Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong.

Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur.

Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini sangatlah cepat dan bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia hingga latar belakang pendidikan.

Hingga saat ini, banyak aplikasi media sosial yang sudah begitu familiar di kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, hampir semua kita dari anak-anak hingga kakek-nenek setidaknya terhubungan dengan salah satu aplikasi media sosial tersebut.

Hal ini tentunya berdampak baik, bukan? Kita bisa saling berkomunikasi dengan teman, saudara, rekan kerja, hingga keluarga. Jarak bukanlah menjadi penghambat saat ini. Selain itu, kita bisa mengirim pesan, foto, hingga berbagi informasi.

Nah, dari semua kegiatan tersebut, HOAKS bisa muncul salah satunya melalui berita yang kita bagikan baik melalui status, atau meneruskannya di grup-grup chat.

Agak berat memang bagi kita secara pribadi untuk menghalau penyebaran hoaks di platform besar dan umum seperti facebook, twitter, dll.

Tapi, ada kesempatan kita untuk menghalau penyebaran berita HOAKS di grup-grup chat (grup FB messenger, WA grup, LINE grup, dll).

Mari kita manfaatkan kesempatan kecil ini untuk menghentikan laju penyebaran HOAKS.

Apa yang biasanya kita lakukan ketika membaca sebuah berita atau informasi yang kita dapatkan melalui media sosial? Hanya membaca saja atau bahkan membagikan berita tersebut?

Kalau kita berniat untuk membagikannya, apa yang harusnya kita lakukan? Apakah kita langsung membagikannya, atau membaca semua isi beritanya lalu membagikannya, atau membaca isi beritanya secara utuh kemudian berpikir apakah berita tersebut benar atau tidak?

Hoaks dapat menyebar tanpa pandang bulu. Orang yang berpendidikan tinggi pun masih bisa termakan hoaks.

Ketika seseorang menyebarkan berita yang belum dipastikan kebenarannya di dalam grup, apa tanggapan kita? Diam saja dan membiarkan berita tersebut dikonsumsi oleh anggota grup lainnya? Atau mempertanyakan kebenaran dari informasi yang telah dibagikan tersebut?

Berita yang sepertinya mengandung informasi berguna tetapi tidak teruji kebenarannya pun termasuk katagori hoaks.

Bukankah dengan diam saja artinya kita membiarkan berita hoaks tersebut dikonsumsi oleh anggota di dalam grup chat tersebut meskipun kita tahu bahwa yang menyebarkan mungkin tidak ada maksud jahat. Mungkin saja dia menemukan informasi bagus dan ingin membagikannya tanpa tahu kalau informasi tersebut bohong.

Tidak enakan untuk bertanya karena yang membagikan mungkin seorang senior atau admin atau apapun lah itu alasannya dan tidak mau membuat perdebatan di dalam grup?

Berdebat atau berdiskusi

Mungkin kata berdebat ini agak cenderung kurang enak didengar apalagi kalau di grup tersebut isinya teman, rekan kerja atau bahkan keluarga.

Mari kita ganti dengan istilah berdiskusi. Tentunya ajakan berdiskusi akan lebih nyaman dibandingkan dengan berdebat (bagi saya pribadi sih).

Dengan berdiskusi, kita bisa mempertanyakan sumber dari informasi yang telah disebarkan di dalam grup tersebut. Dengan begitu, mungkin kedepannya anggota di grup bisa lebih berhati-hati dalam membagikan berita yang belum tentu kebenarannya. Selain itu kita juga jadi lebih peka untuk bertanya kepada diri sendiri mengenai kebenaran informasi tersebut.

Kalau informasi yang mau dibagikan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, silahkan saja dibagikan. Kalau belum, mari menahan diri membagikannya.

Mari kita bersama-sama hentikan penyebaran HOAKS.


 

Baca juga: Saya takut tertular, lebih takut lagi kalau menularkannya.

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.

Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar.

Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain diluar tanpa harus pergi jauh mengingat kondisi saat ini.

Hari Jumat kemarin, Henokh dan maminya bermain di taman tersebut. Hanya ada mereka dan seorang ibu yang membawa kedua anaknya bermain. Henokh pun asik belajar jalan sambil berpegangan dengan salah satu permainan disana. Selain itu, dia berteriak-teriak seolah olah hendak mengajak kedua anak kecil lainnya untuk ikut bermain bersama.

