Jepang Mengajarkan ku: #1. Taat Administrasi.

Tinggal di salah satu negara maju memberikan pengalaman tersendiri terutama dalam urusan administrasi.

Dari Jepang, saya belajar akan pentingnya taat dalam urusan beradministrasi mulai dari hal yang mungkin saya anggap enteng karena tidak (belum) pernah saya lakukan di negara sendiri.

IMG_6860
Kantor Pemerintahan di Desa Tokai, Jepang.

Berikut beberapa hal urusan administrasi yang perlu diperhatikan ketika mau tinggal di negara Jepang berdasarkan pengalaman penulis:

1. Buat Residence Card (KTP). 

Residence Card ini diperoleh di bandara (tentunya di bagian imigrasi ya) sewaktu mendarat di Jepang. Artinya anda akan punya KTP Jepang begitu mendarat di bandara. Proses memperoleh KTP ini cepat dan mudah selama semua berkas telah dipersiapkan dengan baik.

“Walaupun cepat dan mudah, tidak perlu memberi ‘uang rokok’ atau ‘uang terima kasih’ ya. Semua itu sudah bagian dari tugas mereka. Cukup bilang “Arigatou Gozaimasu”.

Pada bagian depan Residence Card ini tercantum beberapa informasi diri seperti Nama Lengkap, Alamat, Tanggal Lahir, Status Visa, hingga masa berlaku visa.

Pada bagian belakang terdapat kolom kosong. Kolom ini berfungsi apabila pindah alamat tinggal maka alamat tinggal yang baru akan dicetak di bagian kolom ini.

2. Buat Asuransi Kesehatan.

Pada umumnya ketika datang ke Jepang sebagai pelajar, maka asuransi kesehatannya akan menggunakan asuransi kesehatan nasional yang pengurusannya dilakukan di kantor kelurahan terdekat.

Sedangkan kalau datang ke Jepang sebagai pekerja, bisa jadi asuransi kesehatannya diurus sama perusahaan tersebut.


Seberapa penting mengurus asuransi kesehatan ini diawal kedatangan ke Jepang? SANGAT PENTING.

Sewaktu istri pertama kali datang ke Jepang, kami langsung mengurus asuransi kesehatan di kantor kelurahan. Pengurusan cepat dan langsung jadi dihari itu juga serta kartu asuransi langsung bisa digunakan.

Tidak ada yang menduga kalau dua hari kemudian istri sakit dan harus berobat ke klinik. Tidak kebayang mahalnya biaya yang harus dikeluarkan tanpa ada asuransi kesehatan tersebut.


3. Buat Rekening Tabungan di Bank

Dua hal diatas adalah hal yang menurut penulis paling utama dilakukan begitu sampai di Jepang.

Selanjutnya adalah membuat rekening tabungan di bank. Tanpa KTP tidak bisa buat tabungan dan tanpa adanya nomor rekening di bank, banyak hal yang tidak bisa dikerjakan, salah satunya tidak bisa buat kontrak HP.

Ketiga hal tersebut adalah hal dasar yang perlu dilakukan ketika mau tinggal di Jepang.


Yang menjadi pertanyaan, bagaimana ketika pindah alamat tinggal? Kalau cuma pindah nomor kamar meskipun di apartemen yang sama gimana? Harus lapor juga gak?

JAWABANNYA: WAJIB LAPOR

Hal yang perlu dilakukan ketika pindah alamat:

  • Pergi ke kantor kelurahan tempat tinggal saat ini untuk mengajukan surat pindah. Nanti pihak kelurahan akan memberikan surat keterangan pindah. Surat ini wajib dibawa ke kelurahan ditempat tinggal yang baru. Di kolom belakang KTP itulah nanti alamat tempat tinggal baru akan dicetak. Dengan lapor pindah alamat, maka otomatis alamat di asuransi kesehatan kita pun akan diperbaharui.
  • Pergi ke bank untuk melaporkan pindah alamat. Saya pernah pindah dan karena tidak tahu kalau melaporkan alamat baru ke bank itu adalah sesuatu hal yang perlu maka saat itu tidak saya lakukan. Beberapa bulan setelahnya, saya tidak bisa melakukan transaksi (lupa transaksi apaan) karena alamat di buku tabungan saya  masih yang lama.
  • Melakukan perubahan alamat di akun belanja online atau sejenisnya sehingga pengiriman barang bisa sampai di alamat yang baru.

