Mengejar Cinta (3): PDKT

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Tidak terasa kalau sudah 10 tahun sejak awal mula saya melakukan pendekatan dengan Laura. Walaupun sudah 10 tahun, tapi rasanya seperti baru kemarin saja. Banyak hal yang masih diingat sejak pertama kali bertemu hingga saat ini.

Tulisan ini berusaha untuk mengabadikan memori itu karena saya tahu suatu saat nanti sepertinya akan ada memori-memori yang sudah mulai lupa karena daya ingat yang menurun.

Perpisahan

Walapun saya sudah punya nomor HP Laura, ntah kenapa saya masih belum punya alasan yang cukup kuat untuk memulai menghubungi dia. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya di bulan Juni 2010. Hingga akhirnya ada bunyi sms yang masuk, dan ternyata sms itu datang dari Laura.

“Ketemuan yuk di Amplaz (Ambarukmo Plaza). Aku keterima kerja dan lusa mau berangkat.”, kira-kira begitu bunyi sms dari Laura.

“Boleh. Siapa aja?”, menjawab sms dari Laura.

” Teman-teman yang lain juga udah tak sms sih. Kalau kamu bisa ya ikut aja”.

Tanpa panjang lebar, saya pun langsung bersiap-siap menuju ke Amplaz.

Sumatera, I’m coming.

Ternyata pertemuan kali ini hanya tiga orang saja, Laura, Andi dan saya. Dari pertemuan ini, kami baru tahu kalau Laura akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara.

Meskipun sepertinya penempatan tersebut seperti kembali ke daerah asalnya, tapi Medan akan menjadi kota pertama diluar Jawa yang akan menjadi kota perantauannya setelah lulus kuliah. Pertemuan hari itu pun berlangsung untuk sekedar berbagi informasi mengenai kota Medan sambil ngobrol kesana kemari tentang berbagai hal. Karena memang pertemuan hari ini sekedar untuk perpisahan dan Laura masih butuh waktu untuk berkemas, kami pun tidak berlama-lama berada di Amplaz.

Bagi saya yang sudah terpesona dengan Laura, perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang dia keterima kerja dan penempatan di Medan. Sedih karena baru saja mau memulai pendekatan langsung di pisahkan oleh jarak.

Saya sudah punya pacar.

Di minggu-minggu awal kedatangannya di Kota Medan, kami menjadi lebih sering berkomunikasi. Hal yang sering kali ditanyakan adalah: “Cui, naik angkot apa di medan ini dari A ke B? “

Sms seperti itu sering sekali muncul di pagi hari ketika Laura sedang mencari alternatif angkot lain yang bisa membawa dia dari tempat tinggalnya menuju kantor. Karena rute yang dia gunakan hampir sama dengan rute yang sering kulalui sewaktu SMA, maka tidak terlalu sulit untuk menjelaskannya.

Disisi lain, sering juga dia bertanya rute dari titik A ke titik B yang mana saya pun belum pernah menjelajahinya. Alhasil pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya balas dengan sms becandaan, ” Awak memang besar di Medan, tapi kan manalah ku hapal trayek angkot itu semuanya. Haha”

Percakapan-percapakan seperti ini ditambah obrolan selepas pulang dari tempat kerja membuat suasana mulai terasa cair.

Disisi lain, beberapa kali Laura cerita kalau dia sering dijodohkan dengan teman kantornya atau dengan kaum ibu-ibu yang sedang mencarikan jodoh buat anak-anaknya. Atau bahkan pernah cerita kalau ada yang sedang mendekatinya.

Mendengar ceritanya seperti itu, terkadang membuat hati jadi bergejolak juga yaa..

Tapi yang membuat sedikit lega, saat itu dia berusaha menjawab kalau dia sudah punya pacar (walaupun sebenarnya tidak ada). Hanya saja jawaban itu membuat dia bisa fokus ke pekerjaannya.

Ketemuan di depan kantor ya.

Sebulan setelah Laura tinggal di Medan, saya punya kesempatan untuk pulang sebentar ke Medan. Tentunya, salah satu hal yang saya lakukan akan membuat janji untuk bertemu dengan Laura.

Kami pun membuat janji ketemuan setelah jam pulang kantor dan karena dia masih dalam masa training, maka belum ada lembur hingga larut malam. Disepakatilah kami bertemu hari Selasa di depan kantornya sekitar jam 5.00 sore.

Ternyata, janjian ketemuan di depan kantor sesaat jam pulang kantor adalah salah satu strategi yang dilakukannya supaya terlihat oleh teman-teman kantor kalau dia sudah punya pacar seperti yang diucapkannya kepada teman-teman kantornya. Hal ini pun sedikit banyak berhasil karena hari itu saya harus ikutan menyapa setiap temannya yang ada di depan gerbang kantor.

Saya tidak tahu sama sekali hal tersebut hingga dia menceritakannya ketika kami sudah menjalin hubungan.

Advertisements

Awal mula PDKT

Pertemuan ini pun kami habiskan untuk sekedar menonton film di bioskop. Film Inception menjadi pilihan kami pada saat itu. Film yang berdurasi sekitar 2.5 jam tersebut berhasil membuat kami terpukau dengan jalan ceritanya.

Entah kenapa saya lebih memilih mengajak menonton film dibandingkan makan. Padahal kalau diperhatikan lagi, tidak banyak komunikasi yang bisa terbangun ketika menonton film.

Setelah nonton, kami pun singgah untuk makan malam sebentar sebelum mengantarkan Laura kembali ke tempat tinggalnya. Kebetulan juga dia masih tinggal di daerah yang satu arah dengan tempat tinggal saya.

Tapi dari pertemuan itu, kami bisa membangun komunikasi yang lebih lagi dan bercerita lebih banyak hal serta berusaha mengetahui satu sama lain.

Bagi saya, peristiwa itu adalah awal mula proses PDKT dimulai. Dan karena ini masih tahap yang sangat awal, saya berusaha tidak menceritakannya kepada siapapun bahkan kepada si Andi. Hahaha

Bagaimana dengan Laura, apakah ketemuan kita di Medan bisa dibilang sebagai awal mulanya proses untuk saling mengenal satu sama lain? Bisa ditanyakan langsung ke orangnya ya..

Celotehan Suami Istri (CSI): #8. Suamiku (sok) Jagoan

Puji Tuhan. Akhirnya malam itu Henokh lahir dengan selamat.

Laura pun dalam keadaan sehat walaupun beberapa jam sebelumnya teriakan demi teriakannya memecah keheningan malam di ruang bersalin.

Di RS ini, bayi yang baru lahir ditaruh di ruangan khusus dengan tujuan memberikan kesempatan kepada para ibu untuk beristirahat. Para susterlah yang menjaga bayi-bayi yang baru lahir tersebut.

Setelah semuanya dibersihkan, saatnya saya dan Laura kembali ke kamar dan Henokh ke ruangan bayi bersama teman seangkatannya.

“Henokh adalah bayi terakhir yang lahir di hari itu.” 

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L&I : Terimakasih banyak atas bantuannya suster. Maaf sudah banyak merepotkan.

S: Iya, sama-sama. Ini pertama kalinya saya membantu lahiran orang Indonesia. Oiya, nanti kalau mau buang air kecil jangan lupa panggil suster jaga ya.

L&I: Ok Suster


Setelah itu, saya dan Laura pun kembali ke kamar. Laura masih dibantu oleh alat sejenis infus yang harus dibawa-bawa kemana pun dia pergi. Termasuk ke toilet. Mungkin ini kali ya alasan susternya harus dipanggil buat membantu.


Suasana dikamar pun berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Saat ini, suasana hati Laura sudah senang dan ceria. Saya pun sudah bisa rebahan di sofa sambil pegang HP.

L: Senang kali aku, udah lahir Henokh kita.

I: Iyaa, gak nyangka yaa bisa lahir di hari ini. Jadi nambah lah ya biaya karena lahiran di hari Minggu.. Hahaha


Ada tambahan biaya kalau lahiran di hari Minggu dan hari libur. Hal ini sudah dijelaskan diawal sewaktu memutuskan menggunakan jasa RS ini.


L: Kenapa itu pulak lah yang bapaknya ini pikirkan..Ckckkckc.. Aku mau buang air kecil.

I : Yaudah, perlu panggil suster? Atau bisa sendiri?

L: Kucoba dulu sendiri lahh..(sambil berusaha turun dari tempat tidur). Aduhh, gak bisa ini banyak kali infus disini. Panggil suster aja.

I: Hemmmmm.. Sambil menekan tombol yang ada disamping ranjang. 

Tidak sampai semenit, akhirnya suster sudah di kamar.

S: ..(mau ngeluarin hp untuk mengetik sesuatu)

I:..(waduh bisa lama ini kalau nunggu dia ngetik dulu) Suster, Laura mau ke toilet. Tolong bantuin yaa.

S: Ok. Kamu tunggu disini aja ya.

I: Ehh, Gpp suster. Saya bantuin bawa alat infus ini aja. Gpp kok. Tenang aja suster.

L: Yakin kau mau ikut? Kuat gak nanti. Kemungkinan masih ada da**h loh.. Ntar pingsan pulak.

I: Gpp lohhh.. Daripada kau ribet sambil pegangin itu infus. Sini aku aja yang bawa itu alatnya.

S: Tolong ambilkan itu (sambil menunjuk semacam tisu basah khusus buat ibu yang baru melahirkan).

Suster pun membantu istri di toilet sedangkan saya menunggu di depan pintu.

I: Waduuhhhh.. banyak kali da**hnya.. gpp itu?

S: Iya gpp. Wajar aja.

I: Sayang, pusing kepala ku. Lemas udah tanganku. Suster, pegangin ya alat ini. Saya mau duduk di sofa.

L: Hemmmmm bandal.. Udah lah tadi kubilang gk usah. Sok jago kau mau bantuin. Udah duduk aja sana. Itu makan bento tadi siang biar ada tenagamu. Awas sampai pingsan! Repot aku nanti ngurusinnya.

I: …(muka pucat sambil berusaha duduk ke sofa)

 

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster.

Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya.

“Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. Sayang kalau dibuang.” Begitulah ujar salah seorang susternya.

Sudah dua jam kami di dalam ruang bersalin. Saat itu hanya ada saya, istri dan suster.

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L: Lama kali ini prosesnya, kalau belum keluar bisa ditunda aja besok? Terjemahin itu ke susternya.

I: Ok.. (terus ngomong ke suster seperti yang disampaikan istri).

S: Heeeee..(muka bingung dan kaget orang Jepang).. Gak bisa ditunda besok. Harus hari ini. Sudah kelihatan kok.

I: Ok. (sambil menjelaskan lagi ke istri)

S: Sekali lagi yaa…PUSHHHHHH!!!!

L: Haiiikkk… (sekuat tenaga mengikuti instruksi suster).

I: (menahan sakitnya tangan yang dicengkram istri)

L: Udah kupush.. Udah keluar belum?

S: Belum… Lebih kuat lagi.

L: Mau sekuat apa lagi kupush. Udah mau mati aku mengpushnya.

I: perlu kuterjemahkan yang ini ke suster?

L: Gak Perlu..!!! Tanyakan dulu bisa pakai penahan rasa sakit ?

I: Suster, boleh dikasih penahan rasa sakit?

S: Gak Boleh. Sealami mungkin yaaa.

I: (menjelaskan ke istri) gak boleh katanya. Sealami mungkin.

L: OMG… udah gak kuat aku. Ambil dulu minum itu.


Melihat pembicaraan dan ekspresi laura yang sudah mulai kelelahan, akhirnya suster mengambil HP dan menuliskan sesuatu.

“Oiya, susternya tidak bisa bahasa inggris atau indonesia jadi kalau berkomunikasi dengan kami menggunakan google translate atau sejenisnya”


Cukup lama saya perhatikan suster itu mengetik di HPnya. Mungkin sesuatu yang sangat penting untuk dijelaskan. Makanya, harus pakai google translate biar tidak salah.

Setelah selesai mengetik, akhirnya HP itu diperlihatkan ke Laura.

Saya yang melihat tulisan itu pun cukup kaget dibuatnya.

 

Sedikit lagi, Semangat!!!

Yaa ampun mbak eee, kalau itu aja yang mau dijelaskan, saya dan istri masih paham loh kalau diomongin pakai bahasa Jepang.😂😂


Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Celotehan suami istri: #6.Bingung pilih stroller bayi.

Hampir semua orang yang punya bayi di Jepang pasti mempunyai stroller (kereta bayi). Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas perjalanan yang pada umumnya menggunakan transportasi umum.

Sewaktu kami tinggal di Tokyo, sering sekali melihat orang tua membawa bayinya menggunakan stroller entah itu berbelanja di supermarket, bermain di taman, serta aktivitas lainnya yang menggunakan kereta. Sering juga melihat ibu-ibu membawa bayi dengan stroller menikmati pemandangan di dalam kampus.

Menjelang kelahiran Henohk, kami pun sudah memutuskan untuk membeli stroller. Kami sudah membayangkan jalan-jalan menikmati taman di desa Tokai sambil Henokh duduk di dalam strollernya.

Yang menjadi persoalan adalah mau pilih stroller yang bagaimana?

Laura (L), Irwan (I)

Desember 2018

I: Sabtu ini kita ke Akachan (salah satu toko bayi) lihat stroller?

L: Ntar aja lah, aku cari-cari di Amazon dulu. Mau cek-cek harga dulu sama jenis-jenisnya.

I: Yowes. Kabarin kalau udah dapat. Berapa budget mu kesana?

L: Kalau bisa murah, bagus, tahan lama, kokoh. Ya gitu dehhh kriterianya. Kriteria mamak-mamak lah yaa..

I: Aku pengen yang AirBuggy. Waktu kita kemarin ke AEON langsung suka bentuknya dan sepertinya cukup kokoh.

