How I met your mother (4)

Sebelumnya di:

Episode 3: Membuka Diri

Episode 4: Waktunya kurang tepat.

Dari bulan Februari hingga akhir Maret 2010 adalah masa krusial dalam perkuliahan saya. Hampir setiap hari saya habiskan di laboratorium komputasi kampus untuk mengerjakan skripsi. Selain itu saya masih tetap harus mengikuti kelas bahasa inggris setiap hari Selasa dan Kamis sore dan beberapa kegiatan lainnya.

Kegiatan tersebut tentunya menguras tenaga dan pikiran. Refresing adalah salah satu hal yang bisa menyegarkan kembali pikiran saya.

Hal yang biasa saya lakukan untuk meyegarakan pikiran adalah berkunjung ke Plaza Ambarukmo Mall. Masuk ke bagian Gramedia sambil mencari buku sejarah dunia (terutama yang berhubungan dengan Perang Dunia). Biasanya mencari buku yang sudah di buka plastiknya, jadi bisa dibaca disana.Hehehe.

“Planet Bumi”

Kehidupan saya selama bulan-bulan ini membuat saya seolah-olah sedang tidak berada di Planet Bumi.

Di lain hari, ada sms masuk dari Andi. “Coi, kau di kos? Awak otw kesana ya.” Hemmm, sms belum dibalas, dia udah nyampe di depan kos. Yoweslah, makan malam ajalah dulu kita di pecel lele depan kehutanan (Fakultas Kehutanan UGM), begitulah saya menyambutnya di depan pintu kos.

Kedatangan Andi tentunya tidak dengan tangan kosong. Pasti ada informasi yang mau diceritakannya. Ada banyak hal dari mulai A sampai Z yang diceritakan, seolah-olah saya beneran sudah menghilang dari Planet Bumi selama dua bulan sehingga tidak tahu informasi apapun. Dari semuanya itu, ada satu cerita yang menarik perhatian saya.

Kira-kira begini percakapan singkat kami:

A: Cui, teman-teman ELTI berpikiran kau sombong loh, soalnya gak pernah gabung kalau ada kumpul-kumpul.

I: Hahhh? Emang ada kalian kumpul-kumpul? Siapa aja?

A: Ada cui dan udah beberapa kali nongkrong bareng. Terus mau gak kau ikut Fun Walk ELTI nanti?

I: Nanti kalau awak ikut jadi gak fun lagi..hahaha (dan akhirnya saya pun tidak ikut acara tersebut). Tapi kau kan tahu kalau awak lagi sibuk ngerjain skripsi. Ngejar deadline coi.

A: Yoi, makanya tenang aja kau. Udah kujelaskan itu sama mereka jadi aman aja.

I: Yowes, ntar kalau ada rencana makan-makan kabarin lah coi.

Begitulah kira-kira percakapan singkat kami saat itu.

Saya tidak tahu kalau mereka sudah begitu akrab satu sama lainnya. Saya sendiri pada awalnya tidak terpikir bakal bisa berhubungan dekat dengan mereka.

bersambung …

Episode 5: Terpesona


  • Seiring dengan berjalannya waktu, mereka-mereka inilah yang nantinya akan membantu saya dalam proses-proses menggapai mimpi untuk bersekolah ke Jepang. Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech
  • Tidak banyak teman dekat saya sewaktu di kuliah, Andi adalah salah satunya dan dia juga yang banyak membantu saya bahkan hingga saat ini.

Tips Menikmati Keindahan Bunga Sakura

Kurang dari sebulan lagi, Jepang akan memasuki musim semi. Musim ini adalah salah satu musim terbaik di Jepang. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Pastinya sudah banyak orang tahu bahwa alasan utama mengunjungi Jepang di musim ini adalah menikmati keindahan bunga sakura.

Bunga Sakura (Cherry Blossoms)

Bagi saya, bunga sakura sangatlah unik. Kemunculannya hanya sekali dalam setahun dengan durasi kurang dari satu minggu. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang ingin sekali menikmati keindahan sakura.

