu kalau mereka sudah begitu akrab satu sama lainnya. Saya sendiri pada awalnya tidak terpikir bakal bisa berhubungan dekat dengan mereka.

bersambung …

Episode 5: Terpesona


  • Seiring dengan berjalannya waktu, mereka-mereka inilah yang nantinya akan membantu saya dalam proses-proses menggapai mimpi untuk bersekolah ke Jepang. Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech
  • Tidak banyak teman dekat saya sewaktu di kuliah, Andi adalah salah satunya dan dia juga yang banyak membantu saya bahkan hingga saat ini.

How I met your mother (3)

Sebelumnya di:

Episode 2: Siapa Dia?

 

Episode 3

Membuka Diri

Tidak terasa sudah sebulan sejak kelas ini dimulai. Andi sudah berbaur dengan semua orang yang ada di kelas. Sedangkan saya, nama mereka aja masih ada yang belum hapal.

Saya tipikal orang yang sulit membuka pembicaraan terutama dengan orang baru.”

Hanya ada beberapa nama yang saya kenal selain Andi. Mereka adalah AAng dan Nilla. Perkenalan pertama dengan AAng karena pada saat itu ada latihan percakapan antar sesama murid. Sedangkan dengan Nilla, karena pernah duduk sebelahan jadi mau gak mau harus kenalan. (Sebenarnya bukan hanya mereka saja, tapi yang sampai sekarang gak mungkin lupa adalah perkenalan dengan mereka).

Ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. AAng adalah tipe orang yang sangat friendly (cenderung agresif..hahaha) dan memiliki wawasan yang luas. Nilla juga orangnya asik diajak ngobrol, ramah, tahu banyak tentang Jogja, dengan khas suara Jawa medok gitu.Hihihi.

Disisi lain, Andi sudah sangat akrab dengan Hendroy, AAng, Nilla, Ratna, Metta, 2 orang lainnya (1 cowok dan 1 cewek, maaf ya lupa nama mereka), dan Laura. Atau dengan kata lain, akrab dengan seluruh murid di kelas.

“Yapzz, kelas dilevel ini lebih didominasi oleh kaum Hawa.”

Tidak seperti biasanya, AAng, Nila, Andi, dkk masih bercengkrama ketawa ketiwi di parkiran motor setelah kelas bahasa selesai. Yaa, tentunya saya juga ada disana karena saya pulangnya nebeng sama Andi. Itu adalah pertama kali saya membuka diri dan berkenalan secara personal ke mereka semua.

“Bagi saya, mereka semuanya cukup asik diajak untuk ngobrol.”

 

bersambung …

Episode 4: Waktunya kurang tepat

 

How I met you mother (2)

Sebelumnya di

Episode 1: Januari 2020

 

Episode 2

Siapa Dia?

Jadwal les pada level ini adalah hari Selasa dan Kamis, pukul 17:30 -19:00 WIB. Hal ini berbeda dengan level sebelumnya yang mana jadwalnya adalah hari Senin dan Rabu.

Hari pertama masuk les, saya pergi bersama Andi dengan motor “belalang tempur” nya.

“Sebenarnya kami sudah mengikuti les ini dari level sebelumnya, tapi berbeda jadwal.”

Sepanjang jalan menuju ELTI, saya berharap ada orang lain yang saya kenal di kelas selain si Andi. Sesampainya di ELTI, apa daya tak satupun orang yang saya kenal di kelas itu. Semuanya wajah baru bagi saya. Dilain pihak, ternyata Andi sudah lumayan kenal dengan beberapa orang disana. Usut punya usut, ternyata temannya dari level sebelumnya.

Hari itu, tidak ada yang spesial. Masuk ke kelas, memperkenalkan diri masing-masing, dilanjutkan dengan kegiatan belajar dan setelah itu pulang.

Beberapa Hari Kemudian..

Hari ini kami terlambat sekitar 5 menit. Hanya ada dua alasannya, antara saya lagi keasikan mengerjakan skripsi atau jemputan yang telat..hahaha.

Saat itu, pintu kelas sudah ditutup. Andi yang berada di depan, langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Saya mengikuti di belakang sambil mencari-cari kursi mana yang masih kosong.

Disinilah pandangan saya tertuju pada seseorang perempuan yang pada pertemuan sebelumnya tidak ada di kelas itu.*

“Penampilannya cukup menarik perhatian diantara murid-murid lainnya.”

bersambung …

Episode 3: Membuka diri


Andi: Teman saya sejak tahun 2007. Orangnya mudah bergaul dengan siapa saja.

*Bagi ya kenal, tahan dulu yaaa.. jangan spoiler dulu..

 

 

%d bloggers like this: