30 Menit Bersama Henokh.

Hampir selalu di setiap siang atau sore, mami Henokh menelepon dan berkata ” Nanti sore, kami mau main ke taman. Mau nyusul gak? Dan hampir selalu jawaban saya ” OK. Sekitar jam 6an ya.”

Kalau dipikir-dipikir, waktu yang saya berikan bermain bersama Henokh sepulang kerja hanya sekitar 30 menit. Dimana setelah pulang dari lab sekitar jam 6 sore, saya langsung mengayuh sepeda menuju taman dan bermain bersama Henokh hingga jam 7.

30 menit yang berharga

Hal pertama yang sering saya lakukan ketika sudah sampai di taman adalah membunyikan bel sepeda sambil memanggil “Henokh…Henokh…” sambil menuju parkiran sepeda. Kebahagian yang utama adalah Henokh yang segera berlari kecil menuju parkiran sambil senyum atau teriak-teriak memanggil ” Papa…Papa..Papa”

Biasanya Maminya ditinggal atau dicuekin. Hal ini kadang bisa buat maminya cemburu. Hahaha

Hal yang biasa kami lakukan di taman adalah melihat gerombolan burung di udara yang terbang atau anjing yang sedang berjalan bersama dengan majikannya. Setelah sejenak berdiri menikmati suasana tersebut, lalu Henokh pun berlari menuju pelosotan favoritnya.

Taman bermain favorit Henokh karena dekat rumah.

Sambil dia berlari menuju ke pelosotan, maminya bercerita kalau Henokh sudah bisa naik tangga sendiri dan mau memilih pelosotan yang lebih tinggi. Selain itu, maminya biasanya menceritakan setiap perkembangan dan tingkah laku Henokh sepanjang hari. Tentu saja tidak lupa dengan kejailan-kejailan Henokh yang sering ngerjain maminya. Hahaha

Kami pun menemani Henokh bermain pelosotan atau sekedar naik turun wahana bermain lainnya. Dan tidak terasa langit mulai gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Terjatuh sewaktu mau mendaki salah satu wahana bermain.

30 menit adalah waktu yang singkat. Tinggal bagaimana memanfaatkannya dengan baik. Saya memilih menghabiskan 30 menit tersebut dengan keluarga kecil di Desa Tokai.

Henokh sedang unjuk kebolehan menaiki salah satu wahana bermain. (Dok. Pribadi)

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja. Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja.

Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Berdasarkan informasi ramalan cuaca tersebut, cuaca mendung akan menghiasi desa Tokai dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pergi dari pagi hingga siang hari. Kebetulan juga ada kegiatan lain yang harus dihadiri di sore harinya secara online.

Jalanan dari rumah menuju ke pantai cukup sepi sehingga kami bisa bersepeda dengan santai dan menikmati pemandangan sekitar. Sekitar 1 km sebelum pantai, kami harus menempuh jalan yang sedikit off road dan jalanan setapak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke pantai karena roda sepeda yang tidak bisa (tidak aman) melanjutkan perjalanan. Pilihan lainnya adalah kami harus memarkirkan sepeda dan berjalan kaki ke pantai. Pilihan ini tidak kami ambil mengingat waktu yang dibutuhkan akan lebih lama dan kami ada kegiatan lain di sore harinya.

Kami pun memutar balik arah sepeda kami hingga kami sadar kalau disekitar daerah tersbut adalah taman terbesar di Desa Tokai, ‘Akogigaura Park’.

Kami pun memutuskan untuk membawa Henokh bermain di taman tersebut. Hari ini adalah hari pertama bagi kami bertiga untuk bermain di taman tersebut.

MENAKJUBKAN…!!!!!

Tidak sabar kami mengayuh sepeda ke Akogigaura Park. Dari simpang jalan hingga ke arah taman bermain anak, kami disuguhi dengan pohon sakura yang akan sangat indah apabila dilalui pada saat bunga sakura sedang mekar-mekarnya. Hingga kami disuguhkan oleh taman bermain yang sangat menakjubkan untuk ukuran sebuah desa.

Ini adalah taman bermain terbesar dan terlengkap yang ada di Desa Tokai. Taman bermain ini bisa dinikmati dari anak usia 1 -12 tahun. Ada terdapat berbagai jenis permainan yang bisa dinikmati oleh anak sesuai usianya. Karena ini pertama kalinya kami datang ke taman ini, saya dan istri sampai tidak bisa berkata- kata melihat bagaimana Desa Tokai menyediakan berbagai fasilitas untuk warganya.

“Wajib datang ke taman Akogigaura lagi..!!!”

Henokh pun tidak sabar untuk segera turun dari sepeda dan setengah berlari menuju permainan favoritnya, “Pelosotan”. Dia berlari kesana kemari setelah mencoba beberapa permainan. Selain itu, sifat bersahabatnya di tunjukkan dengan menghampiri anak-anak yang seusianya atau diatasnya untuk diajak berkomunikasi atau bermain.

Saya dan istri pun tidak tahu bahasa apa yang dipakai Henokh ketika berbicara dengan anak bayi lainnya. Yang ada, kami melempar senyum kepada orangtua yang anaknya sedang diajak Henokh bermain.

