Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda.

Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan tetapi, kami mengganti tujuan awal dari hanya sekedar berkeliling menjadi pergi ke kota Hitachinaka untuk melihat toko barang bekas yang cukup terkenal yaitu WonderREX. Kami sudah beberapa kali ke toko ini untuk mencari banyak barang mulai dari barang elektronik, perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak. Tetapi, hari ini adalah pertama kalinya kami berangkat kesana dengan sepeda.

Jalur dan Waktu Tempuh

Untuk menuju ke WonderREX di kota Hitachinaka, ada beberapa rute yang bisa ditempuh. Biasanya kami menggunakan rute 248 apabila kesana dengan menggunakan mobil. Dengan menggunakan rute ini, jarak dari rumah menuju WonderREX sekitar 10 km, dimana dengan menggunakan mobil dapat ditempuh sekitar 20 menit. Sedangkan dengan berjalan kaki dapat ditempuh sekitar 1.5 jam. Ini adalah rute tersingkat dan yang paling mudah dihapal jalannya.

Rute lainnya adalah menggunakan rute 31 ditambah rute yang melewati perumahan. Rute ini lebih lama dan terlalu banyak belokan-belokan. Ditambah lagi karena rute ini belum pernah kami lalui, maka kami tidak mau mengambil resiko.

Dengan pilihan rute yang ditawarakan oleh Google Map, maka untuk berangkat ke Kota Hitachinaka kami memutuskan menggunakan rute 248.

Persiapan

Kami akan menggunakan dua sepeda, dimana Laura dan Henokh akan berada di satu sepeda, sedangkan saya berada di sepeda yang satunya. Karena perjalanan ini menggunakan sepeda, tentunya tidak memungkinkan kami untuk membeli barang-barang yang besar dan memang pada dasarnya tujuan kesana hanya untuk sekedar mengecek barang.

Karena Henokh masih berusia satu tahun lebih sedikit, maka kami pun perlu mempersiapkan perlengkapan mulai dari popok, makan siang, cemilan, minum, hingga baju ganti. Sedangkan saya dan istri, mempersiapkan baju ganti karena kemungkinan besar akan berkeringat setelah 10 km bersepeda.

Berangkat

Sekitar pukul 10:30 JST, kami pun berangkat dan cuaca cukup mendukung (tidak panas dan tidak mendung). Tidak ada masalah berarti di 2 km pertama karena jalur ini adalah jalur yang sehari-hari saya gunakan menuju ke tempat kerja. Pada umumnya, kami bersepeda di jalur pedestrian tapi terkadang kami harus masuk ke jalur umum (mobil) karena jalur pedestriannya cukup sempit dan dipenuhi oleh ilalang sehingga tidak bisa dilalui dengan aman. Hal ini cukup wajar mengingat tidak banyak orang yang berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda yang melewati jalur 248 ini.

Rute berangkat melalui Jalur 284.

Setelah 30 menit bersepeda, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati minuman yang kami bawa. Henokh sangat menikmati perjalanan dengan menikmati pemandangan sawah dan ladang yang terhampar disepanjang jalan.

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju WonderREX di kota Hitachinaka. Menurut informasi dari Google Map, kami masih harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan lagi. Kali ini bukan hamparan sawah maupun ladang lagi yang kami temui, melainkan bangunan pertokoan, rumah, supermarket hingga perusahaan Hitachi. Dengan begitu artinya kami sudah masuk ke kota Hitachinaka. Dari Jalur 248 kami harus belok kanan ke jalur 169 karena WonderREX terletak di jalur 169. Pedestrian di jalur 169 jauh lebih luas dibandingkan jalur 248 sehingga membuat kami cukup nyaman dalam bersepeda.

Cuci Mata

Sesuai dengan rencana awal, tujuan ke WonderREX kali ini adalah sekedar cuci mata dan survey barang. Ternyata barang yang mau disurvey sedang tidak ada dijual. Karena kami datang di bulan Juni yang artinya sebentar lagi mau musim panas, maka banyak sekali dijual peralatan untuk berselancar dan sejenisnya.

Advertisements

Oiya, Kota Oarai yang hanya berjarak sekitar 15 km dari kota Hitachinaka terkenal dengan pantai dan ombaknya. Sehingga di musim panas, banyak sekali orang yang berkunjung ke kota Oarai”.

Karena tidak ada barang yang mau dicari, akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan siang di sekitar WonderREX. Pilihan utamanya jatuh ke Pizza Domino yang ada di seberang WonderREX. Ternyata, di tempat tersebut tidak bisa makan ditempat, hanya boleh pesan dan dibawa pulang (take out). Alhasil, kami harus mengganti pilihan tempat makan.

Makan Siang

Akhirnya kami memutuskan untuk bersepeda menuju persimpangan jalur 169 dan 248 karena tepat di pojok jalur tersebut terdapat McD. Tempat yang cukup apabila membawa anak bayi. Tentu saja, kami membawa makanan sendiri untuk Henokh karena belum banyak pilihan menu yang bisa dimakannya disini.

“Ketika kami berpergian jauh, biasanya kami membawa dua jenis makanan untuk Henokh: 1. Makanan yang dimasak sendiri dirumah. 2. Makanan instan untuk bayi yang bisa dibeli di supermarket maupun toko-toko perlengkapan bayi.”

Setelah selesai melepas lelah dan beristirahat sekitar satu jam di McD, kami pun berencana melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Tokai. Tapi, kami akan pulang dengan menggunakan rute yang berbeda. Hal ini karena mempertimbangkan jalur 248 yang mulai ramai menjelang sore hari serta jalur pedestriannya yang cukup sempit di beberapa tempat.

Rute Baru Penuh Kejutan

Rute yang kami tempuh lebih ribet karena akan melewati jalur-jalur kecil dan bukan jalur utama. Butuh waktu sekitar 1.5 jam apabila ditempuh dengan jalan kaki. Dari sini, kami mengasumsikan bahwa waktu tempuh dengan sepeda kurang lebih satu jam. Kami bersepeda dengan santai dan berhenti beberapa kali karena salah masuk jalan. Ada kalanya menemukan jalan buntu di dekat Stasiun Sawa, ada kalanya harus putar balik karena ada perbaikan atau pembukaan jalan baru, dan yang paling jackpot adalah menemukan ular di jalur pedestrian.

