Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi syarat mutlak untuk dapat mencukupi biaya hidup setiap bulannya. Berdasarkan pengalaman penulis, sekitar 95% dari uang beasiswa dipakai untuk memenuhi kebutuhan rutin. Pemasukan tambahan menjadi pilihan alternatif yang baik untuk lebih leluasa mengatur kondisi keuangan dalam rangka memperoleh dana darurat.

Kata kunci: beasiswa MEXT, keluarga, biaya hidup, mahasiswa doktoral.


Latar belakang

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan impian banyak orang tanpa mengenal batasan usia. Tidak hanya di dalam negeri saja tetapi melanjutkan sekolah hingga keluar negeri merupakan impian banyak orang dengan berbagai macam alasan dan motivasi. Jepang adalah salah satu negara tujuan para mahasiswa untuk melanjutkan sekolah hingga jenjang doktoral (S3). Banyaknya universitas untuk program beasiswa dan statusnya sebagai salah satu negara maju di dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mau melanjutkan pendidikannya.

Tokyo Institute of Technology atau yang lebih dikenal dengan Tokyo Tech (dalam bahasa Jepang Tokodai) merupakan salah satu universitas yang paling diincar oleh mahasiswa dari Indonesia. Hingga tahun 2017 kurang lebih tercatat sekitar 180 mahasiswa Indonesia aktif dari jenjang sarjana (S1), master (S2) hingga S3. Beasiswa MEXT menjadi salah satu beasiswa yang paling banyak diterima oleh mahasiswa Indonesia. Jumlah mahasiswa Indonesia di Tokyo Tech bisa dibilang meningkat cukup signifikan semenjak tahun 2014 disebabkan karena masuknya mahasiswa melalui beasiswa LPDP.

Penulis sendiri merupakan penerima beasiswa MEXT untuk program S2 dan S3 dari tahun 2012 – 2017. Pada tulisan sebelumnya1, penulis sudah menceritakan bagaimana mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk program S2. Jumlah beasiswa S3 yang diterima setiap bulannya adalah 148.000 yen atau lebih besar 1.000 yen dari beasiswa S2. Ditulisan sebelumnya, sudah disebutkan bahwa sekitar 70% dari uang beasiswa akan dipakai untuk kebutuhan rutin setiap bulannya. Dengan kondisi yang seperti ini ditambah dengan cukup banyaknya mahasiswa S3 yang sudah berkeluarga akan menjadi tantangan dalam mengelola keuangan.

Tujuan dari tulisan ini adalah membagikan pengalaman penulis dalam mengoptimalkan uang beasiswa pada saat sudah menikah dan membawa istri ke Jepang dalam memenuhi kebutuhan harian dan lainnya.

Methodologi

Setiap manusia mempunyai standar yang berbeda beda dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, tulisan ini didasari oleh pengalaman penulis dan istri yang hidup dari uang beasiswa selama di Jepang. Batasan yang dipakai pada tulisan ini bahwa semua biaya hidup harus menggunakan uang beasiswa tanpa mengambil uang tabungan yang ada di Indonesia. Lebih lanjut dibatasi oleh kondisi pada saat itu penulis dan istri belum mempunyai anak. Tentunya kondisi lajang, menikah (belum ada anak), dan menikah (sudah punya anak) akan sangat mempengaruhi tata kelola keuangan. Sebagai tambahan, selama istri di Jepang, penulis mempunyai pemasukan tambahan diluar beasiswa akan tetapi komponen itu tidak akan digunakan dalam pemenuhan kebutuhan pokok.

Analisa biaya hidup

  • Jadwal pemberian beasiswa MEXT 

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang rutin melakukan pengiriman uang ke rekening para mahasiswa setiap bulan. Pada umumnya uang beasiswa diberikan di minggu terakhir setiap bulannya (sekitar tanggal 23-26). Oleh karena itu, mahasiswa baru wajib membawa bekal uang pegangan selama satu bulan pertama sebelum beasiswa diterima.

Khususnya untuk mahasiswa Tokyo Tech, setiap penerima wajib mendatangi bagian International Student Support setiap bulan untuk menandatangi form beasiswa. Apabila mahasiswa tidak/lupa menandatangi beasiswa pada bulan itu maka beasiwa pada bulan itu akan hangus. Ada dua kali periode tanda tangan beasiswa. Sebagai contoh, untuk memperoleh beasiswa di bulan November (beasiswa diberikan tanggal 23 Nov), maka mahasiswa wajib tanda tangan dari tanggal 1-7 Nov. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada periode tersebut, maka mahasiswa masih diberikan kesempatan tanda tangan dari tgl 8-30 Nov dengan konsekuensi beasiswa bulan Nov akan diterima pada pertengahan bulan Desember. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada bulan itu, maka dipastikan mahasiswa tersebut tidak akan mendapat beasiswa di bulan itu. Hal ini merupakan kontrol dari pemberi beasiswa kepada para penerima beasiswa.

  • Kampus Tokyo Institute of Techology

Tokyo Tech mempunyai tiga lokasi kampus yang berbeda yaitu di Tokyo (Kampus Ookayama dan Tamachi) dan di Yokohama (Kampus Suzukakedai). Ookayama dan Suzukakedai adalah dua kampus utama Tokyo Tech. Lokasi kampus yang berada di dua wilayah yang berbeda ini memberikan pengaruh terhadap komponen biaya hidup terutama biaya sewa rumah.

Tokyo Tech tidak mempunyai asrama khusus untuk keluarga, akan tetapi terdapat asrama TIEC (Tokyo International Exchange Center) yang dikelola oleh JASSO (Japan Student Services Organization) yang berada di Odaiba. Yang mana asrama TIEC dihuni oleh mahasiswa Jepang dan Internasional dari berbagai universitas terutama yang ada di Tokyo. Harga sewa, akses dan biaya hidup di sekitar lokasi yang relatif mahal menjadikan TIEC tidak masuk dalam pilihan penulis. Berdasarkan hitungan penulis, sekitar 70% dari beasiswa habis terpakai untuk sewa rumah, listrik, gas, dan transportasi.

  • Pengeluaran rutin

Di tulisan sebelumnya sudah dijelaskan mengenai biaya hidup mahasiswa lajang yang sedang melanjutkan sekolah di Tokyo, khususnya Tokyo Tech. Pada tulisan ini, akan dijelaskan beberapa perbedaan kondisi yang dihadapi penulis pada saat tinggal sendiri dengan pada saat membawa istri. Beberapa pengeluaran rutin akan dijabarkan pada poin-poin berikut:

  • Lokasi dan harga sewa rumah (apato)

Berbeda dengan kondisi penulis yang sebelumnya dapat tinggal dekat kampus (area Tokyo), hal ini relatif sulit karena harga sewa apato yang relatif mahal. Oleh karena itu, penulis mencari rumah di daerah Kawasaki (wilayah Miyamae-ku dengan stasiun kereta terdekat adalah Saginuma Station).