Tidak terasa satu jam sudah terlewatkan karena menikmati beragam permainan di taman. Kami pun harus kembali pulang mengingat jam makan siang Henokh yang sudah lewat.

Membuat Memori

Bagi saya sendiri, hal sederhana seperti ini adalah momen dimana saya membuat memori menikmati kebersamaan bersama keluarga kecil di desa ini.

Akan jadi memori yang tidak akan terlupakan tentunya bagi saya dan istri. Sedangkan tulisan ini menjadi memori bagi Henokh nantinya ketika dia sudah besar bahwa banyak hal-hal seru yang dilalui bersama selama tinggal di Desa Tokai bersama kedua orangtuanya.

Foto sebagai pemanis

Berikut ini beberapa foto di taman bermain “Akogigaura Park”

Wahana bermain anak-anak. (Dok. pribadi)
Pelosotan adalah salah satu wahana favorit anak-anak.
Papan informasi wahana yang ada di Akogigaura Park.
Yuk baca tata tertib bermain di taman.

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang

Ketika berbicara tentang Jepang, pasti tidak lepas dari sistem transportasi yang sangat bagus. Ketika saya tinggal di Tokyo selama 5 tahun lebih, terlihat bahwa sistem transportasi umum sudah sangat bagus dan terintegrasi. Transportasi umum yang paling sering saya gunakan (hampir 99%) adalah kereta. Bahkan selama tinggal di Tokyo, tidak terpikir sedikitpun untuk mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi) Jepang. Salah satu alasan utama dibenak saya adalah untuk apa lelah mengendarai mobil jika bisa duduk santai dan nyaman di dalam kereta yang bisa mengantarkan ke tempat lain dengan lebih cepat.

Selain itu, mempunyai mobil di Jepang khususnya di Tokyo membutuhkan biaya yang cukup besar khususnya untuk parkir. Salah satu syarat yang dibutuhkan adalah menunjukkan tempat parkir mobil anda. Hal ini untuk membuktikan kalau mobil tersebut punya “tempat tinggal” bukan di parkir sembarangan apalagi diparkir depan rumah orang lain.

Namun, kondisi tersebut ternyata cukup berbeda ketika saya mulai tinggal di Desa Tokai. Hampir setiap orang baik itu di Desa Tokai dan sekitarnya mempunyai mobil. Ternyata, meskipun ada akses kereta maupun bus tetapi frekuensinya tidak sebanyak di Tokyo.

Saya ambil contoh, untuk bisa mengunjungi kota Mito yang berjarak sekitar 15 km dari Desa Tokai, bisa ditempuh dengan menggunakan kereta. Akan tetapi, hanya ada 2 jadwal keberangkatan kereta setiap jamnya. Hal ini menyebabkan apabila anda telat, maka anda wajib menunggu kereta selanjutnya sekitar 30 menit. Sedangkan untuk rute bus hanya untuk di dalam Desa Tokai dan yang paling jauh adalah ke tempat wisata Hitachi Seaside Park di kota Hitachinaka yang berjarak 15 km dari Tokai. Jadwal keberangkatan bus pun sangat terbatas hanya ada 4 kali sehari untuk rute menuju Hitachi Seaside Park.

Dengan demikian, mempunyai SIM Jepang di daerah pedesaan ataupun ketika tinggal di luar kota-kota besar seperti Tokyo, Yokohama, Osaka, dll adalah suatu keharusan.

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menceritakan bagaimana cara memperoleh SIM Jepang dengan mengikuti kursus mengemudi di Jepang. Tapi tentu saja biaya yang dibutuhkan cukup besar.

Cara lain untuk mendapatkan SIM Jepang adalah dengan menukarkan SIM Indonesia yang kita punya. Berikut penjelasan singkat mengenai bagaimana cara menukar SIM Indonesia.

1. Terjemahkan SIM Indonesia

Hal yang paling pertama adalah menterjemahkan SIM A Indonesia yang anda miliki di JAF (Japan Automobile Federation).

2. Masa Berlaku

Pastikan SIM A Indonesia yang anda punya masih berlaku. Apabila masa berlaku SIM A anda kurang dari satu tahun, ada baiknya melakukan perpanjangan terlebih dahulu (bisa gak ya?) karena mengikuti tes tulis dan praktek di Jepang cukup sulit.

Pengalaman kami di Desa Tokai (Prefektur Ibaraki), ketika gagal ujian praktek maka dibutuhkan waktu sekitar 3 (tiga) bulan untuk mengikuti ujian praktek selanjutnya.

3. 90 hari di Indonesia

Apabila anda baru pertama kali mempunyai SIM A, maka pastikan anda berada minimal 90 hari di Indonesia sebelum berangkat ke Jepang. Apabila kurang dari 90 hari, maka anda tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian pergantian SIM.