Taat dalam beradministrasi ini memberikan banyak kemudahan bagi saya dan keluarga dalam mengurus banyak hal disini.

 

 

PLTU dan PLTN, masih butuh gak ya?

Kalau berbicara mengenai PLTU dan PLTN pasti banyak pro dan kontra, betul kan?

Tapi percaya atau tidak, kedua jenis pembangkit listrik ini hingga sekarang masih berkontribusi besar dalam menyuplai listrik dalam skala besar yang bisa kita nikmati sehari hari.

Karena kontribusinya yang besar, kedua pembangkit ini masuk kedalam katagori baseload power. (silahkan klik disini untuk informasi detail mengenai basedload power:Baseload power)

Secara singkat, baseload power adalah pembangkit listrik yang bisa menyediakan beban dasar secara terus menerus sepanjang tahun.

index_pic_01
PLTN berperan sebagai base-load supply [1].
Meskipun PLTU dikenal berdampak negatif karena menghasilkan CO2 sedangakn PLTN dikenal berbahaya karena limbah yang dihasilkannya. Tapi, kedua jenis pembangkit listrik ini juga berkontribusi besar dalam kehidupan sehari-hari karena kemampuannya yang dapat menyediakan listrik secara stabil sepanjang tahun.


[1] https://www.kepco.co.jp/english/energy/fuel/thermal_power/shikumi/index.html

 

Pengalaman Maternity Photo Gratis di Jepang.

Sejak kehamilan istri, kami sudah berencana akan melakukan maternity photo untuk mendokumentasikan momen bahagia ini. Pihak Rumah Sakit sendiri sudah menawarkan beberapa studio photo untuk hal tersebut.

Ada beberapa pilihan dengan variasi harga yang berbeda beda. Saat itu harga termurahnya sekitar ¥20.000 belum termasuk make-up dan pakaian. Gak perlu lagi lah ya dijelaskan untuk harga termahalnya. Lah, dengan harga ¥20.000 saja kami masih mikir-mikir. Hahaha

Ada sekitar dua bulan kami memikirkan apakah harus ambil maternity shoot di studio atau tidak. Lumayan uangnya bisa dipakai buat beli perlengkapan bayi.


Ini bukan pertama kalinya peristiwa kelamaan mikir. Bisa dibaca disini juga salah satu kisah akibat kelamaan mikir. Celotehan suami istri: #6.Bingung pilih stroller bayi.


Hingga akhirnya kami memperoleh informasi kalau STUDIO ALICE menyediakan jasa maternity photo dengan harga terjangkau. Akhirnya, kami pun pergi ke Studio Alice yang terletak disalah satu pusat perbelanjaan di kota Hitachinaka, Fashion Cruise.

Saya lupa untuk harga pastinya, tapi pada saat itu harganya kurang dari ¥ 5.000. Dengan biaya segitu kami bisa menerima 1 buah foto beserta bingkainya saja. Kalau mau file dalam bentuk CD akan ada tambahan biaya lagi. Sedangkan kalau mau mencetak lebih dari 1 foto tentunya akan ada biaya tambahan. Harga tersebut sudah termasuk biaya pakaian. Sedangkan, untuk make up silahkan dilakukan sendiri atau ke salon.

Setelah mengetahui info tersebut, kami pun langsung melakukan pemesanan untuk hari Senin jam 3 sore.

