Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis.

Latar Belakang

Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan selama tahun itu. Deklarasi ini dilakukan untuk memastikan besaran pajak di bayarkan setiap bulannya sudah sesuai atau tidak. Apabila jumlah pajak yang dibayarkan telah sesuai atau belum. (Itulah kira-kira pemahaman saya mengenai deklarasi di akhir tahun ini. Apabila ada yang lebih memahami sistem perpajakan di Jepang, boleh dibagikan di kolom komentar).

Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi besar kecilnya pajak penghasilan yang kita bayarkan, salah satunya adalah Asuransi Jiwa. Apabila kita ikut program asuransi jiwa maka kita memperoleh keringanan pajak.

Pada saat itu, penulis belum tahu mengenai asuransi jiwa. Selama ini, penulis berpikir bahwa ketika di awal masuk dan mendaftarkan asuransi kesehatan maka otomatis juga akan mengcover asuransi jiwa dsb. (Persepsi penulis yang salah selama ini).

Asuransi Jiwa????? Dengan penasaran, penulis bertanya ke teman lab: Asuransi kesehatan kita beda ya dengan asuransi jiwa?

Teman pun menjawab: Ya, beda.

Haahhhh???? Kemana aja sodara selama hampir dua tahun kerja. Kenapa info ini tidak pernah saya dengar. (Itulah yang muncul di benak pikiran penulis).

Dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya penulis meminta tolong kepada pak bos  untuk menjelaskan mengenai sistem asuransi di tempat bekerja.

Begini ringkasan penjelasannya:

Asuransi Kesehatan secara umum di Jepang menggunakan sistem 70-30. Artinya: 70% ditanggung oleh perusahaan dan 30% dibayar sendiri.

Tapi, ditempat saya bekerja, ada tambahan sekitar 10-20% yang akan ditanggung sehingga pegawai biasanya akan membayar sekitar 10% (kira-kira itu penjelasan beliau diawal. Disini penulis sedikit kaget dan rasa penasaran kenapa selama ini biaya berobat lumayan murah dikarenakan hal ini tohh. Pantesan aja kemarin pakai ambulance ke RS bisa gratis dan hanya bayar biaya pengobatan ¥600). Tapi, nilai 10% ini tentunya masih bersifat relatif, bisa besar atau kecil.

Selanjutnya, beliau menjelaskan lagi melalui contoh kasus agar mudah dipahami:

  • Apabila terjadi kecelakaan yang menimpa pegawai di dalam lingkungan kerja, maka masuk katagori kecelakaan kerja dan akan ditanggung 100% untuk  biaya perawatan dll.
  • Namun, apabila kecelakaan di luar lingkungan kerja, maka asuransi kesehatan tersebutlah yang bekerja dengan sistem yang telah dijabarkan diatas.

Permasalahan

Bagaimana dengan keluarga kita? Tentu apabila terjadi kecelakaan atau hal apapun semuanya berada diluar lingkungan kerja, bukan? Artinya, ada biaya sekitar 10% yang akan dibayar sendiri.

Penulis kurang tahu dengan perusahaan lainnya, jadi disini kita asumsikan secara umum saja ya. Anggaplah yang ditanggung 70%, artinya ada sisa 30% yang perlu kita bayarkan.

30 % itu mahal atau murah sih?

Bagi penulis, 30% itu mahal. Kalau terjadi kecelakaan yang menyebabkan seseorang harus dioperasi dan harus dirawat inap di rumah sakit, maka biaya sewa kamar selama di RS tidak menjadi tanggungan asuransi kesehatan. (Untuk harga inap di RS per malam bisa dicari tahu sendiri dan menurut penulis lumayan mahal sih).

Nah, disinilah peran asuransi jiwa penting menurut penulis. Ketika kita mengikuti program asuransi jiwa, maka ketika terjadi kecelakaan atau hal lain yang membuat kita sampai di rawat inap, pihak asuransi akan memberikan biaya harian selama kita berada di rumah sakit. Ditambah lagi biaya-biaya lainnya yang akan ditanggung oleh asuransi jiwa. Dengan adanya asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, maka hal ini sangatlah membantu meringankan beban biaya yang nantinya akan dikeluarkan. Bahkan di beberapa kasus ada yang malah menerima uang setelah mengklaim biaya pengobatan ke asuransi.

Selain itu apabila sampai kehilangan nyawa karena kecelakaan, maka keluarga yang ditinggalkan akan menerima bantuan (tentunya besarnya tergantung dari premi bulanan yang kita bayarkan).

Begitulah kira-kira ringkasan diskusi kami mengenai asuransi jiwa ini.

Gerak cepat

Sesampainya di rumah, penulis langung menceritakan hal tersebut ke istri. Kami pun setuju untuk mengikuti program asuransi jiwa. Ini alasan kami mengikuti asuransi jiwa:

  • Kalau terjadi kecelakaan pada kami, setidaknya kombinasi antara asuransi jiwa dan asuransi kesehatan bisa menutup atau meringankan biaya yang dikeluarkan.
  • Kalau sampai meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan tidak langsung kehilangan sumber penghasilan.

Banyak yang beranggapan ya semua orang pada akhirnya meninggal toh, buat apa asuransi. Bagi saya itu anggapan yang keliru. Betul, anda hari ini bisa merasa sehat tapi siapa yang tahu hari esok. Setelah meninggal, anda tidak akan berurusan dengan masalah keuangan lagi kan, tapi anak dan istri yang ditinggalkan masih membutuhkan loh selama hidup di dunia..hehehe”

Di hari berikutnya, penulis meminta tolong kepada salah seorang pegawai di perusahaan yang berurusan dalam hal membantu para pekerja asing. Penulis menjelaskan terlebih dahulu permasalahannya dan selanjutnya beliau bersedia membantu mencarikan informasi mengenai asuransi jiwa.

