Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”.

Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri.

Setelah satu tahun tinggal di asrama kampus yang terletak di daerah Yokohama, maka tahun kedua sebagai mahasiswa Master, saya memutuskan untuk mencari Apato yang lebih dekat dengan kampus (Ookayama Campus) dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tokyo Institute of Technology mempunyai dua kampus utama: Ookayama Campus (Tokyo) dan Suzukakedai Campus (Yokohama).”

Dikarenakan biaya apato di sekitar kampus Ookayama terbilang cukup mahal, maka saya dan seorang teman (Ashlih) memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah apato dengan tujuan bisa berbagi biaya sewa apato.

Melalui agen pencari apato, kami menemukan apato yang sesuai dengan kriteria yang kami cari. Tentunya harga adalah kriteria yang utama. Hehehe

Biaya Sewa dan Luas Apato

Apato yang kami sewa terletak sekitar 10 menit jalan kaki dari Stasiun Ookayama (stasiun utama menuju Ookayama Campus). Dengan jarak yang relatif dekat ke kampus, kami harus membayar sewa apato sebesar ¥ 75.000/bulan. Tentunya biaya tersebut diluar biaya listrik, air, gas, dll. Dengan harga segitu, kami memperoleh apato dengan ukuran sekitar 33 m2.

Fasilitas

Apato yang kami peroleh berada di lantai 1 dan berada di pojok (menghadap jalan). Hal ini membuat apato tersebut mendapatkan sinar matahari yang cukup di pagi hari.

Dengan ukuran 33 m2, apato ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 dapur (kitchen), kamar mandi, dan toilet. Komposisi seperti ini sering sekali di singkat menjadi 2K (2 kamar tidur dan kitchen). Selain itu apato ini tidak dilengkapi dengan pendingin udara (AC). Lampu hanya tersedia di toilet, kamar mandi, dan dapur. Oleh karenanya, kita harus membeli lagi lampu untuk kedua kamar tidur.

Selain itu, hal yang biasanya ditemui pada apato dengan ukuran mungil seperti tempat kami adalah posisi mesin cuci yang berada langsung di beranda belakang.

Advertisements

Tahun 1945

Salah satu hal yang mengejutkan sewaktu membaca detail kontrak, apato tersebut dibangun pada tahun 1945. Wowwww.. Usia apatonya sama dengan usia negara Indonesia.

Kondisi

Dengan kondisi apato yang sudah berdiri dari tahun 1945, tetapi selama dua tahun tinggal di apato tersebut tidak ada sama sekali masalah. Gempa yang berkali kali datang pun seolah olah tidak memberikan dampak apapun terhadap bangunan apato tersebut.

Seandainya saya tidak diberitahu mengenai bangunan apato tersebut, mungkin saya tidak terpikir bahwa bangunan itu berdiri sudah sangat lama.

Dari awal sejak kami menandatangani kontrak, sudah dijelaskan bahwa kontrak sewa tersebut hanya berlaku selama dua tahun dan tidak bisa diperpanjang karena pemilik apato berencana untuk melakukan renovasi.

Musim Panas vs Musim Dingin

Hal yang paling berkesan selama tinggal di apato ini adalah musim panas yang harus dilalui tanpa pendingin udara (AC). Oleh karena itu, saya biasanya menghabiskan waktu hingga larut malam selama musim panas di laboratorium karena sangat nyaman dan menghindari panasnya suhu udara di Tokyo.

Sedangkan musim dingin, kami menggunakan sebuah penghangat udara (portable gas heater) untuk menghangatkan kedua kamar tidur kami. Karena kedua kamar dibatasi oleh pintu geser (model rumah jepang), maka kadang kala kami membuka pintu tersebut supaya heater gas dapat menghangatkan ruangan kamar secara bersamaan.

Advertisements

Kenangan di Apato 1945

Bangunan Apato yang kami tempati di periode 2013-2015.
Berfoto dulu di depan apato sebelum menghadiri wisuda Master (2014) di Tokyo Institute of Technology.
Mesin cuci dan beranda belakang yang tertutup salju (2013).

“One Day Trip” Bermain Salju

Awal tahun 2020 dimulai dengan ikut berpartisipasi dalam acara “one day trip” bersama jemaat gereja GIII Oarai. Trip ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2020 dengan tujuan bermain ski di Minakami Kogen Resort 200 dan  dilanjutkan dengan melihat permainan lampu-lampu (illumination) di Asikaga Flower Park. Ini adalah perjalanan wisata awal tahun bagi saya, istri dan … Continue reading ““One Day Trip” Bermain Salju”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara. Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain … Continue reading “One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’”

Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)

Bagi saya, pengalaman menulis karya ilmiah yang hendak dipublikasikan di Jurnal Internasional masih terbilang cukup baru. Pengalaman pertama ini dimulai sekitar tahun 2015 dimana saya publikasi di jurnal internasional menjadi salah satu syarat kelulusan program studi S3. Proses menulis sebuah karya ilmiah ternyata cukup mengasyikkan. Di tempat kerja saat ini pun, kita diwajibkan untuk menghasilkan karya tulis yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Seperti yang saya tuliskan pada cerita sebelumnya*, bahwa salah satu strategi untuk bisa lulus tepat waktu pada saat mengambil program S3 adalah memahami proses dan alur mulai dari pendaftaran karya ilmiah di jurnal internasional hingga tahap publikasi.

*Tulisan sebelumnya: https://www.travelingajadulu.com/asia/jepang/beasiswa-s3-di-jepang/

Proses inilah yang sering saya ungkapan sebagai salah satu faktor external dalam menentukan seseorang dapat lulus tepat waktu atau tidak.

Puji Tuhan di tahun 2020, baru saja salah satu tulisan saya diterima di salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Saya akan berusaha menjabarkan proses yang harus dilalui hingga waktu yang dibutuhkan mulai saat menulis draf, mendaftar, review, diterima dan dipublikasikan.

1. Menulis karya ilmiah.

Saya memulai menulis draft sekitar bulan November 2019. Setelah selesai menulis, draft tersebut harus saya berikan terlebih dahulu kepada para co-author untuk diperiksa. Proses revisi yang berasal dari para co-author ini memakan waktu hingga bulan Februari 2020. Cukup lama yaa.. Hehe.

Berdasarakan catatan saya, draft tulisan saya direvisi hingga 11 kali. Haha

2. Pendaftaran ke Jurnal Internasional.

Saya mendaftarkan tulisan saya sekitar pertengahan Maret 2020 ke salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Ada beberapa dokumen yang perlu diupload ketika hendak mendaftar, yaitu: tulisan ilmiah (manuscript), cover letter, highlights, dll.

Advertisements

Setelah proses pendaftaran selesai, maka kita akan menerima email konfirmasi. Selain itu, di email tersebut akan diberikan link untuk melihat status tulisan yang kita daftarkan.

Sebelum mendaftarkan, ada baiknya tulisan kita sudah dicek terlebih dahulu oleh Native English Speaker.

3. Durasi review

Setiap jurnal memiliki proses review yang berbeda-beda khususnya untuk durasi waktu. Ada yang cepat dan ada yang lama dalam proses review ini. Saya sendiri tidak tahu waktu pastinya, biasanya saya memberikan waktu dua bulan untuk proses review tersebut. Artinya, saya akan bertanya melalui email ke editor apabila tidak ada kabar terbaru mengenai perkembangan tulisan saya setelah dua bulan. Akan tetapi, ada kalanya belum sampai dua bulan sudah ada balasan mengenai status tulisan saya (berdasarkan pengalaman pada tulisan-tulisan ilmiah sebelumnya).

Oleh karena itu, sangat penting untuk diketahui dengan baik aturan main tempat dimana kita akan mendaftarkan tulisan tesebut.

4. Durasi revisi

Pada tanggal 25 Mei 2020, akhirnya saya menerima email dari editor bahwa tulisan saya sudah direview oleh beberapa reviewer dan terdapat beberapa komentar dan saran dari baik itu dari reviewer maupun editor. Dari komentar-komentar tersebut, editor meyimpulkan bahwa tulisan saya masuk dalam katagori “Revisi Minor”. Saya diberikan waktu sekitar dua bulan untuk menjawab pertanyaan para reviewer serta merevisi tulisan tersebut.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, waktu dua bulan tersebut terkadang belum cukup. Apabila terjadi kondisi seperti ini, silahkan menghubungi editor melalui email untuk meminta perpanjangan waktu.

Salah satu tahapan yang dilalui saat hendak melakukan publikasi di jurnal internasional

5. Pengumpulan revisi

Setelah selesai merevisi tulisan tersebut, maka pada tanggal 12 Juni 2020 saya mengumpulkan kembali tulisan yang sudah direvisi. Biasanya, satu atau dua hari selanjutnya akan ada email konfirmasi yang menyatakan “Editor Handle your revised submission of xxxxxxxxxx”

6. Status Akhir

Pada tanggal 19 Juni 2020, saya mendapatkan email pemberitahuan bahwa tulisan saya sudah DITERIMA dan akan diproses untuk diterbitkan.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan setelah pengumpulan revisi pertama akan ada revisi kedua. Pengalaman lain yang pernah saya alamai adalah memperoleh “Major Revision” setelah saya mengumpulan hasil revisi pertama. Padahal status yang saya peroleh pada revisi pertama adalah “Minor Revision”. Meskipun pada akhirnya tulisan itu bisa dipublikasikan setelah melalui dua kali revisi oleh reviewer. Kondisi seperti ini tentunya akan memperpanjang proses penilian dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman ini, butuh waktu sekitar 7 bulan mulai dari proses penulisan hingga diterima di jurnal internasional. Untuk proses mulai dari pendaftaran hingga diterima di jurnal internasional sendiri membutuhkan sekitar 3 bulan. Perlu diperhatikan bahwa 3 bulan yang saya peroleh disini sangat tergantung pada komentar dan saran dari para reviewer.

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Bagi banyak orang, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri. Tidak hanya pengalaman, namum gaji yang lebih besar bisa jadi daya tarik utama ketika memutuskan bekerja di luar negeri. Ketika saya pulang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang, baik saudara maupun teman yang ingin bekerja di Jepang. Kebanyakan karena diimingi gaji hingga belasan juta … Continue reading “Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!”

Pengalaman Ngekost di Pulau Buatan ‘Odaiba’ Jepang.

Abstrak

Salah satu asrama mahasiswa yang tersedia bagi mahasiswa asing khususnya kampus Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech) adalah Tokyo International Exchange Center (TIEC) yang terletak di Odaiba, Tokyo. Tinggal di Odaiba yang merupakan salah satu pulau buatan di Tokyo dan terkenal sebagai salah satu tempat wisata tentunya mempunyai daya tarik tersendiri. Tulisan ini akan membagikan kisah pengalaman selama tinggal di Odaiba dari segi kelebihan maupun kekurangannya.

Kata kunci: Asrama TIEC, Odaiba, Berbagi pengalaman.

Pendahuluan

Salah satu kebutuhan bagi mahasiswa asing yang belajar di Jepang adalah tempat tinggal. Ada banyak universitas yang menyediakan tempat tinggal bagi para mahasiswa baik itu mahasiswa Jepang maupun mahasiswa asing. Khususnya untuk mahasiswa asing di Tokyo Tech, pihak universitas menyediakan beberapa lokasi asrama yang bisa ditempati bagi mahasiswa baru khususnya mahasiswa asing. Akan tetapi, beberapa asrama pada umumnya hanya bisa ditempati selama satu tahun saja. Hal ini tentunya membuat mahasiswa harus mencari tempat tinggal yang baru di tahun berikutnya.

