Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (6)

Tokai Culture Center.

Kelas Bahasa Jepang

Hal menarik ketika tinggal di Jepang adalah tersedianya kelas volunter bahasa Jepang. Sewaktu kami tinggal di Miyamae, Kawasaki, istri sangat aktif untuk ikut belajar bahasa Jepang melalui kelas volunter ini. Hal ini karena biaya yang dikeluarkan cukup murah yaitu sekitar ¥500 per tahun (kalau tidak salah). Harga yang ditetapkan ditiap daerah mungkin sedikit berbeda tetapi masih dalam katagori yang cukup murah. Pada umumnya, kelas bahasa ini dilaksanakan di Kantor Kelurahan atau di Community Center yang ada di daerah tersebut.

Ketika kami pindah ke Desa Tokai, justru kami menemukan lebih banyak organisasi yang menyediakan kelas bahasa Jepang secara volunter. Seperti apa sih Desa Tokai ini sampai banyak mengadakan kelas volunter bahasa Jepang? Apakah banyak orang asing di Desa Tokai? Nantikan cerita tentang Desa Tokai ini di cerita-cerita selanjutnya ya. Saat ini kita fokus tentang kelas bahasa Jepang saja.

Di Desa Tokai sendiri, kami mengikuti kelas bahasa Jepang yang diselenggarakan oleh Tokai Volunteer Japanese Language School.

Advertisements

Tokai Volunteer Japanese Language School

Kelas bahasa ini diselenggarakan setiap Hari Sabtu, pukul 10:00 -12:00 JST. Biaya untuk satu kali pertemuan sebesar ¥250. Biaya ini sudah termasuk dengan cemilan ringan yang bisa dinikmati sewaktu jam istirahat.

Untuk siswa yang baru pertama kali belajar bahasa Jepang, maka buku Minna No Nihonggo 1 adalah buku yang akan digunakan. Buku ini tersedia di toko buku, perpustakan Tokai hingga toko online serba ada, Amazon.

Pada umumnya, sistem belajar yang digunakan seperti kelas private dimana satu orang murid diajari oleh seorang guru.

Salah satu hal menarik khususnya untuk Tokai Volunteer Japanese Language School ini adalah boleh membawa bayi. Selain itu, ruangan belajar yang dipisah bagi mereka yang membawa anaknya sehingga tidak mengganggu siswa lainnya.

Selain mendapatkan ilmu bahasa Jepang, hal penting lainnya adalah menambah komunitas. Dengan mengikuti kelas ini, kami merasa seperti mempunyai keluarga terutama dengan guru (sensei) yang mengajari kami.

Pernah beberapa kali, kami dibantu oleh Sensei pada saat hendak ke rumah sakit ketika istri sedang hamil. Bahkan pernah diantar ke salah satu toko baju bayi pada saat kami hendak mempersiapkan perlengkapan bayi.

Aktifitas di luar Kelas

Selain kegiatan belajar yang dilaksanakan di dalam kelas setiap minggunya, ada juga acara rutin setiap tahun yaitu: Field Trip dan Speech Contest. Tahun 2019 yang lalu, kami berpartisipasi dalam kedua acara tersebut.

Berpartisipasi dalam Japanese Speech Contest 2019 yang diselenggarakan di Desa Tokai

Cerita mengenai kegiatan tersebut bisa dibaca disini: “One Day Trip” Fukushima

Rindu kelas Volunteer

Akibat merebaknya pandemi COVID-19, kelas volunter untuk saat ini masih ditiadakan sejak bulan Maret 2020. Semoga saja pada saat kondisi sudah membaik, kelas ini dapat berjalan kembali. Terlebih lagi, semoga para guru serta murid-murid lainnya dalam kondisi sehat selalu.

Beberapa Kelas Volunter Bahasa Jepang di Desa Tokai

Siapa tahu nanti ada yang berencana tinggal di Desa Tokai, berikut saya lampirkan beberapa nama organisasi yang mengorganisir kelas bahasa Jepang:

  1. TOKAI JLT.
  2. Tokai Volunteer Japanese Language School.
  3. TIC Japanese Class.

Ketiga organisasi ini menyediakan kelas dengan hari dan jam yang berbeda. Ada yang menyediakan kelas pada hari Selasa malam, ada juga di Sabtu pagi, dan ada juga di Minggu siang. Silahkan memilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong. Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur. Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini … Continue reading Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

“One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)

Salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Ibaraki adalah Hitachi Seaside Park. Beruntungnya kami yang sekarang tinggal di Desa Tokai karena hanya berjarak sekitar 15 menit menggunakan bus dari rumah ke taman ini. Lebih lagi ada bus dari depan rumah yang langsung menuju ke Hitachi Seaside Park. Pertama kali kami mengunjungi Hitachi Seaside Park sewaktu … Continue reading “One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading “One Day Trip” ke Oarai-machi

How I met your mother (5)

Sebelumnya di: Episode 4: How I met your mother (4) Episode 5: Terpesona Hari Minggu di bulan Maret. Kejadian ini hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Andi ke kos. Entah kenapa pada hari Minggu itu saya memilih untuk mengikuti ibadah minggu pagi di gereja HKBP Kota Baru. (Saya mencoba mengingat-ingat kembali ada apa di hari Minggu … Continue reading How I met your mother (5)

‘New Normal’ Perpustakan di Desa Tokai Jepang.

