Kejujuran pegawai bengkel sepeda di Desa Tokai Jepang.

Ilustrasi sepeda.

Hari Senin kemarin, saya baru menyadari ada keretakan pada ban sepeda bagian depan. Oleh karenanya, pulang dari lab, saya langsung ke bengkel sepeda yang ada di dekat Stasiun Tokai. Sesampainya disana sekitar jam 7 malam, ternyata teknisi yang bisa memperbaiki sepeda sedang tidak ada di tempat. Hanya ada pegawai lainnya yang kurang paham tentang kondisi ban sepeda tersebut.

Pegawai tersebut menyarankan saya untuk setidaknya memilih jenis ban sepeda yang akan dibeli dan menjelaskan estimasi harga yang akan dikenakan untuk ban dan jasa pemasangan. Selain itu, dia menyarakan agar sepedanya ditinggal saja dan besok akan diperiksa oleh teknisi.

Mendengar hal tersebut, saya pun menyanggupi dan meminta untuk dilakukan pengecekan juga dengan ban belakangnya. Selanjutnya, pegawai tersebut menjelaskan bahwa harga 1 ban sekitar ¥1.200 dimana biaya pemasangan ban depan ¥1.000 dan pemasangan ban belakang ¥1.800. Berdasarakan penjelasannya, pemasangan ban belakang lebih rumit dibandingkan dengan ban depan sehingga harganya lebih mahal. Sehingga total biaya yang akan saya keluarkan adalah sekitar ¥5.000.

Cukup mahal juga ya untuk biaya mengganti ban sepeda mengingat bahwa dengan uang sekitar ¥12.000 sudah bisa dapat sepeda baru.

Setelah menjelaskan hal tersebut, pegawai tersebut meminta nomor yang bisa dihubungi dan teknisi akan langsung menjelaskan kondisi ban sepedanya melalui telepon.

Keesokan harinya, saya pun mendapatkan telepon dari teknisi tersebut. Setelah menjelaskan panjang lebar penjelasannya melalui telepon, sang teknisi pun menyimpulkan bahwa ban sepeda masih dalam kondisi baik. Sehingga tidak perlu mengganti ban depan dan ban belakang. Selanjutnya, saya diminta untuk mengambil sepeda tersebut dan tidak ada biaya apapun yang saya keluarkan pada saat mengambil sepeda dari bengkel.

Kejujuran

Kejadian seperti ini bukan pertama kali saya alami di Jepang, ada juga kejadian ketika memanggil jasa bongkar pasang AC. Teknisinya dengan jujur memberitahukan kondisi AC baik itu freon dan gas (untuk heater di musim dingin). Padahal kalau mereka mau bohong juga bisa, toh saya juga tidak begitu paham dengan hal-hal tersebut. Tapi mereka memilih untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen.

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab. Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”. 08.00 JST Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe Jam kerja yang … Continue reading Kerjaan seorang peneliti nuklir

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)

Bagi saya, pengalaman menulis karya ilmiah yang hendak dipublikasikan di Jurnal Internasional masih terbilang cukup baru. Pengalaman pertama ini dimulai sekitar tahun 2015 dimana saya publikasi di jurnal internasional menjadi salah satu syarat kelulusan program studi S3. Proses menulis sebuah karya ilmiah ternyata cukup mengasyikkan. Di tempat kerja saat ini pun, kita diwajibkan untuk menghasilkan karya tulis yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Seperti yang saya tuliskan pada cerita sebelumnya*, bahwa salah satu strategi untuk bisa lulus tepat waktu pada saat mengambil program S3 adalah memahami proses dan alur mulai dari pendaftaran karya ilmiah di jurnal internasional hingga tahap publikasi.

*Tulisan sebelumnya: https://www.travelingajadulu.com/asia/jepang/beasiswa-s3-di-jepang/

Proses inilah yang sering saya ungkapan sebagai salah satu faktor external dalam menentukan seseorang dapat lulus tepat waktu atau tidak.

Puji Tuhan di tahun 2020, baru saja salah satu tulisan saya diterima di salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Saya akan berusaha menjabarkan proses yang harus dilalui hingga waktu yang dibutuhkan mulai saat menulis draf, mendaftar, review, diterima dan dipublikasikan.

1. Menulis karya ilmiah.

Saya memulai menulis draft sekitar bulan November 2019. Setelah selesai menulis, draft tersebut harus saya berikan terlebih dahulu kepada para co-author untuk diperiksa. Proses revisi yang berasal dari para co-author ini memakan waktu hingga bulan Februari 2020. Cukup lama yaa.. Hehe.

Berdasarakan catatan saya, draft tulisan saya direvisi hingga 11 kali. Haha

2. Pendaftaran ke Jurnal Internasional.

Saya mendaftarkan tulisan saya sekitar pertengahan Maret 2020 ke salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Ada beberapa dokumen yang perlu diupload ketika hendak mendaftar, yaitu: tulisan ilmiah (manuscript), cover letter, highlights, dll.

Advertisements

Setelah proses pendaftaran selesai, maka kita akan menerima email konfirmasi. Selain itu, di email tersebut akan diberikan link untuk melihat status tulisan yang kita daftarkan.

Sebelum mendaftarkan, ada baiknya tulisan kita sudah dicek terlebih dahulu oleh Native English Speaker.

3. Durasi review

Setiap jurnal memiliki proses review yang berbeda-beda khususnya untuk durasi waktu. Ada yang cepat dan ada yang lama dalam proses review ini. Saya sendiri tidak tahu waktu pastinya, biasanya saya memberikan waktu dua bulan untuk proses review tersebut. Artinya, saya akan bertanya melalui email ke editor apabila tidak ada kabar terbaru mengenai perkembangan tulisan saya setelah dua bulan. Akan tetapi, ada kalanya belum sampai dua bulan sudah ada balasan mengenai status tulisan saya (berdasarkan pengalaman pada tulisan-tulisan ilmiah sebelumnya).

Oleh karena itu, sangat penting untuk diketahui dengan baik aturan main tempat dimana kita akan mendaftarkan tulisan tesebut.