Rute perjalanan pulang melalui jalan “tikus”.

“Saat itu, istri sedang berada di posisi depan dan saya mengikuti di belakang. Tiba-tiba istri teriak, “Ularrrrr!!”

Di jalur yang baru pertama kali kami lalui ini, ternyata ada dua tempat dimana kami sangat terpukau akan suasana semacam komplek perumahan. Bukan seperti perumahan yang ada di Indonesia yang ada gerbang utama dan rumah yang seragam jenisnya. Ini hanya sebuah wilayah yang ditata sedemikian rupa sehingga rumah-rumah tersusun rapi tanpa pagar. Ini mengingatkan kami seperti daerah perumahan yang ada di sekitar tempat kami tinggal dulu (Miyamae-ku).

“Sepertinya akan jadi kandidat lokasi nih kalau masih lama tinggal di Jepang”, celetuk Laura sambil tetap mengayuh sepeda listriknya dengan santai.

Tidak jauh dari situ, kami sudah melihat bangunan yang tidak asing lagi dikunjungi oleh Henokh, Perpustakaan Desa Tokai. Wah, ternyata lokasi perumahan tersebut terletak di perbatasan antara kota Hitachinaka dan desa Tokai.

Bermain di Taman

Sepanjang perjalanan pulang, ternyata Henokh tidur dengan lelap di sepeda karena memang angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan lembut. Sebelum ke rumah, kami memutuskan untuk bermain di taman karena Henokh baru saja bangun dari tidurnya. Seperti biasanya, “Taman Yoku” (nama yang kami berikan untuk taman tersebut) di hari Sabtu cukup ramai dengan anak-anak yang sedang bermain dengan orangtuanya. Dan seperti biasanya juga, Henokh pun langsung bersemangat begitu turun dari sepeda dan segera berlari menuju tempat perosotan anak.

Sabtu Ceria

Begitulah cerita kami menghabiskan waktu bersama di hari Sabtu. Kadang kami bermain diluar, terkadang juga hanya dirumah saja. Hari Sabtu adalah salah satu hari dimana kami berusaha membuat banyak memori indah untuk kami bertiga.

Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi … Continue reading “Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

5 Etika yang perlu diketahui sebelum ke Jepang.

Sudah sering dengar pepatah ” Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” kan? Pepatah ini tentulah sangat tepat bagi kita yang hendak datang berwisata atau berkunjung ke tempat yang baru. Salah satu negara yang banyak dikunjungi untuk berwisata adalah Jepang.

Sebelum kita berkunjung, ada baiknya kita pahami dulu lima etika yang ada di Jepang.

  1. Budaya Antri. Etika mengantri bisa terlihat dibanyak tempat di Jepang, seperti mengantri di stasiun, mengantri di restoran, mengantri di toilet umum, dll.
    • Antri di Stasiun. Bagi mereka yang hendak menggunakan kereta, maka wajib diketahui bahwa kita harus mengantri di jalur yang sudah ditentukan. Selain itu, utamakan penumpang yang hendak keluar dari kereta.
    • Antri di Restoran. Pada saat jam makan siang maupun makan malam, banyak restoran yang terkadang penuh hingga membuat pelanggan harus menunggu. Demi menjaga ketertiban, biasanya tuliskan nama dan jumlah orang yang hendak makan di kertas yang sediakan. Selanjutnya, silahkan mengantri di tempat yang sudah disediakan.
    • Antri di Toilet (pria). Biasanya ada dua jalur, yaitu antrian untuk buang air kecil dan buang air besar. Perhatikan posisi anda sudah di jalur yang benar.
  2. Tepat waktu. Hampir semua orang sudah mengenal Jepang dengan tepat waktunya. Kalau anda melihat jadwal kedatangan kereta di stasiun tertulis 15:32, maka kereta itu pasti akan datang jam 15:32. Demikian pula ketika hendak menghadiri pertemuan (meeting) dengan orang Jepang. Kalau acara dimulai pukul 13:10, maka dipastikan acara akan dimulai pukul 13:10 meskipun semua peserta sudah berada di dalam ruangan dari pukul 13:00.
  3. Eskalator. Ada hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan eskalator. Hal ini sangat penting diketahui demi menjaga kenyamanan bersama di ruang publik. TOKYO sekitarnya: Silahkan gunakan jalur sebelah kiri apabila hendak berdiri di eskalor, dan silahkan gunakan jalur di sebelah kanan apabila ingin mendahului sambil berjalan di eskalator. Osaka: Posisinya berkebalikan dengan yang diterapkan di Tokyo.
  4. Tidak ada uang tip. Sehabis makan di restoran, menginap di hotel, menggunakan jasa perjalanan, maka cukup mengucapkan terima kasih tanpa harus memberikan uang tip.
  5. Buang sampah sesuai jenisnya. Hal yang terakhir ini mungkin sangat membingungkan bagi banyak orang asing. Peraturan pengkatagorian sampah berbeda-beda hampir disetiap kota. Tetapi pada umumnya penggolongan ini bisa dibagi menjadi empat, yaitu: sampah bakar, sampah plastik, sampah botol dan sampah kaleng. Keempat jenis katagori ini paling sering ditemukan di tempat umum seperti stasiun kereta, minimarket dan mall (area food court). Sedangkan bagi mereka yang hendak tinggal di Jepang untuk sekolah, kerja, dll maka wajib membaca aturan dan pengkatagorian sampah yang lebih detail. Contoh: di Desa Tokai, untuk sampah botol maka tutup botol dan label plastik yang biasanya ada di botol masuk kedalam katagori sampah bakar. Sedangkan botolnya masuk ke sampah botol.

Demikianlah sekilas informasi mengenai beberapa hal yang perlu kita pahami sebelum datang ke Jepang.