Beberapa keuntungan tinggal di wilayah Miyamae-ku:

  • Harga sewa apato terjangkau dengan ukuran yang relatif luas.
  • Salah satu wilayah dengan jumlah penduduk Indonesia yang lumayan banyak (sekitar 70 keluarga yang didominasi oleh mahasiswa).
  • Jarak tempuh ke kedua kampus Tokyo Tech sekitar 30-40 menit karena lokasinya yang berada di antara Kampus Ookayama dan Kampus Suzukakedai.
  • Terdapat banyak supermarket murah yang menjadi idaman para istri.

Kekurangan tinggal didaerah Miyamae-ku:

  • Bentuk geografis Miyamae-ku yang berbukit bukit menjadi kendala untuk berjalan kaki.

Pada saat itu, penulis mendapat tawaran apato dari seorang teman Malaysia yang kebetulan akan pulang kenegaranya karena sudah selesai masa studinya. Keuntungan tambahan bagi penulis karena mendapatkan semua barang hibah (kulkas, meja makan, mesin cuci, TV, AC, dll) dari dia sehingga dapat menghilangkan biaya pembelian untuk barang-barang tersebut. Biaya sewa apato yang dikeluarkan penulis setiap bulannya adalah 55.000 yen dengan ukuran sekitar 39 m2. Sedangkan untuk biaya awal masuk apato sekitar 194.400 yen yang terdiri dari: uang deposit sebesar 55.000; uang sewa bulan pertama: 55.000 yen; uang agen: 55.000 dan uang asuransi kebakaran 15.000 yen dan pajak sebesar 8% dari total biaya. Harga ini relatif sangat murah apalagi uang deposit akan dikembalikan apabila kita pindah dari apato. Dengan demikian, sekitar 37% dari uang beasiswa digunakan untuk sewa apato.

“Pada umumnya rumah sewa hanya berisi AC dan lampu,” –Pengalaman Penulis-

  • Biaya listrik, air dan gas

Setelah dapat apato, maka kewajiban penghuni adalah membayar listrik, air, dan gas. Listrik dan gas rutin dibayar setiap bulannya sedangkan air dibayar per dua bulan. Biaya pembayaran air sudah termasuk dengan biaya pengelolaan air limbah. Rata-rata biaya air setiap dua bulan sekitar 5.000 – 6.000 yen atau sekitar 3.000 yen per bulannya. Demikian juga dengan biaya gas yang relatif stabil sepanjang tahun sekitar 3.000 – 4.000 setiap bulannya.

Sedangkan biaya listrik akan sangat bervariasi tergantung musim. Penyumbang terbesar dari biaya listrik adalah pemakaian AC (di Jepang AC bisa berfungsi sebagai pendingin di musim panas dan sebagai pemanas di musim dingin). Berdasarkan pengalaman penulis, April – Juni dan September – Oktober adalah kondisi dimana suhu udara sangat bersahabat sehingga tidak memerlukan pemakaian AC. Pada kondisi ini, biaya listrik sekitar 5.000 yen. Sedangkan pada musim gugur hingga musim dingin (November – Maret) pemakaian AC akan sangat naik secara signifikan dengan biaya listrik sekitar 15.000 yen per bulannya. Di musim panas sendiri (Juli – Agustus) akan terjadi kenaikan tetapi tidak signifikan karena pemakaian AC dapat diganti dengan kipas dan membuka jendela (kondisi udara Jepang yang relatif baik memungkinkan untuk menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari). Pada kondisi ini, biaya listrik sekitar 8.000 yen. Dengan mengetahui beberapa hal tersebut, maka rata-rata biaya listrik setiap bulannya sekitar 10.000 yen.

Dengan demikian, total biaya pengeluaran listrik, air dan gas setiap bulannya sekitar 20.000 yen atau 13,5% dari uang beasiswa.

Tips penghematan

  1. Penggunaan AC sebagai heater pada musim dingin lebih hemat dibandingkan dengan pemanas listrik karena jangkauan pemanas listrik tidak terlalu luas.
  2. Penggunaan heater gas sangat efektif karena sangat cepat menaikkan suhu ruangan akan tetapi tidak semua apato mempunyai saluran gas untuk pemasangan heater gas. Ini dapat menghemat karena durasi pemakaian yang relatif singkat tetapi dapat memberikan kehangatan yang maksimal.
  3. Penggunaan heater ‘kerosin’, paling hemat karena bahan bakunya yang berupa ‘kerosin’ dapat dibeli di SPBU dengan harga sekitar 140 yen/liter. Tetapi ada beberapa kekurangannya seperti: banyak apato yang tidak mengijinkan penggunaan heater kerosin dan mengeluarkan aroma yang sangat kuat didalam ruangan.
  • Biaya asuransi dan internet

Setiap orang yang tinggal di Jepang secara resmi akan mendapatkan residence card (KTP) dan asuransi kesehatan. Ada kewajiban untuk membayar biaya asuransi kesehatan nasional setiap bulannya yang mana besarnya disesuaikan dengan jumlah pendapatan. Pada dasarnya beasiswa tidak tergolong kedalam pendapatan, sehingga biaya asuransinya akan diikutkan kedalam katagori tidak berpendapatan. Hal ini menyebabkan biaya asuransi untuk penulis dan istri hanya sekitar 1.500 yen.

Selama penulis dan istrinya tinggal di Jepang, pocket wifi menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan internet. Biaya yang dikeluarkan sebesar 4.500 yen untuk pocket wifi ditambah dengan paket internet di handphone  sebesar 2.300 yen.  Dengan demikian sekitar 8.500 yen atau 5,7% dari uang beasiswa.

Catatan Penting:

Hal wajib yang harus dilakukan pertama kali ketika membawa keluarga tinggal di Jepang adalah MENGURUS Residence Card & ASURANSI KESEHATANPengurusan KTP dan Asuransi kesehatan akan berlangsung cepat dan biasanya langsung jadi dan langsung bisa dipakai. Asuransi kesehatan ini membantu proses pembayaran apabila sakit dan pergi berobat ke RS atau klinik karena hanya membayar 30% dari total biaya.

  •  Biaya makan dan kebutuhan harian

Salah satu kebutuhan utama lainnya adalah kebutuhan akan makanan dan minuman. Layaknya keluarga normal pada umumnya, masak di rumah akan menghemat biaya pengeluaran. Keuntungan utama dari memasak adalah meningkat secara signifikannya kemampuan istri dalam mengolah berbagai jenis masakan dan mempertajam naluri belanja seorang istri dalam mencari dan membandingkan harga bahan makanan yang murah.

Seperti yang disebutkan diatas bahwa lokasi apato bisa berpengaruh terhadap tempat belanja sehari hari. Di sekitar lokasi tinggal penulis, lumayan banyak supermarket murah dan terkadang memberikan harga spesial pada hari Minggu. Belanja kebutuhan sehari hari secara online lewat Amazon akan sangat membantu dalam mengurangi biaya transportasi karena untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya biasanya bebas ongkos kirim.