Hari Senin di Bulan Feb 2019

Kami memutuskan untuk datang lebih cepat dengan tujuan mengunjungi toko bayi (Akachan Honpo) yang ada di sebelah studio foto ini terlebih dahulu.

Di Akachan, kami hanya membeli beberapa perlengkapan bayi. Sewaktu kami mau bayar, salah satu petugasnya menawarkan membuat member card. Biaya pembuatan member card ini GRATIS.

Selain itu, hari itu ada promo menarik dimana untuk belanja diatas ¥ 3.000 akan memperoleh KUPON photo di STUDIO ALICE. 

Karena pada saat itu belanjaan kami sekitar ¥ 3.000, akhirnya kami memperoleh kupon tersebut. Ketika kami menunjukkan kupon tersebut ke Studio Alice, ternyata harga kupon tersebut sama dengan biaya photo untuk paket maternity photo yang kami pesan. Dengan kata lain, hari itu biaya maternity photonya GRATIS.

img_7949
Maternity Photo di Studio Alice. (Feb. 2019)

“Memang kalau rezeki itu nggak kemana ya larinya.”

Celotehan Suami Istri (CSI): #8. Suamiku (sok) Jagoan

Puji Tuhan. Akhirnya malam itu Henokh lahir dengan selamat.

Laura pun dalam keadaan sehat walaupun beberapa jam sebelumnya teriakan demi teriakannya memecah keheningan malam di ruang bersalin.

Di RS ini, bayi yang baru lahir ditaruh di ruangan khusus dengan tujuan memberikan kesempatan kepada para ibu untuk beristirahat. Para susterlah yang menjaga bayi-bayi yang baru lahir tersebut.

Setelah semuanya dibersihkan, saatnya saya dan Laura kembali ke kamar dan Henokh ke ruangan bayi bersama teman seangkatannya.

“Henokh adalah bayi terakhir yang lahir di hari itu.” 

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L&I : Terimakasih banyak atas bantuannya suster. Maaf sudah banyak merepotkan.

S: Iya, sama-sama. Ini pertama kalinya saya membantu lahiran orang Indonesia. Oiya, nanti kalau mau buang air kecil jangan lupa panggil suster jaga ya.

L&I: Ok Suster


Setelah itu, saya dan Laura pun kembali ke kamar. Laura masih dibantu oleh alat sejenis infus yang harus dibawa-bawa kemana pun dia pergi. Termasuk ke toilet. Mungkin ini kali ya alasan susternya harus dipanggil buat membantu.


Suasana dikamar pun berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Saat ini, suasana hati Laura sudah senang dan ceria. Saya pun sudah bisa rebahan di sofa sambil pegang HP.

L: Senang kali aku, udah lahir Henokh kita.

I: Iyaa, gak nyangka yaa bisa lahir di hari ini. Jadi nambah lah ya biaya karena lahiran di hari Minggu.. Hahaha


Ada tambahan biaya kalau lahiran di hari Minggu dan hari libur. Hal ini sudah dijelaskan diawal sewaktu memutuskan menggunakan jasa RS ini.


L: Kenapa itu pulak lah yang bapaknya ini pikirkan..Ckckkckc.. Aku mau buang air kecil.

I : Yaudah, perlu panggil suster? Atau bisa sendiri?

L: Kucoba dulu sendiri lahh..(sambil berusaha turun dari tempat tidur). Aduhh, gak bisa ini banyak kali infus disini. Panggil suster aja.

I: Hemmmmm.. Sambil menekan tombol yang ada disamping ranjang. 

Tidak sampai semenit, akhirnya suster sudah di kamar.

S: ..(mau ngeluarin hp untuk mengetik sesuatu)

I:..(waduh bisa lama ini kalau nunggu dia ngetik dulu) Suster, Laura mau ke toilet. Tolong bantuin yaa.

S: Ok. Kamu tunggu disini aja ya.

I: Ehh, Gpp suster. Saya bantuin bawa alat infus ini aja. Gpp kok. Tenang aja suster.