Pengalaman ketinggalan barang di Stasiun Tokai Jepang

Memasuki bulan Juni di Jepang artinya mempersiapkan diri akan datangnya musim hujan, dimana hujan bisa datang sepanjang hari dengan intensitas yang berbeda-beda. Hal ini tentunya perlu diantisipasi dengan membawa payung. Untuk jenis payung sendiri, saya menyarankan belilah payung yang tahan angin sehingga dapat digunakan pada musim hujan di bulan Juni dan musim taifun disekitar bulan September. Mungkin salah satu jenis payung yang paling ikonik dari Jepang adalah payung transparan (bening). Payung ini bisa dijumpai hampir disetiap convenience store (konbini) maupun supermarket. Payung ini bisa digunakan dengan baik di musim hujan saat ini, tetapi tidak saya rekomendasikan digunakan pada saaat musim hujan disertai taifun karena besar kemungkinan akan rusak.

Kembali lagi ke judul diatas, hari Minggu ini saya berencana untuk pergi beribadah ke Gereja di kota Oarai. Kota Oarai sendiri terletak sekitar 30 km dari Desa Tokai dan satu-satunya transportasi umum yang bisa mencapai kota ini adalah kereta.

Sayangnya, sejak hari Sabtu hujan terus menerus turun hingga hari Minggu sore sekitar pukul 15:30 JST. Hal tersebut membuat saya harus membawa payung. Kebetulan intensitas hujan yang turun sedikit berkurang sehingga saya bisa berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda ke Stasiun Tokai.

Sesampainya di Stasiun Tokai, tidak lupa saya membawa serta payung untuk berjaga-jaga apabila di kota Oarai sedang hujan dan saya harus berjalan kaki dari Stasiun Oarai menuju gereja.

Advertisements

Karena sepanjang jalan tadi hujan yang turun cukup membuat jaket yang saya pakai basah, akhirnya saya pun bergegas ke toilet di dalam stasiun untuk berbenah. Setelahnya, saya duduk sebentar di bangku yang tersedia di dalam stasiun sambil merapikan isi tas bawaan saya. Tidak lupa pula, payung tersebut saya gantungkan di tiang yang ada disamping bangku.

Setelah selesai merapikan isi tas, saya langsung turun menuju platform karena kereta yang akan menuju Stasiun Mito (stasiun transit sebelum menuju Oarai) akan berangkat pukul 16:02 JST.

Sejak pandemi COVID19 ini menyebar hingga status emergency di Jepang (khususnya Ibaraki) sudah dilepas, tetapi jumlah penumpang kereta masih sangat sedikit dibandingkan kondisi sebelum COVID19“.

Tidak ada hal spesial sepanjang perjalanan menuju Mito. Kadang kala saya merekam video pemandangan yang ada di luar kereta. Hingga sesaat sebelum keluar dari kereta, saya baru sadar bahwa payung tersebut tidak ada di kereta. Saya mencoba mengingat-ingat lagi dan terpikir bahwa payung itu tertinggal di sekitar bangku di Stasiun Tokai.

Wah, masa harus beli payung lagi? Masih ada gak ya payungnya di Stasiun Tokai? Beli payungnya di Stasiun Mito atau di Stasiun Oarai ya ? rugi banget nanti beli di Mito tahu-tahu hujannya sudah reda di Oarai.

Hal-hal semacam itu lah yang terpikir dibenak saya saat itu. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli payung. Hahaha

Kenapa saya memutuskan untuk tidak membeli payung? Pertama, saya sudah mengecek di aplikasi cuaca yang mengatakan bahwa kota Oarai tidak hujan pukul 17:00 – 18:00. Kedua, saya menghubungi teman dan dia bisa menjemput di Stasiun Oarai kalau ternyata hujan.

Singkat cerita, saya akhirnya tiba di Stasiun Oarai dan ternyata tidak hujan. Baru saja saya menghubungi teman tersebut melaui chat dengan maksud agar saya tidak perlu dijemput, malah saya bertemu dengan teman lain yang sedang memarkirkan mobilnya di depan stasiun. Akhirnya, saya pun menuju gereja bersama dengan beliau.

Setelah Ibadah Gereja selesai dan saya akan kembali menggunakan kereta dari Stasiun Oarai menuju ke desa Tokai, saya tidak berharap banyak akan keberadaan payung yang ketinggalan tersebut. Disisi lain, saya juga penasaran dengan perkataan banyak orang tentang Jepang, dimana salah satunya adalah barang ketinggalan tidak akan hilang dan kalaupun tidak ada di tempatnya, bisa ditanyakan ke petugas di stasiun tersebut. Dan ini adalah salah satu kesempatan untuk membuktikan omongan tersebut.

Begitu kereta berhenti di Stasiun Tokai, saya pun bergegas menuju bangku tersebut dan ternyata payung tersebut masih ada disana walaupun posisinya sudah berpindah dari tempat asalnya.

Payung yang tertinggal di Stasiun Tokai.

Wah, ternyata memang benar apa yang dibilang orang selama ini tentang Jepang mengenai barang yang ketinggalan di tempat umum. Tapi, bukan berarti hal ini bisa dijadikan patokan 100% ya teman-teman. Tetap berhati-hati dan mengecek barang bawaan anda ya.

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading “Musim di Jepang”

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris. Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang … Continue reading “Bahasa Inggris dan Beasiswa”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (7)

Di Desa Tokai, disediakan fasilitas bermain indoor untuk anak-anak mulai dari usia kurang dari satu bulan. Fasilitas ini dinamakan “Jidoukan”. Jidoukan sendiri dikelolah oleh pemerintah daerah sehingga setiap anak bisa menikmati semua fasilitas yang disediakan secara gratis.

Pada umumnya Jidoukan ini hampir sama seperti sebuah hall yang cukup luas dan terdapat berbagai macam jenis mainan anak-anak dan buku bacaan anak. Mainan yang tersedia pun adalah jenis mainan yang dapat membantu motorik anak-anak. Intinya mainan yang disediakan bisa membantu kecerdasan dan daya tangkap si anak.

