Celotehan Suami Istri: #4. Semuanya serba salah.

Kali ini mau menceritakan kejadian sewaktu menunggu proses kelahiran Henokh di Rumah Sakit setahun yang lalu.

Kalau dipikirkan, proses menunggu kelahiran anak adalah suatu proses yang sangat dinantikan tapi penuh emosi dan menguras tenaga.

H-1 kelahiran Henokh, kontraksi yang dirasakan oleh istri sudah sangat sakit. Walaupun, suster yang setiap kali memeriksa mengatakan itu belum puncak dari kontraksinya.

“Hahhhhh, ini belum ada apa-apanya sus?”, ujar istri dengan rasa kaget.

Lahiran ini terjadi di Jepang, jadi percakapan antara saya, istri, suster, dokter dan penterjemah(teman kerja) dilakukan dengan bahasa Inggris, Indonesia dan Jepang.

Kontraksi sudah mulai sering terjadi tapi belum yang sampai tiap 10 menit. Dalam kondisi tersebut, terjadi percakapan seperti berikut:

Laura (L); Irwan (I)

L: Aduhhh.. sakit kali ini. Sayang, pijit-pijit dulu punggung bagian bawah.

I: Ok.. Sambil menghampiri dan mulai memijit pelan-pelan. Gimana udah lumayan?

L: Iya, udah gak terlalu sakit lagi.

Proses ini berlangsung sekitar 15 menit. Lalu istri kembali ke tempat tidur buat istirahat. Sedangkan, saya kembali beristirahat ke sofa.


1 jam kemudian


L: Aduhhh.. sakit lagi ini. Lebih sakit ini.

I: (Bangun dari sofa, dan berusaha untuk mijitin punggungnya lagi)

L: Jangan dipijit lohh.. Tambah sakit ini !!!

I: Lahhh, tadi dipijit jadi lebih nyaman. Kenapa sekarang kondisinya terbalik sihh??!!

L: Gak tahuuu !! (sambil mengerang kesakitan).. Udah, duduk aja kamu disana!!

I: Ok.. (duduk sambil mulai main HP)

L: Kenapa main HP sih!! Istrinya lagi kesakitan!!!

I: Lah, tadi katanya duduk aja.

L: Iya lohhh.. Duduk aja tapi bukan main HP!!

I: Ok2.. (sambil meletakkan HP di meja).

L: Ihhhhh… sakit kali kontraksinya.. Kamu kenapa duduk aja sih. Bantuin donk. Ini malah duduk aja!! (nada suara sudah judes)

I: Sumpahhh cui… Ini maumu apaan sih? Duduk salah, main hp salah, tidur salah, semuanya salah cui..Panggil suster aja yaaa..

L: Gak usah protes-protes dehh!!

I: …..(cepatlah datang suster)

Suster pun akhirnya datang dan memeriksa kembali. Ternyata masih belum ada tanda-tanda lahiran akan terjadi dalam hitungan jam.

“Kemungkinan bakalan seperti ini sampai 12 jam kedepannya”, begitulah jawaban susternya.

Mendengar hal itu, Laura pun kembali kaget. Ya ampun selama itu kah proses menunggu lahiran ini.


Di Rumah Sakit ini, mereka punya motto:

Tidak ada proses melahirkan tanpa rasa sakit.

Kalau kami mengingat kembali proses selama di Rumah Sakit, kadang bisa tertawa sendiri apalagi banyak ocehan-ocehan Laura yang untungnya dalam Bahasa Indonesia jadi suster atau dokter tidak ada yang tahu artinya.Hahaha

Celotehan Suami Istri: #3. Henokh ngerjain Maminya.

Anak satu tahun udah bisa apa sih? Udah bisa ngerjain maminya menyembunyikan remote TV.

Sejak kondisi di rumah aja, TV pun mulai difungsikan kembali sebagai mana mestinya. Biasanya TV di rumah hanya pajangan dan hampir tidak pernah dinyalakan.

Henokh sudah paham kalau untuk menghidupkan TV dibutuhkan remote. Karena dia belum bisa melakukan sendiri, biasanya dia akan mencari remote terus memberikannya kepada saya atau maminya.

Biasanya, maminya akan menyimpan remote setelah menyalakan TV supaya tidak diutak atik sama Henokh karena dia lagi suka buat mengambil dan melempar barang. Biasanya, mami Henokh menyimpan remote di dalam lemari doraemon.

Hampir setiap apartemen yang punya ruangan bertatami pasti ada lemari doraemon.

Sedangkan saya, biasanya cuma meletakkannya di tempat yang gak bisa dijangkau Henokh, seperti diatas kulkas atau diatas meja belajar.

Senin Pagi

Seperti hari-hari biasanya, pagi ini TV sudah dinyalakan karena mau nonton acara anak-anak. Sebenarnya Henokh tidak suka menonton, hanya saja suka dengan suara entah itu dari TV, atau musik dari keyboard.

Biasanya walaupun TV dihidupkan, Henokh tetap aja lari-lari mengitari rumah tanpa peduli sama apa yang ditayangkan di TV. Tapi begitu TV dimatikan, biasanya dia akan mencari remote TV.

Ntah kenapa hari itu, mami Henokh lupa menyimpan remote TV sesudah menyalakan TV. Remotenya hanya diletakkan di tempat yang bisa dijangkau Henokh.

Henokh pun berhasil menyembunyikan remote TV dan membuat maminya pusing mencari dimana remote TV berada.

Kisah pencarian remote TV ini berlangsung hingga saya pulang dari lab.

Saat itu saya mau ganti siaran di TV tapi tidak menemukan remote TV.

“Sayang, dimana remote TV?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Itulah, aku pun udah nyari dari tadi pagi. Disembunyikan Henokh nih remotenya.”, ujar Laura.

“Hahaha. Dikerjain sama anak umur satu tahun bahh..Itulah sering kali pulanya kau sembunyikan remote itu, sekarang giliranmu dikerjain. Udah dicari dimana aja?”

“Udah loh, di bawah keyboard, kursi, meja, di kardus mainan Henokh. Gak ada loh.”,ujar mami Henokh.

“Paling disembuyikan di bawah kulkas. Udah penuh tuh bawah kulkas dengan mainannya. Udah dicek disana?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Emangnya muat ya dibawah kulkas. Belum kucek sih. (sambil jalan menuju kulkas). Ya ampunnn Henokhhhh, pandai kali ya ngerjain mami sampai dibuat pusing nyari remote TV.”, ujar Laura kepada Henokh.

Mendengar teriakan dan ketawa maminya, Henokh pun ikut ketawa sambil merangkak ke arah kamar.


Bisa juga ternyata anak satu tahun ini ngerjain maminya. Hahaha.

Mami vs Henokh = 1 vs 1. Imbang ya skor kalian berdua dalam hal menyembunyikan remote TV.  Hahaha

Mau bekerja di Jepang? Persiapkan hal-hal berikut ini!

Pertanyaan lain yang muncul dari teman atau bahkan keluarga ketika pulang ke Indonesia adalah gimana sih bekerja di Jepang? Enak gak sih? Nyantai atau gimana sih sistem kerjanya?

Sebenarnya, agak sulit menjawab pertanyaan tersebut karena jawaban dari semua pertanyaan tersebut sangat tergantung kepada tempat kerja atau bahkan rekan kerja di dalam tim. Bekerja di perusahaan yang sama tapi beda divisi atau bahkan beda grup saja bisa punya jawaban yang berbeda atas pertanyaan diatas.

Disini saya berusaha memberikan gambaran mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika mau bekerja di Jepang.

1. Disiplin.

Siapa yang belum kenal dengan tingkat kedisiplinan negara Jepang. Bukan hanya orangnya saja, bahkan alat transportasi umumnya saja terkenal sangat tepat waktu.

Ketika di stasiun kereta tertulis jadwal keberangkatan pukul 08:53 maka percayalah kalau kereta akan berangkat tepat waktu, bukan jam 08:50 atau jam 08:55 apalagi jam09:00.

Demikian juga dengan orang Jepang pada umumnya. Ketika membuat janji untuk rapat pukul 09:15, maka rapat akan dimulai pukul 09:15 walaupun semua anggota sudah di dalam ruangan sejak pukul 09:00.

2. Tidak mudah mengeluh.

Sering ngeluh kerjaan banyak, ngerjain yang bukan kerjaan wajib alias bukan jobdes, waktu istirahat yang gak bisa molor atau telat 5 menit aja diomelin, dll.