L: Busett, bukannya itu lumayan mahal ya. Ntar dulu lah kucari di Amazon dulu.

Februari 2019

I: Oiii, gimana nasib stroller ini? Bulan depan Henokh udah mau lahir loh?

L: Sabar lohhh… ini masih cari-cari lohh..

I: Busetttt, sampai kapan mau kau cek? Nunggu Henokh besar dulu baru dibeli itu strollernya?

L: Iya lohhh.. Sabtu ini kita ke Akachan sama AEON yuk. Ada yang udah kucari di amazon, jadi mau lihat barangnya dulu.


Hari Sabtu itu, kita pun pergi ke Akachan untuk melihat-lihat stroller bayinya. Kebetulan disana ada juga di jual stroller AirBuggy yang saya incar. Sedangkan istri, masih tetap galau mau beli yang mana karena model yang dilihat di Amazon tidak ada di toko.

Karena istri masih galau, maka kami pun menunda membelinya saat itu.


Maret 2019

Henokh pun sudah lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat. Tapi, stroller buat Henokh belum ada karena Mami Henokh kelamaan mikir.

I: Tuhh, udah seminggu sejak Henokh lahir loh. Stroller pun belum jadi dibeli.

L: Hahahah.. Iya lohhhh.. Sabarr..

I: Udah sabar kali pun aku nunggu kau. Udah dari Henokh di dalam perut loh sampai udah lahir loh. Ini aja persoalan kita yang belum terselesaikan.

L: Bulan depan lah kita cek-cek lagi ke toko.

I: Sabtu aja kita ke toko, sekalian beli perlengkapan Henokh.


Hari Sabtunya di Akachan. Istri sedang mencari-cari baju untuk Henokh, sedangkan saya menuju ke bagian stroller.


I: Udah kubeli AirBuggynya. Kelamaan kalau nunggu kau mikir. Hari Selasa di kirim karena warna yang kupesan gak ada disini.

L: Lohhhh, udah dibeli? Mahal lohh..

I: Yaudah, itu hadiah ku buat Henokh..

L: Berarti gak potong uang belanja yaa..

I: Hemmmm..

L: Gitu donk.. Coba bilang dari dulu, udah dari dulu kita beli..Tapi, hadiah buatku manalah??Henokh dikasih, mana buat ku?

I: ……

Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Celotehan kali ini berkisah tentang sakitnya proses kontraksi pada saat H-1 kelahiran Henokh.

Saya sendiri tidak bisa menggambarkan gimana rasanya menahan kontraksi. Saya hanya bisa melihat Laura mengerang kesakitan, lalu bergonta ganti posisi yang bisa membuat dirinya senyaman mungkin.

Hanya ada satu hal yang bisa saya lakukan saat Laura menahan sakitnya kontraksi, mengelus-ulus punggung bagian bawah. Selain hal itu, apapun yang saya perbuat salah. Bahkan ada masanya dia tidak mau dielus punggungnya dan akhirnya saya hanya duduk diam. Dan itupun tetap salah. Wkwkwkwk

Ntah karena sudah tidak kuatnya menahan sakitnya, terjadilah percakapan unik seperti berikut:

Laura (L), Irwan (I)

L: Sakit kaliiiiiiiii. Udah gak kuat lagi aku!!! (sambil mengerang kesakitan).

I: Gimana? Mau dipanggil susternya?

L: Gak usahhhh..!!!(masih sambil menahan sakit). Sakit kaliii ini, mau sampai kapan ini…??? 😭😭

I: Trus maunya gimana?

L: Janji dulu. Kalau terjadi apa-apa sama ku, gak boleh kau kawin lagi yaa..

I: Sumpaahhh, masih sempat bah kau mikir kesana.. Hahahaha (pecah ketawa ku dibuatnya dalam kondisi seperti itu).

L: Janji lohh. (sambil menangis).

“Apakah mereka yang dalam kondisi seperti ini emosinya akan cukup labil ya?”

I: Iya loh, janji gak kawin lagi. Apa lagi? Ada lagi permintaanmu yang lain? Surat wasiat atau sejenisnya? (Berusaha mencairkan suasana biar dia tidak terlalu tegang).

L: Iya ya, apalagi yaa..?? Hahaha

I: ……….(labil kali bah emosinya, kadang nangis kadang senyum)


Sesungguhnya, banyak kisah celotehan pada saat kami berada di Rumah Sakit menunggu kedatangan Henokh. Tiga hari di RS menunggu kelahiran Henokh adalah hari-hari yang menguras seluruh emosi, tenaga dan pikiran.

Terkadang kami tertawa sendiri ketika mengingat masa-masa itu.

Celotehan Suami Istri: #4. Semuanya serba salah.