Selain asrama, tentu mahasiswa bisa mencari kost-kostan (atau biasa disebut apato dalam Bahasa Jepang) yang banyak tersedia di sekitar kampus. Akan tetapi, biaya awal yang dikeluarkan untuk menyewa sebuah kamar kost tergolong cukup tinggi. Sebagai gambaran, uang awal yang dibutuhkan untuk menempati kos-kosan di Jepang adalah sekitar 3-5 kali dari harga sewa bulanan.


Salah satu cerita yang membahas tentang biaya tinggal di Tokyo: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga


Nah, dilema ini tentunya akan membuat sebagian mahasiswa berpikir apakah ada pilihan untuk tinggal di asrama dengan jangka waktu lebih dari satu tahun? Bagaimana dengan yang berkeluarga, adakah asrama buat mahasiswa yang membawa serta keluarganya? Jawabannya, ADA. Tokyo International Exchange Center (TIEC) adalah salah satu asrama yang menyediakan tempat tinggal baik untuk mahasiswa single maupun yang berkeluarga.

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman secara lengkap selama tinggal di TIEC. Dengan pengalaman ini, tentunya bisa memberikan gambaran sebelum memutuskan apakah tinggal di TIEC atau memilih untuk ngekost.

Tokyo International Exchange Center (TIEC)

TIEC adalah asrama mahasiswa ini dikelola oleh Japan Student Service Organization (JASSO). Mahasiswa asing yang kuliah di Tokyo Tech adalah satu dari beberapa universitas yang bisa mendaftarkan diri untuk bisa tinggal di TIEC. Asrama ini berlokasi di Odaiba, salah satu pulau buatan di Tokyo, yang dapat diakses menggunakan monorel “Yurikamome” line ataupun subway “Rinkai” line.

TIEC menyediakan empat buah gedung yaitu Gedung A, B, C, dan D. Masing-masing gedung mempunyai karakteristik tersendiri.

Gedung A dan B, dikhususkan bagi mahasiswa asing yang berstatus single. Sedangkan Gedung C dan D khusus bagi mereka yang sudah berkeluarga.

IMG_9511
Terlihat Gunung Fuji dari beranda kamar.

Fasilitas yang ditawarkan TIEC

Setiap gedung mempunyai fasilitas yang berbeda beda dan tentunya semakin lengkap akan berpengaruh terhadap harga sewa per bulannya. Selain itu, ada juga fasilitas umum yang bisa dinikmati oleh setiap penghuni asrama TIEC.

Berikut ini beberapa fasilitas umum yang ditawarkan kepada semua penghuni:

  • Gymnasium dan Training Room. Di gymnasium terdapat lapangan basket, badminton, futsal, hingga tennis meja. Semua fasilitas tersebut bisa digunakan secara gratis tetapi harus mendaftar ke bagian administrasi sebelum menggunakannya. Sedangkan untuk Traning Room sendiri sudah dilengkapi berbagai macam alat kebugaran seperti yang terdapat di fitness center pada umumnya. Untuk training room, bisa digunakan secara langsung tanpa melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Kedua fasilitas ini terdapat di gedung ‘Plaza Heisei’ yang mana dilengkapi pula oleh shower room. Sehingga sehabis berolahraga bisa langsung bersih-bersih di kamar mandi.
  • Ruang Rapat dan SeminarSalah satu aktifitas yang diselenggarakan oleh pihak pengurus TIEC adalah seminar yang dibawakan oleh penghuni TIEC. Karena penghuni asrama berasal dari latar belakang jurusan dan ilmu yang berbeda beda, maka mengikuti seminar santai mengenai penelitian yang dikerjakan oleh salah satu penghuni asrama menjadi salah satu pilihan mengisi waktu kosong di hari Sabtu.
  • Minimarket (konbini). Salah satu hal yang menyenangkan di TIEC adalah tersedianya konbini yang berada di lingkungan TIEC dan beroperasi 24 jam setiap hari. Hal ini memudahkan apabila tengah malam terasa lapar dan tidak ada makanan di dalam kamar. Konbini ini terletak di dekat Gedung B.
  • Studio musik. Bagi mereka yang suka bermain musik seperti piano atau mau ngeband, terdapat studio musik yang dibisa digunakan secara gratis. Studio ini terdapat di lantai dasar Gedung B.
  • Parkir Sepeda hingga Mobil. TIEC juga menyediakan fasilitas parkir untuk sepeda secara gratis sedangkan untuk mobil atau sepeda motor dikenakan biaya bulanan. Tapi tenang saja, biaya parkirnya jauh lebih murah dibandingkan tempat parkir pada umumnya yang ada di Tokyo.

Selanjutnya, mari kita bedah tipe kamar dan fasilitas yang terdapat didalamnya untuk setiap gedung.

  • Gedung A. Tipe kamar yang ada di Gedung A adalah tipe studio dengan luas sekitar 20 m2 dengan tipe ruangan western style (bukan menggunakan lantai tatami). Fasilitas yang tersedia di dalam kamar: kamar mandi, toilet, microwave, AC, tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi belajar beserta rak buku yang besar, dan telepon. Tidak semua kamar mandi dalam di Gedung A mempunyai bathtub. Fasilitas umum yang tersedia di setiap lantai: dapur, ruang diskusi dilengkapi dengan TV, coin laundry, vacuum cleaner.
  • Gedung B. Tipe kamar yang ada di Gedung B adalah tipe studio dengan luas 30 m2. Fasilitas yang tersedia di dalam kamar hampir sama dengan yang ada di Gedung A, bedanya mesin cuci dan dapur terdapat disetiap kamar. Tidak semua kamar mandi di Gedung B mempunyai bathtub. Dapur yang ada di dalam kamar menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung C. Gedung C menawarkan ruangan dengan luas 80 m2 atau 2LDK (2 kamar, 1 living room, 1 dining room, dan 1 kitchen). Fasilitas yang terdapat di dalam ruangan adalah: kamar mandi dalam, toilet, rak buku, kulkas, AC, telepon, mesin cuci, ruang belajar, dll. Tidak semua kamar mandi di Gedung C mempunyai bathtub. Dapur yang digunakan menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung D. Tipe kamar yang ada di Gedung D mempunyai luas 100 m2 atau 3LDK. Fasilitas yang ada di dalam kamar hampir sama dengan apa yang tersedia di Gedung C.

Harga Sewa

Setelah kita mengetahui semua fasilitas yang diperoleh, mari kita lanjutkan dengan hak yang terpenting, yaitu harga sewa setiap bulannya. Harga sewa kamar untuk Gedung A, B, C dan D tentunya berbeda-beda.

Biaya yang perlu dibayarkan diawal adalah deposit sebesar satu bulan sewa dan uang sewa bulan itu. Artinya hanya butuh menyiapkan dana sebesar dua kali biaya sewa.

Tabel 1. Daftar harga sewa tiap bulan sesuai tipe gedung.

Tipe GedungHarga Sewa per bulan
A¥ 35.000
B¥ 52.000
C¥ 74.500
D¥ 86.500

Harga sewa ini belum termasuk dengan biaya ulititas dan telepon.

Proses pendaftaran.

Mengingat bahwa asrama TIEC diperuntukan bagi beberapa institute, maka proses pendaftaran dilakukan di universitas masing-masing. Untuk Tokyo Tech, aplikasi pendaftaran dapat dilakukan di bagian Student Support Division.  Hanya mereka yang telah lolos seleksi yang bisa masuk menjadi bagian dari TIEC.

Pengalaman tinggal di Gedung A.

Saat itu, saya melamar untuk bisa menempati Gedung A di TIEC. Hal yang pertama dilakukan setelah lolos seleksi adalah mendatangi bagian administrasi TIEC yang berada di Plaza Heisei untuk proses administrasi dan serah terima kunci. Selanjutnya melakukan pengecekan ke kamar didampingi oleh staff TIEC.

IMG_9534
Rute jalan setiap hari dari TIEC menuju Stasiun Tokyo Teleport.

Berikut ini akan saya jabarkan poin-poin penting selama tinggal di TIEC:

  • Biaya utilitas tinggi. Salah satu biaya bulanan yang wajib dikeluarkan selain uang sewa adalah listrik dan telepon. Sistem pembayarannya listrik dan telepon adalah pra bayar. Kita harus mendepositkan sejumlah uang sebelum menggunakan utilitas tersebut. Terdapat potongan ¥110 setiap hari untuk uang listrik meskipun tidak ada pemakaian. Begitu juga dengan tagihan telepon yang dipotong ¥10 per hari. Jadi semisalnya anda pulang kampung selama sebulan maka otomatis uang listrik yang sudah didepositokan akan berkurang sebesar ¥3.300. Saya pernah pergi selama seminggu dan lupa mengecek saldo listrik yang tersisa. Hasilnya sewaktu pulang, listrik di kamar tidak bisa menyala karena saldonya sudah minus. Saya harus melakukan pengisian saldo listrik terlebih dahulu. Total biaya utilitas yang saya habiskan setiap bulannya sekitar ¥ 9.000 – ¥ 10.000. Tidak ada biaya gas karena masak dilakukan di dapur umum. Tips: Belajar di ruang belajar bisa membantu meringankan biaya listrik terutama disaat musim panas dan dingin. Biaya listrik ini tentunya akan lebih mahal untuk Gedung B, C, dan D mengingat adanya mesin cuci hingga dapur di dalam kamar. Info dari beberapa teman, untuk Gedung B kisaran ¥ 15.000 dan untuk Gedung C dan D sekitar ¥ 30.000 (tergantung jumlah anggota keluarga).
  • Biaya commuter ke kampus mahal. Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih lokasi tinggal adalah jarak dan biaya kereta yang dikeluarkan menuju ke kampus (dalam hal ini Tokyo Tech). Saat itu, biaya kereta yang saya keluarkan setiap bulan adalah sekitar ¥ 7.500 dari Stasiun Tokyo Teleport hingga Stasiun Ookayama. Rute yang ditempuh setiap hari: Tokyo Teleport – Oimachi menggunakan Rinkai Line selanjutnya dari Oimachi – Ookayama menggunakan Oimachi Line.
  • Waktu tempuh dari TIEC ke Stasiun Tokyo Teleport masih normal. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki dari TIEC ke Tokyo Teleport sekitar 15 menit. Selain itu, tersedia juga bus umum (berbayar) dan shelter bus (gratis). Akan tetapi, jadwal bus baik itu yang berbayar maupun yang gratis cukup terbatas. Khusus untuk shelter bus, anda bisa turun di pemberhentian terakhir (Museum Miraikan). Hal ini dikarenakan lokasi museum tepat berada diseberang asrama TIEC. Akan tetapi, waktu tempuhnya kurang lebih 15-20 menit juga karena anda akan diajak berkeliling Odaiba terlebih dahulu.
  • Tips menghadapi cuaca ekstrem. Kadang ada saatnya hujan lebat turun atau panas terik di musim panas yang cukup membuat galau untuk berjalan kaki menuju stasiun. Belum lagi, jadwal bus yang sudah ketinggalan. Paling gampang ya tinggal telepon taksi tapi sebagai mahasiswa terkadang pilihan itu semacam berat untuk dilakukan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah berjalan kaki kurang lebih 5 menit dari TIEC menuju mall terdekat (Diver City). Selanjutnya, saya melanjutkan jalan kaki menuju stasiun dari dalam mall karena pintu keluar mall ini langsung di depan stasiun Tokyo Teleport. Ide ini cukup sederhana tapi tidak banyak yang melakukannya.
  • Belanja di Oimachi Stasiun. Karena Odaiba terkenal sebagai daerah wisata, maka tidak banyak ditemui supermarket murah untuk kebutuhan sehari-hari terutama bagi mereka yang masak setiap harinya. Ditambah lagi suasana malam hari yang cukup sepi mengingat banyak pusat perbelanjaan yang sudah tutup di atas jam 10 malam. Untuk kebutuhan dapur sehari-hari, saya menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket (Ito Yokado) yang berada tepat didepan stasiun Oimachi.
  • Olahraga malam. Kegiatan penelitian di lab sering kali membuat saya harus pulang larut malam bahkan mendekati tengah malam. Permasalahannya adalah jadwal kereta terakhir untuk Rinkai Line jauh lebih cepat dibandingkan dengan Oimachi Line. Ditambah lagi dari Oimachi Line menuju Rinkai Line dibutuhkan waktu cukup lama (jalan kaki) karena Rinkai Line dari Oimachi menuju Tokyo Teleport menggunakan jalur bawah tanah. Kalau tidak salah harus turun sekitar 5 lantai. Tidak jarang saya harus berlari di menurunin setiap anak tangga demi mengejar kereta. Terdapat satu atau dua buah lift, tapi terkadang lama menunggu antrian atau banyak pengguna yang terkadang turun di lantai yang berbeda beda.
  • Memanfaatkan semua fasiitas. Salah satu yang membuat saya tertarik tinggal di TIEC adalah adanya Training Room. Tentu saja saya memanfaatkan fasilitas tersebut di malam hari selepas pulang penelitian. Training room ini cukup ramai di malam hari terutama di hari kerja. Selain itu, di TIEC banyak terdapat grup sesuai hobi masing-masing penghuni. Saya ikut bergabung dengan grup badminton. Selain bisa bermain badminton, bisa juga untuk menambah teman.