Kapan mekarnya bunga sakura?

Tidak ada yang bisa memastikan secara pasti tanggal mekarnya bunga sakura. Tetapi bunga ini akan mekar dari wilayah selatan Jepang menuju wilayah utara Jepang. Hal itu dikarenakan suhu udara diwilayah selatan yang lebih hangat dibandingkan wilayah utara. Berdasarkan pengalaman dan informasi yang tersedia dari website-website travel atau sejenisnya, bunga sakura biasanya akan mulai mekar sekitar tanggal 20an Maret hingga awal April untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya. Bagi mereka yang akan liburan sekitar bulan Maret hingga awal April, ada baiknya mencari tahu tentang informasi ini. Sayangkan udah datang ke Jepang tapi tidak bisa melihat bunga sakura hanya karena selisih waktu dan tempat.

Tempat terbaik melihat sakura di Tokyo (versi penulis)

1. Tokyo Institute of Technology. Ini adalah kampus tempat saya menimba ilmu. Bukannya mau subjektif, tapi tidak diragukan lagi kalau ini adalah salah satu lokasi terbaik menikmati keindahan bunga sakura. Salah satu keunggulannya adalah tidak banyak orang tahu sehingga bisa menikmati keindahannya dengan lebih tenang.

IMG_2594
Hanami bersama rekan-rekan Obara lab di Tokyo Institute of Technology.

2. Nakameguro (Naka-meguro). Disini kalian bisa menikmati pemandangan bunga sakura di sepanjang aliran sungai meguro. Sebagai tempat paling terkenal di Jepang, maka tidak diragukan lagi akan banyaknya orang yang datang kesini. Saya pernah berkunjung kesini di tahun 2017 dan sangat banyak orang yang ingin menikmatinya. Hal ini bisa dilihat dari ramainya orang dari mulai stasiun Nakameguro hingga menuju lokasi hanami. Dikiri kanan jalan pun banyak tersedia penjual makanan ringan.

IMG_4488
Salah satu sudut penampakan bunga sakura di Naka Meguro.

3. Ueno Park. Taman ini juga salah satu tempat terbaik menyaksikan keindahan bunga sakura. Disisi lain, terlalu banyaknya orang yang datang kesini membuat saya merasa kesulitan untuk menikmatinya. Selain itu, pada saat kami kesana, banyak orang yang mabuk dan lumayan kotor akibat banyaknya sampah yang sembarangan dibuang sehingga semakin kurang bisa menikmatinya.

IMG_4436
Istri yang sedang berfose di tengah keramaian orang yang menikmati sakura di Ueno Park.

Hanami

Hanami adalah istilah dalam bahasa Jepang yang digunakan pada aktifitas menikmati keindahan bunga sakura.

Bagaimana sih aktifitas Hanami tersebut?

Kegiatan ini biasanya dilakukan secara rombongan. Dimana sesama teman atau keluarga berkunjung ke lokasi bunga sakura sambil membawa bekal untuk dimakan. Biasanya dilakukan di siang hari.

Apa yang butuh di bawa untuk aktifitas Hanami?

  • Tikar piknik. Digunakan sebagai alas duduk.
  • Makanan dan Minuman.
  • Plastik sampah.

Do and Do Not

  • Silahkan berfoto menikmati keindahan bunga sakura.
  • JANGAN memetik atau menggoyangkan batang pohon sakura agar hasil foto terlihat keren. Foto anda akan keren, tapi orang setelah anda tidak bisa menikmatinya lagi.
  • JAGA KEBERSIHAN dengan tidak meninggalkan sampah makanan setelah menikmatinya. Pada dasarnya, akan sulit menemukan tempat sampah. Itu artinya simpan sampah anda sampai anda menemukan tempat sampah. Kalau belum ketemu, maka bawa pulanglah sampahnya.
  • Pada tempat-tempat tertentu, ada kalanya terdapat tali pembatas di sekitar pohon. Itu artinya tidak perlu melewati pembatas tersebut. Apalagi berusaha untuk bermain lompa tali..Hehehe

Mungkin itu saja sekedar informasi dari saya. Semoga bisa menikmati keindahan bunga sakura.