Kali ini mau menceritakan kejadian sewaktu menunggu proses kelahiran Henokh di Rumah Sakit setahun yang lalu.

Kalau dipikirkan, proses menunggu kelahiran anak adalah suatu proses yang sangat dinantikan tapi penuh emosi dan menguras tenaga.

H-1 kelahiran Henokh, kontraksi yang dirasakan oleh istri sudah sangat sakit. Walaupun, suster yang setiap kali memeriksa mengatakan itu belum puncak dari kontraksinya.

“Hahhhhh, ini belum ada apa-apanya sus?”, ujar istri dengan rasa kaget.

Lahiran ini terjadi di Jepang, jadi percakapan antara saya, istri, suster, dokter dan penterjemah(teman kerja) dilakukan dengan bahasa Inggris, Indonesia dan Jepang.

Kontraksi sudah mulai sering terjadi tapi belum yang sampai tiap 10 menit. Dalam kondisi tersebut, terjadi percakapan seperti berikut:

Laura (L); Irwan (I)

L: Aduhhh.. sakit kali ini. Sayang, pijit-pijit dulu punggung bagian bawah.

I: Ok.. Sambil menghampiri dan mulai memijit pelan-pelan. Gimana udah lumayan?

L: Iya, udah gak terlalu sakit lagi.

Proses ini berlangsung sekitar 15 menit. Lalu istri kembali ke tempat tidur buat istirahat. Sedangkan, saya kembali beristirahat ke sofa.


1 jam kemudian


L: Aduhhh.. sakit lagi ini. Lebih sakit ini.

I: (Bangun dari sofa, dan berusaha untuk mijitin punggungnya lagi)

L: Jangan dipijit lohh.. Tambah sakit ini !!!

I: Lahhh, tadi dipijit jadi lebih nyaman. Kenapa sekarang kondisinya terbalik sihh??!!

L: Gak tahuuu !! (sambil mengerang kesakitan).. Udah, duduk aja kamu disana!!

I: Ok.. (duduk sambil mulai main HP)

L: Kenapa main HP sih!! Istrinya lagi kesakitan!!!

I: Lah, tadi katanya duduk aja.

L: Iya lohhh.. Duduk aja tapi bukan main HP!!

I: Ok2.. (sambil meletakkan HP di meja).

L: Ihhhhh… sakit kali kontraksinya.. Kamu kenapa duduk aja sih. Bantuin donk. Ini malah duduk aja!! (nada suara sudah judes)

I: Sumpahhh cui… Ini maumu apaan sih? Duduk salah, main hp salah, tidur salah, semuanya salah cui..Panggil suster aja yaaa..

L: Gak usah protes-protes dehh!!

I: …..(cepatlah datang suster)

Suster pun akhirnya datang dan memeriksa kembali. Ternyata masih belum ada tanda-tanda lahiran akan terjadi dalam hitungan jam.

“Kemungkinan bakalan seperti ini sampai 12 jam kedepannya”, begitulah jawaban susternya.

Mendengar hal itu, Laura pun kembali kaget. Ya ampun selama itu kah proses menunggu lahiran ini.


Di Rumah Sakit ini, mereka punya motto:

Tidak ada proses melahirkan tanpa rasa sakit.

Kalau kami mengingat kembali proses selama di Rumah Sakit, kadang bisa tertawa sendiri apalagi banyak ocehan-ocehan Laura yang untungnya dalam Bahasa Indonesia jadi suster atau dokter tidak ada yang tahu artinya.Hahaha

Celotehan Suami Istri: #3. Henokh ngerjain Maminya.

Anak satu tahun udah bisa apa sih? Udah bisa ngerjain maminya menyembunyikan remote TV.

Sejak kondisi di rumah aja, TV pun mulai difungsikan kembali sebagai mana mestinya. Biasanya TV di rumah hanya pajangan dan hampir tidak pernah dinyalakan.

Henokh sudah paham kalau untuk menghidupkan TV dibutuhkan remote. Karena dia belum bisa melakukan sendiri, biasanya dia akan mencari remote terus memberikannya kepada saya atau maminya.

Biasanya, maminya akan menyimpan remote setelah menyalakan TV supaya tidak diutak atik sama Henokh karena dia lagi suka buat mengambil dan melempar barang. Biasanya, mami Henokh menyimpan remote di dalam lemari doraemon.

Hampir setiap apartemen yang punya ruangan bertatami pasti ada lemari doraemon.

Sedangkan saya, biasanya cuma meletakkannya di tempat yang gak bisa dijangkau Henokh, seperti diatas kulkas atau diatas meja belajar.