Perpustakan Desa Tokai

Sepertinya sudah cukup lama Henokh dan Maminya tidak berkunjung ke perpustakan. Hal ini tentunya disebabkan karena merebaknya pandemi COVID-19 dan ditutupnya hampir semua fasilitas umum yang ada di Desa Tokai termasuk perpustakaan.

Sejak dilepasnya emergency state beberapa minggu lalu, Mami Henokh berencana untuk mengunjungi perpustakan karena persediaan buku bacaan baik itu untuk Henokh maupun mami Henokh sudah mulai menipis. Hari ini, mereka memutuskan untuk pergi kesana sekaligus singgah ke supermarket untuk belanja harian. Sedangkan saya, tetap tinggal di rumah karena memang hari ini adalah hari kerja dan saya masih melanjutkan work from home (WFH). Kenapa masih WFH walaupun sudah selesai emergency state mungkin akan saya ceritakan pada tulisan lainnya.

Sepulang dari perjalanan jauh mereka, mami Henokh pun menceritakan bahwa ada perubahan di perpustakan terkait dengan ‘new normal’ dan dalam rangka mengurangi interaksi dan jarak antar pengunjung.

Advertisements

Berikut saya coba jabarkan beberapa hal yang berubah sebelum dan sesudah adanya COVID-19.

  • Sesampainya di pintu masuk, sudah disambut oleh petugas perpustakan. Wajib menunjukkan kartu anggota dan mengisi formulir. Selanjutnya, petugas akan memberikan nomor antrian.
  • Terdapat pembatasan jumlah pengunjung yang bisa masuk ke perpustakan dalam waktu yang bersamaan.
  • Apabila jumlah yang berada di dalam perpustakan sudah mencapai batas maksimum, maka pengunjung lainnya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu yang tentunya diatur posisi duduknya sehingga mempunyai jarak yang cukup.
  • Waktu berkunjung di dalam perpustakan dibatasi maksimal 1 jam.
  • Area yang biasanya dipakai untuk duduk sambil membaca di dalam perpustakan, saat ini belum bisa dipergunakan.
  • Beberapa lorong tempat bacaan juga ditutup untuk saat ini.

Demikian sekilas informasi terbaru mengenai kondisi perpustakaan di Desa Tokai saat ini.

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading Musim di Jepang

“One Day Trip” Fukushima

Salah satu keuntungan yang kami dapatkan sejak tinggal di desa Tokai adalah program “One Day Trip” bagi warga asing. Program ini diselenggarakan oleh Tokai International Association. Program ini diadakan 2x dalam setahun (Juni dan November). Pada bulan Juni 2019 kami belum bisa ikut karena Henokh masih kurang dari 6 bulan. Akan tetapi, trip pada bulan November 2019 … Continue reading “One Day Trip” Fukushima

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)

Tokaimura Welfare Center “Kizuna”

Tokaimura Welfare Center “KIZUNA”

Setelah di cerita sebelumnya, saya telah berbagi beberapa fasilitas olahraga yang pernah saya gunakan selama tinggal di Desa Tokai, kali ini saya mau membagikan salah satu fasilitas yang kami manfaatkan sejak masa kehamilan istri hingga saat ini. Fasilitas tersebut adalah Tokaimura Welfare Center ‘Kizuna’.

Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengetahui kehamilan istri yang ditunjukan dengan bukti resmi dari rumah sakit atau klinik adalah membawa bukti kehamilan tersebut ke kantor desa untuk mendapatkan bantuan biaya melahirkan sebesar ¥420.000.

Baca juga: Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Advertisements

Ternyata, pengurusan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan, ibu dan anak, tidak dilakukan di kantor desa melainkan di KIZUNA.

Beberapa aktifitas dan fasilitas yang didapatkan istri semasa kehamilan di KIZUNA:

  1. Pengurusan bantuan melahirkan serta voucher pemeriksaan rutin. Karena ini pengalaman pertama kami dan sempat salah lokasi pengurusan, tetapi staf yang ada di kantor desa berbaik hati membantu menghubungi pihak KIZUNA untuk melakukan reservasi.
  2. Konsultasi semasa kehamilan. Salah satu yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil adalah konsultasi mengenai kondisi kesehatan ibu dan calon anak. Nah, di Kizuna menyediakan jasa tersebut dan tidak dipungut biaya sama sekali.
  3. Kelas memasak. Para ibu hamil juga diberikan arahan mengenai makanan yang sehat untuk dikonsumsi selama masa kehamilan. Disini istri cukup terbantu karena bisa mendengarkan serta mempraktekkannya secara langsung.
  4. Belajar memandikan bayi. Salah satu kekhawatiran bagi orang tua baru adalah bagaimana cara memandikan bayi. Apalagi bayi yang lahir dimusim dingin, kapan dan berapa suhu air yang nyaman bagi bayi tersebut. Siapa yang bertugas memandikan bayi di masa awal setelah melahirkan? Nah, semua pertanyaan diatas dijawab ketika mengikuti kelas ini. Salah satunya adalah peran seorang ayah yang bertugas memandikan bayi karena bisa jadi si ibu masih dalam kondisi yang belum fit.
Salah satu kegiatan yang diikuti istri yaitu kelas memasak.