Kesimpulan dan Saran

Mempunyai kesempatan tinggal di pulau buatan ‘Odaiba’ saja sudah menjadi pengalaman tersendiri mengingat Odaiba adalah tempat yang sering saya kunjungi untuk sekedar melepas penat dari dunia penelitian.

Selain itu, tentunya harga sewa yang relatif murah untuk Gedung A dengan total biaya pengeluaran mulai dari tempat tinggal, utilitas dan commuter yang masih dalam jangkauan menjadi faktor penting dalam memutuskan untuk tinggal disini. Mengingat saat itu semua kebutuhan hidup selama di Jepang ditanggung oleh beasiswa MEXT.

Akan tetapi, bagi mereka yang berkeluarga dan ditopang oleh beasiswa MEXT mungkin akan cukup berat mengingat biaya sewa hampir setengah dari total beasiswa yang diterima. Hal inilah yang memutuskan saya untuk tidak melanjutkan tinggal di TIEC pada saat istri hendak ikut tinggal di Jepang.

Demikian sedikit berbagi pengalaman selama tinggal di asrama TIEC.

Referensi

https://www.jasso.go.jp/en/kyoten/tiec/residence/index.html

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang

Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris.

Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang mempunyai empat musim.

Akan tetapi, (mungkin) sama seperti kebanyakan orang, Bahasa Inggris adalah momok yang menakutkan bagi saya. Walaupun dari kecil sudah belajar di sekolah maupun bimbingan les, entah kenapa kemampuan bahasa inggris ini seperti tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Tapi hal ini tetap tidak mematahkan semangat saya untuk terus bermimpi dan berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti saya akan pergi keluar negeri untuk sekolah. Mimpi itulah yang selalu membuat saya tetap berusaha mempelajari bahasa inggris.

Kuliah 2006

Setelah dinyatakan lolos masuk ke Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum memulai perkuliahan di pertengahan bulan Agustus. Salah satu tahapannya adalah mengikuti tes TOEFL yang diadakan UGM sekitar bulan Juli awal. Apabila nilai TOEFL yang diperoleh pada saat tes lebih dari atau sama dengan 500, maka tidak perlu mengambil mata kuliah bahasa inggris (2 sks) dan langsung mendapat nilai A.

Tawaran yang sangat menarik, bukan??? Hemmm… bagi saya yang sudah sadar akan kemampuan bahasa inggris saya, seperti “mission impossible” untuk mencapai angka itu. Dan terbukti, pada saat hasil tes keluar, nilai yang saya peroleh jelas jauh dari angka 500. Alhasil, saya pun harus mengambil mata kuliah bahasa inggris di semester pertama.

Singkat cerita, sampailah kita di penghujung semester pertama. Dan  ternyata nilai ujian bahasa inggris saya dapat C. (Yap, tidak terlalu mengecewakan karena saya sadar diri akan kemampuan bahasa saya). Apakah saya ada berencana untuk mengulang agar nilainya menjadi bagus? Hemmm… tentu tidak. Saya merasa cukup dengan apa yang saya dapatkan.

Penghujung Kuliah 2009

Selama tiga tahun saya berkuliah di Teknik Nuklir, hampir semua buku teori tentang kenukliran maupun mata kuliah lainnya berbasis bahasa Inggris. Di sepanjang tiga tahun itulah terkadang saya menghabiskan malam hari dengan membaca buku-buku tersebut. Lancar??? Tentu tidak. Belum adanya google translate di handphone serta konektivitas internet yang masih mengandalkan Warung Internet, Warnet, membuat saya harus mencari arti kata yang sulit menggunakan kamus.

“Sekitar tahun 2006 – 2010, harga per jam di Warnet sekitar Rp. 3.000 – 4.000”

Hal-hal inilah yang menambah kosakata bahasa inggris saya khususnya untuk di dunia pernukliran.

2010

Semenjak tahun 2008, saya sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 terlebih dahulu daripada bekerja setelah lulus S1. Untuk memperoleh beasiswa ada dua syarat umum yang harus dilewati yaitu: Bahasa Inggris dan Nilai (IPK).

Sampai di akhir semester 7, saya tidak ada bermasalah dengan nilai minimum IPK yang dibutuhkan. Permasalahan saya masih tetap di nilai minimum TOEIC, TOEFL, IELTS, atau sejenisnyalah.

Strategi

Setiap orang pasti tahu akan kemampuan dirinya masing-masing dan saya juga paham akan kemampuan saya. Tahun 2010, saya memilih untuk fokus agar bisa menyelesaikan tugas akhir secepat mungkin, setelah itu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sambil mencari pasangan hidup (bisa dicek disini ceritanya: Mengejar Cinta (1): Janji).

Menurut info yang saya peroleh dari kakak kelas yang pada saat itu sedang kuliah S2 di Korea, akan ada pembukaan beasiswa di akhir September. Info ini saya peroleh di awal tahun 2010.

Singkat cerita, akhirnya saya menyelesaikan tugas akhir di bulan April 2010. Nilai IPK minimum sudah aman. Saatnya berfokus ke Bahasa Inggris.

Target:

  • Sekolah di negara maju dan mempunyai 4 musim.
  • Bidang keilmuan: Teknik Nuklir dengan spesifikasi lebih kearah Fisika Reaktor.

Dengan menetapkan target, maka saya lebih mudah membidik negara mana yang akan dituju. Negara- negara tersebut adalah: Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Korea dan Jepang.

Kemampuan diri:

  • Secara akademis masih di dalam katagori normal.
  • Secara kemampuan bahasa, masuk dalam katagori lemah menuju buruk.

Dengan kondisi ini, maka saya dapat memetakan bahwa Amerika dan Eropa belum saatnya dicoba pada saat itu.

Pada saat itu, saya mendengar info dari beberapa kakak kelas bahwa untuk Asia, seperti Korea dan Jepang, masih menerima nilai TOEIC. Mereka pun mengatakan bahwa tes TOEIC jauh lebih mudah daripada TOEFL maupun IELTS. Selain mudah(menurut mereka), biaya tesnya pun relatif murah sekitar Rp.500.000.

Percobaan – 1

Berbekal bimbingan bahasa inggris, maka saya pun mengambil tes TOEIC pada bulan Mei 2010. Saya harus ke Jakarta untuk mengambil ujiannya. Maka berangkatlah saya dari Jogja selepas wisuda S1.

Saya sengaja tidak belajar untuk mengukur kemampuan bahasa saya sejauh ini. Hasilnya: sangat jauh dari nilai minumum yang dibutuhkan untuk daftar S2. Sungguh sangat jauh. Saya mengibaratkan kalau seandainya saya tidak punya motivasi penuh untuk lanjut S2, maka saya akan lebih memilih mundur ketika melihat skor TOEIC saya.

“Bagi mereka TOEIC itu mudah, namun bagi saya tetap saja masih sulit.

Percobaan – 2

Sekitar bulan Juli 2010 sudah ada pengumuman untuk pendaftaran beasiswa S2 di Korea (detailnya bisa dibaca di bagian “Tentang Penulis“). Batas akhir pengumpulan dokumen sekitar tanggal 26 atau 27 September 2010.

Setelah mengetahui hasil percobaan-1, maka saya melakukan evaluasi diri. Salah satunya dengan mengikuti bimbingan TOEFL yang diadakan oleh salah satu Fakultas di UGM (lupa lagi namanya). Selain itu, saya juga mengikuti preperation test yang diadakan oleh berbagai macam bimbingan bahasa di Jogja. Ditambahkan lagi buku-buku soal atau apapun yang berhungan dengan TOEFL dan sebangsanya saya beli dari gramedia atau pasar buku di dekat Pasar Bringharjo.

Hasil dari semua persiapan itu sudah menunjukkan tanda-tanda positif. Beberapa kali mengikuti preparation test ditambah dengan mengerjakan soal-soal dari buku, saya memperoleh nilai diatas nilai minimum untuk melamar S2.

Ada rasa kepercayaan diri yang tumbuh tapi disatu sisi masih ada sedikit keraguan didalam diri. ‘Apakah saya mampu?

Percobaan kedua ini dilakukan pada awal September. Saya pun harus kembali lagi ke Jakarta demi tes ini. Kali ini, nilai yang diperoleh meningkat tajam tapi belum bisa memenuhi nilai minimum yang dibutuhkan.

Rasa kesal, semua bercampur aduk melihat hasilnya. Tapi satu yang pasti, saya masih ada waktu kurang dari 2 minggu untuk melakukan satu kali lagi tes sebelum batas akhir pendaftaran.

Percobaan – 3

Setelah kembali ke Jogja dan waktu yang dibutuhkan kurang dari 2 minggu, maka tidak ada kata lain selain belajar, belajar dan belajar. Hampir sepanjang hari saya berada di dalam kamar untuk mempelajari bahasa inggris ini.  

Sekitar tanggal 20 September saya memutuskan untuk mengambil tes TOEIC lagi. Di dalam hati, saya berkata “Kali ini saya sudah siap.”

Saya pun kembali ke Jakarta. Kali ini ada satu teman baik saya yang mau ikut menemani ke Jakarta (Kisah ini mungkin akan bersinggungan dengan cerita ‘How I met your mother‘). Ditambah di Jakarta sudah ada Nilla yang mau menemani kami selama di Jakarta. Hal-hal seperti nongkrong bareng teman ini terkadang bisa membantu melupakan sejenak ujian yang ada di depan mata.

Ujian TOEIC pun berlangsung selama 2 jam. Setelah ujian selesai, perlu menunggu hasil sekirar 1 atau 2  jam (lupa lagi). Selama proses menunggu itu, entah kenapa saya lebih tenang.

15:00 WIB

Hasilnya pun keluar. Nilai saya cukup untuk memenuhi syarat minimum pendaftaran S2 ke Korea. Bahagia??? Pasti. Malamnya kami langsung kembali ke Jogja untuk mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan.

Saya pun dengan lega bisa melamar beasiswa ke Korea.