4. Durasi revisi

Pada tanggal 25 Mei 2020, akhirnya saya menerima email dari editor bahwa tulisan saya sudah direview oleh beberapa reviewer dan terdapat beberapa komentar dan saran dari baik itu dari reviewer maupun editor. Dari komentar-komentar tersebut, editor meyimpulkan bahwa tulisan saya masuk dalam katagori “Revisi Minor”. Saya diberikan waktu sekitar dua bulan untuk menjawab pertanyaan para reviewer serta merevisi tulisan tersebut.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, waktu dua bulan tersebut terkadang belum cukup. Apabila terjadi kondisi seperti ini, silahkan menghubungi editor melalui email untuk meminta perpanjangan waktu.

Salah satu tahapan yang dilalui saat hendak melakukan publikasi di jurnal internasional

5. Pengumpulan revisi

Setelah selesai merevisi tulisan tersebut, maka pada tanggal 12 Juni 2020 saya mengumpulkan kembali tulisan yang sudah direvisi. Biasanya, satu atau dua hari selanjutnya akan ada email konfirmasi yang menyatakan “Editor Handle your revised submission of xxxxxxxxxx”

6. Status Akhir

Pada tanggal 19 Juni 2020, saya mendapatkan email pemberitahuan bahwa tulisan saya sudah DITERIMA dan akan diproses untuk diterbitkan.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan setelah pengumpulan revisi pertama akan ada revisi kedua. Pengalaman lain yang pernah saya alamai adalah memperoleh “Major Revision” setelah saya mengumpulan hasil revisi pertama. Padahal status yang saya peroleh pada revisi pertama adalah “Minor Revision”. Meskipun pada akhirnya tulisan itu bisa dipublikasikan setelah melalui dua kali revisi oleh reviewer. Kondisi seperti ini tentunya akan memperpanjang proses penilian dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman ini, butuh waktu sekitar 7 bulan mulai dari proses penulisan hingga diterima di jurnal internasional. Untuk proses mulai dari pendaftaran hingga diterima di jurnal internasional sendiri membutuhkan sekitar 3 bulan. Perlu diperhatikan bahwa 3 bulan yang saya peroleh disini sangat tergantung pada komentar dan saran dari para reviewer.

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading How I met your mother (1)

Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Bagi banyak orang, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri. Tidak hanya pengalaman, namum gaji yang lebih besar bisa jadi daya tarik utama ketika memutuskan bekerja di luar negeri. Ketika saya pulang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang, baik saudara maupun teman yang ingin bekerja di Jepang. Kebanyakan karena diimingi gaji hingga belasan juta … Continue reading Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Celotehan Suami Istri (CSI): #12. Drama Hujan Dadakan

Malam ini, kami sedang menikmati malam sambil bercerita santai ditemani oleh anak kami, Henokh, yang sedang ikut duduk sambil mendengar orangtuanya bercerita.

Salah satu kejadian yang membuat kami tertawa terbahak-bahak hingga Henokh heran, adalah kisah di bulan September 2019. Kejadian di hari Minggu sore yang tidak mungkin kami lupakan.

Seperti biasanya, hari Minggu kami cukup sibuk untuk mempersiapkan diri berangkat ke gereja. Ibadah gereja yang dimulai pukul 18:00 JST membuat kami harus mempersiapkan banyak hal terutama untuk Henokh. Setiap minggu, kami berusaha untuk tiba di gereja sekitar pukul 17:00 – 17:30 JST untuk mempersiapkan beberapa hal sebelum ibadah dimulai.

Pagi harinya, kami melihat ramalan cuaca yang memberitahu akan ada hujan di sore hari sekitar pukul 16:00 hingga malam hari. Untuk mencegah kehujanan, kami pun berencana berangkat lebih cepat dari rumah dengan menggunakan bus menuju stasiun Tokai. Berdasarkan informasi dari Google Map, ada bus dari halte di dekat rumah pukul 14:49 JST. Karena jarak dari rumah ke halte sekitar 5 menit jalan kaki, maka kami pun keluar dari rumah pukul 14:35 JST.

Karena kami tahu akan turun hujan, maka kami tidak membawa stroller Henokh supaya lebih ringkas.

Menunggu Bus

Halte busnya hanya berupa tiang kecil berisi jadwal kedatangan bus dan tidak mempunyai tempat duduk dan tempat berteduh.”

Mami Henokh dan Halte bus.

Kami tiba lebih cepat di halte bus dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 JST tapi bus juga belum tiba. Hal yang wajar ketika bus datang terlambat karena ada kemungkinan terjadi kemacetan.

Hujannya Turun

Masih asik mengobrol sambil menunggu bus, tiba-tiba tanpa pemberitahuan ataupun aba-aba hujan turun dengan derasnya. Otomatis, kami langsung membuka payung dan diam di tempat.

L: Sayang, hujannya deras amat nih. Payungin bagian belakangku biar gak basah. Aku mayungin bagian depan biar Henokh gak basah.

I: OK. Tapi aku jadi basah cui. Gimana ini, mana busnya gak muncul-muncul. Mau nunggu atau telpon taksi?

L: Nunggu aja 5 menit lagi.

Hujan masih turun dengan lebatnya, celana bagian bawah sudah mulai basah, sepatu juga sudah mulai basah.

I: Sayang, kaos kaki mu basah gak?

L: Nggak sih, kenapa?

I: Aseemmm, berarti sepatuku bocor nih bagian bawahnya, kaos kakiku udah terendam air. Kebanjiran sepatu sebelah kanan. Pulang dulu aja lah kita, nanti naik taksi aja dari rumah ke stasiun.

L: Yakin?

I: Hemmmm, nunggu dulu aja deh 5 menit lagi.. Hahaha

L: Henokh gimana? Basah gak gendongannya?

I: Henokh aman, kakiku yang gak aman, udah terendam air yang sebelah kanan. Ayok pulang aja dulu.

Akhirnya, kami pun menyebrang jalan hendak menuju ke rumah.

I: Sayang, ayo nyebrang lagi!!!! Itu busnya udah mau datang…Dikerjain sama bus bah kita.

L: Huahahahaha..

