Terbang bersama Henokh: Tokyo-Jogja

Musim Panas 2019

Liburan musim panas ini, kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Tantangan utamanya adalah membawa Henokh yang masih berusia sekitar 4 bulan.

Bukan perkara mudah apalagi tidak ada pesawat langsung dari Tokyo menuju ke Jogja.

Mencari maskapai penerbangan

Beberapa kriteria kami ketika mencari maskapai penerbangan:

  • Pesawat malam. Asumsi kami, Henokh nantinya bisa tidur di pesawat.
  • Waktu transit yang tidak terlalu cepat atau lama. Estimasi kami sekitar 3 jam cukup untuk beristirahat, mengganti popok, makan, dll.
  • Harga yang masuk akal. Murah dan mahal itu sangatlah relatif.

Hasilnya jatuh pada maskapai Air Asia dengan rute Haneda-Kuala Lumpur-Yogyakarta. Disini kami menggunakan tambahan paket Premium Flex.

Alasan kami menggunakan Premium Flex: supaya bisa memilih tempat duduk khususnya yang ada bassinet untuk bayi dan memperoleh akses Lounge di bandara KLIA2. Lumayanlah untuk Henokh bisa rebahan setelah perjalanan panjang.

Hari Keberangkatan

Desa Tokai – Bandara Haneda

Ada tiga pilihan menggunakan transportasi umum dari Tokai menuju Bandara (Baik Haneda maupun Narita).

  1. Bus Airport Limousine. Harga Tiket sekitar 4.000 yen. Sebagai Desa Nuklir, tentunya banyak orang asing dari berbagai negara berkunjung kesini. Oleh karena, disediakan bus langsung dari dan ke bandara. Jadwal bus dari Tokai ke Bandara Haneda hanya tersedia di pagi hari mulai dari pukul 3:19 JST hingga 8:36 JST.

    Baca juga: Sabtu Ceria di Desa Nuklir


  2. Kereta Hitachi Express. Harga Tiket sekitar 4.000 yen. Akan tetapi, kereta ini tidak langsung menuju bandara Haneda. Perlu transit untuk mengganti kereta di Stasiun Shinagawa.
  3. Kereta Joban Line (Lokal). Harga Tiket sekitar 2.800 yen.

Bus dan kereta lokal membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 – 3.5 jam, sedangkan kereta Hitachi express memakan waktu sekitar 2.5 jam.

Rencana Awal

Rencana awalnya adalah berangkat menggunakan bus pukul 8:36 JST. Kemudian menunggu kurang lebih 10 jam di bandara. Tidak ada rencana berwisata ke sekitar Tokyo mengingat Henokh masih kecil dan takutnya kelelahan di perjalanan.

Tapi rencana berubah dan kami memilih menggunakan Hitachi Express. Berangkat pukul 4:40 JST dari Stasiun Tokai.

“Stasiun Tokai (4:40) — Stasiun Shinagawa (6:23) — Bandara Haneda (6:51)”

Pertimbangannya tentu agar Henokh tidak terlalu lama menuggu di bandara.

Salah prediksi

Secara waktu tentunya naik kereta express akan mempersingkat waktu. TAPI ADA YANG TIDAK KAMI PERHITUNGKAN.

Kereta Hitachi express didesain untuk perjalanan antar kota terutama bagi mereka yang melakukan perjalanan bisnis atau mereka yang traveling dengan barang bawaan yang sedikit.

“Tidak ada tempat (kabin) untuk koper ukuran besar. Hanya ada kabin yang bisa menampung koper kecil atau tas punggung.”

Alhasil, kami sempit-sempitan menjejerkan dua buah koper di sela-sela kursi.

IMG_8824
Suasana di dalam kereta Hitachi Express.

Setibanya di Stasiun Shinagawa, kami hanya ada waktu 10 menit untuk ganti kereta. Tentu waktunya tidak cukup dengan kondisi kami membawa bayi dan 2 koper besar.

Karena kami sudah cukup familiar dengan stasiun ini, maka kami sedikit santai dan menunggu kereta berikutnya. Waktu tunggu inilah kami manfaatkan untuk mengganti popok Henokh.

“Kelebihan negara Jepang, hampir di semua tempat umum apalagi stasiun sangat ramah dengan toilet untuk yang berkebutuhan khusus maupun untuk bayi.”

Rush Hour

Ya, seperti yang sudah kami bayangkan bahwa jam 6 keatas adalah jam sibuk dan banyak orang yang berlalu lalang di dalam stasiun.  Ya ampun, pengguna kereta yang menuju bandara pun sangat ramai. Kami sampai tidak kebagian tempat duduk. 

Berhimpit-himpitan sepanjang perjalanan tapi syukurlah Henokh tidak menangis sepanjang perjalanan. Baju kami sudah basah kuyup mengingat akhir Juli suhu udara di Tokyo sangat panas ditambah kelembapan udara yang tinggi.

Bagi mereka yang gampang keringatan dan tidak suka memakai baju yang sudah basah dianjurkan untuk selalu menyediakan pakaian ganti.”

Bandara Haneda

Mengingat sudah memasuki jam makan malam, kami mencoba menikmati makan ramen yang ada di salah satu sudut bandara dekat seven elevent.

“Harga ramennya masih wajar di kisaran 900 – 1.500 yen”

Counter Air Asia biasanya mulai dibuka sekitar pukul 20:00 (atau 20:30, maaf lupa).

Selanjutnya, kami pun memutuskan untuk langsung masuk ke ruang tunggu. Tentunya perlu melewati proses pemeriksaan dan imigrasi. Nah, karena Laura menggendong Henokh maka dia mendapatkan prioritas sehingga tidak perlu mengantri.

Karena saya suaminya dan membawa barang, maka saya ikut dalam rombongan yang mengantri. Hahaha. Kemudahan hanya untuk sang ibu aja di bagian ini.

“Entah kenapa gate untuk Air Asia selalu di gate yang paling ujung.”

Kemudahan lain yang juga kami dapatkan adalah ketika hendak memasuki pesawat. Kami diberi kesempatan untuk masuk lebih dahulu ke dalam pesawat dibandingkan dengan penumpang lainnya.

Hal ini tentunya memudahkan saya untuk bermanuver dalam mengatur semua barang bawaan (koper kecil, tas pungung, tas pinggang, botol susu Henokh, dll).