Desember 2010

Pengumuman penerima beasiswa pun keluar. Hasilnya, saya masih belum lolos seleksi tersebut. Kecewa pasti ada mengingat perjalanan panjang untuk memperoleh skor TOEIC tersebut.

Tapi saya tidak patah semangat, bukannya gagal itu hal yang biasa dilalui? Setidaknya saat itu saya tahu bagaimana rasanya gagal.

Setidaknya nilai saya sudah memenuhi nilai standard minumum lah. Itulah yang memberanikan saya untuk mendaftarkan beasiswa ke Jepang.

Salah satu hal yang membuat saya percaya diri ketika mendaftar program IGP-A di Tokyo Institute of Technology adalah adanya proses tanya jawab melalui email dengan calon profesor pembimbing mengenai bidang keilmuan yang ditekuni sebelum memasukkan berkas administrasi untuk pendaftaran beasiswa.

(Silahkan baca: Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech)

Percobaan – 4

Dengan bekal nilai TOEIC tahun 2010, saya melamar beasiswa ke Jepang pada tahun 2011. Beruntungnya, calon profesor pembimbing mau menerima nilai TOEIC tersebut. Disisi lain, meminta saya secara pribadi untuk meningkatkan skor TOEIC.

Karena pada saat itu saya sedang bekerja di Kalimantan, saya pun harus mengambil ijin cuti ke Jakarta demi meningkatkan nilai TOIEC ini. Hasilnya, bukannya meningkat malah skornya turun 10 poin.

Yaudahlah, saya daftar pakai skor yang tahun 2010 aja. Beruntung sekali karena pada akhirnya saya bisa memperoleh beasiswa untuk lanjut kuliah untuk program Master dan Doktoral.

Percobaan – 5

Saya masih merasa punya utang janji dengan Profesor saya mengenai skor TOEIC. Disisi lain, saya memang merasa kalau skor minimum saja tidak baik untuk kedepannya terutama untuk syarat lulus doktoral.

Agustus 2013.

Setelah hampir satu tahun di Jepang sejak September 2012, saya pun pulang menghabiskan waktu libur musim panas di Indonesia. Tujuan utama saya adalah kembali mencoba tes TOEIC.

Saya pun singgah ke Jakarta untuk mengikuti tes TOEIC. Hasil ujian kali ini, saya memperoleh nilai yang cukup tinggi bahkan diluar ekspektasi saya. Skor maksimal bisa saya peroleh pada bagian listening.

Skor TOEIC terbaru ini saya berikan kepada pembimbing untuk database dan keperluan administrasi pada saat melanjutkan ke program doktoral.

Kesimpulan

Saya punya cita-cita sejak kecil untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, tetapi bahasa inggris merupakan “halangan” bagi saya. Ada dua pilihan yang harus dilakukan: berbelok meninggalkan “halangan” tersebut atau memilih maju menghadapinya.

Saya memilih untuk maju menghadapinya. Butuh pengorbanan tentunya, bagi saya uang dan waktu adalah harga yang harus dibayar demi hal itu.

Bagaimana meningkatkan kemampuan bahasa inggris (versi saya):

Ada beberapa hal yang saya lakukan selama satu tahun di Jepang:

  • Belajar sendiri dari internet dan buku terutama pada bagian grammar.
  • Menonton film hampir saya lakukan setiap hari sepulang kuliah. Film yang saya tonton biasanya drama serial. Film favorit saya waktu itu: The Walking Dead dan The Revolution.

Semoga bisa bermanfaat bagi mereka yang sedang berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.


Mau sekolah ke luar negeri? Pintar aja tidak cukup butuh mental yang kuat. -Irwan

Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi syarat mutlak untuk dapat mencukupi biaya hidup setiap bulannya. Berdasarkan pengalaman penulis, sekitar 95% dari uang beasiswa dipakai untuk memenuhi kebutuhan rutin. Pemasukan tambahan menjadi pilihan alternatif yang baik untuk lebih leluasa mengatur kondisi keuangan dalam rangka memperoleh dana darurat.

Kata kunci: beasiswa MEXT, keluarga, biaya hidup, mahasiswa doktoral.


Latar belakang

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan impian banyak orang tanpa mengenal batasan usia. Tidak hanya di dalam negeri saja tetapi melanjutkan sekolah hingga keluar negeri merupakan impian banyak orang dengan berbagai macam alasan dan motivasi. Jepang adalah salah satu negara tujuan para mahasiswa untuk melanjutkan sekolah hingga jenjang doktoral (S3). Banyaknya universitas untuk program beasiswa dan statusnya sebagai salah satu negara maju di dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mau melanjutkan pendidikannya.

Tokyo Institute of Technology atau yang lebih dikenal dengan Tokyo Tech (dalam bahasa Jepang Tokodai) merupakan salah satu universitas yang paling diincar oleh mahasiswa dari Indonesia. Hingga tahun 2017 kurang lebih tercatat sekitar 180 mahasiswa Indonesia aktif dari jenjang sarjana (S1), master (S2) hingga S3. Beasiswa MEXT menjadi salah satu beasiswa yang paling banyak diterima oleh mahasiswa Indonesia. Jumlah mahasiswa Indonesia di Tokyo Tech bisa dibilang meningkat cukup signifikan semenjak tahun 2014 disebabkan karena masuknya mahasiswa melalui beasiswa LPDP.

Penulis sendiri merupakan penerima beasiswa MEXT untuk program S2 dan S3 dari tahun 2012 – 2017. Pada tulisan sebelumnya1, penulis sudah menceritakan bagaimana mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk program S2. Jumlah beasiswa S3 yang diterima setiap bulannya adalah 148.000 yen atau lebih besar 1.000 yen dari beasiswa S2. Ditulisan sebelumnya, sudah disebutkan bahwa sekitar 70% dari uang beasiswa akan dipakai untuk kebutuhan rutin setiap bulannya. Dengan kondisi yang seperti ini ditambah dengan cukup banyaknya mahasiswa S3 yang sudah berkeluarga akan menjadi tantangan dalam mengelola keuangan.

Tujuan dari tulisan ini adalah membagikan pengalaman penulis dalam mengoptimalkan uang beasiswa pada saat sudah menikah dan membawa istri ke Jepang dalam memenuhi kebutuhan harian dan lainnya.

Methodologi

Setiap manusia mempunyai standar yang berbeda beda dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, tulisan ini didasari oleh pengalaman penulis dan istri yang hidup dari uang beasiswa selama di Jepang. Batasan yang dipakai pada tulisan ini bahwa semua biaya hidup harus menggunakan uang beasiswa tanpa mengambil uang tabungan yang ada di Indonesia. Lebih lanjut dibatasi oleh kondisi pada saat itu penulis dan istri belum mempunyai anak. Tentunya kondisi lajang, menikah (belum ada anak), dan menikah (sudah punya anak) akan sangat mempengaruhi tata kelola keuangan. Sebagai tambahan, selama istri di Jepang, penulis mempunyai pemasukan tambahan diluar beasiswa akan tetapi komponen itu tidak akan digunakan dalam pemenuhan kebutuhan pokok.

Analisa biaya hidup

  • Jadwal pemberian beasiswa MEXT 

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang rutin melakukan pengiriman uang ke rekening para mahasiswa setiap bulan. Pada umumnya uang beasiswa diberikan di minggu terakhir setiap bulannya (sekitar tanggal 23-26). Oleh karena itu, mahasiswa baru wajib membawa bekal uang pegangan selama satu bulan pertama sebelum beasiswa diterima.

Khususnya untuk mahasiswa Tokyo Tech, setiap penerima wajib mendatangi bagian International Student Support setiap bulan untuk menandatangi form beasiswa. Apabila mahasiswa tidak/lupa menandatangi beasiswa pada bulan itu maka beasiwa pada bulan itu akan hangus. Ada dua kali periode tanda tangan beasiswa. Sebagai contoh, untuk memperoleh beasiswa di bulan November (beasiswa diberikan tanggal 23 Nov), maka mahasiswa wajib tanda tangan dari tanggal 1-7 Nov. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada periode tersebut, maka mahasiswa masih diberikan kesempatan tanda tangan dari tgl 8-30 Nov dengan konsekuensi beasiswa bulan Nov akan diterima pada pertengahan bulan Desember. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada bulan itu, maka dipastikan mahasiswa tersebut tidak akan mendapat beasiswa di bulan itu. Hal ini merupakan kontrol dari pemberi beasiswa kepada para penerima beasiswa.

  • Kampus Tokyo Institute of Techology

Tokyo Tech mempunyai tiga lokasi kampus yang berbeda yaitu di Tokyo (Kampus Ookayama dan Tamachi) dan di Yokohama (Kampus Suzukakedai). Ookayama dan Suzukakedai adalah dua kampus utama Tokyo Tech. Lokasi kampus yang berada di dua wilayah yang berbeda ini memberikan pengaruh terhadap komponen biaya hidup terutama biaya sewa rumah.

Tokyo Tech tidak mempunyai asrama khusus untuk keluarga, akan tetapi terdapat asrama TIEC (Tokyo International Exchange Center) yang dikelola oleh JASSO (Japan Student Services Organization) yang berada di Odaiba. Yang mana asrama TIEC dihuni oleh mahasiswa Jepang dan Internasional dari berbagai universitas terutama yang ada di Tokyo. Harga sewa, akses dan biaya hidup di sekitar lokasi yang relatif mahal menjadikan TIEC tidak masuk dalam pilihan penulis. Berdasarkan hitungan penulis, sekitar 70% dari beasiswa habis terpakai untuk sewa rumah, listrik, gas, dan transportasi.

  • Pengeluaran rutin

Di tulisan sebelumnya sudah dijelaskan mengenai biaya hidup mahasiswa lajang yang sedang melanjutkan sekolah di Tokyo, khususnya Tokyo Tech. Pada tulisan ini, akan dijelaskan beberapa perbedaan kondisi yang dihadapi penulis pada saat tinggal sendiri dengan pada saat membawa istri. Beberapa pengeluaran rutin akan dijabarkan pada poin-poin berikut:

  • Lokasi dan harga sewa rumah (apato)

Berbeda dengan kondisi penulis yang sebelumnya dapat tinggal dekat kampus (area Tokyo), hal ini relatif sulit karena harga sewa apato yang relatif mahal. Oleh karena itu, penulis mencari rumah di daerah Kawasaki (wilayah Miyamae-ku dengan stasiun kereta terdekat adalah Saginuma Station).

Beberapa keuntungan tinggal di wilayah Miyamae-ku:

  • Harga sewa apato terjangkau dengan ukuran yang relatif luas.
  • Salah satu wilayah dengan jumlah penduduk Indonesia yang lumayan banyak (sekitar 70 keluarga yang didominasi oleh mahasiswa).
  • Jarak tempuh ke kedua kampus Tokyo Tech sekitar 30-40 menit karena lokasinya yang berada di antara Kampus Ookayama dan Kampus Suzukakedai.
  • Terdapat banyak supermarket murah yang menjadi idaman para istri.

Kekurangan tinggal didaerah Miyamae-ku:

  • Bentuk geografis Miyamae-ku yang berbukit bukit menjadi kendala untuk berjalan kaki.

Pada saat itu, penulis mendapat tawaran apato dari seorang teman Malaysia yang kebetulan akan pulang kenegaranya karena sudah selesai masa studinya. Keuntungan tambahan bagi penulis karena mendapatkan semua barang hibah (kulkas, meja makan, mesin cuci, TV, AC, dll) dari dia sehingga dapat menghilangkan biaya pembelian untuk barang-barang tersebut. Biaya sewa apato yang dikeluarkan penulis setiap bulannya adalah 55.000 yen dengan ukuran sekitar 39 m2. Sedangkan untuk biaya awal masuk apato sekitar 194.400 yen yang terdiri dari: uang deposit sebesar 55.000; uang sewa bulan pertama: 55.000 yen; uang agen: 55.000 dan uang asuransi kebakaran 15.000 yen dan pajak sebesar 8% dari total biaya. Harga ini relatif sangat murah apalagi uang deposit akan dikembalikan apabila kita pindah dari apato. Dengan demikian, sekitar 37% dari uang beasiswa digunakan untuk sewa apato.