Kami pun bergegas menyebrang kembali menuju halte bus. Bersamaan dengan itu, tiba juga akhirnya bus yang ditunggu-tunggu. Sambil sedikit menggerutu dengan bahasa Indonesia, kami pun naik ke dalam bus.

Ya ampun, ternyata ada dua orang ibu-ibu Indonesia di dalam bus tersebut yang sepertinya mendengar ocehan kami. Hahaha.

Sambil kenalan singkat, ternyata mereka bekerja di salah satu lembaga pemerintahan yang sedang mengikuti traning di tempat saya bekerja.

Perkenalan dan cerita yang sangat singkat mengingat jarak dari halte tersebut menuju stasiun hanya berkisar 5 menit menggunakan bus.

Dibecandain sama hujan

Belum lagi sampai di stasiun, hujan sudah berhenti total. Benar-benar berhenti dan langit langsung cerah lagi. Awan hitam yang berada di Desa Tokai selama 20 menit tersebut hilang ntah kemana.

Ya ampun, rencana mau berangkat cepat biar gak kehujanan, malah jadi kehujanan. Hahaha

I: Sayang, ayo beli sepatu sama kaus kaki dulu di toko sepatu yang di Stasiun Mito.

L: Hahhh? Beli sepatu? lah kan yang basah kaos kaki?

I: Lah, kalau beli kaus kaki doank, ntar basah lagi donk kakiku. Kan yang bermasalah sepatunya.

L: Pandai kali bah, sengaja kau kan pakai sepatu yang bocor biar bisa beli sepatu lagi. Itu di lemari masih ada sepatumu.

I: Hahahaha…

Kejadian ini cukup membuat Laura tertawa terpingkal-pingkal kalau mengingat kejadian itu.

Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.

CSI (Celotehan Suami Istri) Sebagai pasangan suami istri, tentunya kami sering ngobrol ngalur ngidul di meja makan. Mulai dari hal serius sampai hal receh. Mulai dari masa depan, pekerjaan, anak, hingga gosip. Ini adalah salah satu ceritanya. Laura sudah hampir 7 tahun ini bermain di dunia persahaman. Walaupun belum bisa di bilang expert (ahli) tapi cukup … Continue reading Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah … Continue reading Perlu gak ya Dana Pensiun?

Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda. Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan … Continue reading Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda.

Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan tetapi, kami mengganti tujuan awal dari hanya sekedar berkeliling menjadi pergi ke kota Hitachinaka untuk melihat toko barang bekas yang cukup terkenal yaitu WonderREX. Kami sudah beberapa kali ke toko ini untuk mencari banyak barang mulai dari barang elektronik, perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak. Tetapi, hari ini adalah pertama kalinya kami berangkat kesana dengan sepeda.

Jalur dan Waktu Tempuh

Untuk menuju ke WonderREX di kota Hitachinaka, ada beberapa rute yang bisa ditempuh. Biasanya kami menggunakan rute 248 apabila kesana dengan menggunakan mobil. Dengan menggunakan rute ini, jarak dari rumah menuju WonderREX sekitar 10 km, dimana dengan menggunakan mobil dapat ditempuh sekitar 20 menit. Sedangkan dengan berjalan kaki dapat ditempuh sekitar 1.5 jam. Ini adalah rute tersingkat dan yang paling mudah dihapal jalannya.

Rute lainnya adalah menggunakan rute 31 ditambah rute yang melewati perumahan. Rute ini lebih lama dan terlalu banyak belokan-belokan. Ditambah lagi karena rute ini belum pernah kami lalui, maka kami tidak mau mengambil resiko.

Dengan pilihan rute yang ditawarakan oleh Google Map, maka untuk berangkat ke Kota Hitachinaka kami memutuskan menggunakan rute 248.

Persiapan

Kami akan menggunakan dua sepeda, dimana Laura dan Henokh akan berada di satu sepeda, sedangkan saya berada di sepeda yang satunya. Karena perjalanan ini menggunakan sepeda, tentunya tidak memungkinkan kami untuk membeli barang-barang yang besar dan memang pada dasarnya tujuan kesana hanya untuk sekedar mengecek barang.

Karena Henokh masih berusia satu tahun lebih sedikit, maka kami pun perlu mempersiapkan perlengkapan mulai dari popok, makan siang, cemilan, minum, hingga baju ganti. Sedangkan saya dan istri, mempersiapkan baju ganti karena kemungkinan besar akan berkeringat setelah 10 km bersepeda.

Berangkat

Sekitar pukul 10:30 JST, kami pun berangkat dan cuaca cukup mendukung (tidak panas dan tidak mendung). Tidak ada masalah berarti di 2 km pertama karena jalur ini adalah jalur yang sehari-hari saya gunakan menuju ke tempat kerja. Pada umumnya, kami bersepeda di jalur pedestrian tapi terkadang kami harus masuk ke jalur umum (mobil) karena jalur pedestriannya cukup sempit dan dipenuhi oleh ilalang sehingga tidak bisa dilalui dengan aman. Hal ini cukup wajar mengingat tidak banyak orang yang berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda yang melewati jalur 248 ini.

Rute berangkat melalui Jalur 284.

Setelah 30 menit bersepeda, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati minuman yang kami bawa. Henokh sangat menikmati perjalanan dengan menikmati pemandangan sawah dan ladang yang terhampar disepanjang jalan.

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju WonderREX di kota Hitachinaka. Menurut informasi dari Google Map, kami masih harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan lagi. Kali ini bukan hamparan sawah maupun ladang lagi yang kami temui, melainkan bangunan pertokoan, rumah, supermarket hingga perusahaan Hitachi. Dengan begitu artinya kami sudah masuk ke kota Hitachinaka. Dari Jalur 248 kami harus belok kanan ke jalur 169 karena WonderREX terletak di jalur 169. Pedestrian di jalur 169 jauh lebih luas dibandingkan jalur 248 sehingga membuat kami cukup nyaman dalam bersepeda.

Cuci Mata

Sesuai dengan rencana awal, tujuan ke WonderREX kali ini adalah sekedar cuci mata dan survey barang. Ternyata barang yang mau disurvey sedang tidak ada dijual. Karena kami datang di bulan Juni yang artinya sebentar lagi mau musim panas, maka banyak sekali dijual peralatan untuk berselancar dan sejenisnya.