” Kerjasama antar suami dan istri sangat dibutuhkan.”

IMG_8833
Ruang ganti popok dan menyusui di bandara Haneda, Tokyo.

Tokyo – Kuala Lumpur (KL)

Penerbangan ini membutuhkan waktu sekitar 7 jam. Artinya kami akan tiba di KL sekitar pukul 6 pagi (jangan lupa ada perbedaan waktu). 

Penerbangannya berjalan lancar tanpa ada turbulensi. Henokh pun tetap tenang walaupun terkadang bangun dan menangis untuk sekedar mau minum susu. 

Nah, bassinet yang sudah kami pesan ternyata tidak terpakai karena Henokh tidak terbiasa tidur di dalam keranjang. Alhasil, bassinetnya kami pergunakan sebagai tempat ganti popok. 

Laura tidak bisa tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan karena ini pengalaman pertama membawa bayi ikut terbang. Takut Henokhnya jatuh saat dipangku dsb. Sedangkan saya, ada kesempatan untuk sekedar tidur ayam.

Transit di Lounge Air Asia

Bandara KLIA2 sangat bersahabat terutama untuk kami yang membawa bayi dan mereka yang berkebutuhan khusus. Adanya buggy car membantu mempermudah proses transit.

Karena kami tiba sekitar jam 7 pagi, maka suasana lounge masih sepi. Tentunya ini sangat menguntungkan kami karena Henokh bisa dengan bebas rebahan dan suasana yang tidak berisik.

” 3 jam waktu yang ideal bagi kami untuk transit. Sarapan, mandi, ganti popok dan baju Henokh, serta sekedar jajan cemilan.”

Tukar uang kami lakukan di dalam bandara karena hanya menukar uang sekitar 2.000 yen.

KL – Jogja

Kondisi Henokh masih semangat karena belum ada tanda-tanda rewel sepanjang perjalanan ini. Penerbangan ini membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam. Untuk penerbangan ini kami memilih untuk duduk di kursi no 1 (paling depan).

“Penerbangan pagi pukul 9, tentunya ini bukan jam tidur Henokh.”

Di awal penerbangan cukup bersahabat apalagi ada pramugari yang terkadang bermain dengan Henokh. Senyuman maut Henokh sepertinya bisa meluluhkan hati pramugarinya. Hahaha

Ntah kenapa kali ini popok Henokh terasa lebih berat (banyak buang air kecil). Akhirnya suasana mulai berubah. Henokh mulai sedikit rewel tapi masih bisa diatasi dengan minum susu.
Turbulensi yang kadang terjadi membuat kami tidak berani untuk mengganti popoknya di toilet.

Disisi lain, rasa lapar karena tenaga Laura habis untuk menyusui membuat kami memesan makanan tambahan.

“Cemilan adalah hal wajib yang harus tersedia untuk ibu menyusui.”

Sudah jadi rahasia umum mengenai kepadatan arus lalu lintas udara di Jogja. Akibatnya kami harus mutar-mutar dulu di udara.

Suasana sudah semakin tidak kondusif karena Henokh sudah mulai bosan (mungkin pegal karena dipangku terus) lalu nangis sekuat tenaga. Tidak banyak yang bisa kami lakukan karena pesawat dalam posisi sudah mau mendarat dan tanda penggunaan sabuk pengaman sudah dinyalakan.

Penumpang yang disamping saya mungkin terganggu dengan tangisan Henokh, tapi dia berusaha untuk tetap senyum dan ramah. Beliau bersama rombongan lainnya adalah warga negara Malaysia yang akan mengikuti seminar di Jogja.

Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna. Penumpang pun turun satu per satu dari pintu depan. Kami memilih untuk turun paling akhir supaya lebih santai.

“ooo.. ini bayi yang nangis tadi. Beberapa penumpang turun sampai berbisik bisik seperti itu.” Tentunya bukan dengan tatapan yang ramah.

Sambil senyum, saya berkata kepenumpang yang lewat “maaf ya sudah terganggu.”

Karena kondisi terminal kedatangan internasional di Bandara Adisucipto tidak tersedia toilet untuk ganti popok bayi, kami pun langsung keluar ke parkiran menjumpai tantenya Henokh yang sudah menunggu.

IMG_8862
Henokh tidur dengan nyenyak begitu diletakkan di kasur. (Lokasi: Rumah Ompung Jogja)

 


Apakah ada yang punya pengalaman membawa bayi dalam perjalanan jauh? Bagaimana cara orang tua mendiamkan bayi ketika rewel? Apakah ada penumpang lain yang secara langsung menegur orang tua bayi karena merasa terganggu?

Hal-hal ini tentunya akan menimbulkan pro dan kontra, bukan?

Bagi saya, ketika mau beli tiket pesawat bisa dilihat kan ya pilihan dewasa, anak-anak, bayi. Artinya, penumpang pesawat sudah paham bahwa ada kemungkinan minimal satu orang bayi akan ikut dalam penerbangan tersebut.

Orang tua (khususnya ibu) si bayi pastilah akan berusaha membuat bayinya tetap tenang selama perjalanan.

Kalaupun bayi tetap rewel, alangkah baiknya bagi penumpang yang merasa terganggu tidak mengeluarkan komentar negatif. Komentar positif bahkan sekedar senyuman saja sudah cukup memberikan energi positif kepada orangtua bayi tersebut.


 

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang

Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris.

Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang mempunyai empat musim.

Akan tetapi, (mungkin) sama seperti kebanyakan orang, Bahasa Inggris adalah momok yang menakutkan bagi saya. Walaupun dari kecil sudah belajar di sekolah maupun bimbingan les, entah kenapa kemampuan bahasa inggris ini seperti tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Tapi hal ini tetap tidak mematahkan semangat saya untuk terus bermimpi dan berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti saya akan pergi keluar negeri untuk sekolah. Mimpi itulah yang selalu membuat saya tetap berusaha mempelajari bahasa inggris.

Kuliah 2006

Setelah dinyatakan lolos masuk ke Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum memulai perkuliahan di pertengahan bulan Agustus. Salah satu tahapannya adalah mengikuti tes TOEFL yang diadakan UGM sekitar bulan Juli awal. Apabila nilai TOEFL yang diperoleh pada saat tes lebih dari atau sama dengan 500, maka tidak perlu mengambil mata kuliah bahasa inggris (2 sks) dan langsung mendapat nilai A.