Contoh: SIM A Indonesia dikeluarkan tanggal 20 Mei 2020. Anda ke Jepang tanggal 20 Juni 2020. Datang ke Unten Menkyo Center (tempat ujian SIM) tanggal 20 Oktober 2020. Meskipun tanggal dikeluarkan SIM anda dengan rencana ujian sudah lebih dari 90 hari, tetapi perhitungan 90 hari dimulai dari tanggal dikeluarkan SIM sampai tanggal keberangkatan anda ke Jepang (petugas akan melakukan pengecekan paspor untuk melihat kapan anda tiba di Jepang).

Bagi anda yang statusnya pekerja atau mahasiswa yang baru tiba di Jepang dengan SIM Indonesia yang berusia kurang dari 90 hari, sebenarnya 90 hari bukan berarti anda harus cuti selama 90 hari berturut-turut. Tetapi, 90 hari ini bisa dicicil. Misalnya tahun ini anda pulang 30 hari, tahun depan pulang 30 hari lagi. Dengan demikian anda sudah tercatat 60 hari tinggal di Indonesia semenjak SIM A anda dikeluarkan oleh pihak berwajib.

4. SIM A di Indonesia baru diperpanjang

Ada kalanya SIM A kita baru saja diperpanjang masa berlakunya dan kita tiba di Jepang kurang dari 90 hari sejak SIM A yang baru diperpanjang tersebut dikeluarkan oleh pihak berwajib.

Dalam kasus ini ada 2 kemungkinan. Pertama, apabila nomor SIM A baru tersebut sama dengan SIM A yang lama. Maka anda bisa memberikan penjelasan kepada petugas kalau anda bukan orang yang baru pertama kali punya SIM A (Tentunya sertakan dokumen yang memperkuat argumen anda). Kedua, kalau nomor SIM A baru tersebut berbeda dengan SIM A yang lama, maka kembali kepada proses NO. 3.

Berdasarkan pengalaman beberapa teman yang di Ibaraki, kemungkinan besar petugas di Unten Menkyo Center tidak menerima penjelasan dari kemungkinan yang pertama. Sehingga anda harus pulang ke Indonesia dulu untuk dapat memenuhi syarat 90 hari berada di Indonesia.

5. Ujian Tulis

Bagi mereka yang lulus syarat 90 hari, maka bisa langsung mengikuti Ujian Tulis pada hari tersebut. Ujian tulis ini tersedia dalam Bahasa Jepang maupun Bahasa Inggris.(Saya kurang tahu apakah ada dalam Bahasa Mandarin, Korea , dll).

Apabila lulus, anda boleh langsung mengikuti ujian praktek pada hari yang sama. Pada saat anda lulus ujian tulis, akan diberikan sertifikat kelulusan ujian tulis. Sertifikat ini berlaku hanya 6 bulan.

Apabila belum lulus, anda bisa datang lagi di lain waktu untuk melaksanakan ujian tulis lagi.

6. Ujian Praktek.

Apabila lulus ujian tulis, maka bisa langsung mengikuti ujian praktek di hari yang sama. Ujian Praktek adalah ujian terberat dalam pengambilan SIM di Jepang. (Pastikan anda membaca banyak buku, menonton video di Youtube, dll).

Apabila lulus, maka SIM Jepang anda akan dikeluarkan pada hari itu juga.

Apabila belum lulus, maka anda harus menuju bagian administrasi untuk melakukan penjadwalan ulang ujian praktek yang kemungkinan besar jadwal tercepatnya adalah sekitar 3 bulan dari hari kegagalan tersebut.

Apabila anda masih gagal dalam ujian prakek walaupun sudah mencoba berkali-kali. Hal ini berpengaruh terhadap masa berlaku sertifikat ujian tulis anda. Ketika sudah lewat 6 bulan dan anda belum berhasil lulus ujian praktek, maka anda wajib mengikuti ujian tulis lagi.

Demikian penjelasan singkat mengenai cara menukar SIM Indonesia menjadi SIM Jepang.

Nasi telah menjadi sereal

Beberapa hari ini kepikiran dengan menu sarapan yang jauh berubah ketika tinggal di Indoneisa. Sewaktu menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja, sarapan dengan menu complit (nasi+sayur+lauk) adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebelum memulai aktifitas perkuliahan. Kalau ada kuliah pagi, setidaknya sebungkus roti yang dijual di warung dekat kosan harus dimakan untuk memperoleh energi selama … Continue reading “Nasi telah menjadi sereal”

Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….

Sudah lama rasanya tidak menuliskan cerita seri tentang celotehan kecil ala suami istri. Kali ini menceritakan celotehan antara sepasang suami istri pada saat sedang bersepeda bersama Henokh. Laura (L), Irwan (I), Henokh (H) I: Ayo siap-siap…sepedaan jam 10 aja ya biar gak panas kali di jalan nanti. L: Ok… Henokh siap-siap, ambil kaus kakimu nak … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Berinvestasi Rp.100.000 di Reksa Dana.

Bagi sebagian besar orang, pasti sudah mengenal dan mengetahui apa yang dimaksud dengan Reksa Dana serta bagaimana cara bekerja dan lain sebagainya. Tapi, tidak dipungkiri bahwa masih banyak juga yang belum mengenal atau mengetahuinya. Saya termasuk kedalam katogori kedua, yaitu belum mengenal apa itu Reksa Dana.