Selain itu, terdapat staf yang ikut serta bermain dengan anak-anak dan di jam-jam tertentu akan membacakan buku hingga bernyanyi bersama.

Anak kami sendiri, Henokh, sudah mulai ikut menikmati fasilitas ini sejak usia sekitar 7 bulan. Ada beberapa alasan kenapa mami Henokh membawanya ke Jidoukan: ruang bermain yang luas sehingga Henokh bisa merangkak dengan bebas, bertemu dengan banyak anak-anak yang seangkatan, hingga belajar beradaptasi pada kondisi yang ramai. Hal penting lainnya adalah anak diajak untuk belajar berbagi karena mainan yang terdapat disana bukan milik sendiri melainkan milik bersama.

Rindu Bermain ke Jidoukan

Salah satu syarat bisa bermain ke Jidoukan adalah anak dalam kondisi sehat. Sayang sekali di awal Januari yang lalu Henokh sedang terkena batuk sehingga tidak etis untuk membawanya ke Jidoukan karena takut menulari anak yang lain. Ditambah lagi dengan kasus COVID19 yang sejak awal tahun 2020, maka kami pun memutuskan untuk tidak pergi kesana. Selain itu, sejak bulan Maret hingga akhir Mei yang lalu pun banyak fasilitas umum termasuk Jidoukan yang menutup seluruh kegiatan untuk mencegah penyebaran virus COVID19.

Hingga akhirnya di minggu kedua bulan Juni, Henokh dan maminya berencana kuat bermain ke Jidoukan karena fasilitas ini sudah dibuka kembali. Mereka pun bersepeda dari rumah menuju ke Jidoukan yang berjarak sekitar 1.5 km dari rumah.

Peraturan Baru di Jidoukan

Ternyata hari itu mereka tidak boleh masuk ke Jidoukan karena ada beberapa hal baru yang berbeda dengan kondisi sebelum adanya pandemi COVID19.

1. Harus registrasi melalui telepon terlebih dahulu.

2. Jam operasional hanya dari pukul 10:00 – 12:00. Kondisi sebelumnya Jidoukan dibuka hingga jam 16:00.

3. Terdapat pembatasan jumlah orang yang bisa berkunjung dalam satu hari.

Dengan adanya pembatasan jam operasional dan pembatasan jumlah orang, maka ada beberapa kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan seperti kegiatan bernyanyi dan membaca bersama yang dipandu oleh staf yang bertugas.

Setelah mengetahui aturan baru tersebut, Henokh dan maminya pun pergi ke Jidoukan keesokan harinya. Ternyata Henokh langsung bisa menikmati suasana bermain disana hingga maminya dibuat lelah mengejar Henokh yang berlari kesana kemari. Disisi lain, kelelahan maminya tentunya terbayarkan dengan melihat Henokh yang begitu aktif dan menikmati bermain bahkan bermain dengan anak-anak lainnya.

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Ilustrasi dana pensiun.

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah aman dengan kondisi seperti saat ini.

Hal ini mulai mengusik kehidupan jiwa dan raga ketika berdiskusi lebih dalam berlangsung dengan istri yang kebetulan berlatar belakang ekonomi dan seorang akuntan ditambah lagi dengan informasi seputar dunia keuangan yang bisa dibaca baik melalui buku, media elektronik maupun menonton video yang banyak tersebar dibanyak platform.

Salah satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah data yang mengatakan bahwa kurang dari 10% para pensiunan mempersiapkan rencana pensiun dengan baik sehingga tidak dapat hidup dengan sejahtera.

Tentunya dengan angka ini membuat saya cukup kaget. Bagaimana bisa ketika sudah bekerja selama puluhan tahun dan adanya pesangon ketika memulai memasuki masa pensiun atau gaji pensiunan bagi PNS tetapi masih belum bisa membuat hidup sejahtera dimasa pensiun nantinya?

Apakah nantinya uang pensiunan bulanan ataupun pesangon itu bisa mencukupi kebutuhan hidup semasa pensiun? Kalau ternyata belum cukup, apa yang harus dilakukan? Perlukah dipersiapkan dari sekarang? Bagaimana cara memulainya?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang bekerja di sektor UMKM ataupun informal? Adakah cara untuk mempersiapkan dana untuk hari tua disaat memenuhi kebutuhan sehari-hari aja masih pas-pasan?

Bagi saya yang berlatar pendidikan di bidang keteknikan dan bekerja dibidang yang sama, tidak saya pungkiri hal-hal keuangan seperti ini masih sangat awam bagi saya. Akan tetapi, melihat data yang ada, tentu saja saya berusaha untuk tidak masuk ke lingkaran yang 10% ketika memasuki masa pensiun.

Sebagai orang awam, ternyata banyak cara yang sudah tersedia untuk memfasilitasi kita nantinya pada saat memasuki dunia pensiun. Salah satunya adalah dengan mengikuti program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Review Stroller AirBuggy ‘COCO BRAKE EX From Birth’

Stroller AirBuggy dan barang bawaannya.

Stroller merupakan salah satu perlengkapan bayi yang sepertinya wajib dimiliki oleh setiap keluarga yang mempunyai anak bayi maupun balita khususnya di negara Jepang.

Dengan adanya stroller, maka biasanya para ibu bisa membawa anaknya bermain di sekitar rumah, belanja ke supermarket, hingga berpergian menggunakan kereta maupun bus. Hal ini tentunya membantu para ibu dibandingkan harus menggendong bayinya selama di perjalanan.

Seperti pada cerita sebelumnya, kami memutuskan untuk membeli sebuah stroller dengan merk ‘AirBuggy’ pada tahun 2019. Setelah lebih dari setahun memakai stroller ini, saya memutuskan untuk menuliskan sebuah review singkat tentang stroller ini.

Review ini akan dilakukan seobjektif mungkin sehingga bisa menjadi masukan bagi orang yang mau membelinya.