Makan Malam

Sepulang dari lab, tentunya mami Henokh selalu menceritakan kegiatan mereka sepanjang hari. Ini percakapan singkatnya:

Laura (L); Irwan (I)

L: Tadi senang kali loh Henokh bermain ditaman samping rumah. Dia ketemu sama dua orang anak kecil lainnya dan kayak mau ikut bermain bareng gitu.

I: Siapa? Tetangga apartemen?

L: Bukan. Orang sekitar sini kali ya..Hmmm.. Kayaknya Henokh ini suka dengan keramaian dan sudah bosan kali ya dirumah terus. Mana berdua aja kan sepanjang hari di rumah. Gimana nanti kalau udah agak besar Henokh ya? Sepi kali lah rasanya di rumah ini.

I: Gimana? Apa Henokh mau punya adek?

L: ……….

 

Saya takut tertular, lebih takut lagi kalau menularkannya.

Siapa sih yang saat ini tidak dalam kondisi yang khawatir atau waspada?

Saya dan Laura juga punya rasa khawatir akan kondisi saat ini. Tidak hanya memikirkan kondisi kami disini, tapi juga keadaan keluarga yang ada di Indonesia.

Saya sendiri tidak begitu mengikuti informasi perkembangan situasi tersebut, sedangkan Laura mengikuti berita tersebut setiap hari. Setiap pulang dari lab, selalu saja hal ini yang menjadi salah satu bahasan utamanya.

Hingga awal Maret kemarin muncul kasus pertama di Ibaraki dan sejak bulan Maret sudah ada beberapa kali e-mail dari kantor yang memberikan himbauan untuk melakukan tindakan pencegahan seperti tidak melakukan perjalanan dinas kalau tidak terlalu penting, menghindari keramaian, mencuci tangan, dll. Hal ini sepertinya dilakukan berulang-ulang untuk mengingatkan dan menginformasikan kondisi terbaru.

“Mari memikirkan tidak hanya diri sendiri tetapi keluarga dan rekan kerja”. Kalimat di akhir email tersebut.

Membaca situasi seperti ini, saya mendiskusikan hal ini kepada Laura sekitar minggu akhir Maret.

Tulisan ini adalah cara pandang yang saya ungkapkan sewaktu diskusi dengan Laura mengenai kondisi saat ini.

Skenario terburuk

Entahlah ini terpengaruh dengan apa yang saya pelajari selama ini di bidang Nuklir terutama mengenai kecelakaan nuklir, tapi saya berusaha berpikir apa skenario terburuk yang bisa terjadi.

  • Saat ini, sulit menyatakan bahwa kondisi bahwa benar-benar 100% bebas dari virus tanpa melalui pemeriksaan medis.
  • Di tempat kerja sudah ada himbauan seperti yang telah saya tuliskan diatas.

Dengan kondisi seperti ini, saya tidak bisa menyatakan secara sepihak kalau diri saya sendiri terbebas dari paparan virus ini.

Untuk kondisi terburuknya, SAYA MENGASUMSIKAN BAHWA DIRI SAYA TERPAPAR TAPI TIDAK (BELUM) ADA GEJALA YANG TERLIHAT.

Disini, saya mengajak Laura melihat dampak yang bisa ditimbulkan ke orang lain dengan menggunakan asumsi terburuk.

Contoh: Sudah ada himbauan dari pemerintah atau/dan dari kantor tapi karena tidak saya anggap serius akhirnya saya memutuskan untuk berpergian ke suatu tempat (melihat sakura, kumpul-kumpul, dll).

Apa yang terjadi ketika saya pergi ke suatu tempat keramaian atau perkumpulan dengan menggunakan asumsi terburuk yang telah saya tuliskan diatas?

  1. Saya akan pergi ke tempat tersebut dengan kereta. Kereta yang saya naiki adalah kereta lintas kota yang berasal dari Iwaki (100 km dari Desa Tokai) dan berakhir di Stasiun Ueno atau Shinagawa (Tokyo). Dalam hal ini, sedikit banyak saya “membantu” penyebaran virusnya.
  2. Saya akan bertemu dengan banyak orang di tempat tersebut. Ada peluang menularkan. Artinya, saya juga “membantu” penyebaran virus tersebut.

“Saya takut tertular, tapi bagi saya lebih takut lagi menularkannya ke orang lain. Ada beban mental dan moral dalam diri saya.”

Dampak terhadap orang lain:

Pada saat saya terpapar, hal yang saya lakukan adalah memberitahu atasan saya (itu prosedur yang sudah dikeluarkan dari perusahaan tempat saya bekerja).