Latar belakang pendidikan saya yang berasal dari Teknik Nuklir hingga pekerjaan yang masih berkaitan dengan dunia kenukliran, sedikit banyak mempengaruhi hal tersebut. Saya masih sangat awam dengan yang namanya investasi. Kalau ditanya tentang investasi, pastilah saat itu jawaban saya hanya emas, tanah, rumah, dll. Suatu konsep yang membuat investasi itu terasa sangat mahal dan berat.

Rasa ketertarikan saya terhadap dunia investasi mulai muncul pada saat istri sibuk mengutak atik perangkat elektronik untuk melihat perkembangan saham yang dimilikinya. Tapi, penjelasan istri dan cara menjelaskan dengan bahasa yang ‘tinggi’ kadang kala membuat orang awam seperti saya cukup bingung.

Hal ini jugalah yang sering saya rasakan ketika berbicara tentang reaktor nuklir (PLTN) kepada orang awam.

Penting untuk mengetahui siapa lawan bicara kita sehingga bisa menyesuaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.”

Dengan rasa penasaran tersebut, akhirnya saya mulai mencari informasi melalui bantuan google maupun youtube untuk memperlajari tentang dunia investasi dalam hal ini Reksa Dana. Ada penjelasan yang mudah dimengerti tetapi ada juga penjelasan yang sulit untuk dipahami.

Tulisan ini bertujuan sebagai pengingat bagi saya tentang apa yang saya ketahui tentang Reksa Dana dan bagaimana saya memulai berinvestasi di Reksa Dana.

1. Apa itu Reksa Dana?

Pengertian Reksa Dana menurut UU Pasar Modal No 8 tahun 1955 pasal 1 ayat 27 adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam bentuk portopolio efek oleh Manajer Investasi (MI) yang sudah mendapat izin dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).

Saat ini Bapepam sudah berganti nama menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengertian sederhanya adalah kita memberikan uang kepada Manajer Investasi untuk dikelolah sedemikian rupa dengan tujuan uang yang kita berikan tersebut akan bertambah dalam periode waktu tertentu.

2. Jenis-jenis Reksa Dana

Secara umum, ada 4 (empat) jenis Reksa Dana, yaitu:

  1. Reksa Dana Pasar Uang.
  2. Reksa Dana Pendapatan Tetap.
  3. Reksa Dana Saham.
  4. Reksa Dana Campuran.

Keempat jenis Reksa Dana tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita harus mengetahui profil singkat dari keempatnya sebelum memutuskan ingin menginvestasikan uang tersebut.

  • Reksa Dana Pasar Uang. Pada jenis ini, uang kita akan diinvestasikan di produk pasar uang yang mempunyai resiko rendah, seperti: deposito. Tentu saja dengan resiko yang rendah, maka pertumbuhan investasinya juga rendah.
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap. Jenis ini juga mempuyai profil resiko yang sedikit lebih besar di bandingkan Reksa Dana Pasar Uang. Dengan profil yang demikian, tentu saja pertumbuhan investasinya lebih baik dari Reksa Dana Pasar Uang. Biasanya dana yang kita miliki akan diinvestasikan pada obligasi.
  • Reksa Dana Saham. Jenis ini memiliki resiko yang paling tinggi. Tetapi sebanding dengan keuntungan yang diterima nantinya. Berdasarkan informasi yang saya baca, jenis investasi ini cocok untuk mereka yang ingin berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang. Seperti namanya, Reksa Dana ini akan menginvestasikan sebagain besar uang yang kita miliki di saham.
  • Reksa Dana Campuran. Jenis ini merupakan campuran dari ketiga jenis reksa dana diatas.

Sebelum memulai investasi di Reksa Dana, maka kita perlu mengetahui apa yang menjadi tujuan kita dalam berinvestasi. Hal ini tentunya berguna untuk menentukan jenis reksa dana mana yang akan dipilih.

Perlu diingat bahwa yang namanya investasi apapun, selalu ada resiko didalamnya.

3. Investasi Rp.100.000

Sebagai pemula tentu saja saya tidak berani mengambil resiko yang tinggi dalam memulai sebuah investasi.

Lebih baik saya memulai dari modal yang kecil sambil terus mempelajari dunia investasi. Tentunya saya paham dengan modal Rp.100.000, tidak mungkin saya mengharapkan hasil investasinya yang bernilai WOW misalnya dalam periode 1 tahun.

Tapi melalui Reksa Dana, mengubah pola pikir saya dahulu yang hanya berpikir bahwa investasi itu hanya berupa tanah, rumah, emas (investasi berbentuk fisik).

Gambar dibawah ini adalah salah satu investasi saya di Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan modal Rp.100.000. Sekitar 2 minggu sejak saya menanamkan modal, sudah terjadi pertumbuhan sebesar 0.19%.

