Featured

Kerjaan seorang peneliti nuklir

Sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Alasan klasik tentu saja lagi sibuk dengan kerjaan di kantor/lab.

Oleh karena alasan itu pula, saya akhirnya terpikir untuk membagikan sedikit cerita mengenai kegiatan seorang peneliti nuklir, “Sehari bersama peneliti nuklir”.

08.00 JST

Sekitar jam 8 pagi, aktifitas pertama dimulai, yaitu bangun pagi. Hehe

Jam kerja yang fleksibel ditambah dengan jarak dari rumah ke kantor yang cukup dekat (~3.5km) membuat bangun jam 8 masih tergolong pagi buat saya.

Alarm bangun pun bukan lagi alarm dari HP, melainkan Henokh yang sudah teriak-teriak memanggil “Papaaaaaaa!!!!”, atau keisengannya yang mentoel-toel pipi dengan jari telunjuknya.

08.50 JST

Saatnya berangkat ke lab (kantor).

Hemmm…Mau berangkat pakai apa ya? Sepeda, bus, atau jalan kaki?

Di awal musim dingin yang cerah ini, sepertinya jalan kaki adalah pilihan yang tepat untuk berangkat ke lab. Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak sekitar 3.5 km adalah 38 menit.

09:25 JST

“Ohayou Gozaimasu” adalah sapaan yang selalu saya ucapkan begitu memasuki ruangan lab.

Sapaan itu pun dijawab oleh rekan kerja dan bos yang sudah berada di lab, “Ohayou Gozaimasu”.

Jam kerja yang fleksibel ini membuat tidak ada istilah ‘telat datang ke kantor’. Akan tetapi, jam kerja fleksibel ini tidak berlaku untuk semua pegawai. Hanya ada beberapa status pegawai yang boleh mengajukan sistem jam kerja yang fleksibel. (Akan dibahas di tulisan lainnya, ya..)

Memulai aktifitas pekerjaan dengan: menyalakan komputer dan mereview catatan kecil tentang hal terakhir yang saya lakukan kemarin dan rencana apa yang hendak saya kerjakan hari ini, dan tentu saja membuka website berita (yang tidak diblokir oleh kantor) untuk membaca situasi pasar dan kondisi ekonomi hari ini.

Meskipun saat ini berkarir sebagai seorang peneliti dibidang nuklir, tapi tetap masih mempelajari dan mengikuti perkembangan kondisi perekonomian dll.

Aktifitas penelitian

Salah satu aktifitas penelitian yang saya kerjakan berhubungan dengan simulasi di depan komputer tentang bidang kecelakaan nuklir.

Salah satu tugas yang saya berikan kepada diri sendiri untuk hari ini adalah mengolah data hasil simulasi yang telah selesai disimulasi untuk kemudian dianalisa.

Hasil simulasi yang jumlahnya sekitar ribuan output file ini harus diolah sedemikian rupa untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan. Karena hanya informasi tertentu saja yang dibutuhkan dari setiap output file, saya pun membuatkan sebuah program kecil menggunakan bahasa pemprograman untuk mempermudah pengolahan data mentah dari hasil simulasi tersebut.

11:30 JST

Selingan ringan di saat mengerjakan pemprogram adalah melihat kondisi pasar saham.

Setelah itu, melanjutkan kembali mencari tahu kenapa program yang dibuat masih error. Semua sumber daya dikerahkan untuk memecahkan masalah ini, mulai dari google, youtube, hingga bertanya ke teman.

Menjelang jam makan siang, kesalahan yang terdapat di dalam program tersebut bisa juga terselesaikan.

Bisa makan siang dengan tenang sejenak.

Istirahat Siang

Bel istirahat pun berbunyi yang menandakan sudah pukul 12.00 siang. Kotak Bento (Lunch box) yang dibawa dari rumah siap untuk disantap. Biasanya, saya membawa bento tersebut ke kantin dan makan bersama teman, akan tetapi sejak COVID-19 melanda, saya memilih untuk makan siang di ruangan saja.

Olahraga

Hal yang banyak dilakukan oleh para pegawai disaat jam istirahat adalah olahraga. Ada yang bermain bola, baseball, lari, jalan santai, bahkan sepedaan mengelilingi kawasan kerja. Terdapat lapangan khusus yang disediakan untuk bermain bola dan baseball.

Saya sendiri memilih untuk jalan santai mengelilingi kawasan kerja. Lumayan lah untuk mengurangi lemak-lemak membandel di daerah sekitar perut. Haha

Bel pun kembali berbunyi yang menandakan sudah pukul 1:00 siang. Jam istirahat telah selesai. Meskipun demikian, di grup tempat saya bekerja tidak terlalu strict dengan jam tersebut. Saya sendiri kembali ke ruangan sekitar pukul 13:10 JST setelah menyelesaikan jalan kaki mengelilingi kawasan kerja(~2.5 km).

14:00 JST

Program yang dibuat tadi sudah bisa mengambil informasi yang dibutuhkan dari output file. Saatnya, mengolahnya lagi kedalam grafik. Membuat grafik pun bisa menggunakan banyak cara seperti, excel, origin, python, dll.

Membaca Jurnal Penelitian

Aktifitas lainnya setelah menyelesaikan aktifitas di atas adalah membaca jurnal penelitian yang sedikit banyak berkaitan dengan topik penelitian yang sedang dilakukan.

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda dalam membaca dan memahami sebuah jurnal.

16:00 JST

Saatnya turun ke lobi untuk membeli cemilan atau datang ruangan teman untuk sekedar chitchat. Ada kalanya chitchat dilakukan di grup-grup whatsapp atau line. Selain itu sekedar mendengarkan berita dari youtube atau mengupdate postingan di Instagram.

Setelah melaksanakan aktifitas ‘me time’, saatnya kembali melanjutkan aktifitas penelitian. Mari kembali fokus melanjutkan membaca jurnal penelitian. Bagi saya, bagian Introduction adalah hal yang paling menarik dalam membaca sebuah jurnal.

Apabila bagian Introduction ditulis dengan baik, maka akan membantu pembaca untuk mengetahui apa yang menjadi latar belakang, motivasi dan tujuan penelitian tersebut.

Membuat Presentasi

Secara umum, saya akan merangkum hasil penelitian saya kedalam bentuk power point. Hal ini membantu saya melihat dan mereview perkembangan sebuah topik penelitian yang sedang dikerjakan.

17:30 JST

Bel pun kembali berbunyi yang menandakan jam kerja sudah berakhir. Bagi mereka yang mau pulang, silahkan pulang. Bagi mereka yang mau melanjutkan pekerjaan, silakan dilanjutkan.

Hari ini saya pun memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang rasanya tanggung untuk ditinggalkan hari ini.

19:00 JST

Sebuah pesan dari Mami Henokh muncul dilayar handphone, “Sayang, pulang jam berapa? Jalan atau mau dijemput?”.

“Ini mau pulang. Jalan kaki aja.”, begitu jawabanku membalas pesan Mami Henokh.

20:30 JST

Tidak membawa pulang kerjaan kantor (lab) ke rumah adalah hal mendasar yang dilakukan sejak awal menikah bahkan sejak masih menjadi mahasiswa doktoral.

Setelah seharian melakukan kegiatan di lab, saatnya menghabiskan malam hari dengan Henokh mulai dari menemani bermain, membaca buku, ganti popok, dll.

“Henokh baru bangun tadi jam 7 malam.”, info dari Maminya. Artinya: malam ini bakalan menemani Henokh bermain hingga sekitar jam 11 malam.

Istirahat

Saatnya beristirahat setelah melakukan berbagai macam aktifitas di depan komputer.

Untuk tulisan kali ini tidak ada foto karena tidak boleh mengambil foto sembarangan di dalam lingkungan kerja.

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI) #15: Salah Harga!

Sabtu ini kita tidak ada rencana khusus pergi jalan-jalan. Kami pun memutuskan untuk jalan ke AEON yang ada di desa Tokai sekedar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan mengajak Henokh bermain di Game Center yang ada di lantai 2 AEON.

Saya menemani Henokh bermaij di lantai 2, sedangkan Mami Henokh belanja di supermarket yanh ada di lantai 1.

Setelah selesai berbelanja, Mami Henokh pun menjumpai kami di lantai 2. Kebetulan juga, Mami Henokh berencana membelikan puzzle buat Henokh.

Kami pun berkeliling di toko mainan yang ada tepat disebelah Game Center. Mami Henokh mencari puzzle buat Henokh, sedangkan saya dan Henokh melihat-lihat mainan lainnya.

Irwan (I), Laura(L), Henokh(H)

L: Aku belikan Henokh puzzle binatang-binatang aja ya? Di rumah kan udah ada yang transportasi.

I: Ya terserah aja. Berapaan?

L: 1000an nih. Murah.

I: Yowes, kami di lorong sebelah lihat-lihat mainan dulu.

Saya dan Henokh pun berjalan menyusuri lorong mainan hingga Henokh menemukan mainan yang disukainya.

H: mmm..mmm..mmm..(sambil menunjuk mainan kereta yang bentuknya sama dengan salah satu model kereta JR di Jepang.

I: Henokh mau? mau yang itu atau ini (sambil memberi kereta lain berbentuk karakter Thomas (kartun Thomas & Friends))

H: mmmm..(tetap menunjuk ke kereta JR)

I: Ok. (sambil mengambil kereta tersebut dan membawanya ke mami Henokh)

Henokh pun sangat senang dengan ekspresi anak kecil yang baru dibelikan hadiah.

I: Sayang, ini Henokh mau keretanya.

L: Hehhh.. berapaan?

I: Berapa ya? lupa lihat harganya tadi.

Kami pun kembali ke rak mainan untuk mengecek harga.

L: Hemm.. 1.800an yaa..

I: Yaudah kereta aja lah.. lagian Henokhnya sudah suka.

L: Henokh mau kereta?

H: mmm.. (ekspresi senang yang bisa meluluhkan hati orangtuanya)

L: Yaudah, ayo ke kasir bayar.

Kami pun berjalan ke kasir. Henokh yang sudah sedang membawa sendiri keretanya menuju kasir.

Staff (S): 3.120 yen.

I & L : (lihat-lihatan)…

L: bawa dompet gak? Buset ini salah lihat harga atau gimana?

I: Dompet bawa, isinya yang gak dibawa..hahaha

L: Entah apa papimu ini Henokh. Ckckckc (Sambil menyerahkan uang ke kasir)

I: Ehh, itu kenapa jadi mahal ya harganya? Yaudah kau bayarkan dulu, aku ke rak tadi ngecek lagi harganya.

Mainan kereta JR tersebut adalah satu-satunya kereta JR yang tersisa di rak mainan tersebut.

Sesampainya di rak tersebut, ternyata ada beberapa mainan yang posisinya sudah tidak sesuai dengan kondisi awalnya. Hal ini berdampak kepada salah baca harga.

Hal yang sering terlewat ketika belanja krn sangat jarang memperhatikan dengan detail antara nama barang dan harga yang tercantum di rak.

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae.

Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”.

Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal yang berbeda.

Kali ini adalah kisah sepasang suami istri yang baru saja memulai tinggal bersama di Jepang.

Oktober 2016

Laura (L); Irwan (I)

I: Sayang, ada rencanamu keluar hari ini?

L: Gak ada, di rumah aja beresin koper sama rapiin barang.

I: OK. Yaudah, aku berangkat ke lab dulu. Love u.

L: Love u too.. (sambil mengantar sampai ke pintu)

Kebiasaan menghantar suami berangkat kerja masih terlaksana hingga saat ini.”

Kami pun memulai aktifitas masing-masing di pagi hari seperti biasanya. Hingga tiba-tiba ada panggilan masuk dari Laura.

L: Toilet bocor. Airnya sudah sampai ke dapur. (Nada panik terdengar dari suara Laura).

I: Hahh??? Coba pelan-pelan dulu ngomongnya. Gak paham aku. Itu kan toilet kering, gimana ada air bocor?

L: Tahu ember yang buat nampung air? Kita taruh kan selang buat semprotan toilet di dalamnya.

Fakta menarik

Hampir semua toilet di Jepang menganut sistem Toilet kering. Bagi yang tinggal di rumah tua biasanya toiletnya tidak ada sistem semprotan (semoga kalian paham yang saya maksud), hasilnya kalau buang air dibersihkan dengan tisu kering saja. Perlu kreatifitas lebih untuk bisa menggunakan kebiasaan seperti di Indonesia, salah satunya dengan ember kecil penampung air.

I: Iya, kan kosong airnya semalam.

L: Iya, ternyata air dari semprotan itu netes kecil-kecil dari semalam. Ini aku lagi beresin dapur dan air dari toilet sudah sampai ke dapur.

I: Hahhhhh…. Mati kitaaaa.. Bocorlah itu ke kamar apato yang di bawah kita.

L: Serius???

I: Iya, yang boleh basah kan cuma kamar mandi doank. Waduhhhh.. Yaudah bersihkanlah dulu.

L: Iya, ini lagi kubersihkan. Yaudah, lanjutlah dulu.

Ternyata, itu adalah awal dari rentetan kejadian penuh drama di hari itu. Sore harinya, Laura kembali menelepon.

I: Gimana? Udah kering toiletnya?

L: Toilet kita udah kering sih, tapi toilet di bawah kita yang basah kena rembesannya.

I: Hehhh? Tahu dari mana?

L: Tadi ada ibu yang ketuk pintu, ternyata tetangga bawah kita. Dia bilang toiletnya basah kena rembesan air dari bawah. Protes-protes gitulah pokoknya. Dia bilang ganti rugi apalah gitu.

I: Si ibu bisa bahasa Inggris?

L: Gak bisa, ya tadi kami ngobrol pakai google translate ditambah bahasa tubuh. Pulanglah sekarang sekalian ambil uang untuk ganti rugi.

I: Nanti jam 8 baru bisa pulang, ini lagi mau diskusi trus mau pergi part-time.

Setelah semua urusan selesai, akhirnya saya pun pulang ke rumah.

I: Yuk ke bawah minta maaf.

L: Kau aja lah, aku takut. Hehehe

I: Hemmm.. Ayolah sama-sama, sekalian kenalan juga.

Akhirnya kami berdua turun ke bawah untuk meminta maaf kepada tetangga atas kecerobohan kami. Ternyata, kami disambut oleh seorang nenek (N) yang adalah orangtua dari si ibu tersebut. Sedangkan si ibu yang bertemu Laura sedang tidak ada di rumah.

I: Selamat malam. Maaf menggangu. Kami mau minta maaf atas kesalahan kami karena air dari atas sudah merembes ke toilet rumah nenek.

N: Selamat malam. Ooo.. Kalian tetangga diatas ya. Orang baru ya? dari negara mana?

I: Iya, kami baru pindah kesini, kami dari Indonesia. Maaf ya nek sudah mengganggu.

N: Mari masuk..(Nenek pun berjalan menuju toilet untuk memperlihatkan kondisi toiletnya akibat rembesan air itu)

I: Hehhh, ternyata persediaan tisu toilet si nenek basah ya terkena rembesan air. Maaf ya nek atas gangguannya. Oiya nek, air yang merembes itu bukan air kotor. Airnya berasal dari kran air yang lupa kami tutup.

N: Iya gpp.. Oiya, kalian disini kerja?

I: Tidak nek, saya sedang kuliah dan isteri di rumah.

N: Hehhh.. kuliah? kenapa pulangnya malam sekali?

I: Ini tadi habis ada part-time dulu nek, setelah itu baru pulang. Oiya nek, kami ganti ya nek kerugiannya. Soalnya tadi kata istri, anaknya nenek udah ngobrol sama istri terus bilang ganti rugi. Kalau boleh tahu kami harus ganti berapa?

N: hehh.. Gpp.. gak perlu diganti. Tapi lain kali hati-hati yaa.

I: Hehh? serius nek? Makasih banyak ya nek. Maaf sekali lagi ya nek atas ketidaknyamanannya.

Selanjutnya kami pun berbincang-bincang sebentar dengan menggunakan bahasa Jepang yang terbata-bata.

Awal-awal kepindahan istri ke Jepang memang penuh drama padahal dulu waktu dia jadi turis tidak ada masalah apa-apa. Semuanya lancar, aman, damai, sentosa.

‘Kafunsho’ Alergi Serbuk Bunga

Musim semi adalah salah satu musim terindah di Jepang (Musim di Jepang). Tentunya daya tarik utamanya adalah keindahan BUNGA SAKURA. Tapi tunggu dulu, bagi sebagian besar orang yang sudah lama tinggal di Jepang, musim semi adalah musim terberat yang harus dilalui. KENAPA? Suhu udara yang sudah mulai hangat setelah melewati musim dingin adalah waktu yang tepat untuk tumbuhan kembali … Continue reading “‘Kafunsho’ Alergi Serbuk Bunga”

Berinvestasi Rp.100.000 di Reksa Dana.

Bagi sebagian besar orang, pasti sudah mengenal dan mengetahui apa yang dimaksud dengan Reksa Dana serta bagaimana cara bekerja dan lain sebagainya. Tapi, tidak dipungkiri bahwa masih banyak juga yang belum mengenal atau mengetahuinya. Saya termasuk kedalam katogori kedua, yaitu belum mengenal apa itu Reksa Dana. Latar belakang pendidikan saya yang berasal dari Teknik Nuklir … Continue reading “Berinvestasi Rp.100.000 di Reksa Dana.”

Jepang Mengajarkan ku: #1. Taat Administrasi.

Tinggal di salah satu negara maju memberikan pengalaman tersendiri terutama dalam urusan administrasi. Dari Jepang, saya belajar akan pentingnya taat dalam urusan beradministrasi mulai dari hal yang mungkin saya anggap enteng karena tidak (belum) pernah saya lakukan di negara sendiri. Berikut beberapa hal urusan administrasi yang perlu diperhatikan ketika mau tinggal di negara Jepang berdasarkan … Continue reading “Jepang Mengajarkan ku: #1. Taat Administrasi.”

Featured

Nasi telah menjadi sereal

Beberapa hari ini kepikiran dengan menu sarapan yang jauh berubah ketika tinggal di Indoneisa. Sewaktu menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja, sarapan dengan menu complit (nasi+sayur+lauk) adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebelum memulai aktifitas perkuliahan.

Kalau ada kuliah pagi, setidaknya sebungkus roti yang dijual di warung dekat kosan harus dimakan untuk memperoleh energi selama mengikuti 3 sks perkuliahan. Lalu bisa dipastikan bahwa kantin adalah tempat yang dikunjungi untuk mengisi energi baru dengan menu complit lagi di sela istirahat antar mata kuliah.

Rasa-rasanya selalu ada yang kurang kalau sarapan tanpa nasi.

Hal yang sama pun berlanjut ketika bekerja di pedalaman Kalimantan. Nasi masih menjadi menu andalan untuk memperoleh energi sehingga bisa beraktifitas dengan baik.

Namun, hal yang berbeda terjadi ketika tinggal di Jepang.

Sarapan masih hal yang wajib dilakukan, akan tetapi menu complit bukan menjadi keharusan dalam memenuhi kebutuhan energi di pagi hari.

Dua buah roti tawar ditambah segelas susu sepertinya cukup untuk memberikan energi untuk bisa beraktifitas hingga siang hari sebelum masuk ke jam makan siang. Bahkan hampir dua tahun terakhir ini, sarapan dengan sereal (+/- 30 gram) yang dicampur kedalam segelas susu rasanya cukup memberikan energi hingga siang hari.

Padahal di Indonesia pun, saya pernah mencoba sarapan dengan menggunakan menu sereal dan susu tetapi tetap saja saya harus memakan menu complit agar saya bisa beraktifitas dengan normal hingga siang hari.

Hemmmm… apa yang membuat berbeda ya? Kira-kira ada yang mempunyai pengalaman yang sama gak ya?

Mengejar Cinta (1): Janji

Juni 2006 Bulan itu adalah perjalanan baru dalam hidup, dimana saya akan merantau ke Jogja untuk menempuh pendidikan tinggi di salah satu Universitas terbaik di negeri ini. Saya dan mama (dibaca: mamak) pun berangkat dari Pekanbaru menuju Jogja. Banyak wejangan yang diberikan disepanjang perjalanan menuju Jogja, salah satunya adalah: “Jangan pacaran selama kuliah.” Maret 2010 Setelah … Continue reading “Mengejar Cinta (1): Janji”

Mau bekerja di Jepang? Persiapkan hal-hal berikut ini!

Pertanyaan lain yang muncul dari teman atau bahkan keluarga ketika pulang ke Indonesia adalah gimana sih bekerja di Jepang? Enak gak sih? Nyantai atau gimana sih sistem kerjanya? Sebenarnya, agak sulit menjawab pertanyaan tersebut karena jawaban dari semua pertanyaan tersebut sangat tergantung kepada tempat kerja atau bahkan rekan kerja di dalam tim. Bekerja di perusahaan … Continue reading “Mau bekerja di Jepang? Persiapkan hal-hal berikut ini!”

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….

Sudah lama rasanya tidak menuliskan cerita seri tentang celotehan kecil ala suami istri. Kali ini menceritakan celotehan antara sepasang suami istri pada saat sedang bersepeda bersama Henokh.

Laura (L), Irwan (I), Henokh (H)

I: Ayo siap-siap…sepedaan jam 10 aja ya biar gak panas kali di jalan nanti.

L: Ok… Henokh siap-siap, ambil kaus kakimu nak di lemari.

H: (berjalan sambil berlari kecil mengambil kaus kaki di lemari)

Henokh sepertinya sudah paham kalau dengar kata “kaus kaki”, “sepeda” itu artinya mau jalan-jalan keluar.

L: Pakai rute yang mana nih kesana?

I: Aku hapalnya jalur 248, soalnya kita selalu kesana pakai jalur 248 kalau naik mobil.

L: Yaudah.. Yakin kan aman pakai sepeda lewat jalur itu? Ada trotoarnya?

I: Seingatku ada.

H: Huaaaa….Huaaaaa…(teriak-teriak kelamaan nunggu obrolan bapak mamaknya didepan pintu rumah)

L: Kaulah di depan ya bawa jalan. Jangan cepat-cepat.

I: Hemmmm…

15 menit kita lalui bersepeda dengan aman dan tentram. Trotoar yang lebar yang nyaman menemani di awal perjalanan.

I: Sayang, di depan ada perbaikan jalan, pelan-pelan.

L: Ok. Akulah di depan, biar kau yang jaga di belakang.

Setelah melewati rintangan kecil pertama, kami memasuki jalan lintas dari desa Tokai ke kota sebelahnya dimana trotoar di kiri maupun di kanan jalan dipenuhi oleh rerumputan tinggi, trotoar yang kecil dan sedikit berlumut. Hal ini tentu karena daerah ini jarang dilalui oleh pejalan kaki.

L: Inilah kau, kau bilang hapal jalan. Masa trotoarnya sempit udah gitu rumputnya tinggi-tinggi. Mana tanjakan lagi.. Gak bisa lewat sepedaku. (sudah mulai menggerutu)

I: Ya kan emang kubilang hapal jalan bukan hapal kondisi trotoar sepanjang jalannya. Buset tanjakan segitu doank loh. Itu sepeda listrik loh punyamu. Sepedaku cuman mengandalkan kekuatan dengkul dan napas..(sudah mulai terpancing emosi ditambah sinar matahari yang semakin panas)

L: Tahu gitu pakai rute yang lain aja kita tadi..

I: Hemmmm..(sambil terus menggowes sepeda di tanjakan).

H: wang..wangg..wangg..wanggg… (teriak-teriak memanggil anjing yang tiba-tiba muncul diseberang jalan)

Ya begitulah kondisi trotoar dipedasaan, secara umum hampir semua jalan punya trotoar akan tetapi karena jalan kaki bukan hal yang lazim ditemukan di desa (tidak seperti di kota besar seperti Tokyo) maka kondisi trotoarnya ada yang terbengkalai.

Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong. Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur. Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini … Continue reading “Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!”

Dampak COVID19 terhadap tagihan air (PAM) di Desa Tokai Jepang

Air adalah salah satu sumber utama dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak kegiatan sepanjang hari yang membutuhkan air mulai dari mandi, minum, hingga mencuci pakaian. Sejak menyebarnya kasus COVID19 di prefektur Ibaraki, tingkat pemakaian air pun semakin meningkat di rumah. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh istri adalah wajib mandi setelah keluar dari rumah. Selesai bermain … Continue reading “Dampak COVID19 terhadap tagihan air (PAM) di Desa Tokai Jepang”

Dampak Tutupnya ‘STATION COM’ terhadap anggaran belanja rumah tangga

Abstrak Belanja kebutuhan sehari-hari adalah hal yang biasa dilakukan oleh hampir setiap orang. Di Desa Tokai cukup banyak tersedia supermarket baik itu yang besar atau kecil untuk mendukung kehidupan warga desa. Station Com adalah satu dari beberapa supermarket yang ada disini. Lokasinya yang dapat ditempuh kurang lebih 3 menit dengan jalan kaki menjadikan supermarket ini … Continue reading “Dampak Tutupnya ‘STATION COM’ terhadap anggaran belanja rumah tangga”

Featured

Latihan Tanggap Darurat selama di Jepang

Selama tinggal di Jepang, gempa bumi adalah salah satu hal yang paling sering terjadi dan paling sering dirasakan sepanjang tahun. Mulai dari gempa bumi yang skala kecil hingga cukup besar.

Salah satu pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan adalah gempa bumi yang terjadi disore hari sekitar bulan Oktober 2012.

Oktober 2012

Saya baru saja memasuki tahun ajaran baru sebagai mahasiswa program Master di Tokyo Institute of Technology pada bulan Oktober 2012. Artinya, saya baru tinggal di Jepang kurang dari satu bulan. Sore itu, setelah menyelesaikan perkuliahan di kelas yang cukup padat, saya memutuskan untuk langsung pulang ke asrama.

Kondisi asrama pada sore hari biasanya sangat sepi karena pada umumnya para penghuni baru kembali ke asrama pada malam hari.

Sesampainya di asrama, saya memutuskan untuk tiduran sejenak dikamar yang terletak di lantai 3. Tidak lama setelahnya, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang cukup besar (menurut saya) dan berlangsung lumayan lama.

Gempa bumi, sendirian di kamar, asrama sepi, berakibat terciptanya kepanikan sendiri. Tidak tahu prosedur apa yang harus dilakukan.

Hal yang pertama saya lakukan adalah keluar ke beranda untuk melihat keadaan diluar. Ternyata tidak ada orang yang berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Hal ini sangat berbeda dengan pengalaman yang saya rasakan ketika terjadi gempa di Indonesia. Tetangga-tetangga yang ada disekitar rumah biasanya pada keluar rumah dan berkumpul dan berlanjut ngobrol dengan tetangga hingga keadaan dirasa cukup aman untuk kembali masuk ke rumah.

Emergency Drill (Latihan Tanggap Darurat)

Salah satu kegiatan rutin Tokyo Institute of Technology adalah mengadakan Emergency Drill yang dilaksanakan sekitar pertengahan bulan November setiap tahunnya.

Kalau tidak salah ingat, biasanya dari pihak universitas akan memberikan informasi mengenai Emergency Drill melalui email. Salah satu informasinya berupa peta kampus beserta titik-titik perkumpulan yang ada disekitar kampus.

Latihan tanggap darurat (Emergency Drill) biasanya dilaksanakan sekitar pukul 11:00 – 12:00 JST.

Bunyi Alarm

Latihan tanggap darurat diawali oleh bunyi alarm selama kurang dari satu menit. Bunyi alarm ini menandakan telah terjadi gempa.

Hal yang harus dilakukan pertama kali adalah Berlindung di bawah meja kerja masing-masing bagi mereka yang sedang berada di ruangan kerja dan kelas.

Intinya adalah mencari tempat perlindungan dan sebisa mungkin terhindar dari benda-benda yang bisa menimpa kita.

Pakai Helm

Setelah berlindung di bawah meja selama kurang lebih 1 menit (asumsi gempa sudah berhenti), selanjutnya kita harus keluar dari gedung menuju titik perkumpulan. Penggunaan Helm Pelindung adalah WAJIB sebelum meninggalkan ruangan.

Sepertinya helm pelindung ini disediakan oleh pihak universitas dan telah dibagikan kepada masing-masing lab. Saya berasumsi demikian karena setiap anggota lab mempunyai helm masing-masing.

Matikan gas, listrik dan air

Hal yang dilakukan setelah memakai helm dan hendak keluar dari ruangan adalah memastikan seluruh aliran listrik, gas, dan air di dalam ruangan tersebut telah dipadamkan.

Pintu Darurat

Bagi mereka yang berada di lantai 2, 3, dan seterusnya, silahkan keluar dari gedung dengan menggunakan tangga. Dilarang menggunakan lift dalam kondisi seperti ini.

Absensi

Silahkan berkumpul dengan grup atau lab masing-masing sehingga memudahkan untuk mendata apakah seluruh anggota lab telah keluar dari gedung.

Setelah semuanya berkumpul di titik kumpul maka dilakukan beberapa kegiatan lainnya seperti:

  1. Latihan evakuasi korban yang mungkin terkena reruntuhan, jatuh, dan sebagainya.
  2. Latihan menggunakan APAR (alat pemadam api ringan).
  3. Latihan menghubungi pihak berwajib (pemadam kebakaran) dan memberitahukan lokasi gedung terjadinya kebakaran.

Latihan tanggap darurat yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini membuat bangsa Jepang lebih siap menghadapi kondisi bencana dengan lebih tenang.

Latihan dengan Keluarga

Latihan tanggap darurat ini pada umumnya dilakukan di sekolah maupun tempat kerja. Lalu, bagaimana dengan istri yang sehari-hari di rumah? Pada umumnya, kantor desa akan memberikan dokumen “Living In Tokai”. Buku ini berisi tentang panduan hidup yang membahas mulai dari A hingga Z. Didalamnya tentu ada panduan menghadapi bencana alam seperti gempa.

Selain dari itu, kami juga memperoleh Peta Desa Tokai ukuran A1. Peta ini kami tempelkan di salah satu dinding di rumah dengan tujuan untuk mengetahui lokasi rumah, kantor, dan tempat perlindungan (evacuation assembly point).

Saya dan istri berulang kali saling mengingatkan apabila terjadi bencana sewaktu jam kerja dan ada instruksi untuk evakuasi maka kami setidaknya sudah tahu dimana titik evakuasi terdekat maupun sekitarnya.

Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Sebelumnya di: Ada apa dengan Cesium-137??? Pada tulisan tersebut saya menuliskan “Reaksi fisi nuklir terjadi di dalam reaktor nuklir”. Pendahuluan Mungkin sudah banyak dari kita yang sering melihat baik melalui film, berita, maupun media massa gambar-gambar yang berhubungan dengan nuklir khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Nah, ada yang menarik perhatian saya selama ini. Dari gambar-gambar … Continue reading “Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang. Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah. Gambaran singkat yang … Continue reading “Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)”

Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Bagi setiap pasangan suami istri, kehamilan pertama tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Mulai dari rasa senang, bahagia, khawatir, dll semua bercampur aduk. Kalau di Indonesia, mungkin lebih sederhana karena tinggal datang ke rumah sakit, diperiksa dan bagi mereka pemegang asuransi BPJS atau asuransi dari kantor akan memperoleh bantuan keringanan biaya atau bahkan biaya ditanggung penuh oleh … Continue reading “Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.”

Featured

“One Day Trip” Air Terjun Fukuroda

Kegiatan lain yang kami lakukan pada musim panas tahun ini adalah mengunjungi salah satu tempat wisata terkenal di Ibaraki, Fukuroda Waterfall (Air Terjun Fukuroda).