Beberapa aktifias dan fasilitas yang dilakukan istri setelah melahirkan di KIZUNA:

  1. Check up rutin. Ada beberapa checkup yang rutin yang bisa dilakukan di Kizuna. Hal ini seperti melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi bayi dan juga konsultasi.
  2. Postpartum depression and baby blues. Salah satu hal yang terus diingatkan oleh staf yang ada di Kizuna adalah mengenai postpartum depression dan baby blues. Karena kami hanya berdua saja di Desa Tokai maka suami pun berperan untuk membantu istri apabila melihat tanda-tanda terjadinya kedua gejala tersebut. Selain itu, KIZUNA memberikan fasilitas konsultasi secara gratis untuk meringankan beban para orangtua khususnya ibu yang baru mempunyai bayi.
  3. Play Center. Di Kizuna juga disediakan taman bermain untuk balita baik itu indoor maupun outdoor. Bagi kami, taman bermain ini cukup penting karena disini anak-anak belajar berbagi mainan yang ada disana. Selain itu, anak kami, Henokh, bisa bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak lain yang seumuran dengan dia.
Halaman depan Kizuna yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar bermain maupun bersantai.

Bahasa bukan jadi kendala!

Salah satu hal yang saat ini menghambat komunikasi adalah bahasa. Akan tetapi, petugas di Kizuna akan menyediakan fasilitas yaitu penerjemah dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris yang sangat membantu kami ketika berkonsultasi. Tenang saja, fasilitas penerjemah ini diberikan secara gratis tetapi kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Bazaar Perlengkapan Bayi

Sudah menjadi hal umum kalau di Jepang banyak orang yang memanfaatkan toko barang bekas untuk membeli barang keperluan sehari-hari mulai dari perlengkapan dapur, laundry, pakaian, hingga perlengkapan atau mainan bayi.

Advertisements

Salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh Kizuna setiap tahunnya adalah bazaar barang-barang seperti buku anak, pakaian, stroller, hingga perlengkapan bayi lainnya. Setiap orang khususnya masyarakat Desa Tokai yang mau ikut berpartisipasi baik dalam hal menyumbangkan barang yang layak pakai ataupun sekedar ingin membeli barang bazaar tersebut bisa meramaikan kegiatan ini. Harga kupon bazaarnya pun cukup murah sekitar ¥100 hingga ¥500.

Hampir semua barang-barang bisa dibeli secara langsung dengan kupon seperti buku anak, pakaian anak, dll. Akan tetapi, untuk beberapa item seperti stroller, baby car seat, mainan anak dapat diperoleh melalui undian.

Lokasi dan Akses

Kizuna masih terletak di Desa Tokai akan tetapi lokasinya cukup tersembunyi karena diapit oleh hutan-hutan desa.

Alamat: 〒319-1112 茨城県那珂郡東海村大字村松2005

Karena jarak dari rumah ke Kizuna sekitar 3 km dan cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki selama masa kehamilan maka kami memanfaatkan fasilitas taksi desa, Ainori-kun, yang cukup murah dengan biaya sekitar ¥100 untuk ibu hamil sekali jalan. Akan tetapi tidak jarang juga istri mengajak anak kami ke Kizuna dengan berjalan kaki sambil membawa stroller bayi.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (4)

Tokaimura Total Gymnastics.

Fasilitas Olahraga

Salah satu yang membuat betah tinggal di Desa Tokai adalah tersedianya berbagai macam fasilitas olahraga. Baik itu fasilitas yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Hal yang membedakannya adalah biaya sewa. Tentu saja yang dikelola oleh pemerintah jauh lebih murah biaya sewanya.

Advertisements

1. Tokaimura Total Gymnastics

Gedung olahraga serba guna ini terletak sekitar 1.5 km dari stasiun Tokai. Gedung ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terdapat beberapa ruangan besar yang dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan olahraga. Main court dapat digunakan untuk bermain basket, voli, badminton ataupun kegiatan lainnya. Selain itu terdapat juga beberapa lapangan indoor yang digunakan untuk kegiatan Judo/Kendo maupun Kyudo (Seni bela diri panahan).