Advertisements

Oiya, Kota Oarai yang hanya berjarak sekitar 15 km dari kota Hitachinaka terkenal dengan pantai dan ombaknya. Sehingga di musim panas, banyak sekali orang yang berkunjung ke kota Oarai”.

Karena tidak ada barang yang mau dicari, akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan siang di sekitar WonderREX. Pilihan utamanya jatuh ke Pizza Domino yang ada di seberang WonderREX. Ternyata, di tempat tersebut tidak bisa makan ditempat, hanya boleh pesan dan dibawa pulang (take out). Alhasil, kami harus mengganti pilihan tempat makan.

Makan Siang

Akhirnya kami memutuskan untuk bersepeda menuju persimpangan jalur 169 dan 248 karena tepat di pojok jalur tersebut terdapat McD. Tempat yang cukup apabila membawa anak bayi. Tentu saja, kami membawa makanan sendiri untuk Henokh karena belum banyak pilihan menu yang bisa dimakannya disini.

“Ketika kami berpergian jauh, biasanya kami membawa dua jenis makanan untuk Henokh: 1. Makanan yang dimasak sendiri dirumah. 2. Makanan instan untuk bayi yang bisa dibeli di supermarket maupun toko-toko perlengkapan bayi.”

Setelah selesai melepas lelah dan beristirahat sekitar satu jam di McD, kami pun berencana melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Tokai. Tapi, kami akan pulang dengan menggunakan rute yang berbeda. Hal ini karena mempertimbangkan jalur 248 yang mulai ramai menjelang sore hari serta jalur pedestriannya yang cukup sempit di beberapa tempat.

Rute Baru Penuh Kejutan

Rute yang kami tempuh lebih ribet karena akan melewati jalur-jalur kecil dan bukan jalur utama. Butuh waktu sekitar 1.5 jam apabila ditempuh dengan jalan kaki. Dari sini, kami mengasumsikan bahwa waktu tempuh dengan sepeda kurang lebih satu jam. Kami bersepeda dengan santai dan berhenti beberapa kali karena salah masuk jalan. Ada kalanya menemukan jalan buntu di dekat Stasiun Sawa, ada kalanya harus putar balik karena ada perbaikan atau pembukaan jalan baru, dan yang paling jackpot adalah menemukan ular di jalur pedestrian.

Rute perjalanan pulang melalui jalan “tikus”.

“Saat itu, istri sedang berada di posisi depan dan saya mengikuti di belakang. Tiba-tiba istri teriak, “Ularrrrr!!”

Di jalur yang baru pertama kali kami lalui ini, ternyata ada dua tempat dimana kami sangat terpukau akan suasana semacam komplek perumahan. Bukan seperti perumahan yang ada di Indonesia yang ada gerbang utama dan rumah yang seragam jenisnya. Ini hanya sebuah wilayah yang ditata sedemikian rupa sehingga rumah-rumah tersusun rapi tanpa pagar. Ini mengingatkan kami seperti daerah perumahan yang ada di sekitar tempat kami tinggal dulu (Miyamae-ku).

“Sepertinya akan jadi kandidat lokasi nih kalau masih lama tinggal di Jepang”, celetuk Laura sambil tetap mengayuh sepeda listriknya dengan santai.

Tidak jauh dari situ, kami sudah melihat bangunan yang tidak asing lagi dikunjungi oleh Henokh, Perpustakaan Desa Tokai. Wah, ternyata lokasi perumahan tersebut terletak di perbatasan antara kota Hitachinaka dan desa Tokai.

Bermain di Taman

Sepanjang perjalanan pulang, ternyata Henokh tidur dengan lelap di sepeda karena memang angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan lembut. Sebelum ke rumah, kami memutuskan untuk bermain di taman karena Henokh baru saja bangun dari tidurnya. Seperti biasanya, “Taman Yoku” (nama yang kami berikan untuk taman tersebut) di hari Sabtu cukup ramai dengan anak-anak yang sedang bermain dengan orangtuanya. Dan seperti biasanya juga, Henokh pun langsung bersemangat begitu turun dari sepeda dan segera berlari menuju tempat perosotan anak.

Sabtu Ceria

Begitulah cerita kami menghabiskan waktu bersama di hari Sabtu. Kadang kami bermain diluar, terkadang juga hanya dirumah saja. Hari Sabtu adalah salah satu hari dimana kami berusaha membuat banyak memori indah untuk kami bertiga.

Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi … Continue reading Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

5 Etika yang perlu diketahui sebelum ke Jepang.

Sudah sering dengar pepatah ” Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” kan? Pepatah ini tentulah sangat tepat bagi kita yang hendak datang berwisata atau berkunjung ke tempat yang baru. Salah satu negara yang banyak dikunjungi untuk berwisata adalah Jepang.

Sebelum kita berkunjung, ada baiknya kita pahami dulu lima etika yang ada di Jepang.