L: Yakin kau mau ikut? Kuat gak nanti. Kemungkinan masih ada da**h loh.. Ntar pingsan pulak.

I: Gpp lohhh.. Daripada kau ribet sambil pegangin itu infus. Sini aku aja yang bawa itu alatnya.

S: Tolong ambilkan itu (sambil menunjuk semacam tisu basah khusus buat ibu yang baru melahirkan).

Suster pun membantu istri di toilet sedangkan saya menunggu di depan pintu.

I: Waduuhhhh.. banyak kali da**hnya.. gpp itu?

S: Iya gpp. Wajar aja.

I: Sayang, pusing kepala ku. Lemas udah tanganku. Suster, pegangin ya alat ini. Saya mau duduk di sofa.

L: Hemmmmm bandal.. Udah lah tadi kubilang gk usah. Sok jago kau mau bantuin. Udah duduk aja sana. Itu makan bento tadi siang biar ada tenagamu. Awas sampai pingsan! Repot aku nanti ngurusinnya.

I: …(muka pucat sambil berusaha duduk ke sofa)

 

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster.

Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya.

“Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. Sayang kalau dibuang.” Begitulah ujar salah seorang susternya.

Sudah dua jam kami di dalam ruang bersalin. Saat itu hanya ada saya, istri dan suster.

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L: Lama kali ini prosesnya, kalau belum keluar bisa ditunda aja besok? Terjemahin itu ke susternya.

I: Ok.. (terus ngomong ke suster seperti yang disampaikan istri).

S: Heeeee..(muka bingung dan kaget orang Jepang).. Gak bisa ditunda besok. Harus hari ini. Sudah kelihatan kok.

I: Ok. (sambil menjelaskan lagi ke istri)

S: Sekali lagi yaa…PUSHHHHHH!!!!

L: Haiiikkk… (sekuat tenaga mengikuti instruksi suster).

I: (menahan sakitnya tangan yang dicengkram istri)

L: Udah kupush.. Udah keluar belum?

S: Belum… Lebih kuat lagi.

L: Mau sekuat apa lagi kupush. Udah mau mati aku mengpushnya.

I: perlu kuterjemahkan yang ini ke suster?

L: Gak Perlu..!!! Tanyakan dulu bisa pakai penahan rasa sakit ?

I: Suster, boleh dikasih penahan rasa sakit?

S: Gak Boleh. Sealami mungkin yaaa.

I: (menjelaskan ke istri) gak boleh katanya. Sealami mungkin.

L: OMG… udah gak kuat aku. Ambil dulu minum itu.


Melihat pembicaraan dan ekspresi laura yang sudah mulai kelelahan, akhirnya suster mengambil HP dan menuliskan sesuatu.

“Oiya, susternya tidak bisa bahasa inggris atau indonesia jadi kalau berkomunikasi dengan kami menggunakan google translate atau sejenisnya”


Cukup lama saya perhatikan suster itu mengetik di HPnya. Mungkin sesuatu yang sangat penting untuk dijelaskan. Makanya, harus pakai google translate biar tidak salah.

Setelah selesai mengetik, akhirnya HP itu diperlihatkan ke Laura.

Saya yang melihat tulisan itu pun cukup kaget dibuatnya.

 

Sedikit lagi, Semangat!!!

Yaa ampun mbak eee, kalau itu aja yang mau dijelaskan, saya dan istri masih paham loh kalau diomongin pakai bahasa Jepang.😂😂


Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Celotehan suami istri: #6.Bingung pilih stroller bayi.

Hampir semua orang yang punya bayi di Jepang pasti mempunyai stroller (kereta bayi). Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas perjalanan yang pada umumnya menggunakan transportasi umum.

Sewaktu kami tinggal di Tokyo, sering sekali melihat orang tua membawa bayinya menggunakan stroller entah itu berbelanja di supermarket, bermain di taman, serta aktivitas lainnya yang menggunakan kereta. Sering juga melihat ibu-ibu membawa bayi dengan stroller menikmati pemandangan di dalam kampus.