How I met your mother (3)

Sebelumnya di:

Episode 2: Siapa Dia?

 

Episode 3

Membuka Diri

Tidak terasa sudah sebulan sejak kelas ini dimulai. Andi sudah berbaur dengan semua orang yang ada di kelas. Sedangkan saya, nama mereka aja masih ada yang belum hapal.

Saya tipikal orang yang sulit membuka pembicaraan terutama dengan orang baru.”

Hanya ada beberapa nama yang saya kenal selain Andi. Mereka adalah AAng dan Nilla. Perkenalan pertama dengan AAng karena pada saat itu ada latihan percakapan antar sesama murid. Sedangkan dengan Nilla, karena pernah duduk sebelahan jadi mau gak mau harus kenalan. (Sebenarnya bukan hanya mereka saja, tapi yang sampai sekarang gak mungkin lupa adalah perkenalan dengan mereka).

Ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. AAng adalah tipe orang yang sangat friendly (cenderung agresif..hahaha) dan memiliki wawasan yang luas. Nilla juga orangnya asik diajak ngobrol, ramah, tahu banyak tentang Jogja, dengan khas suara Jawa medok gitu.Hihihi.

Disisi lain, Andi sudah sangat akrab dengan Hendroy, AAng, Nilla, Ratna, Metta, 2 orang lainnya (1 cowok dan 1 cewek, maaf ya lupa nama mereka), dan Laura. Atau dengan kata lain, akrab dengan seluruh murid di kelas.

“Yapzz, kelas dilevel ini lebih didominasi oleh kaum Hawa.”

Tidak seperti biasanya, AAng, Nila, Andi, dkk masih bercengkrama ketawa ketiwi di parkiran motor setelah kelas bahasa selesai. Yaa, tentunya saya juga ada disana karena saya pulangnya nebeng sama Andi. Itu adalah pertama kali saya membuka diri dan berkenalan secara personal ke mereka semua.

“Bagi saya, mereka semuanya cukup asik diajak untuk ngobrol.”

 

bersambung …

Episode 4: Waktunya kurang tepat

 

How I met you mother (2)

Sebelumnya di

Episode 1: Januari 2020

 

Episode 2

Siapa Dia?

Jadwal les pada level ini adalah hari Selasa dan Kamis, pukul 17:30 -19:00 WIB. Hal ini berbeda dengan level sebelumnya yang mana jadwalnya adalah hari Senin dan Rabu.

Hari pertama masuk les, saya pergi bersama Andi dengan motor “belalang tempur” nya.

“Sebenarnya kami sudah mengikuti les ini dari level sebelumnya, tapi berbeda jadwal.”

Sepanjang jalan menuju ELTI, saya berharap ada orang lain yang saya kenal di kelas selain si Andi. Sesampainya di ELTI, apa daya tak satupun orang yang saya kenal di kelas itu. Semuanya wajah baru bagi saya. Dilain pihak, ternyata Andi sudah lumayan kenal dengan beberapa orang disana. Usut punya usut, ternyata temannya dari level sebelumnya.

Hari itu, tidak ada yang spesial. Masuk ke kelas, memperkenalkan diri masing-masing, dilanjutkan dengan kegiatan belajar dan setelah itu pulang.

Beberapa Hari Kemudian..

Hari ini kami terlambat sekitar 5 menit. Hanya ada dua alasannya, antara saya lagi keasikan mengerjakan skripsi atau jemputan yang telat..hahaha.

Saat itu, pintu kelas sudah ditutup. Andi yang berada di depan, langsung membuka pintu dan masuk kedalam. Saya mengikuti di belakang sambil mencari-cari kursi mana yang masih kosong.