Untuk harga sewanya sendiri cukup bervariasi. Berdasarkan pengalaman saya, harga sewanya sekitar ¥ 300 untuk menyewa main court (bermain badminton) dengan durasi sekitar 3 jam. Harga sewa ini cukup terbilang murah dibandingkan ketika menyewa lapangan badminton yang dikelola oleh pihak swasta.

Untuk lantai dua, terdapat training room yang biasanya digunakan untuk nge-gym. Fasilitas yang terdapat di tempat nge-gym sendiri bisa dibilang cukup lengkap. Harga tiket untuk bisa menggunakan training room adalah ¥100. Dengan harga yang sangat murah ini, anda bisa berolahraga sepuasnya.

Beberapa fasilitas tambahan yang dapat digunakan secara gratis di gedung ini:

  1. Shower room. Shower room ini berada di lantai 1. Jadi, sehabis berolahraga dapat langsung membersihkan diri di kamar mandi yang telah tersedia. Penggunaan shower ini tidak dikenakan biaya sama sekali.
  2. Locker. Terdapat beberapa (cukup banyak) locker yang terdapat di lantai 2 dan bisa digunakan secara gratis.
  3. Vending machine. Terdapat mesin minuman otomatis yang berada di lantai 1. Tentunya minuman yang tersedia di vending machine ini tidak gratis. Hehehe.

Tokaimura Total Gymnasium

BUKA: 09:00 – 21:30 JST dan 09:00 – 18:30 JST (Hari Minggu dan hari libur).

TUTUP: Hari Senin (Hari Selasa tutup apabila hari Senin terdapat libur nasional), 28 Des – 3 Jan (Libur Akhir dan Awal Tahun).

Berdasarkan pengalaman saya, hari Sabtu dan Minggu siang Gymnasium ini cukup ramai oleh anak-anak sekolah yang mengikuti kegiatan olahraga dari sekolahnya. Sedangkan untuk training room sendiri cukup ramai di malam hari sekitar jam 7 malam.

Advertisements

2. Swimming Plaza

Tepat disebelah Tokaimura Total Gymnasium, terdapat juga kolam renang umum yang dikelola oleh pemerintah. Akan tetapi, kolam renang ini terdapat diluar (outdoor) sehingga tidak bisa beroperasi sepanjang tahun (siapa juga yang mau berenang diluar pada saat musim dingin atau musim gugur..hehe).

Kolam renang yang berada tepat disebelah Tokaimura Total Gymnastics.

Harga tiket sendiri sekitar ¥200 untuk anak SMP maupun orang dewasa, untuk anak SD sekitar ¥100, dan untuk bayi tidak dikenakan biaya (tapi harus ada pendamping).

Swimming pool

1 – 19 Juli dan 21 Agustus – 10 September : 09:00 – 16:00 JST.

20 Juli – 20 Agustus : 09:00 – 19:00 JST.

Karena ini merupakan kolam renang outdoor, maka jam operasional bisa berubah tergantung kondisi cuaca. Selain itu kolam renang akan ditutup sementara untuk perawatan maupun pemeliharan setiap jam 12:00 – 13:00 dan 16:00 – 17:00 JST.

Kedua fasilitas olahraga tersebut hanyalah sedikit fasilitas yang ada di Desa Tokai. Selain itu masih ada kegiatan olahraga lainnya yang diadakan oleh komunitas maupun pemerintah setempat.

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading How I met your mother (1)

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading Sabtu Ceria di Desa Nuklir

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading “One Day Trip” Hokkaido

Main tebak-tebakan yuk..

Hingga saat ini dibeberapa daerah banyak diterapkan WFH. Mari mengisi waktu luang dengan bermain tebak-tebakan yang sederhana. Ini ada satu tebak-tebakan yang sudah lama tapi sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab. 2 + 2 = 4 2 x 2 = 4 Coba cari bilangan lain selain 0 (nol) yang ketika dilakukan operasi matematika dapat … Continue reading Main tebak-tebakan yuk..

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (3)

The 0123, salah satu perusahaan penyedia jasa pindahan di Jepang.

Mahalnya Jasa Pindahan di Jepang

Pada cerita sebelumnya, telah diketahui bahwa pada akhirnya saya hanya bertahan kurang dari satu bulan di Minowa Dormitory dan memutuskan untuk pindah ke dormitory yang lebih dekat dengan stasiun Tokai.

Hal yang harus saya persiapkan sebelum pindahan adalah mencari jasa pindahan. Ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.

Berikut saya tuliskan langkah yang dilakukan ketika hendak menggunakan jasa pindahan.