  1. Budaya Antri. Etika mengantri bisa terlihat dibanyak tempat di Jepang, seperti mengantri di stasiun, mengantri di restoran, mengantri di toilet umum, dll.
    • Antri di Stasiun. Bagi mereka yang hendak menggunakan kereta, maka wajib diketahui bahwa kita harus mengantri di jalur yang sudah ditentukan. Selain itu, utamakan penumpang yang hendak keluar dari kereta.
    • Antri di Restoran. Pada saat jam makan siang maupun makan malam, banyak restoran yang terkadang penuh hingga membuat pelanggan harus menunggu. Demi menjaga ketertiban, biasanya tuliskan nama dan jumlah orang yang hendak makan di kertas yang sediakan. Selanjutnya, silahkan mengantri di tempat yang sudah disediakan.
    • Antri di Toilet (pria). Biasanya ada dua jalur, yaitu antrian untuk buang air kecil dan buang air besar. Perhatikan posisi anda sudah di jalur yang benar.
  2. Tepat waktu. Hampir semua orang sudah mengenal Jepang dengan tepat waktunya. Kalau anda melihat jadwal kedatangan kereta di stasiun tertulis 15:32, maka kereta itu pasti akan datang jam 15:32. Demikian pula ketika hendak menghadiri pertemuan (meeting) dengan orang Jepang. Kalau acara dimulai pukul 13:10, maka dipastikan acara akan dimulai pukul 13:10 meskipun semua peserta sudah berada di dalam ruangan dari pukul 13:00.
  3. Eskalator. Ada hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan eskalator. Hal ini sangat penting diketahui demi menjaga kenyamanan bersama di ruang publik. TOKYO sekitarnya: Silahkan gunakan jalur sebelah kiri apabila hendak berdiri di eskalor, dan silahkan gunakan jalur di sebelah kanan apabila ingin mendahului sambil berjalan di eskalator. Osaka: Posisinya berkebalikan dengan yang diterapkan di Tokyo.
  4. Tidak ada uang tip. Sehabis makan di restoran, menginap di hotel, menggunakan jasa perjalanan, maka cukup mengucapkan terima kasih tanpa harus memberikan uang tip.
  5. Buang sampah sesuai jenisnya. Hal yang terakhir ini mungkin sangat membingungkan bagi banyak orang asing. Peraturan pengkatagorian sampah berbeda-beda hampir disetiap kota. Tetapi pada umumnya penggolongan ini bisa dibagi menjadi empat, yaitu: sampah bakar, sampah plastik, sampah botol dan sampah kaleng. Keempat jenis katagori ini paling sering ditemukan di tempat umum seperti stasiun kereta, minimarket dan mall (area food court). Sedangkan bagi mereka yang hendak tinggal di Jepang untuk sekolah, kerja, dll maka wajib membaca aturan dan pengkatagorian sampah yang lebih detail. Contoh: di Desa Tokai, untuk sampah botol maka tutup botol dan label plastik yang biasanya ada di botol masuk kedalam katagori sampah bakar. Sedangkan botolnya masuk ke sampah botol.

Demikianlah sekilas informasi mengenai beberapa hal yang perlu kita pahami sebelum datang ke Jepang.

Pengalaman ketinggalan barang di Stasiun Tokai Jepang

Memasuki bulan Juni di Jepang artinya mempersiapkan diri akan datangnya musim hujan, dimana hujan bisa datang sepanjang hari dengan intensitas yang berbeda-beda. Hal ini tentunya perlu diantisipasi dengan membawa payung. Untuk jenis payung sendiri, saya menyarankan belilah payung yang tahan angin sehingga dapat digunakan pada musim hujan di bulan Juni dan musim taifun disekitar bulan September. Mungkin salah satu jenis payung yang paling ikonik dari Jepang adalah payung transparan (bening). Payung ini bisa dijumpai hampir disetiap convenience store (konbini) maupun supermarket. Payung ini bisa digunakan dengan baik di musim hujan saat ini, tetapi tidak saya rekomendasikan digunakan pada saaat musim hujan disertai taifun karena besar kemungkinan akan rusak.

Kembali lagi ke judul diatas, hari Minggu ini saya berencana untuk pergi beribadah ke Gereja di kota Oarai. Kota Oarai sendiri terletak sekitar 30 km dari Desa Tokai dan satu-satunya transportasi umum yang bisa mencapai kota ini adalah kereta.

Sayangnya, sejak hari Sabtu hujan terus menerus turun hingga hari Minggu sore sekitar pukul 15:30 JST. Hal tersebut membuat saya harus membawa payung. Kebetulan intensitas hujan yang turun sedikit berkurang sehingga saya bisa berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda ke Stasiun Tokai.

Sesampainya di Stasiun Tokai, tidak lupa saya membawa serta payung untuk berjaga-jaga apabila di kota Oarai sedang hujan dan saya harus berjalan kaki dari Stasiun Oarai menuju gereja.

Advertisements

Karena sepanjang jalan tadi hujan yang turun cukup membuat jaket yang saya pakai basah, akhirnya saya pun bergegas ke toilet di dalam stasiun untuk berbenah. Setelahnya, saya duduk sebentar di bangku yang tersedia di dalam stasiun sambil merapikan isi tas bawaan saya. Tidak lupa pula, payung tersebut saya gantungkan di tiang yang ada disamping bangku.

Setelah selesai merapikan isi tas, saya langsung turun menuju platform karena kereta yang akan menuju Stasiun Mito (stasiun transit sebelum menuju Oarai) akan berangkat pukul 16:02 JST.

Sejak pandemi COVID19 ini menyebar hingga status emergency di Jepang (khususnya Ibaraki) sudah dilepas, tetapi jumlah penumpang kereta masih sangat sedikit dibandingkan kondisi sebelum COVID19“.

Tidak ada hal spesial sepanjang perjalanan menuju Mito. Kadang kala saya merekam video pemandangan yang ada di luar kereta. Hingga sesaat sebelum keluar dari kereta, saya baru sadar bahwa payung tersebut tidak ada di kereta. Saya mencoba mengingat-ingat lagi dan terpikir bahwa payung itu tertinggal di sekitar bangku di Stasiun Tokai.

Wah, masa harus beli payung lagi? Masih ada gak ya payungnya di Stasiun Tokai? Beli payungnya di Stasiun Mito atau di Stasiun Oarai ya ? rugi banget nanti beli di Mito tahu-tahu hujannya sudah reda di Oarai.

Hal-hal semacam itu lah yang terpikir dibenak saya saat itu. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli payung. Hahaha

Kenapa saya memutuskan untuk tidak membeli payung? Pertama, saya sudah mengecek di aplikasi cuaca yang mengatakan bahwa kota Oarai tidak hujan pukul 17:00 – 18:00. Kedua, saya menghubungi teman dan dia bisa menjemput di Stasiun Oarai kalau ternyata hujan.

Singkat cerita, saya akhirnya tiba di Stasiun Oarai dan ternyata tidak hujan. Baru saja saya menghubungi teman tersebut melaui chat dengan maksud agar saya tidak perlu dijemput, malah saya bertemu dengan teman lain yang sedang memarkirkan mobilnya di depan stasiun. Akhirnya, saya pun menuju gereja bersama dengan beliau.