Pertumbuhan reksa dana pendapatan tetap dengan modal awal Rp.100.000

Ternyata bisa loh kita berinvestasi meskipun hanya bermodalkan Rp.100.000. Bahkan di beberapa video yang saya lihat, ada yang bilang kalau bisa dimulai dari Rp.10.000.

4. Keuntungan Berinvestasi di Reksa Dana

Berbicara tentang untung dan rugi, tentunya setiap orang punya pendapatnya masing-masing. Salah satu keuntungan menurut saya berinvestasi di Reksa Dana adalah tidak perlu repot-repot memantau pergerakan saham atau sejenisnya setiap saat. Hal ini karena uang yang kita investasikan sudah dikelolah oleh Manajer Investasi. Oleh karena itu, berinvestasi di Reksa Dana sangat cocok bagi orang pemula seperti saya yang tidak punya banyak waktu untuk memantau setiap saat.

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)

Tokaimura Welfare Center “KIZUNA” Setelah di cerita sebelumnya, saya telah berbagi beberapa fasilitas olahraga yang pernah saya gunakan selama tinggal di Desa Tokai, kali ini saya mau membagikan salah satu fasilitas yang kami manfaatkan sejak masa kehamilan istri hingga saat ini. Fasilitas tersebut adalah Tokaimura Welfare Center ‘Kizuna’. Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengetahui … Continue reading “Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)”

Mahalnya belajar mengemudi di Jepang.

Beda negara beda pula aturan yang berlaku. Untuk urusan mengemudi, di Jepang punya aturan yang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Pada umumnya, mereka yang hendak belajar mengemudi untuk pertama kalinya harus mendaftarkan diri ke Driving School. Setahu saya, ini adalah satu-satunya cara bagi mereka yang baru mau belajar mengemudi. Berdasarkan obrolan dengan beberapa teman Jepang, hal tersebut memang sudah biasa. Akan tetapi, bagi warga asing khususnya Indonesia, biaya yang harus dikeluarkan untuk belajar mengemudi tersebut bisa terbilang cukup mahal. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh situasi di Indonesia dimana masih “abu-abunya” antara peraturan dan praktek yang berlangsung.

Berdasarkan pengalaman saya mengikuti kursus mengemudi di Indonesia, pada dasarnya kursus ini hanya ditujukan agar siswa dapat mengemudi tanpa perlu memberikan teori mengenai keselamatan dalam mengemudi yang memadai. Hal paling mendasar adalah pengajar di tempat saya mengemudi tidak mengenakan sabuk pengaman selama mengemudi.

Walaupun sudah saya ingatin ‘Pak, sabuk pengamannya tolong dipakai’. Dan cuma dibalas dengan kalimat yang sudah sering kita dengar ‘Gak nyaman kalau dipakai’.

Hal ini cukup berbeda ketika mengikuti kursus mengemudi di Jepang. Hal pertama yang dilakukan adalah mengikuti teori-teori keselamatan dalam mengemudi, aturan lalu lintas, dll di dalam kelas. Selanjutnya harus mengikuti ujian teori terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam praktek mengemudi. Untuk praktek mengemudi sendiri, tidak langsung praktek di jalan raya, tapi praktek dilakukan didalam Driving School.

Setelah mengikuti beberapa rangkaian teori dan praktek yang diberikan oleh pihak Driving School dan dinyatakan lulus, barulah peserta mengikuti ujian pengambilan Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang dilaksanakan di ‘Unten Menkyo Center’ yang ada di dekat daerah masing-masing.

Nah, berbagai macam rangkaian kegiatan tersebut membuat biaya belajar mengemudi di Jepang menjadi relatif mahal. Pada umumnya, total biaya yang dikeluarkan untuk belajar mengemudi sekitar ¥ 300.000 – 400.000.

List biaya mengemudi yang diadakan oleh salah satu Driving School di Jepang*.

Bagaimana dengan mereka yang sudah punya SIM Indonesia? Apakah harus ikut Driving School atau adakah cara lain untuk memperoleh SIM Jepang?

Nantikan di tulisan selanjutnya ya…

*https://www.koyama.co.jp/english/english_02_01.html

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi). Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu … Continue reading ““One Day Trip” Oarai Sun Beach”

Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”. Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri. Setelah satu tahun tinggal … Continue reading “Apato 1945 di Tokyo”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Kejujuran pegawai bengkel sepeda di Desa Tokai Jepang.

Ilustrasi sepeda.

Hari Senin kemarin, saya baru menyadari ada keretakan pada ban sepeda bagian depan. Oleh karenanya, pulang dari lab, saya langsung ke bengkel sepeda yang ada di dekat Stasiun Tokai. Sesampainya disana sekitar jam 7 malam, ternyata teknisi yang bisa memperbaiki sepeda sedang tidak ada di tempat. Hanya ada pegawai lainnya yang kurang paham tentang kondisi ban sepeda tersebut.

Pegawai tersebut menyarankan saya untuk setidaknya memilih jenis ban sepeda yang akan dibeli dan menjelaskan estimasi harga yang akan dikenakan untuk ban dan jasa pemasangan. Selain itu, dia menyarakan agar sepedanya ditinggal saja dan besok akan diperiksa oleh teknisi.