Tawaran yang sangat menarik, bukan??? Hemmm… bagi saya yang sudah sadar akan kemampuan bahasa inggris saya, seperti “mission impossible” untuk mencapai angka itu. Dan terbukti, pada saat hasil tes keluar, nilai yang saya peroleh jelas jauh dari angka 500. Alhasil, saya pun harus mengambil mata kuliah bahasa inggris di semester pertama.

Singkat cerita, sampailah kita di penghujung semester pertama. Dan  ternyata nilai ujian bahasa inggris saya dapat C. (Yap, tidak terlalu mengecewakan karena saya sadar diri akan kemampuan bahasa saya). Apakah saya ada berencana untuk mengulang agar nilainya menjadi bagus? Hemmm… tentu tidak. Saya merasa cukup dengan apa yang saya dapatkan.

Penghujung Kuliah 2009

Selama tiga tahun saya berkuliah di Teknik Nuklir, hampir semua buku teori tentang kenukliran maupun mata kuliah lainnya berbasis bahasa Inggris. Di sepanjang tiga tahun itulah terkadang saya menghabiskan malam hari dengan membaca buku-buku tersebut. Lancar??? Tentu tidak. Belum adanya google translate di handphone serta konektivitas internet yang masih mengandalkan Warung Internet, Warnet, membuat saya harus mencari arti kata yang sulit menggunakan kamus.

“Sekitar tahun 2006 – 2010, harga per jam di Warnet sekitar Rp. 3.000 – 4.000”

Hal-hal inilah yang menambah kosakata bahasa inggris saya khususnya untuk di dunia pernukliran.

2010

Semenjak tahun 2008, saya sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 terlebih dahulu daripada bekerja setelah lulus S1. Untuk memperoleh beasiswa ada dua syarat umum yang harus dilewati yaitu: Bahasa Inggris dan Nilai (IPK).

Sampai di akhir semester 7, saya tidak ada bermasalah dengan nilai minimum IPK yang dibutuhkan. Permasalahan saya masih tetap di nilai minimum TOEIC, TOEFL, IELTS, atau sejenisnyalah.

Strategi

Setiap orang pasti tahu akan kemampuan dirinya masing-masing dan saya juga paham akan kemampuan saya. Tahun 2010, saya memilih untuk fokus agar bisa menyelesaikan tugas akhir secepat mungkin, setelah itu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sambil mencari pasangan hidup (bisa dicek disini ceritanya: Mengejar Cinta (1): Janji).

Menurut info yang saya peroleh dari kakak kelas yang pada saat itu sedang kuliah S2 di Korea, akan ada pembukaan beasiswa di akhir September. Info ini saya peroleh di awal tahun 2010.

Singkat cerita, akhirnya saya menyelesaikan tugas akhir di bulan April 2010. Nilai IPK minimum sudah aman. Saatnya berfokus ke Bahasa Inggris.

Target:

  • Sekolah di negara maju dan mempunyai 4 musim.
  • Bidang keilmuan: Teknik Nuklir dengan spesifikasi lebih kearah Fisika Reaktor.

Dengan menetapkan target, maka saya lebih mudah membidik negara mana yang akan dituju. Negara- negara tersebut adalah: Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Korea dan Jepang.

Kemampuan diri:

  • Secara akademis masih di dalam katagori normal.
  • Secara kemampuan bahasa, masuk dalam katagori lemah menuju buruk.

Dengan kondisi ini, maka saya dapat memetakan bahwa Amerika dan Eropa belum saatnya dicoba pada saat itu.

Pada saat itu, saya mendengar info dari beberapa kakak kelas bahwa untuk Asia, seperti Korea dan Jepang, masih menerima nilai TOEIC. Mereka pun mengatakan bahwa tes TOEIC jauh lebih mudah daripada TOEFL maupun IELTS. Selain mudah(menurut mereka), biaya tesnya pun relatif murah sekitar Rp.500.000.

Percobaan – 1

Berbekal bimbingan bahasa inggris, maka saya pun mengambil tes TOEIC pada bulan Mei 2010. Saya harus ke Jakarta untuk mengambil ujiannya. Maka berangkatlah saya dari Jogja selepas wisuda S1.

Saya sengaja tidak belajar untuk mengukur kemampuan bahasa saya sejauh ini. Hasilnya: sangat jauh dari nilai minumum yang dibutuhkan untuk daftar S2. Sungguh sangat jauh. Saya mengibaratkan kalau seandainya saya tidak punya motivasi penuh untuk lanjut S2, maka saya akan lebih memilih mundur ketika melihat skor TOEIC saya.

“Bagi mereka TOEIC itu mudah, namun bagi saya tetap saja masih sulit.

Percobaan – 2

Sekitar bulan Juli 2010 sudah ada pengumuman untuk pendaftaran beasiswa S2 di Korea (detailnya bisa dibaca di bagian “Tentang Penulis“). Batas akhir pengumpulan dokumen sekitar tanggal 26 atau 27 September 2010.

Setelah mengetahui hasil percobaan-1, maka saya melakukan evaluasi diri. Salah satunya dengan mengikuti bimbingan TOEFL yang diadakan oleh salah satu Fakultas di UGM (lupa lagi namanya). Selain itu, saya juga mengikuti preperation test yang diadakan oleh berbagai macam bimbingan bahasa di Jogja. Ditambahkan lagi buku-buku soal atau apapun yang berhungan dengan TOEFL dan sebangsanya saya beli dari gramedia atau pasar buku di dekat Pasar Bringharjo.

Hasil dari semua persiapan itu sudah menunjukkan tanda-tanda positif. Beberapa kali mengikuti preparation test ditambah dengan mengerjakan soal-soal dari buku, saya memperoleh nilai diatas nilai minimum untuk melamar S2.

Ada rasa kepercayaan diri yang tumbuh tapi disatu sisi masih ada sedikit keraguan didalam diri. ‘Apakah saya mampu?

Percobaan kedua ini dilakukan pada awal September. Saya pun harus kembali lagi ke Jakarta demi tes ini. Kali ini, nilai yang diperoleh meningkat tajam tapi belum bisa memenuhi nilai minimum yang dibutuhkan.