“Pada umumnya rumah sewa hanya berisi AC dan lampu,” –Pengalaman Penulis-

  • Biaya listrik, air dan gas

Setelah dapat apato, maka kewajiban penghuni adalah membayar listrik, air, dan gas. Listrik dan gas rutin dibayar setiap bulannya sedangkan air dibayar per dua bulan. Biaya pembayaran air sudah termasuk dengan biaya pengelolaan air limbah. Rata-rata biaya air setiap dua bulan sekitar 5.000 – 6.000 yen atau sekitar 3.000 yen per bulannya. Demikian juga dengan biaya gas yang relatif stabil sepanjang tahun sekitar 3.000 – 4.000 setiap bulannya.

Sedangkan biaya listrik akan sangat bervariasi tergantung musim. Penyumbang terbesar dari biaya listrik adalah pemakaian AC (di Jepang AC bisa berfungsi sebagai pendingin di musim panas dan sebagai pemanas di musim dingin). Berdasarkan pengalaman penulis, April – Juni dan September – Oktober adalah kondisi dimana suhu udara sangat bersahabat sehingga tidak memerlukan pemakaian AC. Pada kondisi ini, biaya listrik sekitar 5.000 yen. Sedangkan pada musim gugur hingga musim dingin (November – Maret) pemakaian AC akan sangat naik secara signifikan dengan biaya listrik sekitar 15.000 yen per bulannya. Di musim panas sendiri (Juli – Agustus) akan terjadi kenaikan tetapi tidak signifikan karena pemakaian AC dapat diganti dengan kipas dan membuka jendela (kondisi udara Jepang yang relatif baik memungkinkan untuk menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari). Pada kondisi ini, biaya listrik sekitar 8.000 yen. Dengan mengetahui beberapa hal tersebut, maka rata-rata biaya listrik setiap bulannya sekitar 10.000 yen.

Dengan demikian, total biaya pengeluaran listrik, air dan gas setiap bulannya sekitar 20.000 yen atau 13,5% dari uang beasiswa.

Tips penghematan

  1. Penggunaan AC sebagai heater pada musim dingin lebih hemat dibandingkan dengan pemanas listrik karena jangkauan pemanas listrik tidak terlalu luas.
  2. Penggunaan heater gas sangat efektif karena sangat cepat menaikkan suhu ruangan akan tetapi tidak semua apato mempunyai saluran gas untuk pemasangan heater gas. Ini dapat menghemat karena durasi pemakaian yang relatif singkat tetapi dapat memberikan kehangatan yang maksimal.
  3. Penggunaan heater ‘kerosin’, paling hemat karena bahan bakunya yang berupa ‘kerosin’ dapat dibeli di SPBU dengan harga sekitar 140 yen/liter. Tetapi ada beberapa kekurangannya seperti: banyak apato yang tidak mengijinkan penggunaan heater kerosin dan mengeluarkan aroma yang sangat kuat didalam ruangan.
  • Biaya asuransi dan internet

Setiap orang yang tinggal di Jepang secara resmi akan mendapatkan residence card (KTP) dan asuransi kesehatan. Ada kewajiban untuk membayar biaya asuransi kesehatan nasional setiap bulannya yang mana besarnya disesuaikan dengan jumlah pendapatan. Pada dasarnya beasiswa tidak tergolong kedalam pendapatan, sehingga biaya asuransinya akan diikutkan kedalam katagori tidak berpendapatan. Hal ini menyebabkan biaya asuransi untuk penulis dan istri hanya sekitar 1.500 yen.

Selama penulis dan istrinya tinggal di Jepang, pocket wifi menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan internet. Biaya yang dikeluarkan sebesar 4.500 yen untuk pocket wifi ditambah dengan paket internet di handphone  sebesar 2.300 yen.  Dengan demikian sekitar 8.500 yen atau 5,7% dari uang beasiswa.

Catatan Penting:

Hal wajib yang harus dilakukan pertama kali ketika membawa keluarga tinggal di Jepang adalah MENGURUS Residence Card & ASURANSI KESEHATANPengurusan KTP dan Asuransi kesehatan akan berlangsung cepat dan biasanya langsung jadi dan langsung bisa dipakai. Asuransi kesehatan ini membantu proses pembayaran apabila sakit dan pergi berobat ke RS atau klinik karena hanya membayar 30% dari total biaya.

  •  Biaya makan dan kebutuhan harian

Salah satu kebutuhan utama lainnya adalah kebutuhan akan makanan dan minuman. Layaknya keluarga normal pada umumnya, masak di rumah akan menghemat biaya pengeluaran. Keuntungan utama dari memasak adalah meningkat secara signifikannya kemampuan istri dalam mengolah berbagai jenis masakan dan mempertajam naluri belanja seorang istri dalam mencari dan membandingkan harga bahan makanan yang murah.

Seperti yang disebutkan diatas bahwa lokasi apato bisa berpengaruh terhadap tempat belanja sehari hari. Di sekitar lokasi tinggal penulis, lumayan banyak supermarket murah dan terkadang memberikan harga spesial pada hari Minggu. Belanja kebutuhan sehari hari secara online lewat Amazon akan sangat membantu dalam mengurangi biaya transportasi karena untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya biasanya bebas ongkos kirim.

Selama tinggal dengan istri di Jepang, hampir setiap hari penulis membawa bekal makan siang (dalam Bahasa Jepang dikenal dengan istilah bento) ke kampus. Hal yang sangat wajar dilakukan di Jepang mulai dari SD sampai dengan bekerja di perusahaan masih banyak yang membawa bento. Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan untuk bagian  ini sekitar 40.000 yen atau sekitar 27% dari dana beasiswa.

Informasi:

  1. Harga ikan, daging ayam dan babi jauh lebih murah dibandingkan sapi.
  2. Harga sayur hijau lumayan mahal terutama pada musim dingin.
  3. Buah pisang adalah buah yang paling murah diantara semua buah meskipun hampir semua pisang tersebut impor dari negara lain.
  4. Harga beras ukuran 5kg mulai dari 1.600 yen.
  5. Pada umumnya harga yang tertera di label belum termasuk pajak sebesar 8%.
  6. Harga ikan akan di diskon hingga lebih dari 50% pada jam-jam tertentu (biasanya diatas jam 9 malam)
  7. Harga daging akan di diskon juga apabila mendekati tanggal kadaluarsa.
  8. Daging ayam dan sapi halal jauh lebih murah, mungkin karena kondisinya berupa daging beku.
  • Biaya transportasi

Biaya trasnportasi merupakan salah satu komponen rutin lainnya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Biaya commuter yang dikeluarkan penulis untuk pergi sehari-hari ke kampus sekitar 3.500 yen per bulan. Mengenai detail harga tiket commuter sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya1. Sedangkan biaya commuter istri untuk mengikuti berbagai kegiatan seperti belajar Bahasa Jepang dan Bible study sekitar 6.000 yen setiap bulannya. Diluar itu, biaya transportasi rutin lainnya adalah untuk pergi ke gereja setiap minggu sekitar 4.000 yen setiap bulannya. Total biaya yang dibutuhkan untuk transportasi sekitar 13.500 yen atau 9% dari uang beasiswa.

Informasi:

  1. Apabila penulis dan istri pergi ke suatu tempat yang berjarak hanya 1 stasiun kereta dari rumah, biasanya dilakukan dengan jalan kaki.
  2. Apabila sedang berpergian dan mau menuju ke tempat lain yang berjarak kurang dari 2 km biasanya dilakukan dengan jalan kaki.
  3. Kedua hal diatas berlaku disemua musim kecuali musim panas.
  • Pengeluaran lainnya

Berdasarkan informasi yang telah diuraikan mengenai pengeluaran rutin, maka sisa dari uang beasiswa tersebut akan digunakan untuk pengeluaran tidak rutin. Dapat dilihat bahwa total pengeluaran rutin sekitar 140.000 – 145.000 yen atau lebih dari 95% lebih dari dana beasiswa. Dengan kondisi ini, maka sisa uang tersebut digunakan untuk berberapa hal yang bersifat menghibur seperti jalan-jalan di Tokyo, Yokohama dan sekitarnya, dll.

Diskusi

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis sendiri dan tentunya setiap orang punya kondisi yang berbeda beda. Dari kondisi yang dijabarkan diatas, dapat digambarkan kalau beasiswa MEXT untuk mahasiswa S3 yang membawa keluarga bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari akan tetapi sangat sulit untuk menabung. Akan tetapi harus diketahui bahwa pengeluaran setiap bulannya sangat tergantung pada musim sehingga menabung pada musim yang pengeluaran rutin sedikit akan membantu nantinya pada musim yang membutuhkan biaya pengeluaran yang besar.

Berdasarkan pada situasi ini, penghasilan tambahan melalui kerja sambilan akan sangat membantu untuk menambah pemasukan terutama untuk menabung dan mempersiapkan dana darurat. Tentunya situasi ini sangat tergantung kepada kondisi masing-masing mahasiswa dalam mengatur waktu untuk penelitian, keluarga, dan kerja sambilan.

Kerja sambilan (part time)

Pada umumnya setiap mahasiswa dapat melakukan part time selama 28 jam per minggu berdasarkan aturan yang berlaku. Akan tetapi ada beberapa jenis beasiswa yang mensyaratkan setiap penerima beasiswa tidak boleh melakukan part time. Selain itu, ditulisan sebelumnya1 sudah disebutkan kalau ada beberapa pembimbing yang mempunyai projek penelitian dan terkadang mahasiswanya diikutsertakan dalam bagian itu dan mendapat bayaran atas partisipasi.

Penulis sendiri melakukan part time sebagai salah satu pengajar di lembaga bahasa. Biasanya jadwalnya dilakukan di malam hari (18.00 – 21.00) dan di akhir pekan kecuali hari Minggu sehingga tidak mengganggu jadwal penelitian. Pemasukan tambahan inilah yang sangat membantu untuk dapat memenuhi kebutuhan tidak rutin.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hampir 95% dari beasiswa MEXT akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari mahasiswa yang membawa istri ke Tokyo.

Informasi tambahan

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk membawa serta istri/keluarga:

  • Rencana keuangan yang matang (pemasukaan vs pengeluaran) berdasarkan standar hidup masing-masing.
  • Mencari informasi dari teman yang sedang mengambil kuliah di kota yang sama terutama.
  • Posisikan diri pada kondisi dimana pemasukan hanya berasal dari beasiswa.
  • Ceritakan gambaran kehidupan mulai dari pengeluaran rutin dll berdasarkan informasi yang diterima kepada keluarga, khususnya istri/suami.
  • Tenangkan pikiran dan berdoa kepada Tuhan.

Ceritakan setiap rencana dan kekhawatiran atas apa yang direncanakan kepada Tuhan. Langkah-langkah ini adalah berdasarkan pengalaman penulis dimana pada saat hendak membawa istri ke Jepang, penulis dalam kondisi tidak sedang mempunyai penghasilan tambahan hingga H-30 hari istri datang ke Jepang. Akan tetapi, sekitar H-14 hari ada informasi lowongan part time yang mana informasi itu diperoleh dari teman penulis. Dan setelah mengikuti rangkaian tes dan wawancara, akhirnya penulis diterima bekerja part time di tempat tersebut dan itu dimulai H+4 setelah istri tiba di Jepang.

