Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (3)

The 0123, salah satu perusahaan penyedia jasa pindahan di Jepang.

Mahalnya Jasa Pindahan di Jepang

Pada cerita sebelumnya, telah diketahui bahwa pada akhirnya saya hanya bertahan kurang dari satu bulan di Minowa Dormitory dan memutuskan untuk pindah ke dormitory yang lebih dekat dengan stasiun Tokai.

Hal yang harus saya persiapkan sebelum pindahan adalah mencari jasa pindahan. Ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.

Berikut saya tuliskan langkah yang dilakukan ketika hendak menggunakan jasa pindahan.

  1. Mencari perusahaan jasa pindahan. Saat itu saya menggunakan jasa dari perusahaan ” The 0123 “.
  2. Menghubungi perusahaan tersebut untuk membuat janji untuk melakukan Mitsumori (見積り) atau estimation.
  3. Satu orang pegawai perusahaan akan datang ke rumah untuk melihat dan mengestimasikan biaya (Mitsumori (見積り) yang akan dikeluarkan untuk pindahan tersebut. Semakin banyak barang tentunya akan membuat harga semakin mahal. Selain jumlah barang, jarak tempuh juga berpengaruh terhadap harga.
  4. Kalau setuju dengan estimasi harga yang diberikan, maka silahkan membuat janji untuk menentukan tanggal pindah. Kalau tidak setuju dengan estimasi harga yang diberikan silahkan dibatalkan tentunya dengan cara yang baik. Mereka juga tidak akan marah karena hal ini biasa terjadi di dunia usaha.
  5. Pihak perusahaan akan memberikan sejumlah kardus secara gratis apabila menggunakan jasa mereka. Selain itu, mereka juga bisa menangani sampah atau barang yang tidak mau dibawa ke tempat yang baru.
  6. Pembayaran dilakukan setelah semua barang dipindahkan ke tempat tinggal yang baru.
Advertisements

Awalnya saya berpikir bahwa menggunakan jasa pindahan tidak akan begitu mahal karena lokasi pindahan masih di dalam desa Tokai dan jarak tempuh kurang dari 5 km. Selain itu, saya juga tidak mempunyai banyak barang karena hampir semua barang-barang yang ada di apartemen di Tokyo seperti mesin cuci, kulkas, meja makan, rice cooker dll sudah saya hibahkan kepada teman-teman di kampus.

Saat itu, barang yang akan saya bawa ke tempat tinggal yang baru hanya pakaian, buku, TV, meja belajar, peralatan dapur, AC, kasur dan futon.

Berdasarkan kondisi tersebut, tentulah wajar saya membuat asumsi kalau biaya pindahan ini tidak akan begitu mahal. Hingga akhirnya staf tersebut menghitung estimasi biaya yang akan saya keluarkan sekitar ¥ 55.000 diluar biaya pasang AC di tempat tinggal yang baru.

Cukup kaget mengingat dengan jarak sedekat itu biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Jadi teringat semasa tinggal di Kelurahan Miyamae, Kawasaki sering sekali sesama warga Indonesia bahu membahu membantu pindahan sesama warga Indonesia tanpa pamrih dan hanya bermodalkan sewa mobil truk atau pickup (walaupun saya sangat jarang ikutan.. hehe).

Pindahan yang jaraknya masih di dalam Desa Tokai aja harganya segitu ya, gimana pindahan dari Kawasaki ke Desa Tokai ya? Apalagi pindahannya pada saat ‘high season’ sekitar bulan Februari hingga April. Kira-kira bisa kena berapa ya?

Advertisements

Karena ini adalah pengalaman pertama saya, tentunya saya menanyakan kepada teman Jepang mengenai harga yang diestimasikan tersebut. Ternyata teman saya mengatakan harga segitu cukup normal.

Dari sini saya belajar bahwa Jepang adalah negara yang cukup menghargai mereka yang bekerja di bidang jasa. Selain itu cara kerja hingga hasil yang saya terima pun sangat memuaskan.

Pemasangan pelindung pada pintu maupun dinding untuk menghindari kerusakan pada pintu atau barang.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (2)

Salah satu hal wajib yang harus dilakukan ketika pindah di Jepang adalah mengurus administrasi kepindahan. Saya sudah mengantongi surat keluar dari tempat tinggal saya yang dulu. Surat inilah yang harus saya bawa ke Kantor Desa untuk mendaftarkan diri sebagai penduduk di desa Tokai.

Seperti di tulisan saya sebelumnya, pengurusan administrasi di Jepang bisa dibilang cukup mudah dan tidak perlu menggunakan ‘oknum atau calo’ untuk mempermudah urusan.

Baca juga: https://liapto.com/2020/04/28/jepang-mengajarkan-ku-1-taat-administrasi/

Setelah semua urusan administrasi selesai, saya memperoleh bingkisan dari Tokai berupa Buku Panduan Hidup di Desa Tokai.

Banyak hal yang menarik yang ditawarkan oleh desa ini seperti: Informasi transportasi umum, Tempat Wisata di Desa Tokai, Kelas Bahasa Jepang, Pelayanan Taksi Desa, Tempat olahraga dan gymnasium, peta Desa Tokai, dll.

Transportasi Umum

Terdapat beberapa transportasi umum yang bisa digunakan di desa Tokai, yaitu: bus, taksi reguler dan taksi khusus.