Rasa kesal, semua bercampur aduk melihat hasilnya. Tapi satu yang pasti, saya masih ada waktu kurang dari 2 minggu untuk melakukan satu kali lagi tes sebelum batas akhir pendaftaran.

Percobaan – 3

Setelah kembali ke Jogja dan waktu yang dibutuhkan kurang dari 2 minggu, maka tidak ada kata lain selain belajar, belajar dan belajar. Hampir sepanjang hari saya berada di dalam kamar untuk mempelajari bahasa inggris ini.  

Sekitar tanggal 20 September saya memutuskan untuk mengambil tes TOEIC lagi. Di dalam hati, saya berkata “Kali ini saya sudah siap.”

Saya pun kembali ke Jakarta. Kali ini ada satu teman baik saya yang mau ikut menemani ke Jakarta (Kisah ini mungkin akan bersinggungan dengan cerita ‘How I met your mother‘). Ditambah di Jakarta sudah ada Nilla yang mau menemani kami selama di Jakarta. Hal-hal seperti nongkrong bareng teman ini terkadang bisa membantu melupakan sejenak ujian yang ada di depan mata.

Ujian TOEIC pun berlangsung selama 2 jam. Setelah ujian selesai, perlu menunggu hasil sekirar 1 atau 2  jam (lupa lagi). Selama proses menunggu itu, entah kenapa saya lebih tenang.

15:00 WIB

Hasilnya pun keluar. Nilai saya cukup untuk memenuhi syarat minimum pendaftaran S2 ke Korea. Bahagia??? Pasti. Malamnya kami langsung kembali ke Jogja untuk mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan.

Saya pun dengan lega bisa melamar beasiswa ke Korea.

Desember 2010

Pengumuman penerima beasiswa pun keluar. Hasilnya, saya masih belum lolos seleksi tersebut. Kecewa pasti ada mengingat perjalanan panjang untuk memperoleh skor TOEIC tersebut.

Tapi saya tidak patah semangat, bukannya gagal itu hal yang biasa dilalui? Setidaknya saat itu saya tahu bagaimana rasanya gagal.

Setidaknya nilai saya sudah memenuhi nilai standard minumum lah. Itulah yang memberanikan saya untuk mendaftarkan beasiswa ke Jepang.

Salah satu hal yang membuat saya percaya diri ketika mendaftar program IGP-A di Tokyo Institute of Technology adalah adanya proses tanya jawab melalui email dengan calon profesor pembimbing mengenai bidang keilmuan yang ditekuni sebelum memasukkan berkas administrasi untuk pendaftaran beasiswa.

(Silahkan baca: Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech)

Percobaan – 4

Dengan bekal nilai TOEIC tahun 2010, saya melamar beasiswa ke Jepang pada tahun 2011. Beruntungnya, calon profesor pembimbing mau menerima nilai TOEIC tersebut. Disisi lain, meminta saya secara pribadi untuk meningkatkan skor TOEIC.

Karena pada saat itu saya sedang bekerja di Kalimantan, saya pun harus mengambil ijin cuti ke Jakarta demi meningkatkan nilai TOIEC ini. Hasilnya, bukannya meningkat malah skornya turun 10 poin.

Yaudahlah, saya daftar pakai skor yang tahun 2010 aja. Beruntung sekali karena pada akhirnya saya bisa memperoleh beasiswa untuk lanjut kuliah untuk program Master dan Doktoral.

Percobaan – 5

Saya masih merasa punya utang janji dengan Profesor saya mengenai skor TOEIC. Disisi lain, saya memang merasa kalau skor minimum saja tidak baik untuk kedepannya terutama untuk syarat lulus doktoral.

Agustus 2013.

Setelah hampir satu tahun di Jepang sejak September 2012, saya pun pulang menghabiskan waktu libur musim panas di Indonesia. Tujuan utama saya adalah kembali mencoba tes TOEIC.

Saya pun singgah ke Jakarta untuk mengikuti tes TOEIC. Hasil ujian kali ini, saya memperoleh nilai yang cukup tinggi bahkan diluar ekspektasi saya. Skor maksimal bisa saya peroleh pada bagian listening.

Skor TOEIC terbaru ini saya berikan kepada pembimbing untuk database dan keperluan administrasi pada saat melanjutkan ke program doktoral.

Kesimpulan

Saya punya cita-cita sejak kecil untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, tetapi bahasa inggris merupakan “halangan” bagi saya. Ada dua pilihan yang harus dilakukan: berbelok meninggalkan “halangan” tersebut atau memilih maju menghadapinya.

Saya memilih untuk maju menghadapinya. Butuh pengorbanan tentunya, bagi saya uang dan waktu adalah harga yang harus dibayar demi hal itu.

Bagaimana meningkatkan kemampuan bahasa inggris (versi saya):

Ada beberapa hal yang saya lakukan selama satu tahun di Jepang:

  • Belajar sendiri dari internet dan buku terutama pada bagian grammar.
  • Menonton film hampir saya lakukan setiap hari sepulang kuliah. Film yang saya tonton biasanya drama serial. Film favorit saya waktu itu: The Walking Dead dan The Revolution.

Semoga bisa bermanfaat bagi mereka yang sedang berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.


Mau sekolah ke luar negeri? Pintar aja tidak cukup butuh mental yang kuat. -Irwan

‘Kafunsho’ Alergi Serbuk Bunga

Musim semi adalah salah satu musim terindah di Jepang (Musim di Jepang). Tentunya daya tarik utamanya adalah keindahan BUNGA SAKURA.

Tapi tunggu dulu, bagi sebagian besar orang yang sudah lama tinggal di Jepang, musim semi adalah musim terberat yang harus dilalui. KENAPA? Suhu udara yang sudah mulai hangat setelah melewati musim dingin adalah waktu yang tepat untuk tumbuhan kembali bermekaran. Nahhh, disini letak permasalahannya.

Ternyata, ada sebagain besar orang yang alergi terhadap serbuk bunga yang bertebaran di sepanjang musim semi.

Kafunsho (Hay Fever) atau alergi serbuk bunga adalah salah satu jenis alergi yang terjadi di penghujung musim dingin hingga musim semi (sekitar bulan Februari – April)”

Hahhh…. Alergi Serbuk Bunga????