Disinilah pandangan saya tertuju pada seseorang perempuan yang pada pertemuan sebelumnya tidak ada di kelas itu.*

“Penampilannya cukup menarik perhatian diantara murid-murid lainnya.”

bersambung …

Episode 3: Membuka diri


Andi: Teman saya sejak tahun 2007. Orangnya mudah bergaul dengan siapa saja.

*Bagi ya kenal, tahan dulu yaaa.. jangan spoiler dulu..

 

 

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University.

“Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.”

Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu wisuda saja, maka “sedikit santai” lah conference ini dibandingkan dengan yang sebelumnya. Karena itu, saya berinisiatif untuk mengajak istri untuk ikut kesana. Biaya keikutsertaan istri tentunya menjadi tanggungan saya sendiri.

(Silahkan baca tulisan saya sebelumnya: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga)

Conference itu sendiri berlangsung selama 3 hari dan jadwal presentasi saya adalah di hari terakhir. Dengan kondisi demikian, saya harus tiba di Sapporo satu hari sebelumnya.

Disinilah kami memanfaatkan waktu untuk melakukan “One Day Trip” Sapporo.

Berikut kira-kira ringkasan perjalanan selama satu hari di seputaran Sapporo.

H-30

Pemesanan Hotel

Stasiun kereta terdekat menuju Hokkaido University adalah Stasiun Sapporo. Oleh karena itu, saya berusaha mencari hotel disekitar stasiun ini. Akan tetapi, karena harga yang lumayan mahal, maka kami memutuskan untuk memesan hotel di tempat lain.

“Saya selalu menggunakan booking.com untuk melakukan pemesanan hotel” 

Akhirnya kami menginap di APA Hotel Sapporo Susukino Ekimae yang terletak didekat Stasiun Hosuisusukino. Stasiun ini hanya berjarak dua stasiun dari Stasiun Sapporo. Selain itu, ternyata letak hotel ini hanya berjarak sekitar 1.1 km dari Stasiun Sapporo.

“Di Jepang, harga sewa hotel ditentukan berdasarkan jumlah orang. Misal: 1 kamar yang bisa diisi 2 orang, maka harga yang dibayarkan bukan harga 1 kamar melainkan harga untuk 2 orang.”

Biaya yang kami keluarkan untuk hotel ¥16.400/malam. (Ukuran 1 Double Room-Non Smoking)

Pemesanan Tiket Pesawat

Kami memesan tiket pesawat melalui AirDo. Harga total tiket PP yang kami keluarkan sebesar ¥ 32.000. Untuk penerbangan sendiri, kami memilih untuk berangkat menggunakan penerbangan paling pagi (sekitar jam 7) agar bisa menikmati “one day trip2” di Sapporo.

H-1

Opsi penerbangan paling pagi, berdampak pada jadwal keberangkatan dari rumah menuju Bandara Haneda. Setelah kami cek jadwal kereta atau bus menuju bandara dari Stasiun Saginuma (dekat rumah), maka kami tidak menemukan jadwal kereta yang bisa memberikan kami tumpangan agar tiba di Bandara Haneda sekitar jam 6 pagi.

“Ketika rencana awal tidak berhasil, maka harus ada opsi-opsi lain.”

Rencana-A

Opsi ini adalah menginap di bandara pada malam harinya. Entah kenapa saya masih belum sreg dengan opsi ini dan pada akhirnya opsi ini pun kami batalkan.

Rencana-B

Menginap di rumah teman yang jaraknya cukup dekat ke bandara serta ada angkutan umum pada pagi hari ke bandara.

Saya kepikiran untuk menginap di rumah kawan yang sudah sangat kami kenal dengan baik..hahaha. Teman itu tidak lain adalah kakak kelas saya sewaktu di Teknik Nuklir UGM (sebut saja namanya Petrus). Saya pernah dengar ceritanya kalau dia beberapa kali pergi ke bandara pada pagi hari. Dari sini saya ambil kesimpulan bahwa ada kereta pagi dari rumahnya menuju bandara.