  • Bus. Terdapat beberapa rute bus yang ada di desa Tokai. Kami menggunakan rute Tokai Station – Hitachi Seaside Park atau Tokai Station – Ibaraki East Hospital. Kedua jalur bus ini melewati dormitory tempat kami tinggal. Informasi yang terdapat di buku panduan Tokai mengenai jadwal bus sepertinya kurang diperbaharui (2018). Awalnya, saya cukup optimis karena rute tersebut mempunyai jadwal yang cukup banyak (hampir setiap jam ada bus yang lewat melalui rute tersebut). Untuk harga tiketnya sendiri dipatok berdasarkan jarak. Harga tiket dari Tokai Station menuju Hitachi Seaside Park sekitar ¥ 530. Sedangkan dari Tokai Station ke Minowa Dormitory sekitar ¥ 330.
  • Taksi reguler. Hampir sama seperti kebanyakan taksi yang ada di Jepang dimana tarif yang digunakan adalah ¥730 untuk 2 km pertama. Sejauh ini ada dua taksi yang beberapa kali kami gunakan, yaitu JOTO Taxi dan SUN Taxi, terutama pada saat istri sedang hamil.
  • Taksi khusus (Ainori-kun). Taksi ini adalah layanan khusus yang disediakan oleh desa Tokai kepada warganya. Taksi ini bisa menghantarkan kita kemana saja selama itu berada di Desa Tokai. Tarif yang dibayarkan pun cukup murah dibandingkan dengan taksi reguler. Biasanya tarif ini disesuaikan dengan kondisi penumpangnya (ibu hamil, anak kecil, nenek, kakek, orang dewasa) tapi harga paling mahal yang dibayarkan adalah ¥300 untuk satu kali penggunaan jasa Ainori-kun. Untuk mendapatkan jasa taksi ini, kita harus mendaftarkan semua anggota keluarga ke bagian administrasi Ainori-kun yang terdapat di kantor desa Tokai. Karena ini taksi khusus, maka terdapat jam operasional yaitu dari jam 08:00 – 16:30 setiap hari Senin sampai Sabtu. Taksi ini tidak bisa digunakan dihari Minggu maupun hari libur nasional.
Salah satu informasi yang ada di buku panduan Tinggal di Desa Tokai

Dari informasi awal yang saya terima, sepertinya saya cukup optimis untuk tinggal di Minowa Dormitory walaupun lokasinya berada di tengah-tengah persawahan dan tidak ada supermarket atau minimarket di sekitarnya. Akan tetapi, baru seminggu saya tinggal di desa ini, terjadi perubahan jadwal bus dimana jadwal bus di siang hari telah ditiadakan untuk rute Minowa Dormitory – Tokai station. Bagi saya, hal ini tidak begitu bermasalah karena saya berada di lab dari pagi hingga sore hari. Akan tetapi, ini menjadi masalah besar bagi istri. Bagaimana nantinya dia bisa pergi belanja ke supermarket? Bagaimana kalau bosan di rumah dan ingin jalan kota sebelah? Banyak pertimbangan yang akhirnya dipikirkan hanya gara-gara jadwal bus yang berubah.

Advertisements

Pada saat saya pindah ke Desa Tokai, istri sedang berada di Indonesia untuk menyelesaikan beberapa urusan. Hal ini membuat istri belum mengetahui secara langsung kondisi Desa Tokai saat itu.

Melihat situasi tersebut, akhirnya saya berdiskusi dengan pak bos di tempat kerja untuk minta dicarikan dormitory yang lokasinya berada di sekitar stasiun. Bersyukur banget karena pak bos sangat baik hati membantu semua proses dari awal hingga pindah ke dormitory yang baru.

Hasilnya, saya hanya tinggal di Minowa Dormitory kurang dari satu bulan. Setelahnya, kami pun tinggal di dormitory yang baru, Hyakutsukahara Dormitory, dan lokasinya berada di “downtown” desa Tokai dan hanya berjarak sekitar 1.5 km dari stasiun Tokai.

Barang pindahan dari Minowa ke Hyakutsukahara dormitory.

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang.

Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah.

Gambaran singkat yang saya peroleh hanyalah dari beberapa teman yang pernah tinggal disini selama beberapa bulan pada saat menjalani internship di perusahaan tempat saya berkerja saat ini, JAEA (Japan Atomic Energy Agency).

Cek Lokasi dari Google Map

Salah satu hal yang sering saya lakukan sebelum pindah adalah menjelajahi desa Tokai secara virtual melalui google map. Hal ini saya lakukan untuk mendapatkan gambaran lokasi kerja, stasiun kereta, hingga suasana lingkungannya. Dari kegiatan ini terangkum bahwa jarak dari Stasiun Tokai ke tempat kerja kurang lebih 5 km dan wilayah yang sebahagian masih berupa hutan atau persawahan.

Tempat Tinggal

Perusahaan tempat saya bekerja memberikan pilihan untuk tinggal di dormitory (asrama) atau mencari apartemen sendiri. Dormitory yang disediakan pun ada untuk yang single maupun yang berkeluarga. Karena saya tidak punya gambaran yang jelas serta tidak mengetahui lokasi desa Tokai dan kota yang ada disekitarnya, maka tinggal di dormitory menjadi pilihan yang saya pilih saat itu.

Hal lain yang tidak saya ketahui adalah, perusahaan ini punya banyak dormitory yang tersebar di beberapa lokasi desa. Hampir diseluruh penjuru desa terdapat dormitory milik perusahaan. Ada yang berlokasi di dekat kantor, ada yang di dekat stasiun Tokai, ada yang dekat ‘pusat desa’ Tokai, hingga ada juga yang di dekat kuburan yang dikelilingi oleh persawahan.

IMG_6521
Minowa Dormitory

Jackpot

Sekitar dua bulan sebelum pindah ke Desa Tokai, perusahaan sudah memberitahukan dormitory yang akan ditempati. Saat itu saya diberikan ijin tinggal di Minowa Dormitory. Langsung saya membuka Google Map untuk melihat lokasi dormitory ini. Hasilnya, dormitory tersebut terletak sekitar 5 km dari Stasiun Tokai dan 3 km dari kantor. Ditambah lagi tidak terdapat supermarket, minimarket, atau bahkan market-market lainnya disekitar dormitory. Hanya ada persawahaan, kuburan, dan bahkan tidak ada rumah warga disekitarnya.

Jackpot sekali saya dapat dormitory ini.

IMG_6520
Pemandangan sekitar dormitory.

Hari Pertama di Desa Tokai

Hari pertama saya tiba di desa Tokai berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan ketika pertama kali tiba di Tokyo.

Saya sengaja pindah ke Desa Tokai pada hari Sabtu sehingga bisa beristirahat dan mengenal lingkungan sekitar sebelum memulai kerja di Hari Senin.

Saya tiba di Stasiun Tokai sekitar pukul 19:30 JST.  Tidak tampak banyak orang berlalu lalang di sekitar stasiun bahkan sulit melihat kendaraan yang melaju di sekitar stasiun. Suasana yang sangat berbeda jauh dengan tempat tinggal sebelumnya. Tapi, gedung AEON 3 lantai yang berdiri di depan stasiun cukup meyakinkan bahwa Desa Tokai ini bukanlah desa yang bisa dipandang sebelah mata saja.

IMG_6362
Stasiun Tokai di malam hari.