Itulah anggapan remeh yang terlontar oleh saya di tahun 2013 ketika menikmati musim semi pertama di kota Tokyo.

Banyak orang yang saya temui saat itu memakai masker untuk menghindari kafunsho ini. Hidung meler dan mata yang terasa sangat gatal adalah dua ciri khas utama ketika kafunsho sudah menghampiri diri kita.

Sejak saat itu, setiap tahun di musim semi selalu saja banyak orang memakai masker bahkan ketika menikmati pemandangan bunga sakura.

Beberapa orang berpendapat bahwa setiap orang yang sudah lama tinggal di Jepang, besar kemungkinan akan terkena alergi serbuk bunga ini. Memakai masker di musim semi adalah salah satu cara menghindari atau memperlambat terkena alergi ini.

Musim Semi 2017

Musim ini adalah salah satu musim terberat selama menjalani studi doktoral. Cari kerja, ngerjain disertasi sambil penelitian, nulis jurnal, hingga kerja sambilan membuat tingkat stamina tubuh sedikit menurun.

Akhirnya kena juga

Disuatu hari di akhir Februari, saya masih seperti biasanya berangkat ke lab dengan kondisi bugar. Sore harinya ntah mengapa tiba-tiba hidung meler dan mata terasa gatal. Hidung meler masih bisa ditahan tetapi rasa gatal di mata ini tidak tertahankan. Mata saya sampai merah akibat dikucek-kucek untuk menghilangkan rasa gatal.

Apa saya kebanyakan di depan komputer ya? Atau mungkin debu masuk? Itulah yang terpikir di benak saya pada saat itu.

Saya pun membasuh mata di wastafel kemudian berbaring sebentar di ruang makan sambil mengenakan kacamata jel yang biasanya digunakan kalau mata kondisi mata lelah.

aHR0cHM6Ly9lY3M3LnRva29wZWRpYS5uZXQvaW1nL2NhY2hlLzcwMC9wcm9k
Kacamata Jel penghilang lelah, bisa dibeli di toko 100 yen.

Namun, rasa gatal di mata semakin menjadi jadi. Saya pun memutuskan untuk pulang kerumah. Pada saat itu, suhu badan mulai naik dan demam pun tidak terelakkan di malam harinya.

Demam, pilek, dan mata gatal. Kombinasi yang sangat menjengkelkan. Saya dan istri pun berjalan menuju toko obat (drug store) yang ada di dekat rumah untuk membeli obat tetes mata. Asumsi kami saat itu mungkin sekedar sakit mata biasa saja.

Bagaimana dengan obat demam dan pilek? Persediaan obat-obatan dari Indonesia masih bisa untuk mengatasi kedua hal itu.

Tetap saja, obat mata yang ditelah dibeli tidak memberikan efek apapun. Rasa gatal masih terus menyerang kedua mata.

Hingga larut malam, ntah kenapa tiba-tiba dada terasa sesak hingga sulit sekali untuk bernafas dengan hidung secara normal. Padahal pileknya tidak sampai yang menyumbat aliran hidung. Segala jenis balsem pun dioles dibagian dada untuk memberikan kelegaan pada saat bernafas walaupun tetap tidak optimal.

“Saat itu, saya belum paham kalau semuanya itu adalah gejala terkena kafunsho”.

Keesokan harinya, kami langsung bergegas menuju dokter mata. Takutnya ada yang salah dengan mata apalagi sudah dikucek-kucek hingga merah.

Sesampainya di klinik mata, dokter pun memeriksa kedua mata saya dan memberikan kesimpulan kalau saya terkena kafunsho. Dokter pun memberikan resep untuk ditebus di apotik.

Setelah memakai obat tetes mata, semprotan penghilang pilek, dan obat demam yang diberikan, seketika itu juga rasa gatal yang ada di mata mulai hilang dan hidung mulai berhenti mengeluaran cairannya.

“Suhu udara yang hangat, cerah ditambah angin yang berhembus adalah kombinasi yang sangat tidak baik bagi saya di musim semi karena alergi ini pasti akan menghampiri dengan cepat.”

pr190617_01
Obat penghilang pilek (Disemprot ke hidung).
1319752Q1024_000
Obat tetes mata.

Wahhh, apa yang dulu saya anggap remeh akhirnya menghampiri saya juga setelah 4 tahun tinggal di Jepang.

Sejak saat itu, setiap musim semi saya harus membawa obat tetes mata dan spray penyemprot hidung. Dengan dua obat tersebut, saya bisa beraktifitas normal.


 

Happy Birthday Henokh

3 Maret 2020

CDAE86FC-F8E8-4196-91E7-0489D8170A71
Happy Birthday Henokh B. Simanullang (3/3/2020)

“Henokh adalah hadiah terbesar dari Tuhan bagi kami”.

Pada hari Minggu, 3 Maret 2019, Henokh berhasil mendarat dengan sempurna di rumah sakit di kota Hitachinaka. Maklum nak, di desa kita tidak ada rumah sakit untuk bersalin. Hehehe.

Tidak terasa sudah menginjak usia 1 tahun Henokh hari ini (Selasa, 3 Maret 2020).

Melihat pertumbuhan Henokh hari lepas hari membuat hati papi dan mami sangat bahagia dan percaya kalau Tuhan selalu menjaga tumbuh kembangmu.

Banyak hal yang telah Henokh pelajari selama 1 tahun ini, mulai dari belajar telungkup, duduk, berdiri, merangkak, dan banyak hal lainnya yang membuat papi dan mami sangat senang dan bangga.

Diusia Henokh yang masih 4 bulan, kita sudah membawa Henokh naik pesawat ke Indonesia. Selama kurang lebih 3 minggu disana, Henokh sangat luar biasa karena tidak sampai sakit.

IMG_9031
Henokh sampai di Medan sekitar jam 10 malam. (Agustus 2019)

Di usia 6 bulan, Henokh mulai belajar makan. Buah-buahan adalah favorit Henokh. Sedangkan dari cemilan, sepertinya perkedel kentang dan krupuk senbei masih jadi andalan ya nak.