  1. Mencari perusahaan jasa pindahan. Saat itu saya menggunakan jasa dari perusahaan ” The 0123 “.
  2. Menghubungi perusahaan tersebut untuk membuat janji untuk melakukan Mitsumori (見積り) atau estimation.
  3. Satu orang pegawai perusahaan akan datang ke rumah untuk melihat dan mengestimasikan biaya (Mitsumori (見積り) yang akan dikeluarkan untuk pindahan tersebut. Semakin banyak barang tentunya akan membuat harga semakin mahal. Selain jumlah barang, jarak tempuh juga berpengaruh terhadap harga.
  4. Kalau setuju dengan estimasi harga yang diberikan, maka silahkan membuat janji untuk menentukan tanggal pindah. Kalau tidak setuju dengan estimasi harga yang diberikan silahkan dibatalkan tentunya dengan cara yang baik. Mereka juga tidak akan marah karena hal ini biasa terjadi di dunia usaha.
  5. Pihak perusahaan akan memberikan sejumlah kardus secara gratis apabila menggunakan jasa mereka. Selain itu, mereka juga bisa menangani sampah atau barang yang tidak mau dibawa ke tempat yang baru.
  6. Pembayaran dilakukan setelah semua barang dipindahkan ke tempat tinggal yang baru.
Advertisements

Awalnya saya berpikir bahwa menggunakan jasa pindahan tidak akan begitu mahal karena lokasi pindahan masih di dalam desa Tokai dan jarak tempuh kurang dari 5 km. Selain itu, saya juga tidak mempunyai banyak barang karena hampir semua barang-barang yang ada di apartemen di Tokyo seperti mesin cuci, kulkas, meja makan, rice cooker dll sudah saya hibahkan kepada teman-teman di kampus.

Saat itu, barang yang akan saya bawa ke tempat tinggal yang baru hanya pakaian, buku, TV, meja belajar, peralatan dapur, AC, kasur dan futon.

Berdasarkan kondisi tersebut, tentulah wajar saya membuat asumsi kalau biaya pindahan ini tidak akan begitu mahal. Hingga akhirnya staf tersebut menghitung estimasi biaya yang akan saya keluarkan sekitar ¥ 55.000 diluar biaya pasang AC di tempat tinggal yang baru.

Cukup kaget mengingat dengan jarak sedekat itu biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Jadi teringat semasa tinggal di Kelurahan Miyamae, Kawasaki sering sekali sesama warga Indonesia bahu membahu membantu pindahan sesama warga Indonesia tanpa pamrih dan hanya bermodalkan sewa mobil truk atau pickup (walaupun saya sangat jarang ikutan.. hehe).

Pindahan yang jaraknya masih di dalam Desa Tokai aja harganya segitu ya, gimana pindahan dari Kawasaki ke Desa Tokai ya? Apalagi pindahannya pada saat ‘high season’ sekitar bulan Februari hingga April. Kira-kira bisa kena berapa ya?

Advertisements

Karena ini adalah pengalaman pertama saya, tentunya saya menanyakan kepada teman Jepang mengenai harga yang diestimasikan tersebut. Ternyata teman saya mengatakan harga segitu cukup normal.

Dari sini saya belajar bahwa Jepang adalah negara yang cukup menghargai mereka yang bekerja di bidang jasa. Selain itu cara kerja hingga hasil yang saya terima pun sangat memuaskan.

Pemasangan pelindung pada pintu maupun dinding untuk menghindari kerusakan pada pintu atau barang.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (2)

Salah satu hal wajib yang harus dilakukan ketika pindah di Jepang adalah mengurus administrasi kepindahan. Saya sudah mengantongi surat keluar dari tempat tinggal saya yang dulu. Surat inilah yang harus saya bawa ke Kantor Desa untuk mendaftarkan diri sebagai penduduk di desa Tokai.

Seperti di tulisan saya sebelumnya, pengurusan administrasi di Jepang bisa dibilang cukup mudah dan tidak perlu menggunakan ‘oknum atau calo’ untuk mempermudah urusan.

Baca juga: https://liapto.com/2020/04/28/jepang-mengajarkan-ku-1-taat-administrasi/

Setelah semua urusan administrasi selesai, saya memperoleh bingkisan dari Tokai berupa Buku Panduan Hidup di Desa Tokai.

Banyak hal yang menarik yang ditawarkan oleh desa ini seperti: Informasi transportasi umum, Tempat Wisata di Desa Tokai, Kelas Bahasa Jepang, Pelayanan Taksi Desa, Tempat olahraga dan gymnasium, peta Desa Tokai, dll.

Transportasi Umum

Terdapat beberapa transportasi umum yang bisa digunakan di desa Tokai, yaitu: bus, taksi reguler dan taksi khusus.