Selama tinggal dengan istri di Jepang, hampir setiap hari penulis membawa bekal makan siang (dalam Bahasa Jepang dikenal dengan istilah bento) ke kampus. Hal yang sangat wajar dilakukan di Jepang mulai dari SD sampai dengan bekerja di perusahaan masih banyak yang membawa bento. Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan untuk bagian  ini sekitar 40.000 yen atau sekitar 27% dari dana beasiswa.

Informasi:

  1. Harga ikan, daging ayam dan babi jauh lebih murah dibandingkan sapi.
  2. Harga sayur hijau lumayan mahal terutama pada musim dingin.
  3. Buah pisang adalah buah yang paling murah diantara semua buah meskipun hampir semua pisang tersebut impor dari negara lain.
  4. Harga beras ukuran 5kg mulai dari 1.600 yen.
  5. Pada umumnya harga yang tertera di label belum termasuk pajak sebesar 8%.
  6. Harga ikan akan di diskon hingga lebih dari 50% pada jam-jam tertentu (biasanya diatas jam 9 malam)
  7. Harga daging akan di diskon juga apabila mendekati tanggal kadaluarsa.
  8. Daging ayam dan sapi halal jauh lebih murah, mungkin karena kondisinya berupa daging beku.
  • Biaya transportasi

Biaya trasnportasi merupakan salah satu komponen rutin lainnya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Biaya commuter yang dikeluarkan penulis untuk pergi sehari-hari ke kampus sekitar 3.500 yen per bulan. Mengenai detail harga tiket commuter sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya1. Sedangkan biaya commuter istri untuk mengikuti berbagai kegiatan seperti belajar Bahasa Jepang dan Bible study sekitar 6.000 yen setiap bulannya. Diluar itu, biaya transportasi rutin lainnya adalah untuk pergi ke gereja setiap minggu sekitar 4.000 yen setiap bulannya. Total biaya yang dibutuhkan untuk transportasi sekitar 13.500 yen atau 9% dari uang beasiswa.

Informasi:

  1. Apabila penulis dan istri pergi ke suatu tempat yang berjarak hanya 1 stasiun kereta dari rumah, biasanya dilakukan dengan jalan kaki.
  2. Apabila sedang berpergian dan mau menuju ke tempat lain yang berjarak kurang dari 2 km biasanya dilakukan dengan jalan kaki.
  3. Kedua hal diatas berlaku disemua musim kecuali musim panas.
  • Pengeluaran lainnya

Berdasarkan informasi yang telah diuraikan mengenai pengeluaran rutin, maka sisa dari uang beasiswa tersebut akan digunakan untuk pengeluaran tidak rutin. Dapat dilihat bahwa total pengeluaran rutin sekitar 140.000 – 145.000 yen atau lebih dari 95% lebih dari dana beasiswa. Dengan kondisi ini, maka sisa uang tersebut digunakan untuk berberapa hal yang bersifat menghibur seperti jalan-jalan di Tokyo, Yokohama dan sekitarnya, dll.

Diskusi

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis sendiri dan tentunya setiap orang punya kondisi yang berbeda beda. Dari kondisi yang dijabarkan diatas, dapat digambarkan kalau beasiswa MEXT untuk mahasiswa S3 yang membawa keluarga bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari akan tetapi sangat sulit untuk menabung. Akan tetapi harus diketahui bahwa pengeluaran setiap bulannya sangat tergantung pada musim sehingga menabung pada musim yang pengeluaran rutin sedikit akan membantu nantinya pada musim yang membutuhkan biaya pengeluaran yang besar.

Berdasarkan pada situasi ini, penghasilan tambahan melalui kerja sambilan akan sangat membantu untuk menambah pemasukan terutama untuk menabung dan mempersiapkan dana darurat. Tentunya situasi ini sangat tergantung kepada kondisi masing-masing mahasiswa dalam mengatur waktu untuk penelitian, keluarga, dan kerja sambilan.

Kerja sambilan (part time)

Pada umumnya setiap mahasiswa dapat melakukan part time selama 28 jam per minggu berdasarkan aturan yang berlaku. Akan tetapi ada beberapa jenis beasiswa yang mensyaratkan setiap penerima beasiswa tidak boleh melakukan part time. Selain itu, ditulisan sebelumnya1 sudah disebutkan kalau ada beberapa pembimbing yang mempunyai projek penelitian dan terkadang mahasiswanya diikutsertakan dalam bagian itu dan mendapat bayaran atas partisipasi.

Penulis sendiri melakukan part time sebagai salah satu pengajar di lembaga bahasa. Biasanya jadwalnya dilakukan di malam hari (18.00 – 21.00) dan di akhir pekan kecuali hari Minggu sehingga tidak mengganggu jadwal penelitian. Pemasukan tambahan inilah yang sangat membantu untuk dapat memenuhi kebutuhan tidak rutin.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hampir 95% dari beasiswa MEXT akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari mahasiswa yang membawa istri ke Tokyo.

Informasi tambahan

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk membawa serta istri/keluarga:

  • Rencana keuangan yang matang (pemasukaan vs pengeluaran) berdasarkan standar hidup masing-masing.
  • Mencari informasi dari teman yang sedang mengambil kuliah di kota yang sama terutama.
  • Posisikan diri pada kondisi dimana pemasukan hanya berasal dari beasiswa.
  • Ceritakan gambaran kehidupan mulai dari pengeluaran rutin dll berdasarkan informasi yang diterima kepada keluarga, khususnya istri/suami.
  • Tenangkan pikiran dan berdoa kepada Tuhan.

Ceritakan setiap rencana dan kekhawatiran atas apa yang direncanakan kepada Tuhan. Langkah-langkah ini adalah berdasarkan pengalaman penulis dimana pada saat hendak membawa istri ke Jepang, penulis dalam kondisi tidak sedang mempunyai penghasilan tambahan hingga H-30 hari istri datang ke Jepang. Akan tetapi, sekitar H-14 hari ada informasi lowongan part time yang mana informasi itu diperoleh dari teman penulis. Dan setelah mengikuti rangkaian tes dan wawancara, akhirnya penulis diterima bekerja part time di tempat tersebut dan itu dimulai H+4 setelah istri tiba di Jepang.

Seperti pada tulisan sebelumnya2, manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri maka penulis juga menceritakan rencana dan situasi penulis ke teman penulis. Penulis selalu percaya bahwa Tuhan selalu bekerja dan bisa memakai siapa saja untuk menjawab doa setiap manusia. Dan untuk bagian ini, penulis percaya bahwa Tuhan menjawab doa penulis melalui teman penulis.

Inilah yang sering kita sebut dalam bahasa sehari hari dengan “rezekinya istri”.

Referensi

[1] Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa baru di Tokyo, LIAPTO BLOG – Berbagi Cerita Volume 1 (2018) 001-007.