IMG_9024
Henokh di Jogja. (Agustus 2019)

Oiya, sejak usia 1 bulan Henokh selalu ikut ibadah minggu di gereja GIII Oarai dan semuanya sayang sama Henokh. Tetap setia beribadah ya nak. Kita hampir selalu pergi ke gereja dengan kereta dan Henokh sangat menikmati setiap perjalanan ke gereja apalagi dari Mito ke Oarai karena bisa lihat hamparan padi dan ladang.

Dari bulan Januari 2020, papi dan mami sudah memikirkan rencana perayaan ulang tahun Henokh. Rencana awalnya adalah jalan-jalan ke Tokyo dan Disneyland. Tapi sayang sekali kondisi kita di Jepang saat ini (terkait virus Corona) membuat banyak hal yang harus ditunda khususnya di Bulan Maret. Nanti kita cari waktu lain ya nak ketika kondisi sudah lebih kondusif.

BMWT4089
Lae Deon lagi pegang pipi Henokh di rumah Ompung Matiti. (Agustus 2019)

Terimakasih sudah menjadi anak yang baik. Jadi anak yang takut akan Tuhan ya.

Love

Papi & Mami


“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Matius 6:33”

Mengejar Cinta (1): Janji

Juni 2006

Bulan itu adalah perjalanan baru dalam hidup, dimana saya akan merantau ke Jogja untuk menempuh pendidikan tinggi di salah satu Universitas terbaik di negeri ini.

Saya dan mama (dibaca: mamak) pun berangkat dari Pekanbaru menuju Jogja. Banyak wejangan yang diberikan disepanjang perjalanan menuju Jogja, salah satunya adalah:

“Jangan pacaran selama kuliah.”

Maret 2010

Setelah terpesona kepada Laura sejak melihatnya di gereja (How I met your mother (5)), tentunya ada rasa untuk ‘mengejarnya’. Tapi, janji di tahun 2006 tetaplah harus ditaati.

Hemmm, yang gak boleh adalah pacaran. Tapi kalau melakukan pendekatan selagi saya masih kuliah boleh kan yaa?, itulah yang terpikirkan oleh saya.

Tapi, mau berapa lama pendekatannya? Pendekatan dulu atau selesaikan skripsi aja dulu?

Berdasarkan perkembangan tugas akhir saya saat itu, besar kemungkinan kalau saya akan maju sidang akhir di bulan April dan wisuda bulan Mei.

Dengan pertimbangan ini, saya memutuskan untuk menyelesaikan dulu kuliah.

Disatu sisi, saya harus memikirkan strategi apa yang dilakukan supaya bisa memulai pembicaraan dengan Laura tanpa dia berpikiran kalau saya sedang berusaha mendekatinya.


bersambung …

Kecelakaan Nuklir sepanjang sejarah dunia

Berdasarkan data IAEA (International Atomic Energy Agency), terdapat beberapa kecelakaan nuklir yang pernah terjadi di dunia [1].

  • 1957: Mayak at Ozersk, Russia, (military reprocessing plant criticality).
  • 1957: Windscale, UK (military).
  • 1969: Saint-Laurent A1, France.
  • 1979: Three Mile Island, USA.
  • 1980: Saint-Laurent A2
  • 1986: Chernobyl, Ukraine.
  • 1989: Vandellos, Spain (turbine fire).
  • 1999: Tokai-mura, Japan (criticality in fuel plant for an experimental reactor).
  • 2002: Davis-Besse, USA (severe corrosion).
  • 2003: Paks, Hungary (fuel damage).
  • 2011: Fukushima Daiichi Nuclear Power Station, Japan.

Dari beberapa kecelakaan tersebut, IAEA memberikan katagori mulai dari Anomaly (Level 1) hingga Major Accident (Level 7). Chernobyl dan Fukushina Daiichi masuk dalam katagori Major Accident.

Nah, kira-kira kecelakaan nuklir mana yang paling diingat oleh para pembaca? (Silahkan tinggalkan di kolom komentar ya).

Kalau saya paling ingat tentu Chernobyl dan Fukushima, walaupun sampai sekarang masih belajar memahami secara detail mengapa dan bagaimana bisa terjadi kecelakaan nuklir tersebut.

Mengapa hal yang sudah diantisipasi masih tetap bisa terjadi? Setiap terjadi kecelakaan, maka akan banyak pertanyaan yang timbul, bukan?

Sebelum melangkah jauh kesana, ada baiknya kita mengenal lebih dulu bagaimana sebetulnya sistem kerja di dalam reaktor nuklir.

Semoga dengan pemahaman awal ini, akan membantu memahami sedikit demi sedikit proses yang terjadi di dalam reaktor nuklir.


[1] https://world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/tokaimura-criticality-accident.aspx


Catatan:

Film CHERNOBYL yang dirilis HBO beberapa waktu lalu lumayan membantu istri (dia orang yang sangat awam dengan dunia pernukliran) untuk memahami sistem kerja reaktor secara umum.

market
Film Chernobyl keluaran HBO layak untuk ditonton dalam memahami secara umum mengenai peristiwa kecelakaan nuklir di Chernobyl.

Apa itu core, uranium, control rods, dll. Itu adalah pertanyaan yang langsung dijukan kepada saya ketika menonton film tersebut. Hehehe


 

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)

Sebelumnya di: Part 2

DINI HARI

Tidak terasa hari sudah berganti ketika kami tiba di ketinggian 3250 meter. Berdasarkan informasi, ketinggian Gunung Fuji sekitar 3700 meter. Wahhh, tinggal 500 meter lagi menuju puncak.

Disisi lain, badan yang sudah lelah dan rasa kantuk yang melanda menjadi tantangan tersendiri bagi kami.  Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan pendakian menuju pos selanjutnya. Mulai dari sini, butuh tenaga ekstra karena medan pendakian yang semakin berat dan suhu yang semakin dingin.

“Sayang, aku kedinginan dan ngantuk. Di pos berikutnya istirahat agak lama lah. Begitu lah ujar Laura”.

02:30 JST

Jam segini sangatlah krusial karena rasa ngantuk yang semakin mendominasi. Tapi kami berhasil sampai di pos peristirahatan. Disini terdapat warung minum dan penginapan.

“Hanya orang yang beli minum atau makan yang boleh masuk ke dalam warung dan dibatasi selama 15 menit.”