Kalau masih sering mengeluh hal receh seperti diatas, coba dipikirkan lagi apakah sanggup nantinya bekerja di negara ini.

3. Mampu Beradaptasi

Beda negara maka beda pula budaya yang dimiliki. Oleh karena itu, sebagai pendatang haruslah mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja. Tidak hanya di lingkungan kerja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau di Indonesia kita sering berkumpul di rumah teman dan ngobrol atau main musik hingga larut malam dan kemungkinan besar mengganggu tetangga. Percayalah, kalau kondisi seperti ini diterapkan di Jepang, kemungkinan besar tetangga anda akan menghubungi polisi dan siap-siap berurusan dengan pihak berwajib.

4. Mentalitas

Tidak semua bisa berjalan lancar sesuai keinginan kita. Adakalanya kita akan melewati kerikil tajam dalam kehidupan ini.

Siapkan mental yang kuat menghadapi tekanan dan teguran dalam dunia kerja. Ingat kembali apa yang menjadi motivasi ketika anda memutuskan mengambil langkah untuk bekerja di Jepang. Mungkin itu bisa membantu menghadapi hambatan tersebut.


Demikian sedikit gambaran yang bisa saya berikan. Semoga bisa membantu mempersiapkan diri bagi mereka yang ingin bekerja di Jepang.


 

Baca juga: Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong.

Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur.

Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini sangatlah cepat dan bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia hingga latar belakang pendidikan.

Hingga saat ini, banyak aplikasi media sosial yang sudah begitu familiar di kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, hampir semua kita dari anak-anak hingga kakek-nenek setidaknya terhubungan dengan salah satu aplikasi media sosial tersebut.

Hal ini tentunya berdampak baik, bukan? Kita bisa saling berkomunikasi dengan teman, saudara, rekan kerja, hingga keluarga. Jarak bukanlah menjadi penghambat saat ini. Selain itu, kita bisa mengirim pesan, foto, hingga berbagi informasi.

Nah, dari semua kegiatan tersebut, HOAKS bisa muncul salah satunya melalui berita yang kita bagikan baik melalui status, atau meneruskannya di grup-grup chat.

Agak berat memang bagi kita secara pribadi untuk menghalau penyebaran hoaks di platform besar dan umum seperti facebook, twitter, dll.

Tapi, ada kesempatan kita untuk menghalau penyebaran berita HOAKS di grup-grup chat (grup FB messenger, WA grup, LINE grup, dll).

Mari kita manfaatkan kesempatan kecil ini untuk menghentikan laju penyebaran HOAKS.

Apa yang biasanya kita lakukan ketika membaca sebuah berita atau informasi yang kita dapatkan melalui media sosial? Hanya membaca saja atau bahkan membagikan berita tersebut?

Kalau kita berniat untuk membagikannya, apa yang harusnya kita lakukan? Apakah kita langsung membagikannya, atau membaca semua isi beritanya lalu membagikannya, atau membaca isi beritanya secara utuh kemudian berpikir apakah berita tersebut benar atau tidak?

Hoaks dapat menyebar tanpa pandang bulu. Orang yang berpendidikan tinggi pun masih bisa termakan hoaks.

Ketika seseorang menyebarkan berita yang belum dipastikan kebenarannya di dalam grup, apa tanggapan kita? Diam saja dan membiarkan berita tersebut dikonsumsi oleh anggota grup lainnya? Atau mempertanyakan kebenaran dari informasi yang telah dibagikan tersebut?

Berita yang sepertinya mengandung informasi berguna tetapi tidak teruji kebenarannya pun termasuk katagori hoaks.

Bukankah dengan diam saja artinya kita membiarkan berita hoaks tersebut dikonsumsi oleh anggota di dalam grup chat tersebut meskipun kita tahu bahwa yang menyebarkan mungkin tidak ada maksud jahat. Mungkin saja dia menemukan informasi bagus dan ingin membagikannya tanpa tahu kalau informasi tersebut bohong.

Tidak enakan untuk bertanya karena yang membagikan mungkin seorang senior atau admin atau apapun lah itu alasannya dan tidak mau membuat perdebatan di dalam grup?