Senin Pagi

Seperti hari-hari biasanya, pagi ini TV sudah dinyalakan karena mau nonton acara anak-anak. Sebenarnya Henokh tidak suka menonton, hanya saja suka dengan suara entah itu dari TV, atau musik dari keyboard.

Biasanya walaupun TV dihidupkan, Henokh tetap aja lari-lari mengitari rumah tanpa peduli sama apa yang ditayangkan di TV. Tapi begitu TV dimatikan, biasanya dia akan mencari remote TV.

Ntah kenapa hari itu, mami Henokh lupa menyimpan remote TV sesudah menyalakan TV. Remotenya hanya diletakkan di tempat yang bisa dijangkau Henokh.

Henokh pun berhasil menyembunyikan remote TV dan membuat maminya pusing mencari dimana remote TV berada.

Kisah pencarian remote TV ini berlangsung hingga saya pulang dari lab.

Saat itu saya mau ganti siaran di TV tapi tidak menemukan remote TV.

“Sayang, dimana remote TV?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Itulah, aku pun udah nyari dari tadi pagi. Disembunyikan Henokh nih remotenya.”, ujar Laura.

“Hahaha. Dikerjain sama anak umur satu tahun bahh..Itulah sering kali pulanya kau sembunyikan remote itu, sekarang giliranmu dikerjain. Udah dicari dimana aja?”

“Udah loh, di bawah keyboard, kursi, meja, di kardus mainan Henokh. Gak ada loh.”,ujar mami Henokh.

“Paling disembuyikan di bawah kulkas. Udah penuh tuh bawah kulkas dengan mainannya. Udah dicek disana?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Emangnya muat ya dibawah kulkas. Belum kucek sih. (sambil jalan menuju kulkas). Ya ampunnn Henokhhhh, pandai kali ya ngerjain mami sampai dibuat pusing nyari remote TV.”, ujar Laura kepada Henokh.

Mendengar teriakan dan ketawa maminya, Henokh pun ikut ketawa sambil merangkak ke arah kamar.


Bisa juga ternyata anak satu tahun ini ngerjain maminya. Hahaha.

Mami vs Henokh = 1 vs 1. Imbang ya skor kalian berdua dalam hal menyembunyikan remote TV.  Hahaha

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.

Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar.

Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain diluar tanpa harus pergi jauh mengingat kondisi saat ini.

Hari Jumat kemarin, Henokh dan maminya bermain di taman tersebut. Hanya ada mereka dan seorang ibu yang membawa kedua anaknya bermain. Henokh pun asik belajar jalan sambil berpegangan dengan salah satu permainan disana. Selain itu, dia berteriak-teriak seolah olah hendak mengajak kedua anak kecil lainnya untuk ikut bermain bersama.

Makan Malam

Sepulang dari lab, tentunya mami Henokh selalu menceritakan kegiatan mereka sepanjang hari. Ini percakapan singkatnya:

Laura (L); Irwan (I)

L: Tadi senang kali loh Henokh bermain ditaman samping rumah. Dia ketemu sama dua orang anak kecil lainnya dan kayak mau ikut bermain bareng gitu.

I: Siapa? Tetangga apartemen?

L: Bukan. Orang sekitar sini kali ya..Hmmm.. Kayaknya Henokh ini suka dengan keramaian dan sudah bosan kali ya dirumah terus. Mana berdua aja kan sepanjang hari di rumah. Gimana nanti kalau udah agak besar Henokh ya? Sepi kali lah rasanya di rumah ini.

I: Gimana? Apa Henokh mau punya adek?

L: ……….

 

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji


Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4)


April 2010

Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir.

Banyak Perubahan

Woow, ternyata banyak perubahan yang terjadi di dalam kelas dan yang paling terlihat adalah keakraban yang sudah terjalin dari Nila, AAng, Ratna, Andi, Laura dan Metha. Lumayan sering juga mereka nongkrong bareng selama menjadi les di ELTI.

“Sabtu malam ke Happy Puppy yuk. Ucap salah seorang dari kami sebelum meninggalkan ELTI.”

Karena Laura bilang OK, otomatis saya pun bilang OK. Walaupun biasanya saya lebih sering menghabiskan waktu di kosan nonton film di hari Sabtu.

“Saat itu saya sedang belajar menonton film barat dengan tidak menggunakan subtitle (Mengasah kemampuan listening).

Sabtu itu adalah pertama kalinya saya ngobrol dengan Laura diluar ELTI. Disitu juga saya mengkonfirmasi di dalam hati kalau ternyata gadis yang saya temui di HKBP itu adalah Laura.

“Aku gak bisa sampai malam ya (jam 9 malam), besok pagi mau gereja (HKBP), ujar Laura”

Makan malam bareng yuk.