Hari H

Perjalanan kali ini dimulai dari sekitar jam 3.30 pagi.

3:30 – 4:30 JST : Bangun pagi sekaligus beberes mandi, dll. Pemilik rumah masih tertidur dengan lelap.hahaha

4:45 – 5:00 JST: Jalan kaki menuju Stasiun NNNNN (maaf, saya tidak bisa menyebutkan nama stasiunnya karena alasan privasi). Dari rumah menuju statiun hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit jalan kaki. Kami berencana menaiki kereta pukul 5:04 agar tiba di bandara haneda pukul 5:50.

5:04 – 5:50 JST: Di stasiun ini sudah lumayan banyak orang yang memulai aktivitas. Untuk menuju Bandara Haneda, kami harus transit di Stasiun Yokohama.

“Stasiun Yokohama merupakan salah satu statiun tersibuk di Jepang. Tidak heran jika jam 5 pagi pun sudah banyak para pekerja kantoran (kemeja putih dan jas hitam) sudah lalu lalang di dalam stasiun mencari keretanya masing-masing.”

Sebelumnya, teman kami sudah memberitahu ancang-ancang pindah mengenai stasiun Yokohama karena kami tidak begitu familiar dengan stasiun ini. Selain itu, kami hanya punya waktu kurang dari 10 menit untuk transit.

Tepat pukul 5:50, akhirnya kami tiba di bandara Haneda.

6:00 – 6:30  JST: Check-in dan mencari sarapan di terminal domestik Haneda. Onigiri dan sebotol minuman cukuplah untuk memulai perjalanan di pagi hari yang mendung.

“Terminal domestik tidak buka 24 jam sehingga kalau anda berencana menginap di bandara maka harus pindah ke terminal internasional.” (Info dari pengalaman teman lab)

6:50 – 08:20 JST: Pesawat pun meninggalkan Bandara Narita menuju Bandara New Chitose di Sapporo, Hokkaido.

09:00 JST: Setelah keliling melihat-lihat bandaranya sejenak, kami memutuskan untuk menggunakan kereta menuju Stasiun Sapporo.

09:15 – 09:50 JST: Kami menggunakan kereta express dengan biaya sekitar ¥1.500/orang (lupa angka benerannya, tapi estimasinya segitu). Pemandangan yang ditawarkan selama perjalanan menuju Stasiun Sapporo lumayan indah. Tetapi rasa kantuk yang masih terasa, membuat saya untuk memilih tidur di sepanjang perjalanan.

10:00 JST: Kami memilih untuk langsung berkeliling di Sapporo lalu setelah itu baru check in  ke tempat kami menginap. Sudah ada daftar tempat apa saja yang hendak kami kunjungi. Kami memilih untuk menitipkan koper di coin locker. Cukup bawa barang yang dibutuhkan saja.

“Harga sewa coin locker berkisar diantara ¥300 – ¥600 tergantung dari ukuran locker yang dibutuhkan. Coin locker ini sangat banyak di temukan di area stasiun.”

Untuk urutannya saya mungkin sudah agak lupa, tapi semua tempat yang kami kunjungi dari sekitar jam 10 pagi sampai jam 5 sore masih berada di sekitaran stasiun dan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain.

10:15 – 12:00 JST: Tempat pertama yang dikunjungi adalah Odori Park. Beruntungnya kami karena pada saat itu sedang diadakan festival disana. Banyak stand makanan mulai dari khas Hokkaido sampai western food. Kami menikmati waktu dengan bersantai sambil menikmati cemilan-cemilan ringan yang disajikan disana.

Tips di tempat festival:

  • Kelilingi dahulu semua tempat jualan makanan sebelum membeli.
  • Untuk minuman, membeli minuman botol di konbini jauh lebih hemat. Biasanya minum yang ditawarkan di festival bagi saya tidak begitu menarik.

12:10 – 12:30 JST: Setelah menikmati cemilan ringan, kami melanjutkan menuju Sapporo TV TowerTower ini sebenarnya bisa dilihat langsung dari Odori Park, tapi kami penasaran saja sehingga berjalan kurang lebih 5 menit dari tempat kami duduk. Hahaha. Sesampainya disana pun, kami cuma mengganggukkan kepala (ekspresi datar dan yasudah lah yaa…). Hal ini mungkin karena kami sudah melihat Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree sehingga tidak terlalu ekspresif ketika melihat Sapporo TV Tower.

13:00 – 13:45 JST: Selanjutnya kami bergerak menuju Sapporo Clock TowerMenurut review, ini merupakan simbol dari kota Sapporo. Bangunannya pun kalau diperhatikan lebih bernuansa Eropa. Dan entah kenapa, lebih terdapat nuansa Eropa atau Amerika ya di kota ini.

“Butuh membeli tiket masuk sebesar ¥ 200 yen untuk bisa mengunjungi Sapporo Clock Tower.”

Terdapat guide yang bersedia membantu dalam mendokumentasikan foto dan tidak dipungut biaya.

Tidak lupa pula kami membeli souvenir khas dari Sapporo Clock Tower berupa pajangan kaca.

14:00 – 14:40 JST: Tidak jauh dari Sapporo Clock Tower, kami melanjutkan jalan kaki kami menuju Hokkaido Goverment OfficeBangunan nyentrik dengan bata merah diseluruh bangunannya. Kami berjalan kurang lebih 15 menit menuju tempat ini. Bangunan ini sangat menarik untuk dikunjungi. Ditambah suasana di dalam pun sangat bagus untuk menambah wawasan mengenai sejarah kota ini. Setelah atau sebelum masuk ke dalam gedung ini, taman yang ada disekitar gedung sangatlah indah di musim gugur.

14:45 – 15:20 JST: Setelah perjalanan panjang yang asik dan melelahkan, kami kembali ke Odori Park untuk mengisi perut yang sudah mulai memberontak. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke taman ini lagi. Kali ini saya mencoba memakan ramen khas hokkaido (ramen seafood). Tidak perlu berlama-lama disini karena masih ada dua atau tiga tempat lagi yang mau kami kunjungi.

Setelah mengisi kembali “bensin”, kami pun siap melanjutkan perjalanan lagi.

15:30 – 16:00 JST: Kami pun menuju kuil Hokkaido Shrine Tongu dengan berjalan kaki sejauh 10 menitEkspektasi kami lumayan tinggi saat mau menuju kesana. Akan tetapi, sesampainya disana, kami cukup puaslah melihat kuil dari luar tanpa harus berlama-lama disana. (Agak sedikit kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang ada dibayangan kami).

16:00 -17:00 JST: Kami melanjutkan lagi ke tempat terakhir dan saya lupa namanya. Semacam bekas pabrik yang sudah diubah jadi tempat belanja (Tolong kasih tahu ya kalau ada yang tahu). Bangunannya dari bata merah gitu dan ada cerobongnya. Tidak terlalu ada yang spesial yang dilihat disini tapi kami mampir ke Daiso untuk membeli tali pinggang. (Saya lupa bawa tali pinggang untuk pakaian conference besok hari..haha)

17:10 JST: Karena kami sudah lelah, maka kami memutuskan untuk naik bus dari tempat ini menuju Stasiun Sapporo.

Dari stasiun ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju hotel di Susukino Station.

20:00 – 21:30 JST: Kami pergi keluar hotel untuk mencari makan malam. Tidak disangka disekitar hotel banyak sekali tempat makan khas Hokkaido. Dan malam itu pun kami kembali memilih untuk memakan ramen seafood khas Hokkaido.