Air terjun Fukuroda terletak di kota Daigo, Prefektur Ibaraki dan berjarak sekitar 50 km dari Desa Tokai. Berdasarkan info dari Fukuroda Falls Travel Guide, air terjun termasuk ke dalam tiga besar air terjun terindah di Jepang. Sebenarnya, saya sudah pernah berkunjung ke Air Terjun Fukuroda pada tahun 2015. Akan tetapi, ini adalah kali pernah untuk Henokh dan maminya berkunjung ke Fukuroda.

Akses

Ada dua pilihan utama untuk menuju Air Terjunn Fukuroda yaitu menggunakan kendaraan pribadi (mobil) maupun kereta. Dari stasiun kereta Fukuroda (Fukuroda station) menuju ke air terjun Fukuroda bisa ditempuh sekitar 40 menit berjalan kaki (sekitar 3 km).

Informasi lengkapnya, bisa dilihat di website berikut ini: Fukuroda Falls Travel Guide


Saya akan menceritakan perjalanan “One day trip” ke Fukuroda Waterfall dari Desa Tokai.

Air Terjun ‘Fukuroda’

10:30 JST

Perjalanan hari ini dimulai sekitar pukul 10.30 pagi dari desa Tokai. Menurut informasi dari Google Map, kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit untuk tiba di Fukuroda Waterfall dengan menggunakan mobil (tidak lewat jalan tol). Selain itu, informasi lainnya tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda kemacetan di sepanjang perjalanan.

Baru saja 30 menit berjalan, Henokh yang awalnya begitu menikmati perjalanan, ternyata sudah lebih dahulu tertidur. Sepanjang perjalanan, telihat jelas hamparan sawah dan ladang yang ditanami berbagai macam sayuran. Hal ini tentu saja berbeda 180o dengan pemandangan perkotaan seperti Tokyo.

12:00 JST

Salah satu keunggulan Jepang dalam bidang pariwisata adalah penataan ruang disekitar tempat wisata. Tempat parkir, toilet umum, restoran, toko souvenir, dll tertata dengan baik dan rapi. Selain itu, pedestrian pun tersedia dengan cukup untuk bisa menampung pejalan kaki bahkan orang tua yang membawa anak bayi menggunakan stroller.

Kami pun memarkirkan mobil disalah satu tempat parkir. Jarak antara tempat parkir ke pintu masuk air terjun cukup jauh. Bagi mereka yang membawa anak bayi (balita), ada baiknya membawa stroller untuk memudahkan perjalanan.

Biaya parkir yang harus dibayarkan adalah sebesar ¥ 500 per hari.

Makan siang

Sebelum memulai petualangan, kami menikmati makan siang dengan menyantap makanan Jepang disalah satu restoran yang ada disana.

Sejauh saya berkunjung ke beberapa wilayah di Jepang, Ramen, Udon, Soba, Kare Jepang, dan Oyakodon adalah beberapa menu yang paling sering ditemui. Harganya pun cukup terjangkau dengan kisaran ¥ 900 – 1.500.

Selain itu, terdapat juga penjual di tepi jalan yang menjajakan cemilan berupa ikan sungai yang dibakar (diasapi) dan dihidangkan dengan cara ditusuk seperti sate. Harga yang ditawarkan untuk seekor ikan bakar sekitar ¥400.

13:30

Untuk bisa menikmati keindahan air terjun Fukuroda, kita harus membayar tiket masuk sebesar ¥ 300 untuk satu orang dewasa.

Demi tetap menjaga keamanan dan kesehatan di masa pandemi COVID-19, suhu tubuh akan diukur oleh seorang petugas sebelum membeli tiket masuk.

Setelah mempunyai tiket, maka kita akan berjalan di dalam terowongan panjang yang akan menghantarkan kita ke dua tempat utama untuk menikmati pemandangan air terjun di lantai tersebut.

Sedangkan tempat utama untuk menikmati keindahan air terjun tersebut terletak sekitar 40 meter diatas terowongan. Tenang aja, kita kita perlu berjalan jauh atau memutar atau bahkan menaiki anak tangga karena ada dua buah lift yang tersedia secara gratis untuk membawa kita ke atas.

Gokil yaaa… Kepikiran banget dibuatkan lift untuk menikmati air terjun. Hahaha

Kami pun dengan mudah membawa Henokh menikmati pemandangan air terjun. Henokh juga bisa duduk di stroller dengan nyaman kalau dia sudah lelah untuk berjalan kaki.

Antrian menggunakan lift di dalam terowongan.

15:30 JST

Kami memutuskan untuk pulang setelah puas menikmati pemandangan air terjun Fukuroda. Meskipun air terjun Fukuroda berada di daerah pegunungan tetapi udara musim panas cukup terasa dan cukup lembab. Hal ini membuat keringat mengalir tanpa henti.

Kami berasumsi bahwa musim gugur adalah saat terbaik mengunjungi air terjun ini. Dedaunan yang sudah berwarna warni ditambah suhu udara yang sejuk akan jadi nilai plus tersendiri untuk menikmati keindahan Fukuroda.

Perjalanan pulang dari Fukuroda ke Desa Tokai, kami tempuh dengan jalur yang berbeda dengan jalur kedatangan kami. Pada saat kami datang, hamparan sawah menemani sepanjang perjalanan. Sedangkan perjalanan pulang kami ditemani oleh pemandangan pegunungan dengan kontur jalan yang berliku-liku.

Pemandangan disepanjang jalan pulang mengingatkan saya kepada kondisi jalan menuju kampung halaman di Indonesia. Kondisi jalan dan pemandangannya hampir sama dengan jalur dari Medan ke Berastagi.

Untuk menambah keindahan perjalan pulang, kami memutuskan untuk masuk ke Desa Tokai melalui pinggiran kota Hitachi dengan pemandangan Samudera Pasifik di sepanjang jalan.

Jembatan gantung menjadi salah satu akses menuju ke dalam terowongan.

19:00 JST

Perjalanan hari ini ditutup dengan menikmati makan malam di sebuah restoran italia bernama ‘Saizeria’. Sebuah restoran Italia dengan harga mahasiswa.

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Misteri Ayam Belatung

Tidak terasa acara yang dilaksanakan di kota A selama seminggu ini akan berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dan sorenya kami semua akan berpisah dan pulang ke kota masing-masing. Rombongan Jogja Kami menggunakan satu bus besar untuk menampung peserta dari Jogja. Karena jadwal berangkat bus sekitar jam 5 sore, maka dipastikan kami akan singgah untuk … Continue reading “Misteri Ayam Belatung”

Featured

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi).

Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu yang cukup terkenal di musim panas adalah keindahan Pantai “Oarai Sun Beach”.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, seluruh warga kota Oarai akan bergotong-royong membersihkan pantai di awal musim panas (biasanya awal bulan Juli) untuk menyambut wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahanan pantai dan lautnya. Lautnya cukup terkenal dengan ombaknya yang membuat banyak peselancar berdatangan ke Oarai.

Akan tetapi, pengunjung yang datang di musim panas 2020 sepertinya sangat jauh berkurang akibat dari pandemi COVID-19. Bahkan ketika kami mengunjungi pantai ini pada saat hari libur nasional (Hari Gunung), jumlah pengunjung yang ada di pantai ini sepertinya cukup sedikit. Padahal sebelum datang, kami berpikir akan terjadi kemacetan di dalam Oarai akibatnya banyaknya pengunjung yang hendak berlibur ke Oarai. Namun, hal tersebut tidak terjadi di hari itu.

Welcome Party

Hari itu, kami hendak mengadakan Welcome Party kecil-kecilan untuk salah satu teman lab sewaktu bersama-sama menuntut ilmu di Tokyo Tech karena dia sudah diterima bekerja di salah satu instansi nuklir nasional di kota Oarai.

09:30 JST

Kami sekeluarga beserta seorang teman berangkat dari Desa Tokai menuju ke “Oarai Sun Beach” di kota Oarai. Sebelum ke pantai, kami harus singgah terlebih dahulu di supermaket besar serba lengkap ‘COSTCO’ untuk membeli makanan dan minuman.

11:30 JST

Setelah selesai berbelanja dan membeli semua yang dibutuhkan, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Oarai.

Jarak antara Desa Tokai ke Kota Oarai kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan mobil.

Di saat yang bersamaan, teman yang lain juga sudah berangkat dari kota Mito ke Oarai.

“Private Beach Parking Lot” adalah titik pertemuan kami. Tidak ada kemacetan yang berarti sewaktu perjalanan menuju Oarai.

Pada musim panas seperti ini, dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar ¥1.000/hari. Akan tetapi, di luar musim panas tidak dikenakanan biaya parkir apabila mengunjungi pantai Oarai Sun Beach.

12:00 JST

Hari itu, suhu udara di Kota Oarai mencapai sekitar 34o C dengan matahari yang bersinar cukup cerah. Hal ini membuat pasir pantai cukup panas untuk diinjak tanpa menggunakan alas kaki.

Dari tempat parkir, kami harus berjalan sejauh 500 meter menuju bibir pantai sambil membawa semua perlengkapan mulai dari tenda, kursi, makanan, minuman, hingga stroller Henokh.

Belum lagi acara Welcome Party dimulai, kami sudah basah kuyup karena udara yang cukup panas.

Dengan kondisi pantai yang tidak ramai, kami cukup mudah untuk menemukan tempat yang sesuai bagi kami. Begitu dapat, tenda pun menjadi hal yang pertama kami dirikan sebagai tempat berteduh.

Henokh dan Maminya sedang berteduh dari panasnya sinar matahari.

13:00 JST

Tanpa basa basi, kami pun langsung menyantap pizza yang telah dibawa sambil bercerita banyak hal.

Saya cukup beruntung karena istri cukup kenal dengan teman lab saya sewaktu kuliah di Tokyo Tech. Hal ini dikarenakan sewaktu kuliah, istri cukup sering berkunjung ke lab dan bahkan ngobrol bersama mereka.

Hal ini membuat istri tidak canggung ketika mengikuti acara reunian seperti ini.

Kembali lagi ke menu makanan yang kami persiapkan. Hari ini kami mempersiapkan beberapa jenis makanan seperti: nasi daging sapi, pizza, salad, dan kentang goreng. Sedangkan untuk minuman, air mineral dan beberapa botol jus dingin cukup menyegarkan ditengah teriknya cuaca.

Pastikan membawa cukup makanan dan minuman karena lokasi supermarket atau convenience store cukup jauh dari pantai.

14:30 JST

Setelah menikmati makanan dan minuman, Mami Henokh mengajak Henokh untuk bermain air di pinggir pantai. Sedangkan saya dan teman yang lainnya masih asyik mengobrol kenangan sewaktu di bangku kuliah. Salah satunya adalah membahas nasib play station yang ada di refreshing room yang sering digunakan untuk bermain diwaktu senggang (malam hari). Hehehe

Sambil mengobrol, sesekali saya meninggalkan teman-teman yang sedang mengobrol untuk menemani Henokh bermain air di pantai.

Dengan suhu udara yang cukup panas membuat air lautnya terasa sangat hangat. Hal ini membuat Henokh cukup senang bermain air. Akan tetapi, rasa air laut yang asin yang terminum oleh Henokh akibat terpaan ombak kecil membuatnya cukup kaget dan berlari menjauhi air laut. Hahaha

15:30 JST

Setelah merasa cukup lama bermain dan Henokh sudah mulai capek, akhirnya kami pun membawa Henokh ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh badannya.

Ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menggunakan jasa kamar mandi tersebut. Kita harus memasukkan koin ¥100 ke dalam mesin yang ada dikamar mandi untuk bisa menyalakan air hangat dari shower yang tersedia. Dengan uang ¥100, kita bisa menikmati air hangat sekitar 3-4 menit. Apabila waktu 3 menit dirasa belum cukup, silahkan masukkan kembali koin ¥100 ke dalam mesin tersebut.

Suasana musim panas di “Oarai Sun Beach” Jepang.

16:00 JST

Mami Henokh membawa Henokh ke dalam mobil untuk ngadem karena Henokh cukup sulit untuk tidur di suhu udara yang panas.

Di saat yang bersamaan, saya menyusul teman-teman yang sudah bermain ombak di laut. Bermain ombak di laut ternyata cukup menyenangkan. Semakin sore, terlihat cukup banyak peselancar yang mulai berdatangan. Hal ini membuat kami yang datang dengan tangan kosong, hanya bisa menghindar atau mencari tempat yang tidak banyak peselancar.

Sambil bermain di laut, sesekali saya memandang ke arah tenda kami. Ternyata, mami Henokh sudah ada disana sambil menggendong Henokh yang masih tertidur dengan lelap.

17:00 JST

Sekitar pukul 5 sore, beberapa petugas pantai sudah mulai berkeliling sambil memberitahu kalau pantai akan ditutup jam 6 sore. Selain itu, kondisi di laut pun sudah tidak kondusif untuk kami karena semakin banyak peselancar yang bermain membuat tidak ada tempat bagi kami. Hahaha

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menyudahi permainan ombak dan bersiap untuk membereskan semua barang bawaan kami.

INGAT..!!! SELALU BAWA PLASTIK SAMPAH

Menjaga kebersihan adalah hal utama yang perlu diingat ketika tinggal di Jepang. Jangan berharap banyak disediakan tempat sampah di pantai. Jadi, selalu bawa plastik sampah sendiri dan silahkan membawa pulang sampah tersebut.

Selanjutnya, kami pun membersihkan diri di kamar mandi sebelum akhirnya meninggalkan pantai.

19:00 JST

Setelah seharian bermain di pantai, akhirnya tiba juga di rumah dengan selamat. Meskipun udara panas, tetapi cukup membuat memori yang bagus untuk Henokh karena ini adalah pertama kalinya dia bermain air di pantai.

One day trip bersama keluarga sekaligus dengan reuni teman lab adalah hal yang menyenangkan. Selain bisa menjaga tali persaudaraan dengan teman lintas negara, para istri juga bisa saling bertukar cerita tentang kehidupan membesarkan anak di Jepang. Bahkan teman Jepang juga bisa melihat sudut pandang yang baru bagaimana orang asing menjalani hidup di Jepang.

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”

Featured

Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”.

Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri.

Setelah satu tahun tinggal di asrama kampus yang terletak di daerah Yokohama, maka tahun kedua sebagai mahasiswa Master, saya memutuskan untuk mencari Apato yang lebih dekat dengan kampus (Ookayama Campus) dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tokyo Institute of Technology mempunyai dua kampus utama: Ookayama Campus (Tokyo) dan Suzukakedai Campus (Yokohama).”

Dikarenakan biaya apato di sekitar kampus Ookayama terbilang cukup mahal, maka saya dan seorang teman (Ashlih) memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah apato dengan tujuan bisa berbagi biaya sewa apato.

Melalui agen pencari apato, kami menemukan apato yang sesuai dengan kriteria yang kami cari. Tentunya harga adalah kriteria yang utama. Hehehe

Biaya Sewa dan Luas Apato

Apato yang kami sewa terletak sekitar 10 menit jalan kaki dari Stasiun Ookayama (stasiun utama menuju Ookayama Campus). Dengan jarak yang relatif dekat ke kampus, kami harus membayar sewa apato sebesar ¥ 75.000/bulan. Tentunya biaya tersebut diluar biaya listrik, air, gas, dll. Dengan harga segitu, kami memperoleh apato dengan ukuran sekitar 33 m2.

Fasilitas

Apato yang kami peroleh berada di lantai 1 dan berada di pojok (menghadap jalan). Hal ini membuat apato tersebut mendapatkan sinar matahari yang cukup di pagi hari.

Dengan ukuran 33 m2, apato ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 dapur (kitchen), kamar mandi, dan toilet. Komposisi seperti ini sering sekali di singkat menjadi 2K (2 kamar tidur dan kitchen). Selain itu apato ini tidak dilengkapi dengan pendingin udara (AC). Lampu hanya tersedia di toilet, kamar mandi, dan dapur. Oleh karenanya, kita harus membeli lagi lampu untuk kedua kamar tidur.

Selain itu, hal yang biasanya ditemui pada apato dengan ukuran mungil seperti tempat kami adalah posisi mesin cuci yang berada langsung di beranda belakang.

Tahun 1945

Salah satu hal yang mengejutkan sewaktu membaca detail kontrak, apato tersebut dibangun pada tahun 1945. Wowwww.. Usia apatonya sama dengan usia negara Indonesia.

Kondisi

Dengan kondisi apato yang sudah berdiri dari tahun 1945, tetapi selama dua tahun tinggal di apato tersebut tidak ada sama sekali masalah. Gempa yang berkali kali datang pun seolah olah tidak memberikan dampak apapun terhadap bangunan apato tersebut.

Seandainya saya tidak diberitahu mengenai bangunan apato tersebut, mungkin saya tidak terpikir bahwa bangunan itu berdiri sudah sangat lama.

Dari awal sejak kami menandatangani kontrak, sudah dijelaskan bahwa kontrak sewa tersebut hanya berlaku selama dua tahun dan tidak bisa diperpanjang karena pemilik apato berencana untuk melakukan renovasi.

Musim Panas vs Musim Dingin

Hal yang paling berkesan selama tinggal di apato ini adalah musim panas yang harus dilalui tanpa pendingin udara (AC). Oleh karena itu, saya biasanya menghabiskan waktu hingga larut malam selama musim panas di laboratorium karena sangat nyaman dan menghindari panasnya suhu udara di Tokyo.

Sedangkan musim dingin, kami menggunakan sebuah penghangat udara (portable gas heater) untuk menghangatkan kedua kamar tidur kami. Karena kedua kamar dibatasi oleh pintu geser (model rumah jepang), maka kadang kala kami membuka pintu tersebut supaya heater gas dapat menghangatkan ruangan kamar secara bersamaan.

Kenangan di Apato 1945

Bangunan Apato yang kami tempati di periode 2013-2015.
Berfoto dulu di depan apato sebelum menghadiri wisuda Master (2014) di Tokyo Institute of Technology.
Mesin cuci dan beranda belakang yang tertutup salju (2013).

“One Day Trip” Bermain Salju

Awal tahun 2020 dimulai dengan ikut berpartisipasi dalam acara “one day trip” bersama jemaat gereja GIII Oarai. Trip ini dilaksanakan pada tanggal 2 Januari 2020 dengan tujuan bermain ski di Minakami Kogen Resort 200 dan  dilanjutkan dengan melihat permainan lampu-lampu (illumination) di Asikaga Flower Park. Ini adalah perjalanan wisata awal tahun bagi saya, istri dan … Continue reading ““One Day Trip” Bermain Salju”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara. Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain … Continue reading “One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’”

Featured

Mudahnya Pencairan Asuransi Jiwa Henokh di Jepang.

Dua hari setelah kejadian The Accident, dimana keadaan Henokh sudah membaik dan luka di kening sudah mulai kering maka saya teringat kalau Henokh mengikuti program Asuransi Jiwa di Jepang. Asuransi Jiwa ini berbeda dengan asuransi kesehatan.

Saat itu, saya hanya ingin mencoba apakah Asuransi Jiwa tersebut bisa mengcover kecelakaan yang dialami Henokh. Dengan bantuan dari seorang teman kerja, akhirnya kami pun menghubungi pihak asuransi melalui telepon.

Beberapa hal yang perlu dijelaskan kepada pihak asuransi yaitu: Lokasi kejadian, Waktu, Luka yang dialami, Bagaimana kecelakaan bisa terjadi, Melibatkan pihak lain atau tidak, hingga alamat rumah sakit.

Setelah menjelaskan secara detail dan jujur kejadian tersebut, pihak asuransi pun langsung mengkonfirmasi kalau kejadian tersebut bisa dicover oleh asuransi jiwa. Selanjutnya, akan dikirim beberapa dokumen ke alamat rumah.

Dua hari setelah pembicaraan melalui telepon, akhirnya dokumennya tiba dirumah. Dokumen tersebut kurang lebih berisi formulir yang hampir sama dengan apa yang telah ditanyakan melalui telepon. Selain itu, diwajibkan untuk melampirkan fotocopy nota pembayaran dari Rumah Sakit.

Setelah melengkapi dokumen tersebut, silahkan masukkan dokumen tersebut ke dalam amplop yang telah disediakan. Kirimkan ulang dokumen tersebut ke kantor asuransi melalui kotak pos terdekat.

Sekitar satu minggu, maka pihak asuransi akan mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Besaran biaya yang diganti oleh pihak asuransi bergantung dengan kondisi kecelakaan dan beberapa hal yang telah disebutkan pada awal mendaftar asuransi jiwa.

Dalam kasus ini, kami memperoleh biaya dari pihak asuransi yang jumlahnya lebih banyak dari biaya yang kami keluarkan di RS (¥600).

Ternyata proses pencairan asuransi jiwa di Jepang cukup mudah dan tidak ribet.

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day

Setelah selesai beberapa rangkaian kegiatan di hari Minggu sore hingga malam, akhirnya tiba waktunya mengecek HP untuk melihat perkembangan dunia maya. Salah satunya adalah kiriman gambar di salah satu grup WA mengenai Mother’s Day. Awalnya cukup heran dan bertanya-tanya, ada peringatan apa di hari Minggu 10 Mei 2020? Demi menjawab pertanyaan itu, akhirnya saya pun … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day”

“2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)

Agustus 2015 Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu karena dengan polosnya mengajak istri untuk mendaki Gunung Fuji. Kejadian ini berawal dari informasi PPI Tokodai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology) akan menggelar acara rutin di musim panas yaitu Mendaki Gunung Fuji. Saat itu saya menawarkan ke Laura (istri) apakah mau ikutan naik … Continue reading ““2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 1/3)”

Featured

The Accident

Rencana untuk bermain ke pantai di Hari Sabtu pun terpaksa batal terlaksana karena hujan turun sepanjang hari. Hal ini membuat kami bertiga hanya diam di rumah dan bermalas-malasan sambil berharap kepada ramalan cuaca yang memperlihatkan kalau hujan akan berhenti di sore hari.

15:00 JST

Hujannya berhenti…!!! Ayo bersiap-siap..!!!

Hujan di luar sudah reda, tetapi awan gelap masih berada tepat di atas langit desa Tokai. Hal ini membuat saya ragu untuk bermain ke pantai. Penyebab lainnya tentu saja pasir pantainya masih basah akibat hujan deras yang turun dari tadi pagi.

Akan tetapi, melihat Henokh yang sejak tadi berdiri di depan jendela sambil berharap bisa bermain keluar, membuat saya dan mami Henokh memikirkan alternatif tempat lain yang bisa dikunjungi.

“Hemmm… Ajak Degi keluar sekalian makan malam bareng yukk. Udah lama juga kita gak jalan bareng dia.”, tercetus lah pikiran tersebut dari saya.

“Boleh.. Hubungi lah dia.”, sahut Mami Henokh.

Degi adalah teman kuliah saya sewaktu di Tokyo. Saat ini kami bekerja di tempat yang sama di Desa Tokai.

Kebetulan juga Degi sedang punya waktu kosong sehingga kami pun memutuskan untuk pergi ke Outlet “Fashion Cruise” yang ada di kota Hitachinaka.

16:00 JST

Baru saja kami hendak berangkat menuju Fashion Cruise, hujan lebat menemani sepanjang perjalanan. Uniknya, hujannya berhenti lagi ketika kami tiba di tempat tujuan. Padahal jarak dari rumah ke Fashion Cruise hanya sekitar 5 km.

Karena pada dasarnya kami tidak punya tujuan khusus (belanja), maka kami pun hanya sekedar melihat-lihat sambil menunggu jam makan malam. Henokh dan maminya pun mencari beberapa kebutuhan Henokh yang ada di salah satu toko bayi yang ada disana. Sedangkan saya menemani Degi yang hendak mencari perlengkapan badminton yang akan digunakan keesokan harinya bersama teman-temannya.

Berfoto disalah satu toko bayi yang ada di Fashion Cruise.

18:00 JST

Malam ini kita memutuskan untuk makan di restoran sushi yang ada di depan Fashion Cruise. Tidak ada yang istimewa dari makan malam singkat ini. Restoran sushi bar dengan ciri khasnya dimana makanan yang kita pesan diantar melalui conveyor yang ada di depan kita. Hal ini tentunya menjadi menarik bagi Henokh, si bayi kecil yang penasaran dengan piring-piring yang lalu lalang di depan dia.

19:00 JST

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk melihat-lihat ke toko UNIQLO yang masih berada di dalam kawasan Fashion Cruise. Mami Henokh hendak mencari baju musim panas buat Henokh. Sedangkan kami, hanya sekedar melihat-lihat saja.

Ternyata, sebelum masuk ke dalam, ada petugas yang akan memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung yang datang. Henokh dan maminya pergi ke bagian bayi sedangkan saya dan Degi pergi ke bagian pria.

Buuuummmmmm…..

Kurang dari 15 menit, akhirnya berempat bertemu disalah satu rak yang memajang pakaian kaos pria. Saya, Degi dan Mami Henokh berbincang sebentar, sedangkan Henokh ada disamping kami sedang berdiri. Beberapa detik kemudian, dia mulai berjalan dan entah kenapa sepertinya kakinya kurang stabil sehingga terjatuh dan keningnya membentur rak besi bagian bawah yang ada di dekat kami.

Kaget……

Kami yang melihat langsung bereaksi untuk mengangkat Henokh dari lantai. Awalnya hanya terlihat kening yang memerah dan kurang dari 3 detik setelah itu, darah mengalir dengan cukup deras.

Panikkkkk….

Mami Henokh langsung menggendong dan panik karena tidak ada membawa tas yang berisi tisu atau alat pembersih lainnya. Saya berlari menuju petugas di bagian pintu masuk untuk meminta pertolongan pertama serta memanggil ambulance.

Petugas yang sigap

Petugas tersebut dengan sigap mengambil tisu untuk menutup luka yang ada dikening Henokh. Sambil menahan aliran darah dengan tisu, petugas tersebut sekaligus memeriksa luka benturannya. Petugasnya menyarankan untuk dibawa ke RS yang ada di kota Hitachinaka (+/- 5 km).

Saya pun langsung mengambil alih Henokh dari Maminya supaya bisa lebih cepat menggendongnya menuju mobil yang terletak di parkiran.

IGD

Sekitar 15 menit kemudian, kami sudah tiba di RS tersebut. Kami menuju ke salah satu gedung yang berada disebelah kiri gerbang masuk. Gedung itu adalah klinik khusus yang ditujukan untuk pasien yang datang dimalam hari (diluar jam operasional) dan di hari libur.

Tiba di HItachinaka General Hospital.

Asuransi Kesehatan

Kemanapun kami berpergian, asuransi kesehatan adalah salah satu kartu wajib yang harus dibawa selalu. Selain itu, khusus untuk anak, ada lagi kartu “MARUFUKU” yang wajib dibawa selalu.

Perawat di RS, memeriksa terlebih dahulu suhu badan kami sebelum masuk. Selanjutnya, memeriksa kondisi kening Henokh. Darah dari lukanya masih terlihat tetapi tidak mengalir dengan deras. Perawat RS pun meminta kami menceritakan kronologis kecelakaannya dan setelahnya mempersilahkan kami duduk di kursi tunggu sembari melaporkan ke dokter dan mempersiapkan ruangan pemeriksaan.

Salah satu pertanyaan wajib dari Perawat RS adalah ” APAKAH ADA ASURANSI DAN KARTU MARUFUKU?”

Pemeriksaan oleh Dokter

Sekitar 5 menit setelah kami tiba di RS, akhirnya dokter memeriksa kondisi dan luka Henokh. Tentu saja Henokh nangis dengan kencang ketika hendak dibaringkan di tempat tidur. Karena nangisnya yang kencang dan meronta-ronta akhirnya dokter pun mempersilahkan Laura untuk menggendong Henokh.

Setelah lukanya dibersihkan dengan alkohol yang tentunya memberikan efek kejut dan menambah volume tangisan Henokh, luka tersebut ditutup dengan perban yang telah diolesi dengan obat salap.

Selanjutnya Henokh sudah mulai tenang dan dokter pun menjelaskan kondisinya. Hal yang perlu diperhatikan adalah Demam dan Muntah.

Kalau sepanjang malam ini Henokh demam atau/dan muntah, maka wajib dibawa ke RS (lupa istilah medisnya) yang menangani gejala geger otak atau sejenisnya. Seirei Memorial Hospital adalah RS yang dirujuk apabila terjadi dua hal tersebut sepanjang malam. RS ini merupakan yang terdekat dari tempat tinggal kami di Desa Tokai.

Selanjutnya, dengan tenang Perawat RS menjelaskan lebih detail lagi kondisi Henokh dengan bahasa yang mudah dimengerti dan membuat Mami Henokh bisa lebih tenang sedikit. Lalu, perawat tersebut memberikan obat salep untuk luka Henokh dan menjelaskan cara pemakaiannya.

Biaya

Sebelum meninggalkan RS, kami pun menyelesaikan urusan administrasi dan membayar ¥ 600 untuk biaya pemeriksaan dan sudah termasuk obat salep.

Malam hingga Keesokan harinya

Sekitar dua jam setelah sampai di rumah, Henokh kembali aktif seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, kami belum bisa menyentuh bagian sekitar keningnya karena dia masih merasa sakit. Akan tetapi, mami Henokh tidak bisa tidur dengan tenang sepanjang malam.

Puji Tuhan, Henokh tidak sampai demam atau muntah. Keesokan paginya pun, dia sudah kembali beraktifitas dengan normal lagi. Rasa sakit terjadi ketika hendak mengganti perban dikeningnya.

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

Featured

Kembang Api Musim Panas di Jepang

Pada tulisan sebelumnya, saya memaparkan secara singkat mengenai Dilema musim panas di Jepang. Suhu udara yang tinggi ditambah dengan kelembapan udara yang cukup tinggi menghasilkan kombinasi yang membuat saya tidak kuat berlama-lama beraktifitas di luar ruangan.

Disisi lain, festival kembang api (Hanabi 花火) adalah acara tahunan yang diadakan hampir setiap akhir pekan pada bulan Agustus di seluruh Jepang.

Tempat paling terkenal untuk festival ini berada di daerah Asakusa tepat di dekat Sungai Sumida (Sumida River Firework Festival). Infonya sih salah satu festival kembang api terbesar di Jepang dengan total sekitar 20.000 kembang api yang bisa dinikmati mulai dari pukul 19:00 hingga 20:00an malam.

Sayang sekali, untuk tahun 2020 sepertinya tidak ada festival kembang api akibat COVID-19.

Kembang Api di Sumida River

Tahun 2016, saya dan tiga orang teman mempunyai kesempatan menikmati pertunjukan kembang api di Sumida River. Untuk menghindari keramaian orang, kami pun janjian untuk bertemu di salah satu pintu keluar Stasiun Asakusa jam 4:30 sore. Meskipun acara baru mulai di malam hari, akan tetapi sudah terlihat keramaian di dalam maupun di luar stasiun. Sudah banyak rombongan orang yang hendak menikmati pertunjukan tersebut. 

Kami pun berusaha mencari-cari lokasi untuk bisa duduk dan menikmati pertunjukkan kembang api. Akan tetapi, sudah banyak orang yang menggelar alas duduk di sepanjang pinggiran sungai sejak siang atau mungkin dari pagi hari. 

Meskipun demikian, kami tetap berusaha berjalan menelusuri pinggiran sungai sambil berharap setidaknya ada tempat yang bisa menampung kami berempat untuk duduk dan menikmati kembang api. Sepertinya, kesempatan menikmati pertunjukan dari pinggiran sungai sudah tidak memungkinkan lagi sehinga kami pun mundur menuju ke jalan raya yang ditutup sementara untuk kendaraan bermotor dan berusaha menikmati dari situ bersama dengan ribuan orang lainnya.

Di beberapa trotoar jalan terlihat banyak pedagang makanan dan minuman yang berjualan. Selain itu, beberapa hotel di sepanjang jalan tersebut menawarkan rooftop mereka dipakai untuk menikmati festival kembang api. Tentunya tawaran ini tidak gratis.

Kami memilih untuk tetap berjalan di sepanjang jalan tersebut sambil berusaha menemukan tempat yang sekiranya bisa untuk menikmati kembang api tersebut. Akan tetapi, sepertinya hal tersebut cukup sulit sehingga kami memutuskan untuk berdiri di depan salah satu hotel dan menikmati pertunjukan kembang api yang telah dimulai sejak 30 menit yang lalu. 

Ternyata cukup sulit untuk bisa menikmatinya karena pemandangan yang terhalang oleh gedung bertingkat di depan kami. Meskipun demikian, kami berusaha untuk menikmati pertunjukan tersebut.

Sekitar pukul 20:00, pertunjukan telah usai dan kami harus kembali ke Stasiun Asakusa. Ternyata posisi kami menonton kembang api tersebut berjarak cukup jauh dari stasiun. Butuh waktu sekitar 20 menit jalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Kami bersama ribuan orang lainnya berjalan kaki menuju stasiun Asakusa. 

Menikmati Festival kembang api di Sumida River secara umum cukup menyenangkan akan tetapi tidak bisa berharap banyak mendapatkan tempat terbaik untuk bisa menikmatinya.

Ekspektasi saya adalah bisa duduk (meskipun tidak dilokasi terbaik) untuk menyaksikan kembang api. Realita yang saya temui adalah menyaksikan kembang api selama satu jam dengan berdiri.

Mencari lokasi untuk menikmati kembang api di Sumida River (1)
Tidak dapat tempat duduk, akhirnya menonton sambil berdiri dan berjalan.

Kembang Api di Tama River

Meskipun kembang api di Sumida River adalah salah satu terbesar di Jepang. Tetapi, Tamagawa Firework Festival adalah tempat menonton kembang api favorit saya. 

Festival ini berlangsung di Tamagawa Futagobashi Park dan stasiun terdekatnya adalah Futakotamagawa Station. Biasanya berlangsung dari pukul 19:00 hingga 20:00 JST dengan jumlah kembang api sekitar 6.000.

Beberapa alasan yang membuat saya menjadikan Tamagawa Fireworks Festival menjadi tempat terfavorit hingga saat ini.

  1. Lokasinya yang strategis bagi saya. Dari kampus Tokyo Tech (Ookayama) cukup membutuhkan sekitar 12 menit dengan kereta untuk dapat mencapai Futakotamagawa Station. Demikian juga akses dari rumah ke Futakotamagawa yang bisa ditempuh sekitar 7 menit dengan kereta.
  2. Daya tampung besar. Daerah pinggiran Tama River yang cukup besar memberikan keuntungan tersendiri yang dapat menampung ribuan pengunjung tanpa harus berdesak-desakan. 
  3. Fasilitas cukup memadai. Salah satu fasilitas yang tersedia adalah toilet portable dengan jumlah yang cukup banyak. 
  4. Aneka makanan dan minuman. Terdapat stand jualan yang tertata rapi sehingga memudahkan pengunjung untuk mengaksesnya.
Duduk santai menunggu kembang api di Tamagawa River.
Lokasi strategis tepat dibelakang barisan VIP (berbayar).
Rekaman beberapa detik puncak festival kembang api di Tamagawa.

Hampir setiap tahun di musim panas, saya menikmati pertunjukan kembang api di Tamagawa. Meskipun banyak orang yang memadati, tetapi kita bisa duduk santai menatap ke langit sambil melihat kembang api dengan berbagai macam motif.

Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.

Tokai adalah sebuah desa yang terletak di Prefektur Ibaraki, Jepang. Secara ekonomi, desa Tokai ditopang oleh sektor industri nuklir (pemerintah dan swasta). Beberapa industri nuklir yang terdapat di Desa Tokai adalah: Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Japan Proton Accelerator Research Complex (J-PARC), Nuclear Fuel Industries, The Japan Atomic Power Company Tokai No.2 Power Station (PLTN), … Continue reading “Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah … Continue reading “Perlu gak ya Dana Pensiun?”

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Featured

Persiapan Menghadapi Kecelakaan Nuklir.

Tokai adalah sebuah desa yang terletak di Prefektur Ibaraki, Jepang. Secara ekonomi, desa Tokai ditopang oleh sektor industri nuklir (pemerintah dan swasta).

Beberapa industri nuklir yang terdapat di Desa Tokai adalah: Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Japan Proton Accelerator Research Complex (J-PARC), Nuclear Fuel Industries, The Japan Atomic Power Company Tokai No.2 Power Station (PLTN), Nuclear Professional School The University of Tokyo, Japan Irradiation Service, Mitsubishi Nuclear Fuel, Mitsubishi Nuclear Fuel Station. 

Dengan ada banyaknya industri nuklir di desa Tokai (38 km2), maka tidak berlebihan bila saya menyebutkannya sebagai Desa Nuklir.

Pemerintah Desa Tokai pun melalui Disaster Prevention and Nuclear Energy Safety Section memberikan panduan apabila terjadi kecelakan nuklir.

Pada tulisan ini, saya mau membagikan beberapa informasi mengenai persiapan menghadapi kecelakaan atau bencana nuklir yang dirangkum dari pamplet/brosur yang diterbitkan oleh Pemerintah Tokai dan dibagikan kepada setiap warga masyarakat yang tinggal di Desa Tokai.

Nuclear Emergency

PLTN dan fasilitas nuklir lainnya secara serius untuk mencegah terjadinya pelepasan material radioaktif apabila terjadi kecelakaan atau bencana nuklir. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan terjadi situasi dimana radioaktif tersebar ke lingkungan diluar fasilitas nuklir tersebut dan dapat mengontaminasi lingkungan dan masyarakat yang ada disekitarnya. Situasi seperti ini disebut dengan “nuclear emergency”.

Karakteristik dari Nuclear Emergency

Nuclear Emergency mempunyai karakter yang unik dan berbeda dibandingkan bencana alam seperti banjir, kebakaran maupun gempa bumi.

  1. Kita tidak bisa menggunakan kelima indra untuk mendeteksi radiasi. Hal ini dikarenakan sifat radiasi yang tidak terlihat, tidak berbau, dan tidak bersuara.
  2. Kita tidak bisa menduga-duga penyebaran radiasi secara mandiri. Penyebaran radiasi hanya dapat diukur menggunakan alat khusus, salah satunya detector radiasi.

Nuclear Preparedness

Apabila terjadi kecelakaan atau bencana nuklir, maka ada hal mendasar yang perlu diketahui mengenai radiasi dan radioaktifitas secara benar. Hal ini berguna dalam mengambil tindakan yang benar untuk meminimalisir terpapar radiasi.

Tiga prinsip dasar untuk mengurangi tingkat paparan radiasi pada saat nuclear emergency:

  1. Menghalangi radiasi menggunakan perisai yang sesuai seperti beton (concrete).
  2. Mengatur jarak aman dari sumber radiasi.
  3. Mengurangi waktu paparan.

Dapatkan Informasi yang Akurat

  • Dapatkan informasi akurat dari sumber terpercaya melalui radio, TV, sosial media.
  • Jangan percaya kepada rumor atau informasi palsu.
  • Tetap di dalam rumah sampai ada instruksi lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Tukar informasi yang benar dengan tetangga dan cek kondisi mereka.
  • Jangan mencari informasi melalui telepon karena ada kemungkinan line telepon tidak bisa digunakan.

Evakuasi

Shelter indoors

  • Tutup semua pintu dan jendela.
  • Matikan sistem ventilasi udara.
  • Matikan AC.
  • Pastikan untuk mencuci wajah, tangan, ganti pakaian, serta tempatkan pakaian tersebut di kantong plastic atau tas.
  • Selalu update informasi melalui TV, radio atau internet.

Hal yang dilakukan sebelum Evakuasi

  • Matikan seluruh peralatan elekronik dan saluran gas.
  • Tutup pintu dan jendela.
  • Bawa barang-barang yang berharga, obat-obatan tapi tetap seminimalis mungkin.

Demikian informasi yang bisa dibagikan dan semoga bermanfaat.

Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae. Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”. Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!”

Featured

Dilema Musim Panas di Negeri Sakura

Sebagai orang Indonesia yang negaranya terletak di daerah tropis, suhu udara dengan rata-rata diatas 30 derajat Celcius adalah hal yang biasa dialami sepanjang tahun. Berdasarkan hal inilah, saya awalnya menganggap kalau musim panas di negeri Jepang adalah suatu hal yang biasa saja. Hingga akhirnya saya merasakan sendiri musim panas di Jepang sejak tahun 2013 hingga saat ini.

Musim panas di Jepang (Tokyo dan sekitarnya) biasanya datang sesaat setelah selesai musim hujan. Pada umumnya mulai dari bulan Juli hingga akhir Agustus atau awal September. Anehnya, saya merasa musim panas tahun 2020 baru mulai awal Agustus ini.

Ada beberapa hal yang menarik bagi saya selama menjalani musim panas di Jepang.

1. Anggapan orang Indonesia tahan udara panas.

Insting bertahan hidup saya akan muncul begitu musim panas mulai datang yaitu menyalakan AC dan mengatur suhu di angka 23- 25 derajat Celcius. Ketika bekerja di Indonesia, bahkan suhu ruangan di kantor bisa diangka 20 derajat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan dari beberapa teman Jepang

TJ : Loh, Indonesia bukannya negara tropis dan suhu udaranya diatas 30 derajat ya?

I: Betul sekali, suhu di luar diatas 30an tapi di ruangan biasa kita nyalakan AC dengan suhu sekitar 23 derajat. Bahkan saya kalau tidur suhu AC nya diatur ke 19 derajat.

TJ: Hahhhh??? (Kaget dan Heran)

2. Hemat listrik

Salah satu budaya yang membuat saya salut dari negara ini adalah hemat listrik. Pada tahun 2013 ketika saya bersekolah di Tokyo Institute of Technology, akan ada terdengar bunyi alarm apabila konsumsi listrik melebihi batas maksimum. Ketika alarm ini berbunyi, maka wajib mematikan perangkat elektronik salah satunya AC selama 1 jam. Berdasarkan informasi yang saya terima, saat itu Jepang sedang berusaha mencukupkan kebutuhan listriknya setelah semua PLTN di non-aktifkan akibat peristiwa Fukushima.

Di tempat saya bekerja dan mungkin di kantor-kantor lainnya, akan ada stiker di sekitar AC yang menunjukkan batas minimum dan maksimum penggunaan suhu AC pada musim panas maupun musim dingin.

Terkadang perlu tambahan kipas angin disekitar anda untuk membuat daerah anda bekerja lebih nyaman karena suhu AC yang digunakan tidak cukup untuk mendinginkan ruangan tersebut.

3. Kelembapan Udara Tinggi

Tingkat kelembapan udara sewaktu musim panas di Tokyo sangatlah tinggi. Hal ini membuat udara terasa gerah (sumuk). Saya adalah tipekal orang yang mudah berkeringat, sehingga berjalan dari lab ke kantin yang berjarak 300 meter saja bisa membuat baju basah kuyup. Pakaian ganti, deodoran, alat mandi dan parfum adalah hal wajib yang selalu dibawa di dalam tas atau disimpan di loker kerja selama musim panas.

4. Aroma keringat di dalam kereta

Salah satu tanda dimulainya musim panas adalah aroma keringat yang sangat kuat terasa di dalam kereta. Aroma ini bisa dirasakan di dalam kereta terutama pada jam-jam sibuk. Bagi anda yang tidak kuat dengan aroma kuat dan menyengat, silahkan mempersiapkan diri dengan hal-hal yang dapat membantu menikmati perjalanan anda selama berada di dalam kereta.

Nasi telah menjadi sereal

Beberapa hari ini kepikiran dengan menu sarapan yang jauh berubah ketika tinggal di Indoneisa. Sewaktu menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja, sarapan dengan menu complit (nasi+sayur+lauk) adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebelum memulai aktifitas perkuliahan. Kalau ada kuliah pagi, setidaknya sebungkus roti yang dijual di warung dekat kosan harus dimakan untuk memperoleh energi selama … Continue reading “Nasi telah menjadi sereal”

Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….

Sudah lama rasanya tidak menuliskan cerita seri tentang celotehan kecil ala suami istri. Kali ini menceritakan celotehan antara sepasang suami istri pada saat sedang bersepeda bersama Henokh. Laura (L), Irwan (I), Henokh (H) I: Ayo siap-siap…sepedaan jam 10 aja ya biar gak panas kali di jalan nanti. L: Ok… Henokh siap-siap, ambil kaus kakimu nak … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #13. Gak bisa lewat sepedaku….”

Featured

Reksadana Pendapatan Tetap dan Reksadana Saham

Pada tulisan sebelumnya (Berinvestasi Rp.100.000 di Reksa Dana.), sudah diberikan pengertian secara sederhana tentang Reksadana serta jenis-jenis Reksadana.

Tulisan ini akan mencoba menggambarkan secara sederhana mengenai dua jenis Reksadana, yaitu Reksadana Pendapatan Tetap (RPT) dan Reksadana Saham (RS). Kedua jenis Reksadana tersebut akan dijelaskan secara sederhana berdasarkan pengalaman penulis berinvestasi di instrumen tersebut.

Bagi saya, ada dua alasan utama dalam memilih kedua jenis Reksadana tersebut:

  1. Tujuan Investasi.
  2. Faktor Resiko.

Saya akan menjabarkan secara singkat dan sederhana mengenai kedua alasan tersebut.

1. Tujuan Investasi

Saat ini, saya membagi tujuan investasi ke dalam dua katagori yaitu: Jangka Panjang dan Jangka Pendek.

Untuk investasi jangka panjang seperti Dana Pensiun (silahkan baca disini: Perlu gak ya Dana Pensiun?) maka Reksadana Saham adalah pilihan yang menurut saya sesuai dalam mencapai tujuan tersebut. Menurut saya (bisa juga salah ya..), untuk dana pensiun yang bagi saya masih tergolong jangka panjang, maka investasi di Reksadana Saham akan memberikan return (nilai pengembangan) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Reksadana Pendapatan Tetap.

Sedangkan investasi jangka pendek seperti Dana Darurat, Dana Pendidikan Anak (PAUD, TK) maka Reksadana Pendapatan Tetap adalah pilihan yang sesuai bagi saya. Walaupun return yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan Reksadana Saham, tetapi lebih aman secara resiko karena saya sifatnya tadi yang jangka pendek (1-2 tahun).

“Setiap orang punya pilihan yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan masing-masing”

2. Faktor Resiko

“High Risk High Return, Low Risk Low Return”

Ada hal yang paling mendasar yang perlu diketahui dalam berinvestasi: Setiap jenis investasi selalu punya resiko masing-masing.

Berdasarkan informasi yang bisa didapat melalui internet, buku, teman, dsb maka Reksadana Pendapatan Tetap adalah salah satu jenis reksadana yang mempunyai tingkat resiko yang lebih rendah dibandingkan dengan Reksadana Saham. Sehingga, pada umumnya hasil pengembangan Reksadana Pendapatan Tetap lebih kecil dibandingkan dengan Reksadana Saham.

Reksadana Saham mempunyai resiko tinggi karena jenis investasi ini bermain di saham yang nilainya bergerak secara dinamis. Contohnya: Nilai per lembar saham Perusahaan A pada hari Senin jam 10 pagi bisa berbeda dengan jam 2 siang di hari yang sama.

Karena sifatnya yang sangat dinamis, maka bagi saya kurang cocok untuk digunakan sebagai instrumen investasi dalam jangka pendek. Hal ini bisa dilihat secara nyata di tahun 2020.

Pengalaman Pribadi

Saya akan memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi investasi yang saya miliki terutama di tahun 2020, tahun yang penuh dengan gejolak ekonomi salah satunya akibat pandemi COVID-19.

Gambar 1. Investasi di Reksadana Penghasilan Tetap (RPT) selama periode Feb – Juli 2020.
Gambar 2. Investasi di Reksadana Saham (RS) periode Feb – Juli 2020.

Gambar 1 memperlihatkan grafik investasi pada RPT periode Feb-Juli 2020. Dari grafik tersebut bisa dilihat meskipun ada penurunan pada bulan Maret (efek COVID-19) tapi secara keseluruhan nilai investasi saya dibulan April sudah bisa menutupi kerugian di bulan Maret. Bahkan secara keseluruhan pengembangan investasi saya di RPT bernilai positif.

Gambar 2 memperilihatkan grafik investasi pada RS periode Feb-Juli 2020. Investasi saya sejak bulan Feb dan Maret sudah bernilai negatif. Bahkan, di bulan Maret terlihat penurunan yang cukup signifikan. Meskipun demikan, sudah ada tanda-tanda perbaikan dari bulan April hingga Juli. Akan tetapi, secara keseluruhan nilai investasi saya pada periode Feb- Juli 2020 masih negatif. (Semoga di bulan-bulan selanjutnya ekonomi semakin membaik sehingga investasinya bisa bernilai positif).

Bagi saya yang meletakkan dana darurat pada instrumen reksadana yang mempunyai resiko rendah cukup membantu pikiran dan ketenangan jiwa karena tidak begitu khawatir dengan pergolakan ekonomi seperti yang terjadi saat ini.

Sedangkan untuk dana pensiun yang masih bersifat jangka panjang, maka saya juga tidak begitu khawatir dengan fluktuasi yang terjadi pada bulan Maret kemarin, meskipun nilainya turun tapi karena tujuan jangka panjang maka saya percaya bahwa nilainya akan naik kembali.

Semoga tulisannya bisa bermanfaat ya.

Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong. Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur. Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini … Continue reading “Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!”

Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?

Sebelumnya di: Ada apa dengan Cesium-137??? Pada tulisan tersebut saya menuliskan “Reaksi fisi nuklir terjadi di dalam reaktor nuklir”. Pendahuluan Mungkin sudah banyak dari kita yang sering melihat baik melalui film, berita, maupun media massa gambar-gambar yang berhubungan dengan nuklir khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Nah, ada yang menarik perhatian saya selama ini. Dari gambar-gambar … Continue reading “Dimanakah Reaktor Nuklirnya berada?”

Terbang bersama Henokh: Tokyo-Jogja

Musim Panas 2019 Liburan musim panas ini, kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Tantangan utamanya adalah membawa Henokh yang masih berusia sekitar 4 bulan. Bukan perkara mudah apalagi tidak ada pesawat langsung dari Tokyo menuju ke Jogja. Mencari maskapai penerbangan Beberapa kriteria kami ketika mencari maskapai penerbangan: Pesawat malam. Asumsi kami, Henokh nantinya bisa tidur … Continue reading “Terbang bersama Henokh: Tokyo-Jogja”

Featured

30 Menit Bersama Henokh.

Hampir selalu di setiap siang atau sore, mami Henokh menelepon dan berkata ” Nanti sore, kami mau main ke taman. Mau nyusul gak? Dan hampir selalu jawaban saya ” OK. Sekitar jam 6an ya.”

Kalau dipikir-dipikir, waktu yang saya berikan bermain bersama Henokh sepulang kerja hanya sekitar 30 menit. Dimana setelah pulang dari lab sekitar jam 6 sore, saya langsung mengayuh sepeda menuju taman dan bermain bersama Henokh hingga jam 7.

30 menit yang berharga

Hal pertama yang sering saya lakukan ketika sudah sampai di taman adalah membunyikan bel sepeda sambil memanggil “Henokh…Henokh…” sambil menuju parkiran sepeda. Kebahagian yang utama adalah Henokh yang segera berlari kecil menuju parkiran sambil senyum atau teriak-teriak memanggil ” Papa…Papa..Papa”

Biasanya Maminya ditinggal atau dicuekin. Hal ini kadang bisa buat maminya cemburu. Hahaha

Hal yang biasa kami lakukan di taman adalah melihat gerombolan burung di udara yang terbang atau anjing yang sedang berjalan bersama dengan majikannya. Setelah sejenak berdiri menikmati suasana tersebut, lalu Henokh pun berlari menuju pelosotan favoritnya.

Taman bermain favorit Henokh karena dekat rumah.

Sambil dia berlari menuju ke pelosotan, maminya bercerita kalau Henokh sudah bisa naik tangga sendiri dan mau memilih pelosotan yang lebih tinggi. Selain itu, maminya biasanya menceritakan setiap perkembangan dan tingkah laku Henokh sepanjang hari. Tentu saja tidak lupa dengan kejailan-kejailan Henokh yang sering ngerjain maminya. Hahaha

Kami pun menemani Henokh bermain pelosotan atau sekedar naik turun wahana bermain lainnya. Dan tidak terasa langit mulai gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Terjatuh sewaktu mau mendaki salah satu wahana bermain.

30 menit adalah waktu yang singkat. Tinggal bagaimana memanfaatkannya dengan baik. Saya memilih menghabiskan 30 menit tersebut dengan keluarga kecil di Desa Tokai.

Henokh sedang unjuk kebolehan menaiki salah satu wahana bermain. (Dok. Pribadi)

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja. Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)”

Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?

Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang. Kembali lagi dengan percakapan sepasang suami istri di meja makan. Cuaca dan suhu udara di Desa Tokai memasuki bulan April ini sangatlah bagus untuk menikmati matahari di luar. Beruntungnya ada taman bermain kecil yang terletak tepat disebalah apartemen. Jadi, bisa mengajak Henokh bermain … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #2. Henokh mau punya adek?”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Featured

Sabtu Ceria di Desa Nuklir (2)

Bersepeda di jalanan Desa Tokai adalah salah satu hal yang menyenangkan dilakukan setiap hari. Hari Sabtu itu adalah kesempatan yang tak akan kami lewatkan untuk bersepeda berkeliling desa. Tujuan kami adalah membawa Henokh ke pantai yang ada di belakang tempat saya bekerja.

Di musim hujan seperti ini, ada baiknya untuk mengecek ramalan cuaca sebelum memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Berdasarkan informasi ramalan cuaca tersebut, cuaca mendung akan menghiasi desa Tokai dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pergi dari pagi hingga siang hari. Kebetulan juga ada kegiatan lain yang harus dihadiri di sore harinya secara online.

Jalanan dari rumah menuju ke pantai cukup sepi sehingga kami bisa bersepeda dengan santai dan menikmati pemandangan sekitar. Sekitar 1 km sebelum pantai, kami harus menempuh jalan yang sedikit off road dan jalanan setapak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke pantai karena roda sepeda yang tidak bisa (tidak aman) melanjutkan perjalanan. Pilihan lainnya adalah kami harus memarkirkan sepeda dan berjalan kaki ke pantai. Pilihan ini tidak kami ambil mengingat waktu yang dibutuhkan akan lebih lama dan kami ada kegiatan lain di sore harinya.

Kami pun memutar balik arah sepeda kami hingga kami sadar kalau disekitar daerah tersbut adalah taman terbesar di Desa Tokai, ‘Akogigaura Park’.

Kami pun memutuskan untuk membawa Henokh bermain di taman tersebut. Hari ini adalah hari pertama bagi kami bertiga untuk bermain di taman tersebut.

MENAKJUBKAN…!!!!!

Tidak sabar kami mengayuh sepeda ke Akogigaura Park. Dari simpang jalan hingga ke arah taman bermain anak, kami disuguhi dengan pohon sakura yang akan sangat indah apabila dilalui pada saat bunga sakura sedang mekar-mekarnya. Hingga kami disuguhkan oleh taman bermain yang sangat menakjubkan untuk ukuran sebuah desa.

Ini adalah taman bermain terbesar dan terlengkap yang ada di Desa Tokai. Taman bermain ini bisa dinikmati dari anak usia 1 -12 tahun. Ada terdapat berbagai jenis permainan yang bisa dinikmati oleh anak sesuai usianya. Karena ini pertama kalinya kami datang ke taman ini, saya dan istri sampai tidak bisa berkata- kata melihat bagaimana Desa Tokai menyediakan berbagai fasilitas untuk warganya.

“Wajib datang ke taman Akogigaura lagi..!!!”

Henokh pun tidak sabar untuk segera turun dari sepeda dan setengah berlari menuju permainan favoritnya, “Pelosotan”. Dia berlari kesana kemari setelah mencoba beberapa permainan. Selain itu, sifat bersahabatnya di tunjukkan dengan menghampiri anak-anak yang seusianya atau diatasnya untuk diajak berkomunikasi atau bermain.

Saya dan istri pun tidak tahu bahasa apa yang dipakai Henokh ketika berbicara dengan anak bayi lainnya. Yang ada, kami melempar senyum kepada orangtua yang anaknya sedang diajak Henokh bermain.

Tidak terasa satu jam sudah terlewatkan karena menikmati beragam permainan di taman. Kami pun harus kembali pulang mengingat jam makan siang Henokh yang sudah lewat.

Membuat Memori

Bagi saya sendiri, hal sederhana seperti ini adalah momen dimana saya membuat memori menikmati kebersamaan bersama keluarga kecil di desa ini.

Akan jadi memori yang tidak akan terlupakan tentunya bagi saya dan istri. Sedangkan tulisan ini menjadi memori bagi Henokh nantinya ketika dia sudah besar bahwa banyak hal-hal seru yang dilalui bersama selama tinggal di Desa Tokai bersama kedua orangtuanya.

Foto sebagai pemanis

Berikut ini beberapa foto di taman bermain “Akogigaura Park”

Wahana bermain anak-anak. (Dok. pribadi)
Pelosotan adalah salah satu wahana favorit anak-anak.
Papan informasi wahana yang ada di Akogigaura Park.
Yuk baca tata tertib bermain di taman.

“One Day Trip” Oarai Sun Beach

Pada seri cerita “One Day Trip”, saya sudah pernah menceritakan mengenai kota Oarai. Salah satu kota kocil yang terletak di Prefektur Ibaraki. (Silakan baca di: “One Day Trip” ke Oarai-machi). Seperti di tulisan sebelumnya, sepertinya satu hari tidaklah cukup untuk menikmati keindahan kota Oarai. Banyak hal yang bisa ditemukan di kota kecil ini dan salah satu … Continue reading ““One Day Trip” Oarai Sun Beach”

Apato 1945 di Tokyo

Selama kurang lebih 8 tahun tinggal di Jepang, saya sudah beberapa pindah kos-kosan. Di Jepang sendiri, istilah kos-kosan ini lebih dikenal dengan nama “APATO”. Mahasiswa asing yang baru pertama kali datang ke Jepang, biasanya akan tinggal di asrama kampus selama maksimal satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa tersebut harus mencari tempat tinggal sendiri. Setelah satu tahun tinggal … Continue reading “Apato 1945 di Tokyo”

Mudahnya Pencairan Asuransi Jiwa Henokh di Jepang.

Dua hari setelah kejadian The Accident, dimana keadaan Henokh sudah membaik dan luka di kening sudah mulai kering maka saya teringat kalau Henokh mengikuti program Asuransi Jiwa di Jepang. Asuransi Jiwa ini berbeda dengan asuransi kesehatan. Saat itu, saya hanya ingin mencoba apakah Asuransi Jiwa tersebut bisa mengcover kecelakaan yang dialami Henokh. Dengan bantuan dari … Continue reading “Mudahnya Pencairan Asuransi Jiwa Henokh di Jepang.”

Featured

Menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang

Ketika berbicara tentang Jepang, pasti tidak lepas dari sistem transportasi yang sangat bagus. Ketika saya tinggal di Tokyo selama 5 tahun lebih, terlihat bahwa sistem transportasi umum sudah sangat bagus dan terintegrasi. Transportasi umum yang paling sering saya gunakan (hampir 99%) adalah kereta. Bahkan selama tinggal di Tokyo, tidak terpikir sedikitpun untuk mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi) Jepang. Salah satu alasan utama dibenak saya adalah untuk apa lelah mengendarai mobil jika bisa duduk santai dan nyaman di dalam kereta yang bisa mengantarkan ke tempat lain dengan lebih cepat.

Selain itu, mempunyai mobil di Jepang khususnya di Tokyo membutuhkan biaya yang cukup besar khususnya untuk parkir. Salah satu syarat yang dibutuhkan adalah menunjukkan tempat parkir mobil anda. Hal ini untuk membuktikan kalau mobil tersebut punya “tempat tinggal” bukan di parkir sembarangan apalagi diparkir depan rumah orang lain.

Namun, kondisi tersebut ternyata cukup berbeda ketika saya mulai tinggal di Desa Tokai. Hampir setiap orang baik itu di Desa Tokai dan sekitarnya mempunyai mobil. Ternyata, meskipun ada akses kereta maupun bus tetapi frekuensinya tidak sebanyak di Tokyo.

Saya ambil contoh, untuk bisa mengunjungi kota Mito yang berjarak sekitar 15 km dari Desa Tokai, bisa ditempuh dengan menggunakan kereta. Akan tetapi, hanya ada 2 jadwal keberangkatan kereta setiap jamnya. Hal ini menyebabkan apabila anda telat, maka anda wajib menunggu kereta selanjutnya sekitar 30 menit. Sedangkan untuk rute bus hanya untuk di dalam Desa Tokai dan yang paling jauh adalah ke tempat wisata Hitachi Seaside Park di kota Hitachinaka yang berjarak 15 km dari Tokai. Jadwal keberangkatan bus pun sangat terbatas hanya ada 4 kali sehari untuk rute menuju Hitachi Seaside Park.

Dengan demikian, mempunyai SIM Jepang di daerah pedesaan ataupun ketika tinggal di luar kota-kota besar seperti Tokyo, Yokohama, Osaka, dll adalah suatu keharusan.

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menceritakan bagaimana cara memperoleh SIM Jepang dengan mengikuti kursus mengemudi di Jepang. Tapi tentu saja biaya yang dibutuhkan cukup besar.

Cara lain untuk mendapatkan SIM Jepang adalah dengan menukarkan SIM Indonesia yang kita punya. Berikut penjelasan singkat mengenai bagaimana cara menukar SIM Indonesia.

1. Terjemahkan SIM Indonesia

Hal yang paling pertama adalah menterjemahkan SIM A Indonesia yang anda miliki di JAF (Japan Automobile Federation).

2. Masa Berlaku

Pastikan SIM A Indonesia yang anda punya masih berlaku. Apabila masa berlaku SIM A anda kurang dari satu tahun, ada baiknya melakukan perpanjangan terlebih dahulu (bisa gak ya?) karena mengikuti tes tulis dan praktek di Jepang cukup sulit.

Pengalaman kami di Desa Tokai (Prefektur Ibaraki), ketika gagal ujian praktek maka dibutuhkan waktu sekitar 3 (tiga) bulan untuk mengikuti ujian praktek selanjutnya.

3. 90 hari di Indonesia

Apabila anda baru pertama kali mempunyai SIM A, maka pastikan anda berada minimal 90 hari di Indonesia sebelum berangkat ke Jepang. Apabila kurang dari 90 hari, maka anda tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian pergantian SIM.

Contoh: SIM A Indonesia dikeluarkan tanggal 20 Mei 2020. Anda ke Jepang tanggal 20 Juni 2020. Datang ke Unten Menkyo Center (tempat ujian SIM) tanggal 20 Oktober 2020. Meskipun tanggal dikeluarkan SIM anda dengan rencana ujian sudah lebih dari 90 hari, tetapi perhitungan 90 hari dimulai dari tanggal dikeluarkan SIM sampai tanggal keberangkatan anda ke Jepang (petugas akan melakukan pengecekan paspor untuk melihat kapan anda tiba di Jepang).