Singkat cerita, ada dua atau tiga perusahaan yang direkomendasikan. Dari semuanya itu, saya akan menceritakan satu perusahaan saja.

茨城県民生活協同組合 (Ibaraki Kenmin Seikatsu Kyoudou Kumiai)

(Silahkan cek disini untuk info lebih lanjut https://www.ibaraki-kyosai.jp/)

Perusahaan asuransi ini khusus bagi warga yang tinggal di Ibaraki. Mereka punya cabang di masing-masing prefecture dengan nama yang berbeda (mungkin tinggal ganti Ibaraki ********** dengan [nama prefecture] *******). Begitu info dari pegawai mereka sewaktu saya membuat kontrak dengan mereka.

Kenapa memilih perusahan ini?

  • Premi bulannya mulai dari ¥1.000. Cukup murah bukan? Tapi, apa yang didapatkan dengan premi 1.000 yen/bulan?
    • Kalau rawat inap akan mendapat biaya ¥ 2.500/hari.
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 132.000 – 3.300.000 (tergantung kondisi).
    • Kehilangan anggota tubuh diakibatkan selain kecelakan lalu lintas: ¥ 80.000 – 2.000.000 (tergantung kondisi).
    • Kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas: ¥ 5.000.000
    • Kematian yang disebabkan selain kecelakaan lalu lintas: ¥ 4.000.000
    • Kematian yang disebakan karena sakit (Bahasa indonesianya mungkin agak kurang benar): ¥ 2.000.000
    • Ada banyak hal lainnya yang ditawarkan, silahkan dikunjungi websitenya langung (hanya Bahasa Jepang).
  • Sangat mudah bagi warga asing. Kenapa? karena tidak ada kontrak yang mengikat. Jadi apabila suatu saat kembali ke negara asal atau pindah ke negara lain, maka bisa memutuskan kontrak kapan saja tanpa denda. (biaya administrasi mungkin ada).
  • Diakhir fiscal year (sekitar bulan Maret), apabila jumlah premi yang masuk dari seluruh pelanggan lebih besar dari jumlah uang yang dikeluarkan untuk klaim asuransi (artinya banyak warga yang sehat) maka selisih uang tersebut akan dikembalikan ke pelanggan disesuaikan dengan premi bulanan. Menurut info pegawainya sebesar 20-30%. Bagi penulis hal ini cukup menarik, sehingga timbul pertanyaan kepada mereka bagaimana kalau dari April 2020 – Maret 2021 jumlah klaim asuransi lebih besar dari pemasukan? Mendengar pertanyaan saya, mereka lumayan terkejut dan mengatakan “Heeeehhhh”(eskpresi orang jepang yang kaget atau bingung). Jawabannya cukup diplomatis: sampai saat ini belum pernah terjadi hal demikan.
  • Bagaimana kalau terjadi kecelakaan atau hal lainnya di luar Jepang? Apakah biaya yang dikeluarkan selama perobatan di luar Jeapng bisa diklaim? Jawabannya: Bisa, tentunya dengan membawa bukti dari RS atau diagnosa dokter, dsb. Intinya syarat dan ketentuan berlaku.
  • Syarat pendaftaran yang sangat mudah: bawa inkan (stamp) dan buku tabungan.

Setelah mendengar penjelasan langsung dari mereka, penulis mendaftarkan seluruh anggota keluarga (istri dan anak) ke dalam program asuransi jiwa tersebut.

Mungkin ini sedikit informasi yang bisa saya bagikan terutama kepada kita yang sedang ada di Jepang. Semoga bisa bermanfaat.

Bagi mereka yang punya informasi lebih detail atau sudah ikut asuransi jiwa ini bolehlah tinggalkan komentar. Mungkin pengalamannya akan sangat berguna bagi kami yang baru mulai ikut atau bagi orang lain yang tertarik dengan program asuransi jiwa.

Maaf apabila ada salah kata dalam mengartikan atau informasi yang salah. Mohon Dikoreksi. Informasi yang penulis bagikan disini adalah berdasarkan informasi yang diterima langsung dari pegawai asuransi ketika penulis hendak bergabung dengan asuransi jiwa mereka. Terimakasih.

 

“One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)

Salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Ibaraki adalah Hitachi Seaside Park. Beruntungnya kami yang sekarang tinggal di Desa Tokai karena hanya berjarak sekitar 15 menit menggunakan bus dari rumah ke taman ini. Lebih lagi ada bus dari depan rumah yang langsung menuju ke Hitachi Seaside Park.

Pertama kali kami mengunjungi Hitachi Seaside Park sewaktu liburan Golden Week 2017. Pada saat itu kami masih tinggal di Tokyo. Namun setelah kami tinggal di Ibaraki, tepatnya di desa Tokai, sudah lebih dari 5 kali mengunjungi taman ini di sepanjang tahun 2019. Walaupun sudah lumayan sering, kami tetap berencana mengunjunginya lagi tahun ini (bahkan berencana membeli annual pass..hahaha).

Pasti heran donk yaa… Apakah ada yang spesial dari taman ini? Jawabannya ADA. Salah satunya adalah karakter tanamanan yang berbeda beda setiap musimnya. Bagi saya, yang paling layak dikunjungi pada saat musim semi dan musim gugur.