Mendengar hal tersebut, saya pun menyanggupi dan meminta untuk dilakukan pengecekan juga dengan ban belakangnya. Selanjutnya, pegawai tersebut menjelaskan bahwa harga 1 ban sekitar ¥1.200 dimana biaya pemasangan ban depan ¥1.000 dan pemasangan ban belakang ¥1.800. Berdasarakan penjelasannya, pemasangan ban belakang lebih rumit dibandingkan dengan ban depan sehingga harganya lebih mahal. Sehingga total biaya yang akan saya keluarkan adalah sekitar ¥5.000.

Cukup mahal juga ya untuk biaya mengganti ban sepeda mengingat bahwa dengan uang sekitar ¥12.000 sudah bisa dapat sepeda baru.

Setelah menjelaskan hal tersebut, pegawai tersebut meminta nomor yang bisa dihubungi dan teknisi akan langsung menjelaskan kondisi ban sepedanya melalui telepon.

Keesokan harinya, saya pun mendapatkan telepon dari teknisi tersebut. Setelah menjelaskan panjang lebar penjelasannya melalui telepon, sang teknisi pun menyimpulkan bahwa ban sepeda masih dalam kondisi baik. Sehingga tidak perlu mengganti ban depan dan ban belakang. Selanjutnya, saya diminta untuk mengambil sepeda tersebut dan tidak ada biaya apapun yang saya keluarkan pada saat mengambil sepeda dari bengkel.

Kejujuran

Kejadian seperti ini bukan pertama kali saya alami di Jepang, ada juga kejadian ketika memanggil jasa bongkar pasang AC. Teknisinya dengan jujur memberitahukan kondisi AC baik itu freon dan gas (untuk heater di musim dingin). Padahal kalau mereka mau bohong juga bisa, toh saya juga tidak begitu paham dengan hal-hal tersebut. Tapi mereka memilih untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen.

Mudahnya Pencairan Asuransi Jiwa Henokh di Jepang.

Dua hari setelah kejadian The Accident, dimana keadaan Henokh sudah membaik dan luka di kening sudah mulai kering maka saya teringat kalau Henokh mengikuti program Asuransi Jiwa di Jepang. Asuransi Jiwa ini berbeda dengan asuransi kesehatan. Saat itu, saya hanya ingin mencoba apakah Asuransi Jiwa tersebut bisa mengcover kecelakaan yang dialami Henokh. Dengan bantuan dari … Continue reading “Mudahnya Pencairan Asuransi Jiwa Henokh di Jepang.”

The Accident

Rencana untuk bermain ke pantai di Hari Sabtu pun terpaksa batal terlaksana karena hujan turun sepanjang hari. Hal ini membuat kami bertiga hanya diam di rumah dan bermalas-malasan sambil berharap kepada ramalan cuaca yang memperlihatkan kalau hujan akan berhenti di sore hari. 15:00 JST Hujannya berhenti…!!! Ayo bersiap-siap..!!! Hujan di luar sudah reda, tetapi awan … Continue reading “The Accident”

Kembang Api Musim Panas di Jepang

Pada tulisan sebelumnya, saya memaparkan secara singkat mengenai Dilema musim panas di Jepang. Suhu udara yang tinggi ditambah dengan kelembapan udara yang cukup tinggi menghasilkan kombinasi yang membuat saya tidak kuat berlama-lama beraktifitas di luar ruangan. Disisi lain, festival kembang api (Hanabi 花火) adalah acara tahunan yang diadakan hampir setiap akhir pekan pada bulan Agustus di … Continue reading “Kembang Api Musim Panas di Jepang”

Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)

Bagi saya, pengalaman menulis karya ilmiah yang hendak dipublikasikan di Jurnal Internasional masih terbilang cukup baru. Pengalaman pertama ini dimulai sekitar tahun 2015 dimana saya publikasi di jurnal internasional menjadi salah satu syarat kelulusan program studi S3. Proses menulis sebuah karya ilmiah ternyata cukup mengasyikkan. Di tempat kerja saat ini pun, kita diwajibkan untuk menghasilkan karya tulis yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Seperti yang saya tuliskan pada cerita sebelumnya*, bahwa salah satu strategi untuk bisa lulus tepat waktu pada saat mengambil program S3 adalah memahami proses dan alur mulai dari pendaftaran karya ilmiah di jurnal internasional hingga tahap publikasi.

*Tulisan sebelumnya: https://www.travelingajadulu.com/asia/jepang/beasiswa-s3-di-jepang/

Proses inilah yang sering saya ungkapan sebagai salah satu faktor external dalam menentukan seseorang dapat lulus tepat waktu atau tidak.

Puji Tuhan di tahun 2020, baru saja salah satu tulisan saya diterima di salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Saya akan berusaha menjabarkan proses yang harus dilalui hingga waktu yang dibutuhkan mulai saat menulis draf, mendaftar, review, diterima dan dipublikasikan.