Saya dan Laura pun masuk ke dalam untuk sekedar meminum sup jagung hangat dan menghangatkan badan selama 15 menit di dalam. Sedangkan Udin dan Rama memilih untuk tetap beristirahat diluar warung.

“Puji Tuhan cuaca yang cerah dan bersahabat menemani pendakian kami. Pendakian Rama di tahun sebelumnya, terjadi hujan yang cukup deras ketika berada di sekitar ketinggian ini karena sulit memprediksi cuaca di sekitar puncak Gunung Fuji.”

Waktu 15 menit ini saya manfaatkan dengan baik untuk sekedar memejamkan mata.

Antara Puncak dan Sunrise

“Ternyata 500 meter itu jauh cuy kalau mendaki gunung”

Sudah lebih dari 1 jam sejak terakhir beristirahat, tapi puncak Fuji pun belum tampak. Selain itu jalur pendakian semakin ramai dipadati oleh orang-orang yang hendak melihat sunrise dari puncak Fuji.

“Beberapa kali kami harus berhenti karena terjadi kemacetan.”

04:00 JST

Menurut pengalaman Rama, matahari akan terbit sekitar pukul 4:15 – 4:30. Dengan kondisi saat ini, hampir dipastikan kami tidak bisa melihat sunrise dari puncak.

Karena memang kami tidak berambisi untuk melihat sunrise dari puncak, maka kami pun memutuskan untuk menepi mencari lereng gunung yang bisa dipakai untuk duduk sambil melihat sunrise.


Perjuangan Cinta (2)

Bagian ini adalah hal yang tidak terpikirkan oleh saya dan Laura. Duduk menunggu sunrise tanpa ada selimut, tenda, atau terpal yang bisa menghangatkan badan adalah suatu bencana bagi kami para pemula.

Syal yang melekat di leher saya pun berpindah ke Laura karena dia sudah kedinginan. Saya hanya berusaha menahan dingin sambil berharap ayolah matahari cepat muncul.


Udin pun merasakan hal yang sama. Suhu dingin tidak terlalu bermasalah, angin yang cukup kencang yang menjadi masalah.

04:20 JST: Sunrise

Perjuangan mendaki lebih dari 8 jam akhirnya terbayar dengan melihat sunrise dan gumpalan awan yang menutupi seluruh pemandangan sekitar gunung.

“Bagaikan negeri di atas awan”

IMG_7956
Menikmati sunrise dari Gunung Fuji

 

IMG_7958
Rama, paling sabar menunggu kami bertiga di barisan akhir.
IMG_7969
Udin, pantang menyerah menuju puncak walau harus sampai muntah.
IMG_7991
Laura, pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir mendaki Fuji.

Setelah menikmati sunrise, kami pun melanjutkan kami menuju pos terakhir yaitu puncak Fuji.

06:20 JST: Bencana

Kondisi badan saya yang sudah lelah ditambah lagi menunggu sunrise dengan hempasan angin menusuk kebadan membuat fisik langsung turun. Mata sudah mulai berkunang kunang membuat saya memutuskan untuk berhenti sebentar untuk makan protein bar untuk menambah tenaga.

Laura malah terlihat lebih segar pada saat ini. Gak tahu lah dari mana tiba-tiba dia bisa bersemangat 45 untuk mendaki menuju puncak.

Sedangkan Udin, memilih untuk keluar dari jalur pendakian karena ada tanda-tanda mau muntah.

Bagaimana dengan Rama? ya, Rama tentunya dalam keadaan baik dan memastikan kondisi kami apakah masih kuat untuk naik atau tidak.

“Ternyata lokasi ‘bencana’ kami sudah sangat dekat dengan gerbang Puncak Fuji”

IMG_8025
Menepi sejenak dari jalur pendakian.

06:40 JST: Gerbang (Torii Gate) Puncak

Akhirnya kami tiba di gerbang masuk Puncak Gunung Fuji. Sekitar 11 jam waktu yang kami butuhkan untuk sampai di puncak gunung tertinggi di Jepang (3776 meter).

IMG_8038
Udin dan Rama di depan Gerbang Fuji.

“Ada loh vending machine jualan minuman hangat di puncak Fuji dengan harga yang hampir 5x lipat dari biasanya.”


 

 

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 2/3)

Sebelumnya di: Part 1

MINGGU MALAM

Setelah melakukan pengecekan barang bawaan, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 19:00 JST.

Untuk mempermudah pendakian, kami membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang. Dimana di tiap kelompok ada satu orang yang sudah punya pengalaman mendakilah.

“Saya, Laura, Udin dan Rama adalah tim yang paling belakang.”

Di dalam tim ini, Rama adalah yang paling berpengalaman mendaki. Dia berbesar hati menemani kami di rombongan akhir selain itu dia juga menjadi penutup barisan yang memastikan tidak ada rombongan PPI Tokodai yang tertinggal di belakang.

“Kami bertiga (Saya, Laura, dan Udin) tidak punya target harus sampai ke puncak. Pedoman kami adalah sekuatnya saja yaa..hahaha”

19:30 JST: Perjalanan disini masih terbilang cukup mulus dan datar, belum terlihat tanjakan yang begitu memberatkan. Istri pun masih kuat membawa tas ranselnya. Selain itu kami disuguhkan dengan pemandangan kembang api yang terlihat di kejauhan. Festival kembali api (Hanabi) adalah suguhan yang menjadi favorit selama musim panas di Jepang.

20:00 JST: Setelah hampir satu jam berjalan, akhirnya kami berempat sampai di Pos 6. Teman-teman yang lain sudah tiba disini sekitar 15 menit yang lalu. Hal yang pertama saya lakukan disini adalah mengenakan jaket karena suhu udara sudah mulai dingin.

IMG_7914 copy
Annisa dan Laura sedang beristirahat di salah satu pos peristirahatan.

Perjuangan Cinta (1)

Kami (4 orang) pun hendak melanjutkan perjalanan setelah 15 menit beristirahat. Disini lah drama itu muncul.

“Sayang, udah capek kali aku. Gak kuat lagi bawa ransel, ujar Laura”.

Rama saat itu berbaik hati mau membantu membawakan tas ransel istri. Tapi yang namanya barang-barang istri, tentulah saya sebagai suami punya tanggung jawab membawanya.

“Gpp ram, biar saya aja yang bawa tasnya Laura.”