Bagi anda yang statusnya pekerja atau mahasiswa yang baru tiba di Jepang dengan SIM Indonesia yang berusia kurang dari 90 hari, sebenarnya 90 hari bukan berarti anda harus cuti selama 90 hari berturut-turut. Tetapi, 90 hari ini bisa dicicil. Misalnya tahun ini anda pulang 30 hari, tahun depan pulang 30 hari lagi. Dengan demikian anda sudah tercatat 60 hari tinggal di Indonesia semenjak SIM A anda dikeluarkan oleh pihak berwajib.

4. SIM A di Indonesia baru diperpanjang

Ada kalanya SIM A kita baru saja diperpanjang masa berlakunya dan kita tiba di Jepang kurang dari 90 hari sejak SIM A yang baru diperpanjang tersebut dikeluarkan oleh pihak berwajib.

Dalam kasus ini ada 2 kemungkinan. Pertama, apabila nomor SIM A baru tersebut sama dengan SIM A yang lama. Maka anda bisa memberikan penjelasan kepada petugas kalau anda bukan orang yang baru pertama kali punya SIM A (Tentunya sertakan dokumen yang memperkuat argumen anda). Kedua, kalau nomor SIM A baru tersebut berbeda dengan SIM A yang lama, maka kembali kepada proses NO. 3.

Berdasarkan pengalaman beberapa teman yang di Ibaraki, kemungkinan besar petugas di Unten Menkyo Center tidak menerima penjelasan dari kemungkinan yang pertama. Sehingga anda harus pulang ke Indonesia dulu untuk dapat memenuhi syarat 90 hari berada di Indonesia.

5. Ujian Tulis

Bagi mereka yang lulus syarat 90 hari, maka bisa langsung mengikuti Ujian Tulis pada hari tersebut. Ujian tulis ini tersedia dalam Bahasa Jepang maupun Bahasa Inggris.(Saya kurang tahu apakah ada dalam Bahasa Mandarin, Korea , dll).

Apabila lulus, anda boleh langsung mengikuti ujian praktek pada hari yang sama. Pada saat anda lulus ujian tulis, akan diberikan sertifikat kelulusan ujian tulis. Sertifikat ini berlaku hanya 6 bulan.

Apabila belum lulus, anda bisa datang lagi di lain waktu untuk melaksanakan ujian tulis lagi.

6. Ujian Praktek.

Apabila lulus ujian tulis, maka bisa langsung mengikuti ujian praktek di hari yang sama. Ujian Praktek adalah ujian terberat dalam pengambilan SIM di Jepang. (Pastikan anda membaca banyak buku, menonton video di Youtube, dll).

Apabila lulus, maka SIM Jepang anda akan dikeluarkan pada hari itu juga.

Apabila belum lulus, maka anda harus menuju bagian administrasi untuk melakukan penjadwalan ulang ujian praktek yang kemungkinan besar jadwal tercepatnya adalah sekitar 3 bulan dari hari kegagalan tersebut.

Apabila anda masih gagal dalam ujian prakek walaupun sudah mencoba berkali-kali. Hal ini berpengaruh terhadap masa berlaku sertifikat ujian tulis anda. Ketika sudah lewat 6 bulan dan anda belum berhasil lulus ujian praktek, maka anda wajib mengikuti ujian tulis lagi.

Demikian penjelasan singkat mengenai cara menukar SIM Indonesia menjadi SIM Jepang.

The Accident

Rencana untuk bermain ke pantai di Hari Sabtu pun terpaksa batal terlaksana karena hujan turun sepanjang hari. Hal ini membuat kami bertiga hanya diam di rumah dan bermalas-malasan sambil berharap kepada ramalan cuaca yang memperlihatkan kalau hujan akan berhenti di sore hari. 15:00 JST Hujannya berhenti…!!! Ayo bersiap-siap..!!! Hujan di luar sudah reda, tetapi awan … Continue reading “The Accident”

Kembang Api Musim Panas di Jepang

Pada tulisan sebelumnya, saya memaparkan secara singkat mengenai Dilema musim panas di Jepang. Suhu udara yang tinggi ditambah dengan kelembapan udara yang cukup tinggi menghasilkan kombinasi yang membuat saya tidak kuat berlama-lama beraktifitas di luar ruangan. Disisi lain, festival kembang api (Hanabi 花火) adalah acara tahunan yang diadakan hampir setiap akhir pekan pada bulan Agustus di … Continue reading “Kembang Api Musim Panas di Jepang”

Dilema Musim Panas di Negeri Sakura

Sebagai orang Indonesia yang negaranya terletak di daerah tropis, suhu udara dengan rata-rata diatas 30 derajat Celcius adalah hal yang biasa dialami sepanjang tahun. Berdasarkan hal inilah, saya awalnya menganggap kalau musim panas di negeri Jepang adalah suatu hal yang biasa saja. Hingga akhirnya saya merasakan sendiri musim panas di Jepang sejak tahun 2013 hingga … Continue reading “Dilema Musim Panas di Negeri Sakura”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Featured

Berinvestasi Rp.100.000 di Reksa Dana.

Bagi sebagian besar orang, pasti sudah mengenal dan mengetahui apa yang dimaksud dengan Reksa Dana serta bagaimana cara bekerja dan lain sebagainya. Tapi, tidak dipungkiri bahwa masih banyak juga yang belum mengenal atau mengetahuinya. Saya termasuk kedalam katogori kedua, yaitu belum mengenal apa itu Reksa Dana.

Latar belakang pendidikan saya yang berasal dari Teknik Nuklir hingga pekerjaan yang masih berkaitan dengan dunia kenukliran, sedikit banyak mempengaruhi hal tersebut. Saya masih sangat awam dengan yang namanya investasi. Kalau ditanya tentang investasi, pastilah saat itu jawaban saya hanya emas, tanah, rumah, dll. Suatu konsep yang membuat investasi itu terasa sangat mahal dan berat.

Rasa ketertarikan saya terhadap dunia investasi mulai muncul pada saat istri sibuk mengutak atik perangkat elektronik untuk melihat perkembangan saham yang dimilikinya. Tapi, penjelasan istri dan cara menjelaskan dengan bahasa yang ‘tinggi’ kadang kala membuat orang awam seperti saya cukup bingung.

Hal ini jugalah yang sering saya rasakan ketika berbicara tentang reaktor nuklir (PLTN) kepada orang awam.

Penting untuk mengetahui siapa lawan bicara kita sehingga bisa menyesuaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.”

Dengan rasa penasaran tersebut, akhirnya saya mulai mencari informasi melalui bantuan google maupun youtube untuk memperlajari tentang dunia investasi dalam hal ini Reksa Dana. Ada penjelasan yang mudah dimengerti tetapi ada juga penjelasan yang sulit untuk dipahami.

Tulisan ini bertujuan sebagai pengingat bagi saya tentang apa yang saya ketahui tentang Reksa Dana dan bagaimana saya memulai berinvestasi di Reksa Dana.

1. Apa itu Reksa Dana?

Pengertian Reksa Dana menurut UU Pasar Modal No 8 tahun 1955 pasal 1 ayat 27 adalah suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam bentuk portopolio efek oleh Manajer Investasi (MI) yang sudah mendapat izin dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).

Saat ini Bapepam sudah berganti nama menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengertian sederhanya adalah kita memberikan uang kepada Manajer Investasi untuk dikelolah sedemikian rupa dengan tujuan uang yang kita berikan tersebut akan bertambah dalam periode waktu tertentu.

2. Jenis-jenis Reksa Dana

Secara umum, ada 4 (empat) jenis Reksa Dana, yaitu:

  1. Reksa Dana Pasar Uang.
  2. Reksa Dana Pendapatan Tetap.
  3. Reksa Dana Saham.
  4. Reksa Dana Campuran.

Keempat jenis Reksa Dana tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita harus mengetahui profil singkat dari keempatnya sebelum memutuskan ingin menginvestasikan uang tersebut.

  • Reksa Dana Pasar Uang. Pada jenis ini, uang kita akan diinvestasikan di produk pasar uang yang mempunyai resiko rendah, seperti: deposito. Tentu saja dengan resiko yang rendah, maka pertumbuhan investasinya juga rendah.
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap. Jenis ini juga mempuyai profil resiko yang sedikit lebih besar di bandingkan Reksa Dana Pasar Uang. Dengan profil yang demikian, tentu saja pertumbuhan investasinya lebih baik dari Reksa Dana Pasar Uang. Biasanya dana yang kita miliki akan diinvestasikan pada obligasi.
  • Reksa Dana Saham. Jenis ini memiliki resiko yang paling tinggi. Tetapi sebanding dengan keuntungan yang diterima nantinya. Berdasarkan informasi yang saya baca, jenis investasi ini cocok untuk mereka yang ingin berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang. Seperti namanya, Reksa Dana ini akan menginvestasikan sebagain besar uang yang kita miliki di saham.
  • Reksa Dana Campuran. Jenis ini merupakan campuran dari ketiga jenis reksa dana diatas.

Sebelum memulai investasi di Reksa Dana, maka kita perlu mengetahui apa yang menjadi tujuan kita dalam berinvestasi. Hal ini tentunya berguna untuk menentukan jenis reksa dana mana yang akan dipilih.

Perlu diingat bahwa yang namanya investasi apapun, selalu ada resiko didalamnya.

3. Investasi Rp.100.000

Sebagai pemula tentu saja saya tidak berani mengambil resiko yang tinggi dalam memulai sebuah investasi.

Lebih baik saya memulai dari modal yang kecil sambil terus mempelajari dunia investasi. Tentunya saya paham dengan modal Rp.100.000, tidak mungkin saya mengharapkan hasil investasinya yang bernilai WOW misalnya dalam periode 1 tahun.

Tapi melalui Reksa Dana, mengubah pola pikir saya dahulu yang hanya berpikir bahwa investasi itu hanya berupa tanah, rumah, emas (investasi berbentuk fisik).

Gambar dibawah ini adalah salah satu investasi saya di Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan modal Rp.100.000. Sekitar 2 minggu sejak saya menanamkan modal, sudah terjadi pertumbuhan sebesar 0.19%.

Pertumbuhan reksa dana pendapatan tetap dengan modal awal Rp.100.000

Ternyata bisa loh kita berinvestasi meskipun hanya bermodalkan Rp.100.000. Bahkan di beberapa video yang saya lihat, ada yang bilang kalau bisa dimulai dari Rp.10.000.

4. Keuntungan Berinvestasi di Reksa Dana

Berbicara tentang untung dan rugi, tentunya setiap orang punya pendapatnya masing-masing. Salah satu keuntungan menurut saya berinvestasi di Reksa Dana adalah tidak perlu repot-repot memantau pergerakan saham atau sejenisnya setiap saat. Hal ini karena uang yang kita investasikan sudah dikelolah oleh Manajer Investasi. Oleh karena itu, berinvestasi di Reksa Dana sangat cocok bagi orang pemula seperti saya yang tidak punya banyak waktu untuk memantau setiap saat.

Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?

Tulisan ini akan memuat opini penulis mengenai penting atau tidaknya mengikuti asuransi jiwa di Jepang. Penting atau tidaknya asuransi jiwa ini akan tergantung kepada masing-masing orang. Disini penulis berusaha menjabarkan mengenai asuransi jiwa menurut pemahaman penulis. Latar Belakang Di akhir tahun 2019, semua pegawai di kantor wajib melakukan deklarasi ulang mengenai jumlah pendapatan maupun tanggungan … Continue reading “Penting gak ya ikut Asuransi Jiwa di Jepang ?”

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)

Tokaimura Welfare Center “KIZUNA” Setelah di cerita sebelumnya, saya telah berbagi beberapa fasilitas olahraga yang pernah saya gunakan selama tinggal di Desa Tokai, kali ini saya mau membagikan salah satu fasilitas yang kami manfaatkan sejak masa kehamilan istri hingga saat ini. Fasilitas tersebut adalah Tokaimura Welfare Center ‘Kizuna’. Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengetahui … Continue reading “Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)”

Featured

Mahalnya belajar mengemudi di Jepang.

Beda negara beda pula aturan yang berlaku. Untuk urusan mengemudi, di Jepang punya aturan yang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Pada umumnya, mereka yang hendak belajar mengemudi untuk pertama kalinya harus mendaftarkan diri ke Driving School. Setahu saya, ini adalah satu-satunya cara bagi mereka yang baru mau belajar mengemudi. Berdasarkan obrolan dengan beberapa teman Jepang, hal tersebut memang sudah biasa. Akan tetapi, bagi warga asing khususnya Indonesia, biaya yang harus dikeluarkan untuk belajar mengemudi tersebut bisa terbilang cukup mahal. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh situasi di Indonesia dimana masih “abu-abunya” antara peraturan dan praktek yang berlangsung.

Berdasarkan pengalaman saya mengikuti kursus mengemudi di Indonesia, pada dasarnya kursus ini hanya ditujukan agar siswa dapat mengemudi tanpa perlu memberikan teori mengenai keselamatan dalam mengemudi yang memadai. Hal paling mendasar adalah pengajar di tempat saya mengemudi tidak mengenakan sabuk pengaman selama mengemudi.

Walaupun sudah saya ingatin ‘Pak, sabuk pengamannya tolong dipakai’. Dan cuma dibalas dengan kalimat yang sudah sering kita dengar ‘Gak nyaman kalau dipakai’.

Hal ini cukup berbeda ketika mengikuti kursus mengemudi di Jepang. Hal pertama yang dilakukan adalah mengikuti teori-teori keselamatan dalam mengemudi, aturan lalu lintas, dll di dalam kelas. Selanjutnya harus mengikuti ujian teori terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam praktek mengemudi. Untuk praktek mengemudi sendiri, tidak langsung praktek di jalan raya, tapi praktek dilakukan didalam Driving School.

Setelah mengikuti beberapa rangkaian teori dan praktek yang diberikan oleh pihak Driving School dan dinyatakan lulus, barulah peserta mengikuti ujian pengambilan Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang dilaksanakan di ‘Unten Menkyo Center’ yang ada di dekat daerah masing-masing.

Nah, berbagai macam rangkaian kegiatan tersebut membuat biaya belajar mengemudi di Jepang menjadi relatif mahal. Pada umumnya, total biaya yang dikeluarkan untuk belajar mengemudi sekitar ¥ 300.000 – 400.000.

List biaya mengemudi yang diadakan oleh salah satu Driving School di Jepang*.

Bagaimana dengan mereka yang sudah punya SIM Indonesia? Apakah harus ikut Driving School atau adakah cara lain untuk memperoleh SIM Jepang?

Nantikan di tulisan selanjutnya ya…

*https://www.koyama.co.jp/english/english_02_01.html

Reksadana Pendapatan Tetap dan Reksadana Saham

Pada tulisan sebelumnya (Berinvestasi Rp.100.000 di Reksa Dana.), sudah diberikan pengertian secara sederhana tentang Reksadana serta jenis-jenis Reksadana. Tulisan ini akan mencoba menggambarkan secara sederhana mengenai dua jenis Reksadana, yaitu Reksadana Pendapatan Tetap (RPT) dan Reksadana Saham (RS). Kedua jenis Reksadana tersebut akan dijelaskan secara sederhana berdasarkan pengalaman penulis berinvestasi di instrumen tersebut. Bagi saya, ada … Continue reading “Reksadana Pendapatan Tetap dan Reksadana Saham”

30 Menit Bersama Henokh.

Hampir selalu di setiap siang atau sore, mami Henokh menelepon dan berkata ” Nanti sore, kami mau main ke taman. Mau nyusul gak? Dan hampir selalu jawaban saya ” OK. Sekitar jam 6an ya.” Kalau dipikir-dipikir, waktu yang saya berikan bermain bersama Henokh sepulang kerja hanya sekitar 30 menit. Dimana setelah pulang dari lab sekitar … Continue reading “30 Menit Bersama Henokh.”

Menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang

Ketika berbicara tentang Jepang, pasti tidak lepas dari sistem transportasi yang sangat bagus. Ketika saya tinggal di Tokyo selama 5 tahun lebih, terlihat bahwa sistem transportasi umum sudah sangat bagus dan terintegrasi. Transportasi umum yang paling sering saya gunakan (hampir 99%) adalah kereta. Bahkan selama tinggal di Tokyo, tidak terpikir sedikitpun untuk mempunyai SIM (Surat … Continue reading “Menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Featured

Kejujuran pegawai bengkel sepeda di Desa Tokai Jepang.

Ilustrasi sepeda.

Hari Senin kemarin, saya baru menyadari ada keretakan pada ban sepeda bagian depan. Oleh karenanya, pulang dari lab, saya langsung ke bengkel sepeda yang ada di dekat Stasiun Tokai. Sesampainya disana sekitar jam 7 malam, ternyata teknisi yang bisa memperbaiki sepeda sedang tidak ada di tempat. Hanya ada pegawai lainnya yang kurang paham tentang kondisi ban sepeda tersebut.

Pegawai tersebut menyarankan saya untuk setidaknya memilih jenis ban sepeda yang akan dibeli dan menjelaskan estimasi harga yang akan dikenakan untuk ban dan jasa pemasangan. Selain itu, dia menyarakan agar sepedanya ditinggal saja dan besok akan diperiksa oleh teknisi.

Mendengar hal tersebut, saya pun menyanggupi dan meminta untuk dilakukan pengecekan juga dengan ban belakangnya. Selanjutnya, pegawai tersebut menjelaskan bahwa harga 1 ban sekitar ¥1.200 dimana biaya pemasangan ban depan ¥1.000 dan pemasangan ban belakang ¥1.800. Berdasarakan penjelasannya, pemasangan ban belakang lebih rumit dibandingkan dengan ban depan sehingga harganya lebih mahal. Sehingga total biaya yang akan saya keluarkan adalah sekitar ¥5.000.

Cukup mahal juga ya untuk biaya mengganti ban sepeda mengingat bahwa dengan uang sekitar ¥12.000 sudah bisa dapat sepeda baru.

Setelah menjelaskan hal tersebut, pegawai tersebut meminta nomor yang bisa dihubungi dan teknisi akan langsung menjelaskan kondisi ban sepedanya melalui telepon.

Keesokan harinya, saya pun mendapatkan telepon dari teknisi tersebut. Setelah menjelaskan panjang lebar penjelasannya melalui telepon, sang teknisi pun menyimpulkan bahwa ban sepeda masih dalam kondisi baik. Sehingga tidak perlu mengganti ban depan dan ban belakang. Selanjutnya, saya diminta untuk mengambil sepeda tersebut dan tidak ada biaya apapun yang saya keluarkan pada saat mengambil sepeda dari bengkel.

Kejujuran

Kejadian seperti ini bukan pertama kali saya alami di Jepang, ada juga kejadian ketika memanggil jasa bongkar pasang AC. Teknisinya dengan jujur memberitahukan kondisi AC baik itu freon dan gas (untuk heater di musim dingin). Padahal kalau mereka mau bohong juga bisa, toh saya juga tidak begitu paham dengan hal-hal tersebut. Tapi mereka memilih untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen.

Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)

Bagi saya, pengalaman menulis karya ilmiah yang hendak dipublikasikan di Jurnal Internasional masih terbilang cukup baru. Pengalaman pertama ini dimulai sekitar tahun 2015 dimana saya publikasi di jurnal internasional menjadi salah satu syarat kelulusan program studi S3. Proses menulis sebuah karya ilmiah ternyata cukup mengasyikkan. Di tempat kerja saat ini pun, kita diwajibkan untuk menghasilkan … Continue reading “Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)”

Celotehan Suami Istri (CSI): #12. Drama Hujan Dadakan

Malam ini, kami sedang menikmati malam sambil bercerita santai ditemani oleh anak kami, Henokh, yang sedang ikut duduk sambil mendengar orangtuanya bercerita. Salah satu kejadian yang membuat kami tertawa terbahak-bahak hingga Henokh heran, adalah kisah di bulan September 2019. Kejadian di hari Minggu sore yang tidak mungkin kami lupakan. Seperti biasanya, hari Minggu kami cukup … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #12. Drama Hujan Dadakan”

Featured

Proses publikasi karya ilmiah di Jurnal Internasional (Q1)

Bagi saya, pengalaman menulis karya ilmiah yang hendak dipublikasikan di Jurnal Internasional masih terbilang cukup baru. Pengalaman pertama ini dimulai sekitar tahun 2015 dimana saya publikasi di jurnal internasional menjadi salah satu syarat kelulusan program studi S3. Proses menulis sebuah karya ilmiah ternyata cukup mengasyikkan. Di tempat kerja saat ini pun, kita diwajibkan untuk menghasilkan karya tulis yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Seperti yang saya tuliskan pada cerita sebelumnya*, bahwa salah satu strategi untuk bisa lulus tepat waktu pada saat mengambil program S3 adalah memahami proses dan alur mulai dari pendaftaran karya ilmiah di jurnal internasional hingga tahap publikasi.

*Tulisan sebelumnya: https://www.travelingajadulu.com/asia/jepang/beasiswa-s3-di-jepang/

Proses inilah yang sering saya ungkapan sebagai salah satu faktor external dalam menentukan seseorang dapat lulus tepat waktu atau tidak.

Puji Tuhan di tahun 2020, baru saja salah satu tulisan saya diterima di salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Saya akan berusaha menjabarkan proses yang harus dilalui hingga waktu yang dibutuhkan mulai saat menulis draf, mendaftar, review, diterima dan dipublikasikan.

1. Menulis karya ilmiah.

Saya memulai menulis draft sekitar bulan November 2019. Setelah selesai menulis, draft tersebut harus saya berikan terlebih dahulu kepada para co-author untuk diperiksa. Proses revisi yang berasal dari para co-author ini memakan waktu hingga bulan Februari 2020. Cukup lama yaa.. Hehe.

Berdasarakan catatan saya, draft tulisan saya direvisi hingga 11 kali. Haha

2. Pendaftaran ke Jurnal Internasional.

Saya mendaftarkan tulisan saya sekitar pertengahan Maret 2020 ke salah satu jurnal internasional di bidang nuklir. Ada beberapa dokumen yang perlu diupload ketika hendak mendaftar, yaitu: tulisan ilmiah (manuscript), cover letter, highlights, dll.

Setelah proses pendaftaran selesai, maka kita akan menerima email konfirmasi. Selain itu, di email tersebut akan diberikan link untuk melihat status tulisan yang kita daftarkan.

Sebelum mendaftarkan, ada baiknya tulisan kita sudah dicek terlebih dahulu oleh Native English Speaker.

3. Durasi review

Setiap jurnal memiliki proses review yang berbeda-beda khususnya untuk durasi waktu. Ada yang cepat dan ada yang lama dalam proses review ini. Saya sendiri tidak tahu waktu pastinya, biasanya saya memberikan waktu dua bulan untuk proses review tersebut. Artinya, saya akan bertanya melalui email ke editor apabila tidak ada kabar terbaru mengenai perkembangan tulisan saya setelah dua bulan. Akan tetapi, ada kalanya belum sampai dua bulan sudah ada balasan mengenai status tulisan saya (berdasarkan pengalaman pada tulisan-tulisan ilmiah sebelumnya).

Oleh karena itu, sangat penting untuk diketahui dengan baik aturan main tempat dimana kita akan mendaftarkan tulisan tesebut.

4. Durasi revisi

Pada tanggal 25 Mei 2020, akhirnya saya menerima email dari editor bahwa tulisan saya sudah direview oleh beberapa reviewer dan terdapat beberapa komentar dan saran dari baik itu dari reviewer maupun editor. Dari komentar-komentar tersebut, editor meyimpulkan bahwa tulisan saya masuk dalam katagori “Revisi Minor”. Saya diberikan waktu sekitar dua bulan untuk menjawab pertanyaan para reviewer serta merevisi tulisan tersebut.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, waktu dua bulan tersebut terkadang belum cukup. Apabila terjadi kondisi seperti ini, silahkan menghubungi editor melalui email untuk meminta perpanjangan waktu.

Salah satu tahapan yang dilalui saat hendak melakukan publikasi di jurnal internasional

5. Pengumpulan revisi

Setelah selesai merevisi tulisan tersebut, maka pada tanggal 12 Juni 2020 saya mengumpulkan kembali tulisan yang sudah direvisi. Biasanya, satu atau dua hari selanjutnya akan ada email konfirmasi yang menyatakan “Editor Handle your revised submission of xxxxxxxxxx”

6. Status Akhir

Pada tanggal 19 Juni 2020, saya mendapatkan email pemberitahuan bahwa tulisan saya sudah DITERIMA dan akan diproses untuk diterbitkan.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan setelah pengumpulan revisi pertama akan ada revisi kedua. Pengalaman lain yang pernah saya alamai adalah memperoleh “Major Revision” setelah saya mengumpulan hasil revisi pertama. Padahal status yang saya peroleh pada revisi pertama adalah “Minor Revision”. Meskipun pada akhirnya tulisan itu bisa dipublikasikan setelah melalui dua kali revisi oleh reviewer. Kondisi seperti ini tentunya akan memperpanjang proses penilian dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman ini, butuh waktu sekitar 7 bulan mulai dari proses penulisan hingga diterima di jurnal internasional. Untuk proses mulai dari pendaftaran hingga diterima di jurnal internasional sendiri membutuhkan sekitar 3 bulan. Perlu diperhatikan bahwa 3 bulan yang saya peroleh disini sangat tergantung pada komentar dan saran dari para reviewer.

Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai … Continue reading “Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo”

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!

Bagi banyak orang, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri. Tidak hanya pengalaman, namum gaji yang lebih besar bisa jadi daya tarik utama ketika memutuskan bekerja di luar negeri. Ketika saya pulang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang, baik saudara maupun teman yang ingin bekerja di Jepang. Kebanyakan karena diimingi gaji hingga belasan juta … Continue reading “Diimingi gaji besar di Jepang, perhatikan beberapa hal berikut ini!”

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #12. Drama Hujan Dadakan

Malam ini, kami sedang menikmati malam sambil bercerita santai ditemani oleh anak kami, Henokh, yang sedang ikut duduk sambil mendengar orangtuanya bercerita.

Salah satu kejadian yang membuat kami tertawa terbahak-bahak hingga Henokh heran, adalah kisah di bulan September 2019. Kejadian di hari Minggu sore yang tidak mungkin kami lupakan.

Seperti biasanya, hari Minggu kami cukup sibuk untuk mempersiapkan diri berangkat ke gereja. Ibadah gereja yang dimulai pukul 18:00 JST membuat kami harus mempersiapkan banyak hal terutama untuk Henokh. Setiap minggu, kami berusaha untuk tiba di gereja sekitar pukul 17:00 – 17:30 JST untuk mempersiapkan beberapa hal sebelum ibadah dimulai.

Pagi harinya, kami melihat ramalan cuaca yang memberitahu akan ada hujan di sore hari sekitar pukul 16:00 hingga malam hari. Untuk mencegah kehujanan, kami pun berencana berangkat lebih cepat dari rumah dengan menggunakan bus menuju stasiun Tokai. Berdasarkan informasi dari Google Map, ada bus dari halte di dekat rumah pukul 14:49 JST. Karena jarak dari rumah ke halte sekitar 5 menit jalan kaki, maka kami pun keluar dari rumah pukul 14:35 JST.

Karena kami tahu akan turun hujan, maka kami tidak membawa stroller Henokh supaya lebih ringkas.

Menunggu Bus

Halte busnya hanya berupa tiang kecil berisi jadwal kedatangan bus dan tidak mempunyai tempat duduk dan tempat berteduh.”

Mami Henokh dan Halte bus.

Kami tiba lebih cepat di halte bus dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 JST tapi bus juga belum tiba. Hal yang wajar ketika bus datang terlambat karena ada kemungkinan terjadi kemacetan.

Hujannya Turun

Masih asik mengobrol sambil menunggu bus, tiba-tiba tanpa pemberitahuan ataupun aba-aba hujan turun dengan derasnya. Otomatis, kami langsung membuka payung dan diam di tempat.

L: Sayang, hujannya deras amat nih. Payungin bagian belakangku biar gak basah. Aku mayungin bagian depan biar Henokh gak basah.

I: OK. Tapi aku jadi basah cui. Gimana ini, mana busnya gak muncul-muncul. Mau nunggu atau telpon taksi?

L: Nunggu aja 5 menit lagi.

Hujan masih turun dengan lebatnya, celana bagian bawah sudah mulai basah, sepatu juga sudah mulai basah.

I: Sayang, kaos kaki mu basah gak?

L: Nggak sih, kenapa?

I: Aseemmm, berarti sepatuku bocor nih bagian bawahnya, kaos kakiku udah terendam air. Kebanjiran sepatu sebelah kanan. Pulang dulu aja lah kita, nanti naik taksi aja dari rumah ke stasiun.

L: Yakin?

I: Hemmmm, nunggu dulu aja deh 5 menit lagi.. Hahaha

L: Henokh gimana? Basah gak gendongannya?

I: Henokh aman, kakiku yang gak aman, udah terendam air yang sebelah kanan. Ayok pulang aja dulu.

Akhirnya, kami pun menyebrang jalan hendak menuju ke rumah.

I: Sayang, ayo nyebrang lagi!!!! Itu busnya udah mau datang…Dikerjain sama bus bah kita.

L: Huahahahaha..

Kami pun bergegas menyebrang kembali menuju halte bus. Bersamaan dengan itu, tiba juga akhirnya bus yang ditunggu-tunggu. Sambil sedikit menggerutu dengan bahasa Indonesia, kami pun naik ke dalam bus.

Ya ampun, ternyata ada dua orang ibu-ibu Indonesia di dalam bus tersebut yang sepertinya mendengar ocehan kami. Hahaha.

Sambil kenalan singkat, ternyata mereka bekerja di salah satu lembaga pemerintahan yang sedang mengikuti traning di tempat saya bekerja.

Perkenalan dan cerita yang sangat singkat mengingat jarak dari halte tersebut menuju stasiun hanya berkisar 5 menit menggunakan bus.

Dibecandain sama hujan

Belum lagi sampai di stasiun, hujan sudah berhenti total. Benar-benar berhenti dan langit langsung cerah lagi. Awan hitam yang berada di Desa Tokai selama 20 menit tersebut hilang ntah kemana.

Ya ampun, rencana mau berangkat cepat biar gak kehujanan, malah jadi kehujanan. Hahaha

I: Sayang, ayo beli sepatu sama kaus kaki dulu di toko sepatu yang di Stasiun Mito.

L: Hahhh? Beli sepatu? lah kan yang basah kaos kaki?

I: Lah, kalau beli kaus kaki doank, ntar basah lagi donk kakiku. Kan yang bermasalah sepatunya.

L: Pandai kali bah, sengaja kau kan pakai sepatu yang bocor biar bisa beli sepatu lagi. Itu di lemari masih ada sepatumu.

I: Hahahaha…

Kejadian ini cukup membuat Laura tertawa terpingkal-pingkal kalau mengingat kejadian itu.

Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.

CSI (Celotehan Suami Istri) Sebagai pasangan suami istri, tentunya kami sering ngobrol ngalur ngidul di meja makan. Mulai dari hal serius sampai hal receh. Mulai dari masa depan, pekerjaan, anak, hingga gosip. Ini adalah salah satu ceritanya. Laura sudah hampir 7 tahun ini bermain di dunia persahaman. Walaupun belum bisa di bilang expert (ahli) tapi cukup … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI) : #1. Saham Anjlok, Uang jajan hilang.”

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah … Continue reading “Perlu gak ya Dana Pensiun?”

Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda. Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan … Continue reading “Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang”

Featured

Bersepeda ke Kota Hitachinaka di Jepang

Di jepang, bulan Juni terkenal dengan musim hujannya dimana hujan dapat berlangsung sepanjang hari atau bahkan selama seminggu dengan intensitas yang berbeda-beda.