Tidak terasa perjalanan kami di tempat les ini mendekati akhir. Beberapa dari kami sudah memutuskan tidak lanjut lagi karena ada yang sudah diterima kerja, sedang mencari kerja, fokus skripsi, dll.

“Sebelum kita selesai di level ini, yuk makan malam bareng. Sepertinya kami sadar kalau akan sulit bertemu di minggu-minggu setelahnya.”

AAng, Metha, Andi, Laura, Irwan, Ratna, dan Nila. Kami bertujuh akhirnya mencoba sebuah tempat makan yang baru buka di daerah Jalan kaliurang km 4.5.

Entah kebetulan atau tidak, saya berkesempatan duduk berhadapan dengan Laura. Disini kami sudah mulai ngobrol banyak hal terutama tentang rencana mencari kerja dan mau bekerja dibidang apa, dll.

Hampir semua berencana mencari kerja selepas kuliah, sedangkan saya memilih untuk lanjut sekolah dibandingkan mencari kerja.

Itu adalah makan malam bareng yang berkesan bagi saya karena bisa ngobrol dengan Laura. Selain itu, bagi saya sendiri ini makan malam pertama bareng mereka. Ternyata mereka semua orangnya sangat bersahabat dan menyenangkan diajak ngobrol banyak hal.

Parkiran Motor

Saya menyempatkan diri berbicara dengan Laura disaat teman-teman yang lain menuju kendaraan masing-masing.

“Oiya, boleh minta nomor kamu?”, ujar saya ke Laura.

“Boleh, btw kalau ada waktu mampir ke rumahlah sama Andi. Nanti tak buatin ikan mas naniura”, begitulah balasan Laura.


Sejak saat itu, proses PDKT pun dimulai.

Episode 3: PDKT

Note:

  • Sampai sekarang (udah nikah) tawaran dibuatin ikan mas naniura tidak pernah terjadi. 😌😌
  • Ikan mas naniura, masakan khas Batak Toba.
  • Mirip dengan sushi lah kalau versi Jepang.

Terbang Bersama Henokh: Doloksanggul – Jakarta

Tidak terasa masa liburan akan segera berakhir dan Henokh harus kembali ke Jepang. Ini adalah salah satu perjalanan terlama di liburan musim panas 2019.

Untuk perjalanan pulang ke Jepang, kami memilih menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Alasan utamanya adalah harganya yang cukup bersahabat dengan kapasitas bagasi hingga 46 kg/orang. Secara total kami bisa memuat sekitar 110 kg (bagasi + kabin).

“Bahkan bagasi 100 kg pun terasa belum cukup buat mami Henokh.”

Perjalanan kali ini memiliki rute penerbangan: Kuala Namu – Soekarno Hatta – Haneda. 

Sebenarnya ada bandara Silangit yang lebih dekat dari Doloksanggul. Akan tetapi, jadwal penerbangannya tidak sesuai dengan jadwal kami.

Doloksanggul – Kuala Namu

Jadwal keberangkatan pesawat dari Kuala Namu menuju Soekarno Hatta sekitar jam 2 siang. Artinya kami harus berangkat paling lama jam 4.30 pagi dari Doloksanggul.

“Doloksanggul adalah ibukota dari kabupaten Humbang Hasundutan. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 5-6 jam menuju Bandara kuala namu.”

Ini adalah perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Kami meninggalkan kota Doloksanggul di pagi hari yang sepi sehingga perjalanan sangat lancar. Henokh dan maminya pun masih terlelap di sepanjang jalan. Sayangnya, saya tidak bisa langsung tidur sehingga hanya bisa memandang ke arah jalan.

Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di kota Parapat (Danau Toba). Disini kami singgah untuk sarapan. Warung soto Medan menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi perut. Selain itu harganya pun masih pas di kantong. 

“Pernah kami makan di salah satu rumah makan Padang di Parapat dan ketika bayar cukup kaget dengan harganya. Buat para pedagang di sekitar Danau Toba, cobalah buat harga di setiap menu makanan sehingga pengunjung tahu dan tidak terkejut.

Sekitar jam 07:30, kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak ada kendala yang berarti selama perjalanan. Namun hujan lebat yang turun di kota Siantar sempat membuat arus lalu lintas sedikit terhambat.

Jalan tol Tebing Tinggi – Kuala Namu

Kami menggunakan jasa tol yang baru selesai di bangun untuk mempersingkat waktu tempuh menuju bandara. Benar saja, pilihan ini membuat kami bisa mempersingkat waktu tempuh sekitar satu jam.

Disepanjang ruas jalan tol, hampir tidak bisa ditemui rest area. Ada beberapa lokasi yang masih dalam tahap pembangunan ruas tol.