Advertisements

Informasi umum mengenai stroller AirBuggy

1. Harga

Ada terdapat beberapa model yang ditawarkan oleh AirBuggy. Kami memilih mengambil model ‘Coco Brake EX From Birth’ dengan harganya sekitar ¥62.000 (belum termasuk pajak). Pada saat membelinya, kami memperoleh bonus yaitu stroller mat. Salah satu keunggulan stroller mat ini adalah motifnya ada dua jenis sehingga bisa dipakai bolak-balik.

Info lengkap mengenai harganya bisa dicek disini: https://www.airbuggy.com/en/stroller/

2. Dimensi

Ukuran stroller pada saat posisi terbuka: Tinggi: 104.5 cm, Lebar: 53.5, dan Panjang: 96 cm. Sedangkan berat strollernya sendiri sekitar 9.5 kg.

Dimensi AirBuggy ‘Coco Brake EX’

Dengan dimensi dan berat stroller yang nyaris mencapai 10 kg, stroller ini bisa membawa beban seberat 15 kg dengan kapasitas bagasi bawah seberat 5kg. Untuk tipe yang kami beli bisa membawa bayi sejak umur 0 bulan hingga 3 tahun.

Keunggulan Stroller AirBuggy

  1. Kokoh dan Stabil. Alasan utama langsung jatuh cinta dengan stroller ini adalah bentuknya yang kokoh dan stabil. Dibandingkan dengan merk lain yang mempunyai harga yang relatif sama, AirBuggy jauh lebih kokoh dan stabil.
  2. Mudah dikendalikan. AirBuggy merupakan stroller yang mempunyai 3 buah roda, dua dibagian belakang dan 1 dibagian depan. Meskipun demikian, sangat mudah mengendalikan stroller ini walaupun dengan satu tangan.
  3. Rem cakram. Terdapat dua buah rem yaitu rem tangan dan rem parkir (internal drum brake). Rem parkir ada dibagian bawah dekat ban belakang. Kedua rem ini bekerja dengan sangat baik, meskipun dalam kondisi hujan dan kondisi jalan turunan. Rem tangan stroller ini sangat bermanfaat dan mudah dikendalikan pada kondisi jalan yang turunan. Menggunakan rem tangan stroller AirBuggy pada kondisi turunan hampir sama seperti menggunakan rem belakang pada saat mengendarai motor.
  4. Air Tube Tire. Ban yang dipakai stroller AirBuggy menggunakan ban yang dapat dipompa seperti ban sepeda. Kelebihan tipe ban ini dibandingkan dengan jenis ban plastik pada stroller merk lainnya adalah dapat menyerap getaran terutama pada jalan yang bergelombang atau tidak rata. Hal ini menambah kenyamanan bayi ketika tidur di stoller.
  5. Mudah dibersihkan. Sistem bongkar pasang yang ada di AirBuggy memudahkan untuk membersihkan (menyuci) semua bagian.
  6. Sudut rebahan. Posisi duduk bayi dapat diatur dari posisi 115 hingga 155 derajat. Hal ini memberikan kenyamanan pada bayi baik saat duduk maupun tidur.
  7. Kapasitas bagasi. Bagi kami yang membawa bayi untuk kegiatan belanja di supermarket sehari-hari. Bagasi yang ditawarkan stroller ini bisa menampung hampir semua barang belanjaan seperti beras, minuman kotak, hingga barang-barang lainnya pada bagasi bagian bawah. Selain itu, masih bisa menggantungkan beberapa barang ringan pada gantungan yang ada didekat rem tangan.
Jenis roda yang digunakan pada AirBuggy.

Kekurangan Stroller AirBuggy

  1. Berat. Dibandingkan dengan stroller merk lain, maka Airbuggy dapat dikatagorikan sebagai stroller yang cukup berat.
  2. Handle satu arah. Posisi handle tidak bisa dua arah sehingga tidak bisa melihat secara langsung kondisi bayi pada saat sedang berjalan.

Dari penjabaran diatas, bisa terlihat bahwa kami sangat puas dengan stroller AirBuggy. Salah satu poin utama dari stroller ini adalah daya redam yang bagus pada saat dibawa dijalanan yang kasar dan bergelombang.

Demikian review singkat mengenai pengalaman memakai stroller AirBuggy selama lebih dari satu tahun.

Referensi: https://www.airbuggy.com/en/

Video unboxing stroller AirBuggy dapat dilihat disini:

Mengejar Cinta (3): PDKT

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Tidak terasa kalau sudah 10 tahun sejak awal mula saya melakukan pendekatan dengan Laura. Walaupun sudah 10 tahun, tapi rasanya seperti baru kemarin saja. Banyak hal yang masih diingat sejak pertama kali bertemu hingga saat ini.

Tulisan ini berusaha untuk mengabadikan memori itu karena saya tahu suatu saat nanti sepertinya akan ada memori-memori yang sudah mulai lupa karena daya ingat yang menurun.

Perpisahan

Walapun saya sudah punya nomor HP Laura, ntah kenapa saya masih belum punya alasan yang cukup kuat untuk memulai menghubungi dia. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya di bulan Juni 2010. Hingga akhirnya ada bunyi sms yang masuk, dan ternyata sms itu datang dari Laura.

“Ketemuan yuk di Amplaz (Ambarukmo Plaza). Aku keterima kerja dan lusa mau berangkat.”, kira-kira begitu bunyi sms dari Laura.

“Boleh. Siapa aja?”, menjawab sms dari Laura.

” Teman-teman yang lain juga udah tak sms sih. Kalau kamu bisa ya ikut aja”.

Tanpa panjang lebar, saya pun langsung bersiap-siap menuju ke Amplaz.

Sumatera, I’m coming.

Ternyata pertemuan kali ini hanya tiga orang saja, Laura, Andi dan saya. Dari pertemuan ini, kami baru tahu kalau Laura akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara.

Meskipun sepertinya penempatan tersebut seperti kembali ke daerah asalnya, tapi Medan akan menjadi kota pertama diluar Jawa yang akan menjadi kota perantauannya setelah lulus kuliah. Pertemuan hari itu pun berlangsung untuk sekedar berbagi informasi mengenai kota Medan sambil ngobrol kesana kemari tentang berbagai hal. Karena memang pertemuan hari ini sekedar untuk perpisahan dan Laura masih butuh waktu untuk berkemas, kami pun tidak berlama-lama berada di Amplaz.