Kebetulan sekali hari Sabtu ini menurut prakiraan cuaca tidak terjadi hujan meskipun diramalkan kondisi cuaca berawan. Mengetahui hal ini, kami pun memutuskan untuk menikmati Sabtu ini dengan bersepeda keliling desa (rencana awal). Akan tetapi, kami mengganti tujuan awal dari hanya sekedar berkeliling menjadi pergi ke kota Hitachinaka untuk melihat toko barang bekas yang cukup terkenal yaitu WonderREX. Kami sudah beberapa kali ke toko ini untuk mencari banyak barang mulai dari barang elektronik, perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak. Tetapi, hari ini adalah pertama kalinya kami berangkat kesana dengan sepeda.

Jalur dan Waktu Tempuh

Untuk menuju ke WonderREX di kota Hitachinaka, ada beberapa rute yang bisa ditempuh. Biasanya kami menggunakan rute 248 apabila kesana dengan menggunakan mobil. Dengan menggunakan rute ini, jarak dari rumah menuju WonderREX sekitar 10 km, dimana dengan menggunakan mobil dapat ditempuh sekitar 20 menit. Sedangkan dengan berjalan kaki dapat ditempuh sekitar 1.5 jam. Ini adalah rute tersingkat dan yang paling mudah dihapal jalannya.

Rute lainnya adalah menggunakan rute 31 ditambah rute yang melewati perumahan. Rute ini lebih lama dan terlalu banyak belokan-belokan. Ditambah lagi karena rute ini belum pernah kami lalui, maka kami tidak mau mengambil resiko.

Dengan pilihan rute yang ditawarakan oleh Google Map, maka untuk berangkat ke Kota Hitachinaka kami memutuskan menggunakan rute 248.

Persiapan

Kami akan menggunakan dua sepeda, dimana Laura dan Henokh akan berada di satu sepeda, sedangkan saya berada di sepeda yang satunya. Karena perjalanan ini menggunakan sepeda, tentunya tidak memungkinkan kami untuk membeli barang-barang yang besar dan memang pada dasarnya tujuan kesana hanya untuk sekedar mengecek barang.

Karena Henokh masih berusia satu tahun lebih sedikit, maka kami pun perlu mempersiapkan perlengkapan mulai dari popok, makan siang, cemilan, minum, hingga baju ganti. Sedangkan saya dan istri, mempersiapkan baju ganti karena kemungkinan besar akan berkeringat setelah 10 km bersepeda.

Berangkat

Sekitar pukul 10:30 JST, kami pun berangkat dan cuaca cukup mendukung (tidak panas dan tidak mendung). Tidak ada masalah berarti di 2 km pertama karena jalur ini adalah jalur yang sehari-hari saya gunakan menuju ke tempat kerja. Pada umumnya, kami bersepeda di jalur pedestrian tapi terkadang kami harus masuk ke jalur umum (mobil) karena jalur pedestriannya cukup sempit dan dipenuhi oleh ilalang sehingga tidak bisa dilalui dengan aman. Hal ini cukup wajar mengingat tidak banyak orang yang berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda yang melewati jalur 248 ini.

Rute berangkat melalui Jalur 284.

Setelah 30 menit bersepeda, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati minuman yang kami bawa. Henokh sangat menikmati perjalanan dengan menikmati pemandangan sawah dan ladang yang terhampar disepanjang jalan.

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju WonderREX di kota Hitachinaka. Menurut informasi dari Google Map, kami masih harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan lagi. Kali ini bukan hamparan sawah maupun ladang lagi yang kami temui, melainkan bangunan pertokoan, rumah, supermarket hingga perusahaan Hitachi. Dengan begitu artinya kami sudah masuk ke kota Hitachinaka. Dari Jalur 248 kami harus belok kanan ke jalur 169 karena WonderREX terletak di jalur 169. Pedestrian di jalur 169 jauh lebih luas dibandingkan jalur 248 sehingga membuat kami cukup nyaman dalam bersepeda.

Cuci Mata

Sesuai dengan rencana awal, tujuan ke WonderREX kali ini adalah sekedar cuci mata dan survey barang. Ternyata barang yang mau disurvey sedang tidak ada dijual. Karena kami datang di bulan Juni yang artinya sebentar lagi mau musim panas, maka banyak sekali dijual peralatan untuk berselancar dan sejenisnya.

Oiya, Kota Oarai yang hanya berjarak sekitar 15 km dari kota Hitachinaka terkenal dengan pantai dan ombaknya. Sehingga di musim panas, banyak sekali orang yang berkunjung ke kota Oarai”.

Karena tidak ada barang yang mau dicari, akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan siang di sekitar WonderREX. Pilihan utamanya jatuh ke Pizza Domino yang ada di seberang WonderREX. Ternyata, di tempat tersebut tidak bisa makan ditempat, hanya boleh pesan dan dibawa pulang (take out). Alhasil, kami harus mengganti pilihan tempat makan.

Makan Siang

Akhirnya kami memutuskan untuk bersepeda menuju persimpangan jalur 169 dan 248 karena tepat di pojok jalur tersebut terdapat McD. Tempat yang cukup apabila membawa anak bayi. Tentu saja, kami membawa makanan sendiri untuk Henokh karena belum banyak pilihan menu yang bisa dimakannya disini.

“Ketika kami berpergian jauh, biasanya kami membawa dua jenis makanan untuk Henokh: 1. Makanan yang dimasak sendiri dirumah. 2. Makanan instan untuk bayi yang bisa dibeli di supermarket maupun toko-toko perlengkapan bayi.”

Setelah selesai melepas lelah dan beristirahat sekitar satu jam di McD, kami pun berencana melanjutkan perjalanan pulang ke Desa Tokai. Tapi, kami akan pulang dengan menggunakan rute yang berbeda. Hal ini karena mempertimbangkan jalur 248 yang mulai ramai menjelang sore hari serta jalur pedestriannya yang cukup sempit di beberapa tempat.

Rute Baru Penuh Kejutan

Rute yang kami tempuh lebih ribet karena akan melewati jalur-jalur kecil dan bukan jalur utama. Butuh waktu sekitar 1.5 jam apabila ditempuh dengan jalan kaki. Dari sini, kami mengasumsikan bahwa waktu tempuh dengan sepeda kurang lebih satu jam. Kami bersepeda dengan santai dan berhenti beberapa kali karena salah masuk jalan. Ada kalanya menemukan jalan buntu di dekat Stasiun Sawa, ada kalanya harus putar balik karena ada perbaikan atau pembukaan jalan baru, dan yang paling jackpot adalah menemukan ular di jalur pedestrian.

Rute perjalanan pulang melalui jalan “tikus”.

“Saat itu, istri sedang berada di posisi depan dan saya mengikuti di belakang. Tiba-tiba istri teriak, “Ularrrrr!!”

Di jalur yang baru pertama kali kami lalui ini, ternyata ada dua tempat dimana kami sangat terpukau akan suasana semacam komplek perumahan. Bukan seperti perumahan yang ada di Indonesia yang ada gerbang utama dan rumah yang seragam jenisnya. Ini hanya sebuah wilayah yang ditata sedemikian rupa sehingga rumah-rumah tersusun rapi tanpa pagar. Ini mengingatkan kami seperti daerah perumahan yang ada di sekitar tempat kami tinggal dulu (Miyamae-ku).

“Sepertinya akan jadi kandidat lokasi nih kalau masih lama tinggal di Jepang”, celetuk Laura sambil tetap mengayuh sepeda listriknya dengan santai.

Tidak jauh dari situ, kami sudah melihat bangunan yang tidak asing lagi dikunjungi oleh Henokh, Perpustakaan Desa Tokai. Wah, ternyata lokasi perumahan tersebut terletak di perbatasan antara kota Hitachinaka dan desa Tokai.

Bermain di Taman

Sepanjang perjalanan pulang, ternyata Henokh tidur dengan lelap di sepeda karena memang angin sepoi-sepoi yang berhembus dengan lembut. Sebelum ke rumah, kami memutuskan untuk bermain di taman karena Henokh baru saja bangun dari tidurnya. Seperti biasanya, “Taman Yoku” (nama yang kami berikan untuk taman tersebut) di hari Sabtu cukup ramai dengan anak-anak yang sedang bermain dengan orangtuanya. Dan seperti biasanya juga, Henokh pun langsung bersemangat begitu turun dari sepeda dan segera berlari menuju tempat perosotan anak.

Sabtu Ceria

Begitulah cerita kami menghabiskan waktu bersama di hari Sabtu. Kadang kami bermain diluar, terkadang juga hanya dirumah saja. Hari Sabtu adalah salah satu hari dimana kami berusaha membuat banyak memori indah untuk kami bertiga.

Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Abstrak Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi … Continue reading “Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster. Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya. “Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. … Continue reading “Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!”

Featured

5 Etika yang perlu diketahui sebelum ke Jepang.

Sudah sering dengar pepatah ” Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” kan? Pepatah ini tentulah sangat tepat bagi kita yang hendak datang berwisata atau berkunjung ke tempat yang baru. Salah satu negara yang banyak dikunjungi untuk berwisata adalah Jepang.

Sebelum kita berkunjung, ada baiknya kita pahami dulu lima etika yang ada di Jepang.

  1. Budaya Antri. Etika mengantri bisa terlihat dibanyak tempat di Jepang, seperti mengantri di stasiun, mengantri di restoran, mengantri di toilet umum, dll.
    • Antri di Stasiun. Bagi mereka yang hendak menggunakan kereta, maka wajib diketahui bahwa kita harus mengantri di jalur yang sudah ditentukan. Selain itu, utamakan penumpang yang hendak keluar dari kereta.
    • Antri di Restoran. Pada saat jam makan siang maupun makan malam, banyak restoran yang terkadang penuh hingga membuat pelanggan harus menunggu. Demi menjaga ketertiban, biasanya tuliskan nama dan jumlah orang yang hendak makan di kertas yang sediakan. Selanjutnya, silahkan mengantri di tempat yang sudah disediakan.
    • Antri di Toilet (pria). Biasanya ada dua jalur, yaitu antrian untuk buang air kecil dan buang air besar. Perhatikan posisi anda sudah di jalur yang benar.
  2. Tepat waktu. Hampir semua orang sudah mengenal Jepang dengan tepat waktunya. Kalau anda melihat jadwal kedatangan kereta di stasiun tertulis 15:32, maka kereta itu pasti akan datang jam 15:32. Demikian pula ketika hendak menghadiri pertemuan (meeting) dengan orang Jepang. Kalau acara dimulai pukul 13:10, maka dipastikan acara akan dimulai pukul 13:10 meskipun semua peserta sudah berada di dalam ruangan dari pukul 13:00.
  3. Eskalator. Ada hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan eskalator. Hal ini sangat penting diketahui demi menjaga kenyamanan bersama di ruang publik. TOKYO sekitarnya: Silahkan gunakan jalur sebelah kiri apabila hendak berdiri di eskalor, dan silahkan gunakan jalur di sebelah kanan apabila ingin mendahului sambil berjalan di eskalator. Osaka: Posisinya berkebalikan dengan yang diterapkan di Tokyo.
  4. Tidak ada uang tip. Sehabis makan di restoran, menginap di hotel, menggunakan jasa perjalanan, maka cukup mengucapkan terima kasih tanpa harus memberikan uang tip.
  5. Buang sampah sesuai jenisnya. Hal yang terakhir ini mungkin sangat membingungkan bagi banyak orang asing. Peraturan pengkatagorian sampah berbeda-beda hampir disetiap kota. Tetapi pada umumnya penggolongan ini bisa dibagi menjadi empat, yaitu: sampah bakar, sampah plastik, sampah botol dan sampah kaleng. Keempat jenis katagori ini paling sering ditemukan di tempat umum seperti stasiun kereta, minimarket dan mall (area food court). Sedangkan bagi mereka yang hendak tinggal di Jepang untuk sekolah, kerja, dll maka wajib membaca aturan dan pengkatagorian sampah yang lebih detail. Contoh: di Desa Tokai, untuk sampah botol maka tutup botol dan label plastik yang biasanya ada di botol masuk kedalam katagori sampah bakar. Sedangkan botolnya masuk ke sampah botol.

Demikianlah sekilas informasi mengenai beberapa hal yang perlu kita pahami sebelum datang ke Jepang.

Featured

Pengalaman ketinggalan barang di Stasiun Tokai Jepang

Memasuki bulan Juni di Jepang artinya mempersiapkan diri akan datangnya musim hujan, dimana hujan bisa datang sepanjang hari dengan intensitas yang berbeda-beda. Hal ini tentunya perlu diantisipasi dengan membawa payung. Untuk jenis payung sendiri, saya menyarankan belilah payung yang tahan angin sehingga dapat digunakan pada musim hujan di bulan Juni dan musim taifun disekitar bulan September. Mungkin salah satu jenis payung yang paling ikonik dari Jepang adalah payung transparan (bening). Payung ini bisa dijumpai hampir disetiap convenience store (konbini) maupun supermarket. Payung ini bisa digunakan dengan baik di musim hujan saat ini, tetapi tidak saya rekomendasikan digunakan pada saaat musim hujan disertai taifun karena besar kemungkinan akan rusak.

Kembali lagi ke judul diatas, hari Minggu ini saya berencana untuk pergi beribadah ke Gereja di kota Oarai. Kota Oarai sendiri terletak sekitar 30 km dari Desa Tokai dan satu-satunya transportasi umum yang bisa mencapai kota ini adalah kereta.

Sayangnya, sejak hari Sabtu hujan terus menerus turun hingga hari Minggu sore sekitar pukul 15:30 JST. Hal tersebut membuat saya harus membawa payung. Kebetulan intensitas hujan yang turun sedikit berkurang sehingga saya bisa berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda ke Stasiun Tokai.

Sesampainya di Stasiun Tokai, tidak lupa saya membawa serta payung untuk berjaga-jaga apabila di kota Oarai sedang hujan dan saya harus berjalan kaki dari Stasiun Oarai menuju gereja.

Karena sepanjang jalan tadi hujan yang turun cukup membuat jaket yang saya pakai basah, akhirnya saya pun bergegas ke toilet di dalam stasiun untuk berbenah. Setelahnya, saya duduk sebentar di bangku yang tersedia di dalam stasiun sambil merapikan isi tas bawaan saya. Tidak lupa pula, payung tersebut saya gantungkan di tiang yang ada disamping bangku.

Setelah selesai merapikan isi tas, saya langsung turun menuju platform karena kereta yang akan menuju Stasiun Mito (stasiun transit sebelum menuju Oarai) akan berangkat pukul 16:02 JST.

Sejak pandemi COVID19 ini menyebar hingga status emergency di Jepang (khususnya Ibaraki) sudah dilepas, tetapi jumlah penumpang kereta masih sangat sedikit dibandingkan kondisi sebelum COVID19“.

Tidak ada hal spesial sepanjang perjalanan menuju Mito. Kadang kala saya merekam video pemandangan yang ada di luar kereta. Hingga sesaat sebelum keluar dari kereta, saya baru sadar bahwa payung tersebut tidak ada di kereta. Saya mencoba mengingat-ingat lagi dan terpikir bahwa payung itu tertinggal di sekitar bangku di Stasiun Tokai.

Wah, masa harus beli payung lagi? Masih ada gak ya payungnya di Stasiun Tokai? Beli payungnya di Stasiun Mito atau di Stasiun Oarai ya ? rugi banget nanti beli di Mito tahu-tahu hujannya sudah reda di Oarai.

Hal-hal semacam itu lah yang terpikir dibenak saya saat itu. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli payung. Hahaha

Kenapa saya memutuskan untuk tidak membeli payung? Pertama, saya sudah mengecek di aplikasi cuaca yang mengatakan bahwa kota Oarai tidak hujan pukul 17:00 – 18:00. Kedua, saya menghubungi teman dan dia bisa menjemput di Stasiun Oarai kalau ternyata hujan.

Singkat cerita, saya akhirnya tiba di Stasiun Oarai dan ternyata tidak hujan. Baru saja saya menghubungi teman tersebut melaui chat dengan maksud agar saya tidak perlu dijemput, malah saya bertemu dengan teman lain yang sedang memarkirkan mobilnya di depan stasiun. Akhirnya, saya pun menuju gereja bersama dengan beliau.

Setelah Ibadah Gereja selesai dan saya akan kembali menggunakan kereta dari Stasiun Oarai menuju ke desa Tokai, saya tidak berharap banyak akan keberadaan payung yang ketinggalan tersebut. Disisi lain, saya juga penasaran dengan perkataan banyak orang tentang Jepang, dimana salah satunya adalah barang ketinggalan tidak akan hilang dan kalaupun tidak ada di tempatnya, bisa ditanyakan ke petugas di stasiun tersebut. Dan ini adalah salah satu kesempatan untuk membuktikan omongan tersebut.

Begitu kereta berhenti di Stasiun Tokai, saya pun bergegas menuju bangku tersebut dan ternyata payung tersebut masih ada disana walaupun posisinya sudah berpindah dari tempat asalnya.

Payung yang tertinggal di Stasiun Tokai.

Wah, ternyata memang benar apa yang dibilang orang selama ini tentang Jepang mengenai barang yang ketinggalan di tempat umum. Tapi, bukan berarti hal ini bisa dijadikan patokan 100% ya teman-teman. Tetap berhati-hati dan mengecek barang bawaan anda ya.

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading “Musim di Jepang”

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris. Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang … Continue reading “Bahasa Inggris dan Beasiswa”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

Featured

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (7)

Di Desa Tokai, disediakan fasilitas bermain indoor untuk anak-anak mulai dari usia kurang dari satu bulan. Fasilitas ini dinamakan “Jidoukan”. Jidoukan sendiri dikelolah oleh pemerintah daerah sehingga setiap anak bisa menikmati semua fasilitas yang disediakan secara gratis.

Pada umumnya Jidoukan ini hampir sama seperti sebuah hall yang cukup luas dan terdapat berbagai macam jenis mainan anak-anak dan buku bacaan anak. Mainan yang tersedia pun adalah jenis mainan yang dapat membantu motorik anak-anak. Intinya mainan yang disediakan bisa membantu kecerdasan dan daya tangkap si anak.

Selain itu, terdapat staf yang ikut serta bermain dengan anak-anak dan di jam-jam tertentu akan membacakan buku hingga bernyanyi bersama.

Anak kami sendiri, Henokh, sudah mulai ikut menikmati fasilitas ini sejak usia sekitar 7 bulan. Ada beberapa alasan kenapa mami Henokh membawanya ke Jidoukan: ruang bermain yang luas sehingga Henokh bisa merangkak dengan bebas, bertemu dengan banyak anak-anak yang seangkatan, hingga belajar beradaptasi pada kondisi yang ramai. Hal penting lainnya adalah anak diajak untuk belajar berbagi karena mainan yang terdapat disana bukan milik sendiri melainkan milik bersama.

Rindu Bermain ke Jidoukan

Salah satu syarat bisa bermain ke Jidoukan adalah anak dalam kondisi sehat. Sayang sekali di awal Januari yang lalu Henokh sedang terkena batuk sehingga tidak etis untuk membawanya ke Jidoukan karena takut menulari anak yang lain. Ditambah lagi dengan kasus COVID19 yang sejak awal tahun 2020, maka kami pun memutuskan untuk tidak pergi kesana. Selain itu, sejak bulan Maret hingga akhir Mei yang lalu pun banyak fasilitas umum termasuk Jidoukan yang menutup seluruh kegiatan untuk mencegah penyebaran virus COVID19.

Hingga akhirnya di minggu kedua bulan Juni, Henokh dan maminya berencana kuat bermain ke Jidoukan karena fasilitas ini sudah dibuka kembali. Mereka pun bersepeda dari rumah menuju ke Jidoukan yang berjarak sekitar 1.5 km dari rumah.

Peraturan Baru di Jidoukan

Ternyata hari itu mereka tidak boleh masuk ke Jidoukan karena ada beberapa hal baru yang berbeda dengan kondisi sebelum adanya pandemi COVID19.

1. Harus registrasi melalui telepon terlebih dahulu.

2. Jam operasional hanya dari pukul 10:00 – 12:00. Kondisi sebelumnya Jidoukan dibuka hingga jam 16:00.

3. Terdapat pembatasan jumlah orang yang bisa berkunjung dalam satu hari.

Dengan adanya pembatasan jam operasional dan pembatasan jumlah orang, maka ada beberapa kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan seperti kegiatan bernyanyi dan membaca bersama yang dipandu oleh staf yang bertugas.

Setelah mengetahui aturan baru tersebut, Henokh dan maminya pun pergi ke Jidoukan keesokan harinya. Ternyata Henokh langsung bisa menikmati suasana bermain disana hingga maminya dibuat lelah mengejar Henokh yang berlari kesana kemari. Disisi lain, kelelahan maminya tentunya terbayarkan dengan melihat Henokh yang begitu aktif dan menikmati bermain bahkan bermain dengan anak-anak lainnya.

Featured

Perlu gak ya Dana Pensiun?

Ilustrasi dana pensiun.

Saya termasuk salah satu dari mungkin ribuan orang yang tidak begitu peduli dengan yang namanya dana pensiun. Bukti utamanya adalah saya merasa dana pensiun yang dipotong setiap bulan dari gaji sudah cukup nantinya untuk kehidupan saya bersama keluarga setelah saya menjalani masa pensiun. Oleh karenanya, saya tidak begitu memikirkan lebih lanjut lagi dan merasa sudah aman dengan kondisi seperti saat ini.

Hal ini mulai mengusik kehidupan jiwa dan raga ketika berdiskusi lebih dalam berlangsung dengan istri yang kebetulan berlatar belakang ekonomi dan seorang akuntan ditambah lagi dengan informasi seputar dunia keuangan yang bisa dibaca baik melalui buku, media elektronik maupun menonton video yang banyak tersebar dibanyak platform.

Salah satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah data yang mengatakan bahwa kurang dari 10% para pensiunan mempersiapkan rencana pensiun dengan baik sehingga tidak dapat hidup dengan sejahtera.

Tentunya dengan angka ini membuat saya cukup kaget. Bagaimana bisa ketika sudah bekerja selama puluhan tahun dan adanya pesangon ketika memulai memasuki masa pensiun atau gaji pensiunan bagi PNS tetapi masih belum bisa membuat hidup sejahtera dimasa pensiun nantinya?

Apakah nantinya uang pensiunan bulanan ataupun pesangon itu bisa mencukupi kebutuhan hidup semasa pensiun? Kalau ternyata belum cukup, apa yang harus dilakukan? Perlukah dipersiapkan dari sekarang? Bagaimana cara memulainya?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang bekerja di sektor UMKM ataupun informal? Adakah cara untuk mempersiapkan dana untuk hari tua disaat memenuhi kebutuhan sehari-hari aja masih pas-pasan?

Bagi saya yang berlatar pendidikan di bidang keteknikan dan bekerja dibidang yang sama, tidak saya pungkiri hal-hal keuangan seperti ini masih sangat awam bagi saya. Akan tetapi, melihat data yang ada, tentu saja saya berusaha untuk tidak masuk ke lingkaran yang 10% ketika memasuki masa pensiun.

Sebagai orang awam, ternyata banyak cara yang sudah tersedia untuk memfasilitasi kita nantinya pada saat memasuki dunia pensiun. Salah satunya adalah dengan mengikuti program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Featured

Review Stroller AirBuggy ‘COCO BRAKE EX From Birth’

Stroller AirBuggy dan barang bawaannya.

Stroller merupakan salah satu perlengkapan bayi yang sepertinya wajib dimiliki oleh setiap keluarga yang mempunyai anak bayi maupun balita khususnya di negara Jepang.

Dengan adanya stroller, maka biasanya para ibu bisa membawa anaknya bermain di sekitar rumah, belanja ke supermarket, hingga berpergian menggunakan kereta maupun bus. Hal ini tentunya membantu para ibu dibandingkan harus menggendong bayinya selama di perjalanan.

Seperti pada cerita sebelumnya, kami memutuskan untuk membeli sebuah stroller dengan merk ‘AirBuggy’ pada tahun 2019. Setelah lebih dari setahun memakai stroller ini, saya memutuskan untuk menuliskan sebuah review singkat tentang stroller ini.

Review ini akan dilakukan seobjektif mungkin sehingga bisa menjadi masukan bagi orang yang mau membelinya.

Informasi umum mengenai stroller AirBuggy

1. Harga

Ada terdapat beberapa model yang ditawarkan oleh AirBuggy. Kami memilih mengambil model ‘Coco Brake EX From Birth’ dengan harganya sekitar ¥62.000 (belum termasuk pajak). Pada saat membelinya, kami memperoleh bonus yaitu stroller mat. Salah satu keunggulan stroller mat ini adalah motifnya ada dua jenis sehingga bisa dipakai bolak-balik.

Info lengkap mengenai harganya bisa dicek disini: https://www.airbuggy.com/en/stroller/

2. Dimensi

Ukuran stroller pada saat posisi terbuka: Tinggi: 104.5 cm, Lebar: 53.5, dan Panjang: 96 cm. Sedangkan berat strollernya sendiri sekitar 9.5 kg.

Dimensi AirBuggy ‘Coco Brake EX’

Dengan dimensi dan berat stroller yang nyaris mencapai 10 kg, stroller ini bisa membawa beban seberat 15 kg dengan kapasitas bagasi bawah seberat 5kg. Untuk tipe yang kami beli bisa membawa bayi sejak umur 0 bulan hingga 3 tahun.

Keunggulan Stroller AirBuggy

  1. Kokoh dan Stabil. Alasan utama langsung jatuh cinta dengan stroller ini adalah bentuknya yang kokoh dan stabil. Dibandingkan dengan merk lain yang mempunyai harga yang relatif sama, AirBuggy jauh lebih kokoh dan stabil.
  2. Mudah dikendalikan. AirBuggy merupakan stroller yang mempunyai 3 buah roda, dua dibagian belakang dan 1 dibagian depan. Meskipun demikian, sangat mudah mengendalikan stroller ini walaupun dengan satu tangan.
  3. Rem cakram. Terdapat dua buah rem yaitu rem tangan dan rem parkir (internal drum brake). Rem parkir ada dibagian bawah dekat ban belakang. Kedua rem ini bekerja dengan sangat baik, meskipun dalam kondisi hujan dan kondisi jalan turunan. Rem tangan stroller ini sangat bermanfaat dan mudah dikendalikan pada kondisi jalan yang turunan. Menggunakan rem tangan stroller AirBuggy pada kondisi turunan hampir sama seperti menggunakan rem belakang pada saat mengendarai motor.
  4. Air Tube Tire. Ban yang dipakai stroller AirBuggy menggunakan ban yang dapat dipompa seperti ban sepeda. Kelebihan tipe ban ini dibandingkan dengan jenis ban plastik pada stroller merk lainnya adalah dapat menyerap getaran terutama pada jalan yang bergelombang atau tidak rata. Hal ini menambah kenyamanan bayi ketika tidur di stoller.
  5. Mudah dibersihkan. Sistem bongkar pasang yang ada di AirBuggy memudahkan untuk membersihkan (menyuci) semua bagian.
  6. Sudut rebahan. Posisi duduk bayi dapat diatur dari posisi 115 hingga 155 derajat. Hal ini memberikan kenyamanan pada bayi baik saat duduk maupun tidur.
  7. Kapasitas bagasi. Bagi kami yang membawa bayi untuk kegiatan belanja di supermarket sehari-hari. Bagasi yang ditawarkan stroller ini bisa menampung hampir semua barang belanjaan seperti beras, minuman kotak, hingga barang-barang lainnya pada bagasi bagian bawah. Selain itu, masih bisa menggantungkan beberapa barang ringan pada gantungan yang ada didekat rem tangan.
Jenis roda yang digunakan pada AirBuggy.

Kekurangan Stroller AirBuggy

  1. Berat. Dibandingkan dengan stroller merk lain, maka Airbuggy dapat dikatagorikan sebagai stroller yang cukup berat.
  2. Handle satu arah. Posisi handle tidak bisa dua arah sehingga tidak bisa melihat secara langsung kondisi bayi pada saat sedang berjalan.

Dari penjabaran diatas, bisa terlihat bahwa kami sangat puas dengan stroller AirBuggy. Salah satu poin utama dari stroller ini adalah daya redam yang bagus pada saat dibawa dijalanan yang kasar dan bergelombang.

Demikian review singkat mengenai pengalaman memakai stroller AirBuggy selama lebih dari satu tahun.

Referensi: https://www.airbuggy.com/en/

Video unboxing stroller AirBuggy dapat dilihat disini:

Featured

Mengejar Cinta (3): PDKT

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Tidak terasa kalau sudah 10 tahun sejak awal mula saya melakukan pendekatan dengan Laura. Walaupun sudah 10 tahun, tapi rasanya seperti baru kemarin saja. Banyak hal yang masih diingat sejak pertama kali bertemu hingga saat ini.

Tulisan ini berusaha untuk mengabadikan memori itu karena saya tahu suatu saat nanti sepertinya akan ada memori-memori yang sudah mulai lupa karena daya ingat yang menurun.

Perpisahan

Walapun saya sudah punya nomor HP Laura, ntah kenapa saya masih belum punya alasan yang cukup kuat untuk memulai menghubungi dia. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya di bulan Juni 2010. Hingga akhirnya ada bunyi sms yang masuk, dan ternyata sms itu datang dari Laura.

“Ketemuan yuk di Amplaz (Ambarukmo Plaza). Aku keterima kerja dan lusa mau berangkat.”, kira-kira begitu bunyi sms dari Laura.

“Boleh. Siapa aja?”, menjawab sms dari Laura.

” Teman-teman yang lain juga udah tak sms sih. Kalau kamu bisa ya ikut aja”.

Tanpa panjang lebar, saya pun langsung bersiap-siap menuju ke Amplaz.

Sumatera, I’m coming.

Ternyata pertemuan kali ini hanya tiga orang saja, Laura, Andi dan saya. Dari pertemuan ini, kami baru tahu kalau Laura akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara.

Meskipun sepertinya penempatan tersebut seperti kembali ke daerah asalnya, tapi Medan akan menjadi kota pertama diluar Jawa yang akan menjadi kota perantauannya setelah lulus kuliah. Pertemuan hari itu pun berlangsung untuk sekedar berbagi informasi mengenai kota Medan sambil ngobrol kesana kemari tentang berbagai hal. Karena memang pertemuan hari ini sekedar untuk perpisahan dan Laura masih butuh waktu untuk berkemas, kami pun tidak berlama-lama berada di Amplaz.

Bagi saya yang sudah terpesona dengan Laura, perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang dia keterima kerja dan penempatan di Medan. Sedih karena baru saja mau memulai pendekatan langsung di pisahkan oleh jarak.

Saya sudah punya pacar.

Di minggu-minggu awal kedatangannya di Kota Medan, kami menjadi lebih sering berkomunikasi. Hal yang sering kali ditanyakan adalah: “Cui, naik angkot apa di medan ini dari A ke B? “

Sms seperti itu sering sekali muncul di pagi hari ketika Laura sedang mencari alternatif angkot lain yang bisa membawa dia dari tempat tinggalnya menuju kantor. Karena rute yang dia gunakan hampir sama dengan rute yang sering kulalui sewaktu SMA, maka tidak terlalu sulit untuk menjelaskannya.

Disisi lain, sering juga dia bertanya rute dari titik A ke titik B yang mana saya pun belum pernah menjelajahinya. Alhasil pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya balas dengan sms becandaan, ” Awak memang besar di Medan, tapi kan manalah ku hapal trayek angkot itu semuanya. Haha”

Percakapan-percapakan seperti ini ditambah obrolan selepas pulang dari tempat kerja membuat suasana mulai terasa cair.