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman mengunjungi taman ini pada saat musim semi 2019 bersama keluarga. Seperti cerita-cerita saya sebelumnya, kali ini kita akan melakukan One Day Trip bersama Henokh yang baru berusia sekitar 1.5 bulan. Hehehe

20 April 2019

Suhu yang hangat di hari Sabtu ditambah dengan cuaca yang cerah memantapkan langkah kami untuk melakukan perjalanan di hari ini. Tujuannya adalah melihat bunga Tulip dan Nemophila di Hitachi Seaside Park.

Perjalanan membawa bayi tentunya membuat kami harus memberikan waktu lebih untuk persiapan. Selain itu, jadwal bus dari rumah pukul 10.00 JST membuat kami nyaman mempersiapakan segala keperluan Henokh.

Harga tiket masuk Hitachi Seaside Park sebesar ¥ 450

 

Berikut sekilas rangkuman petualangan kami di Hitachi Seaside Park.

10:00 – 10:20 JST: Berangkat naik bus menuju ke Hitachi Seaside Park. Cuaca yang hangat dan cerah membuat hari ini banyak sekali orang yang berkunjung. Terlihat dari kemacetan sekitar area taman. Bagi yang membawa mobil, jangan khawatir karena tempat parkir yang tersedia juga cukup banyak.

Tidak harus parkir di parkiran Hitachi Seaside Park, ada banyak tempat parkir di sekitar Hitachi Seaside Park.”

10:30 – 12:00 JST: Sebelum masuk, pastikan dulu sudah membeli tiket masuk. Pemandangan yang didapat sesaat memasuki Hitachi Seaside Park adalah hamparan taman yang mana di tengahnya terdapat semacam kolam air. Kami langsung memilih untuk menjelajah sisi kanan dimana terdapat hamparan bunga tulip yang beraneka warna ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Saya baru sadar kalau hanya sedikit dokumentasi yang kami lakukan karena fokus kami memastikan Henokh tetap baik-baik saja selama di taman.

Ingat!!!

Kita sedang di negara Jepang, jadi haruslah taat baik peraturan tertulis maupun norma-norma sosial yang berlaku.

“Sekecil apapun tindakan buruk kita dinegara orang, maka akan mempengaruhi cara pandang orang tersebut terhadap negara kita.”

Tips:

  • Pastikan handphone, kamera, GoPro, Osmo Mobile, dll dalam kondisi prima (baterai penuh).
  • Kalau mau berfoto di spot-spot tertentu dan banyak orang maka WAJIB ANTRI.
  • Jangan menginjak atau memetik tanaman hanya demi selfie atau foto.
  • Sepanjang jalan tidak banyak terdapat tempat sampah. SIMPAN BUNGKUS SAMPAH ANDA SAMPAI MENJUMPAI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH.

12:00 – 13:00 JST: Waktunya mengganti popok Henokh dilanjutkan dengan memberi asupan makanan buat Henokh. Di dalam Hitachi Seaside Park terdapat fasilitas untuk ibu menyusui dan ruangan untuk mengganti popok bayi. Tentunya ruangan ini bersih dan nyaman. Mari kita yang menggunakannya untuk tetap menjaga kebersihan. Di dalam ruang menyusui juga terdapat air panas untuk membuat susu bayi.

13:00 – 13:40 JST: Setelah Henokh selesai makan, saatnya giliran orang tuanya yang membutuhkan asupan makanan. Ada beberapa restoran yang terdapat di dalam taman ini. Tapi hari ini kami mencoba makanan yang disajikan oleh food truck. Hari yang cerah dan udara yang hangat sangat cocok untuk menikmati makan siang di luar. Menu makanan yang disajikan sangat beraneka ragam tapi harganya sedikit mahal (¥500 -¥1.200). Kami memilih makan di area sekitar bunga tulip.

Tidak terasa sudah hampir jam 2 siang tapi kami masih berada di satu lokasi. Saatnya bergerak menuju lokasi utama lainnya.

14:00 – 15:30 JST: Saatnya menuju ke area utama di musim semi, Nemophila. Perlu jalan kaki sekitar 15 menit dari pintu gerbang utama menuju ke bukit Nemophila. Karena kami bawa bayi, tentunya memakan waktu yang lebih lama.hehehe. Pada saat kami datang hari itu, sudah banyak orang yang mendaki bukit Nemophila. Kami memilih untuk tidak mendaki tapi menikmati dari bawah saja. Bagi mereka yang memilih mendaki bukit maka dari atas akan mendapatkan pemandangan langsung ke laut lepas yang sangat bagus.

“Nemophila ini ditanam di bukit-bukit dan kita bisa berjalan menelusi bukit tersebut sambil menikmati pemandangan nemophila”

15:40 – 16:00 JST: Lagi-lagi kami harus mampir ke ruang bayi untuk mengganti popok dan memberi asupan makanan buat Henokh

16:30 JST: Saatnya untuk mengakhiri perjalanan hari ini. Hitachi Seaside Park tutup pukul 17:00 JST. Sebelum pulang, kami wajib mampir ke toko souvenir untuk membeli magnet dan buah tangan(buat dimakan sendiri..hahaha).

Terdapat fasilitas kereta untuk berkeliling taman dengan biaya tambahan. Sangat berguna bagi mereka yang datang membawa orang tua atau anak. Perjalanan berkeliling Hitachi Seaside Park sangatlah melelahkan bagi mereka yang belum terbiasa jalan kaki.”

Demikianlah rangkaian One day trip kami dengan membawa Henokh si bayi kecil kami.