Menjelang kelahiran Henohk, kami pun sudah memutuskan untuk membeli stroller. Kami sudah membayangkan jalan-jalan menikmati taman di desa Tokai sambil Henokh duduk di dalam strollernya.

Yang menjadi persoalan adalah mau pilih stroller yang bagaimana?

Laura (L), Irwan (I)

Desember 2018

I: Sabtu ini kita ke Akachan (salah satu toko bayi) lihat stroller?

L: Ntar aja lah, aku cari-cari di Amazon dulu. Mau cek-cek harga dulu sama jenis-jenisnya.

I: Yowes. Kabarin kalau udah dapat. Berapa budget mu kesana?

L: Kalau bisa murah, bagus, tahan lama, kokoh. Ya gitu dehhh kriterianya. Kriteria mamak-mamak lah yaa..

I: Aku pengen yang AirBuggy. Waktu kita kemarin ke AEON langsung suka bentuknya dan sepertinya cukup kokoh.

L: Busett, bukannya itu lumayan mahal ya. Ntar dulu lah kucari di Amazon dulu.

Februari 2019

I: Oiii, gimana nasib stroller ini? Bulan depan Henokh udah mau lahir loh?

L: Sabar lohhh… ini masih cari-cari lohh..

I: Busetttt, sampai kapan mau kau cek? Nunggu Henokh besar dulu baru dibeli itu strollernya?

L: Iya lohhh.. Sabtu ini kita ke Akachan sama AEON yuk. Ada yang udah kucari di amazon, jadi mau lihat barangnya dulu.


Hari Sabtu itu, kita pun pergi ke Akachan untuk melihat-lihat stroller bayinya. Kebetulan disana ada juga di jual stroller AirBuggy yang saya incar. Sedangkan istri, masih tetap galau mau beli yang mana karena model yang dilihat di Amazon tidak ada di toko.

Karena istri masih galau, maka kami pun menunda membelinya saat itu.


Maret 2019

Henokh pun sudah lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat. Tapi, stroller buat Henokh belum ada karena Mami Henokh kelamaan mikir.

I: Tuhh, udah seminggu sejak Henokh lahir loh. Stroller pun belum jadi dibeli.

L: Hahahah.. Iya lohhhh.. Sabarr..

I: Udah sabar kali pun aku nunggu kau. Udah dari Henokh di dalam perut loh sampai udah lahir loh. Ini aja persoalan kita yang belum terselesaikan.

L: Bulan depan lah kita cek-cek lagi ke toko.

I: Sabtu aja kita ke toko, sekalian beli perlengkapan Henokh.


Hari Sabtunya di Akachan. Istri sedang mencari-cari baju untuk Henokh, sedangkan saya menuju ke bagian stroller.


I: Udah kubeli AirBuggynya. Kelamaan kalau nunggu kau mikir. Hari Selasa di kirim karena warna yang kupesan gak ada disini.

L: Lohhhh, udah dibeli? Mahal lohh..

I: Yaudah, itu hadiah ku buat Henokh..

L: Berarti gak potong uang belanja yaa..

I: Hemmmm..

L: Gitu donk.. Coba bilang dari dulu, udah dari dulu kita beli..Tapi, hadiah buatku manalah??Henokh dikasih, mana buat ku?

I: ……

Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Celotehan kali ini berkisah tentang sakitnya proses kontraksi pada saat H-1 kelahiran Henokh.

Saya sendiri tidak bisa menggambarkan gimana rasanya menahan kontraksi. Saya hanya bisa melihat Laura mengerang kesakitan, lalu bergonta ganti posisi yang bisa membuat dirinya senyaman mungkin.