Bagi saya yang sudah terpesona dengan Laura, perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang dia keterima kerja dan penempatan di Medan. Sedih karena baru saja mau memulai pendekatan langsung di pisahkan oleh jarak.

Saya sudah punya pacar.

Di minggu-minggu awal kedatangannya di Kota Medan, kami menjadi lebih sering berkomunikasi. Hal yang sering kali ditanyakan adalah: “Cui, naik angkot apa di medan ini dari A ke B? “

Sms seperti itu sering sekali muncul di pagi hari ketika Laura sedang mencari alternatif angkot lain yang bisa membawa dia dari tempat tinggalnya menuju kantor. Karena rute yang dia gunakan hampir sama dengan rute yang sering kulalui sewaktu SMA, maka tidak terlalu sulit untuk menjelaskannya.

Disisi lain, sering juga dia bertanya rute dari titik A ke titik B yang mana saya pun belum pernah menjelajahinya. Alhasil pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya balas dengan sms becandaan, ” Awak memang besar di Medan, tapi kan manalah ku hapal trayek angkot itu semuanya. Haha”

Percakapan-percapakan seperti ini ditambah obrolan selepas pulang dari tempat kerja membuat suasana mulai terasa cair.

Disisi lain, beberapa kali Laura cerita kalau dia sering dijodohkan dengan teman kantornya atau dengan kaum ibu-ibu yang sedang mencarikan jodoh buat anak-anaknya. Atau bahkan pernah cerita kalau ada yang sedang mendekatinya.

Mendengar ceritanya seperti itu, terkadang membuat hati jadi bergejolak juga yaa..

Tapi yang membuat sedikit lega, saat itu dia berusaha menjawab kalau dia sudah punya pacar (walaupun sebenarnya tidak ada). Hanya saja jawaban itu membuat dia bisa fokus ke pekerjaannya.

Ketemuan di depan kantor ya.

Sebulan setelah Laura tinggal di Medan, saya punya kesempatan untuk pulang sebentar ke Medan. Tentunya, salah satu hal yang saya lakukan akan membuat janji untuk bertemu dengan Laura.

Kami pun membuat janji ketemuan setelah jam pulang kantor dan karena dia masih dalam masa training, maka belum ada lembur hingga larut malam. Disepakatilah kami bertemu hari Selasa di depan kantornya sekitar jam 5.00 sore.

Ternyata, janjian ketemuan di depan kantor sesaat jam pulang kantor adalah salah satu strategi yang dilakukannya supaya terlihat oleh teman-teman kantor kalau dia sudah punya pacar seperti yang diucapkannya kepada teman-teman kantornya. Hal ini pun sedikit banyak berhasil karena hari itu saya harus ikutan menyapa setiap temannya yang ada di depan gerbang kantor.

Saya tidak tahu sama sekali hal tersebut hingga dia menceritakannya ketika kami sudah menjalin hubungan.

Advertisements

Awal mula PDKT

Pertemuan ini pun kami habiskan untuk sekedar menonton film di bioskop. Film Inception menjadi pilihan kami pada saat itu. Film yang berdurasi sekitar 2.5 jam tersebut berhasil membuat kami terpukau dengan jalan ceritanya.

Entah kenapa saya lebih memilih mengajak menonton film dibandingkan makan. Padahal kalau diperhatikan lagi, tidak banyak komunikasi yang bisa terbangun ketika menonton film.

Setelah nonton, kami pun singgah untuk makan malam sebentar sebelum mengantarkan Laura kembali ke tempat tinggalnya. Kebetulan juga dia masih tinggal di daerah yang satu arah dengan tempat tinggal saya.

Tapi dari pertemuan itu, kami bisa membangun komunikasi yang lebih lagi dan bercerita lebih banyak hal serta berusaha mengetahui satu sama lain.

Bagi saya, peristiwa itu adalah awal mula proses PDKT dimulai. Dan karena ini masih tahap yang sangat awal, saya berusaha tidak menceritakannya kepada siapapun bahkan kepada si Andi. Hahaha

Bagaimana dengan Laura, apakah ketemuan kita di Medan bisa dibilang sebagai awal mulanya proses untuk saling mengenal satu sama lain? Bisa ditanyakan langsung ke orangnya ya..

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (6)

Tokai Culture Center.

Kelas Bahasa Jepang

Hal menarik ketika tinggal di Jepang adalah tersedianya kelas volunter bahasa Jepang. Sewaktu kami tinggal di Miyamae, Kawasaki, istri sangat aktif untuk ikut belajar bahasa Jepang melalui kelas volunter ini. Hal ini karena biaya yang dikeluarkan cukup murah yaitu sekitar ¥500 per tahun (kalau tidak salah). Harga yang ditetapkan ditiap daerah mungkin sedikit berbeda tetapi masih dalam katagori yang cukup murah. Pada umumnya, kelas bahasa ini dilaksanakan di Kantor Kelurahan atau di Community Center yang ada di daerah tersebut.

Ketika kami pindah ke Desa Tokai, justru kami menemukan lebih banyak organisasi yang menyediakan kelas bahasa Jepang secara volunter. Seperti apa sih Desa Tokai ini sampai banyak mengadakan kelas volunter bahasa Jepang? Apakah banyak orang asing di Desa Tokai? Nantikan cerita tentang Desa Tokai ini di cerita-cerita selanjutnya ya. Saat ini kita fokus tentang kelas bahasa Jepang saja.

Di Desa Tokai sendiri, kami mengikuti kelas bahasa Jepang yang diselenggarakan oleh Tokai Volunteer Japanese Language School.

Advertisements

Tokai Volunteer Japanese Language School

Kelas bahasa ini diselenggarakan setiap Hari Sabtu, pukul 10:00 -12:00 JST. Biaya untuk satu kali pertemuan sebesar ¥250. Biaya ini sudah termasuk dengan cemilan ringan yang bisa dinikmati sewaktu jam istirahat.