Setelah Ibadah Gereja selesai dan saya akan kembali menggunakan kereta dari Stasiun Oarai menuju ke desa Tokai, saya tidak berharap banyak akan keberadaan payung yang ketinggalan tersebut. Disisi lain, saya juga penasaran dengan perkataan banyak orang tentang Jepang, dimana salah satunya adalah barang ketinggalan tidak akan hilang dan kalaupun tidak ada di tempatnya, bisa ditanyakan ke petugas di stasiun tersebut. Dan ini adalah salah satu kesempatan untuk membuktikan omongan tersebut.

Begitu kereta berhenti di Stasiun Tokai, saya pun bergegas menuju bangku tersebut dan ternyata payung tersebut masih ada disana walaupun posisinya sudah berpindah dari tempat asalnya.

Payung yang tertinggal di Stasiun Tokai.

Wah, ternyata memang benar apa yang dibilang orang selama ini tentang Jepang mengenai barang yang ketinggalan di tempat umum. Tapi, bukan berarti hal ini bisa dijadikan patokan 100% ya teman-teman. Tetap berhati-hati dan mengecek barang bawaan anda ya.

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading Musim di Jepang

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris. Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang … Continue reading Bahasa Inggris dan Beasiswa

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading “One Day Trip” ke Oarai-machi

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (7)

Di Desa Tokai, disediakan fasilitas bermain indoor untuk anak-anak mulai dari usia kurang dari satu bulan. Fasilitas ini dinamakan “Jidoukan”. Jidoukan sendiri dikelolah oleh pemerintah daerah sehingga setiap anak bisa menikmati semua fasilitas yang disediakan secara gratis.

Pada umumnya Jidoukan ini hampir sama seperti sebuah hall yang cukup luas dan terdapat berbagai macam jenis mainan anak-anak dan buku bacaan anak. Mainan yang tersedia pun adalah jenis mainan yang dapat membantu motorik anak-anak. Intinya mainan yang disediakan bisa membantu kecerdasan dan daya tangkap si anak.

Selain itu, terdapat staf yang ikut serta bermain dengan anak-anak dan di jam-jam tertentu akan membacakan buku hingga bernyanyi bersama.

Anak kami sendiri, Henokh, sudah mulai ikut menikmati fasilitas ini sejak usia sekitar 7 bulan. Ada beberapa alasan kenapa mami Henokh membawanya ke Jidoukan: ruang bermain yang luas sehingga Henokh bisa merangkak dengan bebas, bertemu dengan banyak anak-anak yang seangkatan, hingga belajar beradaptasi pada kondisi yang ramai. Hal penting lainnya adalah anak diajak untuk belajar berbagi karena mainan yang terdapat disana bukan milik sendiri melainkan milik bersama.

Rindu Bermain ke Jidoukan

Salah satu syarat bisa bermain ke Jidoukan adalah anak dalam kondisi sehat. Sayang sekali di awal Januari yang lalu Henokh sedang terkena batuk sehingga tidak etis untuk membawanya ke Jidoukan karena takut menulari anak yang lain. Ditambah lagi dengan kasus COVID19 yang sejak awal tahun 2020, maka kami pun memutuskan untuk tidak pergi kesana. Selain itu, sejak bulan Maret hingga akhir Mei yang lalu pun banyak fasilitas umum termasuk Jidoukan yang menutup seluruh kegiatan untuk mencegah penyebaran virus COVID19.

Hingga akhirnya di minggu kedua bulan Juni, Henokh dan maminya berencana kuat bermain ke Jidoukan karena fasilitas ini sudah dibuka kembali. Mereka pun bersepeda dari rumah menuju ke Jidoukan yang berjarak sekitar 1.5 km dari rumah.

Peraturan Baru di Jidoukan

Ternyata hari itu mereka tidak boleh masuk ke Jidoukan karena ada beberapa hal baru yang berbeda dengan kondisi sebelum adanya pandemi COVID19.

1. Harus registrasi melalui telepon terlebih dahulu.

2. Jam operasional hanya dari pukul 10:00 – 12:00. Kondisi sebelumnya Jidoukan dibuka hingga jam 16:00.

3. Terdapat pembatasan jumlah orang yang bisa berkunjung dalam satu hari.

Dengan adanya pembatasan jam operasional dan pembatasan jumlah orang, maka ada beberapa kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan seperti kegiatan bernyanyi dan membaca bersama yang dipandu oleh staf yang bertugas.

Setelah mengetahui aturan baru tersebut, Henokh dan maminya pun pergi ke Jidoukan keesokan harinya. Ternyata Henokh langsung bisa menikmati suasana bermain disana hingga maminya dibuat lelah mengejar Henokh yang berlari kesana kemari. Disisi lain, kelelahan maminya tentunya terbayarkan dengan melihat Henokh yang begitu aktif dan menikmati bermain bahkan bermain dengan anak-anak lainnya.

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Ilustrasi dana pensiun.

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah aman dengan kondisi seperti saat ini.

Hal ini mulai mengusik kehidupan jiwa dan raga ketika berdiskusi lebih dalam berlangsung dengan istri yang kebetulan berlatar belakang ekonomi dan seorang akuntan ditambah lagi dengan informasi seputar dunia keuangan yang bisa dibaca baik melalui buku, media elektronik maupun menonton video yang banyak tersebar dibanyak platform.

Salah satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah data yang mengatakan bahwa kurang dari 10% para pensiunan mempersiapkan rencana pensiun dengan baik sehingga tidak dapat hidup dengan sejahtera.

Tentunya dengan angka ini membuat saya cukup kaget. Bagaimana bisa ketika sudah bekerja selama puluhan tahun dan adanya pesangon ketika memulai memasuki masa pensiun atau gaji pensiunan bagi PNS tetapi masih belum bisa membuat hidup sejahtera dimasa pensiun nantinya?

Apakah nantinya uang pensiunan bulanan ataupun pesangon itu bisa mencukupi kebutuhan hidup semasa pensiun? Kalau ternyata belum cukup, apa yang harus dilakukan? Perlukah dipersiapkan dari sekarang? Bagaimana cara memulainya?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang bekerja di sektor UMKM ataupun informal? Adakah cara untuk mempersiapkan dana untuk hari tua disaat memenuhi kebutuhan sehari-hari aja masih pas-pasan?