Selain itu, kondisi jalan tol yang hampir lurus sepanjang jalan menuju kuala namu adalah tantangan tersendiri untuk para pengemudi. Dipastikan rasa kantuk akan datang menyerang dengan kondisi jalan seperti itu. Pastikan pengemudi dalam kondisi fit dan menepilah untuk beristirahat di rest area atau sebelum memasuki jalan tol ketika merasa ngantuk.

“Biaya tol tebing tinggi – kuala namu sekitar Rp. 50.000 “

Bandara Kuala Namu

Akhirnya sekitar jam 12 siang kami tiba di bandara Kuala Namu.

Kami memanfaatkan total bagasi sebesar 96 kg dengan komposisi 2 koper besar, 1 tas ukurang sedang, dan dan 1 kontainer ukuran L.

Bagaimana nantinya membawa barang segitu banyak dari Bandara Haneda ke rumah? GAMPANG.  Karena saya sudah cukup familiar dengan kondisi bandara Haneda maka sangatlah mudah menurut saya. Semua bagasi nantinya tidak perlu dibawa sendiri dari bandara menuju rumah. Cukup menggunakan jasa pengiriman yang tersedia di bandara. Maka barang akan tiba di rumah keesokan harinya.

Setelah proses check in selesai, kami melanjutkan makan siang dan mengganti popok Henokh. Hanya ada sekitar 1.5 jam sebelum kami masuk ke ruang tunggu. Waktu yang cukup untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Bagaimana Dengan Henokh?

Perjalanan panjang dari Doloksanggul ke KualaNamu ternyata membuat Henokh terasa lelah. Nangis dan menyusui adalah hal yang bolak balik terjadi sepanjang perjalanan sejak dari Tebing Tinggi ke Kuala Namu.

Henokh sepertinya cukup bosan dengan kondisi dipangku dan digendong sepanjang perjalanan. Kami sebagai orangtuanya sudah paham betul hal ini. Naik mobil dari gereja ke rumah yang hanya 30 km aja Henokh bisa nangis karena bosan dipangku. Apalagi dari Doloksanggul ke Kuala Namu yang berjarak sekitar 230 km.

Kuala Namu – Soekarno Hatta

Penerbangan dengan pesawat Garuda Indonesia hari ini cukup ramai. Sepertinya hampir semua kursi di tiap kelas penuh. Beruntunglah kami yang bisa dapat kursi di barisan depan.

“Saat itu kami sudah tidak berharap banyak kalau Henokh akan duduk, tidur dan tenang selama penerbangan.”

Di barisan kami, ada seorang ibu yang baru saja selesai mengikuti seminar di Medan. Beliau dan rombongannya mau kembali ke Makasar.

Sejak awal, kita sudah minta maaf dulu apabila nanti Henokh nangis dan mengganggu istirahat beliau. Tapi beliau cukup baik hati dan pengertian. Ternyata beliau masih mempunyai hubungan saudara dengan salah satu teman saya (namanya Rama) dari Makasar yang sedang menempuh pendidikan di Tokyo Tech.


Baca juga:” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)


“Kita sempat ambil foto bareng di pesawat. Kata beliau mau dikasih lihat ke Rama.”

Benar saja, Henokh sangat rewel di penerbangan ini. Dari awal hingga kami mendarat tangisan Henokh cukup membuat kami tidak bisa beristirahat selama penerbangan.

Maklum lah, ini adalah perjalanan 12 jam non-stop pertama buat Henokh.

Setibanya di bandara, kami langsung menuju penginapan yang masih berada disekitar wilayah bandara Soekarno Hatta.

Begitu sampai di penginapan, Henokh langsung direbahkan di atas kasur dan langsung terpancar senyum ceria Henokh. Tentunya suhu AC langsung diatur pada suhu minimum karena Henokh tidak tahan dengan suhu udara yang panas.

“Henokh, si bayi musim dingin.”

Dari awal kami memang memilih untuk bermalam di Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Tokyo.

Keluarga besar Henokh

Rasanya tidak sopan kalau mampir ke Jakarta tapi tidak mengabari keluarga dekat kami. Tapi, mengingat kondisi kami yang cukup lelah dan harus melanjutkan penerbangan jam 7 pagi di keesokan harinya, maka mereka bersepakat dan berbaik hati untuk datang mengunjungi kami di penginapan.

IMG_8982
Henokh dan Bulangnya. (Bulang artinya Kakek dalam bahasa Batak Karo).

“Terima kasih untuk Ompung, Uda, Inanguda, Tante, dan Bibi yang sudah mau mengunjungi Henokh. Semoga di lain waktu bisa bertemu lagi.”


Ternyata pilihan untuk bermalam di Jakarta sangat tepat menurut kami karena Henokh punya waktu untuk beristirahat yang cukup sebelum penerbangan panjang selanjutnya.