Disisi lain, beberapa kali Laura cerita kalau dia sering dijodohkan dengan teman kantornya atau dengan kaum ibu-ibu yang sedang mencarikan jodoh buat anak-anaknya. Atau bahkan pernah cerita kalau ada yang sedang mendekatinya.

Mendengar ceritanya seperti itu, terkadang membuat hati jadi bergejolak juga yaa..

Tapi yang membuat sedikit lega, saat itu dia berusaha menjawab kalau dia sudah punya pacar (walaupun sebenarnya tidak ada). Hanya saja jawaban itu membuat dia bisa fokus ke pekerjaannya.

Ketemuan di depan kantor ya.

Sebulan setelah Laura tinggal di Medan, saya punya kesempatan untuk pulang sebentar ke Medan. Tentunya, salah satu hal yang saya lakukan akan membuat janji untuk bertemu dengan Laura.

Kami pun membuat janji ketemuan setelah jam pulang kantor dan karena dia masih dalam masa training, maka belum ada lembur hingga larut malam. Disepakatilah kami bertemu hari Selasa di depan kantornya sekitar jam 5.00 sore.

Ternyata, janjian ketemuan di depan kantor sesaat jam pulang kantor adalah salah satu strategi yang dilakukannya supaya terlihat oleh teman-teman kantor kalau dia sudah punya pacar seperti yang diucapkannya kepada teman-teman kantornya. Hal ini pun sedikit banyak berhasil karena hari itu saya harus ikutan menyapa setiap temannya yang ada di depan gerbang kantor.

Saya tidak tahu sama sekali hal tersebut hingga dia menceritakannya ketika kami sudah menjalin hubungan.

Awal mula PDKT

Pertemuan ini pun kami habiskan untuk sekedar menonton film di bioskop. Film Inception menjadi pilihan kami pada saat itu. Film yang berdurasi sekitar 2.5 jam tersebut berhasil membuat kami terpukau dengan jalan ceritanya.

Entah kenapa saya lebih memilih mengajak menonton film dibandingkan makan. Padahal kalau diperhatikan lagi, tidak banyak komunikasi yang bisa terbangun ketika menonton film.

Setelah nonton, kami pun singgah untuk makan malam sebentar sebelum mengantarkan Laura kembali ke tempat tinggalnya. Kebetulan juga dia masih tinggal di daerah yang satu arah dengan tempat tinggal saya.

Tapi dari pertemuan itu, kami bisa membangun komunikasi yang lebih lagi dan bercerita lebih banyak hal serta berusaha mengetahui satu sama lain.

Bagi saya, peristiwa itu adalah awal mula proses PDKT dimulai. Dan karena ini masih tahap yang sangat awal, saya berusaha tidak menceritakannya kepada siapapun bahkan kepada si Andi. Hahaha

Bagaimana dengan Laura, apakah ketemuan kita di Medan bisa dibilang sebagai awal mulanya proses untuk saling mengenal satu sama lain? Bisa ditanyakan langsung ke orangnya ya..

Featured

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (6)

Tokai Culture Center.

Kelas Bahasa Jepang

Hal menarik ketika tinggal di Jepang adalah tersedianya kelas volunter bahasa Jepang. Sewaktu kami tinggal di Miyamae, Kawasaki, istri sangat aktif untuk ikut belajar bahasa Jepang melalui kelas volunter ini. Hal ini karena biaya yang dikeluarkan cukup murah yaitu sekitar ¥500 per tahun (kalau tidak salah). Harga yang ditetapkan ditiap daerah mungkin sedikit berbeda tetapi masih dalam katagori yang cukup murah. Pada umumnya, kelas bahasa ini dilaksanakan di Kantor Kelurahan atau di Community Center yang ada di daerah tersebut.

Ketika kami pindah ke Desa Tokai, justru kami menemukan lebih banyak organisasi yang menyediakan kelas bahasa Jepang secara volunter. Seperti apa sih Desa Tokai ini sampai banyak mengadakan kelas volunter bahasa Jepang? Apakah banyak orang asing di Desa Tokai? Nantikan cerita tentang Desa Tokai ini di cerita-cerita selanjutnya ya. Saat ini kita fokus tentang kelas bahasa Jepang saja.

Di Desa Tokai sendiri, kami mengikuti kelas bahasa Jepang yang diselenggarakan oleh Tokai Volunteer Japanese Language School.

Tokai Volunteer Japanese Language School

Kelas bahasa ini diselenggarakan setiap Hari Sabtu, pukul 10:00 -12:00 JST. Biaya untuk satu kali pertemuan sebesar ¥250. Biaya ini sudah termasuk dengan cemilan ringan yang bisa dinikmati sewaktu jam istirahat.

Untuk siswa yang baru pertama kali belajar bahasa Jepang, maka buku Minna No Nihonggo 1 adalah buku yang akan digunakan. Buku ini tersedia di toko buku, perpustakan Tokai hingga toko online serba ada, Amazon.

Pada umumnya, sistem belajar yang digunakan seperti kelas private dimana satu orang murid diajari oleh seorang guru.

Salah satu hal menarik khususnya untuk Tokai Volunteer Japanese Language School ini adalah boleh membawa bayi. Selain itu, ruangan belajar yang dipisah bagi mereka yang membawa anaknya sehingga tidak mengganggu siswa lainnya.

Selain mendapatkan ilmu bahasa Jepang, hal penting lainnya adalah menambah komunitas. Dengan mengikuti kelas ini, kami merasa seperti mempunyai keluarga terutama dengan guru (sensei) yang mengajari kami.

Pernah beberapa kali, kami dibantu oleh Sensei pada saat hendak ke rumah sakit ketika istri sedang hamil. Bahkan pernah diantar ke salah satu toko baju bayi pada saat kami hendak mempersiapkan perlengkapan bayi.

Aktifitas di luar Kelas

Selain kegiatan belajar yang dilaksanakan di dalam kelas setiap minggunya, ada juga acara rutin setiap tahun yaitu: Field Trip dan Speech Contest. Tahun 2019 yang lalu, kami berpartisipasi dalam kedua acara tersebut.

Berpartisipasi dalam Japanese Speech Contest 2019 yang diselenggarakan di Desa Tokai

Cerita mengenai kegiatan tersebut bisa dibaca disini: “One Day Trip” Fukushima

Rindu kelas Volunteer

Akibat merebaknya pandemi COVID-19, kelas volunter untuk saat ini masih ditiadakan sejak bulan Maret 2020. Semoga saja pada saat kondisi sudah membaik, kelas ini dapat berjalan kembali. Terlebih lagi, semoga para guru serta murid-murid lainnya dalam kondisi sehat selalu.

Beberapa Kelas Volunter Bahasa Jepang di Desa Tokai

Siapa tahu nanti ada yang berencana tinggal di Desa Tokai, berikut saya lampirkan beberapa nama organisasi yang mengorganisir kelas bahasa Jepang:

  1. TOKAI JLT.
  2. Tokai Volunteer Japanese Language School.
  3. TIC Japanese Class.

Ketiga organisasi ini menyediakan kelas dengan hari dan jam yang berbeda. Ada yang menyediakan kelas pada hari Selasa malam, ada juga di Sabtu pagi, dan ada juga di Minggu siang. Silahkan memilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!

Pasti kita sudah sering dengan kata HOAKS. Secara sederhana Hoaks dapat diartikan sebagai berita atau informasi bohong. Seperti yang sudah kita ketahui, setiap perkembangan teknologi pasti akan memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah penyebaran berita hoaks yang semakin menjamur. Salah satu alat penyebarannya adalah melalui media sosial. Penyebaran berita Hoaks ini … Continue reading “Hoaks, tidak kenal latar belakang pendidikan!!!”

“One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)

Salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Ibaraki adalah Hitachi Seaside Park. Beruntungnya kami yang sekarang tinggal di Desa Tokai karena hanya berjarak sekitar 15 menit menggunakan bus dari rumah ke taman ini. Lebih lagi ada bus dari depan rumah yang langsung menuju ke Hitachi Seaside Park. Pertama kali kami mengunjungi Hitachi Seaside Park sewaktu … Continue reading ““One Day Trip” Hitachi Seaside Park (1)”

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi primadona banyak orang. Kali ini saya tidak akan menulis salah satu dari kota-kota primadona para wisatawan tersebut. Mari kita melihat salah satu kota kecil yang … Continue reading ““One Day Trip” ke Oarai-machi”

How I met your mother (5)

Sebelumnya di: Episode 4: How I met your mother (4) Episode 5: Terpesona Hari Minggu di bulan Maret. Kejadian ini hanya berselang beberapa hari sejak kedatangan Andi ke kos. Entah kenapa pada hari Minggu itu saya memilih untuk mengikuti ibadah minggu pagi di gereja HKBP Kota Baru. (Saya mencoba mengingat-ingat kembali ada apa di hari Minggu … Continue reading “How I met your mother (5)”

Featured

‘New Normal’ Perpustakan di Desa Tokai Jepang.

Perpustakan Desa Tokai

Sepertinya sudah cukup lama Henokh dan Maminya tidak berkunjung ke perpustakan. Hal ini tentunya disebabkan karena merebaknya pandemi COVID-19 dan ditutupnya hampir semua fasilitas umum yang ada di Desa Tokai termasuk perpustakaan.

Sejak dilepasnya emergency state beberapa minggu lalu, Mami Henokh berencana untuk mengunjungi perpustakan karena persediaan buku bacaan baik itu untuk Henokh maupun mami Henokh sudah mulai menipis. Hari ini, mereka memutuskan untuk pergi kesana sekaligus singgah ke supermarket untuk belanja harian. Sedangkan saya, tetap tinggal di rumah karena memang hari ini adalah hari kerja dan saya masih melanjutkan work from home (WFH). Kenapa masih WFH walaupun sudah selesai emergency state mungkin akan saya ceritakan pada tulisan lainnya.

Sepulang dari perjalanan jauh mereka, mami Henokh pun menceritakan bahwa ada perubahan di perpustakan terkait dengan ‘new normal’ dan dalam rangka mengurangi interaksi dan jarak antar pengunjung.

Berikut saya coba jabarkan beberapa hal yang berubah sebelum dan sesudah adanya COVID-19.

  • Sesampainya di pintu masuk, sudah disambut oleh petugas perpustakan. Wajib menunjukkan kartu anggota dan mengisi formulir. Selanjutnya, petugas akan memberikan nomor antrian.
  • Terdapat pembatasan jumlah pengunjung yang bisa masuk ke perpustakan dalam waktu yang bersamaan.
  • Apabila jumlah yang berada di dalam perpustakan sudah mencapai batas maksimum, maka pengunjung lainnya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu yang tentunya diatur posisi duduknya sehingga mempunyai jarak yang cukup.
  • Waktu berkunjung di dalam perpustakan dibatasi maksimal 1 jam.
  • Area yang biasanya dipakai untuk duduk sambil membaca di dalam perpustakan, saat ini belum bisa dipergunakan.
  • Beberapa lorong tempat bacaan juga ditutup untuk saat ini.

Demikian sekilas informasi terbaru mengenai kondisi perpustakaan di Desa Tokai saat ini.

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di Jepang ternyata ada sekitar dua atau tiga musim … Continue reading “Musim di Jepang”

“One Day Trip” Fukushima

Salah satu keuntungan yang kami dapatkan sejak tinggal di desa Tokai adalah program “One Day Trip” bagi warga asing. Program ini diselenggarakan oleh Tokai International Association. Program ini diadakan 2x dalam setahun (Juni dan November). Pada bulan Juni 2019 kami belum bisa ikut karena Henokh masih kurang dari 6 bulan. Akan tetapi, trip pada bulan November 2019 … Continue reading ““One Day Trip” Fukushima”

Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?

Sebelumnya di: Mengejar Cinta (1): Janji Biar agak nyambung, baca juga: How I met your mother (4) April 2010 Akhirnya urusan skripsi kelar juga. Tinggal menunggu wisuda di bulan Mei. Wah, waktunya untuk fokus mengejar Laura. Cara satu-satunya dengan kembali les ke ELTI, setelah hampir sebulan absent karena kesibukan tugas akhir. Banyak Perubahan Woow, ternyata banyak perubahan … Continue reading “Mengejar Cinta (2): Boleh minta nomor HP kamu?”

Featured

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (5)

Tokaimura Welfare Center “Kizuna”

Tokaimura Welfare Center “KIZUNA”

Setelah di cerita sebelumnya, saya telah berbagi beberapa fasilitas olahraga yang pernah saya gunakan selama tinggal di Desa Tokai, kali ini saya mau membagikan salah satu fasilitas yang kami manfaatkan sejak masa kehamilan istri hingga saat ini. Fasilitas tersebut adalah Tokaimura Welfare Center ‘Kizuna’.

Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengetahui kehamilan istri yang ditunjukan dengan bukti resmi dari rumah sakit atau klinik adalah membawa bukti kehamilan tersebut ke kantor desa untuk mendapatkan bantuan biaya melahirkan sebesar ¥420.000.

Baca juga: Cara memperoleh berbagai tunjangan dari Pemerintah Jepang untuk Ibu Hamil.

Ternyata, pengurusan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan, ibu dan anak, tidak dilakukan di kantor desa melainkan di KIZUNA.

Beberapa aktifitas dan fasilitas yang didapatkan istri semasa kehamilan di KIZUNA:

  1. Pengurusan bantuan melahirkan serta voucher pemeriksaan rutin. Karena ini pengalaman pertama kami dan sempat salah lokasi pengurusan, tetapi staf yang ada di kantor desa berbaik hati membantu menghubungi pihak KIZUNA untuk melakukan reservasi.
  2. Konsultasi semasa kehamilan. Salah satu yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil adalah konsultasi mengenai kondisi kesehatan ibu dan calon anak. Nah, di Kizuna menyediakan jasa tersebut dan tidak dipungut biaya sama sekali.
  3. Kelas memasak. Para ibu hamil juga diberikan arahan mengenai makanan yang sehat untuk dikonsumsi selama masa kehamilan. Disini istri cukup terbantu karena bisa mendengarkan serta mempraktekkannya secara langsung.
  4. Belajar memandikan bayi. Salah satu kekhawatiran bagi orang tua baru adalah bagaimana cara memandikan bayi. Apalagi bayi yang lahir dimusim dingin, kapan dan berapa suhu air yang nyaman bagi bayi tersebut. Siapa yang bertugas memandikan bayi di masa awal setelah melahirkan? Nah, semua pertanyaan diatas dijawab ketika mengikuti kelas ini. Salah satunya adalah peran seorang ayah yang bertugas memandikan bayi karena bisa jadi si ibu masih dalam kondisi yang belum fit.
Salah satu kegiatan yang diikuti istri yaitu kelas memasak.

Beberapa aktifias dan fasilitas yang dilakukan istri setelah melahirkan di KIZUNA:

  1. Check up rutin. Ada beberapa checkup yang rutin yang bisa dilakukan di Kizuna. Hal ini seperti melakukan pemeriksaan berat badan, tinggi bayi dan juga konsultasi.
  2. Postpartum depression and baby blues. Salah satu hal yang terus diingatkan oleh staf yang ada di Kizuna adalah mengenai postpartum depression dan baby blues. Karena kami hanya berdua saja di Desa Tokai maka suami pun berperan untuk membantu istri apabila melihat tanda-tanda terjadinya kedua gejala tersebut. Selain itu, KIZUNA memberikan fasilitas konsultasi secara gratis untuk meringankan beban para orangtua khususnya ibu yang baru mempunyai bayi.
  3. Play Center. Di Kizuna juga disediakan taman bermain untuk balita baik itu indoor maupun outdoor. Bagi kami, taman bermain ini cukup penting karena disini anak-anak belajar berbagi mainan yang ada disana. Selain itu, anak kami, Henokh, bisa bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak lain yang seumuran dengan dia.
Halaman depan Kizuna yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar bermain maupun bersantai.

Bahasa bukan jadi kendala!

Salah satu hal yang saat ini menghambat komunikasi adalah bahasa. Akan tetapi, petugas di Kizuna akan menyediakan fasilitas yaitu penerjemah dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris yang sangat membantu kami ketika berkonsultasi. Tenang saja, fasilitas penerjemah ini diberikan secara gratis tetapi kita harus membuat janji terlebih dahulu.

Bazaar Perlengkapan Bayi

Sudah menjadi hal umum kalau di Jepang banyak orang yang memanfaatkan toko barang bekas untuk membeli barang keperluan sehari-hari mulai dari perlengkapan dapur, laundry, pakaian, hingga perlengkapan atau mainan bayi.

Salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh Kizuna setiap tahunnya adalah bazaar barang-barang seperti buku anak, pakaian, stroller, hingga perlengkapan bayi lainnya. Setiap orang khususnya masyarakat Desa Tokai yang mau ikut berpartisipasi baik dalam hal menyumbangkan barang yang layak pakai ataupun sekedar ingin membeli barang bazaar tersebut bisa meramaikan kegiatan ini. Harga kupon bazaarnya pun cukup murah sekitar ¥100 hingga ¥500.

Hampir semua barang-barang bisa dibeli secara langsung dengan kupon seperti buku anak, pakaian anak, dll. Akan tetapi, untuk beberapa item seperti stroller, baby car seat, mainan anak dapat diperoleh melalui undian.

Lokasi dan Akses

Kizuna masih terletak di Desa Tokai akan tetapi lokasinya cukup tersembunyi karena diapit oleh hutan-hutan desa.

Alamat: 〒319-1112 茨城県那珂郡東海村大字村松2005

Karena jarak dari rumah ke Kizuna sekitar 3 km dan cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki selama masa kehamilan maka kami memanfaatkan fasilitas taksi desa, Ainori-kun, yang cukup murah dengan biaya sekitar ¥100 untuk ibu hamil sekali jalan. Akan tetapi tidak jarang juga istri mengajak anak kami ke Kizuna dengan berjalan kaki sambil membawa stroller bayi.

Featured

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (4)

Tokaimura Total Gymnastics.

Fasilitas Olahraga

Salah satu yang membuat betah tinggal di Desa Tokai adalah tersedianya berbagai macam fasilitas olahraga. Baik itu fasilitas yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Hal yang membedakannya adalah biaya sewa. Tentu saja yang dikelola oleh pemerintah jauh lebih murah biaya sewanya.

1. Tokaimura Total Gymnastics

Gedung olahraga serba guna ini terletak sekitar 1.5 km dari stasiun Tokai. Gedung ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terdapat beberapa ruangan besar yang dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan olahraga. Main court dapat digunakan untuk bermain basket, voli, badminton ataupun kegiatan lainnya. Selain itu terdapat juga beberapa lapangan indoor yang digunakan untuk kegiatan Judo/Kendo maupun Kyudo (Seni bela diri panahan).

Untuk harga sewanya sendiri cukup bervariasi. Berdasarkan pengalaman saya, harga sewanya sekitar ¥ 300 untuk menyewa main court (bermain badminton) dengan durasi sekitar 3 jam. Harga sewa ini cukup terbilang murah dibandingkan ketika menyewa lapangan badminton yang dikelola oleh pihak swasta.

Untuk lantai dua, terdapat training room yang biasanya digunakan untuk nge-gym. Fasilitas yang terdapat di tempat nge-gym sendiri bisa dibilang cukup lengkap. Harga tiket untuk bisa menggunakan training room adalah ¥100. Dengan harga yang sangat murah ini, anda bisa berolahraga sepuasnya.

Beberapa fasilitas tambahan yang dapat digunakan secara gratis di gedung ini:

  1. Shower room. Shower room ini berada di lantai 1. Jadi, sehabis berolahraga dapat langsung membersihkan diri di kamar mandi yang telah tersedia. Penggunaan shower ini tidak dikenakan biaya sama sekali.
  2. Locker. Terdapat beberapa (cukup banyak) locker yang terdapat di lantai 2 dan bisa digunakan secara gratis.
  3. Vending machine. Terdapat mesin minuman otomatis yang berada di lantai 1. Tentunya minuman yang tersedia di vending machine ini tidak gratis. Hehehe.

Tokaimura Total Gymnasium

BUKA: 09:00 – 21:30 JST dan 09:00 – 18:30 JST (Hari Minggu dan hari libur).

TUTUP: Hari Senin (Hari Selasa tutup apabila hari Senin terdapat libur nasional), 28 Des – 3 Jan (Libur Akhir dan Awal Tahun).

Berdasarkan pengalaman saya, hari Sabtu dan Minggu siang Gymnasium ini cukup ramai oleh anak-anak sekolah yang mengikuti kegiatan olahraga dari sekolahnya. Sedangkan untuk training room sendiri cukup ramai di malam hari sekitar jam 7 malam.

2. Swimming Plaza

Tepat disebelah Tokaimura Total Gymnasium, terdapat juga kolam renang umum yang dikelola oleh pemerintah. Akan tetapi, kolam renang ini terdapat diluar (outdoor) sehingga tidak bisa beroperasi sepanjang tahun (siapa juga yang mau berenang diluar pada saat musim dingin atau musim gugur..hehe).

Kolam renang yang berada tepat disebelah Tokaimura Total Gymnastics.

Harga tiket sendiri sekitar ¥200 untuk anak SMP maupun orang dewasa, untuk anak SD sekitar ¥100, dan untuk bayi tidak dikenakan biaya (tapi harus ada pendamping).

Swimming pool

1 – 19 Juli dan 21 Agustus – 10 September : 09:00 – 16:00 JST.

20 Juli – 20 Agustus : 09:00 – 19:00 JST.

Karena ini merupakan kolam renang outdoor, maka jam operasional bisa berubah tergantung kondisi cuaca. Selain itu kolam renang akan ditutup sementara untuk perawatan maupun pemeliharan setiap jam 12:00 – 13:00 dan 16:00 – 17:00 JST.

Kedua fasilitas olahraga tersebut hanyalah sedikit fasilitas yang ada di Desa Tokai. Selain itu masih ada kegiatan olahraga lainnya yang diadakan oleh komunitas maupun pemerintah setempat.

How I met your mother (1)

Episode 1 Januari 2010 Cerita ini berlatar belakang sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan liburan semester ganjil di Brastagi (Sumatera Utara), saatnya di awal Januari saya harus kembali lagi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah di semester 8. Semester ini merupakan semester terakhir bagi saya, dimana tinggal menyelesaikan tugas akhir yang sudah diambil dari semester … Continue reading “How I met your mother (1)”

Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Tokai si Desa Nuklir Boleh lah saya saya membuat judul seperti itu. Apakah sebuah clickbait? Bagi saya sih tidak karena sesungguhnya di Desa Tokai memang terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), Tokai Nuclear Power Plant. Cukup ya dengan perkenalan singkatnya. Hehehe Akhir Pekan di Bulan Februari Entah kenapa terkadang jadwal kegiatan di hari Sabtu jauh lebih … Continue reading “Sabtu Ceria di Desa Nuklir”

“One Day Trip” Hokkaido

Pada bulan September 2017 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti conference di bidang nuklir yang diadakan di Hokkaido University. “Hokkaido University terletak di Pulau Hokkaido. Pulau Hokkaido adalah pulau terbesar kedua di Jepang dan Sapporo adalah ibukotanya.” Dikarenakan pada bulan September tersebut saya sudah menyelesaikan semua urusan administrasi dan registrasi untuk kelulusan S3 dan tinggal menunggu … Continue reading ““One Day Trip” Hokkaido”

Main tebak-tebakan yuk..

Hingga saat ini dibeberapa daerah banyak diterapkan WFH. Mari mengisi waktu luang dengan bermain tebak-tebakan yang sederhana. Ini ada satu tebak-tebakan yang sudah lama tapi sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab. 2 + 2 = 4 2 x 2 = 4 Coba cari bilangan lain selain 0 (nol) yang ketika dilakukan operasi matematika dapat … Continue reading “Main tebak-tebakan yuk..”

Featured

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (3)

The 0123, salah satu perusahaan penyedia jasa pindahan di Jepang.

Mahalnya Jasa Pindahan di Jepang

Pada cerita sebelumnya, telah diketahui bahwa pada akhirnya saya hanya bertahan kurang dari satu bulan di Minowa Dormitory dan memutuskan untuk pindah ke dormitory yang lebih dekat dengan stasiun Tokai.

Hal yang harus saya persiapkan sebelum pindahan adalah mencari jasa pindahan. Ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.

Berikut saya tuliskan langkah yang dilakukan ketika hendak menggunakan jasa pindahan.

  1. Mencari perusahaan jasa pindahan. Saat itu saya menggunakan jasa dari perusahaan ” The 0123 “.
  2. Menghubungi perusahaan tersebut untuk membuat janji untuk melakukan Mitsumori (見積り) atau estimation.
  3. Satu orang pegawai perusahaan akan datang ke rumah untuk melihat dan mengestimasikan biaya (Mitsumori (見積り) yang akan dikeluarkan untuk pindahan tersebut. Semakin banyak barang tentunya akan membuat harga semakin mahal. Selain jumlah barang, jarak tempuh juga berpengaruh terhadap harga.
  4. Kalau setuju dengan estimasi harga yang diberikan, maka silahkan membuat janji untuk menentukan tanggal pindah. Kalau tidak setuju dengan estimasi harga yang diberikan silahkan dibatalkan tentunya dengan cara yang baik. Mereka juga tidak akan marah karena hal ini biasa terjadi di dunia usaha.
  5. Pihak perusahaan akan memberikan sejumlah kardus secara gratis apabila menggunakan jasa mereka. Selain itu, mereka juga bisa menangani sampah atau barang yang tidak mau dibawa ke tempat yang baru.
  6. Pembayaran dilakukan setelah semua barang dipindahkan ke tempat tinggal yang baru.

Awalnya saya berpikir bahwa menggunakan jasa pindahan tidak akan begitu mahal karena lokasi pindahan masih di dalam desa Tokai dan jarak tempuh kurang dari 5 km. Selain itu, saya juga tidak mempunyai banyak barang karena hampir semua barang-barang yang ada di apartemen di Tokyo seperti mesin cuci, kulkas, meja makan, rice cooker dll sudah saya hibahkan kepada teman-teman di kampus.

Saat itu, barang yang akan saya bawa ke tempat tinggal yang baru hanya pakaian, buku, TV, meja belajar, peralatan dapur, AC, kasur dan futon.

Berdasarkan kondisi tersebut, tentulah wajar saya membuat asumsi kalau biaya pindahan ini tidak akan begitu mahal. Hingga akhirnya staf tersebut menghitung estimasi biaya yang akan saya keluarkan sekitar ¥ 55.000 diluar biaya pasang AC di tempat tinggal yang baru.

Cukup kaget mengingat dengan jarak sedekat itu biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Jadi teringat semasa tinggal di Kelurahan Miyamae, Kawasaki sering sekali sesama warga Indonesia bahu membahu membantu pindahan sesama warga Indonesia tanpa pamrih dan hanya bermodalkan sewa mobil truk atau pickup (walaupun saya sangat jarang ikutan.. hehe).

Pindahan yang jaraknya masih di dalam Desa Tokai aja harganya segitu ya, gimana pindahan dari Kawasaki ke Desa Tokai ya? Apalagi pindahannya pada saat ‘high season’ sekitar bulan Februari hingga April. Kira-kira bisa kena berapa ya?

Karena ini adalah pengalaman pertama saya, tentunya saya menanyakan kepada teman Jepang mengenai harga yang diestimasikan tersebut. Ternyata teman saya mengatakan harga segitu cukup normal.

Dari sini saya belajar bahwa Jepang adalah negara yang cukup menghargai mereka yang bekerja di bidang jasa. Selain itu cara kerja hingga hasil yang saya terima pun sangat memuaskan.

Pemasangan pelindung pada pintu maupun dinding untuk menghindari kerusakan pada pintu atau barang.

Featured

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (2)

Salah satu hal wajib yang harus dilakukan ketika pindah di Jepang adalah mengurus administrasi kepindahan. Saya sudah mengantongi surat keluar dari tempat tinggal saya yang dulu. Surat inilah yang harus saya bawa ke Kantor Desa untuk mendaftarkan diri sebagai penduduk di desa Tokai.

Seperti di tulisan saya sebelumnya, pengurusan administrasi di Jepang bisa dibilang cukup mudah dan tidak perlu menggunakan ‘oknum atau calo’ untuk mempermudah urusan.

Baca juga: https://liapto.com/2020/04/28/jepang-mengajarkan-ku-1-taat-administrasi/

Setelah semua urusan administrasi selesai, saya memperoleh bingkisan dari Tokai berupa Buku Panduan Hidup di Desa Tokai.

Banyak hal yang menarik yang ditawarkan oleh desa ini seperti: Informasi transportasi umum, Tempat Wisata di Desa Tokai, Kelas Bahasa Jepang, Pelayanan Taksi Desa, Tempat olahraga dan gymnasium, peta Desa Tokai, dll.

Transportasi Umum

Terdapat beberapa transportasi umum yang bisa digunakan di desa Tokai, yaitu: bus, taksi reguler dan taksi khusus.

  • Bus. Terdapat beberapa rute bus yang ada di desa Tokai. Kami menggunakan rute Tokai Station – Hitachi Seaside Park atau Tokai Station – Ibaraki East Hospital. Kedua jalur bus ini melewati dormitory tempat kami tinggal. Informasi yang terdapat di buku panduan Tokai mengenai jadwal bus sepertinya kurang diperbaharui (2018). Awalnya, saya cukup optimis karena rute tersebut mempunyai jadwal yang cukup banyak (hampir setiap jam ada bus yang lewat melalui rute tersebut). Untuk harga tiketnya sendiri dipatok berdasarkan jarak. Harga tiket dari Tokai Station menuju Hitachi Seaside Park sekitar ¥ 530. Sedangkan dari Tokai Station ke Minowa Dormitory sekitar ¥ 330.
  • Taksi reguler. Hampir sama seperti kebanyakan taksi yang ada di Jepang dimana tarif yang digunakan adalah ¥730 untuk 2 km pertama. Sejauh ini ada dua taksi yang beberapa kali kami gunakan, yaitu JOTO Taxi dan SUN Taxi, terutama pada saat istri sedang hamil.
  • Taksi khusus (Ainori-kun). Taksi ini adalah layanan khusus yang disediakan oleh desa Tokai kepada warganya. Taksi ini bisa menghantarkan kita kemana saja selama itu berada di Desa Tokai. Tarif yang dibayarkan pun cukup murah dibandingkan dengan taksi reguler. Biasanya tarif ini disesuaikan dengan kondisi penumpangnya (ibu hamil, anak kecil, nenek, kakek, orang dewasa) tapi harga paling mahal yang dibayarkan adalah ¥300 untuk satu kali penggunaan jasa Ainori-kun. Untuk mendapatkan jasa taksi ini, kita harus mendaftarkan semua anggota keluarga ke bagian administrasi Ainori-kun yang terdapat di kantor desa Tokai. Karena ini taksi khusus, maka terdapat jam operasional yaitu dari jam 08:00 – 16:30 setiap hari Senin sampai Sabtu. Taksi ini tidak bisa digunakan dihari Minggu maupun hari libur nasional.
Salah satu informasi yang ada di buku panduan Tinggal di Desa Tokai

Dari informasi awal yang saya terima, sepertinya saya cukup optimis untuk tinggal di Minowa Dormitory walaupun lokasinya berada di tengah-tengah persawahan dan tidak ada supermarket atau minimarket di sekitarnya. Akan tetapi, baru seminggu saya tinggal di desa ini, terjadi perubahan jadwal bus dimana jadwal bus di siang hari telah ditiadakan untuk rute Minowa Dormitory – Tokai station. Bagi saya, hal ini tidak begitu bermasalah karena saya berada di lab dari pagi hingga sore hari. Akan tetapi, ini menjadi masalah besar bagi istri. Bagaimana nantinya dia bisa pergi belanja ke supermarket? Bagaimana kalau bosan di rumah dan ingin jalan kota sebelah? Banyak pertimbangan yang akhirnya dipikirkan hanya gara-gara jadwal bus yang berubah.