  • Bus. Terdapat beberapa rute bus yang ada di desa Tokai. Kami menggunakan rute Tokai Station – Hitachi Seaside Park atau Tokai Station – Ibaraki East Hospital. Kedua jalur bus ini melewati dormitory tempat kami tinggal. Informasi yang terdapat di buku panduan Tokai mengenai jadwal bus sepertinya kurang diperbaharui (2018). Awalnya, saya cukup optimis karena rute tersebut mempunyai jadwal yang cukup banyak (hampir setiap jam ada bus yang lewat melalui rute tersebut). Untuk harga tiketnya sendiri dipatok berdasarkan jarak. Harga tiket dari Tokai Station menuju Hitachi Seaside Park sekitar ¥ 530. Sedangkan dari Tokai Station ke Minowa Dormitory sekitar ¥ 330.
  • Taksi reguler. Hampir sama seperti kebanyakan taksi yang ada di Jepang dimana tarif yang digunakan adalah ¥730 untuk 2 km pertama. Sejauh ini ada dua taksi yang beberapa kali kami gunakan, yaitu JOTO Taxi dan SUN Taxi, terutama pada saat istri sedang hamil.
  • Taksi khusus (Ainori-kun). Taksi ini adalah layanan khusus yang disediakan oleh desa Tokai kepada warganya. Taksi ini bisa menghantarkan kita kemana saja selama itu berada di Desa Tokai. Tarif yang dibayarkan pun cukup murah dibandingkan dengan taksi reguler. Biasanya tarif ini disesuaikan dengan kondisi penumpangnya (ibu hamil, anak kecil, nenek, kakek, orang dewasa) tapi harga paling mahal yang dibayarkan adalah ¥300 untuk satu kali penggunaan jasa Ainori-kun. Untuk mendapatkan jasa taksi ini, kita harus mendaftarkan semua anggota keluarga ke bagian administrasi Ainori-kun yang terdapat di kantor desa Tokai. Karena ini taksi khusus, maka terdapat jam operasional yaitu dari jam 08:00 – 16:30 setiap hari Senin sampai Sabtu. Taksi ini tidak bisa digunakan dihari Minggu maupun hari libur nasional.
Salah satu informasi yang ada di buku panduan Tinggal di Desa Tokai

Dari informasi awal yang saya terima, sepertinya saya cukup optimis untuk tinggal di Minowa Dormitory walaupun lokasinya berada di tengah-tengah persawahan dan tidak ada supermarket atau minimarket di sekitarnya. Akan tetapi, baru seminggu saya tinggal di desa ini, terjadi perubahan jadwal bus dimana jadwal bus di siang hari telah ditiadakan untuk rute Minowa Dormitory – Tokai station. Bagi saya, hal ini tidak begitu bermasalah karena saya berada di lab dari pagi hingga sore hari. Akan tetapi, ini menjadi masalah besar bagi istri. Bagaimana nantinya dia bisa pergi belanja ke supermarket? Bagaimana kalau bosan di rumah dan ingin jalan kota sebelah? Banyak pertimbangan yang akhirnya dipikirkan hanya gara-gara jadwal bus yang berubah.

Advertisements

Pada saat saya pindah ke Desa Tokai, istri sedang berada di Indonesia untuk menyelesaikan beberapa urusan. Hal ini membuat istri belum mengetahui secara langsung kondisi Desa Tokai saat itu.

Melihat situasi tersebut, akhirnya saya berdiskusi dengan pak bos di tempat kerja untuk minta dicarikan dormitory yang lokasinya berada di sekitar stasiun. Bersyukur banget karena pak bos sangat baik hati membantu semua proses dari awal hingga pindah ke dormitory yang baru.

Hasilnya, saya hanya tinggal di Minowa Dormitory kurang dari satu bulan. Setelahnya, kami pun tinggal di dormitory yang baru, Hyakutsukahara Dormitory, dan lokasinya berada di “downtown” desa Tokai dan hanya berjarak sekitar 1.5 km dari stasiun Tokai.

Barang pindahan dari Minowa ke Hyakutsukahara dormitory.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang.

Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah.

Gambaran singkat yang saya peroleh hanyalah dari beberapa teman yang pernah tinggal disini selama beberapa bulan pada saat menjalani internship di perusahaan tempat saya berkerja saat ini, JAEA (Japan Atomic Energy Agency).

Cek Lokasi dari Google Map

Salah satu hal yang sering saya lakukan sebelum pindah adalah menjelajahi desa Tokai secara virtual melalui google map. Hal ini saya lakukan untuk mendapatkan gambaran lokasi kerja, stasiun kereta, hingga suasana lingkungannya. Dari kegiatan ini terangkum bahwa jarak dari Stasiun Tokai ke tempat kerja kurang lebih 5 km dan wilayah yang sebahagian masih berupa hutan atau persawahan.

Tempat Tinggal

Perusahaan tempat saya bekerja memberikan pilihan untuk tinggal di dormitory (asrama) atau mencari apartemen sendiri. Dormitory yang disediakan pun ada untuk yang single maupun yang berkeluarga. Karena saya tidak punya gambaran yang jelas serta tidak mengetahui lokasi desa Tokai dan kota yang ada disekitarnya, maka tinggal di dormitory menjadi pilihan yang saya pilih saat itu.

Hal lain yang tidak saya ketahui adalah, perusahaan ini punya banyak dormitory yang tersebar di beberapa lokasi desa. Hampir diseluruh penjuru desa terdapat dormitory milik perusahaan. Ada yang berlokasi di dekat kantor, ada yang di dekat stasiun Tokai, ada yang dekat ‘pusat desa’ Tokai, hingga ada juga yang di dekat kuburan yang dikelilingi oleh persawahan.