Kesimpulan

  • Sekitar akhir April – awal Mei adalah waktu yang tepat melihat Nemophila dan Tulip.
  • Di sekitar waktu ini pula terdapat libur Panjang di Jepang, atau dikenal dengan istilah Golden Week. Bagi mereka yang mau datang kesini dari Tokyo, menggunakan kereta adalah opsi yang paling baik. Mobil adalah opsi terakhir karena akan sangat macet (pengalaman kami di tahun 2017).
  • Karena taman ini sangat luas, maka minuman botol dan cemilan sangat direkomendasikan untuk dibawa.
  • Bagi mereka yang membawa bayi atau balita, kereta bayi (stroller) sangat direkomendasikan untuk dibawa.

 

IMG_4683
Bunga Tulip
IMG_4674
Antrian panjang menuju puncak bukit Nemophila. Bisa loh berhenti sebentar untuk mengambil foto tapi jangan melewati pagar yaaa.
IMG_3112
Kombinasi warna warni bunga tulip membuat pemandangan menjadi sangat indah.
IMG_3118
Henokh dan maminya. Hangatnya sinar matahari membuat Henokh tertidur lelap.

“One Day Trip” Fukushima

Salah satu keuntungan yang kami dapatkan sejak tinggal di desa Tokai adalah program “One Day Trip” bagi warga asing. Program ini diselenggarakan oleh Tokai International Association.

Program ini diadakan 2x dalam setahun (Juni dan November). Pada bulan Juni 2019 kami belum bisa ikut karena Henokh masih kurang dari 6 bulan. Akan tetapi, trip pada bulan November 2019 boleh kami ikuti karena usia Henokh sudah 8 bulan lebih.

Suasana hati kami riang gembira karena bisa ikut trip ini ditambah lagi biaya yang dikeluarkan cuma ¥3.500/orang sudah termasuk transport, makan siang, dan tiket masuk ke tempat wisata. Biayanya sangat muraahhhhhhh sekaliiiiiiii. HAHAHA. (Mungkin program ini dapat subsidi dari pemerintah setempat).

Tujuan utama perjalanan ini adalah TSURUGA CASTLE.

Begini ringkasan singkat perjalanan ‘one day trip’ dengan membawa bayi. REMPONG adalah hal WAJIB dan kami selalu berusaha untuk menikmati kerempongan ini. hahaha

16 November 2019

  • Mempersiapkan kebutuhan bayi: Makanan instan (bukan mie instan yaaa…haha), cemilan bayi, popok, baju ganti, jaket, mainan, stroller, dll.
  • Kalau kebutuhan saya dan istri hanya botol minum dan cemilan ringan saja.

17 November 2019 (Hari H)

“Kondisi cuaca: Cerah, tidak berangin, dan suhu udara sekitar 12C”

07:15 JST : Berangkat dari rumah ke tempat perkumpulan di Tokai Community Center. Terpaksa naik taksi karena kalau jalan kaki sekitar 25 menit dan pasti telat.

07:30 JST : Bus berangkat sesuai jadwal. 

“Perjalanan kali ini diikuti oleh kurang lebih 50an peserta”

09:00-09:15 JST : Rest Area. Perlu diketahui bahwa apabila jalan-jalan dengan rombongan terutama dengan orang Jepang, maka waktu singgah di rest area adalah 15 menit. Apabila membutuhkan waktu lebih lama, WAJIB lapor ke koordinator di bus sebelum menuju toilet. Dan setelah selesai dari toilet, WAJIB lapor kembali ke koordinator.

09:15 – 10:30 JST : Selama perjalanan di bus, kami tidak begitu banyak berinteraksi dengan peserta disebalah, muka dan belakang karena berusaha untuk tetap berinteraksi dengan Henokh  supaya tidak bosan di perjalanan.

10:30 – 11.00 JST : Pemberhentian pertama. LAKE INAWASHIRO. Kami punya waktu 30 menit untuk menikmati pemandangan disekitar danau. Angin di sekitar danau  berhembus dengan sangat kencang dan kondisi ini membuat jadi sangat dingin untuk berlama-lama di tepi danau. Pemandangannya bagi saya biasa saja. Kalau mau foto pun, ada latar Mount Bandai yang puncaknya sudah tertutup salju. Tidak sampai 10 menit diluar, kami memutuskan untuk masuk ke dalam toko souvenir untuk menghangatkan diri dan sekedar melihat-lihat makanan khas apa saja yang ditawarkan. Disini kami memutuskan untuk membeli hiasan magnet kulkas.

11:30 -13:00 JST : Pemberhentian kedua. MAKAN SIANG. Kita berhenti di restoran Jepang (saya lupa nama maupun tempatnya). Restoran ini menawarkan sistem All You Can Eat. Banyak jenis makanan yang ditawarkan mulai dari hidangan pembuka, menu utama (ramen) dan hidangan penutup semuanya dapat dimakan sepuasnya.

Tips: Wajib memperhatikan jumlah makanan yang masuk saat melakukan trip adalah hal yang harus dilakukan untuk tidak mengganggu selama perjalanan nantinya.

13:40 – 15:45 JST : Pemberhentian Utama. TSURUGA CASTLE. 2 jam bukanlah waktu yang lama untuk mengelilingi benteng dan seluruh kompleksnya. Seperti benteng pada umumnya maka selalu dikelilingi oleh sungai buatan. Sebelum memasuki benteng, kita diajak untuk mengunjungi salah satu rumah teh, tempat untuk menikmati teh. Ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan kalau mau mencobanya (lupa berapa harganya tapi tidak sampai ¥1.000). Setelah dari situ, kita masuk ke dalam benteng.

Tidak ada eskalator atau lift didalam benteng, hanya menggunakan tangga”

Karena hanya ada tangga, maka tugas Henokh harus saya gendong. Strollernya tidak bisa masuk, tapi ada tempat penitipan barang baik itu stroler, koper kecil dll. Tempat penitipannya hanya berupa stand kosong tanpa penjaga, jadi langsung ditaruh aja disana. Jepang relatif aman, jadi kami tidak perlu terlalu khawatir. (Kalau sampai strollernya hilang, behhhhhh… ada yang nangis2 kali yaakkk..LOL)

Bagi peminat sejarah, pastinya wajib membaca setiap penjelasan yang diberikan di setiap sudut bangungan. Bagi yang hanya mau foto, langsung aja deh naik ke lantai 5 dan lihat pemandangan kota dari ketinggian. Hahahaha.

Bagi saya, tentunya membaca bagian demi bagian adalah pilihan yang saya ambil walaupun tidak bisa terbaca semuanya karena keterbatasan waktu. Setelah saya rasa cukup memahami sejarah clan dari generasi ke generasi, saya melanjutkan naik ke atas untuk melihat pemandangan kota. 

Lagi-lagi saya takjub dengan susunan tata kotanya

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15:15 dan saatnya turun menuju toko oleh-oleh. Banyak pilihan souvenir yang ditawarkan mulai dari gantungan kunci, makanan, hiasan, dll. Harganya pun relatif terjangkau.

Sebelum masuk ke bus, hal utama yang harus dilakukan adalah mengganti popok bayi. Jepang merupakan negara yang ramah akan anak bayi sehingga hampir disetiap tujuan wisata ada nursery room dan toilet yang menyediakan tempat mengganti popok.

16:00 – 19:00 JST : Perjalanan pulang menuju Tokai. Perjalanan pulang kali ini lebih seru karena sepanjang perjalanan disajikan permainan Bingo dengan hadiah-hadiah yang menarik. Kami membawa pulang frame foto dan lilin batang. HAHAHA. 

Demikianlah ringkasan singkat one day trip kali ini. 

Kesimpulan

  • Bagi mereka yang sedang di Jepang dan mau ikut acara yang diadakan oleh pemerintah setempat seperti One Day Trip, ini adalah kesempatan yang menarik karena biaya yang dikeluarkan lebih murah.
  • Bisa mengunjungi banyak tempat dalam satu hari sangatlah menarik. Namun, bagi saya pribadi, saya kurang bisa menikmati karena waktu yang disediakan sangat terbatas. Menyenangkan namun kurang menikmati.
  • One day trip dengan membawa bayi menyebabkan kami tidak bisa mengikuti pergerakan peserta lain dengan lincah. Terkadang kami lebih banyak melewatkan tempat-tempat yang kami anggap tidak perlu dikunjungi sewaktu berada di kawasan TSURUGA CASTLE.

Tsuruga Castle

IMG_6559
Bersama rombongan baru tiba di Tsuruga Castle.
IMG_0245
Foto Bersama

 

“One Day Trip” Ryujin Suspension Bridge

Sejak tinggal di Desa Tokai, Ibaraki, hal yang mau kami lakukan adalah berusaha mencari tempat-tempat menarik apa saja yang ada disekitar kami. Patokan dekat atau jauh adalah bisa ditempuh dengan kendaraan paling lama 2-3 jam mengingat anak kami yang belum berusia satu tahun.

“Mesin pencari google adalah alat bantu kami menemukan lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak kami ketahui.”

One Day Trip kali ini adalah mengunjungi RYUJIN SUSPENSION BRIDGE yang ada di Hitachiota sekitar 40-50 menit dari rumah dengan menggunakan mobil.

Apa sih yang menarik dari melihat jembatan? Tentunya tiap orang punya jawaban dan alasan yang berbeda beda, bukan. Bagi orang yang suka atau belajar tentang jembatan, mungkin ini adalah salah satu kesempatan yang bagus untuk melihat hasil nyata dari apa yang pernah di pelajari di kelas atau sejenisnya.

Menurut tripadvisor, jembatan ini mendapat poin 4 (maksimal 5 poin).

Penjelasan singkat mengenai Ryujin Suspension Bridge

  • Merupakan jembatan gantung terpanjang yang bisa dilalui pejalan kaki di Jepang.
  • Dari jembatan bisa langsung melihat Danau Ryujin yang ada di bawahnya. (Ada beberapa lokasi di jembatan yang dibuat dengan kaca sehingga bisa langsung melihat ke bawah).
  • Terdapat permainan Buggy Jumping dari ketinggian 100m. Buggy Jumping  tertinggi di Jepang.
  • Pemandangan alam yang ditawarkan sangat bagus.

Setelah membaca review dari internet, akhirnya kami (saya, istri, anak dan Degi) memutuskan untuk mengunjungi tanggal 1 Desember 2019. Awalnya kami berencana kesana sekitar tanggal 20an November tujuannya sekaligus melihat daun-daun musim gugur yang sudah berubah warna, tapi karena kesibukan masing-masing maka tertundalah sampai di awal desember.

Kira-kira begini perjalanan singkat kami menuju Ryujin Suspension Bridge

09:00 JST : Berangkat dari Tokai. Perjalanan lancar tanpa macet sehingga hanya menghabiskan sekitar 40 menitan saja. Sekitar 2 km belum sampai ditujuan, sudah dihidangkan pemandangan pegunungan yang daunnya sudah mulai berubah warna. (Ternyata kami masih beruntung bisa menikmati pemandangan ini…hahahaha)

10:00 – 12:00 JST : Kita mulai perjalanan melewati jembatan ini. Perlu bayar tiket untuk bisa melewati jembatan sebesar ¥400 (kalau tidak salah). Sedangkan untuk bermain buggy jumping perlu membayar sebesar ¥16.000/orang untuk 1x lompatan. Untuk saya mau dikasih GRATIS pun, heemmmmmmm.. cukup sadar diri aja..lihat kebawah dari gedung 8 lantai aja jantung mau ikut lepas. Sedangkan bagi istri dan Degi, mereka masih mau kalau harganya ¥10.000..hahahaha

“JAM OPERASIONAL BUGGY JUMPING 09:00 – 17:00”

“Sudah lebih dari 10.000 orang yang mencoba buggy jumping ini”

12:00 – 13:00 JST : Panggilan alam untuk mencari tempat makan. Pilihan restorannya sangat sedikit dan menu yang ditawarkan tidaklah spesial sekali. Hanya ada raman, soba, karaage (ayam goreng jepang), dan beberapa menu lainnya. Untuk harga sekitar ¥800 – 1.400/porsi.

“Pada jam-jam tertentu ada pertunjukan topeng monyet di dekat jembatan”

13:00 – 14:30 JST : Menikmati pemandangan alam sekitar sambil menikmati cemilan khas ibaraki di musim dingin, yaitu sweet potato. Cuaca yang cerah, hangat dan tidak terlalu berangin membuat kami biasa menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah.

14:45 JST : Menyelesaikan perjalanan singkat karena merasa sudah cukup puas untuk menghabiskan waktu disana.

Kesimpulan

  • Bagi yang suka olahraga xtreme, maka buggy jumping  disini sangat direkomendasikan.
  • Pemandangan musim gugur disini sangat bagus apalagi ketika datang pas puncaknya musim gugur.
  • Sangat cocok untuk mereka yang mau mencari ketenangan atau sekedar melepas penat.

IMG_6711

 

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang.

Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang ada di pesisir timur Jepang di prefektur Ibaraki. Tebakan saya, banyak orang tidak mengetahui kota kecil ini. Tetapi bagi sebagian besar Orang Manado  dan sekitar pasti tahu dengan kota ini. Kota itu adalah OARAI. (Mungkin perlu di tulisan lainnya untuk membahas mengapa kota ini cukup terkenal dikalangan orang Manado).

Karena latar belakang pendidikan saya bergerak di bidang Nuklir, maka kota Oarai bukanlah hal yang baru untuk di dengar. Di kota ini terdapat lembaga nuklir Jepang, Japan Atomic Energy Agency, dimana saya pernah melakukan internship selama 3 bulan pada tahun 2015. Pada saat itu, saya tidak sempat mengenal lebih dalam kota kecil ini.

13 Januari 2020

Bertepatan dengan libur nasional Jepang. Saya, istri dan seorang teman (sebut saja namanya Degi) berencana untuk melakukan trip singkat ke Oarai. Tujuannya tentunya untuk melihat apa saja yang ditawarkan kota ini kepada wisatawan..hahahaha

Jarak dari rumah kami di desa Tokai ke kota Oarai sekitar 30 km yang artinya +/- 50 menit dengan mobil.

Kalau berdasarkan info yang ada di GOOGLE, menurut saya setidaknya dibutuhkan 2 hari untuk menikmati kota ini. Satu hari mengunjungi AQUA WORLD OARAI AQUARIUM dan besoknya dilanjutkan untuk mengunjungi tempat wisata lainnya.

Berikut ringkasan perjalanan singkat kami di Oarai.

11:30 JST : berangkat dari Tokai menuju Oarai.

12:30 JST : tiba di Oarai. Hal pertama yang dilakukan adalah berhenti sejenak di parkiran umum dekat AQUA WORLD OARAI AQUARIUM sambil menikmati pemandangan laut dan ombak yang cukup besar. Beruntungnya cuacanya cerah dan cukup hangat.

13:00 JST : Mencari makan siang. Kami berhenti di OARAI SEASIDE STATION. Sebagai informasi, ini bukan stasiun kereta atau sejenisnya. Oarai Seaside station adalah sejenis outlet yang terdiri dari beberapa toko dan restoran. Sewaktu saya internship, tempat ini cukup ramai dikunjungi dan banyak pilihan makanan. Tetapi yang kami temui hari itu adalah outlet yang hampir 80% kosong. Jadilah kami harus mencari tempat makan untuk mengisi perut yang sudah mulai memberontak.

13:15 – 15:00 JST : Degi menemukan restoran Italia, Trattoria J-MarinaUntuk harganya kisaran ¥1.500 – 2.000. Dengan harga segitu, kita mendapatkan all you can eat (salad, puding dan roti). Kami di bantu langsung oleh juru masaknya untuk memilih menu yang direkomendasikan. Menurut istri, spaghetti yang dia makan menjadi yang terenak selama ini. Menurut Degi dan saya, pizza yang kami makan juga enak banget. Salah satu point utama dari restoran ini adalah tempatnya yang nyaman dan pemandangan langsung ke pelabuhan.

15:05 – 15:50 JST : Kita berjalan dari restoran menuju ke Ibaraki Port Oarai. Jalan kaki menuju kesana cukup nyaman dan banyak orang yang sedang memancing bersama keluarga bahkan ada yang langsung memasak ikan hasil pancingannya. Akan tetapi, aroma pesing cukup kuat tercium di beberapa tempat. Setelah saya melihat sekitar, ternyata toilet umum tidak ada atau terlalu jauh dari lokasi.