 Mumpung ada AEON, saatnya menikmati makan malam di desa ini sambil membeli sedikit makanan dan minuman untuk persediaan di hari esok. Tentu, saya tidak mau bersikap bodoh dengan tidak membeli apapun  di AEON mengingat saya tidak mengetahui dimana lokasi convenience store atau sejenisnya di dekat dormitory.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:00 JST. Saya pun hendak menuju ke dormitory untuk beristirahat.

Dari Stasiun Tokai ke Minowa Dormitory bisa ditempuh menggunakan bus atau taksi. Biaya yang dibutuhkan dengan bus sekitar ¥350 sedangkan dengan taksi sekitar ¥2.000. Tentulah menggunakan bus menjadi pilihan yang utama tetapi saat itu saya baru menyadari bahwa jadwal bus terakhir dari Stasiun Tokai adalah pukul 20:34 JST ditambah lagi tidak setiap jam ada bus yang beroperasi.

Hal ini tentunya hal pertama yang cukup mengagetkan ketika tinggal di desa Tokai.

Mau tidak mau saya pun harus menggunakan taksi menuju dormitory. Betapa kegetnya saya karena sepanjang perjalanan menuju dormitory tidak ada apapun selain hamparan sawah, tanah kosong, dan beberapa pabrik. Hanya ada satu minimarket dan itu berjarak sekitar 2 km dari stasiun ditambah lagi rute tercepat menuju dormitory memiliki beberapa tanjakan dan turunan.

Hal itu menjadi hal kedua yang membuat saya cukup kaget ketika baru sampai di Desa Tokai.

Baru tiba di Desa Tokai dan belum sampai ke dormitory saja, saya sudah dikagetkan dengan dua hal tersebut. Hal yang belum pernah terjadi selama tinggal di Tokyo.


 

Cerita lainnya: Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Celotehan Suami Istri (CSI): #11. Misteri hilangnya tepung roti.

Rasa penasaran mami Henokh semakin menggebu-gebu belakangan hari ini.

Dari sekian banyak roti yang dibuat mulai dari roti tawar, roti isi coklat dan aneka macam isi, hingga pizza telah berhasil disajikan sebagai cemilan rumah. Namun, ada satu jenis roti yang masih belum berhasil dengan sempurna disajikan walaupun sudah beberapa kali dicoba.

Akhir pekan yang lalu, mami Henokh pun hendak mencoba membuat roti tersebut. Akm tetapi dia baru sadar kalau tepung roti di rumah sudah habis.

Advertisements

L : Sayang, jaga Henokh ya. Aku mau ke AEON beli tepung.

I : Lah, itu yang dirak gak tepung?

L : Yang protein tinggi lohhhh..

I : Lah, emangnya ada bedanya? Sama aja kulihat semuanya itu bentuknya. Hahaha.

L : 😤😤

I : Yowes pergilah. Jangan lama kali.

Mami Henokh pun bergegas pergi dengan mengayuh sepeda menuju AEON. Jarak dari rumah ke AEON sekitar 1.5 km.

10 tahun kemudian…

I : Busettt.. lama kali bah mau beli tepung aja. Yang sampai ke Tokyo kau beli tepungnya?

L : (sambil napas ngos-ngosan) Aduhh gak ada tepungnya di AEON. Udah kukelilingi semua supermarket di desa Tokai ini. AEON, YORKBENIMARU, FOOD OFF, KAZUMI, MATSUMOTOKIYOSHI. Udah capek kali aku.

I : Hahhh.. itu namanya kau keliling desa..🤣

L : Tadi kan udah kubilang. Kau gak percaya.

Hingga tulisan ini diterbitkan tepung tersebut masih belum diketahui keberadaannya.

Adakah yang mempunyai kasus yang sama di sekitar daerahnya?

🧐🧐🧐

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. Mau makan tepung?

Mami Henokh sedang memulai hobi baru ditengah kondisi work from home yaitu membuat roti.

Hal utama yang menjadikan ini hobi baru mami Henokh adalah sang suami dan anak yang doyan makan roti.

Beberapa minggu lalu, mami Henokh pergi ke grosir (Costco) untuk membeli kebutuhan mingguan. Sesampainya dirumah, dia langsung memulai obrolan sebagai berikut:

L : Sayang, tadi aku nemu tepung roti. Tapi masih galau mau beli sekarang atau besok-besok aja.

I : Kenapa emangnya? beli aja lah.

L : Harganya sekitar ¥3.000.

I : Hahhhhh.. Tepung roti apaan segitu harganya?

L : Ukuran 20 kg lohhhh…

I : Hahhhhh.. 20 kg? Mau makan tepung kita bulan ini? Beras kita sebulan aja gak nyampe 10 kg loh.

L : Iya jugakk.. Yaudah ntar aja deh kubeli.🤣

Minggu lalu, mami Henokh pun pergi ke Costco untuk kembali membeli buah dan kebutuhan dapur lainnya.

Sesampainya di rumah, dia langsung histeris bercerita:

L: Tepungnya Habis!!! Aku menyesal tidak membelinya.

I : Hehhh.. habis??? Tapi beras masih ada kan?

L : Iya masih ada dijual.

I : Wahh, syukurlahh gak jadi makan tepung kita..hahaha

L : 😐😐😐

Dampak COVID19 terhadap tagihan air (PAM) di Desa Tokai Jepang

Air adalah salah satu sumber utama dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak kegiatan sepanjang hari yang membutuhkan air mulai dari mandi, minum, hingga mencuci pakaian.

Sejak menyebarnya kasus COVID19 di prefektur Ibaraki, tingkat pemakaian air pun semakin meningkat di rumah. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh istri adalah wajib mandi setelah keluar dari rumah. Selesai bermain di taman sebelah rumah pun harus mandi lagi. Intensitas mandi berdampak juga terhadap intensitas penggunaan mesin cuci karena semua pakaian wajib langsung dicuci apabila sudah dipakai keluar rumah. Tentulah kedua hal ini berdampak langsung terhadap kenaikan volume penggunan air sepanjang periode bulan Maret hingga Mei sebesar 7 m³.

Tentu saja dampak kenaikan penggunaan air ini akan berakibat terhadap kenaikan tagihan air, bukan?