Bagi saya yang berlatar pendidikan di bidang keteknikan dan bekerja dibidang yang sama, tidak saya pungkiri hal-hal keuangan seperti ini masih sangat awam bagi saya. Akan tetapi, melihat data yang ada, tentu saja saya berusaha untuk tidak masuk ke lingkaran yang 10% ketika memasuki masa pensiun.

Sebagai orang awam, ternyata banyak cara yang sudah tersedia untuk memfasilitasi kita nantinya pada saat memasuki dunia pensiun. Salah satunya adalah dengan mengikuti program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Review Stroller AirBuggy ‘COCO BRAKE EX From Birth’

Stroller AirBuggy dan barang bawaannya.

Stroller merupakan salah satu perlengkapan bayi yang sepertinya wajib dimiliki oleh setiap keluarga yang mempunyai anak bayi maupun balita khususnya di negara Jepang.

Dengan adanya stroller, maka biasanya para ibu bisa membawa anaknya bermain di sekitar rumah, belanja ke supermarket, hingga berpergian menggunakan kereta maupun bus. Hal ini tentunya membantu para ibu dibandingkan harus menggendong bayinya selama di perjalanan.

Seperti pada cerita sebelumnya, kami memutuskan untuk membeli sebuah stroller dengan merk ‘AirBuggy’ pada tahun 2019. Setelah lebih dari setahun memakai stroller ini, saya memutuskan untuk menuliskan sebuah review singkat tentang stroller ini.

Review ini akan dilakukan seobjektif mungkin sehingga bisa menjadi masukan bagi orang yang mau membelinya.

Advertisements

Informasi umum mengenai stroller AirBuggy

1. Harga

Ada terdapat beberapa model yang ditawarkan oleh AirBuggy. Kami memilih mengambil model ‘Coco Brake EX From Birth’ dengan harganya sekitar ¥62.000 (belum termasuk pajak). Pada saat membelinya, kami memperoleh bonus yaitu stroller mat. Salah satu keunggulan stroller mat ini adalah motifnya ada dua jenis sehingga bisa dipakai bolak-balik.

Info lengkap mengenai harganya bisa dicek disini: https://www.airbuggy.com/en/stroller/

2. Dimensi

Ukuran stroller pada saat posisi terbuka: Tinggi: 104.5 cm, Lebar: 53.5, dan Panjang: 96 cm. Sedangkan berat strollernya sendiri sekitar 9.5 kg.

Dimensi AirBuggy ‘Coco Brake EX’

Dengan dimensi dan berat stroller yang nyaris mencapai 10 kg, stroller ini bisa membawa beban seberat 15 kg dengan kapasitas bagasi bawah seberat 5kg. Untuk tipe yang kami beli bisa membawa bayi sejak umur 0 bulan hingga 3 tahun.

Keunggulan Stroller AirBuggy

  1. Kokoh dan Stabil. Alasan utama langsung jatuh cinta dengan stroller ini adalah bentuknya yang kokoh dan stabil. Dibandingkan dengan merk lain yang mempunyai harga yang relatif sama, AirBuggy jauh lebih kokoh dan stabil.
  2. Mudah dikendalikan. AirBuggy merupakan stroller yang mempunyai 3 buah roda, dua dibagian belakang dan 1 dibagian depan. Meskipun demikian, sangat mudah mengendalikan stroller ini walaupun dengan satu tangan.
  3. Rem cakram. Terdapat dua buah rem yaitu rem tangan dan rem parkir (internal drum brake). Rem parkir ada dibagian bawah dekat ban belakang. Kedua rem ini bekerja dengan sangat baik, meskipun dalam kondisi hujan dan kondisi jalan turunan. Rem tangan stroller ini sangat bermanfaat dan mudah dikendalikan pada kondisi jalan yang turunan. Menggunakan rem tangan stroller AirBuggy pada kondisi turunan hampir sama seperti menggunakan rem belakang pada saat mengendarai motor.
  4. Air Tube Tire. Ban yang dipakai stroller AirBuggy menggunakan ban yang dapat dipompa seperti ban sepeda. Kelebihan tipe ban ini dibandingkan dengan jenis ban plastik pada stroller merk lainnya adalah dapat menyerap getaran terutama pada jalan yang bergelombang atau tidak rata. Hal ini menambah kenyamanan bayi ketika tidur di stoller.
  5. Mudah dibersihkan. Sistem bongkar pasang yang ada di AirBuggy memudahkan untuk membersihkan (menyuci) semua bagian.
  6. Sudut rebahan. Posisi duduk bayi dapat diatur dari posisi 115 hingga 155 derajat. Hal ini memberikan kenyamanan pada bayi baik saat duduk maupun tidur.
  7. Kapasitas bagasi. Bagi kami yang membawa bayi untuk kegiatan belanja di supermarket sehari-hari. Bagasi yang ditawarkan stroller ini bisa menampung hampir semua barang belanjaan seperti beras, minuman kotak, hingga barang-barang lainnya pada bagasi bagian bawah. Selain itu, masih bisa menggantungkan beberapa barang ringan pada gantungan yang ada didekat rem tangan.
Jenis roda yang digunakan pada AirBuggy.

Kekurangan Stroller AirBuggy

  1. Berat. Dibandingkan dengan stroller merk lain, maka Airbuggy dapat dikatagorikan sebagai stroller yang cukup berat.
  2. Handle satu arah. Posisi handle tidak bisa dua arah sehingga tidak bisa melihat secara langsung kondisi bayi pada saat sedang berjalan.

Dari penjabaran diatas, bisa terlihat bahwa kami sangat puas dengan stroller AirBuggy. Salah satu poin utama dari stroller ini adalah daya redam yang bagus pada saat dibawa dijalanan yang kasar dan bergelombang.

Demikian review singkat mengenai pengalaman memakai stroller AirBuggy selama lebih dari satu tahun.