1. Menulis karya ilmiah.

Saya memulai menulis draft sekitar bulan November 2019. Setelah selesai menulis, draft tersebut harus saya berikan terlebih dahulu kepada para co-author untuk diperiksa. Proses revisi yang berasal dari para co-author ini memakan waktu hingga bulan Februari 2020. Cukup lama yaa.. Hehe.

Berdasarakan catatan saya, draft tulisan saya direvisi hingga 11 kali. Haha

2. Pendaftaran ke Jurnal Internasional.

Saya mendaftarkan tulisan saya sekitar pertengahan Maret 2020 ke salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Ada beberapa dokumen yang perlu diupload ketika hendak mendaftar, yaitu: tulisan ilmiah (manuscript), cover letter, highlights, dll.

Advertisements

Setelah proses pendaftaran selesai, maka kita akan menerima email konfirmasi. Selain itu, di email tersebut akan diberikan link untuk melihat status tulisan yang kita daftarkan.

Sebelum mendaftarkan, ada baiknya tulisan kita sudah dicek terlebih dahulu oleh Native English Speaker.

3. Durasi review

Setiap jurnal memiliki proses review yang berbeda-beda khususnya untuk durasi waktu. Ada yang cepat dan ada yang lama dalam proses review ini. Saya sendiri tidak tahu waktu pastinya, biasanya saya memberikan waktu dua bulan untuk proses review tersebut. Artinya, saya akan bertanya melalui email ke editor apabila tidak ada kabar terbaru mengenai perkembangan tulisan saya setelah dua bulan. Akan tetapi, ada kalanya belum sampai dua bulan sudah ada balasan mengenai status tulisan saya (berdasarkan pengalaman pada tulisan-tulisan ilmiah sebelumnya).

Oleh karena itu, sangat penting untuk diketahui dengan baik aturan main tempat dimana kita akan mendaftarkan tulisan tesebut.

4. Durasi revisi

Pada tanggal 25 Mei 2020, akhirnya saya menerima email dari editor bahwa tulisan saya sudah direview oleh beberapa reviewer dan terdapat beberapa komentar dan saran dari baik itu dari reviewer maupun editor. Dari komentar-komentar tersebut, editor meyimpulkan bahwa tulisan saya masuk dalam katagori “Revisi Minor”. Saya diberikan waktu sekitar dua bulan untuk menjawab pertanyaan para reviewer serta merevisi tulisan tersebut.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, waktu dua bulan tersebut terkadang belum cukup. Apabila terjadi kondisi seperti ini, silahkan menghubungi editor melalui email untuk meminta perpanjangan waktu.

Salah satu tahapan yang dilalui saat hendak melakukan publikasi di jurnal internasional

5. Pengumpulan revisi

Setelah selesai merevisi tulisan tersebut, maka pada tanggal 12 Juni 2020 saya mengumpulkan kembali tulisan yang sudah direvisi. Biasanya, satu atau dua hari selanjutnya akan ada email konfirmasi yang menyatakan “Editor Handle your revised submission of xxxxxxxxxx”

6. Status Akhir

Pada tanggal 19 Juni 2020, saya mendapatkan email pemberitahuan bahwa tulisan saya sudah DITERIMA dan akan diproses untuk diterbitkan.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan setelah pengumpulan revisi pertama akan ada revisi kedua. Pengalaman lain yang pernah saya alamai adalah memperoleh “Major Revision” setelah saya mengumpulan hasil revisi pertama. Padahal status yang saya peroleh pada revisi pertama adalah “Minor Revision”. Meskipun pada akhirnya tulisan itu bisa dipublikasikan setelah melalui dua kali revisi oleh reviewer. Kondisi seperti ini tentunya akan memperpanjang proses penilian dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman ini, butuh waktu sekitar 7 bulan mulai dari proses penulisan hingga diterima di jurnal internasional. Untuk proses mulai dari pendaftaran hingga diterima di jurnal internasional sendiri membutuhkan sekitar 3 bulan. Perlu diperhatikan bahwa 3 bulan yang saya peroleh disini sangat tergantung pada komentar dan saran dari para reviewer.

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Bagi banyak orang, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri. Tidak hanya pengalaman, namum gaji yang lebih besar bisa jadi daya tarik utama ketika memutuskan bekerja di luar negeri. Ketika saya pulang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang, baik saudara maupun teman yang ingin bekerja di Jepang. Kebanyakan karena diimingi gaji hingga belasan juta … Continue reading “Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!”

Celotehan Suami Istri (CSI): #12. Drama Hujan Dadakan

Malam ini, kami sedang menikmati malam sambil bercerita santai ditemani oleh anak kami, Henokh, yang sedang ikut duduk sambil mendengar orangtuanya bercerita.

Salah satu kejadian yang membuat kami tertawa terbahak-bahak hingga Henokh heran, adalah kisah di bulan September 2019. Kejadian di hari Minggu sore yang tidak mungkin kami lupakan.

Seperti biasanya, hari Minggu kami cukup sibuk untuk mempersiapkan diri berangkat ke gereja. Ibadah gereja yang dimulai pukul 18:00 JST membuat kami harus mempersiapkan banyak hal terutama untuk Henokh. Setiap minggu, kami berusaha untuk tiba di gereja sekitar pukul 17:00 – 17:30 JST untuk mempersiapkan beberapa hal sebelum ibadah dimulai.