Berdebat atau berdiskusi

Mungkin kata berdebat ini agak cenderung kurang enak didengar apalagi kalau di grup tersebut isinya teman, rekan kerja atau bahkan keluarga.

Mari kita ganti dengan istilah berdiskusi. Tentunya ajakan berdiskusi akan lebih nyaman dibandingkan dengan berdebat (bagi saya pribadi sih).

Dengan berdiskusi, kita bisa mempertanyakan sumber dari informasi yang telah disebarkan di dalam grup tersebut. Dengan begitu, mungkin kedepannya anggota di grup bisa lebih berhati-hati dalam membagikan berita yang belum tentu kebenarannya. Selain itu kita juga jadi lebih peka untuk bertanya kepada diri sendiri mengenai kebenaran informasi tersebut.

Kalau informasi yang mau dibagikan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, silahkan saja dibagikan. Kalau belum, mari menahan diri membagikannya.

Mari kita bersama-sama hentikan penyebaran HOAKS.


 

Baca juga: Saya takut tertular, lebih takut lagi kalau menularkannya.

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.

Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar.

Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain diluar tanpa harus pergi jauh mengingat kondisi saat ini.

Hari Jumat kemarin, Henokh dan maminya bermain di taman tersebut. Hanya ada mereka dan seorang ibu yang membawa kedua anaknya bermain. Henokh pun asik belajar jalan sambil berpegangan dengan salah satu permainan disana. Selain itu, dia berteriak-teriak seolah olah hendak mengajak kedua anak kecil lainnya untuk ikut bermain bersama.

Makan Malam

Sepulang dari lab, tentunya mami Henokh selalu menceritakan kegiatan mereka sepanjang hari. Ini percakapan singkatnya:

Laura (L); Irwan (I)

L: Tadi senang kali loh Henokh bermain ditaman samping rumah. Dia ketemu sama dua orang anak kecil lainnya dan kayak mau ikut bermain bareng gitu.

I: Siapa? Tetangga apartemen?

L: Bukan. Orang sekitar sini kali ya..Hmmm.. Kayaknya Henokh ini suka dengan keramaian dan sudah bosan kali ya dirumah terus. Mana berdua aja kan sepanjang hari di rumah. Gimana nanti kalau udah agak besar Henokh ya? Sepi kali lah rasanya di rumah ini.

I: Gimana? Apa Henokh mau punya adek?

L: ……….

 

Saya takut tertular, lebih takut lagi kalau menularkannya.

Siapa sih yang saat ini tidak dalam kondisi yang khawatir atau waspada?

Saya dan Laura juga punya rasa khawatir akan kondisi saat ini. Tidak hanya memikirkan kondisi kami disini, tapi juga keadaan keluarga yang ada di Indonesia.

Saya sendiri tidak begitu mengikuti informasi perkembangan situasi tersebut, sedangkan Laura mengikuti berita tersebut setiap hari. Setiap pulang dari lab, selalu saja hal ini yang menjadi salah satu bahasan utamanya.

Hingga awal Maret kemarin muncul kasus pertama di Ibaraki dan sejak bulan Maret sudah ada beberapa kali e-mail dari kantor yang memberikan himbauan untuk melakukan tindakan pencegahan seperti tidak melakukan perjalanan dinas kalau tidak terlalu penting, menghindari keramaian, mencuci tangan, dll. Hal ini sepertinya dilakukan berulang-ulang untuk mengingatkan dan menginformasikan kondisi terbaru.

“Mari memikirkan tidak hanya diri sendiri tetapi keluarga dan rekan kerja”. Kalimat di akhir email tersebut.

Membaca situasi seperti ini, saya mendiskusikan hal ini kepada Laura sekitar minggu akhir Maret.

Tulisan ini adalah cara pandang yang saya ungkapkan sewaktu diskusi dengan Laura mengenai kondisi saat ini.

Skenario terburuk

Entahlah ini terpengaruh dengan apa yang saya pelajari selama ini di bidang Nuklir terutama mengenai kecelakaan nuklir, tapi saya berusaha berpikir apa skenario terburuk yang bisa terjadi.

  • Saat ini, sulit menyatakan bahwa kondisi bahwa benar-benar 100% bebas dari virus tanpa melalui pemeriksaan medis.
  • Di tempat kerja sudah ada himbauan seperti yang telah saya tuliskan diatas.