[2] Peran aktif teman penulis dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech, LIAPTO BLOG – Berbagi Cerita Volume 1 (2018) 008-013.

Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri. Setiap manusia pasti punya teman, tidak peduli banyak atau sedikit jumlah. Tulisan ini adalah tentang mereka, para teman yang berperan aktif dalam membantu penulis dalam poses pendaftaran beasiswa program IGP-A di Tokyo Tech tahun 2011. Kondisi penulis yang pada saat itu bekerja di salah satu perusahaan batubara di pedalaman Kalimantan Timur membuat peran mereka  sangat signifikan dalam kelancaran proses pendaftaran. Tulisan ini didedikasikan sebagai ucapan terimakasih penulis kepada mereka yang telah membantu melancarkan penulis mewujudkan mimpi.

Kata kunci: manusia, teman, bantuan, pendaftaran, Tokyo Tech.


Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri. Pertemanan adalah salah satu ciri dari sifat sosial manusia. Demikian juga halnya dengan penulis, meskipun tidak banyak, tapi penulis juga manusia biasa yang mempunyai teman sejak kecil hingga saat ini. Sebagaimana layaknya pertemanan, maka tidak dipungkiri terkadang kita menceritakan impian, permasalahan, bahkan hal-hal gak penting lainnya kepada teman kita. Salah satu hal yang penulis bagikan kepada mereka adalah keinginan penulis untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana ke luar negeri. Tujuan dari tulisan ini adalah memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Begitu juga penulis yang membuktikan hal itu melalui peran dan bantuan para teman penulis dalam menggapai impian. Selain itu, tulisan ini juga untuk bentuk terimakasih penulis kepada mereka.

Batasan masalah

Tema dalam suatu tulisan adalah hal yang wajib  diberikan untuk menggambarkan isi dari tulisan tersebut. Selain itu perlu diberikan batasan permasalahan akan tetap fokus didalam tema dengan batasan-batasan yang diberikan. Begitu juga pada tulisan ini, penulis memberikan batasan mengenai peran aktif para teman mulai dari awal hingga akhir proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech. Oleh karena itu, peran aktif para teman penulis untuk topik yang tidak berkaitan dengan proses pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech tidak akan dibicarakan disini. Untuk peran keluarga dan kekasih penulis akan dituangkan pada tulisan yang lainnya sehingga tidak akan disinggung disini.

Proses pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech

Setelah menyelesaikan program sarjana (S1) di Teknik Nuklir UGM (Universitas Gadjah Mada) pada tahun 2010, penulis berkeinginan untuk melanjutkan studi program pasca sarjana (S2) di luar negeri dibandingkan untuk memulai karir di dunia kerja. Akan tetapi, beberapa kegagalan menghampiri penulis di beberapa kesempatan hingga akhir 2010. Di awal 2011, penulis memutuskan untuk mulai mencari kerja sambil terus memantau jadwal pendaftaran beasiswa ke luar negeri. Maret 2011, penulis memperoleh kesempatan bekerja di perusahaan batubara sebagai Logistics Supervisor dan ditempatkan di desa Muara Tae, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Meskipun berada di tengah hutan dengan segala keterbatasan tetapi tidak menghalangi semangat penulis untuk mncari cara menemukan semua informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan studi.

Peluang emas ketika bekerja di ‘emas hitam’

Mengoptimalkan peluang disetiap kesempatan yang ada merupakan salah satu cara menuju impian. Pada awal bulan Agustus 2011, penulis menemukan informasi di halaman Facebooknya tentang pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech dari beberapa teman Facebook. Mengetahui hal itu, maka penulis menghubungi pembimbing skripsinya dan sekaligus menanyakan apakah ada alumni yang sedang melanjutkan sekolah disana. Dari informasi itu, maka penulis memperoleh kontak alumni yang sedang berkuliah disana, Muhammad Kunta atau yang lebih akrab disapa dengan Pakde Kunta.

Pakde Kunta adalah alumni Teknik Nuklir UGM yang membantu penulis bagaimana cara dan strategi mendaftar dan berkomunikasi dengan calon pembimbing serta membantu memberikan masukan mengenai profesor yang akan menjadi calon pembimbing yang sesuai dengan tema riset yang penulis ajukan”

Dari informasi tersebut ada beberapa hal yang perlu diketahui bagi para calon mahasiswa yang mau melanjutkan studi di Jepang khususnya Tokyo Tech:

  1. Calon mahasiswa wajib mencari profesor yang mau membimbing anda nantinya.
  2. Setelah mendapatkan profesor pembimbing, selanjutnya adalah melakukan pendaftaran ke Tokyo Tech.
  3. Setelah dinyatakan di terima di Tokyo Tech, tahap terakhir adalah proses pendaftaran beasiswa MEXT.
  4. Setelah dinyatakan berhak menerima beasiswa MEXT, maka tinggal menunggu berkas dari Tokyo Tech untuk melengkapi proses pembuatan VISA untuk berangkat ke Jepang sebagai mahasiswa Tokyo Tech.

Dengan kondisi sebagai karyawan baru yang masih dalam masa training, hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk penulis. Menjadi pertanyaan pada saat itu bagaimana tetap bisa optimal di pekerjaan dan memanfaatkan waktu yang ada untuk menyelesaikan proses pendaftaran.

Tahap pertama – Mencari Profesor Pembimbing

Seperti yang disebutkan diatas bahwa langkah awal adalah mencari profesor yang mau menjadi pembimbing. Hal sederhana yang penulis lakukan adalah masuk ke website Tokyo Tech untuk mencari profesor di Nuclear Engineering Department1. Dari sini, dapat dilihat profil singkat dan email masing-masing profesor. Pada akhirnya penulis memutuskan untuk mencoba mendaftarkan ke Obara Laboratory di bawah bimbingan Prof. Toru Obara. Setiap profesor mempunyai cara tersendiri dalam menyeleksi calon mahasiswanya. Oleh karena itu tulisan ini berdasarkan pengalaman yang dialami langsung oleh penulis.

Berikut beberapa tahapan yang dilalui penulis untuk memperoleh profesor pembimbing:

  1. Perkenalan melalui email

Disini penulis memperkenalkan diri kepada calon profesor pembimbing secara singkat mengenai identitas diri, latar belakang pendidikan, dan alasan kenapa mau bergabung di bawah bimbingan beliau.

  1. Diskusi awal melalui email

Setelah beliau membaca latar belakang pendidikan, motivasi dan proposal penelitian penulis, maka beliau meminta untuk melampirkan rangkuman skripsi penulis. Diskusi mengenai skripsi dan beberapa hal mengenai bidang kenukliran khususnya tentang nuclear reactor physics berlangsung melalui email. Setelah berlangsung diskusi selama beberapa kali (kira-kira 2 bulan melalui email) maka beliau memutuskan untuk melalukan ujian dan wawancara langsung kepada penulis.