Seperti pada tulisan sebelumnya2, manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri maka penulis juga menceritakan rencana dan situasi penulis ke teman penulis. Penulis selalu percaya bahwa Tuhan selalu bekerja dan bisa memakai siapa saja untuk menjawab doa setiap manusia. Dan untuk bagian ini, penulis percaya bahwa Tuhan menjawab doa penulis melalui teman penulis.

Inilah yang sering kita sebut dalam bahasa sehari hari dengan “rezekinya istri”.

Referensi

[1] Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa baru di Tokyo, LIAPTO BLOG – Berbagi Cerita Volume 1 (2018) 001-007.

[2] Peran aktif teman penulis dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech, LIAPTO BLOG – Berbagi Cerita Volume 1 (2018) 008-013.

Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri. Setiap manusia pasti punya teman, tidak peduli banyak atau sedikit jumlah. Tulisan ini adalah tentang mereka, para teman yang berperan aktif dalam membantu penulis dalam poses pendaftaran beasiswa program IGP-A di Tokyo Tech tahun 2011. Kondisi penulis yang pada saat itu bekerja di salah satu perusahaan batubara di pedalaman Kalimantan Timur membuat peran mereka  sangat signifikan dalam kelancaran proses pendaftaran. Tulisan ini didedikasikan sebagai ucapan terimakasih penulis kepada mereka yang telah membantu melancarkan penulis mewujudkan mimpi.

Kata kunci: manusia, teman, bantuan, pendaftaran, Tokyo Tech.


Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri. Pertemanan adalah salah satu ciri dari sifat sosial manusia. Demikian juga halnya dengan penulis, meskipun tidak banyak, tapi penulis juga manusia biasa yang mempunyai teman sejak kecil hingga saat ini. Sebagaimana layaknya pertemanan, maka tidak dipungkiri terkadang kita menceritakan impian, permasalahan, bahkan hal-hal gak penting lainnya kepada teman kita. Salah satu hal yang penulis bagikan kepada mereka adalah keinginan penulis untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana ke luar negeri. Tujuan dari tulisan ini adalah memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Begitu juga penulis yang membuktikan hal itu melalui peran dan bantuan para teman penulis dalam menggapai impian. Selain itu, tulisan ini juga untuk bentuk terimakasih penulis kepada mereka.

Batasan masalah

Tema dalam suatu tulisan adalah hal yang wajib  diberikan untuk menggambarkan isi dari tulisan tersebut. Selain itu perlu diberikan batasan permasalahan akan tetap fokus didalam tema dengan batasan-batasan yang diberikan. Begitu juga pada tulisan ini, penulis memberikan batasan mengenai peran aktif para teman mulai dari awal hingga akhir proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech. Oleh karena itu, peran aktif para teman penulis untuk topik yang tidak berkaitan dengan proses pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech tidak akan dibicarakan disini. Untuk peran keluarga dan kekasih penulis akan dituangkan pada tulisan yang lainnya sehingga tidak akan disinggung disini.

Proses pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech

Setelah menyelesaikan program sarjana (S1) di Teknik Nuklir UGM (Universitas Gadjah Mada) pada tahun 2010, penulis berkeinginan untuk melanjutkan studi program pasca sarjana (S2) di luar negeri dibandingkan untuk memulai karir di dunia kerja. Akan tetapi, beberapa kegagalan menghampiri penulis di beberapa kesempatan hingga akhir 2010. Di awal 2011, penulis memutuskan untuk mulai mencari kerja sambil terus memantau jadwal pendaftaran beasiswa ke luar negeri. Maret 2011, penulis memperoleh kesempatan bekerja di perusahaan batubara sebagai Logistics Supervisor dan ditempatkan di desa Muara Tae, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Meskipun berada di tengah hutan dengan segala keterbatasan tetapi tidak menghalangi semangat penulis untuk mncari cara menemukan semua informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan studi.

Peluang emas ketika bekerja di ‘emas hitam’

Mengoptimalkan peluang disetiap kesempatan yang ada merupakan salah satu cara menuju impian. Pada awal bulan Agustus 2011, penulis menemukan informasi di halaman Facebooknya tentang pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech dari beberapa teman Facebook. Mengetahui hal itu, maka penulis menghubungi pembimbing skripsinya dan sekaligus menanyakan apakah ada alumni yang sedang melanjutkan sekolah disana. Dari informasi itu, maka penulis memperoleh kontak alumni yang sedang berkuliah disana, Muhammad Kunta atau yang lebih akrab disapa dengan Pakde Kunta.

Pakde Kunta adalah alumni Teknik Nuklir UGM yang membantu penulis bagaimana cara dan strategi mendaftar dan berkomunikasi dengan calon pembimbing serta membantu memberikan masukan mengenai profesor yang akan menjadi calon pembimbing yang sesuai dengan tema riset yang penulis ajukan”

Dari informasi tersebut ada beberapa hal yang perlu diketahui bagi para calon mahasiswa yang mau melanjutkan studi di Jepang khususnya Tokyo Tech:

  1. Calon mahasiswa wajib mencari profesor yang mau membimbing anda nantinya.
  2. Setelah mendapatkan profesor pembimbing, selanjutnya adalah melakukan pendaftaran ke Tokyo Tech.
  3. Setelah dinyatakan di terima di Tokyo Tech, tahap terakhir adalah proses pendaftaran beasiswa MEXT.
  4. Setelah dinyatakan berhak menerima beasiswa MEXT, maka tinggal menunggu berkas dari Tokyo Tech untuk melengkapi proses pembuatan VISA untuk berangkat ke Jepang sebagai mahasiswa Tokyo Tech.

Dengan kondisi sebagai karyawan baru yang masih dalam masa training, hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk penulis. Menjadi pertanyaan pada saat itu bagaimana tetap bisa optimal di pekerjaan dan memanfaatkan waktu yang ada untuk menyelesaikan proses pendaftaran.

Tahap pertama – Mencari Profesor Pembimbing

Seperti yang disebutkan diatas bahwa langkah awal adalah mencari profesor yang mau menjadi pembimbing. Hal sederhana yang penulis lakukan adalah masuk ke website Tokyo Tech untuk mencari profesor di Nuclear Engineering Department1. Dari sini, dapat dilihat profil singkat dan email masing-masing profesor. Pada akhirnya penulis memutuskan untuk mencoba mendaftarkan ke Obara Laboratory di bawah bimbingan Prof. Toru Obara. Setiap profesor mempunyai cara tersendiri dalam menyeleksi calon mahasiswanya. Oleh karena itu tulisan ini berdasarkan pengalaman yang dialami langsung oleh penulis.

Berikut beberapa tahapan yang dilalui penulis untuk memperoleh profesor pembimbing:

  1. Perkenalan melalui email

Disini penulis memperkenalkan diri kepada calon profesor pembimbing secara singkat mengenai identitas diri, latar belakang pendidikan, dan alasan kenapa mau bergabung di bawah bimbingan beliau.

  1. Diskusi awal melalui email

Setelah beliau membaca latar belakang pendidikan, motivasi dan proposal penelitian penulis, maka beliau meminta untuk melampirkan rangkuman skripsi penulis. Diskusi mengenai skripsi dan beberapa hal mengenai bidang kenukliran khususnya tentang nuclear reactor physics berlangsung melalui email. Setelah berlangsung diskusi selama beberapa kali (kira-kira 2 bulan melalui email) maka beliau memutuskan untuk melalukan ujian dan wawancara langsung kepada penulis.

  1. Tes tulis dan wawancara di Bali

Jenis tes tulis dan wawancara ini sangat bergantung dengan masing-masing pembimbing. Karena pada saat itu akan diadakan International Conference, ICANSE 2011, di Bali dimana profesor yang mau membimbing penulis akan menghadiri acara tersebut, maka beliau memberitahu wawancara dan ujian tulis dari beliau akan diadakan di bulan November di Bali.

Nb: Ujian tulis yang dilaksanakan benar-benar mengenai bidang kenukliran dengan menggunakan contoh kasus dan memerlukan kalkulator untuk menyelesaikan perhitungan. Jangan berpikiran ujian tulis hanya sekedar menulis motivasi dsb.

Peluang emas dan Tantangan menuju Bali

Pada saat itu, penulis berkeyakinan bahwa ini adalah peluang emas untuk melanjutkan studi. Akan tetapi, kondisi penulis yang sedang bekerja dalam masa training menjadi tantangan tersendiri untuk memperoleh ijin cuti.

‘Bekerja di perusahaan tambang mempunyai sistem kerja yang unik. Pada saat itu sebagai karyawan dengan masa training maka mendapatkan sistem kerja 90 hari kerja dan 16 hari cuti’

Faktor X atau sering disebut keberuntungan sering sekali menjadi salah satu faktor yang tidak bisa diduga datangnya. Faktor ini jugalah yang menghampiri penulis pada saat itu. Berikut ini beberapa rekan kerja yang membantu penulis memperoleh ijin untuk wawancara di Bali:

  1. Dwi Adi P., supervisor logistics yang pada saat itu sedang menjadi Pjs Section Head dikarenakan Section Head sedang cuti. Dari awal bertemu di kantor, kita sudah sering bercerita tentang banyak hal tidak hanya tentang pekerjaan. Saya juga bercerita tentang keinginan untuk lanjut sekolah dan beliau memberikan tanggapan positif. Oleh karena itu, ketika kesempatan itu datang, penulis langsung berterus terang mau mengambil cuti untuk wawancara S2 di Bali.
  2. Juliana Pasaribu, supervisor human resource dept. Ibu ini adalah salah satu karyawan yang bekerja mengontrol cuti dan hal-hal admintrasi kepegawaian di lokasi site. Beliau inilah yang membantu mengurus surat cuti penulis. Pada awalnya beliau mempunyai kecurigaan terhadap penulis untuk pindah ke perusahaan sebelah karena pada masa itu lagi terjadi ‘transfer’ besar-besaran ke perusahaan tambang yang baru. Tetapi setelah memastikan beliau dengan menunjukkan email diskusi dengan calon profesor pembimbing, maka beliau yakin kalau penulis mau melanjutkan sekolah. Beliau ini adalah tipikal orang yang tidak menghalangi seseorang yang ingin melanjutkan pendidikan. (Beliau ini pada akhirnya keluar dari perusahaan untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi dosen di salah satu universitas).

Bantuan dari mereka inilah yang memudahkan penulis untuk mendapatkan ijin cuti dengan baik tanpa harus berbohong dalam menuliskan alasan cuti.