Pagi harinya, kami melihat ramalan cuaca yang memberitahu akan ada hujan di sore hari sekitar pukul 16:00 hingga malam hari. Untuk mencegah kehujanan, kami pun berencana berangkat lebih cepat dari rumah dengan menggunakan bus menuju stasiun Tokai. Berdasarkan informasi dari Google Map, ada bus dari halte di dekat rumah pukul 14:49 JST. Karena jarak dari rumah ke halte sekitar 5 menit jalan kaki, maka kami pun keluar dari rumah pukul 14:35 JST.

Karena kami tahu akan turun hujan, maka kami tidak membawa stroller Henokh supaya lebih ringkas.

Menunggu Bus

Halte busnya hanya berupa tiang kecil berisi jadwal kedatangan bus dan tidak mempunyai tempat duduk dan tempat berteduh.”

Mami Henokh dan Halte bus.

Kami tiba lebih cepat di halte bus dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 JST tapi bus juga belum tiba. Hal yang wajar ketika bus datang terlambat karena ada kemungkinan terjadi kemacetan.

Hujannya Turun

Masih asik mengobrol sambil menunggu bus, tiba-tiba tanpa pemberitahuan ataupun aba-aba hujan turun dengan derasnya. Otomatis, kami langsung membuka payung dan diam di tempat.

L: Sayang, hujannya deras amat nih. Payungin bagian belakangku biar gak basah. Aku mayungin bagian depan biar Henokh gak basah.

I: OK. Tapi aku jadi basah cui. Gimana ini, mana busnya gak muncul-muncul. Mau nunggu atau telpon taksi?

L: Nunggu aja 5 menit lagi.

Hujan masih turun dengan lebatnya, celana bagian bawah sudah mulai basah, sepatu juga sudah mulai basah.

I: Sayang, kaos kaki mu basah gak?

L: Nggak sih, kenapa?

I: Aseemmm, berarti sepatuku bocor nih bagian bawahnya, kaos kakiku udah terendam air. Kebanjiran sepatu sebelah kanan. Pulang dulu aja lah kita, nanti naik taksi aja dari rumah ke stasiun.

L: Yakin?

I: Hemmmm, nunggu dulu aja deh 5 menit lagi.. Hahaha

L: Henokh gimana? Basah gak gendongannya?

I: Henokh aman, kakiku yang gak aman, udah terendam air yang sebelah kanan. Ayok pulang aja dulu.

Akhirnya, kami pun menyebrang jalan hendak menuju ke rumah.

I: Sayang, ayo nyebrang lagi!!!! Itu busnya udah mau datang…Dikerjain sama bus bah kita.

L: Huahahahaha..

Kami pun bergegas menyebrang kembali menuju halte bus. Bersamaan dengan itu, tiba juga akhirnya bus yang ditunggu-tunggu. Sambil sedikit menggerutu dengan bahasa Indonesia, kami pun naik ke dalam bus.

Ya ampun, ternyata ada dua orang ibu-ibu Indonesia di dalam bus tersebut yang sepertinya mendengar ocehan kami. Hahaha.

Sambil kenalan singkat, ternyata mereka bekerja di salah satu lembaga pemerintahan yang sedang mengikuti traning di tempat saya bekerja.

Perkenalan dan cerita yang sangat singkat mengingat jarak dari halte tersebut menuju stasiun hanya berkisar 5 menit menggunakan bus.

Dibecandain sama hujan

Belum lagi sampai di stasiun, hujan sudah berhenti total. Benar-benar berhenti dan langit langsung cerah lagi. Awan hitam yang berada di Desa Tokai selama 20 menit tersebut hilang ntah kemana.

Ya ampun, rencana mau berangkat cepat biar gak kehujanan, malah jadi kehujanan. Hahaha

I: Sayang, ayo beli sepatu sama kaus kaki dulu di toko sepatu yang di Stasiun Mito.

L: Hahhh? Beli sepatu? lah kan yang basah kaos kaki?

I: Lah, kalau beli kaus kaki doank, ntar basah lagi donk kakiku. Kan yang bermasalah sepatunya.

L: Pandai kali bah, sengaja kau kan pakai sepatu yang bocor biar bisa beli sepatu lagi. Itu di lemari masih ada sepatumu.

I: Hahahaha…

Kejadian ini cukup membuat Laura tertawa terpingkal-pingkal kalau mengingat kejadian itu.

Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.

CSI (Celotehan Suami Istri) Sebagai pasangan suami istri, tentunya kami sering ngobrol ngalur ngidul di meja makan. Mulai dari hal serius sampai hal receh. Mulai dari masa depan, pekerjaan, anak, hingga gosip. Ini adalah salah satu ceritanya. Laura sudah hampir 7 tahun ini bermain di dunia persahaman. Walaupun belum bisa di bilang expert (ahli) tapi cukup … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah … Continue reading “Perlu gak ya Dana Pensiun?”

Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda. Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan … Continue reading “Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang”