” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)

Sebelumnya di: Part 2

DINI HARI

Tidak terasa hari sudah berganti ketika kami tiba di ketinggian 3250 meter. Berdasarkan informasi, ketinggian Gunung Fuji sekitar 3700 meter. Wahhh, tinggal 500 meter lagi menuju puncak.

Disisi lain, badan yang sudah lelah dan rasa kantuk yang melanda menjadi tantangan tersendiri bagi kami.  Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan pendakian menuju pos selanjutnya. Mulai dari sini, butuh tenaga ekstra karena medan pendakian yang semakin berat dan suhu yang semakin dingin.

“Sayang, aku kedinginan dan ngantuk. Di pos berikutnya istirahat agak lama lah. Begitu lah ujar Laura”.

02:30 JST

Jam segini sangatlah krusial karena rasa ngantuk yang semakin mendominasi. Tapi kami berhasil sampai di pos peristirahatan. Disini terdapat warung minum dan penginapan.

“Hanya orang yang beli minum atau makan yang boleh masuk ke dalam warung dan dibatasi selama 15 menit.”

Saya dan Laura pun masuk ke dalam untuk sekedar meminum sup jagung hangat dan menghangatkan badan selama 15 menit di dalam. Sedangkan Udin dan Rama memilih untuk tetap beristirahat diluar warung.

“Puji Tuhan cuaca yang cerah dan bersahabat menemani pendakian kami. Pendakian Rama di tahun sebelumnya, terjadi hujan yang cukup deras ketika berada di sekitar ketinggian ini karena sulit memprediksi cuaca di sekitar puncak Gunung Fuji.”

Waktu 15 menit ini saya manfaatkan dengan baik untuk sekedar memejamkan mata.

Antara Puncak dan Sunrise

“Ternyata 500 meter itu jauh cuy kalau mendaki gunung”

Sudah lebih dari 1 jam sejak terakhir beristirahat, tapi puncak Fuji pun belum tampak. Selain itu jalur pendakian semakin ramai dipadati oleh orang-orang yang hendak melihat sunrise dari puncak Fuji.

“Beberapa kali kami harus berhenti karena terjadi kemacetan.”

04:00 JST

Menurut pengalaman Rama, matahari akan terbit sekitar pukul 4:15 – 4:30. Dengan kondisi saat ini, hampir dipastikan kami tidak bisa melihat sunrise dari puncak.

Karena memang kami tidak berambisi untuk melihat sunrise dari puncak, maka kami pun memutuskan untuk menepi mencari lereng gunung yang bisa dipakai untuk duduk sambil melihat sunrise.


Perjuangan Cinta (2)

Bagian ini adalah hal yang tidak terpikirkan oleh saya dan Laura. Duduk menunggu sunrise tanpa ada selimut, tenda, atau terpal yang bisa menghangatkan badan adalah suatu bencana bagi kami para pemula.

Syal yang melekat di leher saya pun berpindah ke Laura karena dia sudah kedinginan. Saya hanya berusaha menahan dingin sambil berharap ayolah matahari cepat muncul.


Udin pun merasakan hal yang sama. Suhu dingin tidak terlalu bermasalah, angin yang cukup kencang yang menjadi masalah.

04:20 JST: Sunrise

Perjuangan mendaki lebih dari 8 jam akhirnya terbayar dengan melihat sunrise dan gumpalan awan yang menutupi seluruh pemandangan sekitar gunung.

“Bagaikan negeri di atas awan”

IMG_7956
Menikmati sunrise dari Gunung Fuji

 

IMG_7958
Rama, paling sabar menunggu kami bertiga di barisan akhir.
IMG_7969
Udin, pantang menyerah menuju puncak walau harus sampai muntah.
IMG_7991
Laura, pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir mendaki Fuji.

Setelah menikmati sunrise, kami pun melanjutkan kami menuju pos terakhir yaitu puncak Fuji.

06:20 JST: Bencana

Kondisi badan saya yang sudah lelah ditambah lagi menunggu sunrise dengan hempasan angin menusuk kebadan membuat fisik langsung turun. Mata sudah mulai berkunang kunang membuat saya memutuskan untuk berhenti sebentar untuk makan protein bar untuk menambah tenaga.

Laura malah terlihat lebih segar pada saat ini. Gak tahu lah dari mana tiba-tiba dia bisa bersemangat 45 untuk mendaki menuju puncak.

Sedangkan Udin, memilih untuk keluar dari jalur pendakian karena ada tanda-tanda mau muntah.

Bagaimana dengan Rama? ya, Rama tentunya dalam keadaan baik dan memastikan kondisi kami apakah masih kuat untuk naik atau tidak.

“Ternyata lokasi ‘bencana’ kami sudah sangat dekat dengan gerbang Puncak Fuji”

IMG_8025
Menepi sejenak dari jalur pendakian.

06:40 JST: Gerbang (Torii Gate) Puncak

Akhirnya kami tiba di gerbang masuk Puncak Gunung Fuji. Sekitar 11 jam waktu yang kami butuhkan untuk sampai di puncak gunung tertinggi di Jepang (3776 meter).

IMG_8038
Udin dan Rama di depan Gerbang Fuji.

“Ada loh vending machine jualan minuman hangat di puncak Fuji dengan harga yang hampir 5x lipat dari biasanya.”


 

 

” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 2/3)

Sebelumnya di: Part 1

MINGGU MALAM

Setelah melakukan pengecekan barang bawaan, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 19:00 JST.

Untuk mempermudah pendakian, kami membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang. Dimana di tiap kelompok ada satu orang yang sudah punya pengalaman mendakilah.

“Saya, Laura, Udin dan Rama adalah tim yang paling belakang.”

Di dalam tim ini, Rama adalah yang paling berpengalaman mendaki. Dia berbesar hati menemani kami di rombongan akhir selain itu dia juga menjadi penutup barisan yang memastikan tidak ada rombongan PPI Tokodai yang tertinggal di belakang.

“Kami bertiga (Saya, Laura, dan Udin) tidak punya target harus sampai ke puncak. Pedoman kami adalah sekuatnya saja yaa..hahaha”

19:30 JST: Perjalanan disini masih terbilang cukup mulus dan datar, belum terlihat tanjakan yang begitu memberatkan. Istri pun masih kuat membawa tas ranselnya. Selain itu kami disuguhkan dengan pemandangan kembang api yang terlihat di kejauhan. Festival kembali api (Hanabi) adalah suguhan yang menjadi favorit selama musim panas di Jepang.

20:00 JST: Setelah hampir satu jam berjalan, akhirnya kami berempat sampai di Pos 6. Teman-teman yang lain sudah tiba disini sekitar 15 menit yang lalu. Hal yang pertama saya lakukan disini adalah mengenakan jaket karena suhu udara sudah mulai dingin.

IMG_7914 copy
Annisa dan Laura sedang beristirahat di salah satu pos peristirahatan.

Perjuangan Cinta (1)

Kami (4 orang) pun hendak melanjutkan perjalanan setelah 15 menit beristirahat. Disini lah drama itu muncul.

“Sayang, udah capek kali aku. Gak kuat lagi bawa ransel, ujar Laura”.

Rama saat itu berbaik hati mau membantu membawakan tas ransel istri. Tapi yang namanya barang-barang istri, tentulah saya sebagai suami punya tanggung jawab membawanya.

“Gpp ram, biar saya aja yang bawa tasnya Laura.”

Supaya lebih memudahkan pergerakan, maka air minum (2L) dan makanan yang terasa berat dipindahkan ke tas saya. Laura hanya membawa tas ransel yang berisi minuman botol (600ml) dan cemilan ringan.

21:00 JST: Perjalanan pun sudah mulai terasa mendaki. Kami menggunakan jalur pendakian untuk pemula. Jalur ini sangat padat oleh manusia sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan. Senter pun setia menemani perjalanan kami dimalam hari ini.

“Jaringan 4G masih bisa dinikmati sewaktu pendakian.”

Rasa lelah dan suhu yang dingin memaksa kami untuk terus berjalan maju perlahan tapi pasti. Istirahat pun hanya sebatas mengambil napas atau minum. Kalau berdiam diri maka suhu dingin akan sangat terasa menusuk ke tubuh.

Disepanjang jalan, terkadang saya dan Udin berkata: Ya ampun, kenapa kita ikut ini perjalanan, mending tidur di apato. (dengan logat khas Makasar dan Medan). Kami hanya tertawa melihat perjuangan kami mendaki Gunung Fuji.

Dilain sisi, Laura hanya banyak diam karena sudah lelah dan sesekali minta dibawain tas ransel. (Saya akhirnya membawa 2 buah tas ransel).

Sedangkan Rama, memantau kondisi kami yang kelelahan dan sesekali melihat ke belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.

22:11 JST: Kami akhirnya sampai juga di Pos selanjutnya (sudah lupa pos ke berapa). Disini harus diakui kalau kami bertiga (Laura, Udin, dan Saya) sudah cukup lelah.

“Apa kita berhenti aja disini? Ada penginapan di pos ini. Besok pagi kita turun aja.” Begitulah tawaran saya kepada Laura dan Udin.

“Berapa sewa penginapannya? tanya Laura. 5000 yen untuk 4-5 jam (lupa) jawab saya. Yaudah lah lanjut aja sayang uangnya, ujar Laura”. 

Disini kami bertemu lagi dengan rombongan dari PPI Tokodai yang sudah sampai terlebih dahulu. Kami beristirahat sedikit lama untuk mengisi energi di dalam tubuh dengan memakan cemilan (coklat dan onigiri).

IMG_7915 copy
Udin, Irwan, Laura dan Annisa. Wajah terpaksa senyum walaupun sudah cukup lelah. Hehehe

Sebagian dari kami ada yang pergi ke toilet. Oiya, dibeberapa pos peristirahatan terdapat toilet tapi harus bayar sekitar 200 yen untuk sekali pemakaian.

Dari pos ini terlihat bahwa jalan menuju pos berikutnya lumayan curam. Kami bisa melihat barisan manusia yang mengular mulai dari tempat ini sampai ke pos berikutnya.

Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata benar, jalan yang kami lalui kali ini cukup curam. Kami harus menggunakan kedua tangan untuk merangkak naik melalui bebatuan yang besar. Mau tidak mau, istri harus menggendong kembali tas ranselnya.

IMG_7918
Sebagian rombongan PPI Tokodai yang ikut meramaikan acara mendaki Fuji 2015.

SENIN DINI HARI

01:40 JST: Setelah pendakian yang cukup panjang dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat, akhirnya kami sampai di pos selanjutnya. Siapa sangka kami sudah berada di ketinggian 3.250 meter.


 

(tunggu cerita selanjutnya di bagian 3 ya…)

 

 

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015

Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji.

Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji.

Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik gunung, dan langsung dijawab AYOOOO.  Setelah itu, teman saya, Udin, pun saya ajakin untuk ikutan.

“Kami bertiga adalah muda mudi yang hobi utamanya bukan mendaki gunung.”

Minggu Siang

Selepas ibadah Minggu, saya dan istri janjian untuk ketemuan dengan Udin di Restoran Malaysia (Shibuya) untuk makan siang.

IMG_7863
Menu makan siang di Restoran Malaysia, Shibuya

Selepas makan siang, kita berjalan menuju tempat pertemuan di sekitar Stasiun Shibuya. Ada sekitar 20 orang anak PPI Tokodai yang ikut dalam petualangan mendaki Gunung Fuji.

“Wajah-wajah ceria penuh semangat masih terpancar dari muka kami masing-masing.”

IMG_7857 copy
Wajah ceria istri disamping Patung Hachiko sebelum berangkat menuju Stasiun Kawaguchiko.

 

14:00 JST: Bus yang kami tumpangi pun melaju menuju ke Stasiun Kawaguchiko. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.

“Dari rombongan ini, ada beberapa teman yang sudah beberapa kali ikut mendaki Gunung Fuji. Dari mereka jugalah saya tahu kalau butuh waktu (normal) sekitar 7-8 jam untuk mendaki ke puncak.”

16:40 JST: Bus tiba di Stasiun Kawaguchiko. Disini kami punya waktu sekitar 30 menit untuk menunggu bus lainnya yang akan menghantarkan kami ke Pos 5 Gunung Fuji (Semoga gak salah ingat). Sambil menunggu kedatangan bus, kami pun menyempatkan diri untuk makan dan membeli cemilan di konbini (convenience store).

17:00 JST: Butuh waktu sekitar 45 menit dari Stasiun Kawaguchiko menuju Pos 5 Gunung Fuji.

18:00 JST: Kami pun tiba di Pos 5 dengan selamat. Disini terdapat restoran, toko souvenir dan perlengkapan mendaki, toilet, dll. Istri pun membeli sarung tangan mengingat suhu di puncak Gunung Fuji cukup dingin. Selain itu kami juga mengambil brosur mengenai petunjuk pendakian Gunung Fuji.

“Summer di bawah, Winter di puncak. Itulah sekilas perbedaan suhu antara pos 5 dan puncak Fuji.”

IMG_7903
Pos 5 Gunung Fuji, sesaat sebelum pendakian dimulai.

Sebelum memulai pendakian, kami pun menyempatkan makan malam. Kami membawa bekal makan masing-masing mengingat kemungkinan tidak ada makanan yang halal yang dijual disekitar pos 5. Setelah makan malam, teman-teman yang beragama Islam melaksanakan sholat.


Minggu Malam

19:00 JST: Kami pun memulai pendakian ……

 

Selanjutnya di: Part 2

 

 

Reaktor Nuklir berada di ….

Sebelumnya: Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Apakah sudah mengikuti cerita tebak-tebakan sebelumnya?

Berikut ini saya lampirkan skema sederhana sistem Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Screen-Shot-2015-07-29-at-8.56.24-PM-2mjxbbc
Skema sederhana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) (sumber: Nuclear Plant Block Diagram)

Dari gambar diatas, sudah jelaskan kalau selama ini yang sering kita temui di media massa, poster atau sejenisnya bahwa gambar cerobong itu bukanlah reaktor nuklir melainkan menara pendingin (cooling tower).

Reaktor nuklirnya berada dimana? Reaktor Nuklirnya terdapat di Gambar 2 (Reactor Buiding).

Reaktor nuklirnya berada di dalam Reactor Vessel, yang mana Reactor Vessel ini berada di dalam Containment building. Nah, semuanya itu terdapat didalam Reactor Building.

img_data_07
Ini adalah skema dari Gambar 2 pada cerita sebelumnya. Reaktor Nuklirnya terdapat didalam Reactor Pressure Vessel. Informasi lengkapnya

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. Mari kita sama-sama belajar tentang nuklir secara perlahan ya.


 

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir

Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant.

map_feature3
Ada kan ya reaktor nuklir di desa Tokai dari gambar ini?

Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe

Akhir Pekan di Bulan Februari

Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih padat dibandingkan ketika hari kerja.

Ini saya buatkan perbandingannya.. Hehehe

Jadwal hari Sabtu dimulai dari les bahasa Jepang, bermain bersama Henokh, menemani Laura belanja, ke perpustakan bersama Henokh dan Laura untuk mengembalikan dan meminjam buku buat Henokh, dll.

Jadwal hari Senin-Jumat. Pergi ke lab, mengerjakan riset, lalu pulang.

Lebih padat kan ya jadwal akhir pekan dibandingkan hari kerja? Hehehe

Berikut ringkasan aktifitas di salah satu hari Sabtu di desa nuklir.

08:30 – 09:00 JST: Estimasi jam bangun pagi, kalau Henokh sudah lebih dulu bangun maka dipastikan saya pun harus bangun karena Henokh pasti akan berusaha membanguni dengan cara merangkak ke badan. Hahaha

09:00 – 09:30 JST: Sarapan dengan Henokh. Berusaha sebisa mungkin menemani Henokh sarapan (walaupun terkadang gak sampai selesai karena harus pergi ke lab kalau dihari kerja).

10:00 -12:00 JST: Belajar bahasa Jepang di salah satu community center di Desa Tokai.

“Laura ikut les bahasa Jepang di hari lainnya”

Selagi saya les, Henokh dan maminya bersiap-siap karena biasanya kami ketemuan di salah satu supermarket (AEON MALL) untuk belanja keperluan sehari-hari.  Letak AEON yang berada di tengah-tengah antara rumah dan tempat les membuat kami memutuskan untuk bertemu langsung disana.

“Hebat euy, di desa ada AEON. Hahaha”

12:30 – 15:30 JST: Seperti bisa kebanyakan para ibu-ibu. Walaupun sudah hampir tiap hari belanja disana, tapi tetap aja bisa lama kalau belanja. (Ini masih misteri yang belum terpecahkan). Karena saya dan Henokh sudah mempelajari sistem belanja mami Henokh, maka kami pun memutuskan untuk duduk manis sambil menikmati cemilan di area food court.

16:00 – 17:00 JST: Setelah selesai makan dan berbelanja, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan utama yaitu PERPUSTAKAAN. Ini adalah tempat dimana Henokh bisa meminjam buku-buku bacaan.

Perpustakaan di desa ini sangat terawat dan buku yang ditawarkan pun sangat banyak. Desain interior perpustakaannya pun ditata sedemikian rupa sehingga nyaman dan betah untuk berlama-lama di dalam.

Apakah perpustakaan sepi? TIDAK. Banyak anak-anak remaja (SMP dan SMA) maupun balita (tentu dengan orangtuanya) yang datang untuk meminjam atau mengembalikan buku ataupun CD. Kami pun tidak lupa untuk melakukan hal yang serupa.

“Di perpustakaan, kita bisa meminjam maksimal 10 buku selama 2 minggu.”

17:00 JST: Kami pun pulang ke rumah dengan membawa buku-buku dan belanjaan sehari-hari.

“Jarak dari rumah ke perpustakan kurang lebih 2.5 km. Jalan kaki adalah alat transportasi yang kami gunakan sehari-hari ketika beraktifitas disekitar desa Tokai”


Oiyaa, tahun 1999 pernah terjadi kecelakaan nuklir (ini adalah bahasa umum yang saya gunakan, bahasa teknisnya silahkan klik linknya) loh di desa ini. Berikut linknya: Tokaimura criticality accident.


Silahkan klik juga tulisan ini ya: Efek Radiasi Terhadap Kesehatan

Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Sebelumnya di: Ada apa dengan Cesium-137???

Pada tulisan tersebut saya menuliskan “Reaksi fisi nuklir terjadi di dalam reaktor nuklir”.

Pendahuluan

Mungkin sudah banyak dari kita yang sering melihat baik melalui film, berita, maupun media massa gambar-gambar yang berhubungan dengan nuklir khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Nah, ada yang menarik perhatian saya selama ini. Dari gambar-gambar yang beredar mengenai PLTN, dimanakah letak reaktor nuklirnya?

Saya akan beri dua buah gambar. Silahkan untuk memberikan tanggapan dimana letak reaktor nuklirnya, apakah di dalam cerobong yang ada di Gambar 1 atau di dalam bangunan berentuk kotak yang ada di Gambar 2.

shutterstock_133311599
Gambar 1
https---s3-ap-northeast-1.amazonaws.com-psh-ex-ftnikkei-3937bb4-images-8-4-0-4-11354048-1-eng-GB-1221N-nuclear-reactor-2
Gambar 2

 

 


Di tulisan selanjutnya saya akan memperkenalkan sedikit demi sedikit mengenai apa yang saya pelajari di nuklir. Semoga tulisan-tulisan ini bisa berguna bagi para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya.


Jawabannya ada di: Reaktor Nuklir berada di ….

Ada apa dengan Cesium-137???

Sebelumnya di: Efek Radiasi Terhadap Kesehatan

Di dalam tulisan sebelumnya mengenai Efek Radiasi terhadap kesehatan, terdapat salah satu poin mengenai kadar radiasi yang dikandung tubuh pada saat terkena cesium.

Selain itu, masih terkait dengan berita tentang ditemukannya limbah radioaktif di perumahan BATAN INDAH, banyak disebutkan mengenai Cesium-137.

Apa sih Cesium-137 dan darimana diperoleh Cesium-137?

Cesium-137 (Cs-137)

Cs-137 adalah salah satu unsur radioaktif. Apabila kita mengingat kembali pelajaran kimia di bangku SMA, masih ingat dengan Tabel Periodik? Nah, Cesium terdapat di Golongan IA.

Darimana asal Cs-137?

Cs-137 berasal dari reaksi fisi nuklir. 

(saya berusaha menyederhanakan penjelasan mengenai reaksi fisi nuklir yaa)

Reaksi fisi nuklir terjadi di dalam reaktor nuklir. Bahan bakar yang pada umumnya digunakan di reaktor nuklir adalah Uranium Dioxide (UO2) atau untuk memudahkan kita sebut aja Uranium. Nah, Uranium tersebut menyerap neutron untuk memulai reaksi fisi nuklir. 

Saya mencoba dengan analogi minyak tanah dan korek api (pemantik) untuk menghasilkan api. Uranium kita analogikan sebagai minyak tanah dan neutron dianalogikan sebagai korek api. Ketika korek api dinyalakan dan bersentuhan dengan minyak tanah maka akan dihasilkan api. Begitu juga dengan neutron ketika bersentuhan ke uranium akan menghasilkan energi. 

Nah, ketika api yang dihasilkan oleh minyak tanah dan korek tersebut sudah mulai padam, maka kita bisa mencium aroma dari pembakaran tersebut dan korek api sudah berubah bentuk dari bentuk asalnya, biasanya berbentuk arang hitam seperti kayu yang dibakar.

Di dalam reaksi fisi nuklir, ketika neutron diserap oleh uranium maka akan menghasilkan banyak produk sampingan seperti Plutonium, Molybdenum, Xenon, Iodine, Cesium, dll. 

Apakah bentuk bahan bakar uranium di awal dan diakhir berubah? Secara fisik bentuk bahan bakarnya tidak mengalami perubahan tetapi komposisi material yang ada didalamnya mengalami perubahan.

Perhatikan gambar bentuk fisik bahan bakar nuklir dibawah.

Bahan bakar nuklir yang masih baru (belum digunakan) hanya mengandung Uranium. Tetapi, setelah ‘tugasnya’ di dalam reaktor nuklir telah selesai dan posisinya sekarang dikatagorikan sebagai bahan bakar bekas, maka bentuk fisiknya tidak mengalami perubahan. Hanya saja, material yang terdapat di dalam bahan bakar bekas ini tidak hanya uranium saja melainkan banyak produk sampingan yang dihasilkan dan Cesium-137 adalah salah satunya.

“Itulah sepintas tentang asal usul dari Cesium-137”

AREVA-NuFuel-HTP2-NuScale-300
Bentuk Fisik Bahan Bakar Nuklir (UO2) yang dipakai di dalam reaktor nuklir.

Semoga penjelasan ini bisa membantu (kalau masih kurang paham atau malah analogi saya yang salah atau kurang sesuai bisa silahkan tinggalkan di kolom komentar).

Apa kegunaan Cs-137?

Pasti akan ada pertanyaan, memangnya unsur radioaktif (yang berbahaya) ada gunanya? Ya, beberapa unsur radioaktif ternyata mempunyai manfaat, baik itu untuk penelitian, kesehatan maupun kegiatan industri.

Dalam hal ini mari kita lihat kegunaan Cs-137.

  • Cs-137 dapat digunakan untuk kalibrasi peralatan pendeteksi radiasi (seperti detector Geiger-Mueller).
  • Cs-137 dapat digunakan dalam perangkat kesehatan untuk mengobati kanker.
  • Cs-137 dapat industi dapat digunakan untuk mendeteksi aliran cairan melalui pipa, mengukur ketebalan material seperti kertas, lembaran logam dan photographic film.

Apakah Cs-137 berbahaya jika terpapar kedalam tubuh manusia?

Silahkan dilihat informasi mengenai kadar radiasi yang dikandung tubuh pada saat terkena cesium (klik disini)


Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Selanjutnya di: Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Efek Radiasi Terhadap Kesehatan

Beberapa hari terakhir, Indonesia dihebohkan dengan berita terkait ditemukannya   limbah radioaktif di kawasan Perumahan BATAN INDAH.

Silahkan dicari informasinya di google. Ini saya lampirkan beberapa berita terkait hal tersebut.

https://news.detik.com/berita/d-4900513/batan-radioaktif-di-perumahan-batan-indah-bukan-dari-reaktor-nuklir

https://megapolitan.kompas.com/read/2020/02/16/15550391/limbah-radioaktif-ditemukan-di-kawasan-perumahan-bapeten-kecolongan

Sudah ada juga press release yang dikeluarkan oleh BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) dan BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) terkait hal tersebut.