Dampak yang bisa ditimbulkan adalah:

  1. Tempat kerja dan rekan kerja akan diperiksa kesehatannya. Bisa jadi gedung tempat bekerja harus di tutup sementara.
  2. Tempat tinggal, keluarga dan tetangga sekitar apartemen pastinya akan diperiksa.
  3. Saya pun wajib melaporkan kegiatan saya beberapa hari terakhir dan dengan siapa saja saya melakukan interaksi. Tentunya hal ini akan berdampak buruk bagi mereka yang berinteraksi dengan saya.
  4. Mungkin saya akan dikenakan sanksi oleh perusahaan karena melanggar himbauan yang telah dikeluarkan.

Dampak yang ditimbulkan karena hal sepele yang saya lakukan tentunya bisa menjadi beban moral tersendiri dalam diri saya.

Setelah memaparkan pemikiran saya, Laura dengan sigkatnya berkata: “ Hahh, sampai segitunya cara pandangmu sampai buat asumsi segala. Agak berlebihan ya cara pikirmu. Tapi benar juga ya. Efek yang ditimbulkannya bisa luas juga ternyata.”

“Setiap orang boleh punya cara pandang yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu permasalahan.”


Sejak 31 Maret, saya sendiri sudah diperbolehkan untuk bekerja dari rumah. Akan tetapi, karena kondisi pekerjaan saat ini tidak optimal dikerjakan dari rumah (maaf tidak bisa menuliskan alasannya) maka saya masih tetap pergi ke lab untuk bekerja.

Tentunya aktivitas yang saya kerjakan sudah dengan dukungan dari istri dan juga memperlengkapi diri dengan masker, pembersih tangan, dll untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, di tempat kerja pun sudah menyediakan sarana untuk membantu mengurangi resiko terhadap hal yang tidak diinginkan.

Dengan kondisi saat ini, saya pun dalam bekerja berusaha membatasi ruang gerak dan interaksi antar rekan kerja, salah satunya dengan menjaga jarak.


Bagi mereka yang memang bisa beraktivitas dan bekerja dari rumah mari kita membantu mengurangi resiko tertular atau menularkan.

Bagi kita yang memang harus beraktivitas di luar (seperti kondisi saya juga), mari kita menjaga diri dengan baik-baik. Ada keluarga yang menanti di rumah.


 

Baca juga: Main tebak-tebakan yuk..

Main tebak-tebakan yuk..

Hingga saat ini dibeberapa daerah banyak diterapkan WFH. Mari mengisi waktu luang dengan bermain tebak-tebakan yang sederhana.

Ini ada satu tebak-tebakan yang sudah lama tapi sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab.

2 + 2 = 4

2 x 2 = 4

Coba cari bilangan lain selain 0 (nol) yang ketika dilakukan operasi matematika dapat menghasilkan hasil yang sama seperti kasus diatas.

Contoh: 5 + 5 = 10 ; 5 x 5 = 25. Hasilnya tidak sama.

Selamat mencoba ya. Kalau nemu silahkan tinggalkan angkanya di kolom komentar ya.


 

Baca juga: Harga Tempe di Jepang mahal?

Uranium 235, sikecil yang berkuasa.

 

Sebelumnya di: “Uranium” kecil-kecil cabe rawit


“Uranium-235 mempunyai 143 neutrons dan 92 protons.”

Di dalam tulisan sebelumnya, terdapat gambar yang menunjukkan proses terjadinya reaksi fisi. Dalam gambar tersebut diperlihatkan bahwa neutron yang menabrak Uranium-235 akan membelah menjadi unsur kimia lain dan menghasilkan energi.

Nah, apa itu Uranium-235?

Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan bahwa uranium adalah salah satu unsur yang dapat ditemui secara alami di alam, berupa bahan tambang. 

Uranium di alam mempunyai beberapa kandungan isotop, yaitu Uranium-234 (U-234), Uranium-235 (U-235), dan Uranium-238 (U-238). Dari ketiga isotop ini, kandungan U238 adalah yang paling dominan sebesar 99.27 %, diikuti oleh U-235 sebesar 0.72% dan sisanya U-234.

Dari komposisi tersebut, bisa diperhatikan bahwa U-235 yang digunakan untuk menghasilkan energi sebesar 200 MeV bukanlah isotop yang mendominasi kandungan Uranium alam.

Dengan komposisi yang tidak sampai 1%, mengapa bisa menghasilkan energi yang sangat besar?

Monggo bagi yang mau menjawab silahkan tinggalkan komentarnya di kolom komentar.