  1. Tes tulis dan wawancara di Bali

Jenis tes tulis dan wawancara ini sangat bergantung dengan masing-masing pembimbing. Karena pada saat itu akan diadakan International Conference, ICANSE 2011, di Bali dimana profesor yang mau membimbing penulis akan menghadiri acara tersebut, maka beliau memberitahu wawancara dan ujian tulis dari beliau akan diadakan di bulan November di Bali.

Nb: Ujian tulis yang dilaksanakan benar-benar mengenai bidang kenukliran dengan menggunakan contoh kasus dan memerlukan kalkulator untuk menyelesaikan perhitungan. Jangan berpikiran ujian tulis hanya sekedar menulis motivasi dsb.

Peluang emas dan Tantangan menuju Bali

Pada saat itu, penulis berkeyakinan bahwa ini adalah peluang emas untuk melanjutkan studi. Akan tetapi, kondisi penulis yang sedang bekerja dalam masa training menjadi tantangan tersendiri untuk memperoleh ijin cuti.

‘Bekerja di perusahaan tambang mempunyai sistem kerja yang unik. Pada saat itu sebagai karyawan dengan masa training maka mendapatkan sistem kerja 90 hari kerja dan 16 hari cuti’

Faktor X atau sering disebut keberuntungan sering sekali menjadi salah satu faktor yang tidak bisa diduga datangnya. Faktor ini jugalah yang menghampiri penulis pada saat itu. Berikut ini beberapa rekan kerja yang membantu penulis memperoleh ijin untuk wawancara di Bali:

  1. Dwi Adi P., supervisor logistics yang pada saat itu sedang menjadi Pjs Section Head dikarenakan Section Head sedang cuti. Dari awal bertemu di kantor, kita sudah sering bercerita tentang banyak hal tidak hanya tentang pekerjaan. Saya juga bercerita tentang keinginan untuk lanjut sekolah dan beliau memberikan tanggapan positif. Oleh karena itu, ketika kesempatan itu datang, penulis langsung berterus terang mau mengambil cuti untuk wawancara S2 di Bali.
  2. Juliana Pasaribu, supervisor human resource dept. Ibu ini adalah salah satu karyawan yang bekerja mengontrol cuti dan hal-hal admintrasi kepegawaian di lokasi site. Beliau inilah yang membantu mengurus surat cuti penulis. Pada awalnya beliau mempunyai kecurigaan terhadap penulis untuk pindah ke perusahaan sebelah karena pada masa itu lagi terjadi ‘transfer’ besar-besaran ke perusahaan tambang yang baru. Tetapi setelah memastikan beliau dengan menunjukkan email diskusi dengan calon profesor pembimbing, maka beliau yakin kalau penulis mau melanjutkan sekolah. Beliau ini adalah tipikal orang yang tidak menghalangi seseorang yang ingin melanjutkan pendidikan. (Beliau ini pada akhirnya keluar dari perusahaan untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi dosen di salah satu universitas).

Bantuan dari mereka inilah yang memudahkan penulis untuk mendapatkan ijin cuti dengan baik tanpa harus berbohong dalam menuliskan alasan cuti.

Tantangan lainnya adalah mencari penginapan dan memaksimalkan waktu selama di Bali. Berikut ini adalah teman-teman yang membantu selama proses menuju dan selama di Bali:

  1. Rio Octovinary P, merupakan teman seangkatan penulis dan juga saudara kelompok tumbuh bersama (KTB) di persekutuan mahasiswa kristiani teknik UGM (PMKT). Dia adalah salah satu yang penulis hubungi untuk memberitahukan bahwa penulis akan pergi wawancara ke Bali. Dari dialah penulis mendapatkan info mengenai kakak angkatan yang sedang bekerja di Bali. Sehingga setidaknya bisa membantu penulis selama di Bali.
  2. Elywn, abang ini adalah salah satu kakak kelas di Fakultas Teknik UGM. Penulis sama sekali belum kenal dengan abang ini. Rio lah yang memberitahukan informasi mengenai abang ini. Setelah berkomunikasi dengan abang ini, penulis ditawarin untuk tinggal di rumahnya selama di Bali.
  3. Anggi dan Regina, mereka adalah teman sekantor bang Elywn. Penulis sama sekali belum kenal dengan Anggi sedangkan Regina adalah teman sekelas penulis di SMA. H-1 sebelum keberangkatan ke Bali, bang Elywn memberitahukan bahwa dia ada dinas ke luar kota sehingga tidak bisa menemani selama di Bali tetapi dia menitipkan kunci rumah dan kendaraan ke Anggi sehingga penulis tetap bisa tinggal di rumah bang Elywn. Pada hari H keberangkatan, penulis meng-update status di Facebook mengenai rencana ke Bali dan kebetulan di ­comment oleh Regina. Singkat cerita, akhirnya penulis akhirnya mempunyai teman yang membantu penulis selama di Bali terutama mencari lokasi wawancara.
  4. Rani, kakak kelas penulis di Fakultas Teknik UGM. Informasi tentang Kak Rani yang sedang bekerja di Bali pada saat itu juga diketahui penulis dari Rio. Ditengah kesibukanya kerja, Kak Rani masih sempat memberikan waktu untuk menemani bercengkrama, bergereja, dan menunjukkan tempat oleh-oleh serta memberikan dukungan doa ke penulis supaya bisa melewati wawancara dengan lancar.

Bantuan dan dukungan mereka inilah yang memperlancar semua proses selama di Bali. Terkadang bantuan sekecil apapun yang kita berikan bisa menjadi sangat berarti untuk orang lain. Waktu yang mereka berikan untuk sekedar bercengkrama ditengah aktifitas dan kesibukan mereka sangat membantu penulis untuk melepas sejenak ketegangan memikirkan wawancara yang akan dihadapi.

Tahap kedua – Pengiriman Dokumen Pendaftaran

Sekitar seminggu setelah proses wawancara di Bali, penulis memperoleh email bahwa Prof. Toru Obara bersedia menjadi pembimbing penulis. Tahap selanjutnya adalah melengkapi berkas dan mengirimkannya ke Tokyo Tech melalui mail bukan email. Berdasarkan diskusi dengan pembimbing, berkas pendaftaran ke kampus dan beasiswa dikirim sekaligus supaya lebih efisien. Profesor yang membimbing penulis sangat membantu pengecekan kelengkapan dokumen. Dilain sisi, penulis punya waktu kurang dari sebulan untuk mengirimkan semua kelengkapan berkas yang dibutuhkan.

 Hambatan dan bantuan dalam proses pengiriman dokumen

Bagi mereka yang sedang tinggal di kota besar maka jangka waktu sebulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengumpulkan berkas dan mengirimkannya melalui jasa pengiriman seperti kantor pos, TIKI, JNE, dll. Tetapi bagi penulis, waktu sebulan adalah waktu yang singkat karena keterbatasan akses dan sedang berada di lokasi pertambangan.

Berikut bantuan para teman penulis dalam proses pengiriman dokumen:

  1. Andi Sumbayak, teman persekutuan di kampus yang hampir selalu membantu penulis selama tinggal di Jogja bahkan hingga saat ini. Proses legalisir transkrip dan ijazah dalam Bahasa Inggris yang harus dilakukan di kampus adalah bantuan yang diberikannya karena kesulitan penulis untuk melakukannya sendiri.
  2. Sandro Hutasoit, teman satu jurusan penulis dan juga teman nongkrong di Jogja selama kuliah yang membantu penulis untuk mengambil surat rekomendasi dari dosen pembimbing penulis.
  3. Ratna Wulandari, teman bimbingan bahasa Inggris di Jogja. Pada saat itu, dia sedang bekerja di salah satu bank swasta dan ditempatkan di Balikpapan. Karena kesulitan untuk mengirimkan berkas dari Jogja ke tempat penulis bekerja maka alamat kantor Ratna yang akhirnya digunakan penulis untuk menampung berkas yang dari Jogja (legalisir transkrip, ijasah, dan surat rekomendasi).

‘Di pertambangan tidak mengenal libur akhir pekan tetapi 14 hari kerja dan 1 hari libur. Sehingga semasa 90 hari kerja di site, penulis memperoleh jatah libur kira-kira 6 kali’

Dengan kondisi ini, penulis berusaha menyesuaikan jadwal pengiriman dokumen dari Jogja sehingga bisa sampai di Balikpapan sebelum hari libur penulis. Dengan demikian penulis punya waktu yang cukup untuk datang ke Balikpapan kemudian mengirim dokumen dan kembali ke lokasi pekerjaan. Sebagai informasi, jarak tempuh dari site Muara Tae ke Balikpapan sekitar 8 jam untuk sekali perjalanan. Pengiriman dokumen berjalan dengan lancar berkat bantuan dari teman penulis. Sekali lagi, sekecil apapun bantuan itu sangatlah berguna bagi mereka yang membutuhkannya.

Tahap ketiga – Pengumuman

Setelah melalui proses yang begitu panjang, akhirnya kabar baik itu muncul juga. Dimana di awal Februari 2012 penulis diterima sebagai mahasiswa di Tokyo Tech untuk program IGP A (International Graduate Program A)2. Kemudian di bulan Juni 2012 penulis memperoleh informasi bahwa penulis berhasil menerima beasiswa MEXT untuk melanjutkan sekolah di Tokyo Tech untuk program IGP A. Dengan demikian penulis akan memulai sebagai mahasiswa di Tokyo Tech pada tahun ajaran Oktober 2012.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang sangat bergantung dengan sesamanya dalam berbagai hal. Disini penulis menunjukkan bahwa penulis juga sangat terbantu dalam proses pendaftaran program IGP-A di Tokyo Tech melalui peran aktif para teman-teman penulis. Tanpa bantuan mereka, akan terasa sulit jalan yang harus dilalui untuk menyelesaikan semua proses pendaftaran tersebut. Dapat dilihat bahwa sekecil apapun bantuan dan peran kita terkadang memberikan dampak yang luar biasa terhadap orang yang menerima bantuan tersebut.

Terima kasih yang sebesarnya untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk dalam membantu penulis menggapai mimpinya.

INFO PENTING

Pendaftaran program IGP A di Tokyo Institute of Technology untuk Tahun Ajaran OKTOBER 2019 akan dibuka di SEPTEMBER 20182

 

Referensi

[1]https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/faculty/ne.html

[2]https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/international/graduate_program_a/

 

 

 

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai beasiswa sebesar 147.000 yen per bulan untuk mahasiswa program master dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup para mahasiswa di Tokyo. Berdasarkan pengalaman penulis, sekitar 70% dari total beasiswa habis terpakai untuk memenuhi kebutuhan rutin setiap bulannya.

Kata kunci: beasiswa MEXT, Tokyo Tech, optimasi, biaya hidup, mahasiswa.


Latar belakang

Melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di negara maju merupakan impian banyak pelajar. Salah satu faktor yang menjadi penentu seseorang melanjutkan pendidikan terutama untuk program master dan doctor adalah beasiswa. Hal ini disebabkan karena biaya pendidikan dan biaya hidup yang berbeda beda ditiap negara. Jepang sebagai salah satu negara maju di dunia menjadi daya tarik banyak mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan sekolah terutama dibidang teknologi. Tokyo yang merupakan ibukota negara Jepang, mempunyai banyak universitas ternama yang menjadikan kota ini magnet untuk para pelajar di Indonesia. Sebut saja Tokyo Institute of Technology atau yang lebih dikenal dengan Tokyo Tech (dalam bahasa Jepang Tokodai) mempunyai jumlah mahasiswa Indonesia sekitar 180 orang pada tahun 2017. Hampir sebagian besar mahasiswa Indonesia tersebut memperoleh beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, pemerintah Jepang, maupun dari perusahaan. Penulis sendiri memperoleh beasiswa dari kementerian pendidikan Jepang (beasiswa MEXT).

Disisi lain, Tokyo merupakan salah satu kota dengan tingkat biaya hidup yang sangat mahal. Sehingga menjadi pertanyaan, apakah beasiswa yang diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup normal para mahasiswa. Penulis akan berbagi pengalaman tentang berapa jumlah beasiswa dan bagaimana mengatur agar uang beasiswa yang diberikan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Penulis merupakan alumni dari Tokyo Tech. Untuk program master, MEXT akan memberikan beasiswa sebesar 147.000 yen per bulan dan bebas biaya kuliah selama 2 tahun.

Tujuan dari tulisan ini untuk membuktikan bahwa jumlah beasiswa tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup normal di Tokyo selama sebulan.

Methodologi

Tulisan ini pada dasarnya dibuat berdasarkan pengalaman nyata penulis yang menjalani hidup dengan normal selama 2 tahun (2012-2014) menjalani kehidupan sebagai mahasiswa master di Tokyo Tech. Walaupun pengalaman yang dibagikan sudah sekitar 5 tahun yang lalu, namun masih sangat relevan mengingat jumlah beasiswa yang diterima sampai tahun 2018 masih pada nominal yang sama dengan tingkat biaya hidup selama 5 tahun terakhir yang relatif stabil.

Pada umumnya, banyak mahasiswa yang selama berkuliah mendapat tambahan pemasukan mulai dari proyek lab, menjadi asisten, bahkan kerja sambilan di luar kampus. Oleh karena itu, tulisan ini hanya membatasi pada jumlah beasiswa yang diterima dan hanya untuk mahasiswa yang berstatus lajang ataupun berkeluarga tetapi tidak membawa serta keluarganya. Tidak ada metodologi khusus yang dibagikan, hanya berdasarkan pengalaman penulis yang sudah hidup mandiri sejak SMA.

Analisa biaya hidup

  • Jadwal pemberian beasiswa MEXT

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang rutin melakukan pengiriman uang ke rekening para mahasiswa setiap bulan. Pada umumnya uang beasiswa diberikan di minggu terakhir setiap bulannya (sekitar tanggal 23-26). Oleh karena itu, mahasiswa baru wajib membawa bekal uang pegangan selama satu bulan pertama sebelum beasiswa diterima.

Khususnya untuk mahasiswa Tokyo Tech, setiap penerima wajib mendatangi bagian International Student Support setiap bulan untuk menandatangi form beasiswa. Apabila mahasiswa tidak/lupa menandatangi beasiswa pada bulan itu maka beasiwa pada bulan itu akan hangus. Ada dua kali periode tanda tangan beasiswa. Sebagai contoh, untuk memperoleh beasiswa di bulan November (beasiswa diberikan tanggal 23 Nov), maka mahasiswa wajib tanda tangan dari tanggal 1-7 Nov. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada periode tersebut, maka mahasiswa masih diberikan kesempatan tanda tangan dari tgl 8-30 Nov dengan konsekuensi beasiswa bulan Nov akan diterima pada pertengahan bulan Desember. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada bulan itu, maka dipastikan mahasiswa tersebut tidak akan mendapat beasiswa di bulan itu. Hal ini merupakan kontrol dari pemberi beasiswa kepada para penerima beasiswa.

  • Kampus Tokyo Institute of Techology

Tokyo Tech mempunyai tiga lokasi kampus yang berbeda yaitu di Tokyo (Kampus Ookayama dan Tamachi) dan di Yokohama (Kampus Suzukakedai). Ookayama dan Suzukakedai adalah dua kampus utama Tokyo Tech. Lokasi kampus yang berada di dua wilayah yang berbeda ini memberikan pengaruh terhadap komponen biaya hidup terutama biaya sewa rumah.

  • Biaya hidup mahasiwa master tahun pertama

Pada umumnya, mahasiwa baru yang masih berstatus lajang atau yang sudah menikah tapi tidak membawa keluarga berkesempatan untuk tinggal di asrama kampus. Khusus untuk mahasiswa Tokyo Tech, terdapat beberapa asrama untuk mahasiswa (asrama pria, asrama perempuan, dan asrama campuran). Lokasi asrama sangat tersebar mulai dari yang dekat kampus sampai yang membutuhkan waktu sekitar 40-50 menit ke kampus. Pihak universitas pada umumnya akan memberitahukan asrama yang diperoleh sebelum berangkat ke Jepang. Tabel 1 menunjukan daftar beberapa asrama Tokyo Tech untuk mahasiswa baru beserta estimasi biaya masing-masing asrama.

 Tabel 1. Daftar asrama beserta biaya sewa untuk mahasiswa baru Tokyo Tech1

Nama asrama Biaya sewa (¥) Luas (m2)
Komaba International House 34.900 15
Shofu Dormitory 20.900 13
Umegaoka Dormitory 20.900 13

Salah satu komponen paling mahal tinggal di Tokyo adalah biaya sewa rumah atau kos-kosan (dijepang biasa disebut apato). Sebagai gambaran, biaya apato disekitar kampus Ookayama untuk ukuran 1K atau studio berkisar 40.000-60.000 yen per bulan tergantung dengan kondisi bangunan. Dapat dilihat bahwa perbedaan harga sewa apato dan beberapa asrama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap biaya pengeluaran. Selain biaya sewa asrama, komponen pengeluaran rutin lainnya adalah gas, listrik dan air. Untuk yang tinggal di asrama khususnya Shofu dan Umegaoka harga yang dikeluarkan sekitar 3.000 – 5.000 yen per bulan. Pada umumnya, musim panas dan musim dingin memberikan kontribusi signifikan terdapat biaya tersebut.

Daftar asrama yang tertera di Tabel 1 tidak ada yang berlokasi dekat dengan kampus Tokyo Tech manapun. Oleh karena itu, perlu tambahan biaya transportasi setiap hari. Moda transportasi di Tokyo dan Yokohama pada umumnya adalah kereta. Beruntungnya, setiap anak sekolah dan mahasiswa berhak memperoleh potongan harga tiket yang cukup signifikan. Sebagai gambaran, harga normal tiket commuter satu bulan dari Shofu ke kampus Ookayama sekitar 9.250 yen. Tetapi, dengan potongan mahasiswa bisa menjadi sekitar 3.500 – 4.500 yen (harga pastinya bisa dicek langsung ke petugas stasiun). Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan rumah dan transportasi sekitar 30.000 yen (sekitar 20% dari uang beasiswa) untuk mereka yang mendapatkan asrama di Shofu dan Umegaoka. (Lokasi Shofu dan Umegaoka lumayan berdekatan, sehingga biaya transportasi hampir sama). Akan tetapi, biaya ini akan meningkat apabila tinggal diluar dari kedua asrama tersebut. Penulis sendiri tinggal di asrama Shofu.

Selain biaya apato dan transportasi, pengeluaran wajib lainnnya adalah konsumsi atau biaya makan sehari hari. Penilaian akan biaya makan akan bersifat subjektif karena perbedaan selera, kebiasaan makan seseorang, dan faktor agama (halal dan non halal). Untuk bagian ini, penjabaran akan dituliskan berdasarkan pengalaman sehari hari penulis.

Biaya sarapan yang dikeluarkan per hari berkisar 100 – 150 yen yang digunakan untuk membeli roti. Hal ini disebabkan karena penulis lebih suka memakan roti untuk sarapan. Banyaknya convenience store (dalam bahasa jepang konbini) seperti seven eleven, family mart, Lawson, sangat memudahkan dan membantu mahasiswa untuk menemukan sarapan yang enak dan sehat.

Selama berkuliah di Tokyo Tech, penulis hampir 90% menghabiskan makan siang di kantin kampus. Dengan pilhan menu yang bervariasi, kantin kampus merupakan tempat yang menarik untuk makan siang, tentunya didukung dengan harga yang murah. Biaya yang dihabiskan untuk sekali makan di kantin sekitar 400 – 600 yen. Selain kantin kampus, konbini  dan supermarket yang berada di dekat kampus menyediakan lunch box (dalam bahasa jepang bento) dengan menu yang bervariasi dan harga sekitar 500 – 600 yen.

Salah satu hal menarik yang perlu diperhatikan selama kuliah di Tokyo Tech adalah banyaknya mahasiswa yang pulang larut malam karena berbagai aktifitas terutama seputar penelitian. Oleh karena itu, makan malam biasanya dilakukan juga di kantin kampus atau membeli bento dari supermarket. Untuk pembelian bento di supermarket pada jam-jam tertentu khususnya diatas jam 7 malam, biasanya harganya sudah dipotong hingga 50%. Dengan penjabaran ini, maka biaya makan sehari hari yang dibutuhkan sekitar 1.000 – 1.300 yen per hari atau sekitar 30.000 – 40.000 per bulan atau sekitar 27-29% dari uang beasiswa.