Supaya lebih memudahkan pergerakan, maka air minum (2L) dan makanan yang terasa berat dipindahkan ke tas saya. Laura hanya membawa tas ransel yang berisi minuman botol (600ml) dan cemilan ringan.

21:00 JST: Perjalanan pun sudah mulai terasa mendaki. Kami menggunakan jalur pendakian untuk pemula. Jalur ini sangat padat oleh manusia sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Senter pun setia menemani perjalanan kami dimalam hari ini.

“Jaringan 4G masih bisa dinikmati sewaktu pendakian.”

Rasa lelah dan suhu yang dingin memaksa kami untuk terus berjalan maju perlahan tapi pasti. Istirahat pun hanya sebatas mengambil napas atau minum. Kalau berdiam diri maka suhu dingin akan sangat terasa menusuk ke tubuh.

Disepanjang jalan, terkadang saya dan Udin berkata: Ya ampun, kenapa kita ikut ini perjalanan, mending tidur di apato. (dengan logat khas Makasar dan Medan). Kami hanya tertawa melihat perjuangan kami mendaki Gunung Fuji.

Dilain sisi, Laura hanya banyak diam karena sudah lelah dan sesekali minta dibawain tas ransel. (Saya akhirnya membawa 2 buah tas ransel).

Sedangkan Rama, memantau kondisi kami yang kelelahan dan sesekali melihat ke belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.

22:11 JST: Kami akhirnya sampai juga di Pos selanjutnya (sudah lupa pos ke berapa). Disini harus diakui kalau kami bertiga (Laura, Udin, dan Saya) sudah cukup lelah.

“Apa kita berhenti aja disini? Ada penginapan di pos ini. Besok pagi kita turun aja.” Begitulah tawaran saya kepada Laura dan Udin.

“Berapa sewa penginapannya? tanya Laura. 5000 yen untuk 4-5 jam (lupa) jawab saya. Yaudah lah lanjut aja sayang uangnya, ujar Laura”. 

Disini kami bertemu lagi dengan rombongan dari PPI Tokodai yang sudah sampai terlebih dahulu. Kami beristirahat sedikit lama untuk mengisi energi di dalam tubuh dengan memakan cemilan (coklat dan onigiri).

IMG_7915 copy
Udin, Irwan, Laura dan Annisa. Wajah terpaksa senyum walaupun sudah cukup lelah. Hehehe

Sebagian dari kami ada yang pergi ke toilet. Oiya, dibeberapa pos peristirahatan terdapat toilet tapi harus bayar sekitar 200 yen untuk sekali pemakaian.

Dari pos ini terlihat bahwa jalan menuju pos berikutnya lumayan curam. Kami bisa melihat barisan manusia yang mengular mulai dari tempat ini sampai ke pos berikutnya.

Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata benar, jalan yang kami lalui kali ini cukup curam. Kami harus menggunakan kedua tangan untuk merangkak naik melalui bebatuan yang besar. Mau tidak mau, istri harus menggendong kembali tas ranselnya.

IMG_7918
Sebagian rombongan PPI Tokodai yang ikut meramaikan acara mendaki Fuji 2015.

SENIN DINI HARI

01:40 JST: Setelah pendakian yang cukup panjang dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat, akhirnya kami sampai di pos selanjutnya. Siapa sangka kami sudah berada di ketinggian 3.250 meter.


 

(tunggu cerita selanjutnya di bagian 3 ya…)

 

 

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015

Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji.

Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji.

Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik gunung, dan langsung dijawab AYOOOO.  Setelah itu, teman saya, Udin, pun saya ajakin untuk ikutan.

“Kami bertiga adalah muda mudi yang hobi utamanya bukan mendaki gunung.”

Minggu Siang

Selepas ibadah Minggu, saya dan istri janjian untuk ketemuan dengan Udin di Restoran Malaysia (Shibuya) untuk makan siang.

IMG_7863
Menu makan siang di Restoran Malaysia, Shibuya

Selepas makan siang, kita berjalan menuju tempat pertemuan di sekitar Stasiun Shibuya. Ada sekitar 20 orang anak PPI Tokodai yang ikut dalam petualangan mendaki Gunung Fuji.

“Wajah-wajah ceria penuh semangat masih terpancar dari muka kami masing-masing.”

IMG_7857 copy
Wajah ceria istri disamping Patung Hachiko sebelum berangkat menuju Stasiun Kawaguchiko.

 

14:00 JST: Bus yang kami tumpangi pun melaju menuju ke Stasiun Kawaguchiko. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

“Dari rombongan ini, ada beberapa teman yang sudah beberapa kali ikut mendaki Gunung Fuji. Dari mereka jugalah saya tahu kalau butuh waktu (normal) sekitar 7-8 jam untuk mendaki ke puncak.”

16:40 JST: Bus tiba di Stasiun Kawaguchiko. Disini kami punya waktu sekitar 30 menit untuk menunggu bus lainnya yang akan menghantarkan kami ke Pos 5 Gunung Fuji (Semoga gak salah ingat). Sambil menunggu kedatangan bus, kami pun menyempatkan diri untuk makan dan membeli cemilan di konbini (convenience store).

17:00 JST: Butuh waktu sekitar 45 menit dari Stasiun Kawaguchiko menuju Pos 5 Gunung Fuji.

18:00 JST: Kami pun tiba di Pos 5 dengan selamat. Disini terdapat restoran, toko souvenir dan perlengkapan mendaki, toilet, dll. Istri pun membeli sarung tangan mengingat suhu di puncak Gunung Fuji cukup dingin. Selain itu kami juga mengambil brosur mengenai petunjuk pendakian Gunung Fuji.

“Summer di bawah, Winter di puncak. Itulah sekilas perbedaan suhu antara pos 5 dan puncak Fuji.”

IMG_7903
Pos 5 Gunung Fuji, sesaat sebelum pendakian dimulai.

Sebelum memulai pendakian, kami pun menyempatkan makan malam. Kami membawa bekal makan masing-masing mengingat kemungkinan tidak ada makanan yang halal yang dijual disekitar pos 5. Setelah makan malam, teman-teman yang beragama Islam melaksanakan sholat.


Minggu Malam

19:00 JST: Kami pun memulai pendakian ……

 

Selanjutnya di: Part 2