Hanya ada satu hal yang bisa saya lakukan saat Laura menahan sakitnya kontraksi, mengelus-ulus punggung bagian bawah. Selain hal itu, apapun yang saya perbuat salah. Bahkan ada masanya dia tidak mau dielus punggungnya dan akhirnya saya hanya duduk diam. Dan itupun tetap salah. Wkwkwkwk

Ntah karena sudah tidak kuatnya menahan sakitnya, terjadilah percakapan unik seperti berikut:

Laura (L), Irwan (I)

L: Sakit kaliiiiiiiii. Udah gak kuat lagi aku!!! (sambil mengerang kesakitan).

I: Gimana? Mau dipanggil susternya?

L: Gak usahhhh..!!!(masih sambil menahan sakit). Sakit kaliii ini, mau sampai kapan ini…??? 😭😭

I: Trus maunya gimana?

L: Janji dulu. Kalau terjadi apa-apa sama ku, gak boleh kau kawin lagi yaa..

I: Sumpaahhh, masih sempat bah kau mikir kesana.. Hahahaha (pecah ketawa ku dibuatnya dalam kondisi seperti itu).

L: Janji lohh. (sambil menangis).

“Apakah mereka yang dalam kondisi seperti ini emosinya akan cukup labil ya?”

I: Iya loh, janji gak kawin lagi. Apa lagi? Ada lagi permintaanmu yang lain? Surat wasiat atau sejenisnya? (Berusaha mencairkan suasana biar dia tidak terlalu tegang).

L: Iya ya, apalagi yaa..?? Hahaha

I: ……….(labil kali bah emosinya, kadang nangis kadang senyum)


Sesungguhnya, banyak kisah celotehan pada saat kami berada di Rumah Sakit menunggu kedatangan Henokh. Tiga hari di RS menunggu kelahiran Henokh adalah hari-hari yang menguras seluruh emosi, tenaga dan pikiran.

Terkadang kami tertawa sendiri ketika mengingat masa-masa itu.

Celotehan Suami Istri: #4. Semuanya serba salah.

Kali ini mau menceritakan kejadian sewaktu menunggu proses kelahiran Henokh di Rumah Sakit setahun yang lalu.

Kalau dipikirkan, proses menunggu kelahiran anak adalah suatu proses yang sangat dinantikan tapi penuh emosi dan menguras tenaga.

H-1 kelahiran Henokh, kontraksi yang dirasakan oleh istri sudah sangat sakit. Walaupun, suster yang setiap kali memeriksa mengatakan itu belum puncak dari kontraksinya.

“Hahhhhh, ini belum ada apa-apanya sus?”, ujar istri dengan rasa kaget.

Lahiran ini terjadi di Jepang, jadi percakapan antara saya, istri, suster, dokter dan penterjemah(teman kerja) dilakukan dengan bahasa Inggris, Indonesia dan Jepang.

Kontraksi sudah mulai sering terjadi tapi belum yang sampai tiap 10 menit. Dalam kondisi tersebut, terjadi percakapan seperti berikut:

Laura (L); Irwan (I)

L: Aduhhh.. sakit kali ini. Sayang, pijit-pijit dulu punggung bagian bawah.

I: Ok.. Sambil menghampiri dan mulai memijit pelan-pelan. Gimana udah lumayan?

L: Iya, udah gak terlalu sakit lagi.

Proses ini berlangsung sekitar 15 menit. Lalu istri kembali ke tempat tidur buat istirahat. Sedangkan, saya kembali beristirahat ke sofa.


1 jam kemudian


L: Aduhhh.. sakit lagi ini. Lebih sakit ini.

I: (Bangun dari sofa, dan berusaha untuk mijitin punggungnya lagi)

L: Jangan dipijit lohh.. Tambah sakit ini !!!

I: Lahhh, tadi dipijit jadi lebih nyaman. Kenapa sekarang kondisinya terbalik sihh??!!

L: Gak tahuuu !! (sambil mengerang kesakitan).. Udah, duduk aja kamu disana!!

I: Ok.. (duduk sambil mulai main HP)

L: Kenapa main HP sih!! Istrinya lagi kesakitan!!!