Tantangan lainnya adalah mencari penginapan dan memaksimalkan waktu selama di Bali. Berikut ini adalah teman-teman yang membantu selama proses menuju dan selama di Bali:

  1. Rio Octovinary P, merupakan teman seangkatan penulis dan juga saudara kelompok tumbuh bersama (KTB) di persekutuan mahasiswa kristiani teknik UGM (PMKT). Dia adalah salah satu yang penulis hubungi untuk memberitahukan bahwa penulis akan pergi wawancara ke Bali. Dari dialah penulis mendapatkan info mengenai kakak angkatan yang sedang bekerja di Bali. Sehingga setidaknya bisa membantu penulis selama di Bali.
  2. Elywn, abang ini adalah salah satu kakak kelas di Fakultas Teknik UGM. Penulis sama sekali belum kenal dengan abang ini. Rio lah yang memberitahukan informasi mengenai abang ini. Setelah berkomunikasi dengan abang ini, penulis ditawarin untuk tinggal di rumahnya selama di Bali.
  3. Anggi dan Regina, mereka adalah teman sekantor bang Elywn. Penulis sama sekali belum kenal dengan Anggi sedangkan Regina adalah teman sekelas penulis di SMA. H-1 sebelum keberangkatan ke Bali, bang Elywn memberitahukan bahwa dia ada dinas ke luar kota sehingga tidak bisa menemani selama di Bali tetapi dia menitipkan kunci rumah dan kendaraan ke Anggi sehingga penulis tetap bisa tinggal di rumah bang Elywn. Pada hari H keberangkatan, penulis meng-update status di Facebook mengenai rencana ke Bali dan kebetulan di ­comment oleh Regina. Singkat cerita, akhirnya penulis akhirnya mempunyai teman yang membantu penulis selama di Bali terutama mencari lokasi wawancara.
  4. Rani, kakak kelas penulis di Fakultas Teknik UGM. Informasi tentang Kak Rani yang sedang bekerja di Bali pada saat itu juga diketahui penulis dari Rio. Ditengah kesibukanya kerja, Kak Rani masih sempat memberikan waktu untuk menemani bercengkrama, bergereja, dan menunjukkan tempat oleh-oleh serta memberikan dukungan doa ke penulis supaya bisa melewati wawancara dengan lancar.

Bantuan dan dukungan mereka inilah yang memperlancar semua proses selama di Bali. Terkadang bantuan sekecil apapun yang kita berikan bisa menjadi sangat berarti untuk orang lain. Waktu yang mereka berikan untuk sekedar bercengkrama ditengah aktifitas dan kesibukan mereka sangat membantu penulis untuk melepas sejenak ketegangan memikirkan wawancara yang akan dihadapi.

Tahap kedua – Pengiriman Dokumen Pendaftaran

Sekitar seminggu setelah proses wawancara di Bali, penulis memperoleh email bahwa Prof. Toru Obara bersedia menjadi pembimbing penulis. Tahap selanjutnya adalah melengkapi berkas dan mengirimkannya ke Tokyo Tech melalui mail bukan email. Berdasarkan diskusi dengan pembimbing, berkas pendaftaran ke kampus dan beasiswa dikirim sekaligus supaya lebih efisien. Profesor yang membimbing penulis sangat membantu pengecekan kelengkapan dokumen. Dilain sisi, penulis punya waktu kurang dari sebulan untuk mengirimkan semua kelengkapan berkas yang dibutuhkan.

 Hambatan dan bantuan dalam proses pengiriman dokumen

Bagi mereka yang sedang tinggal di kota besar maka jangka waktu sebulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengumpulkan berkas dan mengirimkannya melalui jasa pengiriman seperti kantor pos, TIKI, JNE, dll. Tetapi bagi penulis, waktu sebulan adalah waktu yang singkat karena keterbatasan akses dan sedang berada di lokasi pertambangan.

Berikut bantuan para teman penulis dalam proses pengiriman dokumen:

  1. Andi Sumbayak, teman persekutuan di kampus yang hampir selalu membantu penulis selama tinggal di Jogja bahkan hingga saat ini. Proses legalisir transkrip dan ijazah dalam Bahasa Inggris yang harus dilakukan di kampus adalah bantuan yang diberikannya karena kesulitan penulis untuk melakukannya sendiri.
  2. Sandro Hutasoit, teman satu jurusan penulis dan juga teman nongkrong di Jogja selama kuliah yang membantu penulis untuk mengambil surat rekomendasi dari dosen pembimbing penulis.
  3. Ratna Wulandari, teman bimbingan bahasa Inggris di Jogja. Pada saat itu, dia sedang bekerja di salah satu bank swasta dan ditempatkan di Balikpapan. Karena kesulitan untuk mengirimkan berkas dari Jogja ke tempat penulis bekerja maka alamat kantor Ratna yang akhirnya digunakan penulis untuk menampung berkas yang dari Jogja (legalisir transkrip, ijasah, dan surat rekomendasi).

‘Di pertambangan tidak mengenal libur akhir pekan tetapi 14 hari kerja dan 1 hari libur. Sehingga semasa 90 hari kerja di site, penulis memperoleh jatah libur kira-kira 6 kali’

Dengan kondisi ini, penulis berusaha menyesuaikan jadwal pengiriman dokumen dari Jogja sehingga bisa sampai di Balikpapan sebelum hari libur penulis. Dengan demikian penulis punya waktu yang cukup untuk datang ke Balikpapan kemudian mengirim dokumen dan kembali ke lokasi pekerjaan. Sebagai informasi, jarak tempuh dari site Muara Tae ke Balikpapan sekitar 8 jam untuk sekali perjalanan. Pengiriman dokumen berjalan dengan lancar berkat bantuan dari teman penulis. Sekali lagi, sekecil apapun bantuan itu sangatlah berguna bagi mereka yang membutuhkannya.

Tahap ketiga – Pengumuman

Setelah melalui proses yang begitu panjang, akhirnya kabar baik itu muncul juga. Dimana di awal Februari 2012 penulis diterima sebagai mahasiswa di Tokyo Tech untuk program IGP A (International Graduate Program A)2. Kemudian di bulan Juni 2012 penulis memperoleh informasi bahwa penulis berhasil menerima beasiswa MEXT untuk melanjutkan sekolah di Tokyo Tech untuk program IGP A. Dengan demikian penulis akan memulai sebagai mahasiswa di Tokyo Tech pada tahun ajaran Oktober 2012.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang sangat bergantung dengan sesamanya dalam berbagai hal. Disini penulis menunjukkan bahwa penulis juga sangat terbantu dalam proses pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech melalui peran aktif para teman-teman penulis. Tanpa bantuan mereka, akan terasa sulit jalan yang harus dilalui untuk menyelesaikan semua proses pendaftaran tersebut. Dapat dilihat bahwa sekecil apapun bantuan dan peran kita terkadang memberikan dampak yang luar biasa terhadap orang yang menerima bantuan tersebut.

Terima kasih yang sebesarnya untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk dalam membantu penulis menggapai mimpinya.

INFO PENTING

Pendaftaran program IGP A di Tokyo Institute of Technology untuk Tahun Ajaran OKTOBER 2019 akan dibuka di SEPTEMBER 20182

 

Referensi

[1]https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/faculty/ne.html

[2]https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/international/graduate_program_a/

 

 

 

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai beasiswa sebesar 147.000 yen per bulan untuk mahasiswa program master dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup para mahasiswa di Tokyo. Berdasarkan pengalaman penulis, sekitar 70% dari total beasiswa habis terpakai untuk memenuhi kebutuhan rutin setiap bulannya.

Kata kunci: beasiswa MEXT, Tokyo Tech, optimasi, biaya hidup, mahasiswa.


Latar belakang

Melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di negara maju merupakan impian banyak pelajar. Salah satu faktor yang menjadi penentu seseorang melanjutkan pendidikan terutama untuk program master dan doctor adalah beasiswa. Hal ini disebabkan karena biaya pendidikan dan biaya hidup yang berbeda beda ditiap negara. Jepang sebagai salah satu negara maju di dunia menjadi daya tarik banyak mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan sekolah terutama dibidang teknologi. Tokyo yang merupakan ibukota negara Jepang, mempunyai banyak universitas ternama yang menjadikan kota ini magnet untuk para pelajar di Indonesia. Sebut saja Tokyo Institute of Technology atau yang lebih dikenal dengan Tokyo Tech (dalam bahasa Jepang Tokodai) mempunyai jumlah mahasiswa Indonesia sekitar 180 orang pada tahun 2017. Hampir sebagian besar mahasiswa Indonesia tersebut memperoleh beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, pemerintah Jepang, maupun dari perusahaan. Penulis sendiri memperoleh beasiswa dari kementerian pendidikan Jepang (beasiswa MEXT).

Disisi lain, Tokyo merupakan salah satu kota dengan tingkat biaya hidup yang sangat mahal. Sehingga menjadi pertanyaan, apakah beasiswa yang diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup normal para mahasiswa. Penulis akan berbagi pengalaman tentang berapa jumlah beasiswa dan bagaimana mengatur agar uang beasiswa yang diberikan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Penulis merupakan alumni dari Tokyo Tech. Untuk program master, MEXT akan memberikan beasiswa sebesar 147.000 yen per bulan dan bebas biaya kuliah selama 2 tahun.

Tujuan dari tulisan ini untuk membuktikan bahwa jumlah beasiswa tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup normal di Tokyo selama sebulan.

Methodologi

Tulisan ini pada dasarnya dibuat berdasarkan pengalaman nyata penulis yang menjalani hidup dengan normal selama 2 tahun (2012-2014) menjalani kehidupan sebagai mahasiswa master di Tokyo Tech. Walaupun pengalaman yang dibagikan sudah sekitar 5 tahun yang lalu, namun masih sangat relevan mengingat jumlah beasiswa yang diterima sampai tahun 2018 masih pada nominal yang sama dengan tingkat biaya hidup selama 5 tahun terakhir yang relatif stabil.

Pada umumnya, banyak mahasiswa yang selama berkuliah mendapat tambahan pemasukan mulai dari proyek lab, menjadi asisten, bahkan kerja sambilan di luar kampus. Oleh karena itu, tulisan ini hanya membatasi pada jumlah beasiswa yang diterima dan hanya untuk mahasiswa yang berstatus lajang ataupun berkeluarga tetapi tidak membawa serta keluarganya. Tidak ada metodologi khusus yang dibagikan, hanya berdasarkan pengalaman penulis yang sudah hidup mandiri sejak SMA.

Analisa biaya hidup

  • Jadwal pemberian beasiswa MEXT

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang rutin melakukan pengiriman uang ke rekening para mahasiswa setiap bulan. Pada umumnya uang beasiswa diberikan di minggu terakhir setiap bulannya (sekitar tanggal 23-26). Oleh karena itu, mahasiswa baru wajib membawa bekal uang pegangan selama satu bulan pertama sebelum beasiswa diterima.

Khususnya untuk mahasiswa Tokyo Tech, setiap penerima wajib mendatangi bagian International Student Support setiap bulan untuk menandatangi form beasiswa. Apabila mahasiswa tidak/lupa menandatangi beasiswa pada bulan itu maka beasiwa pada bulan itu akan hangus. Ada dua kali periode tanda tangan beasiswa. Sebagai contoh, untuk memperoleh beasiswa di bulan November (beasiswa diberikan tanggal 23 Nov), maka mahasiswa wajib tanda tangan dari tanggal 1-7 Nov. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada periode tersebut, maka mahasiswa masih diberikan kesempatan tanda tangan dari tgl 8-30 Nov dengan konsekuensi beasiswa bulan Nov akan diterima pada pertengahan bulan Desember. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada bulan itu, maka dipastikan mahasiswa tersebut tidak akan mendapat beasiswa di bulan itu. Hal ini merupakan kontrol dari pemberi beasiswa kepada para penerima beasiswa.

  • Kampus Tokyo Institute of Techology

Tokyo Tech mempunyai tiga lokasi kampus yang berbeda yaitu di Tokyo (Kampus Ookayama dan Tamachi) dan di Yokohama (Kampus Suzukakedai). Ookayama dan Suzukakedai adalah dua kampus utama Tokyo Tech. Lokasi kampus yang berada di dua wilayah yang berbeda ini memberikan pengaruh terhadap komponen biaya hidup terutama biaya sewa rumah.