22:00 JST: Saatnya kembali untuk beristirahat. Tidak lupa sebelum tidur membuka kembali file presentasi yang akan dipresentasikan besok harinya.

Demikianlah perjalanan singkat kami yang bisa saya rangkum dalam cerita “One Day Trip” Hokkaido.

Kesimpulan

  • Ada cukup banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam satu hari di Sapporo.
  • Shiroi Koibito” adalah ole-ole khas dari Hokkaido. Silahkan mampir untuk membelinya.
  • Suhu udara di Sapporo pada pertengahan bulan September sudah cukup sejuk dibandingkan dengan Tokyo. Perlu membawa jaket hangat bagi mereka yang tidak suka dingin.
  • Pastikan anda melakukan perjalanan dengan outfit yang nyaman dipakai.

Berikut sedikit dokumentasi kami selama melakukan perjalanan di Sapporo.

IMG_4977
Sapporo Clock Tower. 
IMG_5003
Sapporo Clock Tower dilihat dari Odori Park
IMG_5007
Salah satu sudut kota saat kami berjalan dari Odori Park menuju Hokkaido Shrine Tongu.
IMG_5008
Suasana malam di dekat hotel tempat kami menginap.

How I met your mother (1)

Episode 1

Januari 2010

Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu.

Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester sebelumnya.

Selain itu, saya juga mengambil kelas bahasa inggris di ELTI untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris yang tak tunjung meningkat..hahaha

Tidak hanya di perkuliahan, di ELTI pun kami memasuki semester baru. Saat itu saya akan memulai kelas bahasa di level yang baru. Kenaikan level ini membuat saya harus pindah dari ELTI yang di dekat Gedung Telkom ke ELTI yang di belakang Gramedia.

“Pindah tempat dan naik level ditambah hampir tidak ada teman dari level yang sama melanjutkan les, membuat saya harus berinteraksi dan bersosialisasi di lingkungan yang baru. Sesuatu yang agak sulit bagi saya yang introvert.”

 

bersambung …

Episode 2: Siapa Dia?

 

Dampak Tutupnya ‘STATION COM’ terhadap anggaran belanja rumah tangga

Abstrak

Belanja kebutuhan sehari-hari adalah hal yang biasa dilakukan oleh hampir setiap orang. Di Desa Tokai cukup banyak tersedia supermarket baik itu yang besar atau kecil untuk mendukung kehidupan warga desa. Station Com adalah satu dari beberapa supermarket yang ada disini. Lokasinya yang dapat ditempuh kurang lebih 3 menit dengan jalan kaki menjadikan supermarket ini pilihan utama kami. Namun, sejak seminggu terakhir, supermarket ini tutup tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Hal ini tentunya memberikan dampak khusus bagi kami “pelanggan setia” supermarket ini. Mau tahu dampaknya? Silahkan lanjutkan membacanya..hehehehe

Latar Belakang

Menurut saya, desa Tokai merupakan suatu desa yang saya anggap cukup maju dan berkembang. Bagaimana tidak, di desa ini cukup banyak supermarket, restoran, drug store, dll. Fokus cerita kali ini mengenai supermarket (kami di Jepang sering menyebutnya Supa). Di Tokai terdapat beberapa supa besar seperti AEON, KASUMI, FOOD OFF, STATION COM, YORK BENIMARU, YAMASHIN, serta supa-supa kecil lainnya. Dari semua supa tersebut, STATION COM lah yang jaraknya sangat dekat dari rumah. Kira-kira bisa ditempuh hanya 3 menit jalan kaki. Sedangkan supa yang lumayan jauh adalah KASUMI dan AEON yang ditempuh sekitar 15 menit jalan kaki.

Selain faktor jarak, ternyata STATION COM adalah supa yang paling murah terutama untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, daging, sayur, dsb.