Yang menarik dari semuanya ini adalah isu-isu yang berkembang dimasyarakat mengenai radiasi nuklir, kebocoran reaktor nuklir yang di Serpong, bahkan isu agar masyarakat meninggalkan kawasan tersebut karena takut terkena radiasi. Kalau isu terakhir ini mah, kalau dimakan mentah-mentah enak tuh. Pastinya harga tanah dan bangunan disekitarnya akan turun dan akan ada oknum yang bermain untuk hal tersebut.

Nah, disini saya mencoba membagi informasi mengenai hal-hal apa yang perlu dipahami terkait dengan dampak radiasi terhadap kesehatan.

(silahkan klik link tersebut untuk memahami apa itu radiasi dan dampaknya terhadap kesehatan)

Efek Radiasi Terhadap Kesehatan

Informasi tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah Ibaraki, Jepang untuk memberikan pemahaman terkait efek radiasi terhadap kesehatan setelah peristiwa kecelakaan reaktor nuklir Fukushima 2011. (Informasi dalam bahasa Indonesia, mengingat banyak WNI yang tinggal di Ibaraki).

Semoga setelah membaca informasi ini, kita menjadi lebih paham mengenai apa itu radiasi dan dampaknya terhadap kesehatan.


Ada apa dengan Cesium-137???

How I met your mother (5)

Sebelumnya di:

Episode 4: How I met your mother (4)

Episode 5: Terpesona

Hari Minggu di bulan Maret.

Kejadian ini hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Andi ke kos.

Entah kenapa pada hari Minggu itu saya memilih untuk mengikuti ibadah minggu pagi di gereja HKBP Kota Baru. (Saya mencoba mengingat-ingat kembali ada apa di hari Minggu itu, tapi tidak bisa menemukan alasan yang pastinya alias lupa..hehe)

“Satu hal yang pasti pada saat itu adalah kesibukan dalam penyelesaian skripsi, sehingga biasanya setelah selesai gereja langsung pulang ke kosan untuk mengerjakan skripsi.”

Pagi itu semuanya berjalan secara normal mulai dari saya tiba di gereja hingga mengikuti rangkaian ibadah minggu hingga selesai.

Kejadian yang tidak mungkin bisa dilupakan adalah sesaat sebelum meninggalkan gereja.

Begini kira-kira kejadiannya:

Untuk menghindari kemacetan terutama di area parkir motor, saya memilih untuk cepat-cepat menuju area parkir. Kunci motor sudah pada tempatnya, helm sudah terpasang dikepala, mesin motor sudah nyala, tinggal menunggu antrian keluar dari parkiran.

Sambil menunggu antrian, saya melihat-lihat ke arah pintu keluar gedung gereja. Siapa tahu ada ketemu teman, itu lah yang ada di pikiran saya. Tidak lama saya memandang kearah sana, saya melihat seorang gadis yang mempesona mengenakan dress berwarna hijau keluar dari pintu gereja. Dia berdiri agak lama dekat pelataran pintu keluar gereja. Berulang kali saya memfokuskan pandangan kearahnya dan semakin fokus memandang, akhirnya timbul pertanyaan di dalam hati ” Itu bukannya Laura ya??, cantik sekali dia hari ini.”

Saya hanya memandang dari tempat saya berada tanpa berani menyapanya.

“Seperti yang saya ceritakan di kisah sebelumnya, saya sudah kenal dengan teman-teman les tetapi belum sampai tahap akrab atau tukar nomor handphone atau berteman di Facebook.”

Saya sudah berkenalan dengan Laura sejak kami les di ELTI, tapi kejadian hari Minggu inilah yang menjadi awal dari Cerita Mengejar Cinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selesai….(?)

 

Berjalan bersama Henokh

11 Februari 2020 “Foundation Day”

Sejak berada di Jepang, saya sepertinya kurang memperhatikan kalender. Maklum, selama 5 tahun menjadi mahasiswa di Jepang, hampir setiap hari saya masuk ke kampus tanpa mengenal yang namanya weekend. Apakah terpaksa? Tentu tidak.