  • Biaya hidup mahasiwa master tahun pertama

Pada umumnya, mahasiwa baru yang masih berstatus lajang atau yang sudah menikah tapi tidak membawa keluarga berkesempatan untuk tinggal di asrama kampus. Khusus untuk mahasiswa Tokyo Tech, terdapat beberapa asrama untuk mahasiswa (asrama pria, asrama perempuan, dan asrama campuran). Lokasi asrama sangat tersebar mulai dari yang dekat kampus sampai yang membutuhkan waktu sekitar 40-50 menit ke kampus. Pihak universitas pada umumnya akan memberitahukan asrama yang diperoleh sebelum berangkat ke Jepang. Tabel 1 menunjukan daftar beberapa asrama Tokyo Tech untuk mahasiswa baru beserta estimasi biaya masing-masing asrama.

 Tabel 1. Daftar asrama beserta biaya sewa untuk mahasiswa baru Tokyo Tech1

Nama asrama Biaya sewa (¥) Luas (m2)
Komaba International House 34.900 15
Shofu Dormitory 20.900 13
Umegaoka Dormitory 20.900 13

Salah satu komponen paling mahal tinggal di Tokyo adalah biaya sewa rumah atau kos-kosan (dijepang biasa disebut apato). Sebagai gambaran, biaya apato disekitar kampus Ookayama untuk ukuran 1K atau studio berkisar 40.000-60.000 yen per bulan tergantung dengan kondisi bangunan. Dapat dilihat bahwa perbedaan harga sewa apato dan beberapa asrama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap biaya pengeluaran. Selain biaya sewa asrama, komponen pengeluaran rutin lainnya adalah gas, listrik dan air. Untuk yang tinggal di asrama khususnya Shofu dan Umegaoka harga yang dikeluarkan sekitar 3.000 – 5.000 yen per bulan. Pada umumnya, musim panas dan musim dingin memberikan kontribusi signifikan terdapat biaya tersebut.

Daftar asrama yang tertera di Tabel 1 tidak ada yang berlokasi dekat dengan kampus Tokyo Tech manapun. Oleh karena itu, perlu tambahan biaya transportasi setiap hari. Moda transportasi di Tokyo dan Yokohama pada umumnya adalah kereta. Beruntungnya, setiap anak sekolah dan mahasiswa berhak memperoleh potongan harga tiket yang cukup signifikan. Sebagai gambaran, harga normal tiket commuter satu bulan dari Shofu ke kampus Ookayama sekitar 9.250 yen. Tetapi, dengan potongan mahasiswa bisa menjadi sekitar 3.500 – 4.500 yen (harga pastinya bisa dicek langsung ke petugas stasiun). Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan rumah dan transportasi sekitar 30.000 yen (sekitar 20% dari uang beasiswa) untuk mereka yang mendapatkan asrama di Shofu dan Umegaoka. (Lokasi Shofu dan Umegaoka lumayan berdekatan, sehingga biaya transportasi hampir sama). Akan tetapi, biaya ini akan meningkat apabila tinggal diluar dari kedua asrama tersebut. Penulis sendiri tinggal di asrama Shofu.

Selain biaya apato dan transportasi, pengeluaran wajib lainnnya adalah konsumsi atau biaya makan sehari hari. Penilaian akan biaya makan akan bersifat subjektif karena perbedaan selera, kebiasaan makan seseorang, dan faktor agama (halal dan non halal). Untuk bagian ini, penjabaran akan dituliskan berdasarkan pengalaman sehari hari penulis.

Biaya sarapan yang dikeluarkan per hari berkisar 100 – 150 yen yang digunakan untuk membeli roti. Hal ini disebabkan karena penulis lebih suka memakan roti untuk sarapan. Banyaknya convenience store (dalam bahasa jepang konbini) seperti seven eleven, family mart, Lawson, sangat memudahkan dan membantu mahasiswa untuk menemukan sarapan yang enak dan sehat.

Selama berkuliah di Tokyo Tech, penulis hampir 90% menghabiskan makan siang di kantin kampus. Dengan pilhan menu yang bervariasi, kantin kampus merupakan tempat yang menarik untuk makan siang, tentunya didukung dengan harga yang murah. Biaya yang dihabiskan untuk sekali makan di kantin sekitar 400 – 600 yen. Selain kantin kampus, konbini  dan supermarket yang berada di dekat kampus menyediakan lunch box (dalam bahasa jepang bento) dengan menu yang bervariasi dan harga sekitar 500 – 600 yen.

Salah satu hal menarik yang perlu diperhatikan selama kuliah di Tokyo Tech adalah banyaknya mahasiswa yang pulang larut malam karena berbagai aktifitas terutama seputar penelitian. Oleh karena itu, makan malam biasanya dilakukan juga di kantin kampus atau membeli bento dari supermarket. Untuk pembelian bento di supermarket pada jam-jam tertentu khususnya diatas jam 7 malam, biasanya harganya sudah dipotong hingga 50%. Dengan penjabaran ini, maka biaya makan sehari hari yang dibutuhkan sekitar 1.000 – 1.300 yen per hari atau sekitar 30.000 – 40.000 per bulan atau sekitar 27-29% dari uang beasiswa.

Melalui gambaran diatas maka daapat dilihat sekitar 50% dari beasiswa sudah dipakai untuk memenuhi kebutuhan dasar tiap bulannya. Hal ini tentunya belum termasuk dengan aktifitas lainnya seperti jalan-jalan, belanja pakaian (jaket musim gugur, musim dingin), hangout, lab trip, dll. Untuk hal ini, penulis biasanya memberikan maksimal 15% (bukan berarti harus dihabiskan 15% setiap bulan, tetapi tergantung kebutuhan).

  • Biaya hidup mahasiwa master tahun kedua

Salah satu hal yang menarik sebagai mahasiswa khususnya di Tokyo Tech adalah pemberian batas tinggal maksimal satu tahun di asrama. Oleh karena itu, mahasiswa wajib melapor satu bulan sebelum keluar asrama dan mulai mencari apato. Mencari apato di Tokyo merupakan suatu seni tersendiri dan membutuhkan waktu. Pada umumnya mencari apato dapat dilakukan melalui internet dengan membuka situs seperti, suumo, homes, century123, able, dll. Cara kedua adalah dengan mendatangi secara langsung kantor agen penyedia apato.

Banyaknya pilihan seperti lokasi, harga, luas kamar, dan jarak tempuh dalam mencari apato menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa. Pengalaman penulis sendiri berdasarkan kondisi bahwa tahun kedua sebagai mahasiswa master adalah tahun yang penuh dengan penelitian dan tugas kuliah. Hal ini menjadi pertimbangan utama untuk mencari lokasi apato yang dekat dengan kampus dan bisa diakses dengan berjalan kaki atau bersepeda. Dengan kondisi ini, harga sewa apato yang lebih mahal menjadi konsekuensi yang harus diterima. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka mencari teman untuk sewa apato bersama menjadi salah satu opsi untuk melakukan penghematan.

Di tahun kedua ini, penulis dan seorang temannya menyewa apato yang berlokasi dekat kampus dan hanya membutuhkan waktu 15 menit jalan kaki menuju kampus. Biaya sewa per bulannya adalah 75.000 yen (2 kamar, dapur, toilet, kamar mandi dengan luas 33m2), akan tetapi di awal kontrak sewa apato dibutuhkan total biaya sebesar 300.000 yen yang terdiri dari: uang deposit, uang kunci, uang terimakasih untuk agen, dan uang jaminan yang masing-masing sejumlah 1x biaya sewa apato. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena pada umumnya setiap melakukan pindahan akan dikenakan sejumlah biaya diawal berkisar 3-5 kali uang sewa. Biaya yang besar ini cukup menguras keuangan diawal tahun kedua, oleh karena ini kenikmatan yang diperoleh semasa tinggal di asrama sangat membantu untuk mengatasi hal ini. Biaya sewa apato dan biaya listik, air, dan gas yang dikeluarkan masing-masing  35.000 yen dan 10.000 yen atau sekitar 30% dari uang beasiswa.

Selanjutnya, dengan tinggal di dekat kampus maka biaya transportasi ke kampus bisa dihilangkan. Untuk biaya kebutuhan makan sehari hari kurang lebih hampir sama dengan di tahun pertama sekitar 30%. Demikian juga untuk biaya lain-lain, penulis memberikan batasan sekitar 15% setiap bulannya. Total biaya yang dikeluarkan setiap bulannya adalah sekitar 70-75% dari uang beasiswa.

  • Pengoptimalan uang beasiswa

Pada sub bab sebelumnya, telah dijabarkan berbagai pengeluaran rutin dan tidak tidak rutin setiap bulannya. Pengoptimalan uang beasiswa dapat dilakukan pada bagian yang tidak rutin, seperti biaya hiburan dan rekreasi. Sebagai contoh, memanfaatkan ‘one day pass ticket’ untuk keliling kota Tokyo di akhir pekan akan sangat menghemat ongkos kereta. Rekreasi singkat menikmati alam sambil melepas penat setelah berhari hari bekerja menyelesaikan penelitian dapat dilakukan ditaman – taman dengan menikmati sebotol teh dan sebungkus roti tanpa harus pergi ke kafe yang pastinya akan menguras lebih dalam biaya tak terduga.

Untuk yang hobi fashion, awal musim panas adalah bagaikan surga karena hampir semua toko membuat potongan besar-besaran. Selain itu membeli pakaian menjelang pergantian musim adalah salah satu trik untuk mendapatkan harga yang terjangkau. Selain itu belanja online untuk membeli kebutuhan rutin bisa menjadi pilihan karena pada kondisi tertentu harga di toko online seperti amazon, rakuten, wish, aliexpress, dll bisa jauh lebih murah serta terkadang bebas ongkos kirim. Hal ini tentunya dapat menghemat pengeluaran ongkos kereta.

Museum adalah salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi dan beberapa museum memberikan tiket masuk gratis untuk mahasiswa dari beberapa universitas ternama. Mengunjungi museum dengan menggunakan ‘one day pass ticket’ memberikan bonus ganda karena bisa menghemat pengeluaran. Dengan kondisi ini, berdasarkan pengalaman penulis bahwa pengeluaran tidak rutin ini bisa ditekan sebesar 2-3%.

Hasil dan pembahasan

Biaya rutin yang dikeluarkan oleh penulis pada tahun pertama mengalami peningkatan di tahun kedua. Total biaya rutin yang dibutuhkan pada tahun pertama sekitar 50% dari total beasiswa. Nilai ini akan mengalami peningkatan di tahun kedua menjadi sekitar 60% dari total beasiswa. Peningkatan sebesar 10% ini tidak terlalu signifikan disebabkan pada tahun ke-dua penulis tinggal di apato dengan teman sehingga biaya sewanya dibagi dua dan lokasi apato yang dekat dengan kampus mengeliminasi biaya transportasi rutin. Sedangkan untuk biaya lain-lain sebesar 15% dari total beasiswa dapat diturunkan sekitar 2-3%. Dengan demikian rata-rata pengeluaran penulis selama 2 tahun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa program master di Tokyo sekitar 60 – 70% dari total beasiswa.

Kesimpulan

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memiliki banyak peminat. Disisi lain jumlah beasiswa yang relatif sedikit dibandingkan beberapa beasiswa lain menjadi kekhawatiran tersendiri apakah jumlah tersebut bisa mencukupi kebutuhan hidup normal di Tokyo. Berdasarkan pengalaman penulis dapat disimpulkan bahwa jumlah beasiswa tersebut masih aman dengan total pengeluaran rutin mencapai sekitar 70% dari uang beasiswa.

Tentunya setiap mahasiswa mempunyai pertimbangan dan kebutuhan yang berbeda, akan tetapi semua yang ditulis disini merupakan data yang diperoleh berdasarkan pengalaman penulis menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Tokyo.

Referensi

[1] https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/support/dormitories/