16:00 – 16:30 JST : Kami menuju ke OARAI MARINE TOWER. Perlu mengeluarkan uang ¥330 untuk menikmati pemandangan kota Oarai dari ketinggian 60m. Pemandangan yang disajikan cukup indah melihat kota ini tertata dengan rapi. 30 menit cukuplah untuk menikmati pemandangan dari atas. Hanya ada 3 lantai di tower ini, Lantai 1 tempat beli souvenir, Lantai 2 (50m) terdapat restoran yang menyajikan anime khas Oarai, dan Lantai 3 (60m) sebagai tempat menikmati pemandangan kota Oarai.

17:00 – 17:20 JST : Karena matahari cepat terbenam di musim dingin, maka jam segini sudah mulai gelap. Kami memutuskan untuk mengunjungi satu tempat terakhir yaitu OARAI ISOSAKI SHRINE. Cuaca yang tiba-tiba mendung , gelap dan disertai angin kencang cukup membuat kami hanya sekitar 15 menitan saja disini. Oarai Isosaki Shrine adalah semacam gerbang yang dibangun di pinggir laut. Kalau yang paling terkenal mungkin TORI GATE “ITSUKUSHIMA SHRINE” yang ada di Hiroshima.

17:30 JST : Pulang ke Desa Tokai tercinta. Sangat beruntung karena begitu masuk ke mobil dan baru jalan beberapa meter, hujan langsung turun dengan derasnya.

Demikianlah perjalanan singkat berwisata di kota Oarai.

Kesimpulan

  • Secara umum, saya bisa bilang kota ini layak untuk dikunjungi. Oiya, disini ada fish market juga, Naka Minato Market Fish.
  • Kalau yang suka desain tata kota dan bangunan tua, maka kota ini akan memberikan nuansa tersebut. Saya pikir, ada nuansa khas tersendiri dari kota ini.
  • Musim panas adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Oarai. Dipastikan jalanan kota ini bakalan macet karena banyak orang datang untuk berselancar di OARAI SUN BEACH.

 

Gambar yang ditampilkan disini adalah hasil pencarian dari google dikarenakan saya baru sadar bahwa tidak ada gambar yang diambil. Saya hanya mendokumentasikan dalam bentuk video……

640x640_rect_93588722
All you can eat “Salad + Puding”

caption
Oarai Seaside Station

8CB9419C-D60E-4D0F-9B2C-01318609B06E
Pemandangan dari Trattoria J-Marine Restaurant

fb
Dari Oarai bisa ke Hokkaido naik kapal.

Oarai Marine Tower
Oarai Marine Tower

“One Day Trip” Bermain Salju

Awal tahun 2020 dimulai dengan ikut berpartisipasi dalam acara “one day trip” bersama jemaat gereja GIII Oarai. Trip ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2020 dengan tujuan bermain ski di Minakami Kogen Resort 200 dan  dilanjutkan dengan melihat permainan lampu-lampu (illumination) di Asikaga Flower Park. Ini adalah perjalanan wisata awal tahun bagi saya, istri dan anak.
Tulisan ini akan merangkum bagaimana kami mempersiapkan diri untuk mengikuti “one day trip” tersebut.

H-7 

  • Koordinator sudah mengumumkan bahwa akan berangkat menggunakan ada 2 bus ukuran sedang (kapasitas 30 orang).
  • Tempat pemberangkatan dihalaman satu gedung yang biasa digunakan untuk ibadah di Oarai.
  • Jam keberangkatan: 5.00 JST

Setelah mendengar informasi tersebut, muncul pertanyaan bagi saya dan istri “BAGAIMANA CARANYA KE OARAI JAM 5 PAGI????”

“Sebagai informasi, kami berdomisili di Desa Tokai yang berjarak 30 km dari Kota Oarai.”

Tentu saja jam segitu belum ada kereta atau bus yang beroperasi. Taksi bukanlah suatu pilihan karena harganya bisa sangat mahallll.

Ditengah kegaulauan dan gundah gulana (LOL), sempat berpikir untuk membatalkannya. Akan tetapi, salah satu jemaat gereja (sebut saja namanya Regi) berbaik hati menawarkan diri untuk menjemput ke rumah kami. Hatipun senang kembali ketika mendengar tawarannya tersebut.

Belum lama berselang, istri nyeletuk, kalau dia jemput kita ke rumah artinya dia harus bangun lebih pagi dan tiba di rumah kita sekitar jam 4 biar gak terlambat. Wahhh, kasihan juga nanti Regi jadi kurang istirahatnya. Tapi Regi tetap mengatakan ‘tidak apa-apa’.

Selagi kita masih ngobrol ngalur ngidul, saya mencoba membuka aplikasi booking.com untuk mencari hotel di Oarai untuk menginap dari tanggal 1-3 Januari. Hasilnya hampir semua hotel sudah SOLD OUT.