IMG_6521
Minowa Dormitory

Jackpot

Sekitar dua bulan sebelum pindah ke Desa Tokai, perusahaan sudah memberitahukan dormitory yang akan ditempati. Saat itu saya diberikan ijin tinggal di Minowa Dormitory. Langsung saya membuka Google Map untuk melihat lokasi dormitory ini. Hasilnya, dormitory tersebut terletak sekitar 5 km dari Stasiun Tokai dan 3 km dari kantor. Ditambah lagi tidak terdapat supermarket, minimarket, atau bahkan market-market lainnya disekitar dormitory. Hanya ada persawahaan, kuburan, dan bahkan tidak ada rumah warga disekitarnya.

Jackpot sekali saya dapat dormitory ini.

IMG_6520
Pemandangan sekitar dormitory.

Hari Pertama di Desa Tokai

Hari pertama saya tiba di desa Tokai berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan ketika pertama kali tiba di Tokyo.

Saya sengaja pindah ke Desa Tokai pada hari Sabtu sehingga bisa beristirahat dan mengenal lingkungan sekitar sebelum memulai kerja di Hari Senin.

Saya tiba di Stasiun Tokai sekitar pukul 19:30 JST.  Tidak tampak banyak orang berlalu lalang di sekitar stasiun bahkan sulit melihat kendaraan yang melaju di sekitar stasiun. Suasana yang sangat berbeda jauh dengan tempat tinggal sebelumnya. Tapi, gedung AEON 3 lantai yang berdiri di depan stasiun cukup meyakinkan bahwa Desa Tokai ini bukanlah desa yang bisa dipandang sebelah mata saja.

IMG_6362
Stasiun Tokai di malam hari.

 Mumpung ada AEON, saatnya menikmati makan malam di desa ini sambil membeli sedikit makanan dan minuman untuk persediaan di hari esok. Tentu, saya tidak mau bersikap bodoh dengan tidak membeli apapun  di AEON mengingat saya tidak mengetahui dimana lokasi convenience store atau sejenisnya di dekat dormitory.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:00 JST. Saya pun hendak menuju ke dormitory untuk beristirahat.

Dari Stasiun Tokai ke Minowa Dormitory bisa ditempuh menggunakan bus atau taksi. Biaya yang dibutuhkan dengan bus sekitar ¥350 sedangkan dengan taksi sekitar ¥2.000. Tentulah menggunakan bus menjadi pilihan yang utama tetapi saat itu saya baru menyadari bahwa jadwal bus terakhir dari Stasiun Tokai adalah pukul 20:34 JST ditambah lagi tidak setiap jam ada bus yang beroperasi.

Hal ini tentunya hal pertama yang cukup mengagetkan ketika tinggal di desa Tokai.

Mau tidak mau saya pun harus menggunakan taksi menuju dormitory. Betapa kegetnya saya karena sepanjang perjalanan menuju dormitory tidak ada apapun selain hamparan sawah, tanah kosong, dan beberapa pabrik. Hanya ada satu minimarket dan itu berjarak sekitar 2 km dari stasiun ditambah lagi rute tercepat menuju dormitory memiliki beberapa tanjakan dan turunan.

Hal itu menjadi hal kedua yang membuat saya cukup kaget ketika baru sampai di Desa Tokai.

Baru tiba di Desa Tokai dan belum sampai ke dormitory saja, saya sudah dikagetkan dengan dua hal tersebut. Hal yang belum pernah terjadi selama tinggal di Tokyo.


 

Cerita lainnya: Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Celotehan Suami Istri (CSI): #11. Misteri hilangnya tepung roti.

Rasa penasaran mami Henokh semakin menggebu-gebu belakangan hari ini.

Dari sekian banyak roti yang dibuat mulai dari roti tawar, roti isi coklat dan aneka macam isi, hingga pizza telah berhasil disajikan sebagai cemilan rumah. Namun, ada satu jenis roti yang masih belum berhasil dengan sempurna disajikan walaupun sudah beberapa kali dicoba.

Akhir pekan yang lalu, mami Henokh pun hendak mencoba membuat roti tersebut. Akm tetapi dia baru sadar kalau tepung roti di rumah sudah habis.

Advertisements

L : Sayang, jaga Henokh ya. Aku mau ke AEON beli tepung.

I : Lah, itu yang dirak gak tepung?

L : Yang protein tinggi lohhhh..

I : Lah, emangnya ada bedanya? Sama aja kulihat semuanya itu bentuknya. Hahaha.

L : 😤😤

I : Yowes pergilah. Jangan lama kali.

Mami Henokh pun bergegas pergi dengan mengayuh sepeda menuju AEON. Jarak dari rumah ke AEON sekitar 1.5 km.

10 tahun kemudian…

I : Busettt.. lama kali bah mau beli tepung aja. Yang sampai ke Tokyo kau beli tepungnya?