Pada saat saya pindah ke Desa Tokai, istri sedang berada di Indonesia untuk menyelesaikan beberapa urusan. Hal ini membuat istri belum mengetahui secara langsung kondisi Desa Tokai saat itu.

Melihat situasi tersebut, akhirnya saya berdiskusi dengan pak bos di tempat kerja untuk minta dicarikan dormitory yang lokasinya berada di sekitar stasiun. Bersyukur banget karena pak bos sangat baik hati membantu semua proses dari awal hingga pindah ke dormitory yang baru.

Hasilnya, saya hanya tinggal di Minowa Dormitory kurang dari satu bulan. Setelahnya, kami pun tinggal di dormitory yang baru, Hyakutsukahara Dormitory, dan lokasinya berada di “downtown” desa Tokai dan hanya berjarak sekitar 1.5 km dari stasiun Tokai.

Barang pindahan dari Minowa ke Hyakutsukahara dormitory.

Featured

Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang.

Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah.

Gambaran singkat yang saya peroleh hanyalah dari beberapa teman yang pernah tinggal disini selama beberapa bulan pada saat menjalani internship di perusahaan tempat saya berkerja saat ini, JAEA (Japan Atomic Energy Agency).

Cek Lokasi dari Google Map

Salah satu hal yang sering saya lakukan sebelum pindah adalah menjelajahi desa Tokai secara virtual melalui google map. Hal ini saya lakukan untuk mendapatkan gambaran lokasi kerja, stasiun kereta, hingga suasana lingkungannya. Dari kegiatan ini terangkum bahwa jarak dari Stasiun Tokai ke tempat kerja kurang lebih 5 km dan wilayah yang sebahagian masih berupa hutan atau persawahan.

Tempat Tinggal

Perusahaan tempat saya bekerja memberikan pilihan untuk tinggal di dormitory (asrama) atau mencari apartemen sendiri. Dormitory yang disediakan pun ada untuk yang single maupun yang berkeluarga. Karena saya tidak punya gambaran yang jelas serta tidak mengetahui lokasi desa Tokai dan kota yang ada disekitarnya, maka tinggal di dormitory menjadi pilihan yang saya pilih saat itu.

Hal lain yang tidak saya ketahui adalah, perusahaan ini punya banyak dormitory yang tersebar di beberapa lokasi desa. Hampir diseluruh penjuru desa terdapat dormitory milik perusahaan. Ada yang berlokasi di dekat kantor, ada yang di dekat stasiun Tokai, ada yang dekat ‘pusat desa’ Tokai, hingga ada juga yang di dekat kuburan yang dikelilingi oleh persawahan.

IMG_6521
Minowa Dormitory

Jackpot

Sekitar dua bulan sebelum pindah ke Desa Tokai, perusahaan sudah memberitahukan dormitory yang akan ditempati. Saat itu saya diberikan ijin tinggal di Minowa Dormitory. Langsung saya membuka Google Map untuk melihat lokasi dormitory ini. Hasilnya, dormitory tersebut terletak sekitar 5 km dari Stasiun Tokai dan 3 km dari kantor. Ditambah lagi tidak terdapat supermarket, minimarket, atau bahkan market-market lainnya disekitar dormitory. Hanya ada persawahaan, kuburan, dan bahkan tidak ada rumah warga disekitarnya.

Jackpot sekali saya dapat dormitory ini.

IMG_6520
Pemandangan sekitar dormitory.

Hari Pertama di Desa Tokai

Hari pertama saya tiba di desa Tokai berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan ketika pertama kali tiba di Tokyo.

Saya sengaja pindah ke Desa Tokai pada hari Sabtu sehingga bisa beristirahat dan mengenal lingkungan sekitar sebelum memulai kerja di Hari Senin.

Saya tiba di Stasiun Tokai sekitar pukul 19:30 JST.  Tidak tampak banyak orang berlalu lalang di sekitar stasiun bahkan sulit melihat kendaraan yang melaju di sekitar stasiun. Suasana yang sangat berbeda jauh dengan tempat tinggal sebelumnya. Tapi, gedung AEON 3 lantai yang berdiri di depan stasiun cukup meyakinkan bahwa Desa Tokai ini bukanlah desa yang bisa dipandang sebelah mata saja.

IMG_6362
Stasiun Tokai di malam hari.

 Mumpung ada AEON, saatnya menikmati makan malam di desa ini sambil membeli sedikit makanan dan minuman untuk persediaan di hari esok. Tentu, saya tidak mau bersikap bodoh dengan tidak membeli apapun  di AEON mengingat saya tidak mengetahui dimana lokasi convenience store atau sejenisnya di dekat dormitory.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:00 JST. Saya pun hendak menuju ke dormitory untuk beristirahat.

Dari Stasiun Tokai ke Minowa Dormitory bisa ditempuh menggunakan bus atau taksi. Biaya yang dibutuhkan dengan bus sekitar ¥350 sedangkan dengan taksi sekitar ¥2.000. Tentulah menggunakan bus menjadi pilihan yang utama tetapi saat itu saya baru menyadari bahwa jadwal bus terakhir dari Stasiun Tokai adalah pukul 20:34 JST ditambah lagi tidak setiap jam ada bus yang beroperasi.

Hal ini tentunya hal pertama yang cukup mengagetkan ketika tinggal di desa Tokai.

Mau tidak mau saya pun harus menggunakan taksi menuju dormitory. Betapa kegetnya saya karena sepanjang perjalanan menuju dormitory tidak ada apapun selain hamparan sawah, tanah kosong, dan beberapa pabrik. Hanya ada satu minimarket dan itu berjarak sekitar 2 km dari stasiun ditambah lagi rute tercepat menuju dormitory memiliki beberapa tanjakan dan turunan.

Hal itu menjadi hal kedua yang membuat saya cukup kaget ketika baru sampai di Desa Tokai.

Baru tiba di Desa Tokai dan belum sampai ke dormitory saja, saya sudah dikagetkan dengan dua hal tersebut. Hal yang belum pernah terjadi selama tinggal di Tokyo.


 

Cerita lainnya: Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #11. Misteri hilangnya tepung roti.

Rasa penasaran mami Henokh semakin menggebu-gebu belakangan hari ini.

Dari sekian banyak roti yang dibuat mulai dari roti tawar, roti isi coklat dan aneka macam isi, hingga pizza telah berhasil disajikan sebagai cemilan rumah. Namun, ada satu jenis roti yang masih belum berhasil dengan sempurna disajikan walaupun sudah beberapa kali dicoba.

Akhir pekan yang lalu, mami Henokh pun hendak mencoba membuat roti tersebut. Akm tetapi dia baru sadar kalau tepung roti di rumah sudah habis.

L : Sayang, jaga Henokh ya. Aku mau ke AEON beli tepung.

I : Lah, itu yang dirak gak tepung?

L : Yang protein tinggi lohhhh..

I : Lah, emangnya ada bedanya? Sama aja kulihat semuanya itu bentuknya. Hahaha.

L : 😤😤

I : Yowes pergilah. Jangan lama kali.

Mami Henokh pun bergegas pergi dengan mengayuh sepeda menuju AEON. Jarak dari rumah ke AEON sekitar 1.5 km.

10 tahun kemudian…

I : Busettt.. lama kali bah mau beli tepung aja. Yang sampai ke Tokyo kau beli tepungnya?

L : (sambil napas ngos-ngosan) Aduhh gak ada tepungnya di AEON. Udah kukelilingi semua supermarket di desa Tokai ini. AEON, YORKBENIMARU, FOOD OFF, KAZUMI, MATSUMOTOKIYOSHI. Udah capek kali aku.

I : Hahhh.. itu namanya kau keliling desa..🤣

L : Tadi kan udah kubilang. Kau gak percaya.

Hingga tulisan ini diterbitkan tepung tersebut masih belum diketahui keberadaannya.

Adakah yang mempunyai kasus yang sama di sekitar daerahnya?

🧐🧐🧐

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. Mau makan tepung?

Mami Henokh sedang memulai hobi baru ditengah kondisi work from home yaitu membuat roti.

Hal utama yang menjadikan ini hobi baru mami Henokh adalah sang suami dan anak yang doyan makan roti.

Beberapa minggu lalu, mami Henokh pergi ke grosir (Costco) untuk membeli kebutuhan mingguan. Sesampainya dirumah, dia langsung memulai obrolan sebagai berikut:

L : Sayang, tadi aku nemu tepung roti. Tapi masih galau mau beli sekarang atau besok-besok aja.

I : Kenapa emangnya? beli aja lah.

L : Harganya sekitar ¥3.000.

I : Hahhhhh.. Tepung roti apaan segitu harganya?

L : Ukuran 20 kg lohhhh…

I : Hahhhhh.. 20 kg? Mau makan tepung kita bulan ini? Beras kita sebulan aja gak nyampe 10 kg loh.

L : Iya jugakk.. Yaudah ntar aja deh kubeli.🤣

Minggu lalu, mami Henokh pun pergi ke Costco untuk kembali membeli buah dan kebutuhan dapur lainnya.

Sesampainya di rumah, dia langsung histeris bercerita:

L: Tepungnya Habis!!! Aku menyesal tidak membelinya.

I : Hehhh.. habis??? Tapi beras masih ada kan?

L : Iya masih ada dijual.

I : Wahh, syukurlahh gak jadi makan tepung kita..hahaha

L : 😐😐😐

Featured

Dampak COVID19 terhadap tagihan air (PAM) di Desa Tokai Jepang

Air adalah salah satu sumber utama dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak kegiatan sepanjang hari yang membutuhkan air mulai dari mandi, minum, hingga mencuci pakaian.

Sejak menyebarnya kasus COVID19 di prefektur Ibaraki, tingkat pemakaian air pun semakin meningkat di rumah. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh istri adalah wajib mandi setelah keluar dari rumah. Selesai bermain di taman sebelah rumah pun harus mandi lagi. Intensitas mandi berdampak juga terhadap intensitas penggunaan mesin cuci karena semua pakaian wajib langsung dicuci apabila sudah dipakai keluar rumah. Tentulah kedua hal ini berdampak langsung terhadap kenaikan volume penggunan air sepanjang periode bulan Maret hingga Mei sebesar 7 m³.

Tentu saja dampak kenaikan penggunaan air ini akan berakibat terhadap kenaikan tagihan air, bukan?

Tagihan air di Desa Tokai

Tagihan air sedikit berbeda dengan tagihan listrik maupun gas. Tagihan air dibayarkan setiap dua bulan sekali. Selain itu, tagihan air di Desa Tokai dikatagorikan kedalam dua bagian, yaitu: penggunaan air (PAM) dan air limbah.

Untuk sistem pembayaran air, bisa dilakukan dengan manual (bayar melalui minimarket) ataupun auto debit.

Kami sendiri biasanya menggunakan sekitar 30 hingga 40 m³ air selama dua bulan untuk kebutuhan sehari-hari dengan total tagihan sekitar ¥ 8.000 hingga ¥ 12.000.


Kasus luar biasa pernah terjadi di musim dingin (Nov – Jan) dimana pemakaian air melonjak hingga 60 m³. Saat itu, petugas air datang sampai datang ke rumah untuk melakukan pengecekan apakah terdapat kebocoran saluran air.


Dampak COVID19

Tidak bisa dipungkiri bahwa COVID19 telah memberikan dampak yang begitu besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap banyak sektor kehidupan, salah satunya adalah dampak ekonomi.

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah (Desa Tokai)  memberikan bantuan subsidi biaya air kepada rumah tangga maupun pelaku usaha yang ada di Desa Tokai. Bantuan ini berupa penggratisan atau keringanan untuk biaya air (PAM) sedangkan untuk biaya air limbah tidak mendapatkan subsidi untuk periode pemakaian di bulan April dan Mei.

Kebijakan ini bisa jadi berbeda ditiap-tiap daerah. Untuk lebih jelasnya silahkan dicek di website daerah masing-masing.

PQCME3499
Biaya air (PAM) ¥0 dan biaya limbah ¥ 4.850.

Sumber

https://www.vill.tokai.ibaraki.jp/kurashi_tetsuzuki/jo_gesuido/4868.html

 

Featured

One Day Trip: Edo Wonderland ‘Desa Ninja’

Jepang adalah negara yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mulai dari perkembangan teknologi, budaya hingga beragam tempat wisata yang dikelola dengan sangat baik menjadikan negara ini banyak di kunjungi oleh wisatawan mancanegara.

Salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi adalah Edo Wonderland yang terletak di Prefektur Tochigi. Edo Wonderland adalah sebuah theme park yang didesain sesuai dengan kebudayaan pada periode Edo. Banyak atraksi yang ditampilkan mulai dari atraksi rumah ninja, labirin, bermain panah, berpakaian layaknya di mana Edo dan masih banyak atraksi dan permainan yang bisa dinikmati sepanjang hari.

Berikut ini adalah pengalaman saya, istri dan teman-teman lainnya pergi berpetualang ke zaman Edo pada liburan Golden Week. Tentu saja bukan di tahun 2020.

IMG_0741
Liburan Golden Week bersama mereka.

 

Akses

Dari Tokyo menuju Edo Wonderland di daerah Nikko, Tochigi membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan kereta.

Kami berangkat dari Tobu Asakusa Station dan turun di Kinugawa-Onsen Station. Selanjutnya, menggunakan bus dari kurang lebih 15 menit menuju Edo Wonderland. Selain bus bisa juga menggunakan taksi, terutama kalau jadwal bus sudah kelewatan. Rute yang sama juga yang nantinya digunakan sewaktu kembali ke Tokyo.

Saat itu, kami menggunakan taksi dari Edo Wonderland ke Kinugawa-Onsen Station karena hendak mengejar jadwal kereta dari Kinugawa-Onsen menuju Tobu Asakusa.

Alamat : 〒321-2524 Tochigi Prefecture, Nikko City, Karakura 470-2

Two Days Pass

Saat itu, kami menggunakan two days pass karena lebih menguntungkan dimana biaya tersebut sudah termasuk tiket kereta pulang pergi dan tiket masuk ke Edo Wonderland serta Tobu World Square (akan dibahas dilain tulisan).

Alasan utama kenapa memilih yang two days pass karena daerah Nikko terkenal cukup banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi dan satu hari saja tidak cukup. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak ingin menginap dan hanya ingin mengunjungi satu tempat saja tetap bisa menggunakan one day pass atau bisa menggunakan jalur reguler dimana tiket kereta dan tiket masuk Edo Wonderland dibeli terpisah.

Saat itu kami membeli tiket two days pass nya di counter ticket yang ada di Tobu Asakusa Stasiun pada hari H-1. Sebenarnya bisa juga membeli pada hari H tapi harus menunggu counter buka terlebih dahulu. Selain itu bisa juga membeli tiketnya secara online.

Silahkan klik link berikut untuk informasi lebih lengkap. Mungkin ada perubahan harga dari tahun sebelumnya, sehingga saya tidak mencantumkan harga.

https://tobutoptours.com/en/nikko-city-area-and-themeparkpass.html

One day trip

Liburan di saat liburan panjang ‘Golden Week‘ merupakan pengalaman yang luar biasa menyenangkan. Salah satunya adalah penumpang kereta yang luar biasa banyak menuju tempat-tempat wisata.

Demi menghindari antrian khususnya di tempat wisata, kami pun berencana berangkat sekitar jam 7 pagi dari Tobu Asakusa Station sehingga bisa tiba di Edo Wonderland sekitar jam 9:30an.

Hal yang perlu dipersiapkan selama perjalanan di kereta adalah minuman dan makanan. Di Jepang, hampir semua convenience store (konbini) menjual bento yang bisa dinikmati secara praktis.

Pastikan tetap menjaga kebersihan kereta setelah makan dengan menyimpan kembali sampah makanan anda. Kami membawa sampah makanan tersebut hingga tiba di stasiun tujuan, Kinugawa-Onsen Station.

Sepanjang perjalanan, tidak banyak aktifitas yang kami lakukan selain ngobrol dan tidur. Tentu saja rasa kantuk ini disebabkan karena bangun yang terlalu cepat di pagi hari. Hehehe.

Kinugawa-Onsen Station

Udara pegunungan yang sejuk dan cuaca yang cerah di bulan Mei menyambut kedatangan kami di Nikko. Terdapat banyak toko souvenir yang menyajikan oleh-oleh khas daerah ini. Sambil menunggu bus, kami pun menikmati berkeliling di seputaran stasiun. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu kedatangan bus di pagi hari.

Saya lupa apakah tiket pass kami sudah termasuk ongkos bus menuju Edo Wonderland.

Edo Wonderland

Nuansa Jepang ala Jaman Edo sudah langsung terasa begitu kami sampai di pintu masuk Edo Wonderland. Tentunya kami ke loket tiket dulu untuk menukarkan tiket pass.

Di seberang loket penjualan tiket terdapat coin locker yang berfungsi untuk menyimpan barang bawaan yang tidak perlu dibawa masuk ke dalam. Kami memanfaatkan loker tersebut untuk menyimpan semua tas yang kami bawa agar meringankan beban selama mengikuti permainan didalam.

IMG_0750
Menikmati taman-taman yang ada di dalam Edo Wonderland.

Berpakaian ala zaman Edo

Hal pertama yang dijumpai di sekitar pintu masuk adalah bangunan yang menyediakan penyewaan pakaian ala zaman Edo. Banyak pilihan pakaian yang disediakan mulai dari pakaian ninja, samurai, princess, lord, polisi dll.

Tentu saja kita dibantu oleh staf dalam mengenakan pakaian tersebut. Selain itu ada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk menyewa pakaian tersebut.

Brosur dan Jadwal Pertunjukan

Hal penting lainnya yang akan kita peroleh dari staf di bagian penjualan tiket adalah brosur dan jadwal pertunjukan.

Brosur Edo Wonderland ini akan memberikan petunjuk semua jenis pertunjukan yang ada di dalam area tersebut. Selain itu, jadwal pertunjukan memudahkan kita untuk mengetahui jam dimulainya sebuah pertunjukan hingga berapa lama durasi yang dibutuhkan untuk menonton pertunjukan tersebut.

Karena banyak permainan dan pertunjukan yang bisa dinikmati, saya berusaha merangkum beberapa pertunjukan yang kami nikmati sepanjang hari kedalam dua bagian yaitu: pertunjukan indoor yang mempunyai jadwal pertunjukan dan pertunjukan indoor maupun outdoor yang bisa dinikmati kapan saja.

Pertunjukan indoor berjadwal

Ninja Karasu Goten

Karena Edo Wonderland terkenal dengan desa ninjanya, maka tidak salah jika kami memprioritaskan untuk menikmati pertunjukan ninja terlebih dahulu. Disini kita akan masuk ke dalam sebuah rumah jepang dan menikmati pertunjukan bagaimana para ninja beraksi dengan menggunakan kemampuan bertarung, menghilang, bersembunyi, hingga muncul lagi dari tempat yang tidak kita terduga.

Suasana ruangan ini akan dibuat gelap dan tentu saja tidak boleh merekam atau mengambil foto saat pertunjukan dimulai.

Posisi duduk akan sangat menentukan ketegangan sewaktu menonton pertunjukan ini karena bisa saja ninjanya muncul disebelah kita.

Cukup ya spoilernya. Silahkan berkunjung kalau mau melihat keseruannya secara langsung.

 

Pertunjukan ninja lagi (lupa namanya..hehehe)

Ada juga bangunan lain yang menyajikan pertunjukan ninja lainnya. Kali ini pertunjukannya di ruangan yang besar dan tema yang dimainkan pun cukup beragam. Kalau di poin 1 menunjukan kehebatan pertarungan ninja di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan jebakan dan tempat persembunyian. Kali ini temanya lebih kepada pertarungan ninja di alam terbuka.

Kedua pertunjukan ini masih menjadi favorit penulis. Kalau kesana lagi pasti wajib menonton atraksi ini lagi.

Mizugei-za (Permainan air)

Di tempat lainnya, ada juga atraksi permainan air yang sangat luar biasa dimainkan. Permainan air yang disertai oleh kemampuan para aktor dan artis panggung ini membuat seolah-olah air ini bisa dikontrol oleh mereka. Ditambah lagi adanya permainan lampu membuat pertunjukan ini menjadi sangat luar biasa.

IMG_0788
Salah satu atraksi yang bisa dinikmati di Edo Wonderland.

Pertunjukan Drama

Salah satu pertunjukan lainnya adalah drama panggung yang menyajikan cerita tentang kehidupan pada masa Edo. Cukup menarik untuk menonton drama tersebut karena diselingi dengan humor-humor lucu. Walaupun semua aksinya disajikan dalam Bahasa Jepang, tapi bagi mereka yang tidak mengerti Bahasa Jepang masih bisa menikmati juga.

Parade Jalanan.

Parade di jalanan dimana para aktor dan artis menggunakan pakaian zaman Edo merupakan salah satu hal menarik lainnya. Tentu saja bagi para photographer ini menjadi daya tarik tersendiri untuk bisa mengabadikannya.

 

Pertunjukan indoor dan outdoor tidak berjadwal

Karakuri Ninja Maze

Ini adalah permainan mencari jalan keluar. Kita akan masuk ke dalam labirin dan berusaha mencari jalan keluarnya. Labirin ini penuh trik, jadi perhatikan dengan seksama ketika anda berjalan. Bisa jadi jalan keluar ada disebelah anda.

Kai kai Ninja House

Ini adalah sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat ninja berlatih. Secara kasat mata tidak ada yang aneh dari rumah tersebut begitu juga didalamnya. Tapi, ketika kami masuk kedalam, ternyata sungguh luar biasa menakjubkan. Apa yang terlihat datar belum tentu datar, bisa jadi tanjakan atau bahkan turunan.

IMG_0777
Permainan di Kai kai Ninja House. Asli pusing dan mual keluar dari rumah ini.

 

Jigoku Temple

Kalau anda berpikir ini adalah sebuah kuil biasa maka itu salah besar karena sebenarnya ini adalah semacam rumah hantu. Silahkan bagi yang mau mencoba merasakan sensani hantu-hantu Jepang. Tenang aja, didalam tidak dijumpai hantu Indonesia. Jadi, kalau ada yang melihat hantu Indonesia itu artinya anda melihat penampakan beneran. Hehehe

Ninja Experience

Di Edo Wonderland ditawarkan juga permainan yang menggunakan senjata-senjata ninja salah satunya bagaimana teknik melempar Shuriken, itu loh senjata ninja yang berbentuk seperti bintang.

Masih banyak lagi pertunjukan baik itu indoor maupun outdoor yang bisa dinikmati. Yang disebutkan diatas adalah sebagian dari tempat-tempat favorit yang saya kunjungi.

Makan Siang

Karena kita sedang berada di dalam kawasan semacam theme park maka akan sulit rasanya mencari makan siang diluar area Edo Wonderland. Terdapat beberapa macam jenis makanan yang disediakan mulai dari cemilan ringan hingga makanan berat. Berikut beberapa jenis makanan yang tersedia: Ramen, Udon, Yakiniku, Nasi kare, ayam goreng ‘karaage’, Sate ‘yakitori’, dll.

Harga makanan yang ditawarkan juga bervariatif tetapi masih masuk akal. Menurut saya, salah satu kelebihan Jepang dibidang pariwisata adalah menjaga harga makanan di daerah wisata dengan cukup rasional sehingga tidak membuat pengunjung berpikiran kalau makan di tempat wisata itu harganya mahal.

Pulang

Tidak terasa sudah hampir pukul 5 sore dimana jam operasional Edo Wonderland akan segera berakhir di hari tersebut. Karena ini adalah two days trip, kami pun menginap di hotel yang berada di sekitar Kinugawa-Onsen Station. Yang menarik adalah tidak banyak toko atau restoran yang buka dimalam hari. Kami pun membeli makan malam di convenience store yang ada di dekat stasiun.

Saatnya beristirahat sebelum melanjutkan petualangan ke tempat lainnya di keesokan harinya.

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #9. International Mother’s Day

Setelah selesai beberapa rangkaian kegiatan di hari Minggu sore hingga malam, akhirnya tiba waktunya mengecek HP untuk melihat perkembangan dunia maya. Salah satunya adalah kiriman gambar di salah satu grup WA mengenai Mother’s Day.

Awalnya cukup heran dan bertanya-tanya, ada peringatan apa di hari Minggu 10 Mei 2020?

Demi menjawab pertanyaan itu, akhirnya saya pun bertanya ke istri.

Laura (L), Irwan (I), Henokh (H)

I : Sayang, ada peringatan apaan hari ini? kenapa ada pesan ini ya di grup? *sambil menunjukkan HP ke istri.

Gambar yang diterima dari grup WA.

L: Oo.. International Mother’s Day.

I: Owalah.

L: Udah. Gitu doank?

I: Hahh? Terus mau gimana?

L: Gak ada kasih ucapan atau apaan gitu. *muka sudah mulai sebel.

I : Selamat hari ibu internasional. Udah kuucapin yaa..Hahaha

L: Hemmmmmm.. Gak berubah yaa dari dulu.

Keesokan harinya

I: Sayang, pagi ini aku WFH trus siang ke lab ya.

L: Ok.

Seperti biasanya, sebelum pulang dari lab menuju ke rumah, saya selalu bertanya apa ada yang mau dibeli di supermarket ke mami Henokh.

I: Sayang, aku mau pulang. Ada titipan gak?

L: Beli susu aja di supermarket.

I: Ok.

Setibanya dirumah, peraturan selama masa covid19 adalah langsung menuju kamar mandi dan mandi dulu sebelum masuk ke ruang tamu.

Kebanyakan tipe apartemen di Jepang memberikan posisi kamar mandi dan toilet di area dekat pintu masuk. Mirip dengan sistem kamar hotel lah kira-kira.

Cheesecake, kue kesukaan Mami Henokh.

I: Ini susu dan cheesecake kesukaanmu.

L: Hehhh.. dalam rangka apa? tumben kali.

I: International Mother’s Day.

L: Gitu donk..ehhhh, beli pakai uang apa ini?

I: Ya uang belanja lahhh..hahaha

L: 😤😤😤😤

Featured

Pengalaman Ngekost di Pulau Buatan ‘Odaiba’ Jepang.

Abstrak

Salah satu asrama mahasiswa yang tersedia bagi mahasiswa asing khususnya kampus Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech) adalah Tokyo International Exchange Center (TIEC) yang terletak di Odaiba, Tokyo. Tinggal di Odaiba yang merupakan salah satu pulau buatan di Tokyo dan terkenal sebagai salah satu tempat wisata tentunya mempunyai daya tarik tersendiri. Tulisan ini akan membagikan kisah pengalaman selama tinggal di Odaiba dari segi kelebihan maupun kekurangannya.

Kata kunci: Asrama TIEC, Odaiba, Berbagi pengalaman.

Pendahuluan

Salah satu kebutuhan bagi mahasiswa asing yang belajar di Jepang adalah tempat tinggal. Ada banyak universitas yang menyediakan tempat tinggal bagi para mahasiswa baik itu mahasiswa Jepang maupun mahasiswa asing. Khususnya untuk mahasiswa asing di Tokyo Tech, pihak universitas menyediakan beberapa lokasi asrama yang bisa ditempati bagi mahasiswa baru khususnya mahasiswa asing. Akan tetapi, beberapa asrama pada umumnya hanya bisa ditempati selama satu tahun saja. Hal ini tentunya membuat mahasiswa harus mencari tempat tinggal yang baru di tahun berikutnya.

Selain asrama, tentu mahasiswa bisa mencari kost-kostan (atau biasa disebut apato dalam Bahasa Jepang) yang banyak tersedia di sekitar kampus. Akan tetapi, biaya awal yang dikeluarkan untuk menyewa sebuah kamar kost tergolong cukup tinggi. Sebagai gambaran, uang awal yang dibutuhkan untuk menempati kos-kosan di Jepang adalah sekitar 3-5 kali dari harga sewa bulanan.


Salah satu cerita yang membahas tentang biaya tinggal di Tokyo: Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga


Nah, dilema ini tentunya akan membuat sebagian mahasiswa berpikir apakah ada pilihan untuk tinggal di asrama dengan jangka waktu lebih dari satu tahun? Bagaimana dengan yang berkeluarga, adakah asrama buat mahasiswa yang membawa serta keluarganya? Jawabannya, ADA. Tokyo International Exchange Center (TIEC) adalah salah satu asrama yang menyediakan tempat tinggal baik untuk mahasiswa single maupun yang berkeluarga.

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman secara lengkap selama tinggal di TIEC. Dengan pengalaman ini, tentunya bisa memberikan gambaran sebelum memutuskan apakah tinggal di TIEC atau memilih untuk ngekost.

Tokyo International Exchange Center (TIEC)

TIEC adalah asrama mahasiswa ini dikelola oleh Japan Student Service Organization (JASSO). Mahasiswa asing yang kuliah di Tokyo Tech adalah satu dari beberapa universitas yang bisa mendaftarkan diri untuk bisa tinggal di TIEC. Asrama ini berlokasi di Odaiba, salah satu pulau buatan di Tokyo, yang dapat diakses menggunakan monorel “Yurikamome” line ataupun subway “Rinkai” line.

TIEC menyediakan empat buah gedung yaitu Gedung A, B, C, dan D. Masing-masing gedung mempunyai karakteristik tersendiri.

Gedung A dan B, dikhususkan bagi mahasiswa asing yang berstatus single. Sedangkan Gedung C dan D khusus bagi mereka yang sudah berkeluarga.

IMG_9511
Terlihat Gunung Fuji dari beranda kamar.

Fasilitas yang ditawarkan TIEC

Setiap gedung mempunyai fasilitas yang berbeda beda dan tentunya semakin lengkap akan berpengaruh terhadap harga sewa per bulannya. Selain itu, ada juga fasilitas umum yang bisa dinikmati oleh setiap penghuni asrama TIEC.

Berikut ini beberapa fasilitas umum yang ditawarkan kepada semua penghuni:

  • Gymnasium dan Training Room. Di gymnasium terdapat lapangan basket, badminton, futsal, hingga tennis meja. Semua fasilitas tersebut bisa digunakan secara gratis tetapi harus mendaftar ke bagian administrasi sebelum menggunakannya. Sedangkan untuk Traning Room sendiri sudah dilengkapi berbagai macam alat kebugaran seperti yang terdapat di fitness center pada umumnya. Untuk training room, bisa digunakan secara langsung tanpa melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Kedua fasilitas ini terdapat di gedung ‘Plaza Heisei’ yang mana dilengkapi pula oleh shower room. Sehingga sehabis berolahraga bisa langsung bersih-bersih di kamar mandi.
  • Ruang Rapat dan SeminarSalah satu aktifitas yang diselenggarakan oleh pihak pengurus TIEC adalah seminar yang dibawakan oleh penghuni TIEC. Karena penghuni asrama berasal dari latar belakang jurusan dan ilmu yang berbeda beda, maka mengikuti seminar santai mengenai penelitian yang dikerjakan oleh salah satu penghuni asrama menjadi salah satu pilihan mengisi waktu kosong di hari Sabtu.
  • Minimarket (konbini). Salah satu hal yang menyenangkan di TIEC adalah tersedianya konbini yang berada di lingkungan TIEC dan beroperasi 24 jam setiap hari. Hal ini memudahkan apabila tengah malam terasa lapar dan tidak ada makanan di dalam kamar. Konbini ini terletak di dekat Gedung B.
  • Studio musik. Bagi mereka yang suka bermain musik seperti piano atau mau ngeband, terdapat studio musik yang dibisa digunakan secara gratis. Studio ini terdapat di lantai dasar Gedung B.
  • Parkir Sepeda hingga Mobil. TIEC juga menyediakan fasilitas parkir untuk sepeda secara gratis sedangkan untuk mobil atau sepeda motor dikenakan biaya bulanan. Tapi tenang saja, biaya parkirnya jauh lebih murah dibandingkan tempat parkir pada umumnya yang ada di Tokyo.