Tagihan air di Desa Tokai

Tagihan air sedikit berbeda dengan tagihan listrik maupun gas. Tagihan air dibayarkan setiap dua bulan sekali. Selain itu, tagihan air di Desa Tokai dikatagorikan kedalam dua bagian, yaitu: penggunaan air (PAM) dan air limbah.

Untuk sistem pembayaran air, bisa dilakukan dengan manual (bayar melalui minimarket) ataupun auto debit.

Kami sendiri biasanya menggunakan sekitar 30 hingga 40 m³ air selama dua bulan untuk kebutuhan sehari-hari dengan total tagihan sekitar ¥ 8.000 hingga ¥ 12.000.


Kasus luar biasa pernah terjadi di musim dingin (Nov – Jan) dimana pemakaian air melonjak hingga 60 m³. Saat itu, petugas air datang sampai datang ke rumah untuk melakukan pengecekan apakah terdapat kebocoran saluran air.


Dampak COVID19

Tidak bisa dipungkiri bahwa COVID19 telah memberikan dampak yang begitu besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap banyak sektor kehidupan, salah satunya adalah dampak ekonomi.

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah (Desa Tokai)  memberikan bantuan subsidi biaya air kepada rumah tangga maupun pelaku usaha yang ada di Desa Tokai. Bantuan ini berupa penggratisan atau keringanan untuk biaya air (PAM) sedangkan untuk biaya air limbah tidak mendapatkan subsidi untuk periode pemakaian di bulan April dan Mei.

Kebijakan ini bisa jadi berbeda ditiap-tiap daerah. Untuk lebih jelasnya silahkan dicek di website daerah masing-masing.

PQCME3499
Biaya air (PAM) ¥0 dan biaya limbah ¥ 4.850.

Sumber

https://www.vill.tokai.ibaraki.jp/kurashi_tetsuzuki/jo_gesuido/4868.html

 

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara.

Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain sesuai dengan kebudayaan pada periode Edo. Banyak atraksi yang ditampilkan mulai dari atraksi rumah ninja, labirin, bermain panah, berpakaian layaknya di mana Edo dan masih banyak atraksi dan permainan yang bisa dinikmati sepanjang hari.

Berikut ini adalah pengalaman saya, istri dan teman-teman lainnya pergi berpetualang ke zaman Edo pada liburan Golden Week. Tentu saja bukan di tahun 2020.

IMG_0741
Liburan Golden Week bersama mereka.

 

Akses

Dari Tokyo menuju Edo Wonderland di daerah Nikko, Tochigi membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan kereta.

Kami berangkat dari Tobu Asakusa Station dan turun di Kinugawa-Onsen Station. Selanjutnya, menggunakan bus dari kurang lebih 15 menit menuju Edo Wonderland. Selain bus bisa juga menggunakan taksi, terutama kalau jadwal bus sudah kelewatan. Rute yang sama juga yang nantinya digunakan sewaktu kembali ke Tokyo.

Saat itu, kami menggunakan taksi dari Edo Wonderland ke Kinugawa-Onsen Station karena hendak mengejar jadwal kereta dari Kinugawa-Onsen menuju Tobu Asakusa.

Alamat : 〒321-2524 Tochigi Prefecture, Nikko City, Karakura 470-2

Two Days Pass

Saat itu, kami menggunakan two days pass karena lebih menguntungkan dimana biaya tersebut sudah termasuk tiket kereta pulang pergi dan tiket masuk ke Edo Wonderland serta Tobu World Square (akan dibahas dilain tulisan).

Alasan utama kenapa memilih yang two days pass karena daerah Nikko terkenal cukup banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi dan satu hari saja tidak cukup. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak ingin menginap dan hanya ingin mengunjungi satu tempat saja tetap bisa menggunakan one day pass atau bisa menggunakan jalur reguler dimana tiket kereta dan tiket masuk Edo Wonderland dibeli terpisah.

Saat itu kami membeli tiket two days pass nya di counter ticket yang ada di Tobu Asakusa Stasiun pada hari H-1. Sebenarnya bisa juga membeli pada hari H tapi harus menunggu counter buka terlebih dahulu. Selain itu bisa juga membeli tiketnya secara online.

Silahkan klik link berikut untuk informasi lebih lengkap. Mungkin ada perubahan harga dari tahun sebelumnya, sehingga saya tidak mencantumkan harga.

https://tobutoptours.com/en/nikko-city-area-and-themeparkpass.html

One day trip

Liburan di saat liburan panjang ‘Golden Week‘ merupakan pengalaman yang luar biasa menyenangkan. Salah satunya adalah penumpang kereta yang luar biasa banyak menuju tempat-tempat wisata.

Demi menghindari antrian khususnya di tempat wisata, kami pun berencana berangkat sekitar jam 7 pagi dari Tobu Asakusa Station sehingga bisa tiba di Edo Wonderland sekitar jam 9:30an.

Hal yang perlu dipersiapkan selama perjalanan di kereta adalah minuman dan makanan. Di Jepang, hampir semua convenience store (konbini) menjual bento yang bisa dinikmati secara praktis.

Pastikan tetap menjaga kebersihan kereta setelah makan dengan menyimpan kembali sampah makanan anda. Kami membawa sampah makanan tersebut hingga tiba di stasiun tujuan, Kinugawa-Onsen Station.

Sepanjang perjalanan, tidak banyak aktifitas yang kami lakukan selain ngobrol dan tidur. Tentu saja rasa kantuk ini disebabkan karena bangun yang terlalu cepat di pagi hari. Hehehe.

Kinugawa-Onsen Station

Udara pegunungan yang sejuk dan cuaca yang cerah di bulan Mei menyambut kedatangan kami di Nikko. Terdapat banyak toko souvenir yang menyajikan oleh-oleh khas daerah ini. Sambil menunggu bus, kami pun menikmati berkeliling di seputaran stasiun. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu kedatangan bus di pagi hari.

Saya lupa apakah tiket pass kami sudah termasuk ongkos bus menuju Edo Wonderland.

Edo Wonderland

Nuansa Jepang ala Jaman Edo sudah langsung terasa begitu kami sampai di pintu masuk Edo Wonderland. Tentunya kami ke loket tiket dulu untuk menukarkan tiket pass.

Di seberang loket penjualan tiket terdapat coin locker yang berfungsi untuk menyimpan barang bawaan yang tidak perlu dibawa masuk ke dalam. Kami memanfaatkan loker tersebut untuk menyimpan semua tas yang kami bawa agar meringankan beban selama mengikuti permainan didalam.