“Profesor pembimbing saya memberikan muridnya kebebasan untuk mengatur waktu asalkan bertanggung jawab dengan penelitiannya.”

Hal ini pun terbawa ketika di dunia kerja bedanya saya memilih untuk tidak masuk pada hari Sabtu dan Minggu.

“Salah satu keuntungan menurut saya bekerja di bidang penelitian adalah waktu kerja yang sangat fleksibel.”

Saya pun terkadang tidak begitu memperhatikan hari-hari libur di kalender. Tanggal 11 Februari (Selasa) pun saya tidak tahu kalau hari itu adalah hari libur. Saya baru sadar ketika hari Jumatnya sedang berbicara dengan teman kerja dan dia berencana mengambil cuti di hari Senin.

There is No Special Plan

Karena memang kami tidak ada rencana mau pergi berwisata atau apapun, saya pun tetap masuk pada hari Seninnya.

Hari senin malam pun saya bertanya lagi ke istri mengenai ada atau tidaknya rencana jalan atau apalah untuk besok Selasa. Dan jawabannya tetap sama ‘Tidak ada rencana jalan-jalan’.

Selasa Pagi

Tetap tidak ada yang spesial, hanya membereskan kamar sebelah yang sudah mulai berantakan dipenuhi mainan dan perlengkapan Henokh yang sudah tidak dipakai lagi (maklum, perlengkapan anak bayi cepat sekali berganti seiring dengan bertambah besarnya Henokh).

Pagi itu pun kami habiskan dengan mengepak semua barang yang tidak dipakai dan memindahkannya ke gudang. Ruangan pun menjadi lebih luas dan Henokh bisa merangkak dengan leluasa untuk mengitari seluruh ruangan di rumah.

Menjelang Sore

Jam sudah menunjukkan pukul 15.10 JST dan semua pekerjaan rumah sudah beres. Cuaca yang cerah dan suhu udara yang hangat di musim dingin ini membuat kami memutuskan untuk pergi ke supermarket (namanya York Benimaru, dibaca “Yokubenimaru”).  Ini adalah supermarket terdekat setelah tutupnya Station Com.

Rencana awalnya hanya belanja sayur dan daging. Tapi entah mengapa kalau belanja sama istri rasa-rasanya seluruh bagian di dalam supermarket itu harus dikunjungi lebih dari satu kali (atau apakah hal ini cuma terjadi pada saya saja kah???) walaupun ujung-ujungnya gak dibeli juga.

Tentunya ada kesimpulan istri setelah menjelajah ruang dan waktu di dalam supermarket.

“Harga Sayur lebih murah di hari Selasa, sedangkan harga daging lebih mahal pada hari Selasa.”

Sambil menunggu istri membayar seluruh belanjaan ke mesin yang tersedia, saya dan henokh pun menunggu di bagian coffee & bakery sambil menikmati sepotong roti.

Ilustrasi pembayaran dengan mesin otomatis di supermarket. (https://www.alamy.com/japan-honshu-tokyo-supermarket-self-check-out-machine-30076347-image264544157.html)

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16:30, hal itu ditandai dengan bunyi lonceng yang terdengar diseluruh penjuru desa. Matahari yang masih bersinar membuat kami memutuskan untuk bermain sebentar ke taman yang ada diseberang York Benimaru.

Tujuan kami bermain ke taman adalah mengajak anak kami Henokh untuk belajar berjalan diluar rumah sekaligus memperkenalkan dia dengan sepatu. Ternyata di taman ada beberapa keluarga juga yang sedang mengajak anak-anaknya bermain.

“Salah satu hal dipikiran saya pada bulan April 2018 ketika baru pertama kali sampai di desa ini adalah, kalau nanti kami punya anak maka saya akan mengajaknya bermain di taman ini.”

Tidak butuh waktu lama untuk bermain di taman karena udara yang sudah mulai dingin dan matahari yang mulai tenggelam. Sekitar jam 5 sore kami pun pulang ke rumah.

“Terkadang liburan cukup diisi dengan hal yang sederhana namun bisa diingat selalu.”