Akan tetapi, sejak dua minggu terakhir supa ini tutup (semoga tidak tutup untuk selamanya..hahaha). Tutupnya supa ini tentunya memberikan dampak terhadap anggaran belanja rumah tangga kami. Melalui tulisan ini, saya akan berusaha menjabarkan dampak apa saja yang kami terima baik langsung maupun tidak langsung serta seberapa besar dampak yang diberikan terhadap anggaran belanja negara (ehh salah, anggaran belanja keluarga..haha)

Metodologi

Supaya perbandingan yang dihasilkan lebih akurat, maka metodologi yang akan digunakan adalah membandingkan antara barang-barang kebutuhan sehari-hari yang sudah sering dibeli oleh istri.

Kondisi sebelum tutupnya STATION COM

Hampir semua kebutuhan pokok maupun cemilan dan sejenisnya kami beli di supa ini. Gambaran kasarnya adalah untuk daging ayam 1 kg sekitar ¥500; beras 5kg (paling murah) ¥1.300; sayuran sekitar ¥90-150; daging sapi 500g sekitar ¥400; minuman kardus (1L) sekitar ¥100; cemilan (roti, kue, dll) bervariasi mulai dari ¥50 – 200.

Dengan harga seperti itu, biasanya istri akan menghabiskan sekitar ¥5.000/minggu untuk kebutuhan sehari-hari (tentunya tidak hanya membeli barang yang disebutkan diatas). Selain itu, kami tidak perlu melakukan penyimpanan (menyetok) bahan makanan karena STATION COM adalah “kulkas raksasa” kami. Dekatnya jarak ke rumah, membuat istri juga punya aktifitas membawa anak kami menikmati jalan pagi atau sore sembari mampir ke supa.

Selain STATION COM, kami juga menggunakan jasa supa lainnya seperti AEON, KASUMI, dan YORK BENIMARU karena untuk beberapa jenis barang, supa ini memberikan kualitas yang lebih baik (ikan, buah) serta ada toko roti (bakery) didalamnya.

Kondisi setelah tutupnya STATION COM

Untuk beberapa hari pertama, tutupnya STATION COM tidak terlalu memberikan pengaruh yang signifikan. Untuk mengatasi hal tersebut, kami memilih untuk menggunakan jasa AEON karena kami sudah punya member card nya.

Untuk setiap pemegang member, setiap pembelanjaan senilai ¥ 200 bernilai sama dengan 1 poin (¥ 1) dan berlaku kelipatannya

Selain itu, lokasi AEON juga berdekatan dengan play center (Jidoukan) yang sering dikunjungi oleh istri dan Henokh.

Dua minggu berlalu, ternyata STATION COM masih tutup. Istri pun sudah merasakan ada yang berubah dengan anggaran belanja. Berdasarkan pengamatannya, ada kenaikan uang belanja mingguan sekitar ¥3.000 di minggu tersebut.

¥3.000 bisa dapat apa aja sih?

Setiap orang punya caranya masing-masing dalam mengartikan ¥3.000. Sewaktu saya mahasiswa single, dengan nilai segitu saya bisa makan selama 2-3 hari. Dengan nilai yang sama, itu adalah harga sekali makan malam kami di TIARA (restoran italia paling enak di desa Tokai). Harga ¥3.000 bisa digunakan untuk tiket sekali jalan ke Tokyo dengan bus atau kereta lokal.

Kesimpulan

Semuanya tergantung kepada diri kita sendiri bagaimana mau menggunakan dan memanfaatkan uang yang ada.

Ternyata dampak ini tidak hanya bagi kami pribadi, beberapa teman yang tinggal di desa Tokai pun kaget dengan tutup mendadaknya STATION COM.

Demikianlah sedikit curhat dari istri saya. Dimana curhatnya saya curhatkan lagi ke dalam tulisan ini. Hehehe

 

IMG_7906IMG_7902IMG_7905IMG_7904

IMG_7903
Beberapa barang kebutuhan sehari-hari yang di jual di supermarket AEON