L : (sambil napas ngos-ngosan) Aduhh gak ada tepungnya di AEON. Udah kukelilingi semua supermarket di desa Tokai ini. AEON, YORKBENIMARU, FOOD OFF, KAZUMI, MATSUMOTOKIYOSHI. Udah capek kali aku.

I : Hahhh.. itu namanya kau keliling desa..🤣

L : Tadi kan udah kubilang. Kau gak percaya.

Hingga tulisan ini diterbitkan tepung tersebut masih belum diketahui keberadaannya.

Adakah yang mempunyai kasus yang sama di sekitar daerahnya?

🧐🧐🧐

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. Mau makan tepung?

Mami Henokh sedang memulai hobi baru ditengah kondisi work from home yaitu membuat roti.

Hal utama yang menjadikan ini hobi baru mami Henokh adalah sang suami dan anak yang doyan makan roti.

Beberapa minggu lalu, mami Henokh pergi ke grosir (Costco) untuk membeli kebutuhan mingguan. Sesampainya dirumah, dia langsung memulai obrolan sebagai berikut:

L : Sayang, tadi aku nemu tepung roti. Tapi masih galau mau beli sekarang atau besok-besok aja.

I : Kenapa emangnya? beli aja lah.

L : Harganya sekitar ¥3.000.

I : Hahhhhh.. Tepung roti apaan segitu harganya?

L : Ukuran 20 kg lohhhh…

I : Hahhhhh.. 20 kg? Mau makan tepung kita bulan ini? Beras kita sebulan aja gak nyampe 10 kg loh.

L : Iya jugakk.. Yaudah ntar aja deh kubeli.🤣

Minggu lalu, mami Henokh pun pergi ke Costco untuk kembali membeli buah dan kebutuhan dapur lainnya.

Sesampainya di rumah, dia langsung histeris bercerita:

L: Tepungnya Habis!!! Aku menyesal tidak membelinya.

I : Hehhh.. habis??? Tapi beras masih ada kan?

L : Iya masih ada dijual.

I : Wahh, syukurlahh gak jadi makan tepung kita..hahaha

L : 😐😐😐

Dampak COVID19 terhadap tagihan air (PAM) di Desa Tokai Jepang

Air adalah salah satu sumber utama dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak kegiatan sepanjang hari yang membutuhkan air mulai dari mandi, minum, hingga mencuci pakaian.

Sejak menyebarnya kasus COVID19 di prefektur Ibaraki, tingkat pemakaian air pun semakin meningkat di rumah. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh istri adalah wajib mandi setelah keluar dari rumah. Selesai bermain di taman sebelah rumah pun harus mandi lagi. Intensitas mandi berdampak juga terhadap intensitas penggunaan mesin cuci karena semua pakaian wajib langsung dicuci apabila sudah dipakai keluar rumah. Tentulah kedua hal ini berdampak langsung terhadap kenaikan volume penggunan air sepanjang periode bulan Maret hingga Mei sebesar 7 m³.

Tentu saja dampak kenaikan penggunaan air ini akan berakibat terhadap kenaikan tagihan air, bukan?

Tagihan air di Desa Tokai

Tagihan air sedikit berbeda dengan tagihan listrik maupun gas. Tagihan air dibayarkan setiap dua bulan sekali. Selain itu, tagihan air di Desa Tokai dikatagorikan kedalam dua bagian, yaitu: penggunaan air (PAM) dan air limbah.

Untuk sistem pembayaran air, bisa dilakukan dengan manual (bayar melalui minimarket) ataupun auto debit.

Kami sendiri biasanya menggunakan sekitar 30 hingga 40 m³ air selama dua bulan untuk kebutuhan sehari-hari dengan total tagihan sekitar ¥ 8.000 hingga ¥ 12.000.


Kasus luar biasa pernah terjadi di musim dingin (Nov – Jan) dimana pemakaian air melonjak hingga 60 m³. Saat itu, petugas air datang sampai datang ke rumah untuk melakukan pengecekan apakah terdapat kebocoran saluran air.


Dampak COVID19

Tidak bisa dipungkiri bahwa COVID19 telah memberikan dampak yang begitu besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap banyak sektor kehidupan, salah satunya adalah dampak ekonomi.

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah (Desa Tokai)  memberikan bantuan subsidi biaya air kepada rumah tangga maupun pelaku usaha yang ada di Desa Tokai. Bantuan ini berupa penggratisan atau keringanan untuk biaya air (PAM) sedangkan untuk biaya air limbah tidak mendapatkan subsidi untuk periode pemakaian di bulan April dan Mei.

Kebijakan ini bisa jadi berbeda ditiap-tiap daerah. Untuk lebih jelasnya silahkan dicek di website daerah masing-masing.

PQCME3499
Biaya air (PAM) ¥0 dan biaya limbah ¥ 4.850.

Sumber

https://www.vill.tokai.ibaraki.jp/kurashi_tetsuzuki/jo_gesuido/4868.html