Dengan kondisi seperti ini, saya tidak bisa menyatakan secara sepihak kalau diri saya sendiri terbebas dari paparan virus ini.

Untuk kondisi terburuknya, SAYA MENGASUMSIKAN BAHWA DIRI SAYA TERPAPAR TAPI TIDAK (BELUM) ADA GEJALA YANG TERLIHAT.

Disini, saya mengajak Laura melihat dampak yang bisa ditimbulkan ke orang lain dengan menggunakan asumsi terburuk.

Contoh: Sudah ada himbauan dari pemerintah atau/dan dari kantor tapi karena tidak saya anggap serius akhirnya saya memutuskan untuk berpergian ke suatu tempat (melihat sakura, kumpul-kumpul, dll).

Apa yang terjadi ketika saya pergi ke suatu tempat keramaian atau perkumpulan dengan menggunakan asumsi terburuk yang telah saya tuliskan diatas?

  1. Saya akan pergi ke tempat tersebut dengan kereta. Kereta yang saya naiki adalah kereta lintas kota yang berasal dari Iwaki (100 km dari Desa Tokai) dan berakhir di Stasiun Ueno atau Shinagawa (Tokyo). Dalam hal ini, sedikit banyak saya “membantu” penyebaran virusnya.
  2. Saya akan bertemu dengan banyak orang di tempat tersebut. Ada peluang menularkan. Artinya, saya juga “membantu” penyebaran virus tersebut.

“Saya takut tertular, tapi bagi saya lebih takut lagi menularkannya ke orang lain. Ada beban mental dan moral dalam diri saya.”

Dampak terhadap orang lain:

Pada saat saya terpapar, hal yang saya lakukan adalah memberitahu atasan saya (itu prosedur yang sudah dikeluarkan dari perusahaan tempat saya bekerja).

Dampak yang bisa ditimbulkan adalah:

  1. Tempat kerja dan rekan kerja akan diperiksa kesehatannya. Bisa jadi gedung tempat bekerja harus di tutup sementara.
  2. Tempat tinggal, keluarga dan tetangga sekitar apartemen pastinya akan diperiksa.
  3. Saya pun wajib melaporkan kegiatan saya beberapa hari terakhir dan dengan siapa saja saya melakukan interaksi. Tentunya hal ini akan berdampak buruk bagi mereka yang berinteraksi dengan saya.
  4. Mungkin saya akan dikenakan sanksi oleh perusahaan karena melanggar himbauan yang telah dikeluarkan.

Dampak yang ditimbulkan karena hal sepele yang saya lakukan tentunya bisa menjadi beban moral tersendiri dalam diri saya.

Setelah memaparkan pemikiran saya, Laura dengan sigkatnya berkata: “ Hahh, sampai segitunya cara pandangmu sampai buat asumsi segala. Agak berlebihan ya cara pikirmu. Tapi benar juga ya. Efek yang ditimbulkannya bisa luas juga ternyata.”

“Setiap orang boleh punya cara pandang yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu permasalahan.”


Sejak 31 Maret, saya sendiri sudah diperbolehkan untuk bekerja dari rumah. Akan tetapi, karena kondisi pekerjaan saat ini tidak optimal dikerjakan dari rumah (maaf tidak bisa menuliskan alasannya) maka saya masih tetap pergi ke lab untuk bekerja.

Tentunya aktivitas yang saya kerjakan sudah dengan dukungan dari istri dan juga memperlengkapi diri dengan masker, pembersih tangan, dll untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, di tempat kerja pun sudah menyediakan sarana untuk membantu mengurangi resiko terhadap hal yang tidak diinginkan.

Dengan kondisi saat ini, saya pun dalam bekerja berusaha membatasi ruang gerak dan interaksi antar rekan kerja, salah satunya dengan menjaga jarak.


Bagi mereka yang memang bisa beraktivitas dan bekerja dari rumah mari kita membantu mengurangi resiko tertular atau menularkan.

Bagi kita yang memang harus beraktivitas di luar (seperti kondisi saya juga), mari kita menjaga diri dengan baik-baik. Ada keluarga yang menanti di rumah.


 

Baca juga: Main tebak-tebakan yuk..

Main tebak-tebakan yuk..