I: Lah, tadi katanya duduk aja.

L: Iya lohhh.. Duduk aja tapi bukan main HP!!

I: Ok2.. (sambil meletakkan HP di meja).

L: Ihhhhh… sakit kali kontraksinya.. Kamu kenapa duduk aja sih. Bantuin donk. Ini malah duduk aja!! (nada suara sudah judes)

I: Sumpahhh cui… Ini maumu apaan sih? Duduk salah, main hp salah, tidur salah, semuanya salah cui..Panggil suster aja yaaa..

L: Gak usah protes-protes dehh!!

I: …..(cepatlah datang suster)

Suster pun akhirnya datang dan memeriksa kembali. Ternyata masih belum ada tanda-tanda lahiran akan terjadi dalam hitungan jam.

“Kemungkinan bakalan seperti ini sampai 12 jam kedepannya”, begitulah jawaban susternya.

Mendengar hal itu, Laura pun kembali kaget. Ya ampun selama itu kah proses menunggu lahiran ini.


Di Rumah Sakit ini, mereka punya motto:

Tidak ada proses melahirkan tanpa rasa sakit.

Kalau kami mengingat kembali proses selama di Rumah Sakit, kadang bisa tertawa sendiri apalagi banyak ocehan-ocehan Laura yang untungnya dalam Bahasa Indonesia jadi suster atau dokter tidak ada yang tahu artinya.Hahaha

Celotehan Suami Istri: #3. Henokh ngerjain Maminya.

Anak satu tahun udah bisa apa sih? Udah bisa ngerjain maminya menyembunyikan remote TV.

Sejak kondisi di rumah aja, TV pun mulai difungsikan kembali sebagai mana mestinya. Biasanya TV di rumah hanya pajangan dan hampir tidak pernah dinyalakan.

Henokh sudah paham kalau untuk menghidupkan TV dibutuhkan remote. Karena dia belum bisa melakukan sendiri, biasanya dia akan mencari remote terus memberikannya kepada saya atau maminya.

Biasanya, maminya akan menyimpan remote setelah menyalakan TV supaya tidak diutak atik sama Henokh karena dia lagi suka buat mengambil dan melempar barang. Biasanya, mami Henokh menyimpan remote di dalam lemari doraemon.

Hampir setiap apartemen yang punya ruangan bertatami pasti ada lemari doraemon.

Sedangkan saya, biasanya cuma meletakkannya di tempat yang gak bisa dijangkau Henokh, seperti diatas kulkas atau diatas meja belajar.

Senin Pagi

Seperti hari-hari biasanya, pagi ini TV sudah dinyalakan karena mau nonton acara anak-anak. Sebenarnya Henokh tidak suka menonton, hanya saja suka dengan suara entah itu dari TV, atau musik dari keyboard.

Biasanya walaupun TV dihidupkan, Henokh tetap aja lari-lari mengitari rumah tanpa peduli sama apa yang ditayangkan di TV. Tapi begitu TV dimatikan, biasanya dia akan mencari remote TV.

Ntah kenapa hari itu, mami Henokh lupa menyimpan remote TV sesudah menyalakan TV. Remotenya hanya diletakkan di tempat yang bisa dijangkau Henokh.

Henokh pun berhasil menyembunyikan remote TV dan membuat maminya pusing mencari dimana remote TV berada.

Kisah pencarian remote TV ini berlangsung hingga saya pulang dari lab.

Saat itu saya mau ganti siaran di TV tapi tidak menemukan remote TV.

“Sayang, dimana remote TV?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Itulah, aku pun udah nyari dari tadi pagi. Disembunyikan Henokh nih remotenya.”, ujar Laura.

“Hahaha. Dikerjain sama anak umur satu tahun bahh..Itulah sering kali pulanya kau sembunyikan remote itu, sekarang giliranmu dikerjain. Udah dicari dimana aja?”