Referensi: https://www.airbuggy.com/en/

Video unboxing stroller AirBuggy dapat dilihat disini:

Mengejar Cinta (3): PDKT

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Tidak terasa kalau sudah 10 tahun sejak awal mula saya melakukan pendekatan dengan Laura. Walaupun sudah 10 tahun, tapi rasanya seperti baru kemarin saja. Banyak hal yang masih diingat sejak pertama kali bertemu hingga saat ini.

Tulisan ini berusaha untuk mengabadikan memori itu karena saya tahu suatu saat nanti sepertinya akan ada memori-memori yang sudah mulai lupa karena daya ingat yang menurun.

Perpisahan

Walapun saya sudah punya nomor HP Laura, ntah kenapa saya masih belum punya alasan yang cukup kuat untuk memulai menghubungi dia. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya di bulan Juni 2010. Hingga akhirnya ada bunyi sms yang masuk, dan ternyata sms itu datang dari Laura.

“Ketemuan yuk di Amplaz (Ambarukmo Plaza). Aku keterima kerja dan lusa mau berangkat.”, kira-kira begitu bunyi sms dari Laura.

“Boleh. Siapa aja?”, menjawab sms dari Laura.

” Teman-teman yang lain juga udah tak sms sih. Kalau kamu bisa ya ikut aja”.

Tanpa panjang lebar, saya pun langsung bersiap-siap menuju ke Amplaz.

Sumatera, I’m coming.

Ternyata pertemuan kali ini hanya tiga orang saja, Laura, Andi dan saya. Dari pertemuan ini, kami baru tahu kalau Laura akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara.

Meskipun sepertinya penempatan tersebut seperti kembali ke daerah asalnya, tapi Medan akan menjadi kota pertama diluar Jawa yang akan menjadi kota perantauannya setelah lulus kuliah. Pertemuan hari itu pun berlangsung untuk sekedar berbagi informasi mengenai kota Medan sambil ngobrol kesana kemari tentang berbagai hal. Karena memang pertemuan hari ini sekedar untuk perpisahan dan Laura masih butuh waktu untuk berkemas, kami pun tidak berlama-lama berada di Amplaz.

Bagi saya yang sudah terpesona dengan Laura, perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang dia keterima kerja dan penempatan di Medan. Sedih karena baru saja mau memulai pendekatan langsung di pisahkan oleh jarak.

Saya sudah punya pacar.

Di minggu-minggu awal kedatangannya di Kota Medan, kami menjadi lebih sering berkomunikasi. Hal yang sering kali ditanyakan adalah: “Cui, naik angkot apa di medan ini dari A ke B? “

Sms seperti itu sering sekali muncul di pagi hari ketika Laura sedang mencari alternatif angkot lain yang bisa membawa dia dari tempat tinggalnya menuju kantor. Karena rute yang dia gunakan hampir sama dengan rute yang sering kulalui sewaktu SMA, maka tidak terlalu sulit untuk menjelaskannya.

Disisi lain, sering juga dia bertanya rute dari titik A ke titik B yang mana saya pun belum pernah menjelajahinya. Alhasil pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya balas dengan sms becandaan, ” Awak memang besar di Medan, tapi kan manalah ku hapal trayek angkot itu semuanya. Haha”

Percakapan-percapakan seperti ini ditambah obrolan selepas pulang dari tempat kerja membuat suasana mulai terasa cair.

Disisi lain, beberapa kali Laura cerita kalau dia sering dijodohkan dengan teman kantornya atau dengan kaum ibu-ibu yang sedang mencarikan jodoh buat anak-anaknya. Atau bahkan pernah cerita kalau ada yang sedang mendekatinya.

Mendengar ceritanya seperti itu, terkadang membuat hati jadi bergejolak juga yaa..

Tapi yang membuat sedikit lega, saat itu dia berusaha menjawab kalau dia sudah punya pacar (walaupun sebenarnya tidak ada). Hanya saja jawaban itu membuat dia bisa fokus ke pekerjaannya.

Ketemuan di depan kantor ya.

Sebulan setelah Laura tinggal di Medan, saya punya kesempatan untuk pulang sebentar ke Medan. Tentunya, salah satu hal yang saya lakukan akan membuat janji untuk bertemu dengan Laura.

Kami pun membuat janji ketemuan setelah jam pulang kantor dan karena dia masih dalam masa training, maka belum ada lembur hingga larut malam. Disepakatilah kami bertemu hari Selasa di depan kantornya sekitar jam 5.00 sore.

Ternyata, janjian ketemuan di depan kantor sesaat jam pulang kantor adalah salah satu strategi yang dilakukannya supaya terlihat oleh teman-teman kantor kalau dia sudah punya pacar seperti yang diucapkannya kepada teman-teman kantornya. Hal ini pun sedikit banyak berhasil karena hari itu saya harus ikutan menyapa setiap temannya yang ada di depan gerbang kantor.

Saya tidak tahu sama sekali hal tersebut hingga dia menceritakannya ketika kami sudah menjalin hubungan.

Advertisements

Awal mula PDKT

Pertemuan ini pun kami habiskan untuk sekedar menonton film di bioskop. Film Inception menjadi pilihan kami pada saat itu. Film yang berdurasi sekitar 2.5 jam tersebut berhasil membuat kami terpukau dengan jalan ceritanya.

Entah kenapa saya lebih memilih mengajak menonton film dibandingkan makan. Padahal kalau diperhatikan lagi, tidak banyak komunikasi yang bisa terbangun ketika menonton film.

Setelah nonton, kami pun singgah untuk makan malam sebentar sebelum mengantarkan Laura kembali ke tempat tinggalnya. Kebetulan juga dia masih tinggal di daerah yang satu arah dengan tempat tinggal saya.

Tapi dari pertemuan itu, kami bisa membangun komunikasi yang lebih lagi dan bercerita lebih banyak hal serta berusaha mengetahui satu sama lain.

Bagi saya, peristiwa itu adalah awal mula proses PDKT dimulai. Dan karena ini masih tahap yang sangat awal, saya berusaha tidak menceritakannya kepada siapapun bahkan kepada si Andi. Hahaha

Bagaimana dengan Laura, apakah ketemuan kita di Medan bisa dibilang sebagai awal mulanya proses untuk saling mengenal satu sama lain? Bisa ditanyakan langsung ke orangnya ya..