IMG_0750
Menikmati taman-taman yang ada di dalam Edo Wonderland.

Berpakaian ala zaman Edo

Hal pertama yang dijumpai di sekitar pintu masuk adalah bangunan yang menyediakan penyewaan pakaian ala zaman Edo. Banyak pilihan pakaian yang disediakan mulai dari pakaian ninja, samurai, princess, lord, polisi dll.

Tentu saja kita dibantu oleh staf dalam mengenakan pakaian tersebut. Selain itu ada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk menyewa pakaian tersebut.

Brosur dan Jadwal Pertunjukan

Hal penting lainnya yang akan kita peroleh dari staf di bagian penjualan tiket adalah brosur dan jadwal pertunjukan.

Brosur Edo Wonderland ini akan memberikan petunjuk semua jenis pertunjukan yang ada di dalam area tersebut. Selain itu, jadwal pertunjukan memudahkan kita untuk mengetahui jam dimulainya sebuah pertunjukan hingga berapa lama durasi yang dibutuhkan untuk menonton pertunjukan tersebut.

Karena banyak permainan dan pertunjukan yang bisa dinikmati, saya berusaha merangkum beberapa pertunjukan yang kami nikmati sepanjang hari kedalam dua bagian yaitu: pertunjukan indoor yang mempunyai jadwal pertunjukan dan pertunjukan indoor maupun outdoor yang bisa dinikmati kapan saja.

Pertunjukan indoor berjadwal

Ninja Karasu Goten

Karena Edo Wonderland terkenal dengan desa ninjanya, maka tidak salah jika kami memprioritaskan untuk menikmati pertunjukan ninja terlebih dahulu. Disini kita akan masuk ke dalam sebuah rumah jepang dan menikmati pertunjukan bagaimana para ninja beraksi dengan menggunakan kemampuan bertarung, menghilang, bersembunyi, hingga muncul lagi dari tempat yang tidak kita terduga.

Suasana ruangan ini akan dibuat gelap dan tentu saja tidak boleh merekam atau mengambil foto saat pertunjukan dimulai.

Posisi duduk akan sangat menentukan ketegangan sewaktu menonton pertunjukan ini karena bisa saja ninjanya muncul disebelah kita.

Cukup ya spoilernya. Silahkan berkunjung kalau mau melihat keseruannya secara langsung.

 

Pertunjukan ninja lagi (lupa namanya..hehehe)

Ada juga bangunan lain yang menyajikan pertunjukan ninja lainnya. Kali ini pertunjukannya di ruangan yang besar dan tema yang dimainkan pun cukup beragam. Kalau di poin 1 menunjukan kehebatan pertarungan ninja di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan jebakan dan tempat persembunyian. Kali ini temanya lebih kepada pertarungan ninja di alam terbuka.

Kedua pertunjukan ini masih menjadi favorit penulis. Kalau kesana lagi pasti wajib menonton atraksi ini lagi.

Mizugei-za (Permainan air)

Di tempat lainnya, ada juga atraksi permainan air yang sangat luar biasa dimainkan. Permainan air yang disertai oleh kemampuan para aktor dan artis panggung ini membuat seolah-olah air ini bisa dikontrol oleh mereka. Ditambah lagi adanya permainan lampu membuat pertunjukan ini menjadi sangat luar biasa.

IMG_0788
Salah satu atraksi yang bisa dinikmati di Edo Wonderland.

Pertunjukan Drama

Salah satu pertunjukan lainnya adalah drama panggung yang menyajikan cerita tentang kehidupan pada masa Edo. Cukup menarik untuk menonton drama tersebut karena diselingi dengan humor-humor lucu. Walaupun semua aksinya disajikan dalam Bahasa Jepang, tapi bagi mereka yang tidak mengerti Bahasa Jepang masih bisa menikmati juga.

Parade Jalanan.

Parade di jalanan dimana para aktor dan artis menggunakan pakaian zaman Edo merupakan salah satu hal menarik lainnya. Tentu saja bagi para photographer ini menjadi daya tarik tersendiri untuk bisa mengabadikannya.

 

Pertunjukan indoor dan outdoor tidak berjadwal

Karakuri Ninja Maze

Ini adalah permainan mencari jalan keluar. Kita akan masuk ke dalam labirin dan berusaha mencari jalan keluarnya. Labirin ini penuh trik, jadi perhatikan dengan seksama ketika anda berjalan. Bisa jadi jalan keluar ada disebelah anda.

Kai kai Ninja House

Ini adalah sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat ninja berlatih. Secara kasat mata tidak ada yang aneh dari rumah tersebut begitu juga didalamnya. Tapi, ketika kami masuk kedalam, ternyata sungguh luar biasa menakjubkan. Apa yang terlihat datar belum tentu datar, bisa jadi tanjakan atau bahkan turunan.

IMG_0777
Permainan di Kai kai Ninja House. Asli pusing dan mual keluar dari rumah ini.

 

Jigoku Temple

Kalau anda berpikir ini adalah sebuah kuil biasa maka itu salah besar karena sebenarnya ini adalah semacam rumah hantu. Silahkan bagi yang mau mencoba merasakan sensani hantu-hantu Jepang. Tenang aja, didalam tidak dijumpai hantu Indonesia. Jadi, kalau ada yang melihat hantu Indonesia itu artinya anda melihat penampakan beneran. Hehehe

Ninja Experience

Di Edo Wonderland ditawarkan juga permainan yang menggunakan senjata-senjata ninja salah satunya bagaimana teknik melempar Shuriken, itu loh senjata ninja yang berbentuk seperti bintang.

Masih banyak lagi pertunjukan baik itu indoor maupun outdoor yang bisa dinikmati. Yang disebutkan diatas adalah sebagian dari tempat-tempat favorit yang saya kunjungi.

Makan Siang

Karena kita sedang berada di dalam kawasan semacam theme park maka akan sulit rasanya mencari makan siang diluar area Edo Wonderland. Terdapat beberapa macam jenis makanan yang disediakan mulai dari cemilan ringan hingga makanan berat. Berikut beberapa jenis makanan yang tersedia: Ramen, Udon, Yakiniku, Nasi kare, ayam goreng ‘karaage’, Sate ‘yakitori’, dll.