Untuk siswa yang baru pertama kali belajar bahasa Jepang, maka buku Minna No Nihonggo 1 adalah buku yang akan digunakan. Buku ini tersedia di toko buku, perpustakan Tokai hingga toko online serba ada, Amazon.

Pada umumnya, sistem belajar yang digunakan seperti kelas private dimana satu orang murid diajari oleh seorang guru.

Salah satu hal menarik khususnya untuk Tokai Volunteer Japanese Language School ini adalah boleh membawa bayi. Selain itu, ruangan belajar yang dipisah bagi mereka yang membawa anaknya sehingga tidak mengganggu siswa lainnya.

Selain mendapatkan ilmu bahasa Jepang, hal penting lainnya adalah menambah komunitas. Dengan mengikuti kelas ini, kami merasa seperti mempunyai keluarga terutama dengan guru (sensei) yang mengajari kami.

Pernah beberapa kali, kami dibantu oleh Sensei pada saat hendak ke rumah sakit ketika istri sedang hamil. Bahkan pernah diantar ke salah satu toko baju bayi pada saat kami hendak mempersiapkan perlengkapan bayi.

Aktifitas di luar Kelas

Selain kegiatan belajar yang dilaksanakan di dalam kelas setiap minggunya, ada juga acara rutin setiap tahun yaitu: Field Trip dan Speech Contest. Tahun 2019 yang lalu, kami berpartisipasi dalam kedua acara tersebut.

Berpartisipasi dalam Japanese Speech Contest 2019 yang diselenggarakan di Desa Tokai

Cerita mengenai kegiatan tersebut bisa dibaca disini: “One Day Trip” Fukushima

Rindu kelas Volunteer

Akibat merebaknya pandemi COVID-19, kelas volunter untuk saat ini masih ditiadakan sejak bulan Maret 2020. Semoga saja pada saat kondisi sudah membaik, kelas ini dapat berjalan kembali. Terlebih lagi, semoga para guru serta murid-murid lainnya dalam kondisi sehat selalu.

Beberapa Kelas Volunter Bahasa Jepang di Desa Tokai

Siapa tahu nanti ada yang berencana tinggal di Desa Tokai, berikut saya lampirkan beberapa nama organisasi yang mengorganisir kelas bahasa Jepang:

  1. TOKAI JLT.
  2. Tokai Volunteer Japanese Language School.
  3. TIC Japanese Class.

Ketiga organisasi ini menyediakan kelas dengan hari dan jam yang berbeda. Ada yang menyediakan kelas pada hari Selasa malam, ada juga di Sabtu pagi, dan ada juga di Minggu siang. Silahkan memilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong. Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur. Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini … Continue reading “Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!”

“One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)

Salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Ibaraki adalah Hitachi Seaside Park. Beruntungnya kami yang sekarang tinggal di Desa Tokai karena hanya berjarak sekitar 15 menit menggunakan bus dari rumah ke taman ini. Lebih lagi ada bus dari depan rumah yang langsung menuju ke Hitachi Seaside Park. Pertama kali kami mengunjungi Hitachi Seaside Park sewaktu … Continue reading ““One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

How I met your mother (5)

Sebelumnya di: Episode 4: How I met your mother (4) Episode 5: Terpesona Hari Minggu di bulan Maret. Kejadian ini hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Andi ke kos. Entah kenapa pada hari Minggu itu saya memilih untuk mengikuti ibadah minggu pagi di gereja HKBP Kota Baru. (Saya mencoba mengingat-ingat kembali ada apa di hari Minggu … Continue reading “How I met your mother (5)”

‘New Normal’ Perpustakan di Desa Tokai Jepang.

Perpustakan Desa Tokai

Sepertinya sudah cukup lama Henokh dan Maminya tidak berkunjung ke perpustakan. Hal ini tentunya disebabkan karena merebaknya pandemi COVID-19 dan ditutupnya hampir semua fasilitas umum yang ada di Desa Tokai termasuk perpustakaan.

Sejak dilepasnya emergency state beberapa minggu lalu, Mami Henokh berencana untuk mengunjungi perpustakan karena persediaan buku bacaan baik itu untuk Henokh maupun mami Henokh sudah mulai menipis. Hari ini, mereka memutuskan untuk pergi kesana sekaligus singgah ke supermarket untuk belanja harian. Sedangkan saya, tetap tinggal di rumah karena memang hari ini adalah hari kerja dan saya masih melanjutkan work from home (WFH). Kenapa masih WFH walaupun sudah selesai emergency state mungkin akan saya ceritakan pada tulisan lainnya.

Sepulang dari perjalanan jauh mereka, mami Henokh pun menceritakan bahwa ada perubahan di perpustakan terkait dengan ‘new normal’ dan dalam rangka mengurangi interaksi dan jarak antar pengunjung.

Advertisements

Berikut saya coba jabarkan beberapa hal yang berubah sebelum dan sesudah adanya COVID-19.

  • Sesampainya di pintu masuk, sudah disambut oleh petugas perpustakan. Wajib menunjukkan kartu anggota dan mengisi formulir. Selanjutnya, petugas akan memberikan nomor antrian.
  • Terdapat pembatasan jumlah pengunjung yang bisa masuk ke perpustakan dalam waktu yang bersamaan.
  • Apabila jumlah yang berada di dalam perpustakan sudah mencapai batas maksimum, maka pengunjung lainnya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu yang tentunya diatur posisi duduknya sehingga mempunyai jarak yang cukup.
  • Waktu berkunjung di dalam perpustakan dibatasi maksimal 1 jam.
  • Area yang biasanya dipakai untuk duduk sambil membaca di dalam perpustakan, saat ini belum bisa dipergunakan.
  • Beberapa lorong tempat bacaan juga ditutup untuk saat ini.

Demikian sekilas informasi terbaru mengenai kondisi perpustakaan di Desa Tokai saat ini.