Melalui gambaran diatas maka daapat dilihat sekitar 50% dari beasiswa sudah dipakai untuk memenuhi kebutuhan dasar tiap bulannya. Hal ini tentunya belum termasuk dengan aktifitas lainnya seperti jalan-jalan, belanja pakaian (jaket musim gugur, musim dingin), hangout, lab trip, dll. Untuk hal ini, penulis biasanya memberikan maksimal 15% (bukan berarti harus dihabiskan 15% setiap bulan, tetapi tergantung kebutuhan).

  • Biaya hidup mahasiwa master tahun kedua

Salah satu hal yang menarik sebagai mahasiswa khususnya di Tokyo Tech adalah pemberian batas tinggal maksimal satu tahun di asrama. Oleh karena itu, mahasiswa wajib melapor satu bulan sebelum keluar asrama dan mulai mencari apato. Mencari apato di Tokyo merupakan suatu seni tersendiri dan membutuhkan waktu. Pada umumnya mencari apato dapat dilakukan melalui internet dengan membuka situs seperti, suumo, homes, century123, able, dll. Cara kedua adalah dengan mendatangi secara langsung kantor agen penyedia apato.

Banyaknya pilihan seperti lokasi, harga, luas kamar, dan jarak tempuh dalam mencari apato menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa. Pengalaman penulis sendiri berdasarkan kondisi bahwa tahun kedua sebagai mahasiswa master adalah tahun yang penuh dengan penelitian dan tugas kuliah. Hal ini menjadi pertimbangan utama untuk mencari lokasi apato yang dekat dengan kampus dan bisa diakses dengan berjalan kaki atau bersepeda. Dengan kondisi ini, harga sewa apato yang lebih mahal menjadi konsekuensi yang harus diterima. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka mencari teman untuk sewa apato bersama menjadi salah satu opsi untuk melakukan penghematan.

Di tahun kedua ini, penulis dan seorang temannya menyewa apato yang berlokasi dekat kampus dan hanya membutuhkan waktu 15 menit jalan kaki menuju kampus. Biaya sewa per bulannya adalah 75.000 yen (2 kamar, dapur, toilet, kamar mandi dengan luas 33m2), akan tetapi di awal kontrak sewa apato dibutuhkan total biaya sebesar 300.000 yen yang terdiri dari: uang deposit, uang kunci, uang terimakasih untuk agen, dan uang jaminan yang masing-masing sejumlah 1x biaya sewa apato. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena pada umumnya setiap melakukan pindahan akan dikenakan sejumlah biaya diawal berkisar 3-5 kali uang sewa. Biaya yang besar ini cukup menguras keuangan diawal tahun kedua, oleh karena ini kenikmatan yang diperoleh semasa tinggal di asrama sangat membantu untuk mengatasi hal ini. Biaya sewa apato dan biaya listik, air, dan gas yang dikeluarkan masing-masing  35.000 yen dan 10.000 yen atau sekitar 30% dari uang beasiswa.

Selanjutnya, dengan tinggal di dekat kampus maka biaya transportasi ke kampus bisa dihilangkan. Untuk biaya kebutuhan makan sehari hari kurang lebih hampir sama dengan di tahun pertama sekitar 30%. Demikian juga untuk biaya lain-lain, penulis memberikan batasan sekitar 15% setiap bulannya. Total biaya yang dikeluarkan setiap bulannya adalah sekitar 70-75% dari uang beasiswa.

  • Pengoptimalan uang beasiswa

Pada sub bab sebelumnya, telah dijabarkan berbagai pengeluaran rutin dan tidak tidak rutin setiap bulannya. Pengoptimalan uang beasiswa dapat dilakukan pada bagian yang tidak rutin, seperti biaya hiburan dan rekreasi. Sebagai contoh, memanfaatkan ‘one day pass ticket’ untuk keliling kota Tokyo di akhir pekan akan sangat menghemat ongkos kereta. Rekreasi singkat menikmati alam sambil melepas penat setelah berhari hari bekerja menyelesaikan penelitian dapat dilakukan ditaman – taman dengan menikmati sebotol teh dan sebungkus roti tanpa harus pergi ke kafe yang pastinya akan menguras lebih dalam biaya tak terduga.

Untuk yang hobi fashion, awal musim panas adalah bagaikan surga karena hampir semua toko membuat potongan besar-besaran. Selain itu membeli pakaian menjelang pergantian musim adalah salah satu trik untuk mendapatkan harga yang terjangkau. Selain itu belanja online untuk membeli kebutuhan rutin bisa menjadi pilihan karena pada kondisi tertentu harga di toko online seperti amazon, rakuten, wish, aliexpress, dll bisa jauh lebih murah serta terkadang bebas ongkos kirim. Hal ini tentunya dapat menghemat pengeluaran ongkos kereta.

Museum adalah salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi dan beberapa museum memberikan tiket masuk gratis untuk mahasiswa dari beberapa universitas ternama. Mengunjungi museum dengan menggunakan ‘one day pass ticket’ memberikan bonus ganda karena bisa menghemat pengeluaran. Dengan kondisi ini, berdasarkan pengalaman penulis bahwa pengeluaran tidak rutin ini bisa ditekan sebesar 2-3%.

Hasil dan pembahasan

Biaya rutin yang dikeluarkan oleh penulis pada tahun pertama mengalami peningkatan di tahun kedua. Total biaya rutin yang dibutuhkan pada tahun pertama sekitar 50% dari total beasiswa. Nilai ini akan mengalami peningkatan di tahun kedua menjadi sekitar 60% dari total beasiswa. Peningkatan sebesar 10% ini tidak terlalu signifikan disebabkan pada tahun ke-dua penulis tinggal di apato dengan teman sehingga biaya sewanya dibagi dua dan lokasi apato yang dekat dengan kampus mengeliminasi biaya transportasi rutin. Sedangkan untuk biaya lain-lain sebesar 15% dari total beasiswa dapat diturunkan sekitar 2-3%. Dengan demikian rata-rata pengeluaran penulis selama 2 tahun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa program master di Tokyo sekitar 60 – 70% dari total beasiswa.

Kesimpulan

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memiliki banyak peminat. Disisi lain jumlah beasiswa yang relatif sedikit dibandingkan beberapa beasiswa lain menjadi kekhawatiran tersendiri apakah jumlah tersebut bisa mencukupi kebutuhan hidup normal di Tokyo. Berdasarkan pengalaman penulis dapat disimpulkan bahwa jumlah beasiswa tersebut masih aman dengan total pengeluaran rutin mencapai sekitar 70% dari uang beasiswa.

Tentunya setiap mahasiswa mempunyai pertimbangan dan kebutuhan yang berbeda, akan tetapi semua yang ditulis disini merupakan data yang diperoleh berdasarkan pengalaman penulis menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Tokyo.

Referensi

[1] https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/support/dormitories/