Selanjutnya, mari kita bedah tipe kamar dan fasilitas yang terdapat didalamnya untuk setiap gedung.

  • Gedung A. Tipe kamar yang ada di Gedung A adalah tipe studio dengan luas sekitar 20 m2 dengan tipe ruangan western style (bukan menggunakan lantai tatami). Fasilitas yang tersedia di dalam kamar: kamar mandi, toilet, microwave, AC, tempat tidur, lemari pakaian, meja dan kursi belajar beserta rak buku yang besar, dan telepon. Tidak semua kamar mandi dalam di Gedung A mempunyai bathtub. Fasilitas umum yang tersedia di setiap lantai: dapur, ruang diskusi dilengkapi dengan TV, coin laundry, vacuum cleaner.
  • Gedung B. Tipe kamar yang ada di Gedung B adalah tipe studio dengan luas 30 m2. Fasilitas yang tersedia di dalam kamar hampir sama dengan yang ada di Gedung A, bedanya mesin cuci dan dapur terdapat disetiap kamar. Tidak semua kamar mandi di Gedung B mempunyai bathtub. Dapur yang ada di dalam kamar menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung C. Gedung C menawarkan ruangan dengan luas 80 m2 atau 2LDK (2 kamar, 1 living room, 1 dining room, dan 1 kitchen). Fasilitas yang terdapat di dalam ruangan adalah: kamar mandi dalam, toilet, rak buku, kulkas, AC, telepon, mesin cuci, ruang belajar, dll. Tidak semua kamar mandi di Gedung C mempunyai bathtub. Dapur yang digunakan menggunakan sistem IH heater.
  • Gedung D. Tipe kamar yang ada di Gedung D mempunyai luas 100 m2 atau 3LDK. Fasilitas yang ada di dalam kamar hampir sama dengan apa yang tersedia di Gedung C.

Harga Sewa

Setelah kita mengetahui semua fasilitas yang diperoleh, mari kita lanjutkan dengan hak yang terpenting, yaitu harga sewa setiap bulannya. Harga sewa kamar untuk Gedung A, B, C dan D tentunya berbeda-beda.

Biaya yang perlu dibayarkan diawal adalah deposit sebesar satu bulan sewa dan uang sewa bulan itu. Artinya hanya butuh menyiapkan dana sebesar dua kali biaya sewa.

Tabel 1. Daftar harga sewa tiap bulan sesuai tipe gedung.

Tipe GedungHarga Sewa per bulan
A¥ 35.000
B¥ 52.000
C¥ 74.500
D¥ 86.500

Harga sewa ini belum termasuk dengan biaya ulititas dan telepon.

Proses pendaftaran.

Mengingat bahwa asrama TIEC diperuntukan bagi beberapa institute, maka proses pendaftaran dilakukan di universitas masing-masing. Untuk Tokyo Tech, aplikasi pendaftaran dapat dilakukan di bagian Student Support Division.  Hanya mereka yang telah lolos seleksi yang bisa masuk menjadi bagian dari TIEC.

Pengalaman tinggal di Gedung A.

Saat itu, saya melamar untuk bisa menempati Gedung A di TIEC. Hal yang pertama dilakukan setelah lolos seleksi adalah mendatangi bagian administrasi TIEC yang berada di Plaza Heisei untuk proses administrasi dan serah terima kunci. Selanjutnya melakukan pengecekan ke kamar didampingi oleh staff TIEC.

IMG_9534
Rute jalan setiap hari dari TIEC menuju Stasiun Tokyo Teleport.

Berikut ini akan saya jabarkan poin-poin penting selama tinggal di TIEC:

  • Biaya utilitas tinggi. Salah satu biaya bulanan yang wajib dikeluarkan selain uang sewa adalah listrik dan telepon. Sistem pembayarannya listrik dan telepon adalah pra bayar. Kita harus mendepositkan sejumlah uang sebelum menggunakan utilitas tersebut. Terdapat potongan ¥110 setiap hari untuk uang listrik meskipun tidak ada pemakaian. Begitu juga dengan tagihan telepon yang dipotong ¥10 per hari. Jadi semisalnya anda pulang kampung selama sebulan maka otomatis uang listrik yang sudah didepositokan akan berkurang sebesar ¥3.300. Saya pernah pergi selama seminggu dan lupa mengecek saldo listrik yang tersisa. Hasilnya sewaktu pulang, listrik di kamar tidak bisa menyala karena saldonya sudah minus. Saya harus melakukan pengisian saldo listrik terlebih dahulu. Total biaya utilitas yang saya habiskan setiap bulannya sekitar ¥ 9.000 – ¥ 10.000. Tidak ada biaya gas karena masak dilakukan di dapur umum. Tips: Belajar di ruang belajar bisa membantu meringankan biaya listrik terutama disaat musim panas dan dingin. Biaya listrik ini tentunya akan lebih mahal untuk Gedung B, C, dan D mengingat adanya mesin cuci hingga dapur di dalam kamar. Info dari beberapa teman, untuk Gedung B kisaran ¥ 15.000 dan untuk Gedung C dan D sekitar ¥ 30.000 (tergantung jumlah anggota keluarga).
  • Biaya commuter ke kampus mahal. Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih lokasi tinggal adalah jarak dan biaya kereta yang dikeluarkan menuju ke kampus (dalam hal ini Tokyo Tech). Saat itu, biaya kereta yang saya keluarkan setiap bulan adalah sekitar ¥ 7.500 dari Stasiun Tokyo Teleport hingga Stasiun Ookayama. Rute yang ditempuh setiap hari: Tokyo Teleport – Oimachi menggunakan Rinkai Line selanjutnya dari Oimachi – Ookayama menggunakan Oimachi Line.
  • Waktu tempuh dari TIEC ke Stasiun Tokyo Teleport masih normal. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki dari TIEC ke Tokyo Teleport sekitar 15 menit. Selain itu, tersedia juga bus umum (berbayar) dan shelter bus (gratis). Akan tetapi, jadwal bus baik itu yang berbayar maupun yang gratis cukup terbatas. Khusus untuk shelter bus, anda bisa turun di pemberhentian terakhir (Museum Miraikan). Hal ini dikarenakan lokasi museum tepat berada diseberang asrama TIEC. Akan tetapi, waktu tempuhnya kurang lebih 15-20 menit juga karena anda akan diajak berkeliling Odaiba terlebih dahulu.
  • Tips menghadapi cuaca ekstrem. Kadang ada saatnya hujan lebat turun atau panas terik di musim panas yang cukup membuat galau untuk berjalan kaki menuju stasiun. Belum lagi, jadwal bus yang sudah ketinggalan. Paling gampang ya tinggal telepon taksi tapi sebagai mahasiswa terkadang pilihan itu semacam berat untuk dilakukan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah berjalan kaki kurang lebih 5 menit dari TIEC menuju mall terdekat (Diver City). Selanjutnya, saya melanjutkan jalan kaki menuju stasiun dari dalam mall karena pintu keluar mall ini langsung di depan stasiun Tokyo Teleport. Ide ini cukup sederhana tapi tidak banyak yang melakukannya.
  • Belanja di Oimachi Stasiun. Karena Odaiba terkenal sebagai daerah wisata, maka tidak banyak ditemui supermarket murah untuk kebutuhan sehari-hari terutama bagi mereka yang masak setiap harinya. Ditambah lagi suasana malam hari yang cukup sepi mengingat banyak pusat perbelanjaan yang sudah tutup di atas jam 10 malam. Untuk kebutuhan dapur sehari-hari, saya menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket (Ito Yokado) yang berada tepat didepan stasiun Oimachi.
  • Olahraga malam. Kegiatan penelitian di lab sering kali membuat saya harus pulang larut malam bahkan mendekati tengah malam. Permasalahannya adalah jadwal kereta terakhir untuk Rinkai Line jauh lebih cepat dibandingkan dengan Oimachi Line. Ditambah lagi dari Oimachi Line menuju Rinkai Line dibutuhkan waktu cukup lama (jalan kaki) karena Rinkai Line dari Oimachi menuju Tokyo Teleport menggunakan jalur bawah tanah. Kalau tidak salah harus turun sekitar 5 lantai. Tidak jarang saya harus berlari di menurunin setiap anak tangga demi mengejar kereta. Terdapat satu atau dua buah lift, tapi terkadang lama menunggu antrian atau banyak pengguna yang terkadang turun di lantai yang berbeda beda.
  • Memanfaatkan semua fasiitas. Salah satu yang membuat saya tertarik tinggal di TIEC adalah adanya Training Room. Tentu saja saya memanfaatkan fasilitas tersebut di malam hari selepas pulang penelitian. Training room ini cukup ramai di malam hari terutama di hari kerja. Selain itu, di TIEC banyak terdapat grup sesuai hobi masing-masing penghuni. Saya ikut bergabung dengan grup badminton. Selain bisa bermain badminton, bisa juga untuk menambah teman.

Kesimpulan dan Saran

Mempunyai kesempatan tinggal di pulau buatan ‘Odaiba’ saja sudah menjadi pengalaman tersendiri mengingat Odaiba adalah tempat yang sering saya kunjungi untuk sekedar melepas penat dari dunia penelitian.

Selain itu, tentunya harga sewa yang relatif murah untuk Gedung A dengan total biaya pengeluaran mulai dari tempat tinggal, utilitas dan commuter yang masih dalam jangkauan menjadi faktor penting dalam memutuskan untuk tinggal disini. Mengingat saat itu semua kebutuhan hidup selama di Jepang ditanggung oleh beasiswa MEXT.

Akan tetapi, bagi mereka yang berkeluarga dan ditopang oleh beasiswa MEXT mungkin akan cukup berat mengingat biaya sewa hampir setengah dari total beasiswa yang diterima. Hal inilah yang memutuskan saya untuk tidak melanjutkan tinggal di TIEC pada saat istri hendak ikut tinggal di Jepang.

Demikian sedikit berbagi pengalaman selama tinggal di asrama TIEC.

Referensi

https://www.jasso.go.jp/en/kyoten/tiec/residence/index.html

Featured

Jepang Mengajarkan ku: #1. Taat Administrasi.

Tinggal di salah satu negara maju memberikan pengalaman tersendiri terutama dalam urusan administrasi.

Dari Jepang, saya belajar akan pentingnya taat dalam urusan beradministrasi mulai dari hal yang mungkin saya anggap enteng karena tidak (belum) pernah saya lakukan di negara sendiri.

IMG_6860
Kantor Pemerintahan di Desa Tokai, Jepang.

Berikut beberapa hal urusan administrasi yang perlu diperhatikan ketika mau tinggal di negara Jepang berdasarkan pengalaman penulis:

1. Buat Residence Card (KTP). 

Residence Card ini diperoleh di bandara (tentunya di bagian imigrasi ya) sewaktu mendarat di Jepang. Artinya anda akan punya KTP Jepang begitu mendarat di bandara. Proses memperoleh KTP ini cepat dan mudah selama semua berkas telah dipersiapkan dengan baik.

“Walaupun cepat dan mudah, tidak perlu memberi ‘uang rokok’ atau ‘uang terima kasih’ ya. Semua itu sudah bagian dari tugas mereka. Cukup bilang “Arigatou Gozaimasu”.

Pada bagian depan Residence Card ini tercantum beberapa informasi diri seperti Nama Lengkap, Alamat, Tanggal Lahir, Status Visa, hingga masa berlaku visa.

Pada bagian belakang terdapat kolom kosong. Kolom ini berfungsi apabila pindah alamat tinggal maka alamat tinggal yang baru akan dicetak di bagian kolom ini.

2. Buat Asuransi Kesehatan.

Pada umumnya ketika datang ke Jepang sebagai pelajar, maka asuransi kesehatannya akan menggunakan asuransi kesehatan nasional yang pengurusannya dilakukan di kantor kelurahan terdekat.

Sedangkan kalau datang ke Jepang sebagai pekerja, bisa jadi asuransi kesehatannya diurus sama perusahaan tersebut.


Seberapa penting mengurus asuransi kesehatan ini diawal kedatangan ke Jepang? SANGAT PENTING.

Sewaktu istri pertama kali datang ke Jepang, kami langsung mengurus asuransi kesehatan di kantor kelurahan. Pengurusan cepat dan langsung jadi dihari itu juga serta kartu asuransi langsung bisa digunakan.

Tidak ada yang menduga kalau dua hari kemudian istri sakit dan harus berobat ke klinik. Tidak kebayang mahalnya biaya yang harus dikeluarkan tanpa ada asuransi kesehatan tersebut.


3. Buat Rekening Tabungan di Bank

Dua hal diatas adalah hal yang menurut penulis paling utama dilakukan begitu sampai di Jepang.

Selanjutnya adalah membuat rekening tabungan di bank. Tanpa KTP tidak bisa buat tabungan dan tanpa adanya nomor rekening di bank, banyak hal yang tidak bisa dikerjakan, salah satunya tidak bisa buat kontrak HP.

Ketiga hal tersebut adalah hal dasar yang perlu dilakukan ketika mau tinggal di Jepang.


Yang menjadi pertanyaan, bagaimana ketika pindah alamat tinggal? Kalau cuma pindah nomor kamar meskipun di apartemen yang sama gimana? Harus lapor juga gak?

JAWABANNYA: WAJIB LAPOR

Hal yang perlu dilakukan ketika pindah alamat:

  • Pergi ke kantor kelurahan tempat tinggal saat ini untuk mengajukan surat pindah. Nanti pihak kelurahan akan memberikan surat keterangan pindah. Surat ini wajib dibawa ke kelurahan ditempat tinggal yang baru. Di kolom belakang KTP itulah nanti alamat tempat tinggal baru akan dicetak. Dengan lapor pindah alamat, maka otomatis alamat di asuransi kesehatan kita pun akan diperbaharui.
  • Pergi ke bank untuk melaporkan pindah alamat. Saya pernah pindah dan karena tidak tahu kalau melaporkan alamat baru ke bank itu adalah sesuatu hal yang perlu maka saat itu tidak saya lakukan. Beberapa bulan setelahnya, saya tidak bisa melakukan transaksi (lupa transaksi apaan) karena alamat di buku tabungan saya  masih yang lama.
  • Melakukan perubahan alamat di akun belanja online atau sejenisnya sehingga pengiriman barang bisa sampai di alamat yang baru.

Taat dalam beradministrasi ini memberikan banyak kemudahan bagi saya dan keluarga dalam mengurus banyak hal disini.

 

 

Featured

PLTU dan PLTN, masih butuh gak ya?

Kalau berbicara mengenai PLTU dan PLTN pasti banyak pro dan kontra, betul kan?

Tapi percaya atau tidak, kedua jenis pembangkit listrik ini hingga sekarang masih berkontribusi besar dalam menyuplai listrik dalam skala besar yang bisa kita nikmati sehari hari.

Karena kontribusinya yang besar, kedua pembangkit ini masuk kedalam katagori baseload power. (silahkan klik disini untuk informasi detail mengenai basedload power:Baseload power)

Secara singkat, baseload power adalah pembangkit listrik yang bisa menyediakan beban dasar secara terus menerus sepanjang tahun.

index_pic_01
PLTN berperan sebagai base-load supply [1].
Meskipun PLTU dikenal berdampak negatif karena menghasilkan CO2 sedangakn PLTN dikenal berbahaya karena limbah yang dihasilkannya. Tapi, kedua jenis pembangkit listrik ini juga berkontribusi besar dalam kehidupan sehari-hari karena kemampuannya yang dapat menyediakan listrik secara stabil sepanjang tahun.


[1] https://www.kepco.co.jp/english/energy/fuel/thermal_power/shikumi/index.html

 

Featured

Pengalaman Maternity Photo Gratis di Jepang.

Sejak kehamilan istri, kami sudah berencana akan melakukan maternity photo untuk mendokumentasikan momen bahagia ini. Pihak Rumah Sakit sendiri sudah menawarkan beberapa studio photo untuk hal tersebut.

Ada beberapa pilihan dengan variasi harga yang berbeda beda. Saat itu harga termurahnya sekitar ¥20.000 belum termasuk make-up dan pakaian. Gak perlu lagi lah ya dijelaskan untuk harga termahalnya. Lah, dengan harga ¥20.000 saja kami masih mikir-mikir. Hahaha

Ada sekitar dua bulan kami memikirkan apakah harus ambil maternity shoot di studio atau tidak. Lumayan uangnya bisa dipakai buat beli perlengkapan bayi.


Ini bukan pertama kalinya peristiwa kelamaan mikir. Bisa dibaca disini juga salah satu kisah akibat kelamaan mikir. Celotehan suami istri: #6.Bingung pilih stroller bayi.


Hingga akhirnya kami memperoleh informasi kalau STUDIO ALICE menyediakan jasa maternity photo dengan harga terjangkau. Akhirnya, kami pun pergi ke Studio Alice yang terletak disalah satu pusat perbelanjaan di kota Hitachinaka, Fashion Cruise.

Saya lupa untuk harga pastinya, tapi pada saat itu harganya kurang dari ¥ 5.000. Dengan biaya segitu kami bisa menerima 1 buah foto beserta bingkainya saja. Kalau mau file dalam bentuk CD akan ada tambahan biaya lagi. Sedangkan kalau mau mencetak lebih dari 1 foto tentunya akan ada biaya tambahan. Harga tersebut sudah termasuk biaya pakaian. Sedangkan, untuk make up silahkan dilakukan sendiri atau ke salon.

Setelah mengetahui info tersebut, kami pun langsung melakukan pemesanan untuk hari Senin jam 3 sore.

Hari Senin di Bulan Feb 2019

Kami memutuskan untuk datang lebih cepat dengan tujuan mengunjungi toko bayi (Akachan Honpo) yang ada di sebelah studio foto ini terlebih dahulu.

Di Akachan, kami hanya membeli beberapa perlengkapan bayi. Sewaktu kami mau bayar, salah satu petugasnya menawarkan membuat member card. Biaya pembuatan member card ini GRATIS.

Selain itu, hari itu ada promo menarik dimana untuk belanja diatas ¥ 3.000 akan memperoleh KUPON photo di STUDIO ALICE. 

Karena pada saat itu belanjaan kami sekitar ¥ 3.000, akhirnya kami memperoleh kupon tersebut. Ketika kami menunjukkan kupon tersebut ke Studio Alice, ternyata harga kupon tersebut sama dengan biaya photo untuk paket maternity photo yang kami pesan. Dengan kata lain, hari itu biaya maternity photonya GRATIS.

img_7949
Maternity Photo di Studio Alice. (Feb. 2019)

“Memang kalau rezeki itu nggak kemana ya larinya.”

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #8. Suamiku (sok) Jagoan

Puji Tuhan. Akhirnya malam itu Henokh lahir dengan selamat.

Laura pun dalam keadaan sehat walaupun beberapa jam sebelumnya teriakan demi teriakannya memecah keheningan malam di ruang bersalin.

Di RS ini, bayi yang baru lahir ditaruh di ruangan khusus dengan tujuan memberikan kesempatan kepada para ibu untuk beristirahat. Para susterlah yang menjaga bayi-bayi yang baru lahir tersebut.

Setelah semuanya dibersihkan, saatnya saya dan Laura kembali ke kamar dan Henokh ke ruangan bayi bersama teman seangkatannya.

“Henokh adalah bayi terakhir yang lahir di hari itu.” 

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L&I : Terimakasih banyak atas bantuannya suster. Maaf sudah banyak merepotkan.

S: Iya, sama-sama. Ini pertama kalinya saya membantu lahiran orang Indonesia. Oiya, nanti kalau mau buang air kecil jangan lupa panggil suster jaga ya.

L&I: Ok Suster


Setelah itu, saya dan Laura pun kembali ke kamar. Laura masih dibantu oleh alat sejenis infus yang harus dibawa-bawa kemana pun dia pergi. Termasuk ke toilet. Mungkin ini kali ya alasan susternya harus dipanggil buat membantu.


Suasana dikamar pun berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Saat ini, suasana hati Laura sudah senang dan ceria. Saya pun sudah bisa rebahan di sofa sambil pegang HP.

L: Senang kali aku, udah lahir Henokh kita.

I: Iyaa, gak nyangka yaa bisa lahir di hari ini. Jadi nambah lah ya biaya karena lahiran di hari Minggu.. Hahaha


Ada tambahan biaya kalau lahiran di hari Minggu dan hari libur. Hal ini sudah dijelaskan diawal sewaktu memutuskan menggunakan jasa RS ini.


L: Kenapa itu pulak lah yang bapaknya ini pikirkan..Ckckkckc.. Aku mau buang air kecil.

I : Yaudah, perlu panggil suster? Atau bisa sendiri?

L: Kucoba dulu sendiri lahh..(sambil berusaha turun dari tempat tidur). Aduhh, gak bisa ini banyak kali infus disini. Panggil suster aja.

I: Hemmmmm.. Sambil menekan tombol yang ada disamping ranjang. 

Tidak sampai semenit, akhirnya suster sudah di kamar.

S: ..(mau ngeluarin hp untuk mengetik sesuatu)

I:..(waduh bisa lama ini kalau nunggu dia ngetik dulu) Suster, Laura mau ke toilet. Tolong bantuin yaa.

S: Ok. Kamu tunggu disini aja ya.

I: Ehh, Gpp suster. Saya bantuin bawa alat infus ini aja. Gpp kok. Tenang aja suster.

L: Yakin kau mau ikut? Kuat gak nanti. Kemungkinan masih ada da**h loh.. Ntar pingsan pulak.

I: Gpp lohhh.. Daripada kau ribet sambil pegangin itu infus. Sini aku aja yang bawa itu alatnya.

S: Tolong ambilkan itu (sambil menunjuk semacam tisu basah khusus buat ibu yang baru melahirkan).

Suster pun membantu istri di toilet sedangkan saya menunggu di depan pintu.

I: Waduuhhhh.. banyak kali da**hnya.. gpp itu?

S: Iya gpp. Wajar aja.

I: Sayang, pusing kepala ku. Lemas udah tanganku. Suster, pegangin ya alat ini. Saya mau duduk di sofa.

L: Hemmmmm bandal.. Udah lah tadi kubilang gk usah. Sok jago kau mau bantuin. Udah duduk aja sana. Itu makan bento tadi siang biar ada tenagamu. Awas sampai pingsan! Repot aku nanti ngurusinnya.

I: …(muka pucat sambil berusaha duduk ke sofa)

 

Featured

Celotehan Suami Istri (CSI): #7. Sedikit lagi, Semangat !!!

Sore itu, akhirnya suster di RS memutuskan untuk melakukan persalinan. Saya dan istri berjalan menuju ke ruang bersalin di temanin sama dua orang suster.

Sesampainya di ruang bersalin, Laura diberi kesempatan dulu untuk menikmati makan malam. Tapi, rasa sakitnya kontraksi mengalahkan rasa laparnya. Akhirnya, saya dipersilahkan menghabiskan makan malamnya.

“Dihabiskan aja makanannya, soalnya sudah dibayar. Sayang kalau dibuang.” Begitulah ujar salah seorang susternya.

Sudah dua jam kami di dalam ruang bersalin. Saat itu hanya ada saya, istri dan suster.

Laura (L), Irwan (I), Suster (S)

L: Lama kali ini prosesnya, kalau belum keluar bisa ditunda aja besok? Terjemahin itu ke susternya.

I: Ok.. (terus ngomong ke suster seperti yang disampaikan istri).

S: Heeeee..(muka bingung dan kaget orang Jepang).. Gak bisa ditunda besok. Harus hari ini. Sudah kelihatan kok.

I: Ok. (sambil menjelaskan lagi ke istri)

S: Sekali lagi yaa…PUSHHHHHH!!!!

L: Haiiikkk… (sekuat tenaga mengikuti instruksi suster).

I: (menahan sakitnya tangan yang dicengkram istri)

L: Udah kupush.. Udah keluar belum?

S: Belum… Lebih kuat lagi.

L: Mau sekuat apa lagi kupush. Udah mau mati aku mengpushnya.

I: perlu kuterjemahkan yang ini ke suster?

L: Gak Perlu..!!! Tanyakan dulu bisa pakai penahan rasa sakit ?

I: Suster, boleh dikasih penahan rasa sakit?

S: Gak Boleh. Sealami mungkin yaaa.

I: (menjelaskan ke istri) gak boleh katanya. Sealami mungkin.

L: OMG… udah gak kuat aku. Ambil dulu minum itu.


Melihat pembicaraan dan ekspresi laura yang sudah mulai kelelahan, akhirnya suster mengambil HP dan menuliskan sesuatu.

“Oiya, susternya tidak bisa bahasa inggris atau indonesia jadi kalau berkomunikasi dengan kami menggunakan google translate atau sejenisnya”


Cukup lama saya perhatikan suster itu mengetik di HPnya. Mungkin sesuatu yang sangat penting untuk dijelaskan. Makanya, harus pakai google translate biar tidak salah.

Setelah selesai mengetik, akhirnya HP itu diperlihatkan ke Laura.

Saya yang melihat tulisan itu pun cukup kaget dibuatnya.

 

Sedikit lagi, Semangat!!!

Yaa ampun mbak eee, kalau itu aja yang mau dijelaskan, saya dan istri masih paham loh kalau diomongin pakai bahasa Jepang.😂😂


Sebelumnya di: Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Featured

Celotehan suami istri: #6.Bingung pilih stroller bayi.

Hampir semua orang yang punya bayi di Jepang pasti mempunyai stroller (kereta bayi). Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas perjalanan yang pada umumnya menggunakan transportasi umum.

Sewaktu kami tinggal di Tokyo, sering sekali melihat orang tua membawa bayinya menggunakan stroller entah itu berbelanja di supermarket, bermain di taman, serta aktivitas lainnya yang menggunakan kereta. Sering juga melihat ibu-ibu membawa bayi dengan stroller menikmati pemandangan di dalam kampus.

Menjelang kelahiran Henohk, kami pun sudah memutuskan untuk membeli stroller. Kami sudah membayangkan jalan-jalan menikmati taman di desa Tokai sambil Henokh duduk di dalam strollernya.

Yang menjadi persoalan adalah mau pilih stroller yang bagaimana?

Laura (L), Irwan (I)

Desember 2018

I: Sabtu ini kita ke Akachan (salah satu toko bayi) lihat stroller?

L: Ntar aja lah, aku cari-cari di Amazon dulu. Mau cek-cek harga dulu sama jenis-jenisnya.

I: Yowes. Kabarin kalau udah dapat. Berapa budget mu kesana?

L: Kalau bisa murah, bagus, tahan lama, kokoh. Ya gitu dehhh kriterianya. Kriteria mamak-mamak lah yaa..

I: Aku pengen yang AirBuggy. Waktu kita kemarin ke AEON langsung suka bentuknya dan sepertinya cukup kokoh.

L: Busett, bukannya itu lumayan mahal ya. Ntar dulu lah kucari di Amazon dulu.

Februari 2019

I: Oiii, gimana nasib stroller ini? Bulan depan Henokh udah mau lahir loh?

L: Sabar lohhh… ini masih cari-cari lohh..

I: Busetttt, sampai kapan mau kau cek? Nunggu Henokh besar dulu baru dibeli itu strollernya?

L: Iya lohhh.. Sabtu ini kita ke Akachan sama AEON yuk. Ada yang udah kucari di amazon, jadi mau lihat barangnya dulu.


Hari Sabtu itu, kita pun pergi ke Akachan untuk melihat-lihat stroller bayinya. Kebetulan disana ada juga di jual stroller AirBuggy yang saya incar. Sedangkan istri, masih tetap galau mau beli yang mana karena model yang dilihat di Amazon tidak ada di toko.

Karena istri masih galau, maka kami pun menunda membelinya saat itu.


Maret 2019

Henokh pun sudah lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat. Tapi, stroller buat Henokh belum ada karena Mami Henokh kelamaan mikir.

I: Tuhh, udah seminggu sejak Henokh lahir loh. Stroller pun belum jadi dibeli.

L: Hahahah.. Iya lohhhh.. Sabarr..

I: Udah sabar kali pun aku nunggu kau. Udah dari Henokh di dalam perut loh sampai udah lahir loh. Ini aja persoalan kita yang belum terselesaikan.

L: Bulan depan lah kita cek-cek lagi ke toko.

I: Sabtu aja kita ke toko, sekalian beli perlengkapan Henokh.


Hari Sabtunya di Akachan. Istri sedang mencari-cari baju untuk Henokh, sedangkan saya menuju ke bagian stroller.


I: Udah kubeli AirBuggynya. Kelamaan kalau nunggu kau mikir. Hari Selasa di kirim karena warna yang kupesan gak ada disini.

L: Lohhhh, udah dibeli? Mahal lohh..

I: Yaudah, itu hadiah ku buat Henokh..

L: Berarti gak potong uang belanja yaa..

I: Hemmmm..

L: Gitu donk.. Coba bilang dari dulu, udah dari dulu kita beli..Tapi, hadiah buatku manalah??Henokh dikasih, mana buat ku?

I: ……

Featured

Celotehan Suami Istri: #5. Gak boleh kawin lagi !!!

Celotehan kali ini berkisah tentang sakitnya proses kontraksi pada saat H-1 kelahiran Henokh.

Saya sendiri tidak bisa menggambarkan gimana rasanya menahan kontraksi. Saya hanya bisa melihat Laura mengerang kesakitan, lalu bergonta ganti posisi yang bisa membuat dirinya senyaman mungkin.

Hanya ada satu hal yang bisa saya lakukan saat Laura menahan sakitnya kontraksi, mengelus-ulus punggung bagian bawah. Selain hal itu, apapun yang saya perbuat salah. Bahkan ada masanya dia tidak mau dielus punggungnya dan akhirnya saya hanya duduk diam. Dan itupun tetap salah. Wkwkwkwk

Ntah karena sudah tidak kuatnya menahan sakitnya, terjadilah percakapan unik seperti berikut:

Laura (L), Irwan (I)

L: Sakit kaliiiiiiiii. Udah gak kuat lagi aku!!! (sambil mengerang kesakitan).

I: Gimana? Mau dipanggil susternya?

L: Gak usahhhh..!!!(masih sambil menahan sakit). Sakit kaliii ini, mau sampai kapan ini…??? 😭😭

I: Trus maunya gimana?

L: Janji dulu. Kalau terjadi apa-apa sama ku, gak boleh kau kawin lagi yaa..

I: Sumpaahhh, masih sempat bah kau mikir kesana.. Hahahaha (pecah ketawa ku dibuatnya dalam kondisi seperti itu).

L: Janji lohh. (sambil menangis).

“Apakah mereka yang dalam kondisi seperti ini emosinya akan cukup labil ya?”

I: Iya loh, janji gak kawin lagi. Apa lagi? Ada lagi permintaanmu yang lain? Surat wasiat atau sejenisnya? (Berusaha mencairkan suasana biar dia tidak terlalu tegang).

L: Iya ya, apalagi yaa..?? Hahaha

I: ……….(labil kali bah emosinya, kadang nangis kadang senyum)


Sesungguhnya, banyak kisah celotehan pada saat kami berada di Rumah Sakit menunggu kedatangan Henokh. Tiga hari di RS menunggu kelahiran Henokh adalah hari-hari yang menguras seluruh emosi, tenaga dan pikiran.

Terkadang kami tertawa sendiri ketika mengingat masa-masa itu.