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading “Musim di Jepang”

“One Day Trip” Fukushima

Salah satu keuntungan yang kami dapatkan sejak tinggal di desa Tokai adalah program “One Day Trip” bagi warga asing. Program ini diselenggarakan oleh Tokai International Association. Program ini diadakan 2x dalam setahun (Juni dan November). Pada bulan Juni 2019 kami belum bisa ikut karena Henokh masih kurang dari 6 bulan. Akan tetapi, trip pada bulan November 2019 … Continue reading ““One Day Trip” Fukushima”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)

Tokaimura Welfare Center “Kizuna”

Tokaimura Welfare Center “KIZUNA”

Setelah di cerita sebelumnya, saya telah berbagi beberapa fasilitas olahraga yang pernah saya gunakan selama tinggal di Desa Tokai, kali ini saya mau membagikan salah satu fasilitas yang kami manfaatkan sejak masa kehamilan istri hingga saat ini. Fasilitas tersebut adalah Tokaimura Welfare Center ‘Kizuna’.

Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengetahui kehamilan istri yang ditunjukan dengan bukti resmi dari rumah sakit atau klinik adalah membawa bukti kehamilan tersebut ke kantor desa untuk mendapatkan bantuan biaya melahirkan sebesar ¥420.000.

Baca juga: Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Advertisements

Ternyata, pengurusan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan, ibu dan anak, tidak dilakukan di kantor desa melainkan di KIZUNA.

Beberapa aktifitas dan fasilitas yang didapatkan istri semasa kehamilan di KIZUNA:

  1. Pengurusan bantuan melahirkan serta voucher pemeriksaan rutin. Karena ini pengalaman pertama kami dan sempat salah lokasi pengurusan, tetapi staf yang ada di kantor desa berbaik hati membantu menghubungi pihak KIZUNA untuk melakukan reservasi.
  2. Konsultasi semasa kehamilan. Salah satu yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil adalah konsultasi mengenai kondisi kesehatan ibu dan calon anak. Nah, di Kizuna menyediakan jasa tersebut dan tidak dipungut biaya sama sekali.
  3. Kelas memasak. Para ibu hamil juga diberikan arahan mengenai makanan yang sehat untuk dikonsumsi selama masa kehamilan. Disini istri cukup terbantu karena bisa mendengarkan serta mempraktekkannya secara langsung.
  4. Belajar memandikan bayi. Salah satu kekhawatiran bagi orang tua baru adalah bagaimana cara memandikan bayi. Apalagi bayi yang lahir dimusim dingin, kapan dan berapa suhu air yang nyaman bagi bayi tersebut. Siapa yang bertugas memandikan bayi di masa awal setelah melahirkan? Nah, semua pertanyaan diatas dijawab ketika mengikuti kelas ini. Salah satunya adalah peran seorang ayah yang bertugas memandikan bayi karena bisa jadi si ibu masih dalam kondisi yang belum fit.
Salah satu kegiatan yang diikuti istri yaitu kelas memasak.

Beberapa aktifias dan fasilitas yang dilakukan istri setelah melahirkan di KIZUNA:

  1. Check up rutin. Ada beberapa checkup yang rutin yang bisa dilakukan di Kizuna. Hal ini seperti melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi bayi dan juga konsultasi.
  2. Postpartum depression and baby blues. Salah satu hal yang terus diingatkan oleh staf yang ada di Kizuna adalah mengenai postpartum depression dan baby blues. Karena kami hanya berdua saja di Desa Tokai maka suami pun berperan untuk membantu istri apabila melihat tanda-tanda terjadinya kedua gejala tersebut. Selain itu, KIZUNA memberikan fasilitas konsultasi secara gratis untuk meringankan beban para orangtua khususnya ibu yang baru mempunyai bayi.
  3. Play Center. Di Kizuna juga disediakan taman bermain untuk balita baik itu indoor maupun outdoor. Bagi kami, taman bermain ini cukup penting karena disini anak-anak belajar berbagi mainan yang ada disana. Selain itu, anak kami, Henokh, bisa bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak lain yang seumuran dengan dia.
Halaman depan Kizuna yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar bermain maupun bersantai.

Bahasa bukan jadi kendala!

Salah satu hal yang saat ini menghambat komunikasi adalah bahasa. Akan tetapi, petugas di Kizuna akan menyediakan fasilitas yaitu penerjemah dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris yang sangat membantu kami ketika berkonsultasi. Tenang saja, fasilitas penerjemah ini diberikan secara gratis tetapi kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Bazaar Perlengkapan Bayi

Sudah menjadi hal umum kalau di Jepang banyak orang yang memanfaatkan toko barang bekas untuk membeli barang keperluan sehari-hari mulai dari perlengkapan dapur, laundry, pakaian, hingga perlengkapan atau mainan bayi.

Advertisements

Salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh Kizuna setiap tahunnya adalah bazaar barang-barang seperti buku anak, pakaian, stroller, hingga perlengkapan bayi lainnya. Setiap orang khususnya masyarakat Desa Tokai yang mau ikut berpartisipasi baik dalam hal menyumbangkan barang yang layak pakai ataupun sekedar ingin membeli barang bazaar tersebut bisa meramaikan kegiatan ini. Harga kupon bazaarnya pun cukup murah sekitar ¥100 hingga ¥500.

Hampir semua barang-barang bisa dibeli secara langsung dengan kupon seperti buku anak, pakaian anak, dll. Akan tetapi, untuk beberapa item seperti stroller, baby car seat, mainan anak dapat diperoleh melalui undian.

Lokasi dan Akses

Kizuna masih terletak di Desa Tokai akan tetapi lokasinya cukup tersembunyi karena diapit oleh hutan-hutan desa.

Alamat: 〒319-1112 茨城県那珂郡東海村大字村松2005

Karena jarak dari rumah ke Kizuna sekitar 3 km dan cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki selama masa kehamilan maka kami memanfaatkan fasilitas taksi desa, Ainori-kun, yang cukup murah dengan biaya sekitar ¥100 untuk ibu hamil sekali jalan. Akan tetapi tidak jarang juga istri mengajak anak kami ke Kizuna dengan berjalan kaki sambil membawa stroller bayi.