Hari Keberangkatan

2 Januari 2020 adalah hari dimana saya bangun jam 2:30 pagi. Berikut rangkaian kegiatan kami sekeluarga di hari itu.

  • 2:30 – 4:00 JST : Anak kami Henokh masih tertidur lelap sedangkan kami harus bersiap-siap mulai dari mandi, sarapan, hingga mempersiapkan segala perlengkapan (stroller bayi, tas punggung 2 buah, air minum, dll)
  • 4:10 – 4:45 JST : Regi  datang menjemput dan berangkat menuju tempat kumpul di Oarai.
  • 4:45 – 5:20 JST : Masih menunggu peserta. YAPPZZZ, TELATTTT SODARAAAA…..
  • 5:30 JST : Bus berangkat. Rombongan terdiri dari 2 bus dan 2 mobil.
  • ….. – 08:30 JST : Perjalanan lancar tanpa ada kendala apapun.
  • 09:00 JST : Rombongan bus salah mengambil jalur sehingga harus melakukan putaran jauh. Sedangkan rombongan mobil tidak ada kendala berarti dan sudah jauh meninggalkan rombongan bis dibelakang. Tapi kami yang ada di bus menikmati salah jalan kali ini dikarenakan pemandangan diluar yang LUAAARRRR BIASAAAA INDDAAAHHH. Hujan salju ditambah pemandangan di kiri kanan banyak pohon yang tertutup salju memberi kesan tersendiri terutama bagi istri.
  • 11:00 JST : Setelah menemukan jalan yang benar, akhirnya rombongan bus bisa tiba di resort ski dengan selamat. Puji Tuhan.

“Untuk mengendarai kendaraan di jalan yang bersalju membutuhkan ban khusus serta harus memperhatikan kecepatan kendaaraan. Ada beberapa mobil yang terlihat harus menepi karena tergelincir akibat jalan yang licin.”

  • 11:00 – 12:00 JST : Karena dari awal kita sudah memutuskan untuk tidak bermain ski dan hanya mau menikmati pemandangan yang bersalju, maka kami hanya bersantai ria. Saya bertugas menggendong Henokh karena jalanan yang licin akibat salju. Istri yang baru pertama kali melihat salju yang menumpuk di jalan belum berani untuk berjalan sambil menggendong Henokh.
  • 12:15 – 13:30 JST : Tidak terasa sudah waktunya makan siang. Ada 2 atau 3 restoran di resort tersebut. Salah satu restoran menawarkan paket ALL YOU CAN EAT (TABEHODAI dalam bahasa Jepang). Harga yang ditawarkan adalah ¥1.500/orang untuk 75 menit. Cukup murah karena restoran yang lainnya menawarkan sejenis kare-karean dengan harga ¥1.000an/porsi.
  • 13:40 – 14:00 JST : Ke nursery  ganti popok Henokh.
  • 14:10 – 14: 20 JST : MAINNNNNN SALJUUUUUUUU. Cuman berada di pinggir pinggir aja karena takut kepeleset waktu gendong Henokh.
  • 14:20 – 14:50 JST : Maminya Henokh memuaskan diri memandang, memegang, dan tiduran di atas salju (karena baru pertama kali jadi agak norak lahhhh…LOL).
  • 14: 50 – 16:00 JST : MENUNGGU di dalam bus. Rencana pulang jam 3 sore apadaya banyak peserta yang masih menikmati permainanan. TELAATTTTT LAGI SODARA DARI JADWAL. *bus dikemudikan oleh orang kita jadi masih dimaklumin. Beda soal kalau pakai driver orang Jepang. LOL
  • 16:00 – 20:00 JST : Perjalanan menuju Asikagawa Flower Park.
  • 20:00 – 21:20 JST : Berusaha menikmati permainan kerlap kerlip lampu atau yang dikenal dengan istilah illumination. Tamannya cukup luas tapi waktu 1 jam tidaklah cukup untuk menikmati keindahan taman tersebut. Bahkan untuk sekedar berfoto selfie aja tidak cukup karena banyaknya spot  yang menarik. Plus 30 menit pertama dihabiskan untuk memberi makan malam Henokh.
  • 21:30 – 23:20 JST : Perjalanan pulang menuju Oarai.
  • 23:20 JST : Karena tiba di Oarai sudah pukul 23:40 maka kereta pun sudah tidak beroperasi lagi. Keberangkatan terakhir kereta dari Oarai menuju Tokai adalah jam 22:48 JST.
  • 23: 30 – 00:01 JST : Regi dan istrinya  berbaik hati mengantarkan kami ke rumah.
  • 00:05 – 01: 30 JST : Setibanya di rumah, Henokh  yang sudah puas tidur sepanjang jalan akhirnya punya tenaga yang berlebih dan mengajak bermain papi maminya.
  • 01:30 JST : Akhirnya selesai juga one day trip di awal tahun. Puji Tuhan semuanya bisa berjalan lancar dan semua peserta bisa kembali dengan selamat sampai di rumah masing-masing.

Demikianlah rangkuman perjalanan wisata bermain salju versi kami.

Kesimpulan

  • One day trip bukanlah hal yang ideal bagi keluarga yang mau menikmati bermain salju, ski, dll apabila masih mempunyai anak bayi usia dibawah 1 tahun. Usia Henokh saat itu adalah 10 bulan.
  • Persiapan yang dilakukan dari hari sebelumnya sampai tanya sana sini karena takut anak bayi kedinginan ternyata dalam prakteknya kami lebih banyak menghabiskan waktu di dalam resort yang hangat. LOL
  • Dari awal saya sudah mempersiapkan diri bahwa ini adalah hanya sekedar have fun saja sehingga tidak ada sedikitpun ambisi untuk harus bermain ski atau sejenisnya. Hanya untuk menyenangkan istri yang mau melihat tumpukan salju.
  • Kalau ada kesempatan, kami akan kembali lagi bermain dan minimal menghabiskan waktu 2 hari agar lebih santai dan lebih bisa menikmati. Tentunya setelah Henokh sudah bisa jalan.