Hingga saat ini dibeberapa daerah banyak diterapkan WFH. Mari mengisi waktu luang dengan bermain tebak-tebakan yang sederhana.

Ini ada satu tebak-tebakan yang sudah lama tapi sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab.

2 + 2 = 4

2 x 2 = 4

Coba cari bilangan lain selain 0 (nol) yang ketika dilakukan operasi matematika dapat menghasilkan hasil yang sama seperti kasus diatas.

Contoh: 5 + 5 = 10 ; 5 x 5 = 25. Hasilnya tidak sama.

Selamat mencoba ya. Kalau nemu silahkan tinggalkan angkanya di kolom komentar ya.


 

Baca juga: Harga Tempe di Jepang mahal?

Uranium 235, sikecil yang berkuasa.

 

Sebelumnya di: “Uranium” kecil-kecil cabe rawit


“Uranium-235 mempunyai 143 neutrons dan 92 protons.”

Di dalam tulisan sebelumnya, terdapat gambar yang menunjukkan proses terjadinya reaksi fisi. Dalam gambar tersebut diperlihatkan bahwa neutron yang menabrak Uranium-235 akan membelah menjadi unsur kimia lain dan menghasilkan energi.

Nah, apa itu Uranium-235?

Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan bahwa uranium adalah salah satu unsur yang dapat ditemui secara alami di alam, berupa bahan tambang. 

Uranium di alam mempunyai beberapa kandungan isotop, yaitu Uranium-234 (U-234), Uranium-235 (U-235), dan Uranium-238 (U-238). Dari ketiga isotop ini, kandungan U238 adalah yang paling dominan sebesar 99.27 %, diikuti oleh U-235 sebesar 0.72% dan sisanya U-234.

Dari komposisi tersebut, bisa diperhatikan bahwa U-235 yang digunakan untuk menghasilkan energi sebesar 200 MeV bukanlah isotop yang mendominasi kandungan Uranium alam.

Dengan komposisi yang tidak sampai 1%, mengapa bisa menghasilkan energi yang sangat besar?

Monggo bagi yang mau menjawab silahkan tinggalkan komentarnya di kolom komentar. 

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji


Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4)


April 2010

Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir.

Banyak Perubahan

Woow, ternyata banyak perubahan yang terjadi di dalam kelas dan yang paling terlihat adalah keakraban yang sudah terjalin dari Nila, AAng, Ratna, Andi, Laura dan Metha. Lumayan sering juga mereka nongkrong bareng selama menjadi les di ELTI.

“Sabtu malam ke Happy Puppy yuk. Ucap salah seorang dari kami sebelum meninggalkan ELTI.”

Karena Laura bilang OK, otomatis saya pun bilang OK. Walaupun biasanya saya lebih sering menghabiskan waktu di kosan nonton film di hari Sabtu.

“Saat itu saya sedang belajar menonton film barat dengan tidak menggunakan subtitle (Mengasah kemampuan listening).

Sabtu itu adalah pertama kalinya saya ngobrol dengan Laura diluar ELTI. Disitu juga saya mengkonfirmasi di dalam hati kalau ternyata gadis yang saya temui di HKBP itu adalah Laura.

“Aku gak bisa sampai malam ya (jam 9 malam), besok pagi mau gereja (HKBP), ujar Laura”

Makan malam bareng yuk.

Tidak terasa perjalanan kami di tempat les ini mendekati akhir. Beberapa dari kami sudah memutuskan tidak lanjut lagi karena ada yang sudah diterima kerja, sedang mencari kerja, fokus skripsi, dll.

“Sebelum kita selesai di level ini, yuk makan malam bareng. Sepertinya kami sadar kalau akan sulit bertemu di minggu-minggu setelahnya.”

AAng, Metha, Andi, Laura, Irwan, Ratna, dan Nila. Kami bertujuh akhirnya mencoba sebuah tempat makan yang baru buka di daerah Jalan kaliurang km 4.5.

Entah kebetulan atau tidak, saya berkesempatan duduk berhadapan dengan Laura. Disini kami sudah mulai ngobrol banyak hal terutama tentang rencana mencari kerja dan mau bekerja dibidang apa, dll.

Hampir semua berencana mencari kerja selepas kuliah, sedangkan saya memilih untuk lanjut sekolah dibandingkan mencari kerja.