Harga makanan yang ditawarkan juga bervariatif tetapi masih masuk akal. Menurut saya, salah satu kelebihan Jepang dibidang pariwisata adalah menjaga harga makanan di daerah wisata dengan cukup rasional sehingga tidak membuat pengunjung berpikiran kalau makan di tempat wisata itu harganya mahal.

Pulang

Tidak terasa sudah hampir pukul 5 sore dimana jam operasional Edo Wonderland akan segera berakhir di hari tersebut. Karena ini adalah two days trip, kami pun menginap di hotel yang berada di sekitar Kinugawa-Onsen Station. Yang menarik adalah tidak banyak toko atau restoran yang buka dimalam hari. Kami pun membeli makan malam di convenience store yang ada di dekat stasiun.

Saatnya beristirahat sebelum melanjutkan petualangan ke tempat lainnya di keesokan harinya.

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day

Setelah selesai beberapa rangkaian kegiatan di hari Minggu sore hingga malam, akhirnya tiba waktunya mengecek HP untuk melihat perkembangan dunia maya. Salah satunya adalah kiriman gambar di salah satu grup WA mengenai Mother’s Day.

Awalnya cukup heran dan bertanya-tanya, ada peringatan apa di hari Minggu 10 Mei 2020?

Demi menjawab pertanyaan itu, akhirnya saya pun bertanya ke istri.

Laura (L), Irwan (I), Henokh (H)

I : Sayang, ada peringatan apaan hari ini? kenapa ada pesan ini ya di grup? *sambil menunjukkan HP ke istri.

Gambar yang diterima dari grup WA.

L: Oo.. International Mother’s Day.

I: Owalah.

L: Udah. Gitu doank?

I: Hahh? Terus mau gimana?

L: Gak ada kasih ucapan atau apaan gitu. *muka sudah mulai sebel.

I : Selamat hari ibu internasional. Udah kuucapin yaa..Hahaha

L: Hemmmmmm.. Gak berubah yaa dari dulu.

Keesokan harinya

I: Sayang, pagi ini aku WFH trus siang ke lab ya.

L: Ok.

Seperti biasanya, sebelum pulang dari lab menuju ke rumah, saya selalu bertanya apa ada yang mau dibeli di supermarket ke mami Henokh.

I: Sayang, aku mau pulang. Ada titipan gak?

L: Beli susu aja di supermarket.

I: Ok.

Setibanya dirumah, peraturan selama masa covid19 adalah langsung menuju kamar mandi dan mandi dulu sebelum masuk ke ruang tamu.

Kebanyakan tipe apartemen di Jepang memberikan posisi kamar mandi dan toilet di area dekat pintu masuk. Mirip dengan sistem kamar hotel lah kira-kira.

Cheesecake, kue kesukaan Mami Henokh.

I: Ini susu dan cheesecake kesukaanmu.

L: Hehhh.. dalam rangka apa? tumben kali.

I: International Mother’s Day.

L: Gitu donk..ehhhh, beli pakai uang apa ini?

I: Ya uang belanja lahhh..hahaha

L: 😤😤😤😤

Pengalaman Ngekost di Pulau Buatan ‘Odaiba’ Jepang.

Abstrak

Salah satu asrama mahasiswa yang tersedia bagi mahasiswa asing khususnya kampus Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech) adalah Tokyo International Exchange Center (TIEC) yang terletak di Odaiba, Tokyo. Tinggal di Odaiba yang merupakan salah satu pulau buatan di Tokyo dan terkenal sebagai salah satu tempat wisata tentunya mempunyai daya tarik tersendiri. Tulisan ini akan membagikan kisah pengalaman selama tinggal di Odaiba dari segi kelebihan maupun kekurangannya.

Kata kunci: Asrama TIEC, Odaiba, Berbagi pengalaman.

Pendahuluan

Salah satu kebutuhan bagi mahasiswa asing yang belajar di Jepang adalah tempat tinggal. Ada banyak universitas yang menyediakan tempat tinggal bagi para mahasiswa baik itu mahasiswa Jepang maupun mahasiswa asing. Khususnya untuk mahasiswa asing di Tokyo Tech, pihak universitas menyediakan beberapa lokasi asrama yang bisa ditempati bagi mahasiswa baru khususnya mahasiswa asing. Akan tetapi, beberapa asrama pada umumnya hanya bisa ditempati selama satu tahun saja. Hal ini tentunya membuat mahasiswa harus mencari tempat tinggal yang baru di tahun berikutnya.

Selain asrama, tentu mahasiswa bisa mencari kost-kostan (atau biasa disebut apato dalam Bahasa Jepang) yang banyak tersedia di sekitar kampus. Akan tetapi, biaya awal yang dikeluarkan untuk menyewa sebuah kamar kost tergolong cukup tinggi. Sebagai gambaran, uang awal yang dibutuhkan untuk menempati kos-kosan di Jepang adalah sekitar 3-5 kali dari harga sewa bulanan.


Salah satu cerita yang membahas tentang biaya tinggal di Tokyo: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga


Nah, dilema ini tentunya akan membuat sebagian mahasiswa berpikir apakah ada pilihan untuk tinggal di asrama dengan jangka waktu lebih dari satu tahun? Bagaimana dengan yang berkeluarga, adakah asrama buat mahasiswa yang membawa serta keluarganya? Jawabannya, ADA. Tokyo International Exchange Center (TIEC) adalah salah satu asrama yang menyediakan tempat tinggal baik untuk mahasiswa single maupun yang berkeluarga.

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman secara lengkap selama tinggal di TIEC. Dengan pengalaman ini, tentunya bisa memberikan gambaran sebelum memutuskan apakah tinggal di TIEC atau memilih untuk ngekost.

Tokyo International Exchange Center (TIEC)

TIEC adalah asrama mahasiswa ini dikelola oleh Japan Student Service Organization (JASSO). Mahasiswa asing yang kuliah di Tokyo Tech adalah satu dari beberapa universitas yang bisa mendaftarkan diri untuk bisa tinggal di TIEC. Asrama ini berlokasi di Odaiba, salah satu pulau buatan di Tokyo, yang dapat diakses menggunakan monorel “Yurikamome” line ataupun subway “Rinkai” line.

TIEC menyediakan empat buah gedung yaitu Gedung A, B, C, dan D. Masing-masing gedung mempunyai karakteristik tersendiri.