“Udah loh, di bawah keyboard, kursi, meja, di kardus mainan Henokh. Gak ada loh.”,ujar mami Henokh.

“Paling disembuyikan di bawah kulkas. Udah penuh tuh bawah kulkas dengan mainannya. Udah dicek disana?”, ujar saya kepada mami Henokh.

“Emangnya muat ya dibawah kulkas. Belum kucek sih. (sambil jalan menuju kulkas). Ya ampunnn Henokhhhh, pandai kali ya ngerjain mami sampai dibuat pusing nyari remote TV.”, ujar Laura kepada Henokh.

Mendengar teriakan dan ketawa maminya, Henokh pun ikut ketawa sambil merangkak ke arah kamar.


Bisa juga ternyata anak satu tahun ini ngerjain maminya. Hahaha.

Mami vs Henokh = 1 vs 1. Imbang ya skor kalian berdua dalam hal menyembunyikan remote TV.  Hahaha

Mau bekerja di Jepang? Persiapkan hal-hal berikut ini!

Pertanyaan lain yang muncul dari teman atau bahkan keluarga ketika pulang ke Indonesia adalah gimana sih bekerja di Jepang? Enak gak sih? Nyantai atau gimana sih sistem kerjanya?

Sebenarnya, agak sulit menjawab pertanyaan tersebut karena jawaban dari semua pertanyaan tersebut sangat tergantung kepada tempat kerja atau bahkan rekan kerja di dalam tim. Bekerja di perusahaan yang sama tapi beda divisi atau bahkan beda grup saja bisa punya jawaban yang berbeda atas pertanyaan diatas.

Disini saya berusaha memberikan gambaran mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika mau bekerja di Jepang.

1. Disiplin.

Siapa yang belum kenal dengan tingkat kedisiplinan negara Jepang. Bukan hanya orangnya saja, bahkan alat transportasi umumnya saja terkenal sangat tepat waktu.

Ketika di stasiun kereta tertulis jadwal keberangkatan pukul 08:53 maka percayalah kalau kereta akan berangkat tepat waktu, bukan jam 08:50 atau jam 08:55 apalagi jam09:00.

Demikian juga dengan orang Jepang pada umumnya. Ketika membuat janji untuk rapat pukul 09:15, maka rapat akan dimulai pukul 09:15 walaupun semua anggota sudah di dalam ruangan sejak pukul 09:00.

2. Tidak mudah mengeluh.

Sering ngeluh kerjaan banyak, ngerjain yang bukan kerjaan wajib alias bukan jobdes, waktu istirahat yang gak bisa molor atau telat 5 menit aja diomelin, dll.

Kalau masih sering mengeluh hal receh seperti diatas, coba dipikirkan lagi apakah sanggup nantinya bekerja di negara ini.

3. Mampu Beradaptasi

Beda negara maka beda pula budaya yang dimiliki. Oleh karena itu, sebagai pendatang haruslah mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja. Tidak hanya di lingkungan kerja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau di Indonesia kita sering berkumpul di rumah teman dan ngobrol atau main musik hingga larut malam dan kemungkinan besar mengganggu tetangga. Percayalah, kalau kondisi seperti ini diterapkan di Jepang, kemungkinan besar tetangga anda akan menghubungi polisi dan siap-siap berurusan dengan pihak berwajib.

4. Mentalitas

Tidak semua bisa berjalan lancar sesuai keinginan kita. Adakalanya kita akan melewati kerikil tajam dalam kehidupan ini.

Siapkan mental yang kuat menghadapi tekanan dan teguran dalam dunia kerja. Ingat kembali apa yang menjadi motivasi ketika anda memutuskan mengambil langkah untuk bekerja di Jepang. Mungkin itu bisa membantu menghadapi hambatan tersebut.


Demikian sedikit gambaran yang bisa saya berikan. Semoga bisa membantu mempersiapkan diri bagi mereka yang ingin bekerja di Jepang.


 

Baca juga: Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!