Itu adalah makan malam bareng yang berkesan bagi saya karena bisa ngobrol dengan Laura. Selain itu, bagi saya sendiri ini makan malam pertama bareng mereka. Ternyata mereka semua orangnya sangat bersahabat dan menyenangkan diajak ngobrol banyak hal.

Parkiran Motor

Saya menyempatkan diri berbicara dengan Laura disaat teman-teman yang lain menuju kendaraan masing-masing.

“Oiya, boleh minta nomor kamu?”, ujar saya ke Laura.

“Boleh, btw kalau ada waktu mampir ke rumahlah sama Andi. Nanti tak buatin ikan mas naniura”, begitulah balasan Laura.


Sejak saat itu, proses PDKT pun dimulai.

Episode 3: PDKT

Note:

  • Sampai sekarang (udah nikah) tawaran dibuatin ikan mas naniura tidak pernah terjadi. 😌😌
  • Ikan mas naniura, masakan khas Batak Toba.
  • Mirip dengan sushi lah kalau versi Jepang.

Terbang Bersama Henokh: Doloksanggul – Jakarta

Tidak terasa masa liburan akan segera berakhir dan Henokh harus kembali ke Jepang. Ini adalah salah satu perjalanan terlama di liburan musim panas 2019.

Untuk perjalanan pulang ke Jepang, kami memilih menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Alasan utamanya adalah harganya yang cukup bersahabat dengan kapasitas bagasi hingga 46 kg/orang. Secara total kami bisa memuat sekitar 110 kg (bagasi + kabin).

“Bahkan bagasi 100 kg pun terasa belum cukup buat mami Henokh.”

Perjalanan kali ini memiliki rute penerbangan: Kuala Namu – Soekarno Hatta – Haneda. 

Sebenarnya ada bandara Silangit yang lebih dekat dari Doloksanggul. Akan tetapi, jadwal penerbangannya tidak sesuai dengan jadwal kami.

Doloksanggul – Kuala Namu

Jadwal keberangkatan pesawat dari Kuala Namu menuju Soekarno Hatta sekitar jam 2 siang. Artinya kami harus berangkat paling lama jam 4.30 pagi dari Doloksanggul.

“Doloksanggul adalah ibukota dari kabupaten Humbang Hasundutan. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 5-6 jam menuju Bandara kuala namu.”

Ini adalah perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Kami meninggalkan kota Doloksanggul di pagi hari yang sepi sehingga perjalanan sangat lancar. Henokh dan maminya pun masih terlelap di sepanjang jalan. Sayangnya, saya tidak bisa langsung tidur sehingga hanya bisa memandang ke arah jalan.

Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di kota Parapat (Danau Toba). Disini kami singgah untuk sarapan. Warung soto Medan menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi perut. Selain itu harganya pun masih pas di kantong. 

“Pernah kami makan di salah satu rumah makan Padang di Parapat dan ketika bayar cukup kaget dengan harganya. Buat para pedagang di sekitar Danau Toba, cobalah buat harga di setiap menu makanan sehingga pengunjung tahu dan tidak terkejut.

Sekitar jam 07:30, kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak ada kendala yang berarti selama perjalanan. Namun hujan lebat yang turun di kota Siantar sempat membuat arus lalu lintas sedikit terhambat.

Jalan tol Tebing Tinggi – Kuala Namu

Kami menggunakan jasa tol yang baru selesai di bangun untuk mempersingkat waktu tempuh menuju bandara. Benar saja, pilihan ini membuat kami bisa mempersingkat waktu tempuh sekitar satu jam.

Disepanjang ruas jalan tol, hampir tidak bisa ditemui rest area. Ada beberapa lokasi yang masih dalam tahap pembangunan ruas tol.

Selain itu, kondisi jalan tol yang hampir lurus sepanjang jalan menuju kuala namu adalah tantangan tersendiri untuk para pengemudi. Dipastikan rasa kantuk akan datang menyerang dengan kondisi jalan seperti itu. Pastikan pengemudi dalam kondisi fit dan menepilah untuk beristirahat di rest area atau sebelum memasuki jalan tol ketika merasa ngantuk.

“Biaya tol tebing tinggi – kuala namu sekitar Rp. 50.000 “

Bandara Kuala Namu

Akhirnya sekitar jam 12 siang kami tiba di bandara Kuala Namu.