Gedung A dan B, dikhususkan bagi mahasiswa asing yang berstatus single. Sedangkan Gedung C dan D khusus bagi mereka yang sudah berkeluarga.

IMG_9511
Terlihat Gunung Fuji dari beranda kamar.

Fasilitas yang ditawarkan TIEC

Setiap gedung mempunyai fasilitas yang berbeda beda dan tentunya semakin lengkap akan berpengaruh terhadap harga sewa per bulannya. Selain itu, ada juga fasilitas umum yang bisa dinikmati oleh setiap penghuni asrama TIEC.

Berikut ini beberapa fasilitas umum yang ditawarkan kepada semua penghuni:

  • Gymnasium dan Training Room. Di gymnasium terdapat lapangan basket, badminton, futsal, hingga tennis meja. Semua fasilitas tersebut bisa digunakan secara gratis tetapi harus mendaftar ke bagian administrasi sebelum menggunakannya. Sedangkan untuk Traning Room sendiri sudah dilengkapi berbagai macam alat kebugaran seperti yang terdapat di fitness center pada umumnya. Untuk training room, bisa digunakan secara langsung tanpa melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Kedua fasilitas ini terdapat di gedung ‘Plaza Heisei’ yang mana dilengkapi pula oleh shower room. Sehingga sehabis berolahraga bisa langsung bersih-bersih di kamar mandi.
  • Ruang Rapat dan SeminarSalah satu aktifitas yang diselenggarakan oleh pihak pengurus TIEC adalah seminar yang dibawakan oleh penghuni TIEC. Karena penghuni asrama berasal dari latar belakang jurusan dan ilmu yang berbeda beda, maka mengikuti seminar santai mengenai penelitian yang dikerjakan oleh salah satu penghuni asrama menjadi salah satu pilihan mengisi waktu kosong di hari Sabtu.
  • Minimarket (konbini). Salah satu hal yang menyenangkan di TIEC adalah tersedianya konbini yang berada di lingkungan TIEC dan beroperasi 24 jam setiap hari. Hal ini memudahkan apabila tengah malam terasa lapar dan tidak ada makanan di dalam kamar. Konbini ini terletak di dekat Gedung B.
  • Studio musik. Bagi mereka yang suka bermain musik seperti piano atau mau ngeband, terdapat studio musik yang dibisa digunakan secara gratis. Studio ini terdapat di lantai dasar Gedung B.
  • Parkir Sepeda hingga Mobil. TIEC juga menyediakan fasilitas parkir untuk sepeda secara gratis sedangkan untuk mobil atau sepeda motor dikenakan biaya bulanan. Tapi tenang saja, biaya parkirnya jauh lebih murah dibandingkan tempat parkir pada umumnya yang ada di Tokyo.

Selanjutnya, mari kita bedah tipe kamar dan fasilitas yang terdapat didalamnya untuk setiap gedung.

  • Gedung A. Tipe kamar yang ada di Gedung A adalah tipe studio dengan luas sekitar 20 m2 dengan tipe ruangan western style (bukan menggunakan lantai tatami). Fasilitas yang tersedia di dalam kamar: kamar mandi, toilet, microwave, AC, tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi belajar beserta rak buku yang besar, dan telepon. Tidak semua kamar mandi dalam di Gedung A mempunyai bathtub. Fasilitas umum yang tersedia di setiap lantai: dapur, ruang diskusi dilengkapi dengan TV, coin laundry, vacuum cleaner.
  • Gedung B. Tipe kamar yang ada di Gedung B adalah tipe studio dengan luas 30 m2. Fasilitas yang tersedia di dalam kamar hampir sama dengan yang ada di Gedung A, bedanya mesin cuci dan dapur terdapat disetiap kamar. Tidak semua kamar mandi di Gedung B mempunyai bathtub. Dapur yang ada di dalam kamar menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung C. Gedung C menawarkan ruangan dengan luas 80 m2 atau 2LDK (2 kamar, 1 living room, 1 dining room, dan 1 kitchen). Fasilitas yang terdapat di dalam ruangan adalah: kamar mandi dalam, toilet, rak buku, kulkas, AC, telepon, mesin cuci, ruang belajar, dll. Tidak semua kamar mandi di Gedung C mempunyai bathtub. Dapur yang digunakan menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung D. Tipe kamar yang ada di Gedung D mempunyai luas 100 m2 atau 3LDK. Fasilitas yang ada di dalam kamar hampir sama dengan apa yang tersedia di Gedung C.

Harga Sewa

Setelah kita mengetahui semua fasilitas yang diperoleh, mari kita lanjutkan dengan hak yang terpenting, yaitu harga sewa setiap bulannya. Harga sewa kamar untuk Gedung A, B, C dan D tentunya berbeda-beda.

Biaya yang perlu dibayarkan diawal adalah deposit sebesar satu bulan sewa dan uang sewa bulan itu. Artinya hanya butuh menyiapkan dana sebesar dua kali biaya sewa.

Tabel 1. Daftar harga sewa tiap bulan sesuai tipe gedung.

Tipe GedungHarga Sewa per bulan
A¥ 35.000
B¥ 52.000
C¥ 74.500
D¥ 86.500

Harga sewa ini belum termasuk dengan biaya ulititas dan telepon.

Proses pendaftaran.

Mengingat bahwa asrama TIEC diperuntukan bagi beberapa institute, maka proses pendaftaran dilakukan di universitas masing-masing. Untuk Tokyo Tech, aplikasi pendaftaran dapat dilakukan di bagian Student Support Division.  Hanya mereka yang telah lolos seleksi yang bisa masuk menjadi bagian dari TIEC.

Pengalaman tinggal di Gedung A.

Saat itu, saya melamar untuk bisa menempati Gedung A di TIEC. Hal yang pertama dilakukan setelah lolos seleksi adalah mendatangi bagian administrasi TIEC yang berada di Plaza Heisei untuk proses administrasi dan serah terima kunci. Selanjutnya melakukan pengecekan ke kamar didampingi oleh staff TIEC.

IMG_9534
Rute jalan setiap hari dari TIEC menuju Stasiun Tokyo Teleport.

Berikut ini akan saya jabarkan poin-poin penting selama tinggal di TIEC:

  • Biaya utilitas tinggi. Salah satu biaya bulanan yang wajib dikeluarkan selain uang sewa adalah listrik dan telepon. Sistem pembayarannya listrik dan telepon adalah pra bayar. Kita harus mendepositkan sejumlah uang sebelum menggunakan utilitas tersebut. Terdapat potongan ¥110 setiap hari untuk uang listrik meskipun tidak ada pemakaian. Begitu juga dengan tagihan telepon yang dipotong ¥10 per hari. Jadi semisalnya anda pulang kampung selama sebulan maka otomatis uang listrik yang sudah didepositokan akan berkurang sebesar ¥3.300. Saya pernah pergi selama seminggu dan lupa mengecek saldo listrik yang tersisa. Hasilnya sewaktu pulang, listrik di kamar tidak bisa menyala karena saldonya sudah minus. Saya harus melakukan pengisian saldo listrik terlebih dahulu. Total biaya utilitas yang saya habiskan setiap bulannya sekitar ¥ 9.000 – ¥ 10.000. Tidak ada biaya gas karena masak dilakukan di dapur umum. Tips: Belajar di ruang belajar bisa membantu meringankan biaya listrik terutama disaat musim panas dan dingin. Biaya listrik ini tentunya akan lebih mahal untuk Gedung B, C, dan D mengingat adanya mesin cuci hingga dapur di dalam kamar. Info dari beberapa teman, untuk Gedung B kisaran ¥ 15.000 dan untuk Gedung C dan D sekitar ¥ 30.000 (tergantung jumlah anggota keluarga).
  • Biaya commuter ke kampus mahal. Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih lokasi tinggal adalah jarak dan biaya kereta yang dikeluarkan menuju ke kampus (dalam hal ini Tokyo Tech). Saat itu, biaya kereta yang saya keluarkan setiap bulan adalah sekitar ¥ 7.500 dari Stasiun Tokyo Teleport hingga Stasiun Ookayama. Rute yang ditempuh setiap hari: Tokyo Teleport – Oimachi menggunakan Rinkai Line selanjutnya dari Oimachi – Ookayama menggunakan Oimachi Line.
  • Waktu tempuh dari TIEC ke Stasiun Tokyo Teleport masih normal. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki dari TIEC ke Tokyo Teleport sekitar 15 menit. Selain itu, tersedia juga bus umum (berbayar) dan shelter bus (gratis). Akan tetapi, jadwal bus baik itu yang berbayar maupun yang gratis cukup terbatas. Khusus untuk shelter bus, anda bisa turun di pemberhentian terakhir (Museum Miraikan). Hal ini dikarenakan lokasi museum tepat berada diseberang asrama TIEC. Akan tetapi, waktu tempuhnya kurang lebih 15-20 menit juga karena anda akan diajak berkeliling Odaiba terlebih dahulu.
  • Tips menghadapi cuaca ekstrem. Kadang ada saatnya hujan lebat turun atau panas terik di musim panas yang cukup membuat galau untuk berjalan kaki menuju stasiun. Belum lagi, jadwal bus yang sudah ketinggalan. Paling gampang ya tinggal telepon taksi tapi sebagai mahasiswa terkadang pilihan itu semacam berat untuk dilakukan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah berjalan kaki kurang lebih 5 menit dari TIEC menuju mall terdekat (Diver City). Selanjutnya, saya melanjutkan jalan kaki menuju stasiun dari dalam mall karena pintu keluar mall ini langsung di depan stasiun Tokyo Teleport. Ide ini cukup sederhana tapi tidak banyak yang melakukannya.
  • Belanja di Oimachi Stasiun. Karena Odaiba terkenal sebagai daerah wisata, maka tidak banyak ditemui supermarket murah untuk kebutuhan sehari-hari terutama bagi mereka yang masak setiap harinya. Ditambah lagi suasana malam hari yang cukup sepi mengingat banyak pusat perbelanjaan yang sudah tutup di atas jam 10 malam. Untuk kebutuhan dapur sehari-hari, saya menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket (Ito Yokado) yang berada tepat didepan stasiun Oimachi.
  • Olahraga malam. Kegiatan penelitian di lab sering kali membuat saya harus pulang larut malam bahkan mendekati tengah malam. Permasalahannya adalah jadwal kereta terakhir untuk Rinkai Line jauh lebih cepat dibandingkan dengan Oimachi Line. Ditambah lagi dari Oimachi Line menuju Rinkai Line dibutuhkan waktu cukup lama (jalan kaki) karena Rinkai Line dari Oimachi menuju Tokyo Teleport menggunakan jalur bawah tanah. Kalau tidak salah harus turun sekitar 5 lantai. Tidak jarang saya harus berlari di menurunin setiap anak tangga demi mengejar kereta. Terdapat satu atau dua buah lift, tapi terkadang lama menunggu antrian atau banyak pengguna yang terkadang turun di lantai yang berbeda beda.
  • Memanfaatkan semua fasiitas. Salah satu yang membuat saya tertarik tinggal di TIEC adalah adanya Training Room. Tentu saja saya memanfaatkan fasilitas tersebut di malam hari selepas pulang penelitian. Training room ini cukup ramai di malam hari terutama di hari kerja. Selain itu, di TIEC banyak terdapat grup sesuai hobi masing-masing penghuni. Saya ikut bergabung dengan grup badminton. Selain bisa bermain badminton, bisa juga untuk menambah teman.

Kesimpulan dan Saran

Mempunyai kesempatan tinggal di pulau buatan ‘Odaiba’ saja sudah menjadi pengalaman tersendiri mengingat Odaiba adalah tempat yang sering saya kunjungi untuk sekedar melepas penat dari dunia penelitian.

Selain itu, tentunya harga sewa yang relatif murah untuk Gedung A dengan total biaya pengeluaran mulai dari tempat tinggal, utilitas dan commuter yang masih dalam jangkauan menjadi faktor penting dalam memutuskan untuk tinggal disini. Mengingat saat itu semua kebutuhan hidup selama di Jepang ditanggung oleh beasiswa MEXT.

Akan tetapi, bagi mereka yang berkeluarga dan ditopang oleh beasiswa MEXT mungkin akan cukup berat mengingat biaya sewa hampir setengah dari total beasiswa yang diterima. Hal inilah yang memutuskan saya untuk tidak melanjutkan tinggal di TIEC pada saat istri hendak ikut tinggal di Jepang.

Demikian sedikit berbagi pengalaman selama tinggal di asrama TIEC.

Referensi

https://www.jasso.go.jp/en/kyoten/tiec/residence/index.html