Kami memanfaatkan total bagasi sebesar 96 kg dengan komposisi 2 koper besar, 1 tas ukurang sedang, dan dan 1 kontainer ukuran L.

Bagaimana nantinya membawa barang segitu banyak dari Bandara Haneda ke rumah? GAMPANG.  Karena saya sudah cukup familiar dengan kondisi bandara Haneda maka sangatlah mudah menurut saya. Semua bagasi nantinya tidak perlu dibawa sendiri dari bandara menuju rumah. Cukup menggunakan jasa pengiriman yang tersedia di bandara. Maka barang akan tiba di rumah keesokan harinya.

Setelah proses check in selesai, kami melanjutkan makan siang dan mengganti popok Henokh. Hanya ada sekitar 1.5 jam sebelum kami masuk ke ruang tunggu. Waktu yang cukup untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Bagaimana Dengan Henokh?

Perjalanan panjang dari Doloksanggul ke KualaNamu ternyata membuat Henokh terasa lelah. Nangis dan menyusui adalah hal yang bolak balik terjadi sepanjang perjalanan sejak dari Tebing Tinggi ke Kuala Namu.

Henokh sepertinya cukup bosan dengan kondisi dipangku dan digendong sepanjang perjalanan. Kami sebagai orangtuanya sudah paham betul hal ini. Naik mobil dari gereja ke rumah yang hanya 30 km aja Henokh bisa nangis karena bosan dipangku. Apalagi dari Doloksanggul ke Kuala Namu yang berjarak sekitar 230 km.

Kuala Namu – Soekarno Hatta

Penerbangan dengan pesawat Garuda Indonesia hari ini cukup ramai. Sepertinya hampir semua kursi di tiap kelas penuh. Beruntunglah kami yang bisa dapat kursi di barisan depan.

“Saat itu kami sudah tidak berharap banyak kalau Henokh akan duduk, tidur dan tenang selama penerbangan.”

Di barisan kami, ada seorang ibu yang baru saja selesai mengikuti seminar di Medan. Beliau dan rombongannya mau kembali ke Makasar.

Sejak awal, kita sudah minta maaf dulu apabila nanti Henokh nangis dan mengganggu istirahat beliau. Tapi beliau cukup baik hati dan pengertian. Ternyata beliau masih mempunyai hubungan saudara dengan salah satu teman saya (namanya Rama) dari Makasar yang sedang menempuh pendidikan di Tokyo Tech.


Baca juga:” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)


“Kita sempat ambil foto bareng di pesawat. Kata beliau mau dikasih lihat ke Rama.”

Benar saja, Henokh sangat rewel di penerbangan ini. Dari awal hingga kami mendarat tangisan Henokh cukup membuat kami tidak bisa beristirahat selama penerbangan.

Maklum lah, ini adalah perjalanan 12 jam non-stop pertama buat Henokh.

Setibanya di bandara, kami langsung menuju penginapan yang masih berada disekitar wilayah bandara Soekarno Hatta.

Begitu sampai di penginapan, Henokh langsung direbahkan di atas kasur dan langsung terpancar senyum ceria Henokh. Tentunya suhu AC langsung diatur pada suhu minimum karena Henokh tidak tahan dengan suhu udara yang panas.

“Henokh, si bayi musim dingin.”

Dari awal kami memang memilih untuk bermalam di Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Tokyo.

Keluarga besar Henokh

Rasanya tidak sopan kalau mampir ke Jakarta tapi tidak mengabari keluarga dekat kami. Tapi, mengingat kondisi kami yang cukup lelah dan harus melanjutkan penerbangan jam 7 pagi di keesokan harinya, maka mereka bersepakat dan berbaik hati untuk datang mengunjungi kami di penginapan.

IMG_8982
Henokh dan Bulangnya. (Bulang artinya Kakek dalam bahasa Batak Karo).

“Terima kasih untuk Ompung, Uda, Inanguda, Tante, dan Bibi yang sudah mau mengunjungi Henokh. Semoga di lain waktu bisa bertemu lagi.”


Ternyata pilihan untuk bermalam di Jakarta sangat tepat menurut kami karena Henokh punya waktu untuk beristirahat yang cukup sebelum penerbangan panjang selanjutnya.